Mulai sekarang, forum RMID pindah ke situs ini. Posting sudah tidak bisa dilakukan lagi.
Mohon maaf atas ketidaknyamanannya dan mohon kerjasamanya.

Share | 
 

 [StoryPlay] Eremidia : The Legends begin

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Go down 
Pilih halaman : Previous  1, 2, 3, 4, 5  Next
2012-07-09, 19:17
Post[StoryPlay] Eremidia : The Legends begin
#1
shikami 
Member 1000 Konsep


Level 5
Posts : 3744
Thanked : 31
Engine : Multi-Engine User
Skill : Beginner
Type : Developer
Awards:


First topic message reminder :

StoryPlay adalah istilah baru untuk sebuah permainan cerita pendek dimana character akan mengembangkan plot dalam suatu setting dan memungkinkan bisa berinteraksi dengan character lain.
dalam storyplay,pemain hanya diberikan sebuah basic background cerita dimana mereka cukup mengembangkan cerita tersebut dengan gaya mereka sendiri. setiap tokoh buatan pemain dapat digodmodding sendiri selayaknya dalam sebuah cerita normal.

Tujuan :
Spoiler:
 
Rules :
Spoiler:
 

Background Story
Eremidia, . .
Negeri indah nan megah terletak di benua forumia. negeri dimana sihir dan ilmu pengetahuan berpadu. para penduduk luar berdatangan menuju ke tempat ini untuk berbagai macam tujuan. demi mimpi mereka, demi cita-cita ataupun demi tujuan yang lebih gelap seperti balas dendam dan ambisi.
namun banyak misteri menyelimuti negeri ini, seolah ada suatu rahasia gelap yang tersembunyi dan siap menghancurkan keharmonisannya.
para orang bijak meramalkan bahwa legenda-legenda baru akan lahir
untuk melindungi atau pun mungkin
menghancurkan dunia.
Peta Eremidia
http://www.nible.org/images/worldmapver2.jpg
< peta ini bersifat temporary, anda bisa menambahkan daerah sendiri di eremidia >

Important Fact
- setting Eremidia adalah antara abad feudal dan pre modern. sekitar 2200 C.Y
cek lebih lanjut di sini
- Eremidia membutuhkan banyak hunter karena kemunculan misterius para monster-monster asing.
- Ibukota Eremidia ini cukup luas terdiri dari 4 bagian kota. dikelilingi tembok raksasa.
ada 4 Quest Center di kota. Quest Center adalah tempat untuk mencari Quest bagi para Hunter.
- para bandit serigala padang pasir/Desert mengacau di wilayah selatan negara eremidia.
- Winhart family adalah keturunan keluarga penyihir yang cukup terkenal di pusat kota Eremidia.

fakta2 lainnya bisa dlihat disini
rmid.forumotion.net/t5706-eremidia-verse-central-database

Richter's stories
chapter 1
chapter 2
chapter3
chapter4
chapter5
chapter6
chapter7
chapter8
chapter9
chapter10
chapter11

Cokre's stories
chapter 1
chapter2
chapter3
chapter4
chapter5

Izn's stories
chapter 1
chapter 2

Clover's stories
chapter1
chapter 2

Signus's stories
chapter 1
chapter 2
chapter3
chapter4
chapter5
chapter6
chapter7
chapter8
chapter9

Roland's stories
Chapter 1[/END]

Nacht's stories
chapter1
chapter2
chapter3
chapter4
chapter5
chapter6
chapter7

mcpherson 's stories
chapter 1

lowling's stories
chapter1

Theo's stories
chapter1
chapter 2
chapter3
chapter4

EmperorAlan's stories
Chapter 1

nisa's stories
chapter 1
chapter 2
chapter3
chapter4

Whitehopper's stories
chapter1
chapter2

Aegis's stories
chapter1
chapter2

Radical Dreamer's stories
chapter 1

Lyonesse's stories
chapter 1

superkudit stories
chapter1
chapter 2
chapter3

yukitou's stories
chapter 1

echizen's stories
chapter1

aidil's stories
chapter1

kabutop's stories
chapter1
chapter2



this is no signature


Terakhir diubah oleh shikami tanggal 2012-07-13, 05:49, total 12 kali diubah

2012-07-10, 18:01
PostRe: [StoryPlay] Eremidia : The Legends begin
Signus Sanctus 
Newbie
Newbie


Posts : 69
Awards:
Chapter 3 Link

------------------------------------------------------------------------------
Chapter IV : Cursed Love



Aku membiasakan diri dengan kehidupan baruku tinggal bersama Leila, kebutuhan hidupku disediakan olehnya, dan ia selalu berada disampingku ketika aku sedang menyendiri, mungkin ia merasa kesepian dan ingin seseorang untuk menemaninya, jadi sebaiknya kulayani saja....



"Apakah kamu akan pergi?"

"Pergi?"

"Apakah kamu akan meninggalkanku lagi...?"

Aku tidak begitu paham kenapa ia sama sekali tidak ingin aku meninggalkannya, namun akupun berterima kasih karena ia mau mengasuhku.....

"Untuk sekarang aku belum ada niat untuk pergi kemanapun, tenang saja...."

Ucapku

"Terima kasih..."

Aku melihat setitik air mata keluar dari matanya, dan aku tak mengerti arti dari air mata itu sendiri....

***

Aku mendatangi Hunter Guild dan menunjukkan Hunter License ku pada GuildMaster di tempat itu.

"Rank C ya...? Untuk sekarang belum ada quest yang pas untukmu, maaf."

"Kalau begitu, ada cara supaya aku bisa mendapatkan Quest level B?"

"Sebegitu perlunya kah kamu untuk menjadi Hunter B Class...?"

Aku hanya memandang tajam tanpa berbicara apapun.

"Untuk menjadi B Class Hunter, kamu harus membayar 15000 Rmidollar dan mengikuti Trial tertentu."

"Trial?"

"Datangi sebuah dungeon di Eremidia bagian utara, disana kamu carilah GemStone of Vigor, jika kau berhasil membawa GemStone itu, kamu akan kunobatkan secara spesial menjadi B Class Hunter"

"Secara Spesial?"

"Biasanya satu - satunya ceremony yg resmi adalah dengan menyelesaikan beberapa Quest C Class, namun jika kamu mampu menyelesaikan Quest B Class yang sudah kamu bayar 15000 itu, kamu secara spesial akan kunobatkan sebagai B Class."

"I see, easy enough~!"

Aku tersenyum sinis mendengar informasinya, dan kukeluarkan kantong uang yang kuambil dari hutan burung tersebut, dan kulihat ada sekitar 50000 Rmidollar

"Wow, uangmu cukup banyak?!? Benarkah kamu hanya seorang C Class Hunter?!?!"

"Sumber penghasilan di dunia ini bukan hanya Hunting kan?"

Senyum sinis ku makin melebar dan makin gelap sambil menyerahkan uang dan menerima Quest tersebut.

***

Kutelusuri Dungeon yang cukup terjal dan berbahaya ini, karena langit - langit dungeon nya seakan mau roboh, diikuti dengan jebakan - jebakan maut yang sudah memangsa ribuan Hunter yang mencoba

"Well, setidaknya monster - monsternya bukan sesuatu yang mengerikan seperti Condor, Garuda, dan lainnya"

Diikuti dengan tumpukan Giant Rat, Spider, Scorpion, dan monster - monster lainnya.

*whush~

Sesaat aku merasakan ada pergerakan orang dibelakangku...

"Mungkin...."

Namun aku tidak perlu menghiraukannya dan terus berjalan menyusuri Dungeon ini.

***

Aku sampai di ujung dungeon dan kulihat permata sebesar badanku berujung diatas sana.

"Dammit...."

sambil aku menyumpat tiba - tiba seekor Troll Golem datang dari atas dan mulai menyerangku dengan membabi buta.



"This is a B Class Quest?!?! You've gotta be kidding me, that's why many people are dying so easily....!"



Sambil aku menghindari beberapa serangan golem tersebut, kuserang tangan dan kakinya, namun efeknya tidak begitu nampak karena kulitnya yang lebih keras daripada Garuda maupun Condor

"Sepertinya sudah saatnya kulakukan ini..."

Aku terus berlari menuju sebuah sudut dan kutebas sebuah dinding dekat situ...

*SLASH'D!!!!!

Dan aku berhasil melukai seorang wanita yang sedang bersembunyi di sudut ruangan tersebut.

"ERIKA!!!!!!"

Seorang lelaki berteriak dari salah satu sudut, dan itu memancing perhatian Troll Golem tersebut.

"Hah! sudah kuduga, sesulit apapun Quest ini, mustahil tidak ada satupun yang berhasil menyelesaikannya, ternyata ini ulah kalian kan, Junker?"

Senyum sinis ku melebar tak tertahankan, wanita yang baru saja kulukai itu memasang muka ngeri dan takut terhadapku.

"Sebaiknya kau tolong partnermu melarikan diri dari Golem sialan itu, sementara aku membawa Vigor Gem ini dulu"

Ucapku sambil berlari mengutamakan pendapatanku sebagai Hunter, sambil tersenyum sinis melihat Junker lelaki itu sedang sekarat setelah menerima serangan telak dari Troll Golem tersebut.

Setelah kulihat - lihat lagi, ternyata ada banyak sekali Gem - gem kecil disekitar batu besar ini, dari sini kusimpulkan bahwa ternyata yang harus kubawa hanyalah batu - batu kecil tersebut, kuambil sebanyak - banyaknya sebelum perhatian Troll Golem itu kembali kepadaku, namun terlambat, Troll Golem itu sudah maju menerjangku yang sedang mengambil Vigor Gem tersebut.....

BRUAKKKKK!!!!

Aku terjepit diantara dinding dibelakangku dengan pundak karang yang dimiliki oleh Troll Golem itu.

"GHUAHK!!!!"

Darah keluar dari mulutku dalam jumlah banyak, tulang - tulangku banyak yang retak, tangan kiri dan kaki kiriku patah, dan aku hampir kehilangan kesadaranku.

"Kedua Junker itu.... kabur ya...."

Sesaat itu juga kedua tubuhku kembali dibungkus api yang panas membara, namun aku sama sekali tidak merasakan apapun karena sarafku sudah mati beberapa, namun aku dapat merasakannya, sesuatu mengambil alih tubuhku, dan aku melontarkan tebasan - tebasan yang lebih berat daripada sebelumnya

"Shinning Blade Cut....!!!"

kumpulan api mulai terkumpul dalam pedangku, membuat pedangku menjadi suatu senjata yang mengeluarkan api yang tajam, panas, dan semakin panjang, kemudian dalam sekejap kutebaskan kepada Troll Golem tersebut dan

BWETTTTSSSSS!!!!

Sekejap tubuh Troll Golem itu terbelah dua, darah langsung muncrat dengan banyaknya dari tubuh Troll Golem tersebut, dan aku berjalan terus menuju pintu keluar dengan terhuyung - huyung.

***

"Erika... kamu tidak apa - apa....?"

Lelaki yang sekarat tersebut memegangi pipi wanita Junker tersebut

"Luke, mari kita hentikan ini..."

"Maksudmu, sebagai Junker...."

"Aku tidak mau lagi melihatmu menderita seperti ini, tidak apa - apa jika kita kembali menjadi tukang angkat barang di Merchant Guild... atau sebagai pengasuh anak.... aku rela... daripada harus melihatmu tersiksa seperti tadi..."

"....................Kau benar.... Pekerjaan seperti ini... tidak seharusnya seperti ini...."

"Luke...."

Dan sesaat itu juga

*ZLEBBBBB!!!!!!

darah mengucur dengan deras dari kepala Erika, mengalir menuju Luke yang terkapar ditanah, kepala Erika telah tertusuk pedang, pedang yang sangat familiar....

"............."

Aku hanya mampu menatap mereka dengan tatapan pembunuh keji, tidak ada rasa simpatik maupun belas kasihan, aku hanya ingin memberikan hukuman pada mereka karena berani mengganggu quest ku....

"Ka... kau...!!!! KENAPA...!!!!! KENAPAAAAAAAAAAAAAA!!!!!"

dan dalam sesaat

*SLASH'D!!!!

Kubelah kedua kepala pasangan itu secara bersamaan, dan kukeluarkan kembali gumpalan api yang bersemayam dalam tubuhku, kemudian kukumpulkan pada pedangku...

"Shinning Blade Cut...."

Kutebas langit - langit dungeon tersebut, menutup dungeon tersebut beserta mengubur kedua junker tersebut selamanya.

to be continued...


Terakhir diubah oleh Signus Sanctus tanggal 2012-07-10, 20:20, total 2 kali diubah
2012-07-10, 18:34
PostRe: [StoryPlay] Eremidia : The Legends begin
TheoAllen 
♫ RMID Rebel ♫
♫ RMID Rebel ♫
avatar

Kosong
Posts : 4935
Thanked : 62
Awards:




Chapter 1 : Journey to Eremidia
Lokasi: Utara Eremidia. Hutan lebat dan perbukitan
Character: Andy Landwalker

09:00 AM

Kusibak semak-semak lebat yang menghalangi jalanku. Aku terus melangkah maju meski kakiku menyuruhku untuk berinstirahat. Kata-kata Claude masi teringat jelas di benakku.

"Nella dalam bahaya"

Entah itu suatu kebenaran atau bukan. Aku melihat sendiri Nella bersama klan Arthar dari Skynesian telah mengantarkannya pulang. Dan aku yakin mereka dalah klan yang kuat. Namun, jika yang berkata itu adalah Claude, itu bukanlah suatu kebohongan.

Menurut kabar yang kudengar, Nella dan sekelompok orang yang menculiknya menuju ke Negri yang bernama Eremidia. Aku tak tahu kenapa mereka memilih kota itu sebagai tujuan.

Nafasku sudah mulai habis. Kakiku semakin berat untuk melangkah. Mungkin ini saat yang tepat untuk beristirahat sebentar. Kucari sebatang pohon yang cukup besar untuk bersandar.Terlihat dari jauh, tampak sebuah kota yang dikelilingi oleh tembok raksasa. Kurasa perjalananku sudah semakin dekat.

Tepat di depanku kulihat sehelai bulu sayap jatuh. Dan dengan sigap kutangkap.



Ugh, entah kenapa disaat seperti ini aku tiba2 saja teringat waktu pertama kali aku bertemu dengan Nella. Kupandangi bulu itu lagi sambil menghela nafas panjang.

Namun belum puas aku terlelap dalam lamunanku, suara rauman mengerikan terdengar dari dalam hutan. Dan yang membuatku gemetar adalah suara itu menuju kemari. Tanganku sepontan sigap untuk mencabut dua belati yang menggantung di sabuk kulitku. Aku berdiri seolah mengabaikan rasa lelah yang diderita kedua kakiku.

Setelah cukup jelas, aku baru sadar bahwa ternyata suara itu berasal dari Troll hutan. Sialan. Seumur hidup aku belum pernah mengalahkan troll tipe apapun. Kalaupun pernah, itu juga karena hasil kerja sama.

Akhirnya aku memutuskan untuk bersembunyi dibalik pohon besar. Tak berapa lama setelah itu, instingku berkata bahwa sekarang troll hutan itu sedang berada tepat di balik pohon tepatku bersembunyi.

Troll itu berjalan dengan tenangnya. Aku mencoba memutar pohon itu berharap dapat kabur tanpa diketahui.

*KRAK!
Aku tak sengaja menginjak kayu kering.
"Sialan!" umpatku.

Walau aku tidak melihat secara langsung, tapi instingku berkata bahwa, sekarang troll itu benar-benar menyadari keberadaanku. Tanpa pikir panjang, aku sekuat tenaga berlari memasuki hutan.

Aku bisa mendengar bahwa sekarang troll sialan itu sedang mengejarku. sesekali kuloncati semak-semak atau kayu yang roboh. Dan terjun beberapa kali di tebing kecil. Namun sialnya lagi, kakiku tersangkut akar pohon dan membuatku jatuh tersungkur. Sesaat aku mau bangkit, aku melihat troll itu sudah tepat berdiri di depanku dengan membawa pentungan kayu yang cukup besar.

"Sepertinya memang tidak ada gunanya mencoba kabur dari makhluk ini" Gumamku sambil menelan ludah. Apa boleh buat, kedua tanganku siap-siap untuk mencabut dua belati yang selama ini jadi senjata favoritku. Ya, favorit. Mudah disimpan dan tidak berat :lol:

Troll itu mulai beraksi. Dia mengayunkan pentungan kayu itu mencoba menghantamku dari atas. Aku dengan sigap meloncat dan bergulung melewati kedua kaki troll itu. Langsung kubangkit dan meloncat menaiki punggung troll yang tingginya sekitar 2 kali dari tinggiku.

Kutancapkan kedua belatiku di punggung troll itu. Namun, aku hanya bisa menancapkan sebagian kecil dari belatiku.

"Gila. Setebal apa kulit troll ini?" Gumamku heran bercampur panik. Aku ingat benar bagaimana Claude dengan beraninya menghadapi troll sendirian dan menusukkan pedangnya pada troll.

Tak lama kemudian, tangan troll itu berhasil meraihku. Dengan cepatnya dia melemparku entah kemana. Tubuhku mendarat di tanah. Rasanya sakit sekali. Andai saja ada Nella disini, mungkin dia sudah mengobatiku dengan cahaya penyembuhan ataupun penghilang rasa sakit sementara.

Troll itu berjalan menuju ke tempatku. Kucoba untuk berdiri, namun mataku sudah berkudang-kunang. Perjalanan jauh itu benar2 menguras tenagaku. Hal yang terakhir kulihat adalah makhluk itu mencoba mengayunkan pentungan kayunya sekali lagi ...

* To be continued ....


Bosen ama signature. Hapus aja dah ....
2012-07-10, 19:31
PostRe: [StoryPlay] Eremidia : The Legends begin
richter_h 
Salto Master
Hancip RMID
avatar

Kosong
Posts : 1705
Thanked : 30
Engine : Other
Skill : Skilled
Type : Developer
Awards:

The Tale of Vent McGraves
Chapter IV


Klik to Chapter III
Klik to Cerita Schneide sebelumnya
Klik to Cerita sang Gerombolan Goblin

"Semoga kali ini bisa dapat bahan lengkap buat minuman dewa!"

Vent lantas melangkahkan kakinya menuju hutan timur kota sambil menggotong sebuah barel kecilnya. Demi mendapatkan kembali bahan-bahan 'minuman dewa' yang bisa membuatnya berkomunikasi lagi dengan Spirit secara jelas, Vent harus mengumpulkan beberapa bahan eksotis yang susah bin langka. Salah satunya, si Barley putih yang kata seseorang di bar bisa ditemukan di hutan timur kota.

Baru 6-7 langkah dia beranjak, seseorang dari kota memanggilnya. Lelaki rambut perak wajah slengean dan yang mengenakan pakaian longgar enggak jelas layaknya pendeta Solsticia (kepercayaan asli tempat Vent berasal) itu berlari menuju ke arahnya.

"Oi, pemabuk!" Sahut lelaki slengean itu. Dia menghampiri Vent yang hanya bengong, tumben ada orang asing yang memanggilnya.

"Kulihat kau akan pergi ke hutan timur, ya?"

"Betul," jawab Vent pendek. "Dan, ente siapa? Apa ane kenal ente?"

"Oh, kalau gitu, kenalkan. Aku, Schneide, Hunter dari Guild Velchen... walo sebenarnya, aku tidak tahu betul tempat ini."

"Tunggu. Jadi, ente juga bukan asli sini?!" Vent kaget ternyata si tampang slengean Schneide itu bukan asli orang Eremidia. "Ane kira ente orang asli sini waktu di bar..."

"Well, kukira kamu juga asli pemabuk dari sini." Schneide tertawa, lalu bertanya, "Apa kamu akan mencari White Barley itu, kan?"

"Jadi, waktu itu ente nguping, ya?"

"Jangan salah sangka, pemabuk." Schneide bicara layaknya kepada teman akrabnya, "Kata orang-orang sini, hutan timur banyak Goblin ngamuk, dan kemarin ada berita sekitar 20 Hunter mati di sana. Mungkin saja kamu butuh bantuan kecil dari seseorang seperti aku."

"Hmm..." Vent tertegun, dan dia ingat saat dia bertarung dengan satu Goblin dan memang benar adanya kalau Goblin di Eremidia ini ganas kecut dan coklat dekil.

"Boleh, ente bisa ikut."

"Ada syaratnya, my friend..." Schneide pasang wajah setengah licik. "Hasil dari sana kita bagi dua, oke?"

"Oh, jadi dibagi dua? Okelah kalo begitu."

Mereka lalu berangkat ke hutan timur kota, tapi baru beberapa langkah mereka berjalan,

"Oi, pemabuk! Aku tidak bisa selamanya panggil kamu 'pemabuk!' Namamu siapa?"

"Ane punya banyak sebutan. Beberapa orang manggil ane 'Si Bayangan di Siang Hari', orang-orang di bar manggil ane 'Si Penari Mabuk', tapi panggil ane Vent. Vent McGraves."

--

Begitu sampai di tengah hutan, mereka kaget saat melihat banyak mayat--ada yang terkapar begitu saja, ada yang terbelah dua, ada yang kepalanya bocor, dan sebagainya di tengah hutan yangs sepi seperti itu. Terlihat juga beberapa Goblin yang mati di sana, tapi Vent maupun Schneide lebih memerhatikan mayat-mayat manusia, baik laki-laki maupun perempuan dan kebanyakan masih muda muda bahkan dibawah usia Vent. Semua manusia disana memiliki ciri-ciri seperti Hunter alias pemburu yang Vent lihat di Quest Center.

"Alamakjaaaaaaaan!! Jadi begini toh kalo orang perang sama Goblin coklat?" Vent tertegun saat memeriksa salah satu mayat perempuan yang lebih muda darinya. "Padahal sayang nih, cakep-cakep begini mati disembelih sama Goblin..."

"Makanya aku kasih tawaran bantuan padamu, Vent." Schneide hanya geleng-geleng kepala setelah melihat sisa perang itu. "Masih untung aku bisa selamat walau baju dan /Buster milikku ini jadi rusak. Menurut orang-orang di Quest Center, sekarang baik Goblin maupun beberapa monster lain makin ganas, dan pihak kota sedang giat-giatnya mencari tenaga untuk menangani hal seperti ini."

Vent tetap berjalan sedangkan Schneide berusaha mengumpulkan beberapa barang dari mayat-mayat yang ada. Tidak lupa, baik Vent maupun Schneide sesekali memeriksa mayat perempuan yang masih utuh bersama-sama. Entah apa yang ada di pikiran mereka...

"Udah ah. Lebih asik kalo masih hidup... Ngapain juga liatin cewek yang udah jadi mayat kek begini?!"

--

Lanjutkan perjalanan, lebih ke dalam kegelapan hutan...

"Oi, Vent," Schneide penasaran dimana White Barley yang Vent cari itu dimana, "Yang kamu cari itu dimana sih persisnya?"

Vent langsung berhenti, lalu berbalik ke arah Schneide, dan menunjuk kakinya.

"Itu, yang ente langkahin."

Schneide heran, lalu melihat apa yang dia injak. Ternyata yang dia injak itu ternyata rumput putih kekuningan yang tidak lebih dari semata kaki tingginya. Itulah White Barley yang Vent maksud.

"Oke, saatnya panen beberapa jumput..."

Schneide menunggu dibawah rimbunnya pepohonan sementara Vent memetik beberapa jumput Barley putih alias White Barley, salah satu bahan 'minuman dewa.' Namun, Schneide menyadari mereka sedang diawasi sesuatu dari balik semak-semak...

"Oi, Vent, apa kamu tidak sadar..."

Tiba-tiba segerombolan Goblin coklat dekil muncul dan mengepung mereka berdua. Schneide langsung siap aksi sementara Vent hanya bengong dan melanjutkan panennya.

"Oi, pemabuk! Masih belum sa-"

Terlambat. Gerombolan Goblin itu menyerang ke arah mereka. Schneide langsung beraksi melawan Goblin-Goblin itu sementara Vent tetap memanen Barley putih. Schneide kewalahan, tapi Vent masih asik panen. Begitu salah satu Goblin menyerang Vent...

"Jangan sekali-sekali ganggu ane panen!"

Goblin itu terpental ke arah kerumunan Goblin, dan para Goblin itu kaget saat melihat wajah Goblin yang terpental ada tapak sepatunya. Para Goblin itu langsung diam, sedikit panik dan gemetar.

"Gaswat! Ternyata manusia itu yang bikin Hangtulah pulang dengan kekalahan!"

"Apa dia sehebat itu sampai Hangtulah kalah?!"

Vent lantas memasukkan hasil panennya ke kantong, sambil menenteng gentongnya dia berkata, "Oi, mahluk coklat dekil. Kalo mau tau, come at me, bro!"

Para goblin itu langsung menyerang Vent. Tanpa tersentuh dan bergerak tanpa tulang, Vent menghindari satu per satu serangan sambil membalikkan serangan yang dilancarkan para Goblin. Schneide--yang semakin semangat punya kawan tarung asik ikutan bertarung. Schneide punya ilmu bela diri yang dia namai Undefeatable East, dan bisa sinergi dengan gaya tarung Vent. Pertarungan itu tidak diperhitungkan oleh para Goblin. Beberapa mendapatkan tapak sepatu sedangkan yang lainnya mendapatkan kutukan diare 7 hari 7 malam dari jurus Drache Kinhakken Barehand Special-nya Schneide. Tidak ada yang mati dalam pertarungan itu.

--

Setibanya di kota dengan hati senang dan banyak oleh-oleh (terutama Schneide yang punya lagi modal untuk beli perlengkapan untuknya), Schneide menagih janjinya.

"Oh, yang dibagi dua itu, ya?" Vent mengerti. Lantas dia memberikan sebuah botol minuman pada Schneide. "Coba aja. Minuman itu asik, loh."

Schneide bengong karena dia tidak mendapatkan uang seperti yang dia harapkan. Tapi apa salahnya mencoba minuman dari Vent, siapa tahu enak dan bergizi, menurutnya. Baru saja minum seteguk,

"PUHEEEEEEEEEE!!! :rpuke:" Schneide batuk-batuk, wajahnya langsung merah, tenggorokannya panas, lidahnya seperti terbakar walau tersisa rasa manis setelahnya. "MINUMAN MACAM APAAN INI?!"

"Oi, itu mahakarya ane, loh. Kalo mau minuman dewa, ente kudu nunggu enam bulan purnama baru bisa minum setetes... :lirik: "

Klik to lanjutan ceritanya, dari viewpoint Schneide
Klik to Chapter V


| My spriteworks | deviantArt | Mark's Quest | Eremidia: Dungeon! |
Developer of:



Supporter of:


Selp-Proclaimed The Most Handsome Member of the Long Lost Glorious


Disini kalo sebagai nubi mau dikritik yang bagus2 biasanya harus ngaku cewek dulu, karena you know lah... -- Brosef numfanklewhat


Terakhir diubah oleh richter_h tanggal 2012-07-11, 17:31, total 2 kali diubah
2012-07-10, 20:01
PostRe: [StoryPlay] Eremidia : The Legends begin
NachtEinhorn 
Robot Gedek Galak
avatar

Level 5
Posts : 1274
Thanked : 9
Engine : Multi-Engine User
Skill : Beginner
Type : Developer

Chapter 3: Vision

Aku baru saja menyelesaikan Quest White Barley bersama dengan seorang pemuda aneh yang suka mabuk bernama Vent. Setelah menerima bayaran quest dan membeli pedang baru (I Love Swords!), aku menerima bonus berupa sebotol minuman "racikan dewa" dari Vent.

"PUOHEEEEEEEEEEEEEEEE! COugh! cOugh! ini... Apaan?" sambutku setelah meminum racikan Vent.
Ia menjelaskan kalau ramuan itu adalah arak mahakaryanya, dan memerlukan ritual khusus (?) untuk minum setetes saja. "Kasih tau dulu lah kalau itu Arak ==a Lumayan lah buat temen malam hari =w=b" kami berdua pun tertawa.

"By the way" ujarku, "Aku pikir akan lebih bagus kalau kita ngerjain quest bareng, akan lebih cepet, dan hasilnya bisa dibagi 2, separo ente separo ane" ujarku mengikuti dialek Vent. Vent mengangguk "Asal bentar aja ye, ngga terus terusan."

Kami pun melihat ke papan request. Vent melihat sebuah pamflet yang menarik " Help Wanted at Church di atas bukit dekat Hutan Utara. bayaran menjanjikan"

Awalnya aku ogah ogahan, "Mwalesss, gw bukan orang yang religius" Vent menjawab " Ane juga kagak (OOT: gapapa kan H? :hammer: ), tapi bayarannya menjanjikan."

Akhirnya kami mengambil quest itu, dan menuju ke gereja tersebut. Sesampainya di gerja tersebut kami disambut oleh seorang pendeta muda, dan seorang Suster yang cukup cakep.

Pendeta itu bertanya "Apakah kalian yang berniat membantu kami?" Kami berdua mengangguk, dan bersiap siap. Akan tetapi...

"Uuuugh..." Suster tadi terhuyung huyung, memegang kepalanya. Aku, vent, dan pendeta tadi lantas panik, segera menuju ke suster tersebut.

"Ada apa?!" tanya pendeta itu. "Aku mendapat penglihatan... seorang pemuda sedang dihajar oleh seekor troll... dan mereka berada di dekat sini!"

"Future Vision kah... menarik" gumamku. Pendeta tersebut lantas meminta tolong pada kami berdua "Anak muda, bisakah kalian bantu mencari pemuda tersebut? Nyawanya saat ini lebih penting"

Vent bertanya "Terus gimana kerjaan kami sama ente? terus itu Suster gimana?" Jawab pendeta itu "terpaksa kami cancel. tenang, kalian akan tetap dapet bayaran kok"

Akhirnya kami bergegas meninggalkan gereja itu. "Mission Start!"

To be Continued



"Imagine Iron Man, kill Tony Stark, and replace him with Dinosaurs. That's why Tachikazes are awesome"


2012-07-10, 20:49
PostRe: [StoryPlay] Eremidia : The Legends begin
Signus Sanctus 
Newbie
Newbie
avatar

Level 5
Posts : 69
Thanked : 3
Engine : RMVX Ace
Skill : Beginner
Type : Developer
Awards:
Chapter 4 Link

-----------------------------------------------------------------------

Chapter V : Disorder Feelings

Aku memandang langit malam yang dipenuhi bintang sambil berbaring dipangkuan Leila, aku tidak bisa bergerak banyak gara - gara kasus waktu itu, dimana aku dihajar Troll Golem habis - habisan.



"Bukannya kamu sudah janji tidak akan meninggalkanku?! Kenapa kamu malah berbuat seperti ini!?!?!?"

Marah Leila kepada ku yang terbaring tak berdaya

"Aku tidak pernah berjanji akan terus bersamamu, aku hanya bilang aku belum ada niat untuk pergi kemana - mana..."

"Aku tahu! Tapi...."

"Setidaknya aku berusaha untuk meringankan beban finansialmu, kamu sudah memberikanku baju baru, memberiku kamar tidur, dan memberiku makan, kalau aku tidak bisa segera membalasnya, aku merasa aneh..."

Ucapku sedikit bingung.

"Tidak perlu... Sebenarnya aku memintamu disini bukan demi kamu juga...."

Leila mengusap pipi Phoenix.

"Entah mengapa, ketika aku melihatmu... aku seperti melihat adikku sendiri, tidak memahami jalan yang harus ditempuh, hanya berjalan tanpa arah, dan akhirnya terbunuh begitu saja...."

Aku termenung mendengar ceritanya.

"Tapi setidaknya, dia tidak pernah menyesali jalan pilihannya, meski berbahaya."

Leila tersenyum sedih, sambil menatapku. Namun entah mengapa, aku tidak bisa menolak tatapan matanya, seakan ia menantiku untuk memberitahunya sesuatu yang harus kuberitahu.

"..........Aku...."

Mendadak seorang datang dan menodongkan pisaunya kepada leher Leila

"Leila...!!!!"

"Kau kah? orang yang sudah membunuh Luke dan Erika...?!?!"

Aku terkejut mendengar perkataannya.

"Kau.... Junker juga kah....!!!"

orang tersebut menahan Leila sebagai sandera dan membawanya pergi

"DAMMIT!!!!! LEILA!!!"

"Jika kamu mau menyelamatkannya, datanglah ke gereja di utara, dan kamu akan paham!"

"KHRKK!!!!"

Aku mengambil obat penghilang sakit yang ada di kotak P3K di bar dan segera menuju gereja di sebelah utara.

***

Aku telah sampai di sebuah gereja, suasananya agak sepi, namun terasa ada orang didalam.

Aku masuk kedalam gereja dan menemukan 1 suster, 1 pastur, dan Leila sedang berada dibawah Guilottine, mesin pemenggal leher manusia.

"Apa maumu?!"



"Mudah saja, kamu tinggal memilih siapa dari mereka bertiga yang akan kamu selamatkan, dan aku akan menuduhmu sebagai orang yang menyebabkan tragedi di gereja ini."

Apa maksudnya berkata seperti itu, dia pikir aku akan terjebak kata - katanya begitu saja...

"Don't make me laugh, you bitch...!"

*BWOOOOOOOOOSH!!!!

"Eh?"

Aku membakar tubuhku kembali dengan api membara, membakar seisi gereja, dan kukumpulkan semua kedalam pedangku.

"Shinning Blade Cut....!!"

Kutebas ketiga orang tersebut, dan ternyata ketiga orang tersebut adalah maneqin yang disiapkan untuk menipuku

"Ke... Kenapa bisa...?!?!?"

"Jangan salah paham....!"

Aku tersenyum sinis dengan lebar, dan menatap Junker itu dengan kejam

"AKU SUDAH MEMBUNUH ORANG LEBIH BANYAK, DAN KETIKA AKU SUDAH MEMUTUSKAN UNTUK MEMBUNUH SESEORANG, TIDAK ADA YANG BISA LEPAS DARI TAKDIR KEMATIAN MEREKA!!!"

Phoenix maju menerjang Junker tersebut.

"Cih...!"

Dan ia menarik seseorang untuk dijadikan tameng, namun aku tidak mempedulikan itu semua dan...

*SLASH'D!!!!!

kubelah dua pastur yang menjadi tameng itu beserta dengan tangan Junker tersebut

"KYAAAAAAAAAAAAAAAAAAH~~~~!!!!"

"NOT OVER YET!!!!!!"

*ZLEBB!!!!

Kutusuk perut wanita tersebut hingga tembus menusuk dinding.

"A.... KHA.... GHA....H....!"

"Now....!!!"

Saat akan kuakhiri nyawanya....

"PHOENIX, HENTIKAN!!!!"

.............................................
Tubuhku mendadak terhenti, seluruh tenaga hilang dari seluruh tubuhku, pedangkupun menjadi sangat berat, dan kepalaku pun terasa kaku. Pelan - pelan aku melihat sumber suara itu berasal....

"Phoenix...."

Leila, melihatku....


to be continued...


The Greatness of Tentacle:
 


Requiem:
 


The Last:
 
2012-07-10, 21:19
PostRe: [StoryPlay] Eremidia : The Legends begin
NachtEinhorn 
Robot Gedek Galak
avatar

Level 5
Posts : 1274
Thanked : 9
Engine : Multi-Engine User
Skill : Beginner
Type : Developer

Chapter 4 Burned Church, Bird of Cursed Flames

Aku dan Vent bergegas menyusuri Hutan dekat gereja. Dan, benar saja, seperti kata suster tadi, seorang peuda pingsan sedang diseret oleh seekor Troll Hutan. Troll ini memiliki tubuh yang lebih besar dari troll troll lainnya, dan bersenjatakan gada super besar.

Vent menyiapkan kuda kudanya, Dan aku menyiapkan pedang baruku." Mari kita lihat kemampuanmu, teman baru" kataku. Troll tadi sadar akan kehadiran kami dan langsung menyerbu.

vent, seperti biasa menghindar dengan gemulai berkat Jurus Mabuknya. Aku menerjang Troll itu dengan serangan pertama: Drache Kinhakken. Troll itu bisa menangkisnya dengan gadanya yang lumayan besar. Vent pun mulai menunjukan aksi beladirinya seperti biasa, Mark of The Foot. Akan tetapi Troll tersebut tidak bergeming. kami terbelalak. lalu, WHOOSH! BRAKK! Sekali sabetan gadanya mementalkan kami berdua.

"Ini troll kayaknya lebih pro dari troll yang kita temuin sebelumnya deh" kataku. "Setuju, jadi gimana nih?" tanya Vent. jari telunjuk kiriku memutar, memberi aba aba ke Vent. Vent mengangguk, dan kami pun meju serentak ke arah Troll Pro itu.

"Roundhouse Kick!" Vent melakukan putaran tendangan mematikan bak Puting Beliung dari arah kiri Troll tersebut, sedangkan aku "Splitstour Storm!" memutar mutar pedangku laksana baling baling yang siap mencincang musuh dari arah kanan. Troll tersebut terlambat mengelak, dan menerima serangan kami secara bersamaan. Secara spontan aku meneriakan nama jurus yang barusan terlintas di kepalaku " Twin Tornado Finisher!"

Troll itu pun akhirnya tergeletak tak bergerak lagi.Vent bertanya kepadaku "Twin Tornado finisher? Apaan tuh?" Aku menjawab sambil menggaruk kepalaku "Hyaaa, my bad. gw kebiasaan suka ngasi nama jurus begitu ngeliat sesuatu yang baru, kayak tadi". vent menggeleng gelengkan kepalanya. "Ente ini aya aya wae." Kami pun tertawa bersama.

Tiba tiba kami mendengar suara ledakan dari arah Gereja. Kami terkaget. "Aku mendapat firasat buruk". Vent lalu berkata "Ente duluan aja, ane rawat dulu ini pemuda". Setelah berterimakasih pada Vent, aku bergegas ke gereja.

Aku pun sampai ke gereja... atau setidaknya gereja sebelum kami tinggalkan. yang kulihat adalah bangunan yang terbakar api. Aku bergegas menerobos masuk, dan...

Holy s**t

Apa apaan ini?

Ini ga kejadian beneran kan? HEY?!

Aku melihat Pendeta tadi terbelah2, bersama dengan seorang wanita yang kondisinya tak kalah parah. Kulihat Suster tadi masih tergeletak pingsan, dan ada Seorang wanita lagi menatap seorang pemuda dengan muka shock.

Pemuda itu memegang pedang yang berlumuran darah... diakah yang membunuh Pendeta? Mungkinkah suster tadi juga terbunuh?

Aku kalap.
Tanpa pikir panjang, aku bergegas menuju ke arah pemuda itu. Aku siap menancapkan pedangku ke dadanya.

"BAJINGAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAN!"

To be Continued


"Imagine Iron Man, kill Tony Stark, and replace him with Dinosaurs. That's why Tachikazes are awesome"


2012-07-10, 21:30
PostRe: [StoryPlay] Eremidia : The Legends begin
EmperorAlan 
Senior
Senior
avatar

Level 5
Posts : 622
Thanked : 5
Engine : RMVX Ace
Skill : Very Beginner
Type : Developer

The Beforemath of Crestfallen Heroes

Aldyan Alan
Chapter 1: Piece 1
Genre: Humor/Adventure.
Author's Note: finally! :cry: A thread for writers!! Kalau ada kesalahan dalam plot dan cerita dasar, saya mohon maaf.




Kesusah payahan Jeramyu terbalaskan ketika dia akhirnya berhasil mengurung ternak sapi yang terakhir. Dia akhirnya dengan sempoyongan berjalan ke sebuah pohon didekatnya dan duduk di bawah pohon itu.

'Hari ini betul-betul melelahkan, kapan aku bisa pergi dari kota ini?' pikirnya. 'Apa yang dilakukan Porter hari ini ya?', Jeramyu berpikir apa yang dilakukan anak itu sekarang, terakhir yang dia ingat kemarin dulu dia menguliti kucing tetangga.

'Kota Vixephio betul-betul membosankan, aku harap aku bisa meledakkan kota ini dan pergi ke negeri Eremidia diseberang, kudengar disana ada pekerjaan bernama Hunter yang dapat memberi banyak uang, heh."

"Jeramyu!! Apa yang kau lakukan disana? Kemarilah kau pemalas!!" teriak ayah Jeramyu dari bar miliknya. Jeramyu hanya menatap dingin ayahnya sebelum beranjak. 'Ada apa lagi hari ini?' batin Jeramyu seraya berjalan.

Dia mendorong pintu bar dengan bunyi 'kring' yang mengenakkan. Belum ada pelanggan yang datang, biasanya mereka mulai mabuk-mabukkan ketika malam hari. Jeramyu selalu merasa jengkel ketika ada orang mabuk yang masuk ke rumah dia dan ayahnya atau muntah, dia selalu yang harus membersihkannya.

Tanpa dia sadari, Jeramyu sudah sampai ke depan ayahnya. "Apa yang kau lakukan berdiri di samping meja sana? Kemarilah!" bentak ayah Jeramyu, Jeramyu tidak tahu kapan ayahnya membentak atau berbicara. Semuanya sama baginya, mungkin dia pernah jadi nelayan sebelumnya, huh.

"Anal seperti biasa, huh?" kata Jeramyu pelan. "Apa!? Oh, kesini saja kau!" kurasa dia memang pernah jadi nelayan. "Dengar nak, kudengar kau berkelahi lagi dengan para penjaga disana." kata ayah Jeramyu melempar pandangan jengkel.

"Oh, soal itu." Jeramyu memutar bola matanya. Dia melihat wajah ayahnya berubah menjadi merah lagi, itu pertanda yang tak baik. Tetapi Jeramyu tetap tidak peduli. "Jeramyu, aku tidak bermasuk ingin memberimu waktu yang sulit, aku hanya kau ingin memberiku sedikit bagian juga." katanya berusaha menahan amarahnya kepada anaknya yang semakin menjadi-jadi.

"Jadi, cuma itu?" kata Jeramyu dengan santai bagaikan orang yang hanya menanyakan cuaca. "Ya, cuma itu.". "Kalau begitu bolehkah aku pergi?" tanya Jeramyu dengan seringai-nya. "Kau mau pergi kemana? Aku butuh bantuanmu untuk mengangkut rak wine dari Ibukuta Erimidia!" kata ayah Jeramyu melirik ke arah beberapa rak wine yang tersusun berantakan.

"Yeah, terserahlah. Sampai jumpa, ayah!" dan dengan begitu Jeramyu pun pergi keluar baru. Cuaca hari ini sangat cerah, bagus untuk berpetualang. "Lebih baik aku lihat Porter di rumahnya. Sedang apa anak itu ya?" gumam Jeramyu.




"Hei, ayahnya Porter! Apa Porter ada di rumah?" tanya Jeramyu ke ayah Porter yang sedang duduk didepan rumahnya dengan secangkir kopi. "Ooh, kau teman Porter? Dia pergi merantau sejak kemarin." kata ayah Porter, dia terlihat sedikit jengkel. "Aku bingung dengan anak itu, mau jadi apa dia. Aku memarahinya kemarin, dan dia langsung membungkus semua barangnya dan pergi, ibunya sepertinya masih sedih..." kata ayah Porter memandang jauh.

Jeramyu serasa dikhianati, satu-satunya teman yang dia miliki sudah meninggalkannya. "Kemana dia pergi?" tanya Jeramyu. "Entahlah, kurasa ke Erimidia, negeri tetangga yang tiba-tiba diserang monster asing." jawab ayah Porter sedikit cuek, mungkin dia berharap anaknya dibunuh oleh seekor monster disana.

Jeramyu bergegas ke kamarnya, menghiraukan teriakan ayahnya. Dia mengambil semua bajunya, sebuah switchblade, dan tabungannya yang dia sudah siapkan. DIa lalu meloncat dari jendela kamarnya dan bergegas menuju pelabuhan. Entah berapa kali dia sudah menabrak orang-orang di lorong.

Ketika dia sudah sampai, hatinya mencelos, kapal yang akan berangkat ke Erimidia sudah menjauh dari pelabuhan. Tidak, dia tidak ingin tinggal di kota ini. Dia akan mencari pekerjaan, petualangan, dan uang. Dia tidak ingin menjadi bartender seperti ayahnya menyediakan minuman untuk pemabuk! DIA AKAN BERJUANG!

"AKU TIDAK AKAN MENYERAH!!" teriak Jeramyu berlari ke arah dermaga, dia mengarahkan segala tenaganya ke kakinya dan meloncat menuju belakang kapal, dia mencoba menggapai pegangan kapal, tapi tangannya tidak sampai. "Tidak, aku akan terlihat bodoh jika seperti ini! Aku...".

Plak, sebuah tangan yang kasar menggapai tangan Jeramyu yang mulai menurun, tangan itu lalu menarik Jeramyu keatas kapal. Dia mencoba untuk melihat penyelamatnya tetapi sinar matahari menyengat matanya. Dia bangkit dengan perlahan. "Baik-baik saja disana, wenbie?" tanya orang itu.

Jeramyu tidak mengenal orang itu, tetapi dari caranya berpakaian, dia yakin dialah kapten kapal ini. "Bahaya sekali kau, loncat seperti itu. Aku beri kau segelas rum untuk keberanianmu." kata kapten itu merangkul tangannya disekitar bahu Jeramyu. "Siapa namamu nak?" tanya kapten itu mengiring Jeramyu ke depan kapal.

"Jeramyu, kapten." jawab Jeramyu. "Ho-oh, Jeramyu. Selamat datang ke SS Surya Baru, tujuan Erimidia." kapten itu melirik ke arah negeri Erimidia yang hanya tampak seperti garis hitam yang kecil dari kapal ini. Jeramyu tersenyum puas. Dia tertawa sambil melebarkan tangannya.

"Haha, HAHAHAHHA!!! AKU BEBAS!! AKU BEBAS DARI VIXEPHIO!!!" teriak Jeramyu ke arah lautan, ke arah tanah Erimidia. Dan dengan begitu, Jeramyu secara tidak sadar telah membawa dirinya ke sebuah spiral insiden dan fenomena, sebuah spiral yang suatu hari nanti akan membuatnya menjadi salah satu bintang yang bersinar untuk melindungi dunia dari marabahaya.

To be continued...
2012-07-10, 22:19
PostRe: [StoryPlay] Eremidia : The Legends begin
Signus Sanctus 
Newbie
Newbie
avatar

Level 5
Posts : 69
Thanked : 3
Engine : RMVX Ace
Skill : Beginner
Type : Developer
Awards:
Chapter 5 Link

Schneide's Arrival

Chapter VI : Overdosed Trauma



"Phoenix...."

Aku terdiam tanpa pergerakan, menatap Leila yang melihatku melakukan pembunuhan keji seperti ini, aku tidak sempat melancarkan serangan terakhirku pada Junker ini, namu akhirnya ia sudah tewas kehabisan darah.

"BAJINGAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAN!!!!!!!"

Tiba - tiba seorang pemuda berambut perak menerjang sambil menyiapkan pedang di tangannya, akupun bergegas menarik pedangku dari perut junker ini dan langsung maju menerjang pemuda tersebut...

"ROOOOOWAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAHH!!!!"

*CLASH'D!!!!!!!!

Kedua pedang saling beradu, impact yang dikeluarkan kedua pedang tersebut setara, saking kuatnya sampai - sampai api disekitarnya mulai menyebar membakar area lain, Leila pun hampir terkena imbasnya.

"Leila...!"

Aku mengalihkan pandanganku pada asal suara Leila, dan seketika itu juga pemuda berambut perak itu menyerangku tanpa mengurangi tenaganya.

"MAKAN INI!!!!!"

*BWETS!!!

Tepat mengenai bekas luka Phoenix saat melawan Troll Golem, namun Suzaku tidak menghiraukannya dan kembali melancarkan serangan balasan.

"Shinning Blade Cut!!"

Namun, serangan itu hanya mengenai dada luar dan tangan pemuda tersebut, Suzaku mencoba mengambil jarak dari pemuda itu namun sangat sulit karena luka lamanya terbuka lagi.

"Cih, kurang dalam...!"

"Drache Kinhakkens!!"

Serangan pedang uppercut yang tajam dan cukup panjang itu melukai tanganku, namun masih bisa untuk menangkis beberapa serangan lagi...

"Ugh, dia petarung berpengalaman...."

Tapi aku tidak bisa pergi dari sini, tidak sebelum Leila selamat...

"Splitstour Storm!!!!!!"

Pemuda itu berputar - putar membentuk sebuah pusaran pedang yang tajam dan menerjang ke arahku, namun ditangkis lah oleh Phoenix kesamping dan membiarkan pemuda itu menerjang kearah dinding, namun masih dalam keadaan berputar, kembali berputar...

"Gah...!!!"

yang dibelakang e terdapat Leila sedang berlari kearahku...

"ROWAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAR!!!!!!!"

Aku maju menerjang kearah pemuda berambut perak tersebut

*BRET BRET BRET BRET!!!!!!

*BRUAGH!!!!!

Aku terlempar setelah menerima beberapa tebasan dari pemuda tersebut dan terluka parah, ditambah efek obat penghilang sakitnya pun mulai hilang, Phoenix mencoba berdiri dengan susah payah...

"Kha.... hh...."

"Beraninya... BERANI - BERANINYA KAU....!!!!!!!!!!!!!!!!"

Pemuda itu menyiapkan posisi menusuk...

DEG

Perasaan tersebut keluar lagi, sesaat setelah melihat pose menusuk milik pemuda tersebut, perasaan ini keluar lagi...

"Schatten Hover!!!!!"

Pemuda itu mengeluarkan jurus tusukan yang baru...

DEG! DEG! DEG!

"Final Blade Saver...!"

*SLASH'D!!!!!!!

Mendadak Pemuda berambut perak tersebut tersungkur jatuh seperti tersandung sesuatu, namun bukan karena tersandung, melainkan kakinya mengalami pendarahan parah, tulangnya terlihat dari bekas tebasan dariku, mukanya menunjukkan muka terkejut, dia bingung bagaimana aku bisa menyerang dari jarak sejauh itu...

"UGh....!! masih... belum...!!!!!!"

Namun pemuda berambut perak itu berdiri kembali, dan menerjangku kembali...

"Pedang... tusukan... Agito.... FireWing...... Suzaku....!!!!!!"

Aku menyiapkan serangan balasan kembali, menanti terjangan pemuda berambut perak tersebut...

"FINAL...!!!!!!"


"HENTIKAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAN"

*SREEEEEEEEEEET!!!

Bersamaan dengan aku menghentikan seranganku, Pemuda berambut perak itu menahan larinya dan berhenti dengan sekuat tenaga tanpa mempedulikan kakinya yang hampir terbelah dua itu. Leila, sedang berdiri diantaraku dan pemuda perak itu, mulai mengucurkan air mata...

"Tolong, hentikan semua ini...... Aku... Aku tidak mau kamu mati, Phoenix.... dan... dan... dan aku tidak mau kamu mengambil nyawa orang lagi...."

Namun dari belakang pemuda rambut perak itu membalas...

"JANGAN EGOIS!!! KALAU DIA DIBIARKAN HIDUP TERUS SEPERTI ITU, BiSA - BISA ORANG LAIN YANG TERKENA IMBASNYA!!!"

Leila menatap pemuda perak itu dengan muka berharap...

"Kumohon...! maafkan dia kali ini saja....!!!"

"Ugh....!"

Pemuda perak itu terlihat menjadi ragu....

"Tolong lakukan, Silver Hunter...."

Mendadak seorang suster muncul dan memasuki pembicaraan...

"Kamu... Kamu masih hidup?!?!?"

Ucap pemuda perak itu senang, aku tidak paham kenapa ia bisa mendadak lega seperti itu....

"Haaah, gw kira situ sudah mati ama lelaki itu...."

"Tidak, justru pria itu mencoba menyelamatkan kami...."

"Ee? Nani?" Pemuda perak itu bingung dengan perkataan Suster tersebut...


***

Karena luka - lukaku dan pemuda perak bernama Schneide itu yang cukup berat, kami berdua dilarikan kerumah sakit, dan kejadian kali ini dianggap "kecelakaan", sehingga kami tidak mendapatkan vonis apapun dari Hunter's Guild

"Begitu.... kamu cuma mencoba untuk menyelamatkan wanita itu lagi...."

Ucap pemuda itu sedikit menyesal.

"Itu tidak mengubah fakta bahwa aku telah membunuh Priest dan Junker itu..."

Ucapku sinis, menyebutkan fakta yang sebenarnya...

"Phoenix..."

Leila hanya menatap ku miris, dan kondisiku benar - benar dalam kondisi yang buruk, aku tidak tertarik dengan apa yang akan mereka lakukan terhadapku atau pandangan mereka kepadaku...

Aku hanya.... ingin mencari ingatanku kembali....

to be continued...


The Greatness of Tentacle:
 


Requiem:
 


The Last:
 
2012-07-10, 22:45
PostRe: [StoryPlay] Eremidia : The Legends begin
richter_h 
Salto Master
Hancip RMID
avatar

Kosong
Posts : 1705
Thanked : 30
Engine : Other
Skill : Skilled
Type : Developer
Awards:

The Tale of Vent McGraves
Chapter V


Klik to Chapter IV
Klik to Cerita Vent ssebelumnya, pra-Chapter V

Setelah Schneide lari terburu-buru ke gereja di hutan utara, Vent hanya bengong melihat sosok pemuda yang dia dan Schneide telah selamatkan. Pingsan, menurutnya. Lalu Vent mengambil salah satu botol kecil dari kantong pinggangnya, membuka botol itu dan menghirupkan aroma minuman racikan Vent dari botol itu ke hidung sang pemuda. Pemuda itu langsung sadar, kaget dan terbangun lalu terjungkir ke belakang.

"Tenang. Ente tadi cuma ngirup racikan super ajib ane. Akar Pokis emang nend... E? Ente?!"

Vent kaget. Dia lihat wajah pemuda itu, rasanya dia pernah lihat dia sebelumnya. Mungkin sebelum dia pergi ke Corona dan menjadi Brewmaster. Tapi, syal itu, goggle itu, rambut coklat itu, orang itu...

"Andy?!"

"Tunggu." Pemuda itu kaget, Vent mengenali dirinya yang bertemu pun belum pernah. "Aku memang Andy. Andy Landwalker. Tapi kenapa kamu bisa tau aku?"

"Ente pernah nyasar di Westerland dulu, dan ente pergi sama Nella waktu itu." Vent lantas duduk dan menghela napas. Dia bertemu lagi dengan kawan yang pernah berkelana bersamanya dulu. "Masih inget pas ane, ente sama Ryuna kabur bareng di Westmidland dulu?"

"Tunggu. Siapa Ryuna?! Kenapa kamu tau soal Nella?! Siapa kamu ini sebenarnya?! :OMG: "

"E? Tunggu dulu..." Vent sadar ada yang berbeda dengan Andy yang dia sekarang hadapi. "Ente keliatannya lebih muda dari pas di Westerland... Apa ini bener-bener ente, Andy?"

"Aku Andy, dan aku tidak pernah bertemu orang mabok sepertimu!"

Andy lantas bangun, lalu dia berjalan ke arah hidungnya mengarah, meninggalkan Vent yang bengong dengan perilaku Andy yang 'berbeda' dengan dia pernah temui sebelumnya. Baru saja beberapa langkah, Andy menoleh ke arah Vent. Terlihat dia begitu kebingungan dan hampir putus asa.

"Jadi, ente sekarang lagi ngejar yang nyulik Nella, dan mereka ke kota?"

"Ya. Saat Nella kembali ke Skynesia diantar oleh klan Arthar, dia diculik dan dibawa ke Eremidia. Claude sendiri yang berkata hal itu. Makanya, aku mengejar mereka sampai di sini, dipukul sampai pingsan oleh satu Troll bes- Tunggu. Apa kamu yang mengalahkan Troll besar itu?"

Vent lirik Troll pingsan yang ditunjuk Andy, lantas dia menggangguk.

"Dengan bantuan seseorang yang nyentrik," tuturnya.

"Apa kamu tau kemana arah Eremidia? Aku harus ke sana secepatnya. Nella mungkin dalam bahaya."

Vent berdiri dan menenteng lagi barelnya. Lantas dia berjalan ke arah Andy dan berkata, "Kalo ente mau selamatin Nella lagi, akan ane bantu. Kita bisa sampe di kota menjelang malam kalo kita berangkat sekarang."

Vent lalu berjalan ke ara kota. Andy masih heran dengan orang mabok seperti Vent itu.

"Lagi?" Andy masih heran dengan kata-kata Vent barusan.

--

Di kota Eremidia, menjelang malam. Andy--yang masih cemas was-was tidak sabar untuk mencari ke seluruh penjuru kota.

"Oke. Kalo nyasar, jangan panik. Banyak orang-orang yang bisa ente tanya." Vent menyalami Andy yang bergegas mencari Nella si gadis Skynesia di kota yang naudzubileh luasnya itu. "Kalo ada apa apa, ane ada di bar punya Leila. Barnya ada di alun-alun kota, gampang dicari."

Setelah berpisah dengan Andy, dia lantas kembali ke bar langganannya. Tapi, dia tidak melihat wanita bartender yang biasa dia lihat kalo dia di bar. Kata seorang pemburu yang sedang menikmati beberapa botol bir, wanita itu hilang dan tidak tahu kemana sekarang. Dia terlalu mabuk untuk menceritakannya.

Mumpung bar sepi, Vent manfaatkan keadaan dengan mengambil beberapa botol kosong dan dia memulai ritual meracik bahan minuman. Seorang pemburu mabuk mungkin akan lupa dengan apa yang akan dia saksikan...

Dia membuka lubang tuang barel itu, lalu menuang minuman dalam barel yang sering dia bawa itu ke beberapa botol kosong. Lantas dia membuka tutup barel itu seluruhnya, membuang ampas-ampas yang ada dalam barel dan menyimpan beberapa bahan racikan yang sudah dia kumpulkan sedari dulu. Bahan demi bahan dia masukkan. Lalu dia meneteskan beberapa tetes cairan dari sebuah botol seukuran jempol, lantas meremas-remas bahan minuman dalam barel itu. Setelah bahan-bahan itu tercapur rata, dia menutup kembali barel itu dan mengguncang-guncangnya.

"Enam bulan purnama, dan ane bakalan punya lagi minuman dewa..."

Vent dulu pernah berhasil membuat minuman dewa, dimana dia bisa berbicara dengan Spirit pendampingnya. Spirit itu selain memandunya dalam pengembaraan, dia juga membimbing Vent dan menjadi mentor dalam hal spiritual dan bahkan Spirit itu mengajarinya ilmu bela diri yang menjadi lanjutan ilmu yang telah dia pelajari dari Ki Joko Perkasa, gurunya beberapa tahun lalu.

"Ane coba dulu hasil racikan yang terakhir..."

Vent minum minuman hasil racikannya dari salah satu botol yang telah dia isi dengan minuman dalam barel tadi. Hasilnya? Dia mabuk seperti biasa, namun dia berhalusinasi namun dia tidak terlalu sempoyongan. Walau rasanya nendang pol, tapi dia rasa kali ini dia cuma membuat bir biasa.

Vent teringat dengan Schneide. Apa kabar dia sekarang setelah mengecek apa yang terjadi di gereja sana. Dia mengemas bawaannya, memasukkan botol-botol dan menenteng lagi barelnya, dan keluar, meninggalkan pemburu mabok yang teler di bar yang kosong bin tidak ada siapa-siapa. Karena puyeng dan tidak kuat lagi berjalan, dia akhirnya tepar di gang sepi nan gelap...

Klik to Chapter VI


| My spriteworks | deviantArt | Mark's Quest | Eremidia: Dungeon! |
Developer of:



Supporter of:


Selp-Proclaimed The Most Handsome Member of the Long Lost Glorious


Disini kalo sebagai nubi mau dikritik yang bagus2 biasanya harus ngaku cewek dulu, karena you know lah... -- Brosef numfanklewhat


Terakhir diubah oleh richter_h tanggal 2012-07-11, 17:41, total 3 kali diubah
2012-07-10, 23:16
PostRe: [StoryPlay] Eremidia : The Legends begin
nisamerica 
Living Skeleton
avatar

Kosong
Posts : 1668
Thanked : 25
Engine : RMVX
Skill : Very Beginner
Type : Artist
Awards:


Chapter 1 New Canvas
Nama: Vischelia Abileine
Umur: 19
Penampilan:
  • Kecil, kulit putih dengan rambut pirang keemasan dengan mata merah padam
  • Berpakaian rapi namun mudah bergerak dengan warna utama biru dan putih
  • Memakai rok bergelombang berwarna krem di atas celana panjang ketat berwarna biru gelap (bisa dibilang leggings)
  • Memakai topi coklat muda dengan pinggir topi yang sangat lebar yang dihiasi tiga bulu burung
  • Memakai tas pinggang yang besarnya hampir sepertiga tubuhnya yang digantung di pundaknya


Sejauh mata memandang hanya terlihat hamparan padang rumput luas berwarna hijau kekuningan yang seakan tidak terhingga, disertai sedikit pepohonan hijau yang memberikan kerindangan terhadap rerumputan yang disinari terik matahari ini. Terlihat adanya jalan setapak di tengah-tengah hamparan padang rumput yang luas tersebut, dan tubuh kecil dengan kaki yang mungil yang sedang menapaki jalan tersebut.

Dilihat dari dekat, pemilik dari tubuh mungil tersebut adalah seorang gadis kecil dengan topi coklat berpinggir lebar berhiaskan tiga bulu burung berbagai warna, seandainya tidak memakai topi, rambutnya yang pirang akan bersinar terang keemasan memantulkan sinar matahari. Ia mengenakan sejenis kemeja berlengan panjang berwarna putih yang dilapisi rompi biru, kakinya yang kurus dan ramping dibungkus oleh celana panjang ketat berwarna biru gelap, pinggangnya yang kecil dibalut rok pendek bergelombang berwarna krem merah muda, dan merupakan tempat bersandar untuk tas pinggang miliknya yang memiliki besar hampir sepertiga tubuhnya.
Gadis tersebut memiliki nama Vischelia Abileine, dan di ujung jalan yang sedang ia tapaki tersebut, terdapat ibukota dari kerajaan megah yang memiliki banyak keunikan dan flora fauna yang memukau. Gadis tersebut sama sekali tidak memiliki alasan khusus mengunjungi negeri tersebut, ia hanya senang berkelana dan sekedar tertarik dengan tempat tersebut.

Ah, mengapa aku mengenal gadis tersebut sejauh itu? Tepat, gadis tersebut adalah aku, inilah kisah mengesankan tentang petualanganku di negeri misteri, Eremidia…




Semilir angin sejuk membawa harum rumput dan wewangian alam menggelitik indra penciumanku serta mengelus rambutku dengan lembut, rumput pun bergoyang dan dedaunan melambai seakan mengikuti gerakan rambutku.
Kubetulkan posisi topiku yang bergeser sedikit karena tertiup angin dan juga untuk menghindari teriknya matahari. Kulangkahkah kakiku menyusuri jalan setapak yang sepi dan hanya ada rerumputan, seakan tiada akhirnya. Namun jalan ini memiliki akhir, dan di sana lah tempat tujuanku berada, Eremidia.

Ini adalah hari ketiga setelah keberangkatanku dari kota sebelumnya, dan seharusnya aku bisa tiba di ibukota sebelum hari menjadi malam, aku juga menginginkan hal tersebut, karena tidur di padang rumput begini sama saja dengan bunuh diri.

Setelah berjalan beberapa lama, matahari bersinar tepat di atasku, semakin terik dan panas dari sebelumnya. Aku merogoh tas pinggangku dan mengeluarkan kantung tempat air minum yang terbuat dari kulit binatang. Kuremas sedikit tempat air tersebut untuk memastikan sisa air yang ada, lalu kutenggak air tersebut sepelan mungkin, bertujuan untuk menyejukkan kerongkongan dan dahagaku dengan air sesedikit mungkin. Mungkin kalian menganggap aku paranoid, tapi kita tak akan tahu kapan kita akan sangat membutuhkan air, jadi lebih baik sisakan sebanyak mungkin.

Setelah puas meminum air, kuteruskan langkahku sembari menyimpan kantung air minumku kembali ke dalam tas, namun, belum menyelesaikan bahkan satu langkah pun, aku kembali terhenti, menyadari ada sepasang mata kecil yang memperhatikanku. Seekor tupai kecil , entah dari jenis apa, tapi ia memiliki bulu coklat kemerahan dengan corak garis yang unik yang tak pernah kulihat sebelumnya, sepertinya kabar bahwa Eremidia memiliki keragaman fauna yang unik benar apa adanya.

Melihat makhluk tersebut tidak berbahaya, aku pun tersenyum dan duduk bertumpu pada lutut, mendekatkan wajahku untuk melihat tupai tersebut lebih jelas. Tupai tersebut tampak terkejut dengan gerakanku yang tiba-tiba, dan mengambil jarak sambil berdiri siaga. Aku yang melihat kelakuannya tersebut tersenyum dan mencoba menyapanya dengan suara pelan agar ia tidak takut.

“Hey there cute little fella… Don’t be scared, I don’t intend to harm you in any ways,” sapaku. Tupai itu tampak bingung dengan sapaanku.
Ya, benar, aku berasal dari negeri yang berada jauh di Barat, sehingga aku memiliki bahasa dan logat yang pastinya asing untuk kalian kebanyakan, tapi jangan khawatir, aku sudah mempelajari bahasa lokal Eremidia sebelum memulai perjalanan ini. Belum sempurna sih, tapi kalau sekedar berkomunikasi secara biasa kurasa sudah cukup.

Meskipun tampaknya percuma, tapi aku mencoba mempraktekkan bahasa yang sudah kupelajari dengan tupai ini sebagai lawan bicara, “Kau tidak mengertikah? Bagaimana dengan aku menggunakan bahasa ini?”

Setelah selesai bicara, aku melihat ke sekelilingku, aku pasti dianggap gila bila ada orang yang melihatku.

Namun tampaknya tidak juga, tupai itu tidak lagi tampak bingung dan kembali meneruskan kegiatan yang sedang ia lakukan sebelum aku datang, yaitu makan. Ia tampak sibuk menggerogoti benda bulat merah yang ada di tangannya.

“Aha, Wildberries!” seruku pelan agar tupai tersebut tidak takut. Aku memperhatikan sekeliling, mencari pohon tempat tumbuh beri yang dimakan tupai tersebut. Tupai yang memakan beri tersebut sudah menandakan bahwa ada tanaman beri di sekitar sini, dan melihat keadaannya yang tenang-tenang saja memakan beri tersebut, kemungkinan besar tidak beracun.

Mencari dan mengumpulkan makanan adalah hal penting untuk bertahan hidup, kelakuanku ini sudah menjadi kebiasaanku sejak lama, karena aku sering bergelut di ambang kematian.

Okay, mungkin aku memang paranoid. :hammer:

Tidak berhasil menemukan pohon beri hanya dengan mengandalkan penglihatan, aku pun mulai beranjak dari tempatku, tentu saja berhati-hati agar tupai tersebut tidak takut, dan dengan pandangan tertuju sedikit miring ke bawah, aku mulai merangkak di sisi jalan setapak.

DUAK!!

“Ouch!!” Tidak beberapa lama setelah aku mulai merangkak, kepalaku terbentur sesuatu yang keras. Aku melihat ke depan, dan kudapati sebuah palang kayu yang terhujam ke tanah, kuteruskan pandanganku ke atas, dan kulihat papan penunjuk arah yang terpasang di palang kayu tersebut.

Aku berdiri untuk melihat apa yang terukir pada papan kayu tersebut, terdapat tulisan dengan aksara yang kukenal, namun dengan bahasa asing, yang untungnya itu adalah bahasa yang sudah lebih dulu kupelajari.

“Eremidia, 300 langkah”

Tiga ratus langkah? Aku merasa senang, karena itu jarak yang cukup dekat. Kupalingkan wajahku ke arah yang ditunjukkan oleh papan tersebut, yaitu ujung jalan setapak ini, dan benar saja, samar2 terlihat di kejauhan, tempat tujuan yang sudah kunanti-nanti.

“Yay! It’s near!” benakku dalam hati sembari menarik kepalan tangan menandakan keberhasilanku.

Setelah memandangi kota yang samar2 tersebut, kualihkan pandanganku ke langit biru, dan melihat hari masih siang, tampaknya aku bisa bersantai dan tidak usah terburu-buru pergi ke kota.

Kulihat sekeliling, mencari sesuatu yang menarik, dan aku melihat tupai tadi masih ada di dekat sini, tidak melepaskan padangannya padaku meskipun konsentrasinya tertuju pada beri yang dilahapnya, dan aku pun membuat keputusan.

“Okay, kau saja, tee-hee!” tertawa kecil, aku duduk di sisi jalan setapak di depan tupai tersebut, kakiku yang kuregangkan kutekuk sedikit membentuk sudut tumpul. Aku kembali membuka tasku, dan mengeluarkan papan lipat yang kemudian kubentangkan di atas pahaku sebagai sandarannya. Kukeluarkan pula kertas putih bersih yang seukuran dengan papan tersebut, dan setelah merogoh tas ke bagian yang paling dalam, kukeluarkan botol kecil berisi tinta, dan kucabut salah satu bulu yang tertancap di topiku, yang ternyata merupakan kuas bulu.

Yap, aku adalah seorang pelukis, dan targetku sekarang adalah tupai kecil ini.

“Okay tupai kecil, your action now… will be eternized!”

To be continued…





Is learning to be a "Digital Artist"


EPICEST QUOTE THIS YEAR
Quote :
[00:53:44] Lyonnesse : HEHEHEHE RO bot itu bagus juga

cuma segelintir orang yang ngerti :lol:


Terakhir diubah oleh nisamerica tanggal 2012-07-13, 13:20, total 2 kali diubah
2012-07-11, 07:41
PostRe: [StoryPlay] Eremidia : The Legends begin
TheoAllen 
♫ RMID Rebel ♫
♫ RMID Rebel ♫
avatar

Kosong
Posts : 4935
Thanked : 62
Awards:




OOT: @H: wtf la another andy =))

Chapter 2 The Healer

Click for chapter 1
Click for related previous story

06:00 PM

Aku masih tidak habis pikir. Kenapa orang pemabuk itu bisa mengenaliku bahkan sampai nama margaku. Dan yang terpenting kenapa dia juga bisa mengenali Nella? Westernland? nama apa pula itu? :wut:

Argh, tidak ada gunanya memikirkan hal itu sekarang. Sekarang mulai darimana aku harus mencari Nella? Kulihat sekeliling kota. Rumah-rumah tampak mulai menyalakan lampu-lampu listrik berpijar berwarna kuning. (OOT: jamannya awal2 modern kan? :lol: ) Langit juga mulai nampak gelap. Orang-orang mulai berlalu-lalang. Kurasa mereka sedang pulang kerja. Tapi entahlah. Siapa peduli.

Kupegangi lengan dan perutku yang masi terasa sakit. Lemparan troll hutan tadi masi benar-benar terasa di badanku. Setidaknya berkat bau ramuan aneh orang tadi sedikit memberiku tenaga untuk melangkah. Tak lama kemudian kulihat sebuah rumah yang bisa kukenali bahwa itu tempat penyembuhan.

Kuketuk rumah itu beberapa kali.......
Tak ada jawaban

Kuketuk sekalil lagi. Dan akhirnya berkali-kali.
Hasilnya juga sama saja... "OTL

Aku mulai putus asa. Kusandarkan tubuhku di tembok batu di samping pintu rumah itu. Rasanya aku kembali ingin secepatnya merasakan cahaya penyembuhannya Nella. Mungkin aku harus kembali ke bar selatan orang pemabuk itu? Aku sempat heran. Bagaimana pemabuk itu bisa mengalahkan troll hutan itu. Pasti dia orang yang lumayan kuat.

Tak lama kemudian, pintu rumah itu terbuka dan membuyarkan lamunanku. Sesosok perempuan yang usianya tidak jauh dariku dengan penampilan rambut pirang panjang disisir rapi dan baju terusan putih sampai lutut dengan lengan panjang membawa buku bersampul coklat memandangiku.

"Maaf, Yang mengetuk pintu ini tadi anda?" Tanyanya dengan ramah

Aku hanya mengangguk.

"Anda pasti pelanggan kan? Maaf tadi sedikit ada 'keperluan' di kamar mandi. Mari masuk" Katanya sambil memberi isyarat mengajakku masuk.

Dengan sedikit menahan sakit, aku bangkit dan memasuki rumah itu. Kulihat di dalam rumah itu terdapat banyak rak buku. Aku heran. Sebenarnya buku sebanyak itu membahas tentang apa saja. Dan yang lebih mengherankan, apakah semua buku itu dibaca? :hammer: Aku jadi teringat Cecilia yang dimana rumahnya juga penuh dengan rak buku. Dan dia membaca semuanya.

Selain itu kulihat beberapa peralatan sihir seperti tongkat sihir. Dan alat-alat alkemi seperti tabung-tabung reaksi. Aku tidak terlalu memperhatikan sudut-sudut ruangan lainnya.

"Sekarang apa yang tuan inginkan?" Tanyanya dengan halus.

"Err... " Aku sedikit kikuk jika diperlakukan terlalu sopan seperti ini. Entah aku harus membalasnya seperti apa. "Mungkin kau bisa memberiku sedikit pengobatan? tubuhku serasa hampir hancur setelah dihajar troll hutan siang tadi"

"Anda datang di tempat yang tepat tuan. Silahkan berbaring disana"

***

"Sihir cahaya penyembuhan?" Aku heran. Dia bisa mengeluarkan sihir yang sama sperti Nella.

"Yup" katanya sambil terus menyorotiku dengan sinar putih yang keluar dari telapak tangannya. Sesekali dia memindahkan tangannya ke bagian tubuhku yg lain. Rasanya hangat dan nyaman. Rasa sakitku perlahan menghilang.

"Apakah sudah cukup tuan?" Tanyanya sambil meredupkan cahaya yang keluar dari telapak tangannya.

"Sudah lumayan lebih baik" Kataku sambil memutar bahu. "Tapi tolong, jangan panggil aku tuan atau sebutan semacamnya. Aku merasa aneh saja jika dipanggil seperti itu. Lagipula, sepertinya, umur kita tak jauh beda?" Aku sedikit ragu mengucapkannya.

"Aku selalu diajari kalau ada seorang pelanggan aku harus sesopan mungkin" Sahutnya sambil menggosok dahi

"Begitu ya. Entahlah. Tapi menurutku semua orang sama saja. Mau bangsawan ataupun rakyat biasa, mereka sama-sama membutuhkan makan. Ataupun membuang kotoran." Sahutku spontan "Oh, well, lupakan itu. Yang jelas, panggil aku seperti biasa saja."

Dia tersenyum kecil.

"Oh, iya. Ongkos pengobatannya 100 RMIDollar" Katanya tiba-tiba.

"RMIDollar? Mata uang apa itu?" Tanyaku heran.

"Anda.. err.. maksudku kamu bukan orang sini?" Dia bertanya balik.

"Aku dari pulau Alumnea. Aku disini untuk mencari seseorang" Jawabku singkat.

"Pulau Alumnea? hei, aku juga berasal dari sana." sahutnya spontan

"Oh, benarkah?" Rasanya sedikit lega ada seseorang dari pulau yang sama. Setidaknya aku tidak sendirian berada disini. "Kalau kau juga berasal dari Alumnea, mungkin aku punya sedikit uang untuk bayaran."

"Tapi, sepertinya mata uang di Alumnea tidak berlaku disini. Ngomong-ngomong, jika kau masi belum bisa membayar, aku ada sebuah ide" Katanya

Aku mengerutkan dahi :wut:

"Mungkin besok kau bisa membantuku mencarikan bahan-bahan buat resep ramuan penyembuh. Aku yakin, besok mungkin pelanggan akan banyak seperti biasanya." Katanya sambil mengedipkan mata "Aku biasanya tutup beberapa hari untuk mencari bahan dan membuat beberapa ramuan."

Aku berpikir sejenak. Sebenarnya aku tidak punya banyak waktu untuk ini. Aku harus mencari Nella secepatnya. Tapi disisi lain, dia juga menolongku.

"Umm... boleh juga. Mungkin aku bisa membantumu sehari." Aku pun memutuskan "Ngomong-ngomong, aku boleh tidur disini? Aku tidak punya rumah diluar sana."

"Aku tidak keberatan. Aku tinggal sendiri disini. Kakakku bekerja sebagai hunter. Dan ayahku ada di Alumnea." Katanya

"Ngomong-ngomong, kita belum kenalan. Namaku Andy, Andy Landwalker" Kataku sambil mengulurkan tangan.

"Alexis Wisewood." Katanya sambil menjabat tanganku.

*To be continued....

OOT: trivia dikit. di ojekan cerita gw emang ntar pas Nella ngilang pengganti healer / support dalam main party digantiin Alexis :lol:


Bosen ama signature. Hapus aja dah ....
2012-07-11, 09:24
PostRe: [StoryPlay] Eremidia : The Legends begin
NachtEinhorn 
Robot Gedek Galak
avatar

Level 5
Posts : 1274
Thanked : 9
Engine : Multi-Engine User
Skill : Beginner
Type : Developer

Chapter 5: Crossed Path

Kaki kananku terbungkus gips tebal, sekujur tubuhku diperban. Aku melihat langit langit dengan tatapan kosong, sedikit bosan.

"Bosen gilaaaaaaaaaa~" gumamku. Seisi ruangan langsung menoleh kearahku. Pemuda yang dirawat disebelahku, yang kulawan kemarin, merasa terusik.

"Berisik" katanya. Aku memasang senyum nyolot.

"Ah, omong omong, aku belum berkenalan denganmu, Suster. Namaku Schneide. Schneide Vanzelt."

"Na.. namaku... Kyrie..." ujarnya sedikit malu malu.

"Lalu gadis cantik yang ada disana?" senyumku semakin melebar.

"Namaku Leila. Senang berkenalan denganmu." jawabnya.

"Lalu.... kau?" senyumku yang lebar seketika berubah jadi senyum kecut.

"Hmph" Pemuda tersebut tidak menjawab pertanyaanku.

"oy, oy..."

"Maaf, dia sedikit pemalu. Namanya Phoenix" jawab Leila meredakan situasi.

"Phoenix... nama yang aneh, mirip orangnya" aku menceletuk.

"Urus urusanmu sendiri, Rambut Perak" sahutnya.

"hah..." aku menghela napas. "Jadi, Kyrie, bagaimana keadaan jasad sang Pendeta?"

Kyrie memasang muka muram "... Asosiasi Hunter sudah mengurus pemakamannya" ujarnya mencoba tersenyum.

----------------------------------

Keesokan harinya, aku dan pemuda, err.. Phoenix, keluar dari rumah sakit tersebut. Seluruh dokter dan staff disana tercengang, Bagaimana bisa 2 orang yang divonis harus bedridden selama 1 bulan bisa sembuh dalam 1 hari. Well, kasusku sih gampang: Aku bukan manusia biasa :hammer: namun entah bagaimana Phoenix, kenapa dia punya kemampuan regenerasi yang sama denganku.
"Apa jangan jangan, dia... hmmm, ngga mungkin" aku geleng geleng sendiri. Kyrie kebingungan melihatku.

Phoenix dan Leila berpisah dengan kami setelah keluar dari rumah sakit. Aku memberi sedikit ancaman ke Phoenix "Suatu saat jika aku menemukan dirimu membunuh orang tak bersalah, Aku bersumpah akan memburumu sampai ke era manapun". Namun kelihatanya, dia tidak peduli akan ucapanku.

"Nah, sekarang, Kyrie" tanyaku "Kau mau kemana?"
Kyrie menggelengkan kepalanya "A... Aku tidak tahu harus kemana lagi. Sejak 2 tahun yang lalu, Pendeta yang menemukanku di depan gereja dan... mengurusku"

aku melihat air mata menitik.

"Kalau kau ngga keberatan" ujarku "Kau bisa ikut denganku."

"Tidak apa apa? Aku tidak akan jadi beban?"

Aku memasang senyum dan menyodorkan tanganku "Tidak apa apa? Pasti akan lebih menyenangkan melakukan misi bersama daripada sendiri" ujarku.

Kyrie malu malu menerima tawaranku "Baiklah"

Aku segera menggapai tangannya, memabwanya ke depan Quest center. "Baiklah, untuk saat ini, coba kamu yang mengambil quest. Err... yang rank C saja. Aku belum diijinkan ngambil quest rank B, meski sebenernya aku ini sudah rank S" ujarku sedikit pelan. Kyrie tersenyum.

"Ah, Bagaimana kalau yang... ini?" katanya sambil menunjuk pamflet bertuliskan "Wanted: Dispeling Lesser Cathyloph from a certain village's Farm. Payment: 3500 RMIDollar"

"mereka kelihatan lucu" ujar Kyrie menunjuk ilustrasi yang ada di pamflet tersebut.

"Baiklah, ayo!" kataku sambil menuju ke arah luar kota "T-tunggu" Kyrie menyusul.

"Mission Start!"

To Be Continued


"Imagine Iron Man, kill Tony Stark, and replace him with Dinosaurs. That's why Tachikazes are awesome"


2012-07-11, 09:39
PostRe: [StoryPlay] Eremidia : The Legends begin
shikami 
Member 1000 Konsep


Level 5
Posts : 3744
Thanked : 31
Engine : Multi-Engine User
Skill : Beginner
Type : Developer
Awards:


OOT : kepada signus, mohon jangan terlalu banyak memakai gambar yg sama di tiap adegan :| dan kurangi font gede2an :swt: untuk adegan teriak2 :v
for the sake of bandwich
dan mohon di downgrade karakternya apalagi di bab sebelumnya kelewat IMBA dimana dia mengalahkan 2 monster level tinggi, sendirian. :FU:



this is no signature
2012-07-11, 12:54
PostRe: [StoryPlay] Eremidia : The Legends begin
nisamerica 
Living Skeleton
avatar

Kosong
Posts : 1668
Thanked : 25
Engine : RMVX
Skill : Very Beginner
Type : Artist
Awards:


Chapter 2: Drunk and Blushes

“Damn! I got into painting so much that I didn’t realize it’s already evening!” benakku sambil berlari. Aku keterusan melukis hingga matahari hampir terbenam dan warna merah memenuhi langit.

Beginilah aku, suka lupa diri bila melakukan hal yang menyenangkan, tapi aku tidak kecewa, aku berhasil melukis berbagai pemandangan selain tupai tadi, dan juga sempat melukis dinding luar ibukota Eremidia, itu saja sudah merupakan pengalaman yang menarik bagiku. Yah, karena ini pertama kalinya aku datang ke sini, mungkin aku kelewat semangat, lagipula aku harus menyimpan memori kota ini sebanyak-banyaknya.

…Bukan harus sih, Cuma ingin. :P

Aku tiba di kota ketika matahari sudah terbenam dan hari menjadi gelap, kota pun gemerlapan dengan dihiasi cahaya lampu dan lentera. Melukis lagi? Tidak! Aku harus segera mencari penginapan untuk bermalam, tidak lucu kan kalau harus tidur di pinggir jalan. Selain itu, aku harus mencari tempat untukku makan setiap harinya dan juga toko untuk melengkapi kebutuhan hidupku, intinya semua sudah harus dipastikan sesegera mungkin.

Kemudian aku mulai berkeliling mencari penginapan, sengaja aku tidak bertanya kepada orang dimana penginapannya, karena menurutku lebih asyik mencari sendiri sambil berkeliling mengamati keadaan kota, dan seperti katanya, kota ini sangat menarik, banyak hal yang menarik perhatianku di kehidupan malam kota ini.

Aku tiba di tempat yang sepertinya merupakan pusat dari daerah kota ini. Tepat di tengah-tengah daerah tersebut terdapat air mancur besar yang membentuk pola yang unik, ingin sekali kulukis tapi kuurungkan niatku karena aku harus segera ke penginapan.

Aku lalu melihat sebuah taman di sisi sebelah kiriku, dimana terdapat papan peta dan penunjuk arah. Menurut papan tersebut, aku berada di daerah yang bernama Town Square, dan pas sekali, tempat ini adalah tempat dimana aku bisa mencukupi kebutuhan hidupku sehari-harinya. Aku pun mengeluarkan kertas dan penaku untuk menduplikasi peta tersebut, agar aku bisa segera mengehapal jalan di kota ini dengan mudah. Selain itu, dengan melihat peta aku dapat mengetahui tempat-tempat penting yaitu penginapan, restoran, clinic, shop, bar (untuk mencari informasi! Aku tidak minum! XD), Hunter’s Guild, dan Quest Center.

Map Eremidia: https://dl.dropbox.com/u/37321795/Eremap.png
Map Town Square: https://dl.dropbox.com/u/37321795/Eremaptownsquare.png


Aku senang ada Guild dan Quest Center di sini, karena aku bisa menyewa para hunter yang sedang mencari misi untuk menjadi bodyguard-ku. Yah… Aku tidak bisa bertarung, apa yang kau harapkan dari pelukis sepertiku?

Setelah selesai menggambar peta, aku mengkonfirmasi jalan menuju penginapan, yagn ternyata ada di ujung Utara Town Square, “It looks like I will have to pass by the bar in order to get to the inn. Well, might as well check it out.” benakku dalam hati, dan aku pun melangkah maju untuk pergi ke penginapan.

Bar tersebut sudah masuk dalam jarak pandangku bahkan dari tempat aku melihat peta tadi, setelah berjalan beberapa lama, akhirnya aku sampai di depan bar, namun tampaknya bar tersebut sudah sepi, tidak ada orang di dalam kecuali seseorang yang sedang tidur di konter bartender dan bartender itu sendiri. Awalnya aku berencana untuk mengobrol sebentar, tapi karena hari sudah terlanjur malam, aku pun meneruskan langkahku, hingga terhenti oleh karena munculnya sesuatu yang tidak terduga.

Orang… Ya, orang… Di gang yang sepi… Gelap… Dan dia tertidur di sana dengan posisi tengkurap.

Pada dasarnya, sebagai gadis, aku tidak suka memasukki lorong perkotaan yang gelap seperti ini, karena rawan terjadi sesuatu. Tapi aku ingin melihat keadaan orang itu, aku pun memutuskan untuk menghampirinya, tentu sudah berjaga-jaga, dasar paranoid.

Orang tersebut tampaknya bukan tertidur, melainkan pingsan, sehingga jatuh tersungkur dengan posisi tengkurap. Aku menyentuh orang tersebut beberapa kali menggunakan batang kayu, lalu membalikkan tubuh orang tersebut untuk melihat wajahnya lebih jelas. Disinari cahaya lampu yang remang-remang, aku bisa melihat wajah orang yang ternyata merupakan seorang pemuda tersebut. Ia berambut hitam, dengan bentuk wajah tegas layaknya seorang lelaki.

“Ugh! He reeks of alcohol!” seruku dalam hati seraya menutupi hidung dan mulutku. Sepertinya orang ini adalah pemabuk berat, dan karena terlalu banyak minum, ia pun pingsan di tengah jalan.Sebetulnya aku kurang suka dengan pemabuk, tapi aku tidak bisa meninggalkan dia begitu saja.

Namun entah sejak kapan aku terus memperhatikan wajah orang tersebut, kuperhatikan wajahnya yang tampak tidur dengan damai, bibirnya yang memiliki bentuk yang bagus… Pikiranku mulai melayang, dan mendadak wajahku memerah padam dan menjadi panas.

“No, no, Vischelia Abileine, what are you thinking?! You can’t possibly do that here!” Aku pun memegangi pipiku dan menggelengkan kepala. Kupejamkan mataku hingga aku menatap wajahnya lagi, wajahku masih merah padam, dan perasaan ini tak tertahankan.

“Ugh… All right… Just a little bit… “ gumamku sambil memegangi dadaku.

Akhirnya… aku pun…

Melukisnya. :hammer:

“Such a natural expression~♪” itulah kata-kata yang secara reflek keluar dari mulutku ketika aku mulai menggambar wajahnya...
https://dl.dropbox.com/u/37321795/lukis.png
Spoiler:
 

....
Setelah puas menggambar, aku mencoba membangunkan orang tersebut, kutampar kedua pipi orang tersebut dengan kedua tanganku secara bersamaan berkali-kali.

PLAK!

PLAK!

PLAK!

PLAK!

PLAK!


To be continued...


OOT: There's no ecchi nor romance in Vische's story!! =)) =))





Is learning to be a "Digital Artist"


EPICEST QUOTE THIS YEAR
Quote :
[00:53:44] Lyonnesse : HEHEHEHE RO bot itu bagus juga

cuma segelintir orang yang ngerti :lol:
2012-07-11, 13:59
PostRe: [StoryPlay] Eremidia : The Legends begin
richter_h 
Salto Master
Hancip RMID
avatar

Kosong
Posts : 1705
Thanked : 30
Engine : Other
Skill : Skilled
Type : Developer
Awards:

The Tale of Vent McGraves
Chapter VI


Klik to Chapter V
Klik to yang Terjadi Sebelumya...

“Ugh… All right… Just a little bit… “

OOT: Perlu ane tandai dimari, selanjutnya beberapa karakter mungkin bakalan rada beda pas dialog. Ini karena di The Tale of Vent McGraves, dialog cenderung dari apa yang Vent mengerti. Dan juga, Vent punya dialek Sunda, makanya jangan kaget kalo dia rada susah ngomong hurup F sama V. :lol:

Entah darimana gadis itu nongol, tapi dia terus mengamati Vent yang tertidur dengan seksama dan dalam tempo yang selama-lamanya. Dia mengamati wajah Vent sambil melukisnya pada kertas, dan selama dia melukisnya, wajahnya terus memerah. Entah pesona atawa guna-guna apa yang Vent punya sampai membuat gadis kecil itu sampai segitunya...

Puas menggambar Vent, gadis itu berniat membangunkannya. Menggunakan kedua tangan kecilnya, dia menampar wajah Vent secepat landak hutan Lunkerstone berguling. Tapi, apa daya. Vent terlalu mabok dan masih enak tepar di sana. Gadis itu makin ngotot. Melihat barel di samping Vent, dengan susah payah gadis itu mengangkatnya lantas membanting barel itu ke wajah Vent. Seketika Vent bangun seperti diseruduk babi gila di wajahnya.

"WUASEM!!" Terlihat tapak hasil bantingan barel gadis itu di wajahnya. "Siapa yang berani banting muka ane?!"

Vent langsung diam. Dia lirik ke samping, dia lihat sesosok gadis yang hanya bengong. Terlihat rona wajahnya merah walau dia tetap waspada. Gadis itu mengira dia akan diapa-apakan oleh Vent. Tapi,

"Oi. Tadi ente yang bangunin ane ya?"

Gadis itu terdiam. Dia kira Vent akan mem-bully, merampok atawa berbuat yang enggak-enggak padanya. Gadis itu dengan yakin menjawab pertanyaan Vent.

"Aku hanya lewat... Kukira kamu kenapa-napa, makanya aku coba bangunkan kamu.."

"Oh, makasih, deh." Vent berdiri dan menepuk-nepuk pakaiannya yang berdebu karena tiduran di jalanan. "Kalo enggak ada ente, bisa-bisa ane ngga bangun seharian."

Vent melakukan beberapa peregangan. Gerakan-gerakan aneh yang Vent lakukan membuat gadis itu kembali mengangkat pensil dan kertasnya, berniat menggambar kembali Vent yang bergelagat aneh. Tidak lama kemudian, setelah peregangan, Vent mengambil sebuah botol dari kantong di dekat barelnya dan minum.

"Oi, neng," Vent bengong dengan gelagat gadis itu. "Ente suka nggambar ya? Dari tadi ente cuma nggambar..."

"Aku memang suka menggambar. Aku pelukis." Jawab gadis itu pendek.

"Wah... Ane kira seisi kota ini cuma orang-orang yang demen gelut sama berburu..." Vent kembali minum dari botolnya itu. Lalu dia menyodorkan botol itu pada sang gadis.

"Neng, mau coba?"

Gadis itu mencium aroma minuman Vent. Seketika dia kepusingan.

"Makasih... Aku enggak minum." Gadis itu puyeng sampai-sampai pensilnya jatuh.

"Wah, sayang nih... Ane kira ente bakalan suka sari jamur rasa rumput Shimmerweed."

Gadis itu tidak tertipu. Dari aromanya, minuman yang Vent minum itu jelas betul adalah minuman beralkohol. Walaupun dia sedang menghadapi seorang pemabuk berat, gadis itu tidak begitu takut lagi karena dia yakin lelaki yang di hadapannya itu orang baik.

"Oi, neng," Vent melirik gadis yang dari tadi terus memerhatikannya. "Ente baru dateng ke kota ini, ya?"

Gadis itu menggangguk pelan.

"Kebetulan ane mau tiduran lagi di penginapan. Kalo mau, ane sama ente bareng ke sana. Toh cuman nerusin dikit jalan dan begitu keluar gang, nongol penginapan segede gaban." Vent mengambil lagi kantong dan barelnya, tapi,

"Kalo boleh tau, nama ente siapa, ya?"

"Vische. Vischelia Ablieine," Jawab gadis itu singkat. Jawaban yang diikuti dengan senyuman kecil dari wajahnya yang imut imut gimana, membuat Vent hanya bengong dan sekilas dia ingat dengan seseorang lagi.

"... Nama ente unik, sampe ane mau salah ngeja namanya.."

Vent hanya ketawa kambing saat Vischelia--gadis pelukis itu kerepotan dengan bawaannya yang sebanyak bawaan orang yang mau pindahan. Vischelia tersenyum pada Vent begitu dia berhasil membereskan bawaannya, dan dia jalan bersama Vent ke penginapan yang sebenarnya cuma beberapa langkah lagi dari tempat mereka sekarang.

--

Di penginapan,

"Sudah, dua kamar aja, mang." Vent menjawab bujukan si empunya penginapan, karena terus menawarkan sebuah kamar yang cukup luas untuk berdua. "Ane malah ngga tau cewek itu siapa..."

"Kukira kalian kakak adik... Tapi jika kamu bilang begitu, apa boleh buat?"

Sementara Vischelia melihat pemandangan kota dan alun-alun dari jendela penginapan, Vent langsung menuju kamar yang sudah dia sewa untuk semalam, tiduran dan mencoba untuk tidak terlalu mabok. Lagipula, uangnya sekarang sudah hampir ledis tak bersisa, dan dia tidak mungkin menjual minuman racikannya begitu saja. Apakah dia akan mengambil beberapa Quest dari Quest Center? Dan juga, siapa pula sebenarnya cewek yang tadi nimpuk wajah Vent pake barel?

"Pisselia... :ngacay2: "


| My spriteworks | deviantArt | Mark's Quest | Eremidia: Dungeon! |
Developer of:



Supporter of:


Selp-Proclaimed The Most Handsome Member of the Long Lost Glorious


Disini kalo sebagai nubi mau dikritik yang bagus2 biasanya harus ngaku cewek dulu, karena you know lah... -- Brosef numfanklewhat


Terakhir diubah oleh richter_h tanggal 2012-07-11, 17:32, total 1 kali diubah
2012-07-11, 14:52
PostRe: [StoryPlay] Eremidia : The Legends begin
Aegis 
Legendary
Legendary
avatar

Level 3
Posts : 2152
Thanked : 56
Engine : Multi-Engine User
Skill : Very Beginner
Type : Artist
Awards:


Chapter 1 : The Very Beginning of The Chronicle of the Annoying Anus

Nama : Aegis
Umur : 16th
Hobi : Ngacay
Job : -



Malam itu, aku terbangun dari mimpi sedang mengejar ayam tetangga sebelah yang baru dicabuti bulunya gara2 ketombean dan lupa pake shampoo, padahal sedang bagian asik-asiknya. Peristiwa "tiba-tiba bangun" itu dikarenakan karena ada suatu getaran yang dahsyat, terasa ada kekuatan lain di dalam sangat menggila bagaikan Tsunami setinggi 20,572 1/5 meter, yaitu yang biasa disebut2 orang sebagai kabusyatan, cepirit, ataupun rasa pengen buang air besar dan hampir ee di celana, mencret pula. Seperempat dari "Kepala"nya pun sudah hampir mau keluar.

Aku yang waktu itu setengah sadar, menyadari keadaan seperti tsb, langsung terjaga dan mencari2 tempat untuk menjinakkan atau membuang segala kebusukan duniawi tsb. Di dalam taman tsb terlihat ada sebuah pohon besar. Aku dapat melihat sebuah sinar terang benderang imajinasi memancar dari pohon tsb, mengundang untuk di-ee-in.Dengan segala daya upaya, keringat yg bercucuran, kaki yang bentol2, kedua tangan yang memegang pantat, aku pun berlari ke arah pohon tsb, membuka celanaku, lalu jongkok. Kukerahkan seluruh tenagaku yang tersisa, tenaga yg berasal dari sarapanku tadi pagi yg mungkin sebagian telah jadi ee, apakah ini namanya pengkhianatan ? diriku bertanya-tanya akan pertanyaan yg sangat penting itu sangat lama sekali, tapi untunglah, semua beban berhasil dikeluarkan dengan selamat. Namun muncul lagi suatu masalah yang amat sangat tidak terpikirkan oleh bocah2 di jaman itu.

Tangan kiri atau Tangan kanan ? Aku pun bingung memilih tangan mana yang akan dipakai untuk cebok. Mungkin karena rasa persahabatan ini, setelah sekian lama bersama-sama bercanda dan bersenda gurau dengan kedua tangan ini, rasanya tidak ingin mengkhianati salah satu dari keduanya. Namun, disaat yang genting tsb, aku mengingat kata-kata om-om tadi pagi, bahwa daun itu memiliki klorofil. Klorofil benar2 nama yang sangat keren. Aku pun percaya kepada kekuatan sang klorofil untuk menghapus bekas2 dosa duniawi ini, untuk mengembalikan hati anak yang masih suci. Kuambil sepuluh helai daun yg besar2, lalu kuusapkan ke bagian yang seharusnya tidak perlu disebutkan. Rasanya sulit dijabarkan, seperti kesambar geledek di siang bolong, semuanya berlalu begitu cepat. Saat-saat genting sudah lewat. Aku pun kembali ke pojok taman, dan tidur disana sampai pagi, tanpa sadar bahwa cebok dengan daun dapat berakibat sangat fatal banget.

to be continued...


Terakhir diubah oleh Aegis tanggal 2012-07-15, 15:52, total 1 kali diubah
2012-07-11, 17:08
PostRe: [StoryPlay] Eremidia : The Legends begin
Radical Dreamer 
Novice
Novice
avatar

Level 5
Posts : 152
Thanked : 1
Engine : RMVX Ace
Skill : Beginner
Type : Writer
Awards:

Episode 1 : Petualanganpun dimulai

Karakter utama

Nama : Loki
Umur : 20 Tahun
Asal : Desa Wina, Eremidia.
Ciri fisik : Rambut Gondrong pirang, wajah lumayan tampan, memakai baju berwarna cokelat dan jubah berwarna hijau.


Hosh… Hosh…

Aku terus berlari, tetesan keringatku terhempas oleh kuatnya arus angin yang kulawan. Jantungku berdetak sangat kencang, begitu kencang hingga aku tak dapat membedakannya dengan suara langkah kakiku. Jauh dibelakang, sekelompok bandit gurun pasir memacu kudanya dengan kencang. Mereka mengejarku bukan karena ingin mencuri sesuatu dariku, tapi karena aku telah mencuri sebuah barang yang berharga dari markas mereka. Aku telah mencuri sekantung Golden Seed, sebuah bahan Brewing yang sangat langka.

Telapak kakiku sudah tak merasakan tanah lagi, pandanganku kabur oleh bayangan fatamorgana, tubuhku sudah tak mampu berlari… aku pun terjatuh di atas debu pasir. Para bandit sialan itu mengelilingi tubuhku yang tergeletak tak berdaya. Mereka mengeluarkan tawa jahat yang melecehkan. Salah satu dari mereka segera turun dan memeriksa tubuhku, ia mengambil Goden Seed dari kantung bajuku. Setelah itu ia memasangkan tali di kedua pergelangan kakiku, lalu mengikatkan tali itu pada sadel kuda miliknya. Ia bermaksud untuk menarik tubuhku oleh kuda.

Inikah akhir hayatku…?

Aku tahu bahwa aku tak akan selamat. Aku hanya dapat menyesali perbuatanku, menyelinap ke markas bandit tanpa persiapan adalah perbuatan yang sangat bodoh. Tapi menyesal tak akan menghasilkan apapun, saat ini aku tengah menghadapi kematian. Dengan sebuah hentakan kaki yang keras, kuda yang menyeret tubuhku pun berlari kencang. Tubuhku yang lemah terombak-ambik di lautan padang pasir yang ganas. Rasanya seperti disayat oleh ratusan pedang yang terbakar. Kulitku sobek, darahku mengalir deras, aku meraung kesakitan. Kesadaranku semakin menghilang, sampai tiba-tiba…

*cleb*

Sebuah anak panah menancap pada kuda yang tengah menyeretku. Kuda itu terjatuh bersama penunggangnya. Bandit yang lain berhenti karena terkejut. Dari kejauhan di atas bukit, terlihat seorang gadis tengah merentangkan busur panah.

*cleb* *cleb* *cleb*

Tiba-tiba tiga orang bandit terjatuh bersamaan, sebuah panah menancap di masing-masing dada mereka. Aku terkesima melihatnya, baru pertama kali aku melihat orang yang sanggup melepaskan tiga panah sekaligus. Gadis itu pasti adalah seorang pemanah yang sangat hebat. Melihat hal tersebut bandit yang tersisa segera memacu kudanya untuk berlari ke arah sang gadis pemanah. Namun satu per satu dari mereka terjatuh, tarikan panah gadis itu lebih cepat dari laju kuda mereka. Setelah yakin semua bandit telah tewas, gadis itu segera turun dari bukit dan datang menghampiriku. Ia menempelkan telinganya ke dadaku, memastikan apakah aku masih hidup. Setelah mendengar suara detak jantungku yang pelan, gadis itu segera mengeluarkan sebuah kotak obat dari tasnya. Ia memberiku sebotol Elixir dan membalut kulitku yang robek. Ikatannya sangat kuat sehingga aku kesakitan dan tak sadarkan diri.

Saat terbangun aku sudah berada disebuah kamar yang hangat. Gadis pemanah yang menolongku terlihat sedang memasak didapur. Aroma sup jamur yang wangi telah memenuhi seisi ruangan. Lalu tiba-tiba saja suara perutku berbunyi…

Kruuuuuk~

Gadis itu langsung menoleh kearahku dan tersenyum, wajahku merah padam. Ia mendekat dengan membawakan semangkuk sup jamur di atas kedua tangannya. Ia duduk disampingku dan memandangi bagian tubuhku yang terluka.

“Bagaimana keadaanmu…?” gadis itu bertanya, jika dilihat dari dekat ternyata ia cukup manis.

“Aku lapar…” jawabku.

Gadis itu tersenyum kembali, ia meniup perlahan sendok yang sudah terisi oleh sup jamur, lalu menyuapkannya padaku.

“A.. aku bisa sendiri” tiba-tiba saja kata itu terlontar dari mulutku.

“Begitukah…?” Gadis itu terdiam.

“Kalau begitu ini…” lanjut gadis itu sembari menyodorkan mangkuk sup.

Aku berusaha untuk bangkit, gadis itu berusaha menolong dengan menopang punggungku. Aku meraih mangkuk sup jamur lalu menyuapkannya perlahan ke dalam mulutku.

Sesaat kami saling terdiam.

“Siapa namamu…?” suara gadis itu memecahkan keheningan.

“Loki.” Jawabku lugas.

“Namaku Elina.”

Aku mengangguk pelan lalu bertanya, “Saat di gurun pasir, kenapa kau menolongku? kau tahu apa yang kau perbuat adalah tindakan yang sangat berbahaya… mereka dapat saja membunuhmu.”

Elina terdiam sejenak, “Itu adalah tugasku…”

“Maksudmu…?”

“Aku adalah seorang Hunter.”

“Oo… begitu…?” aku sedikit terkejut, aku tak percaya gadis semanis dia adalah seorang Hunter.

“Wajahmu mengatakan padaku bahwa kau tidak percaya…” ucap Elena seakan ia mengetahui apa yang kupikirkan.

“Tidak, aku percaya padamu… hanya seorang Hunter berpengalaman saja yang dapat melepaskan tiga anak panah sekaligus…” ucapku.

Elena tersenyum tipis, “Aku mempelajari itu sejak kecil…”

“Oh ya?” sahutku tak percaya.

Elena perlahan berdiri lalu berjalan pelan mendekati sebuah foto yang tergantung di atas perapian.

Ia pun mulai menceritakan kisahnya, “Ayahku adalah seorang Hunter yang hebat, aku sangat mengaguminya… sejak kecil aku ingin sekali menjadi seperti dirinya, karena itu aku selalu berusaha keras...”

Elina membalikan badannya ke arahku. Nada suaranya tiba-tiba meninggi.

“Namun setelah aku menjadi seorang Hunter yang hebat, ia malah pergi meninggalkanku! Kau tahu kenapa?!”

Aku menggelengkan kepalaku.

“Dia bilang aku sudah tak memerlukannya lagi! dia bilang aku dapat menjaga diriku sendiri! setelah mengucapkan itu ayahku pun pergi untuk berpetualang… dan tak pernah kembali. Dia sungguh sangat egois!”

“Lalu, kenapa kau tak ikut bersamanya…?”

Elene mendengus, “Apa kau lupa? Hanya Hunter level S saja yang bebas berpetualang kemanapun mereka suka. Dan sekarang aku hanya level A, tapi mungkin tahun depan aku akan naik ke level S.”

“Itu bukan hal yang mudah.” Sahutku.

Elena menghela nafas, “Aku tahu itu… menjadi Hunter level S bukanlah perkara yang mudah.”

Aku terdiam sejenak, lalu berkata…

“Bagaimana jika aku membantumu…?”

“Apa? Bagaimana caranya…?” Elena merespon dengan nada setengah tidak percaya.

“Aku tahu lokasi markas rahasia bandit gurun pasir… jika kau dapat menangkap pemimpin mereka, mungkin kau akan dipromosikan menjadi Hunter level S…” ucapku dengan alis terangkat.

“Oh ya…? Apakah kau yakin itu adalah markas rahasia mereka…? Elena kembali merespon dengan nada setengah tidak percaya.

“Tentu saja, disana aku mencuri sekantung Golden…”
Wajahku pucat, tiba-tiba saja aku teringat sesuatu yang harusnya tidak kulupakan…

“Dimana Golden Seedku…?!!”

“Apa?”

“Agh… bandit itu merebutnya…”

“Apa yang kau bicarakan? Aku tidak mengerti…”

“Saat di gurun pasir, apakah kau memeriksa tubuh bandit didekatku…?

“Tidak… kenapa…?”

“Celaka… dia mempunyai Golden Seed yang kucuri.”

“Golden Seed…?”

“Ya, itu adalah bahan Brewing yang sangat langka.”

“Brewing? jadi kau adalah…?

“Ya… aku adalah seorang Brewmaster.”

Elena sedikit terkejut.

“Kupikir Brewmaster hanya terdiri dari orang tua saja…”

Alisku terangkat, “Terkejut? Aku adalah Brewmaster termuda di Eremidia.”

“Hoo… tapi kenapa aku tak mengenalmu…?” ucap Elena dengan berkacak pinggang.

“Itu karena… aku belum pernah berhasil meracik sebuah minuman…” jawabku pelan.

Elena menahan tawanya, “Pfft, dan kau sebut dirimu adalah Brewmaster?”

“Jangan tertawa, kemampuanku sudah diakui oleh Brewmaster yang lain.” aku berusaha meninggikan diriku.

“Dan kenapa kau belum pernah berhasil membuat sebuah minuman… Brewmaster?” ucap Elena degan nada mengejek. Seketika aku merasa rendah diri.

“Aku selalu bereksperiment dengan minuman yang kubuat…”

“Dan semua eksperiment itu gagal?

“Hanya satu bahan lagi, maka minuman racikanku akan sempurna! Aku membutuhkan Golden Seed! Kita harus kembali ke gurun pasir, sebelum ada yang mengambilnya.”

“Dengan luka seperti itu?”

Aku terdiam.

“Sekarang lebih baik kau pulihkan dirimu” lanjut Elena.

Aku mengangguk pelan.

Sebelum Elena meninggalkan ruangan aku kembali bertanya, “Bagaimana dengan tawaranku? Apa kau tidak ingin tahu lokasi markas bandit gurun pasir?”

Elena berpikir sejenak, “Akan kupikirkan malam ini… karena bagaimanapun pergi ke markas bandit tanpa persiapan adalah perbuatan yang bodoh.”

Kata-kata itu seakan menusuk dadaku.

Elena pergi ke lantai atas, menghilang dibalik keremangan lampu pijar.

Aku harus kembali ke gurun pasir…

Bersambung ke episode 1 part 2


maaf kata-katanya kacau dan belum beres :sembah: sedang terburu-buru...
nanti aku edit. :v


malasnya...
2012-07-11, 18:25
PostRe: [StoryPlay] Eremidia : The Legends begin
nisamerica 
Living Skeleton
avatar

Kosong
Posts : 1668
Thanked : 25
Engine : RMVX
Skill : Very Beginner
Type : Artist
Awards:


Chapter 3: Leisure Time

Aku memandangi pemandangan malam kota dari jendela lantai dua penginapan. Cahaya kelap-kelip memenuhi kota, dan tak bisa dipungkiri bahwa kota tersebut sangat indah di mata. Kupalingkan pandanganku ke arah lorong penginapan, pemuda mabuk yang bernama Vent tersebut tampaknya akan kembali ke kamarnya.

Melihat pemuda tersebut, aku jadi mengingat kejadian tadi, dan aku merasa agak kurang enak, karena aku tadi gugup sekali hingga hampir tidak bisa berkata-kata, sebabnya adalah karena bahasaku belum benar-benar fasih, dan aku terlalu banyak berpikir mencari kata sehingga otakku malah buntu. Aku pun menepuk dahiku dan menghembuskan napas.

Setelah bisa berpikir jernih, aku jadi kepikiran macam-macam tentang orang itu, bukan hal yang aneh-aneh, hanya saja aku merasa ada beberapa hal yang janggal dengan dirinya. Aku memutuskan kalau ada kesempatan, aku akan bicara lagi dengannya, tapi mungkin bukan malam ini, aku pun kembali memandangi pemandangan di luar jendela hingga akhirnya aku menyadari sesuatu yang telah kulupakan.

*Guuuuuuu*

“Oops.” perutku berbunyi, lumayan keras pula, aku lupa belum makan apapun sedari siang, paling hanya wildberries yang kutemukan di seperjalanan menuju ke sini.

“I need to eat something…” bergumam seperti itu, aku pun mulai menuruni tangga, namun sebuah ide terlintas di benakku. “Maybe I’d ask Vent to dine with me, I don’t have any acquaintance here anyway.” aku pun kembali ke lantai atas, dan menuju ke kamar Vent.

Awalnya aku ingin mengetuk pintu, tapi karena takut Vent sudah terlelap, aku mencoba memutar kenop pintunya, dan ternyata tidak terkunci. Kubuka perlahan pintu kayu tersebut untuk memeriksa keadaan di dalam. Pintu penginapan ini cukup bagus, tidak berdecit terlalu keras, mungkin karena itu lah Vent tidak menyadari aku membuka pintu, atau mungkin itu karena dia sudah terlalu mabuk, atau mungkin dia sudah terlelap.

Aku menjulurkan kepala ke dalam kamar, memaksakan kepalaku ke celah pintu yang kubuka kecil. Kudapati Vent sudah berbaring di ranjang dengan posisi menghadap berlawanan dari arah pintu, aku berniat memanggilnya perlahan untuk memastikan ia sudah benar-benar terlelap atau belum.

“Ve-” belum sempat aku selesai berkata, sudah ada suara lain yang membalas suaraku dari arah dalam.

“Pisselia….” begitulah suara yang sayup-sayup terdengar keluar dari mulut Vent. Pikiranku campur aduk mendengarnya, di sisi lain aku merasa aneh dengan nama ‘PISSelia’, ‘piss’ kan berarti buang air kecil di negeriku, dan di sisi lain aku tertawa kecil, apakah ia mengigau tentang diriku atau apa?

Lalu aku mencoba iseng menjawab, sedikit tertawa memikirkan reaksi Vent bila ia tahu bahwa aku mendengarnya.

“Kau memanggil? :hihi:” tanyaku sambil menaruh jemariku di bibir sedikit menahan tawa.

“Hwalakadah!” seru Vent. Spontan ia langsung bergulir ke sisi dalam kamar dan berdiri menghadap pintu dengan ekspresi terkejut. Aku yang melihatnya cekikikan, dan karena hampir tak bisa menahan tawa, kakiku gemetar dan aku terjatuh ke lantai, duduk dengan posisi bersimpuh. “E... Ente di sini Piss?!” serunya.

“...Piss... Ahahahahaha! =))” aku akhirnya tidak kuasa menahan tawa, reaksi Vent sudah merupakan pukulan yang cukup keras ke perutku, apalagi ditambah nama panggilan yang unik itu. Melihat diriku yang tertawa, Vent hanya bisa bengong dan di wajahnya terpampang ekspresi bingung sebingung-bingungnya.

Selesai tertawa, aku menjelaskan bahwa aku ingin mengajak dia makan, sekalian bertukar kata tentang berbagai macam hal, dan juga saling mengenal satu sama lain. Vent menunjukkan wajah setuju, namun ia menolak karena ia sudah tidak punya uang, kubalas tidak apa-apa karena aku mempunyai cukup uang untuk mentraktirnya makan malam. Air muka Vent langsung cerah mendengar kata “traktir”, dan kami pun turun bersama ke lantai satu.

“Hah... Dasar ente, Piss, aya-aya wae, ane kaget tadi pas ente tiba-tiba nyaut.” ujar Vent tiba-tiba seraya menuruni tangga bersama.

“Hihihihi... Maafkan aku, sudah menjadi kebiasaan. :hihi:” jawabku sambil meletakkan punggung tanganku di depan mulut yang tersenyum.

“Tadi ente ketawa sampe segitunya... Seneng banget ya liat ane jungkir balik jumpalitan kaya tadi?” tanya Vent.

“Ahahahaha, kau harus melihat ekspresimu barusan tadi, Vent, sangat lucu! Kapan-kapan akan kugambarkan.” aku kembali tertawa meskipun kecil, Vent tersenyum sambil garuk-garuk kepala. “Selain itu, nickname yang kau berikan itu juga lucu.” tambahku.

“Pisselia? Kenapa emang? Dialek ane emang gitu gara-gara seseorang, susah bedain P dan P.” meskipun ingin mengatakan V, tapi Vent latah mengatakan P, aku tertawa lagi mendengarnya.

“Yah... Masalahnya, di bahasaku, piss sama berarti dengan... Buang air kecil... Hehe. :P” kujelaskan alasan aku tertawa tadi kepada Vent, dan mendengarnya, ia turut tertawa kecil.

“Hmhm, pantesan tadi ente ketawa. :hihi: Jadi gimana? Ga suka dipanggil Piss?” Vent kembali bertanya.

“Tidak, tidak mengapa, biasanya aku dipanggil Vivi atau Elena, tapi aku tidak keberatan.” jawabku.

“Ooooo oke kalo gitu ane tetep panggil Pissel ya, udah kecantol di otak sih.” balas Vent, aku hanya membalas senyum menandakan tidak masalah.

Kami terus mengobrol, bahkan ketika sedang makan. Aku menanyakan kepada Vent darimana asalnya, karena aku penasaran, meskipun ia memiliki marga Barat, namun ia memiliki dialek Timur sempurna, bahkan yang termasuk unik di Eremidia ini.

“Oh, itu, yah ceritanya panjang sih, tapi singkatnya bisa dibilang ane tuh amnesia, terus kedampar di Timur.” jelas Vent. Aku sedikit terdiam mendengarnya sembari berpikir kejadian macam apa yang menimpanya, tapi aku tidak ingin menarik keluar luka lamanya, sehingga berhenti hanya sampai di situ. Lantas aku mengalihkan topik, dan tanpa sadar, topik sudah beralih ke kisah petualangan Vent sebelum tiba di sini.

“Heeee, jadi sebelumnya kau berasal dari tempat bernama Westerland? Aku pernah dengar tentang tempat itu, tapi tidak tahu secara detail.” celetukku mendengar kisah Vent.

“Well, banyak macamnya sih, tapi salah satu yang paling unik menurut ane adalah Brewmastery.” jawab Vent, “dan ane adalah salah satu Brewmaster.”

“Brewmaster? Itu berarti bartender bukan? Jangan-jangan kau adalah satu orang pekerja di bar tadi?” aku terus bertanya, rasa ingin tahuku memang besar.

“Oh bukan, ini tuh gelar khusus dari tempat asal ane. Emang namanya sih sama, tapi artinya lain pisan, bisa dibilang Brewmastery tuh seni-“

“Seni??” aku memotong pembicaraan Vent dan menjulurkan kepalaku condong ke depan, semakin tertarik dengan Brewmastery yang dikatakan Vent ini.

“Hooh, seni, jadi intinya tuh Brewmastery teh kerjanya ngeracik-racik bahan untuk minuman, dan merupakan seni untuk "ngebangkitin Spirit" yang ada di bahan-bahan racikannya.” jelas Vent.

“Whoa sepertinya sangat keren! Aku ingin coba satu dong!” seruku.

Vent yang mendengarnya mengangkat bahu, dan bertanya, “Ente yakin? Itu tadi yang ane tawarin tuh salah satu racikan ane loh, dan ga ada yang ga beralkohol dari racikan ane, gimana?”

“Err... Begitukah...” aku terdiam sesaat, lalu kembali berbicara, “Ya sudah kalau begitu, aku ingin mencobanya!”

Vent pun tersenyum mendengar responsku dan merogoh barang bawaannya, mengeluarkan botol kecil yang sama dengan yang ia tawarkan tadi kepadaku. Ia membuka tutupnya, dan menyodorkan botol tersebut kepadaku. Aku mengendus botol itu, dan tercium bau alkohol yang sangat kuat. Aku menuangkan isi dari botol tersebut ke dalam gelas, hampir tumpah karena minuman tersebut berbuih hingga batas gelas, lalu aku pun meminum seteguk setelah terdiam beberapa saat.

“Gluk...” aku terdiam.

“Gimana?” tanya Vent, ia belum mendapati timbulnya reaksi dari wajahku dan terus memperhatikan.

“I... Ini...” aku kembali terdiam beberapa saat. “LUAR BIASA!!” seruku sambil mengacungkan tangan, mengejutkan semua orang yang mendengarnya, bahkan ada kemungkinan orang yang sedang tertidur di lantai dua terbangun. Sedangkan, Vent? Ia tetap tenang dan tersenyum, ia sepertinya sudah tahu bahwa ramuan racikannya tidak akan menggagalkan kepercayaannya.

Aku menghabiskan minuman tersebut hingga tetes terakhir, dan aku pun langsung berseru, “Minuman yang sangat enak! Awalnya terasa sedikit pahit namun setelahnya terasa emm.. Manis yang sangat lembut dan seakan menyebar ke seluruh tubuh! And my err... kerongkonganku hangat dan lidahku menjadi panas, aroma lembut pun berhembus dari hidungku!” celoteh diriku, aku sangat menyukai minuman tersebut hingga berbicara panjang lebar, namun tidak lancar karena berbicara terlalu cepat. “Aku ingin segelas lagi! XD” seruku lantang sembari mengacungkan gelas.

“Nah kan ente ketagihan...” balas Vent sambil tersenyum seraya menuangkan lagi ramuan racikannya ke dalam gelas yang dipegang olehku, dan aku langsung menghabiskannya dalam hitungan detik.

“PUHAAAAA!! MORE!!” wajahku memerah, gelagatku mulai tidak karuan dan aku kembali menggunakan bahasa negaraku, sepertinya aku mabuk.

Vent yang menyadari keadaanku tidak mengizinkan, “Kayanya ente gampang pisan mabuk ya, ane simpen dulu deh ramuannya.” sembari berucap, Vent mengambil kembali tutup botol tersebut dan menutup botol ramuannya, namun aku menjulurkan tangan berniat untuk mengambil botol tersebut.

“Ets, tidak bisa.” Vent mengangkat tinggi-tinggi tangannya sehingga berada di luar jangkauan diriku yang berstatur kecil.

“Huuh! =3=” aku menggembungkan pipiku karena kesal, dan terdiam beberapa saat. Vent berniat mengembalikan botol itu kembali ke dalam tasnya, namun ia tidak menyadari gerakan kecil yang membautnya kehilangan botol tersebut.

“Egh??” dalam sekejap, botol tersebut hilang dari genggaman tangan Vent, ia lantas membalikkan badan dan mendapati diriku berdiri di atas meja, menenggak ramuan tersebut langsung dari botolnya.

“E...Ente! Tadi ente ngapain sampe bisa ngambil botol itu dari tangan ane?!” seru Vent yang tampak bingung. Aku hanya membalas dengan senyuman kecil, sembari menjilat bibirku, mengecap sisa minuman yang menempel.

“Pissel... Mending ente balikin deh, kayanya ente udah ga tahan tuh minumnya...”

“NO! I can still drink!!” seruku sambil memalingkan wajah.

Vent menghela napas, lalu berkata, “Oke... Deh, kalo gitu ane rebut dengan paksa, jangan dendam ya ke ane.”. Ia lantas menerjang ke arah diriku, meskipun ia tidak memasang kuda-kuda, tapi gerakannya sangat cepat dan mendadak sudah ada di depanku, matanya fokus kepada mataku, namun tangannya mengarah ke botol minum yang kupegang. Vent tampak yakin bisa merebut botol tersebut, namun sesuatu yang tak terduga terjadi...

*Wurr wurr wurr wurr*

Aku berputar di udara, lalu mendarat tepat di meja yang berada di belakang Vent dengan satu kaki, dan duduk bersila kembali menikmati minuman tersebut. Vent tampak terbelalak, tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Jelas saja, cukup jarang orang yang bisa melakukan performa tersebut, apalagi ia hanyalah gadis pelukis kecil!

Setelah terdiam beberapa saat, Vent berseru, “WUAAASEM!! Jangan-jangan ente juga makin jago kalo mabok ya?!”

Aku terdiam, menatap Vent sesaat, tersenyum, dan kembali minum, tidak menghiraukan pertanyaan Vent. Vent juga terdiam, namun setelah itu berkata sambil mengusap dahinya, “Wuih... Kayanya bakal repot nih...”

...
...
...
...




“Urrgh...” aku memegangi kepalaku, kepalaku sakit tidak karuan. Entah apa yang terjadi, namun aku tidak ingat apa-apa, hal terakhir yang kuingat adalah ketika aku meminum ramuan Vent kedua kalinya, dan sekarang mendadak aku sudah di kamarku dan hari sudah siang...

“Aw aw aw... My head... :cry:

To be continued...





Is learning to be a "Digital Artist"


EPICEST QUOTE THIS YEAR
Quote :
[00:53:44] Lyonnesse : HEHEHEHE RO bot itu bagus juga

cuma segelintir orang yang ngerti :lol:


Terakhir diubah oleh nisamerica tanggal 2012-07-11, 21:37, total 1 kali diubah
2012-07-11, 20:43
PostRe: [StoryPlay] Eremidia : The Legends begin
NachtEinhorn 
Robot Gedek Galak
avatar

Level 5
Posts : 1274
Thanked : 9
Engine : Multi-Engine User
Skill : Beginner
Type : Developer

Chapter 6: Mischievous Kitten

Kami berdua tiba di Desa yang meminta request untuk mengusir Lesser Cathyloph. Penduduk desa menyambut kami dengan hangat. Kyrie menemani anak anak desa tersebut bermain sebentar.

Aku bertanya kepada kepala desa tentang Lesser Cathyloph ini. "Mereka adalah mahkluk jahat yang suka merusak panen!" jawabnya singkat. "Err, maksudku pak, bentuk fisik, sifat, besarnya?"
"Kamu akan lihat sendiri di ladang kami! Bocah banyk tanya!" jawab kepala desa itu ogah ogahan. Sedikit annoyed, aku langsung menuju ke TKP.

Di TKP kulihat kumpulan mahkluk berkaki empat, berbulu emas mengkilat, dengan tubuh sebesar Anjing herder. Telinga mereka runcing, mata mereka tajam, kulihat sesekali taring mereka, setajam pisau dapur jet li :hammer:.

Aku menyiapkan pedangku, akan tetapi, tiba tiba Kyrie menahanku smabil menggeleng gelengkan kepala. "Baiklah, misi kita kali ini hanya 'ngusir', nggak sampe bunuh kan?" Kuurungkan niatku untuk memakai pedang, dan bersiap dengan tangan kosong. "Kamu di desa saja terlebih dahulu". Kyrie menurut, dan kembali ke desa, membawa pedangku.

Aku langsung menyerbu kawanan itu, melancarkan pukulan bertubi tubi agar mereka mau menyingkir dari ladang. Sekejap, sudah 10 ekor terkena kutukan Explosive Diarrhea dari jurusku. Akan tetapi, tetap saja, hal ini gagal. Bukanya menyingkir mereka malah balik menyerbu. 4-5 ekor sih nggak masalah, tapi ini... 1 pasukan tentara. Aku kembali ke Desa tersebut dengan penuh luka.

Di depan gerbang desa, beberapa anak anak menyambutku, tertawa, dan meledek. Salah seorang dari mereka menyahut, "Benar kata kakak tadi, preman berambut perak ini akan masuk dengan luka di sekujur tubuhnya."

Menahan sakit luar dalam, aku menepuk kepala bocah itu. "Pertama, aku bukan preman =A=, kedua, apa maksud kalian 'Benar kata kakak tadi'?"

Bocah tadi menjawab "Ketika pre... eh, kakak 'main main' dengan para Lesser Cathylhop, Kakak perempuan yang menemani kami bermain tiba tiba sakit kepala, lalu berkata kalau kakak tidak bisa mengatasi Cathyloph Catyloph itu dengan cara biasa, dan gagal di usaha pertama."

"Kyrie?! Dimana dia sekarang?" Aku agak panik. "Kepala Desa sudah merawatnya" jawab bocah yang lain.

Ternyata Kakek nyolot itu punya sisi baik juga.

Aku menjenguk Kyrie di kamar yang dipersiapkan warga. Sepertinya dia sudah terlelap. Aku tersenyum. Sedikit.

Sementara tubuhku penuh dengan perban lagi, Aku berusaha berpikir keras bagaimana caranya agar mahkluk mahkluk biadab itu mau pergi dari ladang desa ini. Setelah nyaris berjam jam tidak mendapatkan hasil, Aku mendengar Kyrie bergumam "Ganti... Orang irangan sawah..."

That's IT!

Aku melihat kembali orang orangan sawah di ladang itu, tentu saja dari jauh. Dan benar, tidak serem sama sekali. Aku menepuk jidat "Orang orangan sawah ngga niat gitu gimana ngga bebas hama"

Aku bergegas kembali ke desa, mengumpulkan warga untuk membuat scarecrow baru yang nggak hanya seram, tapi juga besar dan kelihatan hidup. Hampir seluruh desa membantu.

Akhirnya, Orang orangan sawah baru buatan kami pun selesai. Kami membuatnya dengan model setan alas lengkap dengan jubah hitam dan lidah bohongan yang menjulur panjang ke bawah, sesuai dengan petunujk2 yang kudapat dari warga sekitar yang akhirnya mau membuka diri. Malam harinya, saat Lesser Cathyloph2 pergi dari ladang, kami mencabut orang orangan sawah itu dan menggantinya dengan yang baru.

====================================================================================================

Keesokan paginya...

Strategi kami berhasil. Nyaris. Tidak ada satupun Lesser cathyloph terlihat di ladang, kecuali 1 ekor. Cathyloph ini aneh, dia kecil, dan bulat. Disaat Lesser cathyloph 2 lain ketakutan melihat boneka sawah setan alas itu, dia malah mendekatinya, serasa ingin tahu apa itu. Sesekali kudengar "Hya~?" keluar dari mulut binatang ini.



Aku mendekati Lesser Cathyloph aneh itu, bersama dengan Kyrie.

"Hya~!" Lesser Cathyloph bulet itu merasakan kehadiran kami dan mengambil ancang ancang.



Aku mencoba menjulurkan tanganku "Anak baik, sini sini". Lesser cathyloph itu mengerang, dan...

*capu*

dia meloncat dan menggigit kepalaku.



"UAAAAAAAAAAAAAAAADAAAAAAAAAAAAAAAAOOOOOOOOOWWWWWWWWWWWWWWWWWWWWWWWWZZZZZZZZZZZ" Teriaku sambil tersungkur ke tanah, kehilangan keseimbangan. Mahkluk bulet biadab ini kayaknya seneng menyiksa diriku, dan entah kenapa berhenti setelah Kyrie datang dan mengangkatnya.

"Kyrie, hati hati..." sahutku. Akan tetapi, entah kenapa mahkluk itu jadi diam di pelukan Kyrie. Seperti.. seperti anak kucing asli.

Kyrie, di lain pihak, juga kelihatan senang memeluk bulet biadab tadi. wajahnya blushing, sesakli diusap badan Lesser Cathyloph bulet itu.

Aku mengusap usap kepalaku, masih sakit bekas gigitan. Kyrie berkata kepadaku "Anu, bolehkah aku memeilhara anak ini? Kasihan dia..."

Kasihan? mahkluk ini nyaris membuat aku gundul! Ingin sih, aku ngomong seperti itu, akan tetapi Kyrie kelihatannya senang sekali dengan anak Lesser cathyloph ini. Setelah menghela napas "Selama kamu yang ngerawat, ngga masalah". Kyrie tersenyum senang dan mengusap usap tubuh Lesser Cathyloph yang bulet tersebut.

Pada akhirnya, kami bertiga kembali ke kota setelah menerima bayaran dari penduduk. Di tengah jalan, aku bertanya pada Kyrie, yang masih mengusap usap mahkluk bulet tersebut.

"Omong omong, sudah kamu kasih nama itu mahkluk bulet?"

"Dia bukan mahkluk bulet, Namanya Poyo"

Aku tersenyum "Yap, salam kenal, Poyo!" sambil menjulurkan tangan.

Poyo melompat dan menggigit kepalaku lagi.

"UAAAAAAAAAAAAAAAAAGHHHHHHHHHHHHHHHHHH!!!!!!!!!!!!!!!111111111111"
=====================================================================================================

Kami sampai di kota pada petang hari. Kami menginap di Inn di tengah kota. Aku menyewa 2 kamar, 1 untukku, satu lagi untuk Kyrie dan si bulet biadab bernama Poyo. Aku tidak mau orang orang berpikiran yang tidak tidak (meski sebenernya aku juga pengen tidur sekamar dengan Kyrie sih :mimisan: )

Saat aku menuju ke kamarku, aku mendengar suara gaduh di ruang makan, namun aku terlalu capek untuk mengecek. Suara laki laki dan perempuan. Entah kenapa aku familiar dengan suara laki laki tersebut.

"Hmm... Vent kah? Tidak mungkin..." aku menggeleng gelengkan kepala.

Sampai di kamar, aku merebahkan tubuhku, sambil mengingat peristiwa peristiwa saat aku sampai di negeri aneh ini. Muali dari saat diserang goblin, diinterogasi Gorila, si Pemabuk IMBA Vent, Phoenix, Kyrie...

"Well, masih ada esok hari" aku coba berpikir positif. Aku ingat akan sebotol arak IMBA yang diberikan Vent kepadaku. Kuminum beberapa teguk dan...

"IMBAAAAAAAAAAAAAAAA SUGIRUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUU!!!!!!!!!!!!!111111111"

akhirnya aku tidak bisa tidur :swt:

To Be Continued


"Imagine Iron Man, kill Tony Stark, and replace him with Dinosaurs. That's why Tachikazes are awesome"




Terakhir diubah oleh NachtEinhorn tanggal 2012-07-11, 21:11, total 1 kali diubah
2012-07-11, 21:10
PostRe: [StoryPlay] Eremidia : The Legends begin
izn_lawliet 
Advance
Advance


Kosong
Posts : 434
Thanked : 5
Engine : RMVX
Skill : Beginner
Type : Event Designer

Legend of Aeryn
Chapter 2


Aku terbangun, mataku terbuka, tetapi aku tidak bisa melihat. Perlahan-lahan cahaya mulai memasuki mataku. Sebuah cahaya terang tetapi sinarnya dihalangi oleh sesosok bayangan. Ingin kuusir bayangan itu. Aku ingin menikmati cahaya tersebut seutuhnya. Tiba-tiba sebuah suara mengagetkanku.

“Hey, kau sudah bangun?” Tanya suara itu.

“Hua!” teriakku, sebuah wajah tiba-tiba muncul di depan mataku.

Seorang pria yang sudah tidak muda, tetapi belum menginjak usia paruh baya. Di wajahnya terdapat brewok yang sangat tebal, ia memakai ikat kepala yang cukup tebal, sedangkan wajahnya penuh parutan-parutan bekas luka perang. Aku tahu itu, karena di tubuhku sendiri terdapat beberapa luka perang hasil pengalamanku sebagai prajurit.

“Nggak usah kaget gitu kayak abis liat hantu aja.” Canda pria itu.

“Kalau kau sudah bisa bangun, makan roti itu, mereka baru saja mengantarkannya kemari.” Lanjutnya.

Aku melihat sekeliling. Gelap. Aku melihat tiang-tiang besi didepanku. Apakah ini penjara? Satu-satunya sumber cahaya adalah lampu dibalik sel. Didepanku ada dua buah nampan. Satu nampan sudah kosong, sepertinya milik pria itu. Nampan yang satu lagi berisi sebongkah roti dan semangkok air. Aku mengambil nampan milikku, meneguk sedikit air, dan mulai memakan rotiku. Sembari aku memakan roti, aku mencoba mengingat-ingat kejadian sebelum ini.

“Hey, pak……” panggilku.

“Panggil saja aku Edward, Edward Duncan, Hunter berlisensi S dari kerajaan Erimidia, kau?” sahutnya.

“Aku Jendral Lachlan Silverlance, dari Divisi 3 kerajaan Erimidia. Aku dan pasukanku sedang menjalankan misimenumpas para Serigala Padang Pasir sejak…… Entah beberapa tahun yang lalu. Tetapi kemarin…….” Perkataanku terputus. Aku melihat sesuatu dibalik sel. Seorang wanita berambut pink diseret dan dijebloskan kedalam sel, tepat didepan sel ku. Badanku mengejang. Aku kenal wanita itu!

***

Segera setelah para penjaga pergi, aku beringsut mendekati pintu sel. Aku mengambil sebuah kerikil dan melemparnya ke sel didepanku.

“Hey Karine! Bangun woy!” panggilku pelan.

Wanita itu Karine Rhapsody, seorang Letnan di Divisi 5. Meskipun kami mendaftar menjadi prajurit Erimidia bersama, tetapi pangkatku naik lebih cepat dibandingkan dia. Itu karena misiku jauh lebih berat dibandingkan dengan misi-misi Divisi 5. Tetapi satu hal yang mengganggu pikiranku. Dulu ketika kami masih di akademi, ia lebih kuat dariku. Sudah berapa perkelahian yang ia menangkan dariku. Tetapi kenapa sekarang ia tak berdaya, berada di sel ini?

“Dia temanmu?” Tanya Edward dari sampingku.

“Kenapa kau selalu mengagetkanku sih? Iya, ia temanku dari Divisi 5.” Jawabku disertai protes. Aku hendak melempar sebuah kerikil lagi kearah sel Karine. Tetapi sebuah tubuh yang berdiri di depan sel ku menghalangiku untuk melempar kerikil lagi. Aku mendongakkan kepala untuk melihat tubuh itu. Astaga! Orang setengah serigala itu!

“HEY! Tempat apa ini?! Keluarkan aku sekarang juga!!” teriakku sambil berdiri, menjatuhkan Edward ke lantai karena kaget.

Menusia serigala itu tidak menjawab, hanya menyeringai, menunjukkan gigi-gigi setajam pedang. Perlahan-lahan aku menyadari bahwa sedang terjadi sesuatu pada tubuhnya. Moncongnya menyusut. Telinganya tertarik kedalam. Bulu-bulunya juga lambat-laun menghilang, digantikan kulit manusia. Ia sedang berubah menjadi manusia. Aku memperhatikan dengan terkesima. Manusia didepanku digantikan oleh seseorang yang aku kenal. Prajuritku yang waktu itu menyelamatkanku dari serangan di batu besar.

“Kamu! Hey, kamu! Cepat keluarkan aku dari sini!” teriakku semakin menjadi, antara emosi dan penasaran.

“Haha, jendral bodoh, kami tidak akan mengeluarkanmu secepat itu”sahutnya sambil tertawa.

“Bangsat! Apa yang akan kau lakukan?!” emosiku naik. Tetapi orang itu tidak menjawab pertanyaanku, ia terdiam.

“Hey jendral bodoh, apa kau tahu bagaimana nasib para prajuritmu?” tanyanya kemudian.

Aku lupa dengan prajuritku. Well, aku baru saja terbangun dari pingsan. Aku hanya menggeleng untuk menjawab pertanyaannya.

“Tanpamu yang menjadi penghalang, dan Aeryn terkutukmu itu, mereka habis kurang dari satu menit hahahahaha!” ia tertawa puas.

“Jahanam! Dimana Aeryn ku?!” seruku.

“Meskipun Aerynmu terkutuk, tetapi ia terbukti sebagai penyelamat kaum kami.” Katanya. “Aerynmu yang terbuat dari batu langit memang pernah membuat kaum kami terpaksa mundur kedalam gua seperti sekarang ini, itu terjadi pada masa ayahmu memegang Aeryn ini. Saat ia meninggal, kami sadar, bahwa penerusnya hanyalah cacing lemah. Maka kami pun menyusun rencana untuk mengambil Aeryn dari tanganmu. Di tangan kami, Aeryn menjadi sebuah kunci. Kunci untuk mendapat berkah dari sang Dewa Ulv Yang Maha Agung.”

“Kami menggunakan Aeryn untuk menyalurkan berkah dari Dewa Ulv ke tubuh kami sendiri, mengubah kami menjadi kaum yang terpilih. Aku adalah percobaan pertama dari sebongkah batu langit. Pecahan Aeryn saat ia ditempa, kau tahu? Berkat batu langit dan berkah Dewa Ulv, aku bisa bergerak seratus meter per detik, dan bisa melompat setinggi lima meter. Luar biasa bukan? Aku bahkan belum menyebutkan kekuatanku. Kekuatan Serigala Padang Pasir yang sesungguhnya. Memungkinkanku melempar kuda sejauh yang kau bisa bayangkan.” Ia menyeringai lagi.

“Sekarang, setelah kami mendapatkan Aeryn, kami bisa membangun tentara Serigala Padang Pasir. Dengan berkah Dewa Ulv, kami tidak akan terkalahkan! Hahahahaha” ia tertawa. Setelah itu, sambil berlalu, ia menendang sel ku. Entah apa motivasinya melakukan itu.

***

Keesokan harinya Karine masih belum terbangun juga. Entah apa yang mereka lakukan padanya. Siangnya, kami dibawa menuju sebuah altar di tengah gua. Di altar tersebut aku melihat sesosok tubuh yang tengah terbaring. Dari tempat aku berdiri memang tidak terlihat dengan jelas, karena banyaknya orang yang memadati ruangan ini. Kemudian si manusia serigala itu melangkah menuju altar.

Seketika ruangan ini menjadi hening. Seperti datangnya keheningan ini, sekejap saja mereka mengeluarkan suara-suara aneh. Lebih seperti bernyanyi. Bukan, lebih cocok jika dikatakan mereka sedang membaca mantra.

Seiring waktu, tempo mantra itu semakin cepat, si manusia serigala pun mulai berteriak-teriak dalam bahasa yang tidak kumengerti. Semakin lama teriakan itu semakin keras, pembacaan mantra juga bertambah cepat. Dalam sedetik, mereka menghentikan apa yang mereka lakukan dan diam.

Si manusia serigala mengacungkan tongkatnya ke atas altar, menuju ke langit-langit. Secara tidak terduga, dari langit-langit muncul secercah cahaya yang menyinari altar. Kemudian yang terjadi berikutnya membuatku ternganga. Tubuh yang tadinya berada di altar melayang sekitar dua meter diatas altar.

Setelah tubuh itu melayang, aku baru sadar, itu Karine. Saat aku sedang terperangah melihat Karine, si manusia serigala berdiri di bawahnya dan mengacungkan pedang ke arah Karine. Aku bergerak maju sampai ke depan altar. Tidak ada yang berusaha mencegahku karena mereka tampak terhipnotis dengan apa yang ada di hadapan mereka. Kemudian si manusia serigala itu mengucapkan suatu mantra dengan lantang.

“lys, samlet i dette sværd. og gøre disse personer, der modtager velsignelser til dig, o Gud Ulv” kata si manusia serigala.

Apa yang terjadi berikutnya sungguh-sungguh membuatku terkejut. Cahaya yang awalnya menyinari altar, berkumpul menjadi bola cahaya dan merasuk ke Aeryn secara perlahan-lahan. Aku sudah bisa membaca apa yang akan terjadi, dan aku tidak akan membiarkan itu terjadi. Dengan berlari, aku melompat dan menerjang tubuh Karine, tepat ketika cahaya dari Aeryn meledak dan menyembur ke arahku.

Panas sekali, rasanya tulangku hendak meleleh. Hal selanjutnya yang aku tahu aku mendekap tubuh Karine dan pingsan.

To be continued...



~Jadikan kegagalan sebagai awal kesuksesan~

Anda asik, saya santai
Anda rusuh, saya bantai


~>izn_lawliet is here<~
2012-07-11, 21:12
PostRe: [StoryPlay] Eremidia : The Legends begin
Signus Sanctus 
Newbie
Newbie
avatar

Level 5
Posts : 69
Thanked : 3
Engine : RMVX Ace
Skill : Beginner
Type : Developer
Awards:
Chapter 6 Link

Chapter VII : Disorder Event

Aku hanya duduk termenung di bar, menikmati segelas bir yang disediakan oleh Leila beserta sandwich buatannya, aku tidak melakukan apapun, selain menanti sesuatu yang akan datang sebentar lagi.

"Kamu tidak mengambil Quest, Phoenix?"

Tanya Leila, yang bersikap biasa saja seolah tidak terjadi apa - apa.

"Aku menunggu sesuatu...."

"Eh? apa maksudmu?"

Dan mendadak dari pintu bar keluar beberapa penjaga kerajaan Eremidia. Seorang General wanita mendekatiku dan menatapku dengan tatapan dingin.



"Apakah anda orang bernama Phoenix?"

Aku membalas tatapan wanita tersebut

"Ada perlu apa denganku?"

"Aku General Elicia, aku disini untuk menahan Anda atas tuduhan membakar gereja di utara, dan bertanggung jawab atas kematian seorang Priest dan seorang Junker."

Leila langsung menghalangi General tersebut

"Tunggu sebentar!! Mungkin ada kesalah-pahaman disini, kenapa anda bisa langsung menuduh Phoenix begitu saja!?!?!?"

"Kemarin kami mendapatkan laporan bahwa orang dengan rambut merah terang seperti anda pergi menuju gereja utara malam hari tepat sebelum kejadian tersebut."

Aku hanya berdiri pelan dan terus menatap wanita bernama Elicia tersebut

"Aku cukup ikut bersamamu kan?"

Aku melepaskan pedang dan pisau yang selalu kusembunyikan di balik bajuku.

".............. Kamu tidak akan melawan ataupun membela dirimu sendiri?"

"Tunggu Phoenix!! Kenapa kamu menyerah semudah itu?!?!?!?"

Leila melihatku dengan tatapan khawatir.

"Aku akan kembali, aku hanya akan pergi bersama mereka sebentar saja, untuk sekarang lebih baik aku mengikuti perintah mereka daripada aku merepotkanmu, Leila"

Ucapku kepada Leila yang khawatir, kemudian kembali menatap Elicia

"Cukup aku saja kah?"

"Untuk sekarang, ya, cukup anda saja."

Sambil digiring beberapa Kingdom's Soldier, aku berangkat bersama Elicia dan yang lainnya.

***

"Benarkah kamu yang membunuh Priest dan Junker tersebut?"

Aku yang mendengar pertanyaan tersebut hanya bisa menganguk, posisiku yang sekarang berada di ruang interogasi yang gelap dan penuh darah mereka yang diinterogasi dengan paksa, dalam kondisi yang tidak terlalu menguntungkan.

"Atas alasan apa kamu membunuh Junker dan Priest tersebut?!"

Tanya prajurit itu keras, namun aku tidak bergeming dan hanya menatap prajurit itu sambil mengambil sedikit nafas untuk berbicara...

"Priest itu sempat dijadikan tameng oleh Junker tersebut ketika pedangku melayang ke arah Junker tersebut, karena memang pada awalnya niatku hanya untuk membunuh Junker tersebut..."

prajurit itu hanya mampu menggaruk - garuk kepalanya, mendengar jawaban tanpa nada dan jujur dariku, mungkin jawabanku berbeda dengan para tahanan yang lain. Tiba - tiba seseorang masuk kedalam dan menatapku dengan detail.



"Benarkah tujuanmu waktu itu hanya ingin membunuh Junker tersebut?"

Aku menatap orang yang bertanya tersebut dan terheran dengan nada suaranya yang seakan palsu.

"Benar, dan Priest itu hanya sebuah halangan bagiku untuk membunuhnya..."

"Tapi aku tidak semudah itu percaya dengan kata - kata kriminal sepertimu, kecuali...."

Aku hanya mendengarkan perkataan orang bertopeng misterius tersebut, cukup terkejut dengan apa yang diusulkannya padaku...

***

Aku duduk termenung di balik jeruji besi yang menghalangiku dari semua pengaruh dunia luar, terus duduk tanpa peduli akan bisikan orang - orang disekitarku, maupun gerak - gerik mencurigakan seorang gadis didepanku. Mendadak gadis yang ada didepanku mengajakku berbicara.



"Hei kamu, kenapa kamu diam saja disana? Kamu tidak bersiap - siap?!?"

Aku tidak terlalu menghiraukannya, namun ia tetap memaksa untuk berbicara denganku.

"Kau tidak perlu bersedih seperti itu, karena sebentar kita akan keluar dari ruangan kumuh dan sempit seperti ini, tenang saja~!"

Aku agak bingung dengan perkataannya, seakan - akan dia yakin semua orang yang ada di sini akan keluar dari sini bersamaan, dan tiba - tiba...

*BLAMMMM!!!!!!

"ITU DIA!!!"

Terlihat puluhan orang menembus penjara bawah tanah ini dengan sihir penggali tanah, beberapa orang pergi keatas untuk berjaga - jaga kalau - kalau ada prajurit yang datang kebawah. Dan terlihat wanita yg barusan mengajakku berbicara berusaha membuka jeruji besiku.

"Ayo! Kita raih kebebasan kita bersama!!!!"

Ucap wanita itu mengulurkan tangannya kepadaku.

".................."

Aku berdiri, mengambil pedang yang sudah terletak di sebelah kananku, dan...

*SLASH'D!!!!!!!

Kutebas tangannya dan seketika itu juga...

"K.... KYAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA!!!!!!!"

Wanita itu berteriak dengan kencangnya, menarik perhatian para tahanan dan Junker yang mencoba menyelamatkan mereka, sampai salah satu dari mereka ada yg berteriak.

"BAHAYA!!!! PRAJURIT KERAJAAN SUDAH MENUTUP LUBANG TEMPAT KITA MASUK BARUSAN!!!!"

Ternyata semua ini telah ditebak oleh orang bertopeng tadi, alasan kenapa ia menjebloskanku ke penjara yang cukup jauh dari tempatku diinterogasi barusan adalah karena ia ingin tahu apakah aku berniat untuk bekerja sama untuknya.

"Heh...!"

Aku hanya memasang senyum sinis dan keji sambil mengarahkan pedangku pada puluhan orang yang ada didepanku bersamaan dengan muka ngeri wanita yang mencoba menyelamatkanku itu.

"Shinning Blade Cut!!!!"

Kutebas semua yang ada didepanku, pria, wanita, remaja, maupun yang sudah uzur, kutebas tanpa ada rasa belas kasihan dan prihatin, darah mengalir dimana - mana, tangan, kaki, kepala, dan badan yang terbelah - belah berterbangan kemana - mana, pedangku terus berayun tanpa ampun.

"Final Blade Saver!!!!"

Mereka yang akan menyerangku balik dengan jarak jauh, terkejut dengan serangan pedang jarak jauhku yang mampu membelah banyak orang sekaligus dan menggagalkan serangan mereka.

"Mo... MONSTER!!!! ORANG INI MONSTER!!!!!!!"

Ada yang kembali melawan, dan ada orang yang mencoba kabur menuju pintu keluar penjara, namun didepan sana sudah menanti sekelompok prajurit kerajaan yang mencoba mencegah mereka yang kabur, hilang sudah harapan mereka untuk kabur.

***

"I.... ini...."

Kulihat Elicia mendatangi area yang sekarang penuh dengan abu, darah, tangan, kaki, badan, kepala, dan organ - organ dalam manusia yang berceceran dimana - mana, badanku yang sebelumnya sudah bersih dari segala bau darah, kini kembali bermandikan darah segar manusia yang tak terhitung berapa jumlahnya. Elicia hanya memandangiku dengan rasan ngeri dan takut, ia tidak bisa marah sama sekali...

"MARVELOUS!!! HEBAT!!! BAGAIKAN MESIN YANG DIDESAIN HANYA UNTUK MEMBUNUH!!!"

Orang bertopeng itu masuk kembali dan menepukkan tangannya seakan - akan sedang menyaksikan pemandangan yang menakjubkan

"Kau akan menepati janjimu kan?"

Tatapku dingin kepada lelaki tersebut.

"Tentu saja... atau tidak, aku akan menghadiahimu lebih dari itu...."

Ia memberikanku segunduk uang yang jumlahnya lebih dari ratusribuan rmidollar.

"Kau bebas, kau tidak akan dinganggu gugat oleh kami prajurit kerajaan, meskipun kau membunuh 1 atau 2 Junker lagi, tapi tolong minimalisir kematian para Civillian, ok? Meskipun aku sebenarnya senang ketika kamu membunuh Priest sialan yang selalu mengganggu kami setiap ingin menghukum mati Junker yang sudah kami tangkap~"

Aku hanya menganguk sambil tersenyum sinis.

"Oh aku lupa bilang, kamar mandi ada di samping ruang interogasi, bersihkanlah dirimu sebelum dicurigai orang lain~!"

"..........heh...!"

Aku pergi meninggalkan ruangan penuh darah tersebut, bersamaan dengan tatapan Elicia diiringi dengan tawa puas dari lelaki bertopeng tersebut...

To be Continued...

------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Chapter VII-2

After the Bloodbath

Aku pulang menuju Bar dimalam hari yang sudah sangat gelap, dan terlihat seorang wanita bersandar di sebuah tiang sambil menunduk terpejam, Leila, yang selama ini sudah menungguku.

"Leila...."

Mulutku reflek mengucapkan namanya, dan Leila yang mendengar suaraku langsung menoleh, kemudian tangannya naik menuju mulutnya, mulai menitikkan air mata, kemudian langsung berlari kearahku, kemudian memelukku dengan erat.

"Phoenix... syukurlah kamu kembali....!!!!"

"Aku sudah bilang kan... aku akan kembali...."

***

Kembali di bar dimana aku disuguhi segelas bir besar dan sandwich yang baru saja dihangatkan, bekas tadi pagi.

"Leila, bolehkah aku sedikit bercerita...."

Entah kenapa aku merasa baik - baik saja dengannya, aku sama sekali tidak merasa terintimidasi ataupun ketakutan akan sesuatu yang ada didalamku.

"Ya?"

Dan entah kenapa, aku ingin terus melihatnya tersenyum....

"Aku ini...."

sambil aku berbicara, Leila mendekatiku dan mendekatkan wajahnya kepadaku, membuatku sedikit bertingkah aneh.

"Sebenarnya, selama ini....."

Aku sedikit memalingkan pandanganku pada Leila...

"Aku... mungkin nama asliku bukan Phoenix..."

Leila sedikit bingung dengan perkataanku.

"Eh? maksudmu...?"

"Waktu itu... aku kehilangan ingatanku...."

"EH?"

Leila sedikit terkejut mendengar pernyataanku.

"Dan sekarang ini... aku tidak tahu... siapa sebenarnya aku ini... terkadang tubuh dan pikiranku diambil alih... dan dalam sekejap.... sekitarku.... aku...."

tanganku gemetar, aku tidak berani menyebutkan hal - hal yang akan membuatku menyerang Leila, aku tak mau.....
Kenapa... kenapa aku hanya ingin melindungi Leila, kenapa aku hanya bisa berbagi dengannya, kenapa aku....

*GREP

Dan didalam kebingunganku....
Aku dipeluk oleh Leila....

"Tidak apa - apa, aku yakin kamu bukanlah orang sejahat itu....."

"Bagaimana... kau bisa berkata seperti itu...!!!!!"

Leila mengarahkan tangannya menuju mataku dan mengelusnya sedikit, dan ia mendapatkan setitik air dibalik mataku.

"Orang jahat.... tidak mungkin bisa menitik kan air mata selembut ini...."

Leila memelukku lebih erat lagi, dan aku hanya bisa terhanyut dalam kelembutannya.

"Aku akan melindungimu, Phoenix, dan aku akan mengembalikan ingatanmu...."

Dan kami berdua terus berada dalam posisi ini dalam waktu yang sangat lama....

Chapter VII-2 End


The Greatness of Tentacle:
 


Requiem:
 


The Last:
 


Terakhir diubah oleh Signus Sanctus tanggal 2012-07-11, 22:22, total 1 kali diubah
2012-07-11, 22:21
PostRe: [StoryPlay] Eremidia : The Legends begin
Cloverfield 
Novice
Novice
avatar

Level 5
Posts : 254
Thanked : 27
Engine : RMVX Ace
Skill : Beginner
Type : Artist

Episode I

Episode II The Truth

Aku melangkah mendekat Bill, sepertinya suasananya sedikit aneh.
Aku sudah berdiri dibelakangnya namun Bill tidak juga menoleh, dia justru masih tertawa sambil minum-minum.
"Bill"
Panggilku, namun sepertinya suaraku tenggelam dalam suara mereka yang sedang berbicara.
"Hey Bill!"
Aku menaikan suaraku dan akhirnya terdengar juga, mereka menyadarinya, orang-orang yang sedang berbicara dengan Bill itu, Begitupula Bill, dia menoleh kepadaku.
"Nina!"
Katanya sambil meletakkan minumannya dan tersenyum kepadaku. Langsung saja aku menanyakan kenapa dia tidak datang untuk makan malam tadi...
"Kenapa kau tidak langsung datang seperti biasanya? semuanya sudah menunggumu..."
"Oh itu"
Bill mengisyaratkan teman-temannya itu untuk pergi meninggalkan kami, aneh sekali, wajah-wajah teman Bill ini jarang kulihat di Ibukota Eremidia.
"Lihat semua harta ini Nina, aku sekarang punya uang!"
Aku melihat Bill membuka kantung hartanya, banyak sekali batu permata di dalamnya!
"Itu kan... bagian dari tubuh monster Jewel???"
Monster Jewel adalah monster level tinggi yang biasanya hanya mampu diburu oleh hunter berlisensi khusus yaitu hunter kelas S, bentuk tubuh mereka seperti badak namun lebih besar dan warna mereka keperak-perakkan.Para pejantan Jewel memiliki 5 buah tanduk dikepalanya yang berbentuk seperti mahkota permata, semakin besar mahkotanya yang mana akan juga semakin keras, maka semakin kuat makhluk itu, yang memiliki tanduk terbesar biasanya adalah pemimpin dari kelompok, ya monster ini biasanya membentuk kelompok dan tidak mengganggu manusia kecuali diganggu. Karena kuat jarang ada yang bisa memburunya namun terkadang ada saja orang dengan kekayaan berlebih yang meminta ke quest center untuk diburukan monster ini, demi tanduknya itu untuk dijadikan perhiasan. Karena itulah, aku sangat, sangat terkejut melihat Bill memilikinya!
"Bagaimana Nina? sekarang aku kaya!"
Bill tertawa-tawa melihat aku yang masih terpaku melihat permata-permata indah ini, terpaku karena tidak percaya sama sekali.
"Bill bagaimana kamu bisa mendapatkan ini? apa kamu ini sebenarnya hunter berlisensi S?"
"..."
Tiba-tiba Bill terdiam.
"Sudahlah untuk apa kamu memikirkan itu? yang penting aku mendapatkannya"
Bill berdiri dan merangkulku, Bill nafasnya bau bir...
"..."
Ini...
"..."
Aku menjadi pusing, aku tidak mengerti, ini tidak mungkin...
Tiba-tiba saja wajah Bill sudah dekat sekali dengan wajahku, spontan aku langsung mendorongnya.
*brugh*
"Apa-apaan kamu Bill?!"
Bill jatuh terduduk, aku mundur gemetaran.
Wajahku merah, aku marah dan sekaligus ketakutan dengan sikapnya yang seperti itu.
"Bill kalau kamu seperti ini ini! aku..."
"HAHAHA"
"...!"
"Apa? mau mengakhiri hubungan ini? hmm?"
"Ha... Hah?!"
Aku terkejut Bill berbicara seperti itu dengan entengnya dan tertawa, aku memang mau bilang seperti itu untuk menggertaknya tapi...
"Dengan harta seperti ini, berakhir juga tidak apa apa"
"....!!"
Apa ini... rasanya menyakitkan, Bill berkata seperti itu, sesuatu yang menakutkan muncul dalam benakku... kalau... selama ini aku sudah salah besar.
"Karena sudah seperti ini lebih baik akhiri saja, aku sebenarnya menjadi kekasihmu hanya karena kamu anak keluarga Winhart, yang mana artinya, hartamu banyak..."
Aku seperti kena sihir paralyzed... tubuhku menjadi kaku... begitu mendengar hal tersebut.
"Awalnya aku terus berusaha mendekatimu, tapi kamu hanya memberikan aku masakanmu yang tidak enak, aku pikir kamu bisa jadi mesin uang untukku, ternyata sama saja"
"..."
"dengan harta begini, aku bisa mendapatkan gadis yang lebih manis darimu"
"..."
Aku sudah mengepalkan tinjuku, air mataku sudah mau tumpah. Emosiku sudah tak bisa ditahan lagi!
"DASAR BAJINGAN, RENDAHAN!! KURANG AJAR!!"
Aku langsung berlari kebelakang, aku tidak mau meninjunya, aku tidak mau menyentuhnya sedikitpun lagi! manusia rendah seperti dia...
*BRAKK*
Aku langsung mendobrak pintu bar, lenganku sakit... tapi aku tidak peduli. Aku masuk ke dalam gang sempit itu lagi... gelap... tidak akan ada yang melihatku disini... Aku duduk, aku tidak peduli bajuku kotor, aku tidak peduli... hatiku sakit sekali, menyadari semua kebodohanku, ayah benar...
Bodohnya kau Nina Winhart...!!
"hu.. hiks... Huwaaaaaaaaaah waaaaaaaaaaaaah"
Aku menangis sekencang-kencangnya, aku tidak peduli lagi...
"wah wah wah, kenapa ente nangis begini?"
Ada suara seorang laki-laki. Siapa orang ini?! dia sepertinya mabuk!
"Ente kena..."
Karena mataku buram berkat menangis, tampangnya jadi menakutkan! mencurigakan! aku tidak mau sesuatu yang lebih buruk terjadi padaku malam ini!
*BUGH!!*
"UAGH"
Aku langsung menendang lelaki itu, dia jatuh terjerembab, aku yang emosinya kacau langsung saja lari, mungkin aku sudah membunuh orang, aku tidak tahu...
Dalam setiap langkah yang kuambil dalam berlari, kesedihanku semakin mendalam, air mata yang menetes sudah tidak terhitung jumlahnya, hingga aku sampai di depan rumahku, ada sosok... itu ayah... ayah menungguku pulang...
Mataku buram aku tidak bisa melihat wajah ayah...
*Puk2*
Tangan ayah yang besar dan hangat menepuk2 kepalaku... Tangisku semakin menjadi-jadi.
"A-ayah... ma-maafkan Nina... hu... hiks"
Aku menangis terlalu berlebihan... sesegukanku tidak bisa dikontrol...
"masuklah, ganti bajumu, cuci muka dan kakimu, dan tidurlah segera"
Aku mengangguk lemah, dan tertunduk menangis, aku masuk ke dalam rumah, melihat ibuku duduk di meja makan... makananku masih ada...
"Nina... "
Ibuku sepertinya mengerti, aku tidak akan mau makan malam ini... Ibuku tersenyum dan mengambilkan baju tidurku...

...
...

<evening, 9 P.M>

"..."
Aku belum tertidur... aku menatap langit-langit kamarku... Bill...
Aku tidak mau bertemu dengannya lagi... ... ...
Mataku sembab...
Aku tersenyum, mungkin aku seharusnya bersyukur dengan kejadian seperti ini, lihat sisi baiknya, aku tidak bersama orang seperti dia lagi.
Tidak apa-apa...

...
...

<morning, 9 A.M>

...
...

Suara keramaian orang berlalu lalang di luar rumahku terdengar sampai kamar... Maklum rumahku langsung di pinggir jalan besar... Jika sudah seramai ini berarti aku bangunnya terlalu siang...
"Sudah bangun kakak?"
"...!"
"Aduh Mimi, kamu ini mengagetkan saja..."
Mimi tersenyum, senyumnya itu jahil, tapi aku senang melihat senyumnya.
"..."

"..."

Mimi diam saja, tapi dia menatapku dalam, sepertinya dia ingin tahu cerita tadi malam, anak umur 11 tahun yang selalu ingin tahu saja si Mimi ini.
"..."
"Mana ayah dan ibu?"
Aku berusaha mengalihkan, aku hanya akan menjelaskan kalau dia bertanya saja nanti. dan sepertinya dia diam itu memang untuk menjaga perasaanku, aku tahu dia seperti itu.
"Ayah dan Ibu pergi! katanya mau mengambil undangan pertemuan penyihir tahunan kak"
"Oh... iya sebentar lagi ya waktunya, aku lupa..."
"..."

"..."

"Boo! sini kamu!"
"Aaaa kakak! hentikaaan ahahahahaha! hentikan kak!"
Aku menggelitiki Mimi, aku gemas dengan tingkahnya yang menatapku seperti itu, kami tertawa tergelak-gelak, aku tidak percaya tadi malam aku sudah menangis tersedu-sedu.
Soal itu sebaiknya tidak usah aku pikirkan lagi, ... meskipun rasa kecewa itu masih ada, aku harus tersenyum, sudah tidak ada hubungannya lagi denganku kan?
Aku pun memeluk Mimi dan berusaha untuk semangat kembali.

...

...

To be continued...


My first project :3


I Support These Games :


Terakhir diubah oleh Cloverfield tanggal 2012-07-12, 21:19, total 1 kali diubah
2012-07-11, 23:48
PostRe: [StoryPlay] Eremidia : The Legends begin
Gramadi 
Novice
Novice
avatar

Level 5
Posts : 209
Thanked : 4
Engine : RMVX Ace
Skill : Very Beginner
Type : Artist

CHAPTER 1 : Valkyrie In The Middle Of Nowhere.
Character : Saint Claire
Ciri2 : Rambut Coklat, dengan Armor Biru dan jubah putih, membawa Rapier.

-----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Suara ombak mulai berkurang dan tidak terdengar lagi suara badai dan petir yang sebelumnya sangat membahana.Yang terdengar kini hanyalah suara burung camar yang terbang tinggi di atas kapal.Kapal ini adalah
Kapal pengangkut barang yang menuju pelabuhan di Eremidia.Terlihat di salah satu ruangan kapal tersebut Sesosok gadis menyelimuti dirinya dengan kain selimut dan terlihat ketakutan akan badai yang sebelumnya menerjang kapal tersebut.

Gadis itu kemudian beranjak dari tempat tidurnya, dan tidak lama kemudian ia mulai melepas bajunya,Dan tak lama kemudian ia memakai baju yang ada di dekat tempat tidurnya.

"Ah..... kapten kapal ini begitu baik mau meminjamkan aku baju ini dan memperbolehkanku tidur di kamar ini " Kata gadis itu sambil mengambil baju yang tadi dilepasnya.

Ia pun kemudian menuju cermin dan mencoba merapikan rambutnya yang berantakan.Senyum simpul menghiasi wajahnya setelah ia merapikan rambutnya.

"Sepertinya aku harus mengembalikan baju ini kepada kapten kapal " Pikirnya.

Ia pun bergegas keluar untuk menemui kapten kapal.

Gadis itu melewati lorong dan berpapasan dengan beberapa awak kapal.Beberapa dari mereka tidak bisa melepaskan pandangan terhadap gadis itu.Mungkin ini dikarenakan gadis itu merupakan satu satunya wanita di kapal tersebut.Namun bukan pandangan liar yang terpancar dari awak kapal tersebut namun pandangan " Respect" yang terpancar dari para awak kapal tersebut. Sesekali gadis tersebut membalas senyum kepada awak kapal tersebut.Diujung lorong terlihat cahaya matahari yang terpancar dari luar kapal.Gadis itu pun kemudian keluar dari lorong tersebut menuju dek kapal.

Sesosok pria tua menyapa gadis tersebut , melihat penampilannya sepertinya dia adalah kapten kapal tersebut.

"Ah... kamu sudah bangun rupanya,Badai sebelumnya. terlihat menakutkan kan?" Sapa Kapten tersebut.

"ini, pertama kalinya aku berlayar mengarungi samudra, jadi badai seperti kemarin merupakan pengalaman tersendiri bagiku" Jawab gadis itu.

"Hohohoho....." Tawa si pria tua mendengarkan jawaban gadis tersebut.

"Dan.., terimakasih telah memberiku tempat untuk tidur dan pakaian ganti selama aku disini.., aku tahu sebenarnya membawa gadis dalam sebuah pelayaran akan membawa peta- .."

belum selesai gadis itu menyelesaikan kalimatnya,pria tua itu menyentuh bibir gadis itu dengan tangannya.

"Ssst....jangan bicara lagi ,aku tidak merasa keberatan membawamu naik keatas kapal ini , lagi pula mitos seperti itu hanya berlaku bagi perompak kapal " kata pria tua tersebut.

pria tua tersebut kemudian terdiam sejenak,kemudian tak lama kemudian ia mulai kembali berbicara.

"Aku.. memiliki anak gadis yang mungkin seumuran denganmu,Mata biru itu, Rambut itu, dia mirip denganmu..,
Baju yang kamu sebelumnya kamu kenakan, adalah baju kesukaannya
"

"Namun, karena kecerobohanku.....................................dia meninggal" Kata pria tua itu penuh penyesalan.

"beberapa tahun yang lalu, ketika berlayar menuju Eremidia seperti sekarang, kami menemukan hal yang menakjubkan ,Kraken."

pria tua tersebut menghela napas kemudian melanjutkan ceritanya.

"Aku bermaksud menangkap kraken itu mengingat kargo bawaan kapalku penuh dengan senjata dan obat bius, Putriku telah memperingatkanku namun aku menghiraukannya".

Air mata mulai keluar dari mata pria tua tersebut.

"Kami berhasil membiusnya, dan ketika kami berpikir telah menangkapnya tiba2 bagian belakang perahu kami terangkat"

"Kraken tersebut menghancurkan bagian belakang kapal kami, dan kami semua berusaha lari menuju bagian depan dimana air tidak dapat menjangkau kami."


Gadis tersebut tetap diam mendengarkan pria tua tersebut bercerita.

"Aku memeluk putriku yang ketakutan,dan beberapa awak kapalku sempat memberikan perlawanan terhadap kraken tersebut dengan menggunakan senapan"

"Aku terus melihat putriku yang berada di pelukanku , dan berdoa bahwa kami dapat menghadapi maut yang akan menghampiri kami"

"Namun, perhatianku teralihkan oleh teriakan awak kapal, dibelakang kami terdapat satu tentakel kraken dan menghantam kami tanpa sempat kami menghindar dan hal terakhir yang aku tahu aku terpisah dari putriku.."


"Aku tersadar dan tengah berada di klinik di Eremidia,beberapa awak kapal yang selamat juga berada disana, dan mereka semua sekarang awak kapal yang berada disini " kata pria tua tersebut sambil menunjuk kebelakangku.

gadis itu melihat kebelakang dan terlihat awak kapal yang ternyata juga mendengarkan kisah dari pria tua tersebut.
Gadis itu mencoba untuk tidak bertanya, namun rasa penasaranku mendorongnya untuk bertanya.

"Dan putrimu..??" Tanya gadis itu.

Pria tua tersebut terdiam dan tidak lama kemudian ia menggelengkan kepalanya.Gadis tersebut tahu bahwa seharusnya ia tidak bertanya.Keheningan menyelimuti kedua manusia tersebut ,dan Gadis tersebut memilih untuk kembali ke dalam kamarnya.Pria tua tersebut melihat gadis itu kembali ke kamarnya.

Gadis tersebut kembali ke kamarnya kemudian merebahkan tubuhnya dan terdiam.Sesekali ia bergerak namun tidak berkata apa apa.Gadis tersebut melihat ke arah baju milik putri dari pria tua tersebut.Ia merenung atas kejadian yang menimpa putri pria tua tersebut.Gadis tersebut berjalan ke arah jendela kapal dan melihat ke arah lautan.namun ketika ia sampai didepan jendela , ia melihat awak kapal dengan expresi terkejut jatuh dari atas kapal dan melewati jendelanya.Gadis tersebut terkejut atas hal yang baru saja dilihatnya.Suara senapan pun mulai terdengar dari atas kapal. Gadis tersebut bergegas membuka lemari di kamarnya dan memakai, Baju zirah berwarna biru dan mengambil Rapiernya.Gadis tersebut bergegas menuju dek kapal dan sesampainya disana hal yang pertama kali dia lihat adalah awak kapal yang berterbangan dan salah satunya terlempar menabrak dinding kapal tepat disebelah gadis tersebut.Gadis tersebut melihat kearah apa yang melempar awak kapal tersebut dan ia melihat.

"KRAKEEEN.." teriak pria tua tadi.

dia membawa senapan dan menodongkannya ke arah kraken tersebut.

ia dan beberapa awak kapal menembakkan peluru ke arah kraken tersebut.beberapa dari peluru tersebut kelihatan menyakitinya.Pria tua tersebut melompat kedepanku dan berbicara.

"Huh..mungkin ini saat terakhirku, tapi aku tidak akan membiarkan makhluk ini melakukan hal yang sama seperti putriku kepadamu...dan .. aku belum tahu namamu.." kata pria tua tersebut.

'Saint... Saint Claire..." Jawab Gadis tersebut.

"Sinclair eh,...?? nama yang bagus semoga kamu -"
belum selesai menyelesaikan kalimatnya salah satu tentakel kraken tersebut menghantam pria tua tersebut tepat didepan Claire.pria tua tersebut tak sadarkan diri.Melihat hal tersebut Claire pun geram dan mengeluarkan
Rapiernya.Dia berlari menuju Kraken tersebut.Dia mengayunkan rapiernya dan bersiap menusuk. Dari ujung rapiernya terpancar energi yang tidak biasa.

"THUNDER GOD STYLE!!!!...LIGHTNING PURGE!!

Seberkas sinar keluar dari ujung rapiernya dan mengeluarkan energi petir dan menghanguskan tentakel dari kraken tersebut.beberapa tentakel yang lain mencoba menyerangnya dan kemudian Claire menaiki tentakel tersebut dan bermanuver diudara menghindari beberapa serangan tentakel yang lain.Awak kapal mencoba membantu Claire dengan menembakkan senapan ke tentakel yang mengarah ke arah claire.Kemudian Claire membentuk lingkaran sihir diudara dengan cepat dan rapiernya mengeluarkan sinar kembali.

"THUNDER GOD STYLE!!! THUNDER GOD SONG!!
5 petir muncul dari lingkaran sihir tersebut dan menghanguskan ke lima tentakel kraken yang lain.
Kraken tersebut kelihatan sangat kesakitan dan mencoba untuk menyelam kedasar laut namun Claire dengan cepat mendekatinya sebelum kraken tersebut menyelam.

"KAMU TIDAK AKAN LARI!!!" Teriak Claire.

Claire memunculkan beberapa layer magic circle dan mengarahkannya ke kraken tersebut.Claire kemudian menusuk salah satu Magic circle tersebut dan mengalirkan energi petir kedalamnya.

"THUNDER GOD STYLE!!!!" LAYERED LIGHTNING PURGE!!!.

Petir yang dihasilkan lebih kuat daripada yang pertama kali dikeluarkan tadi.seluruh tubuh kraken tersebut hangus dan tenggelam.Awak kapal yang melihat aksi Claire pun terkagum-kagum.

"VAL....VAKYRIE...." Kata Salah Satu awak kapal.

Kemenangan Claire disambut teriakan sukacita oleh awak kapal yang tersisa.
Awak kapal kemudian menghampiri claire dan mengelu2kannya.Claire dengan cepat berdiri dan berbalik.

"Bagaimana dengan kapten?? " tanya Claire.

"Dia tidak apa - apa dia hanya pingsan "kata salah seorang awak yang menghampiri kapten kapal"

Senyum simpul menghiasi wajah Claire dan karena kelelahan Claire pun pingsan di dek kapal.

------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Beberapa Hari kemudian

Kapal telah sampai di pelabuhan Eremidia.dan Claire telah bersiap siap untuk meninggalkan kapal.
Sebelum pergi Claire menyempatkan mengunjungi Kapten kapal yang masih terbaring.Kapten kapal tersebut menyambut Claire dengan baik.

"Jadi.. kau akan pergi..?" Tanya kapten kapal tersebut.

"Iya... terimakasih sudah memberiku tumpangan menuju Eremidia ini... "
jawab Claire.

Claire membungkuk kemudian memberi salam dan berbalik, namun belum ada satu langkah pria tersebut memegang tangan clair.

"Tunggu...! ada sesuatu untukmu sebelum kamu pergi.." kata pria tua itu,

pria tua itu mengeluarkan bungkusan dan memberikannya untuk Claire.

"Ambillah.. ini untuk bekal kamu di eremidia.., beberapa makanan dan uang"


Claire merasa terharu, dan memeluk pria tua tersebut.Perasaan gembira bercampur haru mewarnai
ruangan tersebut.Tidak lama kemudian ia melepaskan pelukannya dan kembali membungkuk.
ia kemudian tersenyum lebar kepada pria tua tersebut.Ia tersenyum lebar cukup lama.Pria tua tersebut terheran.

"Kenapa kau membuat wajah seperti itu.." Tanya pria tua tersebut.

"Karena apabila kita berpisah dengan seseorang,wajah yang akan dia ingat hingga ia bertemu kembali dengan orang tersebut adalah wajah terakhir yang dia liat ketika berpisah.Jadi aku akan memasang wajah senyum seperti ini agar anda dapat mengingat bahwa diriku gembira seperti saat ini dan seterusnya " Jawab Claire.

mendengar jawaban Claire pria tersebut tersenyum.dan tak lama kemudian ia kemudian memasang wajah senyum ceria juga. Claire pun ikut senang dan membungkuk kemudian meninggalkan ruangan kapten tersebut.

Setelah kepergian claire, kapten tersebut tersenyum.
"Sienna,Anak itu persis sekali denganmu" gumam pria tersebut sambil memandang jendela.

Claire kemudian turun dari kapal dan sampai di Pelabuhan eremidia.

"Jadi ini Eremidia...,Disini Aku yakin akan menemukanmu!"
, Kata Claire sambil membuka liontinnya.
di liontin tersebut ada foto seorang lelaki.

"Petualanganku di Eremidia..!!! DIMULAI!!!! " kata claire sambil melangkahkan kakinya ke arah Kota Eremidia









Jangan ngaku ganteng klo belum dapat pengakuan kayak gini : 8)





Support on :
2012-07-11, 23:52
PostRe: [StoryPlay] Eremidia : The Legends begin
richter_h 
Salto Master
Hancip RMID
avatar

Kosong
Posts : 1705
Thanked : 30
Engine : Other
Skill : Skilled
Type : Developer
Awards:

The Tale of Vent McGraves
Chapter VII


Klik to Chapter VI
Klik to Pissel pas minum minuman ajib

“Urrgh...” Vischelia akhirnya bangun. Dia lihat keluar jendela, ini bukan pagi lagi. Dia kaget dia bangun hampir tengah hari. Dia coba ingat-ingat apa yang dia lakukan sebelum dia berakhir di tempat tifur itu, tapi dia tidak ingat apa yang dia lakukan tadi malam selain minum minuman super ajib Vent.

“Aw aw aw... My head... :cry:

"Ente sih, maksain diri minum banyak..." Vent--yang dari tadi terus menunggu Vischelia selama dia tidak sadarkan diri terlihat sedang duduk di dekat jendela. Niatnya mau bangun, Vischelia masih merasa pusing dan akhirnya hanya berbaring saja.

"Kalo liatin ente tadi malam, ane jadi inget pertama kali ane minum..."

"Eh, eh, Vent," Vischelia masih merasa pusing memaksakan bicara, "Apa yang aku lakukan semalam?"

Vent hanya diam, dan sedikit cekikikan berkata, "Ada deh :senyum: "

"Apa aku melakukan hal-hal aneh?"

"Pissel, sudahlah. Ente ngga perlu mikirin apa yang terjadi semalam. Lagian, karena ente minum kebanyakan, ane pikir ente mending istirahat dulu."

Suasana hening sejenak. Baik Vent maupun Vischelia terdiam, dan hanya terdengar suara keramaian dari bawah sana, dari alun-alun kota.

"Vent," Vischelia memecah keheningan yang sunyi, "Aku punya satu permintaan."

"Permintaan?!" Vent kaget sampai minuman yang baru dia teguk disemburkannya ke arah jendela. Dia masih ingat dengan kata-kata itu, yang pernah diucapkan oleh seorang gadis kecil kepadanya dahulu kala.

"Tunggu, tunggu, tunggu... Permintaan apa dulu, nih? (Perasaan ane nggak enak...)"

"Karena aku bertarung saja tidak bisa, dan aku butuh seseorang yang bisa lindungi aku, sepertinya..."

"(Tuh, kan, apa ane kata juga enggak enak!) ...Jadi ente mau...?"

"Yes, Vent." Vischelia lantas bangun dan duduk di ranjang, memandang Vent dengan tatapan penuh semangat. Vent sampai terkaget-kaget karena tiba-tiba gadis itu langsung bersemangat, padahal barusan dia masih teler bin tepar di ranjang. "Aku mau ikut bersamamu. Boleh, kan?"

" :rpuke: " Vent langsung speechless. Dia tidak bisa berkata apa-apa lagi setelah mendengar kata-kata dari gadis muda yang baru kenal sama dia kurang dari satu hari penuh.

"Eh? Why not?"

"Boleh, boleh..." Sekarang Vent akan melakukan petualangannya di dunia baru bersama seorang gadis lagi. "Tapi syaratnya, ente jangan minta minum terlalu banyak."

Vischelia terlihat begitu semangat dan gembira. Vent hanya facepalm menyadari apa yang dia katakan itu akan mengulang sejarahnya kembali dimana dia akan melakukan petualangan bersama seorang gadis yang selalu sedikit sad ending.

--

"Pertama, ane sekarang lagi bokek, dan ngambil satu tugas dari Quest Center kayaknya cuma satu-satunya cara buat dapet uang buat bayar penginapan dan minum-minum di bar. Ente yakin mau ikut, sementara ente ngga bisa limdungin diri ente sendiri?"

Vischelia mengangguk penuh semangat. Vent hanya bisa pasrah dan berharap leluhur bisa membantunya melindungi gadis imut nan unyu yang terlanjur dikasih janji untuk ikut bersamanya.

"Tenang saja," Vischelia dengan wajah yakin dan tetap unyu berkata pada Vent dengan penuh gairah dan semangat, "Aku sering dekat dengan kematian, dan aku bisa jaga diriku sendiri. Percaya, deh."

Vent yang membawa barel kecil dan kantongnya, diikuti oleh Vischelia yang bawa perlengkapan menggambar banyaknya seperti orang yang mau buka stand galeri seni pergi menuju ke Quest Hunter, tidak jauh dari penginapan. Baru beberapa langkah, sesosok pemuda dengan cepatnya menghampiri Vent dan menjitaknya sampai nyungsleb ke tanah. Pemuda itu tidak lain tidak bukan tidak pula salah adalah Schneide, si rambut perak.

"Pemabuk GILA! Gue sampe ngga bisa tidur, kampret!!"

Vischelia tentunya sangat kaget ketika Vent diserang begitu saja tanpa ada perlawanan yang berarti. Begitu Schneide nengok ke arah Vischelia, Schneide hanya bengong, sejak kapan si pemabuk IMBA Vent bersama seorang gadis, sudah imut, unyu dan menggemaskan pula...

"Oi, Vent," Schneide lantas mengangkat badan Vent yang terkulai setelah dijitak dengan sepenuh hati itu. "Siapa pula gadis itu? Dan sejak kapan kamu bersama dia?"

"Aku Vischelia, pelukis." Jawab Vischelia dengan santai tapi bersemangat. Tahu lah, Vischelia ini orangnya selalu ceria...

"Ente pasti ngga bakalan percaya dengan apa yang ane alamin semalam..."

Kembali ke bar, dimana Vent, Vischelia, Schneide dan seorang gadis asing yang dari tadi bersama Schneide menceritakan ceritanya masing-masing. Vent kaget saat ternyata Schneide mengalami hal yang begitu hebat; melawan seorang petarung kelewat IMBA dan bertarung layaknya peserta Murotal Mortal Kombat dan berakhir di rumah sakit bersama orang itu. Dan juga, Vent hanya ngakak saat Schneide mengomentari minuman yang dia dapatkan dari Vent ajibnya sampai dia tidak bisa tidur.

"Namanya juga minuman super ajib, mang..." Vent mengomentari apa yang Schneide ceritakan tentang minuman itu.

"Nah, kan itu ceritaku. Apa ceritamu?"

Vent, melirik Vischelia sebentar, lalu membuka ceritanya, "Pertamanya, ane tepar di gang belakang sana, lalu ni cewek nemuin ane dan..."

Cerita Vent diceritakan dengan seksama dan dalam tempo sesingkat-singkatnya, diselingi dengan beberapa teguk bir. Beberapa saat Vent melarang Vischelia untuk minum bir, mengingat yang terjadi tadi malam bukan main-main. Setelah cerita Vent diakhiri dengan cerita saat dia dijitak sampai nyungslep oleh Schneide, Vent sadar, wanita yang bersama Schneide juga asing, dan tidak pernah melihatnya sejak pertama kali dia bertemu dengan Schneide.

"Oi, Sned. Dia siapa? :lirik: "

"Perkenalkan," wanita itu dengan ramah mengenalkan diri pada Vent, "aku Kyrie, mantan suster. Aku sudah melakukan satu quest bersama Schneide."

"Hoho, ternyata Sned ini bisa aja nggaet cewek... :hihi: "

"Ah, elu, Vent. Kamu juga bisa aja :hihi: "

Vent dan Schneide tertawa bersama. Baik Vischelle maupun Kyrie bengong layaknya sapi bengong diparkir di parkiran kota, tidak tahu apa yang Vent dan Schneide katakan tadi. Tapi tiba-tiba, seekor mahluk sebangsa kucing bantet menggigit kepala Vent yang masih ngakak bersama Schneide. Tawa Vent berubah jadi teriakan kesakitan.

"UUUWAAADDHHHAAAAWWWWASSEMELEEEEEEH!!! :FU: "

"Aih, maaf maaf..." Kyrie lantas melepaskan mahluk kucing bantet itu dari kepala Vent. Sementara Vischelia dan Schneide balik tertawa, Vent hanya bisa mengerang sakit karena gigitan mahluk bantet yang tenaganya naudzubileh...

"Poyo emang suka gitu, Vent." Schneide menjelaskan kenapa mahluk yang diberi nama Poyo itu menggigitnya. "Dia suka gigit orang lain selain Kyrie. Kayaknya Poyo suka sama Kyrie..."

Perbincangan hangat nan asik mereka berlanjut, tidak menyadari ada juga dua sejoli yang mungkin sudah tidak asing lagi bagi beberapa orang karena reputasinya. Lantas, mengingat Vent butuh uang untuk biaya hidup di kota yang kelihatannya rada gila ini, Vent dan Vischelia pamit diri dan beranjak ke Quest Center, sementara Schneide dan Kyrie punya rencana tertentu...

--

Di Quest Center,

"Bah, ngga ada yang asik... Kenapa isi tugasnya cuma bunuh ini bunuh itu?! Ane udah liat gimana sebenarnya yang terjadi di luar sana."

Vent tidak jadi mengambil satupun Quest dari sana. Vischelia hanya bengong dan ikuti Vent kemana dia berjalan, sampai gerbang kota, Vent seperti mendapatkan ilham dari leluhur.

"Pissel," Vent dengan tampang mabok tapi yakin dan meyakinkan berkata, "Gini aja, deh. Kemaren ane udah liat banyak barang yang bisa dijual di hutan, kayaknya kita bisa jalan-jalan di sana, mengais rezeki sambil nyari bahan-bahan buat minuman ane sementara ente bisa nggambar pemandangan ajib di sana. Gimana? Asik enggak?"

"Nice! Boleh juga!" Vischelia juga ikut semangat. Dia akan mendapatkan beberapa momen yang bisa dia abadikan. "I'll make many moments eternized!"

Akhirnya, tengah hari menjelang sore, Vent dan Vischelia berangkat ke hutan timur rada ke selatan, dimana kata para pemburu tempat itu ada sarang Goblin yang ganasnya minta ampun dan minta dibantai. Membawa gadis imut nan unyu ke tempat yang naudzubileh bahayanya, Vent hanya bisa berharap pada leluhur mereka bisa selamat dan bisa pulang lagi ke kota untuk minum-minum dan asik-asikan...

Klik to Chapter VIII


| My spriteworks | deviantArt | Mark's Quest | Eremidia: Dungeon! |
Developer of:



Supporter of:


Selp-Proclaimed The Most Handsome Member of the Long Lost Glorious


Disini kalo sebagai nubi mau dikritik yang bagus2 biasanya harus ngaku cewek dulu, karena you know lah... -- Brosef numfanklewhat


Terakhir diubah oleh richter_h tanggal 2012-07-12, 10:42, total 3 kali diubah
2012-07-12, 01:39
PostRe: [StoryPlay] Eremidia : The Legends begin
Signus Sanctus 
Newbie
Newbie
avatar

Level 5
Posts : 69
Thanked : 3
Engine : RMVX Ace
Skill : Beginner
Type : Developer
Awards:
Chapter 7 Link

Claire's Appearance

Nina's comeover

---------------------------------------------
Chapter VIII : Trust & Belief

Hari itu, Bar menjadi agak sepi, bukan karena tidak ada pengunjung ditempat itu, namun dikarenakan ada kehadiran seseorang yang sangat jarang sekali di bar tersebut, yakni Elicia the General, sedang duduk disampingku, terkadang memperhatikanku dengan seksama, tapi kadang memperhatikan Leila yang sedang melayani pelanggan lain, namun kadang juga mendekatiku.

"Hei, Phoenix...!"

Aku hanya meliriknya ketika mendengarnya memanggil namaku.

"Kau tidak melakukan Quest hari ini? Kau seorang Hunter Class B kan?"

Aku menelan sandwich kelima yang dibuatkan Leila, entah kenapa, aku lumayan ketagihan dengan Sandwich buatannya.

"Aku melakukan Quest hanya untuk mencari uang untuk bertahan hidup...."

Sambil menatap Elicia sedikit tajam

"Hmm... Kalau begitu bagaimana kalau sekarang kau membantuku menyelesaikan misi?"

Aku langsung memalingkan kepalaku kepada Elicia

"Like I care..."

Namun Leila langsung menyerobot dan bertanya balik...

"Misi apa ya?"

Elicia yang cukup terkejut dengan keakraban Leila dan Phoenix, sedikit tertawa.

"Hanya ingin memintanya untuk menemaniku ke sebuah Dungeon ko!"

Leila memegangi pundakku dari belakang, dan menatapku tajam

"Phoenix, kurasa tidak apa - apa jika kamu menerima permintaannya~"

Aku agak ragu untuk menganguk dan menerimanya.

"Katanya kamu mau membalas kebaikanku yang sudah merawatmu disini~? Anggap saja sekarang saatnya untuk membalas semua itu~~"

GLEK!!

Aku agak kaget dengan ucapan Leila yang mengancam seperti itu.

"Jadi kamu bersedia, Phoenix?"

Aku hanya bisa menganguk pelan.

"Baiklah, sekarang ayo ikut aku ke Hunter Guild, aku perlu menulis izin untuk memakai Hunter sepertimu."

Aku hanya berdiri lemas, terpaksa demi Leila.....
Ngomong - ngomong, kenapa aku menjadi seperti ini hanya didepan Leila....?

-----------------------------------------------------------------------------

Sesaat sebelum Aku dan Elicia keluar dari Bar, Elicia menabrak seorang wanita berpakaian lengkap, namun sangat asing.

"Oh, maaf, aku tidak fokus...!!"

Ucap wanita tersebut pelan.

"Tidak, aku juga minta maaf karena tidak memperhatikan jalan."

Aku menatap wanita itu secara seksama, namun entah kenapa sepertinya ia sedikit takut denganku, entah apapun alasannya.

"Emm, maaf, anda... tahu orang difoto ini tidak?"

wanita itu menunjukkan sebuah foto dari liontinnya

"Emm, maaf aku tidak tahu siapa dia, tapi mungkin kamu bisa ke Hunter Guild saja, disana banyak orang yang sering berpetualang kesana kemari, mungkin kamu bisa dapat informasi disana, mau kuantarkan?"

"Terima kasih banyak! Emm, namaku Saint Claire!! Salam kenal!!"

"Namaku Elicia, dan ini Phoenix, tapi kusarankan untuk tidak terlalu dekat dengannya."

"Phoenix?!"

Wanita itu sepertinya terkejut mendengar namaku...

***

Sesampainya di Hunter Guild, aku langsung mengisi kontrak untuk melakukan perjalanan jauh bersama Elicia, dan Claire sepertinya sedang sibuk menanyai satu - satu orang - orang di Hunter Guild ini. Selesai mengisi kontrak kami keluar dan Hunter Guild, dan melihat seorang gadis remaja sedang terbingung - bingung didepan pintu Hunter Guild, aku berniat mengabaikannya, namun Elicia tanpa ragu mendatangi gadis itu dan bertanya...

"Sedang apa kamu ditempat ini?"

Gadis itu terlihat sedikit kikuk dan panik, namun tetap menjawab pertanyaan Elicia

"Anu, aku Nina, Nina Winhart, aku kemari karena aku ingin merekrut seseorang untuk melindungiku berjalan menuju Hutan Timur, kudengar disana banyak bahan untukku bereksperimen sihir, tapi aku tidak tahu prosedur untuk merekrut bodyguard..."

"Oh, bagaimana kalau kamu ikut bersama kami, kebetulan kami akan pergi kesana ko!"

"Eh?!?"

Apa - apaan ini, aku tidak ada niat untuk melindungi 1 wanita tidak dikenal seperti dia!
Kenapa kamu sembarangan mengajaknya...!!!

"Hei, kudengar kalian akan pergi keluar kota, boleh aku ikut bersama kalian?"

Dan membuat kondisi makin parah, wanita bernama Claire barusan meminta untuk ikut.

"Umm, benarkah boleh...?"

"Tentu saja kalian berdua boleh! Dan kau akan melindungi mereka kan, Phoenix??"

"Like I care what will happen to both of them...!"

Ucapku risih melihat kondisiku sekarang ini, ini sih sama saja ingin membeberkanku ke seluruh dunia atas apa yg biasa kulakukan....

***

Perjalanan menuju hutan timur ternyata tidak sesulit yang diperkirakan, hanya sedikit monster yang menghadang perjalanan kami dan semuanya bisa ditangani oleh Elicia dan Claire, aku tidak perlu mengerahkan tenagaku besar - besaran.

"Huh, tampangmu saja yang seram, ternyata kamu tidak ada apa - apanya."

Ucap Claire kepadaku sinis, namun aku sama sekali tidak peduli.

"Anu... Kira - kira kapan kita akan sampai ya?"

Ucap Nina sepertinya sudah tidak sabar, dan aku juga tidak sabar ingin semua segera berakhir.

"Sebentar lagi, itu hutannya sudah terlihat!"

"Aku lupa bertanya, General Elicia, sebenarnya apa yang akan kita lakukan di sana?"

Tanyaku kepada Elicia agak jengkel.

"................................"

Elicia agak terdiam, melihat sekeliling, yang sepertinya tidak ada monster, kemudian menyarungkan Spear nya.

"Akhir - akhir ini... banyak kasus dimana orang - orang hilang di hutan tersebut, ada yang bilang mereka semua mati setelah dikeroyok oleh 1 pasukan Goblin, demi keamanan rakyat, aku diutus untuk menyelidiki tempat tersebut."

Claire dan Nina sedikit ngeri mendengar cerita tersebut.

"Kalau begitu kenapa aku juga diajak?"

"Kurasa tidak ada salahnya untuk mengajak seseorang yang memiliki kemampuan untuk membasmi ribuan pasukan dengan mudahnya sepertimu, dan lagipula, kamu tidak mau suatu saat mereka menyerang bar tempat Leila mu bersinggah bukan?"

DEG!

Aku sedikit marah mendengar perkataan Elicia, namun aku masih bisa menahan gejolak ini...

***

Setelah sampai di hutan, Nina dan Claire sedang asik mencari bahan - bahan untuk percobaan sihir, sedangkan aku hanya mengamati Elicia sedang mengamati daerah dekat bebatuan...

"Banyak bau darah di sini..."

Ucapku sedikit lepas.

"Kau bisa mencium bau darah semudah itu?"

"Kurasa kau sudah tahu alasannya...."

Namun tiba - tiba...

"KYAAAAAAAAAAAAAAA......!!!!"

Terdengar suara teriakan Nina dari kejauhan, kemudian aku dan Elicia bersegera menuju tempat tersebut.



"A... MONSTER APA ITU?!?!?!"

"Chrome Disaster?!?!?
Mustahil!! Kenapa monster S Class bisa berkeliaran ditempat seperti ini!?!?!?"

"Cih!"

Tanpa menunggu lebih lama lagi aku langsung mengeluarkan pedangku, menyerang monster aneh tersebut.

"Final Blade Saver!!!!!"

Serangan tebasan jarak jauhku cukup efektif, dalam sekejap Ekor monster tersebut langsung terbelah dua.
Namun....

*SRRRRRRR

Badan monster tersebut langsung meregenerasi dengan cepat.

"WHAT THE?!?!?!"

"Monster macam apa itu?!?!?!?"

"THUNDER GOD STYLE!!!!...LIGHTNING PURGE!!"

Claire langsung menghujani Monster tersebut dengan tembakan sinar yang keluar dari ujung rapiernya, namun monster itu meregenerasi sama cepatnya dengan serangan Claire.

"MUSTAHIL, MONSTER SEPERTI INI....!!!!"

Dari mulut monster tersebut, terlihat sinar yang sangat besar.

"DAMMIT, SEMUA, LARI!!!!!!!"

Dan menembakkan sinar laser tersebut menuju kami berempat

"TIDAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAK!!!!!!!"

*BYAAAAAAAAAAAAAAAAAAR!!!!!

Namun kami semua selamat, entah kenapa kami tidak terluka sama sekali.

"Nina?!?"

Elicia menggendong Nina yang pingsan, sepertinya tanpa sadar ia mengeluarkan sihir yang sangat kuat yang mampu melindungi kami semua.

"Cih...! Shining Blade Cut!!!!"

Ketiga tebasanku cukup melukai monster ini, namun sepertinya hampir percuma.

"PHOENIX, MINGGIR!!! THUNDER GOD STYLE!!!! LAYERED LIGHTNING PURGE!!!."

*BYAAAAAAAAR!!!!

Sebuah lobang besar terbentuk dari tubuh Monster tersebut, namun ia masih hidup, tak lama kemudian...

"FINAL BLADE SAVER, SHINING BLADE CUT, EXTEND!!!"

Kulepaskan tenaga tebasan jarak jauhku tiga kali, dan akhirnya mampu membelah monster tersebut, namun tetap percuma, karena terlihat tubuh monster itu sedikit - sedikit kembali menyatu, dan kami semua sudah kelelahan.

"SEMUA, SEMBUNYI DISINI!!!"

Elicia menunjuk kearah Gua yang cukup dalam tersebut, dan akhirnya Aku dan Claire mengikuti Elicia yang sedang menggendong Nina menuju gua tersebut.

Aku tidak tahu apa yang sedang kualami ini, namun lambat laun aku menyadari bahwa kemunculan monster - monster tersebut ada kaitannya dengan kehadiranku, begitu pula dengan ingatanku....

To be Continued...


The Greatness of Tentacle:
 


Requiem:
 


The Last:
 
2012-07-12, 08:26
PostRe: [StoryPlay] Eremidia : The Legends begin
TheoAllen 
♫ RMID Rebel ♫
♫ RMID Rebel ♫
avatar

Kosong
Posts : 4935
Thanked : 62
Awards:




Chapter 3 : Ingredients

Click for chapter 2
Click for related previous story

Play BGM => Morning Glory
Morning. 06:00 AM

Kuhirup udara segar pagi hari kota Eremidia. Udara disini lebih sejuk dari Ymorgia yang ada di Alumnea. Matahari masi tampak belum terlihat. Namun sinarnya sudah lumayan tersebar dilangit.

"Kita pergi ke hutan timur. Disana lumayan banyak terdapat bahan-bahan yang aku butuhkan" Kata Alexis smbil membawa ranjang kecil.

Aku hanya mengangguk sambil mengikutinya

Aku bersama Alexis berjalan menuju ke timur melewati jalan besar pemisah antara block utara dengan block timur. (see the map https://dl.dropbox.com/u/37321795/Eremap.png ). Sesekali kulihat orang berlalu lalang dengan membawa persenjataan perang. Ada yang membawa pedang besar, busur panah, tombak, dan aku tidak terlalu memperhatikan yang lainnya. Aku heran, apa yang mereka lakukan sebenarnya.

OOT: well, andy masi belum gitu ngerti soal hunter di Eremidia :lol:

"Selamat pagi nona Alexis"

"Hati-hati dijalan Nona Alexis"

Beberapa orang menyapa Alexis begitu akrabnya. Begitu pula Alexis membalasnya.

"Kau lumayan populer ya disini?" Kataku sambil melipat tangan dibelakang kepala.

"Begitulah." Jawab Alexis sambil tersenyum. "Ngomong-ngomong, Healer disini lumayan sedikit. Jadi aku pikir aku akan mendapatkan keuntungan besar kalau aku bekerja disini."

"Begitu ya" Balasku singkat

***

Singkat cerita, kami akhirnya keluar dari Eremidia melewati gerbang timur yang cukup tinggi. Perjalanan mencari bahan-bahan pun dimulai. Sesekali kami diserang oleh beberapa hewan atau monster kecil. Namun aku berhasil mengalahkannya. Alexis mengobatiku saat aku terkena beberapa luka. Scene ini persis saat aku berpetualang bersama Nella di masa lalu.

"Sihir penyembuhanmu boleh juga. Tidak kalah dari temanku" Kataku pada Alexis yang sedang menyinari lukaku dengan sihir penyembuhan.

"Terima kasih" Jawabnya singkat.

Kucabut belatiku yang tertancap di kepala serigala yang baru saja mati dan kubersihkan darahnya dengan daun-daun yang ada disekitarku.

"Jadi, apakah segitu masih kurang?" Tanyaku pada Alexis setelah kulihat ranjang Alexis yang tampak sudah penuh.

"mmm... sebenarnya aku masih ingin lebih jauh. Tapi kurasa segini untuk hari ini sudah cukup" Katanya sambil menghela nafas.

"Baiklah, kalo begitu. Segera kembali" sahutku.

Tak terasa ternyata kami sudah seharian mengumpulkan bahan-bahan. Matahari juga sudah tergelincir kearah barat. Namun di Eremidia aku tidak terlalu merasakan panas di siang hari.

Tak lama kemudian, kudengar sebuah ledakan dahsyat yang sumbernya tidak jauh dariku. Aku pun terlonjak kaget. Alexis berteriak dengan kerasnya. Untung aku tidak memliki serangan jantung. Dan aku sudah terbiasa dengan hal-hal kejutan semacam ini.

"Suara apa itu?" Alexis kebingungan dan sedikit ketakutan.

"Aku juga tidak tahu. Suaranya berasal dari sana" Kataku sambil menunjuk kearah tempat. "Tetap bersamaku"

Kami perlahan-lahan mendekati asal suara itu. Sesekali kami bergerak pelan-pelan dari balik pohon ke pohon. Akhirnya aku bisa melihat dengan jelas kejadian yang sesungguhnya.

"THUNDER GOD STYLE!!!!...LIGHTNING PURGE!!"

Play BGM => https://dl.dropbox.com/u/41797508/Musik_Jadi/JtS_BGM/JtS-Battle04.mid

Seorang wanita dengan sihirnya menghujani seekor monster besar. Sihir itu keluar dari ujung rapiernya dan terkena dengan telak ke tubuh monster itu. Monster itu hampir hancur lebur. Namun, tak lama kemudian, monster itu meregenerasi kembali tubuh2nya yang hancur dengan cepat.

"Monster apa itu?! :OMG: " Aku belum pernah bertemu dengan monster semacam ini.

"I... itu. Chrome Disaster! Monster level S. K... kita harus pergi dari sini secepatnya!!" Kata Alexis terbata-bata karena ketakutan.

"Aku setuju dengan usulmu" Jawabku spontan.

*BLAAARRR*

Sebelum sempat kami kabur, hempasan angin dahsyat beserta suara ledakan yang hebat terdengar kembali. Alexis kembali berteriak dengan kerasnya. Sedangkan aku mencoba melindungi mukaku dengan lengan sambil mencoba melihat apa yang terjadi.

Kulihat beberapa orang bertarung mati-matian bersama monster itu. Seorang laki-laki dengan pedangnya berkali-kali menggunakan jurus yang dahsyat. Namun lagi2 montser itu meregenasi tubuhnya dengan cepat. Dan beberapa yang lain mencoba untuk mencari tempat persembunyian.

Aku tidak terlalu peduli apa yang terjadi setelah itu. Aku bersama Alexis langsung pergi meninggalkan area itu dengan mencari jalan teraman menuju Eremidia.

*To be continued


Bosen ama signature. Hapus aja dah ....
PostRe: [StoryPlay] Eremidia : The Legends begin
Sponsored content 




 

[StoryPlay] Eremidia : The Legends begin

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Kembali Ke Atas 

Similar topics

+
Halaman 2 dari 5Pilih halaman : Previous  1, 2, 3, 4, 5  Next

Permissions in this forum:Anda tidak dapat menjawab topik
RPGMakerID :: Community Central :: Role Playing-