Mulai sekarang, forum RMID pindah ke situs ini. Posting sudah tidak bisa dilakukan lagi.
Mohon maaf atas ketidaknyamanannya dan mohon kerjasamanya.

Share | 
 

 [StoryPlay] Eremidia : The Fragments

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Go down 
Pilih halaman : 1, 2  Next
2012-11-06, 15:53
Post[StoryPlay] Eremidia : The Fragments
#1
shikami 
Member 1000 Konsep


Level 5
Posts : 3744
Thanked : 31
Engine : Multi-Engine User
Skill : Beginner
Type : Developer
Awards:


About Storyplay
Spoiler:
 
Tujuan
Spoiler:
 
Rules
Spoiler:
 

Background story
latar belakang cerita dibagi sesuai dengan setting. karena setiap cerita punya konflik
dasar berbeda.


world map Eremidia


1. Wesport's story
cerita berpusat di Westport city tentang kemunculan Occult of Shadowlord,sekte kegelapan dan usaha mereka untuk membangkitkan para iblis kuno. Order of Nirvanne adalah kelompok ksatria dari ajaran Holy yang berusaha menghentikan mereka.



2. Capital's story

cerita berpusat pada Capital of Eremidia tentang intrik-intrik dalam pemerintah Eremidia yang kini tengah dipegang oleh para dewan karena sang raja yang menghilang secara misterius.


3. Northreach's story
cerita berpusat di Northreach city tentang keberadaan Magic Well,sebuah sumur yang menghubungkan dengan sihir murni yang pernah eksis pada era skynesian. ada kelompok penyihir yang mencoba menjauhkan tempat itu dari keberadaan para penyihir jahat lainnya.

4. Faleon's Story
cerita berpusat pada Faleon Town tentang konflik dengan Eastern Forest yang ditinggali oleh para goblin,troll dan beastling. konflik semakin dalam ketika para merchant menyewa para mercenary untuk menghadapi mereka.

5. Algeus's Story
cerita berpusat di Southern Borderline Fort tentang aktivitas misterius yang terjadi di Gran Desert. kabarnya sebuah reruntuhan di tengah gurun mengeluarkan suara-suara mengerikan dan mendadak sering muncul monster-monster gurun yang tidak seharusnya eksis.

pilih salah satu fragment sebelum memulai storyplay..

Happy SP ~ !!



this is no signature


Terakhir diubah oleh shikami tanggal 2012-11-10, 07:26, total 1 kali diubah
2012-11-06, 19:26
PostRe: [StoryPlay] Eremidia : The Fragments
#2
Radical Dreamer 
Novice
Novice
avatar

Level 5
Posts : 152
Thanked : 1
Engine : RMVX Ace
Skill : Beginner
Type : Writer
Awards:

wah cukup menarik... :D
pertama~

The Blind Peony Part 1

Sore itu, seperti biasa aku sedang berlatih sendirian di halaman belakang markas Order of Nirvanne. Aku harus selalu berlatih setiap hari, karena ancaman dari 13 dapat datang kapan saja. Seperti tahun lalu, pasukan iblis yang dibangkitkan oleh 13 tiba-tiba saja muncul dan menyerang kota Westport. Kami, para ksatria Order of Nirvanne kewalahan menghadapi serangan malam yang tiba-tiba tersebut. Tetapi untung saja kami mempunyai jenderal Graham, sang “Singa buas” yang dapat di andalkan. Para iblis itu tumbang seperti batang padi ketika jenderal Graham mulai menebaskan pedang besarnya.

Latihanku sempat terhenti ketika tiba-tiba aku melihat seorang gadis dengan mata yang tertutup kain muncul dari balik pohon Oak. Tangan kanannya meraba-raba ruang kosong yang ada didepannya, sementara sebuah keranjang penuh tumbuhan obat tergantung di lengan kirinya. Perlahan gadis itu berjalan kearahku, ia berjalan dengan sangat pelan dan hati-hati. Sepertinya ia tidak ingin tersandung dan membuat tumbuhan obat yang dipungutnya jatuh berserakan ke lantai. Setelah jarak kami cukup dekat, akupun segera menegurnya.

“Ini adalah halaman belakang Order of Nirvanne Nona! Sepertinya kau salah tempat…!”

Gadis itu berpikir sejenak lalu membukukan badannya, “Oh! Maafkan aku tuan ksatria! Aku tidak tahu harus melangkah kemana…!” setelah itu ia kembali menegakan badannya, aku dapat melihat mimik ketakutan dari raut wajahnya.

“Apakah kau buta…?”

“I-iya…”

“Kau pergi ke hutan sendirian…?”

“A.. aku terbiasa memetik tumbuhan obat di hutan dengan anjingku, Popo. Tapi ia pergi begitu saja saat kami telah keluar dari hutan… aku tidak dapat pergi kemanapun tanpa Popo…” gadis itu mulai meneteskan air matanya.

“He..hei! jangan menangis…!” aku mencoba untuk menenangkannya, “baiklah, apa yang dapat kulakukan untukmu…?”

Gadis itu mulai menghapus air mata di pipinya dengan punggung tangannya yang kotor, “Aku.. aku hanya ingin pulang kerumah… nenek pasti sedang menungguku… ia sedang sakit. Ia harus segera meminum ramuan obat…”

Aku berpikir sejenak, mendengar ceritanya aku menjadi sedikit tersentuh, “baiklah, aku tidak dapat membiarkanmu pergi sendirian. Aku akan mengantarmu sampai kerumah…”

“Benarkah…?” sebuah senyum merekah di wajah gadis buta itu.

“Ternyata kau baik hati… Oh, ya.. namaku adalah Peony. Senang berkenalan denganmu tuan ksatria…” gadis itu kembali membukukan badannya.

“Ehm… ya.. namaku adalah Raze, Raze Blight…” entah mengapa aku menjadi agak gugup, mungkin karena aku memperkenalkan namaku kepada seorang gadis.

“Baiklah tuan ksatria, rumahku ada di sebelah barat diluar kota Westport. Dekat sebuah kincir air besar…” ucap Peony, sepertinya ia agak tenang sekarang.

“Oh ya, aku tempat itu…” aku pun segera melangkahkan kakiku menuju samping tubuh Peony.

Tanpa kusadari Peony segera membalikan badannya dan merangkulkan lengannya ke lenganku. Aku menjadi semakin gugup.

“Maaf, tapi… begini lebih mudah…” ucap Peony malu.

“Ehm.. ya.. tidak apa-apa sih…” dalam hati aku merasa aneh sekaligus senang, tidak pernah sebelumnya aku sedekat ini dengan seorang gadis.

***

Sepanjang perjalanan, aku dan Peony membicarakan banyak hal. Dari alasanku bergabung dengan Order of Nirvanne sampai tentang kehidupan Peony dengan neneknya. Ternyata Peony adalah seorang gadis yang agak cerewet namun sangat menyenangkan, ia pun sangat ramah dan hangat. Sikapnya berbeda jauh ketika ia pertama kali bertemu denganku. Saat itu ia gugup dan ketakutan. Mungkin saat itu ia mengira aku adalah seorang ksatria yang sombong dan menakutkan. Padahal kenyataannya aku hanyalah seorang ksatria muda yang tak dapat menahan diri jika ada seorang gadis yang membutuhkan bantuan.

Tanpa terasa kincir air besar sudah mulai terlihat. Entah mengapa aku sedikit kecewa. Aku tak dapat membohongi diriku, aku ingin lebih lama mengobrol dengannya! Aku tidak pernah bertemu dengan gadis yang hangat dan menyenangkan seperti Peony. Para gadis di Order of Nirvanne, tempatku tinggal betahun-tahun sangat dingin dan menakutkan. Mereka pun hanya berbicara seperlunya. Sangat berbanding terbalik dengan Peony, gadis manis yang ada disampingku kini.

“Kincir airnya sudah terlihat…” ucapku kepada Peony yang sepertinya sudah mulai letih berjalan.

“Benarkah…?!” tiba-tiba ia melepaskan rangkulannya. Sekali lagi aku merasa kecewa.

“Tunggu… aku dapat mendengarnya…” Peony mengangkat tangan ke telinganya, “itu adalah… suara Popo…!”

Dari kejauhan terlihat seekor anjing yang cukup besar berlari ke arah kami. Ia mengoyang-goyangkan ekornya dan berputar-putar disekitar Peony. Peony menurunkan tubuhnya dan mengelus kepala anjing tersebut.

“Popo… anjingku yang nakal…! Kemana saja kau pergi barusan…? Kau telah membuatku susah, kau tahu…!”

Popo menundukan badannya, seakan mengerti kata-kata Peony dan menyesali ulahnya meninggalkan Peony.

“Tidak apa-apa… aku tetap menyayangimu Popoku yang lucu…” Peony memeluk anjingnya.

Melihat itu, aku menjadi teringat bahwa aku harus segera kembali ke markas sebelum jenderal Graham mengetahui ketidakberadaanku. Meninggalkan markas tanpa izin adalah sebuah pelanggaran, dan aku tidak ingin si singa buas memarahiku habis-habisan.

“Ehm… karena kau telah menemukan anjingmu, sekarang aku tidak diperlukan lagi bukan…? aku akan pulang ke markas…”

Saat aku berbalik tiba-tiba saja Peony menarik bajuku dari belakang.

“Ikutlah kerumahku, akan kukenalkan kau dengan nenek…” pinta Peony.

“Aku ingin sekali, Tapi … aku harus segera kembali… maafkan aku…” ucapku dengan nada agak menyesal.

Peony melepaskan genggamannya, “begitu… baiklah aku mengerti…”

Aku menatap wajahnya sekilas lalu mulai melangkah pergi. Namun peony kembali mencegahku.

“Tapi---!”

Aku menghentikan langkahku dan perlahan kembali berbalik.

“Kau akan mengunjungiku bukan? Kita akan mengobrol lagi? Aku akan membuatkan teh yang enak jika kau mengunjungiku!” Peony berbicara dengan agak cepat.

Aku hanya dapat tersenyum, “Ya. Aku berjanji…”

Setelah melihat senyuman Peony untuk terakhir kalinya akupun bergegas kembali ke markas. Aku berniat untuk mengunjunginya kembali dalam waktu dekat, setelah meminta izin resmi tentunya. Hari ini adalah hari yang sangat istimewa untukku. Untuk pertama kalinya dalam kehidupanku sebagai seorang ksatria, aku telah jatuh cinta pada seorang gadis. Aku tidak sabar untuk bertemu dengannya lagi!

***

Malam itu aku tidak dapat berhenti memikirkan Peony. Aku terus membayangkan saat-saat ia merangkul lenganku, bercanda gurau, tersenyum… aku tidak dapat tidur karenanya! Memikirkan wajah Peony, aku jadi penasaran dengan mata dibalik kain penutupnya. Aku yakin Peony pasti memiliki mata yang indah. Aku akan meminta Peony untuk membuka penutup matanya jika kita bertemu besok! Aku menjadi semakin tidak sabar menunggu esok hari. Tanpa disadari aku tersenyum-senyum sendiri. Sementara Leon, teman sekamarku merasa aneh melihat kelakuanku.

BUKK!

Tiba-tiba saja sebuah bantal menimpa wajahku. Aku segera menyingkirkannya tanpa merubah ekspresi mukaku.

“Ada apa dengan wajah menjijikan itu…?” Tanya Leon dengan raut wajah jijik.

“Hehe…”

BUKK!

Sebuah bantal lagi menimpa wajahku.

“Hentikan itu…” kini aku sedikit kesal.

“Ada apa…?” Tanya Leon penasaran.

Aku memandang Leon sejenak, “Aku bertemu seorang gadis…”

Leon menaikan alis matanya, “Gadis…? Maksudmu para ksatria wanita…?”

“Bukan! Maksudku bukan gadis-gadis mengerikan itu…!” Sergahku, “Seorang gadis biasa, ia tinggal di barat kota Westport…”

“Hoo… apakah dia cantik…?” Tanya Leon, sepertinya dia mulai penasaran.

“Hmm… aku belum melihat seluruh wajahnya, tapi aku yakin dia cantik…” ucapku sambil membayangkan wajah Peony.

“Beruntung sekali… tapi tunggu, dimana kau bertemu dengannya? Bukankah kita tidak diizinkan keluar markas tanpa izin…? Tanya Leon yang sedikit iri kepadaku.

“Belakang halaman… saat aku berlatih sendirian didepan pintu gerbang… dia buta dan tersesat, lalu aku menolongnya…” ucapku seraya mengingat-ingat kejadian saat itu.

“Hoo.. siapa yang menduga kau bertemu dengan seorang gadis di halaman belakang? haha.. Perkenalkan kepadaku kapan-kapan…” ucap Leon dengan sedikit tawa.

“Tentu saja… oh ya, kau tahu, ia gadis yang sangat me-“

Tiba-tiba pintu kamar terbanting keras dan komandan masuk dengan perlengkapan tempur.

“Cepat bersiap…! Iblis muncul dari barat kota Westport…! Prajurit kerajaan tengah berusaha menahan mereka sampai kedatangan kita…!” teriak sang komandan, setelah itu ia pergi ke kamar sebelah.

Barat kota Wesport… itu adalah… oh tidak!

Aku segera bergegas turun dari ranjang dan mengenakan baju tempurku, begitupun Leon.

“barat kota Wesport…” Leon menatapku sambil memasang Gauntlet-nya.

“Ya! Peony tinggal disana…! Aku khawatir dengannya! Cepat kita pergi!” ucapku sambil tergesa-gesa mencari sepatu besiku.

Setelah kami memakai perlengkapan tempur lengkap, kami pun segera ikut berkumpul di halaman markas. Disana para ksatria Order of Nirvanne sudah berbaris dengan rapih. Didepan mereka berdiri tegak seorang ksatria berbaju emas yang tidak lain adalah Graham.

“Para ksatria suci…!! Malam ini para pemuja setan telah melepaskan iblis-iblis terkutuk mereka…!! Kita, sebagai sang pelindung cahaya… akan menumpas mereka satu-persatu…!! Tebas kepala mereka…!! Remukan badan mereka…!! Biarkan darah mereka mewarnai Armor kalian…!! Tidak ada ampun untuk mahluk kegelapan…!! WOOOOOOGGH!!!!” suara Graham menggaung memecah kesunyian malam.

Para ksatria ikut berteriak dengan semangat dan keberanian.

WOOOOOOGGH!!

Setelah itu kami segera pergi menuju barat kota Westport. Hati para ksatria dipenuhi oleh semangat dan keberanian berkat ucapan Graham. Namun tidak untukku, hatiku dipenuhi oleh rasa takut dan gelisah. Baru sehari aku bertemu dengan Peony, belum banyak kenangan indah yang kami lalui bersama. Aku tidak akan rela jika harus kehilanggannya sekarang.

Tunggu aku Peony… bertahanlah…

bersambung...


malasnya...
2012-11-07, 09:09
PostRe: [StoryPlay] Eremidia : The Fragments
#3
shikami 
Member 1000 Konsep


Level 5
Posts : 3744
Thanked : 31
Engine : Multi-Engine User
Skill : Beginner
Type : Developer
Awards:


Chapter I Behind Wall


Hari ke 21 bulan ke 4 tahun 2202 C.E,

Ini tulisan pertamaku sejak 3 tahun terakhir ini, kesibukan sebagai Languard cukup menyita banyak waktu dan tenaga. Keadaan istana tidak begitu menyenangkan akhir-akhir ini,para bangsawan sering mengadakan pertemuan di ruang rapat istana. Sering sekali terdengar perdebatan sengit diantara mereka. Semua ini dikarenakan satu hal, raja yang menghilang secara misterius.

3 bulan yang lalu, Raja kami,Dynas XIII pergi ke Altar para pahlawan,tempat dimana para pahlawan negeri ini bersemayam, untuk sekedar berziarah ke makam leluhurnya,raja Dynas III namun beliau tidak pernah kembali. Kudengar dari kesaksian temanku, yang mereka temukan disana adalah mayat-mayat yang bergelimpangan,tampaknya terjadi pertempuran kecil dengan pihak yang tidak diketahui namun untunglah, raja kami tidak ditemukan diantara sosok-sosok mayat tersebut namun bisa saja ia diculik. Tapi kami berharap yang mulia akan baik-baik saja.

Kabar hilangnya raja hanya terdengar oleh pihak dalam istana. para pelayan,pengawal dan pejabat sipil disumpah untuk tidak menyebarkan berita ini ke luar istana agar tidak terjadi kekacauan. Jika ada pihak luar (kerajaan lain) mendengar ini,bisa saja mereka menganggapnya sebuah kesempatan untuk menyerang negeri ini.

Untuk sementara, negeri ini diperintah oleh Ratu Prima yang dibantu oleh dewan penasehat. Namun suara sumbang mulai terdengar. Menurut kabar angin, ratu kami ini adalah sosok dibalik hilangnya raja kami yang tercinta. Pihak keluarga ratu dianggap sudah lama mengincar tahta kerajaan. Hal ini diperkuat dengan beberapa kerabat ratu yang diangkat menjadi anggota dewan penasehat. Tentu saja, itu hanyalah isu belaka..atau kupikir begitu, rasanya sangatlah tidak mungkin sang ratu punya ambisi seperti itu.

Ratu Prima adalah ratu yang santun,anggun dan halus budi pekertinya. Dia tak segan untuk membantu para pelayan menyiapkan hidangan istana dan juga membawakan makanan untuk para penjaga.

Meski aku tidak pernah bertemu beliau secara langsung,pembicaraanku dengan para pelayan menyiratkan bahwa beliau orang yang sepertinya tidak begitu mementingkan kekuasaan dan sangat membumi. Namun tidak dengan kerabat-kerabat beliau, seperti Lord Albert Forzand,kakak ratu prima yang terlihat penuh ambisi. Bagaimana tidak, Lord Albert sering sekali mengajukan usulan-usulan tentang pemerintahan kepada raja dan selalu mengklaim jika semua hal diserahkan padanya,segala urusan akan beres. Kudengar dari kawanku yang sering sekali mengawalnya mengatakan bahwa Lord Forzand kerap bertindak sewenang-wenang dan mengatas namakan raja atau ratu.

Aku tidak bisa mengatakan hal itu benar atau salah karena pada dasarnya beberapa tindakannya cukup beralasan seperti menghentikan pembangunan mansion Lord Tyson Willfrey yang kabarnya menelan banyak biaya yang berasal dari kas negara.
Ah lord Willfrey,dalam hati sebenarnya aku juga tidak menyukainya, bagaimana tidak? Sebagai menteri keuangan negara,ia kerap sekali memanipulasi data keuangan dan mengambil "sedikit" uang negara. Ini bukan rahasia lagi karena hampir semua penghuni istana tahu hal tersebut.

Raja kami tidak begitu mempermasalahkannya asal Lord Willfrey tidak melakukannya secara berlebihan,namun tidak adanya raja membuat posisinya jadi sulit. Kukira lord Forzand tidak akan tinggal diam melihat tingkah laku Lord Willfrey. Aku jadi teringat beberapa hari kemarin, aku melihat Lord Willfrey berbicara serius dengan Lord George Mclawyn,salah satu anggota dewan penasehat.

Samar-samar terdengar pembicaraan mereka..

"kau harus melakukan sesuatu,George atau kita akan habis!"
seru Lord Willfrey.
"aku tidak bodoh,Tyson. Aku hanya butuh waktu lebih lama untuk mempersiapkan.."
"Lord Forzand tidak akan tinggal diam jika ia tahu rencana kita.."
bisik Lord Mclawyn. Sesekali ia merapikan kumisnya yang lebat itu.
"baguslah.. Aku tidak mau lagi harus diawasi seperti ini,aku juga ingin bersenang-senang.. "
"kau ini hanya mementingkan dirimu sendiri,Tyson! Jika kau seperti ini terus.. Kami pun tidak sudi membantumu!"hardik Lord Mclawyn.
Lord Willfrey hanya menggumam tidak jelas lalu pergi dari sana.

Apakah berarti akan terjadi sesuatu di istana ? Sebenarnya bukan hakku untuk berkomentar, Languard sepertiku ini tidak punya peran apapun dalam politik istana. Kami hanyalah bidak catur yang dikorbankan bila terjadi sesuatu. Para languard adalah pihak yang hanya setia pada negara. Kami harus bersikap netral.

Tapi apakah kami harus diam saja jika terjadi sesuatu yang menyebabkan kekacauan negara? Lalu bagaimana kami harus bertindak? Ketidakberpihakan kami seringkali jadi dilema.

"Ralf,jangan terlalu serius dalam pekerjaan!"
Fabian,temanku sesama Languard memberiku saran itu ketika kami tengah minum-minum di kantin istana.
"tapi itu bukankah memang tugas kita ?"tanyaku.
"Ralf, dengar.. Languard seperti kita ini adalah pekerjaan yang tidak jauh bedanya dengan para penjaga atau pelayan istana. Hanya saja kita memperoleh seragam yang keren dan gaji yang lebih baik.."
"selama kita masih memperoleh semua itu, rasanya kita tidak perlu ikut memikirkan bagaimana kondisi istana apalagi situasi politik_ whatever! Intinya, lebih baik kita tidak perlu terlibat apapun dengan semua itu.."
Mungkin kata Fabian ada benarnya, bukankah Languard hanya "pekerjaan", kurasa bahkan para pejabat tidak menganggap keberadaan kami penting.

Ah,rasanya sudah cukup aku membicarakan tentang keadaan kerajaan ini. Aku hanya bisa berdoa kepada sang maha suci untuk terus melindungi negeri ini dari segala marabahaya.


this is no signature
2012-11-07, 11:12
PostRe: [StoryPlay] Eremidia : The Fragments
#4
McPherson 
Senior
Senior
avatar

Level 5
Posts : 777
Thanked : 7
Engine : Multi-Engine User
Skill : Intermediate
Type : Mapper
Awards:

*Post telah dipindahkan ke trid [Story Play] Eremidia : The Legends begin

Sorry ya.. :sembah:


Supporter of :



Terakhir diubah oleh McPherson tanggal 2012-11-07, 16:07, total 1 kali diubah (Reason for editing : Salah..)
2012-11-07, 11:51
PostRe: [StoryPlay] Eremidia : The Fragments
#5
hyperkudit 
Pahlawan Super
avatar

Level 5
Posts : 2288
Thanked : 30
Engine : RMXP
Skill : Very Beginner
Type : Artist
Awards:

Chapter I : Demon in Cage

Howl & Meidy:
 
*Tik.. tik.. tik...

Mataku bergerak naik dan turun mengikuti air yang terjatuh karena gaya gravitasi.

*Tik.. tik.. tik...

Beberapa kali aku menguap, menyedihkan memang jika secara rutin melakukan hal membosankan seperti ini, tapi ini kuanggap sebagai hiburan di penjara yang telah mengurungku selama beberapa ratus tahun belakangan. Aku sendiri sudah lupa kenapa Saint Maiden itu menyegelku, membuatku terkurung di sangkar ini.

Bukannya tidak bisa kabur dari tempat sampah ini, aku bisa saja melakukannya karena sepertinya segel Saint Maiden sudah mulai memudar setelah sekian lama membelenguku. Aku hanya tidak memiliki tujuan ataupun alasan kenapa aku harus keluar dan kembali ke dunia atas.

Mengikat kontrak dan mengambil jiwa manusia?

Meh...

Masa-masa seperti itu sudah tidak mengasyikan lagi bagiku, aku butuh permainan baru, "Bukan begitu, Tuan Winkle?" tanyaku pada satu-satunya teman yang kumiliki. Sedikit aneh memang melihat bagaimana sosok berbadan kekar sepertiku berbicara dengan sebuah boneka, mungkin jika ada manusia yang melihat kelakuanku,
mereka akan menganggap aku hanyalah pria paruh baya yang gila. Perlu kuingatkan, aku masih waras, hanya saja memiliki pola pikir yang abstrak.

Aku berjalan kearah Tuan Winkle, berjongkok dan membetulkan posisi topi hijau di kepalanya. Boneka beruang itu sebenarnya cukup lucu untuk dimiliki seorang gadis, tapi dengan wujud pria berjambang seperti ini? Kurasa itu hanya akan membuat Tuan Winkle sebagai umpan untuk menarik gadis-gadis kecil kepadaku.
Tapi aku memang suka anak-anak manusia, terutama yang betina. Jangan salah paham, aku menyukai mereka bukan untuk memuaskan nafsu birahiku, tetapi nafsuku yang lain. Gadis-gadis muda memiliki daging yang lembut yang manis, jadi aku suka mereka.

Kejam? Apa yang kau harapkan? aku adalah monster, terlebih aku adalah salah satu raja bumi, dan gelar rajaku adalah Prince of Darkness. Jangan tanyakan soal nama padaku, karena aku sendiri tidak tahu harus memanggil diriku sendiri dengan sebutan apa. Biasanya aku dipanggil Behemoth, secara resmi sepertinya. Tapi di utara aku disebut Father of Monsters, di timur aku dipanggil Soul Catcher, sedangkan orang-orang South Border menyebutku dengan nama Howling Demon.
Tidak keren memang bagaimana manusia menjuluki ku dengan nama-nama buruk ciptaan mereka, sebutan yang tercipta berdasarkan ketakutan mereka akan kegelapan, ketakutan akan diriku.

Aku masih bisa mengingat bagaimana rasanya menjadi dewa, dipuja dan disembah layaknya gelarku sebagai Raja Bumi, seorang pangeran kegelapan. Aku masih ingat bagaimana manusia dengan sukarela memberikan anak-anak betina mereka kepadaku sebagai persembahan. Itu kusebut era bermalas-malasan dan bahagia, karena saat itu kerjaku aku hanya bermalas-malasan dan gadis-gadis yang kumakan mati dalam bahagia.
Baiklah.., aku mengaku, sebagian besar dari mereka menjerit ketakutan, tapi setidaknya orang-orang yang mengorbankannya bahagia.

Aku merebahkan tubuhku disamping Tuan Winkle, melihat kearah langit-langit yang kusam dan penuh sarang laba-laba. Sudah 500 tahun lebih lamanya berada dalam sangkar ini, entah sekarang tahun berapa, atau hari apa. Entah sekarang siang atau malam aku tidak peduli, karena di tempat ini siang dan malam tampak sama saja.

Sejak Saint Maiden wafat memang tidak ada lagi yang pernah menemuiku. Walau seingatku, semenjak dikurung di tempat ini, hanya Saint Maiden yang rutin menemuiku. Entah gadis itu orang jahat atau baik, aku tidak tahu. Dia menyegelku dan mengurungku di tempat ini, tapi setelah itu dia begitu baik padaku. Mengantarkan makanan setiap hari, dan terkadang menjadi teman bicaraku. Aku tidak bisa menerka isi otaknya, kurasa itu yang terjadi jika manusia semuda itu mendapatkan tanggung jawab yang kelewat besar.

Aku masih mengingat kata-katanya, saat terakhir kali aku melihatnya. Bahwa dia sedang membangun sebuah tempat khusus yang bertujuan untuk menahanku agar tidak kabur dan berulah, lagi. Tapi siapa peduli? Aku adalah keturunan raja-raja, derajatku jauh diatas manusia, tak ada penjara manusia yang bisa menahanku. Aku bisa saja pergi darisini, aku hanya tidak menemukan alasan kenapa harus keluar dan harus kembali repot dengan dunia atas. Memenuhi ambisi-ambisi aneh manusia dan hanya dibayar dengan satu jiwa tak berharga.
Disini... aku bisa hidup dengan santai.


Terakhir diubah oleh superkudit tanggal 2012-11-09, 11:58, total 4 kali diubah
2012-11-07, 13:18
PostRe: [StoryPlay] Eremidia : The Fragments
#6
NachtEinhorn 
Robot Gedek Galak
avatar

Level 5
Posts : 1274
Thanked : 9
Engine : Multi-Engine User
Skill : Beginner
Type : Developer

Phase 01 - Re:Turn

17 tahun yang lalu...

Hujan turun dengan derasnya di Eastern Forest. Seorang pengumpul kayu berlari dari dalam hutan, berharap agar dapat segera meninggalkan Hutan dan beristirahat di dalam kabinnya yang hangat.

Saat ia keluar dari hutan, terbelalaklah matanya; Ia mendapati sebuah kereta kuda, ringsek, dengan kudanya sendiri tinggal separuh, bagian belakang tubuh hewan itu seperti terpotong sesuatu. terdapat pula sisa sisa manusia, ada yang tanpa kepala, ada yang tubuhnya terhujam tombak tombak tajam, ada yang isi perutnya keluar...

"Ini pasti ulah Goblin Hutan..." gumam pengumpul kayu itu.

Penasaran, pengumpul kayu itu mendekati Kereta kuda ringsek itu. Samar samar terdengar suara tangisan dari dalam kereta, suara tangisan bayi. Orang tua itu membuka pintu kereta, dan benar saja, dibalik tumpukan mayat manusia yang mati mengenaskan itu, terdapat bayi perempuan yang masih sehat, namun bermandikan darah, menggigil.

Kaget dan kasihan, orang tua itu menggendong bayi itu. Di leher bayi tersebut terdapat liontin perak, dengan suatu lambang terukir diatasnya, menandakan ia adalah anak orang berpunya. Setelah bayi itu digendong, tangisannya berhenti, dan ia terlelap tidur.

"Kasihan sekali nasibmu, nak... menjadi satu satunya yang selamat dari serbuan goblin liar. Baiklah, aku akan merawatmu. Dari saat ini akan kurawat dirimu seperti merawat cucu sendiri, meski aku tidak punya anak"

Orang tua itu lantas berlari sambil menggendong bayi tersebut, cepat cepat sebelum Goblin Goblin sialan itu kembali. Setelah masuk ke dalam kabin tuanya, segera ia memanaskan air, memandikan bayi yang masih menggigil karena cuaca dingin diluar.

"Aku akan memanggilmu Aurelia, cucuku"

==============================================================================

15 Tahun berselang, Aurelia tumbuh menjadi gadis yang cantik, energentik, dan tomboy. Ia sering membantu orang tua itu, yang ia panggil "Kakek", mencari kayu di hutan, berburu, dan menjual kayu sekaligus hasil buruan mereka ke Kota terdekat.

Hingga akhirnya, maut datang menjemput "Kakek". Kesedihan yang teramat sangat melanda Aurelia. Sebelum menghembusakn nafas terakhir, sang "Kakek" memberikan liontin yang ia temukan bersama Aurelia 17 Tahun lalu, sekaligus memintanya untuk ke Kota, mencari orang tua aslinya.

==============================================================================

Setelah Kakek tua itu dimakamkan, Aurelia membereskan barang barangnya, menyiapkan keperluannya untuk perjalanan ke kota...


"Imagine Iron Man, kill Tony Stark, and replace him with Dinosaurs. That's why Tachikazes are awesome"




Terakhir diubah oleh NachtEinhorn tanggal 2012-11-09, 08:15, total 1 kali diubah
2012-11-07, 14:33
PostRe: [StoryPlay] Eremidia : The Fragments
#7
shikami 
Member 1000 Konsep


Level 5
Posts : 3744
Thanked : 31
Engine : Multi-Engine User
Skill : Beginner
Type : Developer
Awards:


Hari ke 24 bulan ke 4 tahun 2202 C.E,

Hari ini komandan tertinggi Languard,General Sir Durandal Hawk memanggilku secara khusus.
Aku sendiri heran, ada perlu apa seorang Sir Hawk dengan penjaga rendahan sepertiku.
Saat aku tiba di ruangannya yang besar itu, kulihat beliau tengah berdiri melihat ke arah jendela.
Tidak ada pembicaraan apa-apa selama 5 menit.

Aku pun mengedarkan pandangan ke berbagai sudut ruangan. Tidak setiap hari seorang Languard sepertiku dipanggil ke tempat ini. Aku menikmati setiap detail ruangan, Lukisan-lukisan dan berbagai karya seni lainnya.

"prajurit, perkenalkan dirimu!"
kata Sir Hawk tiba-tiba.
"baik, nama Ralf Clovening,Languard tingkat II dari kesatuan Firelynx"
Sir hawk hanya mengangguk-angguk. Dia pun berjalan ke arahku.
"prajurit Ralf,hmm maaf bila aku memanggilmu begitu.."
"aku ingin tahu kepada siapa loyalitasmu itu? Pihak ratu? Pihak bangsawan?"
"kepada negara,pak!"
"jadi apa kau rela berkorban demi negara?"
"benar,pak!"
"bahkan dengan nyawamu?"
"benar,pak!"
"bahkan dengan harus membunuh..?"
"ya..pak!"


Sir Hawk hanya tersenyum. Aku tidak bisa menebak apa yang ia pikirkan atau apa yang inginkan.
"prajurit ralf,aku ingin kau datang malam nanti ke tempat ini." ia menyodorkan sebuah catatan.
Tertulis alamat sebuah bar di kota.
"dan prajurit Ralf,ini kesempatanmu untuk berguna bagi negara "lanjutnya. "kembalilah ke postmu.."

Selama seharian,aku terus berpikir keras. Sebenarnya apa maksudnya aku dipanggil untuk suatu hal yang tidak jelas seperti itu? Apalagi perintah untuk tidak membicarakan hal itu dengan orang lain?
Dan kenapa harus datang di sebuah bar tak jelas dalam ibukota?

Masalah ini terlalu memusingkan untuk kupikirkan. Maka kubiarkan hari berlalu dengan sendirinya. Setelah malam tiba,aku pun mengganti pakaian Languardku dengan baju kasual. Tak lupa membawa sebilah short sword untuk berjaga-jaga. Bagaimanapun juga,short sword adalah peralatan standar yang wajib dibawa setiap Languard baik sedang bertugas ataupun tidak.

Dengan alasan menemui teman, aku berhasil memperoleh ijin untuk pergi ke kota selama 2 jam.
Aku pun langsung menuju ke bar tersebut, The Blue phyton.
Tempat itu cukup ramai sehingga aku pun kesulitan untuk berbicara dengan bartender.
Tiba-tiba seorang gadis menarikku.
"kau orang dari istana bukan?"aku pun mengangguk.
"teman-temanmu sudah menunggu.."

Gadis itu lalu menarikku ke ruangan lain. Ia mendorong sebuah kotak besar dan ternyata ada pintu tersembunyi dibawah. Ia pun membukakan pintu itu dan terlihat sebuah tangga.
"pergilah ke ujung, mereka ada disana.." ia lalu memberikan sebuah lentera karena di dalam memang nyaris tidak terlihat apa-apa.

Tak lama aku pun sudah berada di bawah. Meski sebenarnya aku masih tidak mengerti apa yang terjadi,aku putuskan untuk mengikuti keadaan. Akhirnya aku tiba di ujung ruangan tersebut.

"ah,selamat datang kawan!"
sapa seseorang. Kulihat terdapat 7 orang disana. Tidak ada satu pun yang aku kenal dari wajah-wajah mereka.
"baiklah, kalian semua sudah berkumpul, aku akan memperkenalkan diriku, namaku Alexus Brahm. Kalian mungkin tidak mengenalku karena aku memang bukan siapa-siapa. Tapi kalian..
Kalian adalah orang-orang yang akan merubah sejarah negeri ini, negeri ini berada dalam kekacauan kecuali kita mencegahnya.."


Alexus bicara dengan nada penuh semangat. Ia lalu menjelaskan bahwa kami ini adalah orang-orang yang terpilih untuk masuk dalam pasukan khusus"Blackwings".
Tujuan blackwings adalah untuk melenyapkan gangguan-gangguan yang ada baik luar atau dalam negeri. Dengan kata lain kami adalah kelompok Assassin.
Pertemuan rahasia? Ruangan gelap ? Assassin ?
Seharusnya aku bisa menebak hal itu..

"jika kalian ingin melanjutkan hidup kalian yang sekarang, aku akan memberikan sekantong uang emas ini dan menyuruh kalian pergi sejauh mungkin. Jika kalian memutuskan untuk membantu negeri ini, ambil pisau ini dan teteskan darah kalian pada cawan ini.."

Ternyata orang-orang dalam ruangan tersebut tak ragu untuk meneteskan darah mereka pada cawan itu. Aku sedikit bimbang namun kuputuskan untuk ikut serta dengan rencana tersebut. Entah keputusan yang salah atau benar, biar takdir yang akan menjawab kelak.

"bagus, rupanya Sir Durandal Hawk tidak salah memilih kalian. Aku ucapkan selamat bergabung.. "
Kata Alexus Brahm sambil menyeringai.

Semua sudah terjadi, aku menuliskan semua ini dalam jurnalku agar berharap suatu saat tidak menyesalinya.


Eremidia Castle,24 - 4 -2202 C.E



@Mcpherson ~ rank dari C sampai S :v
btw kok langsung chapter 3 :o 1 - 2 nya mana ? btw setting cerita punya konflik utama masing2 lho :v


this is no signature
2012-11-07, 15:11
PostRe: [StoryPlay] Eremidia : The Fragments
#8
Radical Dreamer 
Novice
Novice
avatar

Level 5
Posts : 152
Thanked : 1
Engine : RMVX Ace
Skill : Beginner
Type : Writer
Awards:

The Blind Peony part 2

Jeritan kematian meraung ke langit malam ketika kami tiba di barat kota Westport. Pemandangan yang ada dihadapan kami sungguh sangat mengerikan, sebagian besar bangunan kota telah terbakar oleh api. Tembok barat hancur oleh para iblis yang mengamuk didalam kota. Terlihat penduduk kota Westport lari ketakutan menyelamatkan diri mereka masing-masing melalui gerbang utara. Sementara para prajurit kerajaan terlihat tengah berjuang melawan iblis-iblis yang telah memporak-porandakan kota mereka.

Dengan sebuah komando dari Graham, kami pun menghentakan kuda kami dan melesat maju menuju kota Wesport. Banyak mayat iblis dan prajurit kerajaan yang bertebaran di sepanjang jalan.

Para ksatria Order of Nirvanne masuk ke dalam kota Westport melalui tembok barat yang telah runtuh. Sementara aku berbelok dan memacu kencang kudaku menuju rumah Peony yang berada didekat kincir air. Aku menoleh kebelakang dan melihat Leon tengah mengikutiku. Ia menarik pedang dari pinggangnya dan akupun melakukan hal yang sama. Leon adalah sahabat terbaikku, kami selalu bertempur bersama dan saling menjaga.

Kami tiba di kincir air, bangunan besar itu telah rusak parah. Aku menjadi semakin khawatir, aku melihat sekeliling dan menemukan sebuah rumah kecil yang bobrok. Akupun segera turun dari kuda dan berlari menuju rumah terebut. Leon mengikuti setiap langkahku dari belakang.

Aku membuka pintu rumah itu, melangkah kedalam dan meneriakan nama Peony. Namun tidak ada jawaban, sampai Leon memintaku untuk diam. Dia berjalan pelan menuju sebuah ranjang dan memeriksa bagian bawahnya. Ia menemukan Popo yang sedang ketakutan, anjing itu merebahkan badannya dan menutup kedua mata dengan telinganya. Aku segera meraih Popo dan memeluknya.

“Popo! Dimana Peony?!” Leon mulai terlihat bingung ketika aku bertanya pada seekor anjing.

Popo terdiam sejenak, ia turun dari pangkuanku dan mulai mengendus-endus bau sekitar. Tak lama ia menegakan kepalanya dan segera berlari keluar.

“Hoo… anjing pintar.” Ucap leon. Kami berdua pun segera mengikuti Popo.

***

Kami mengikuti Popo sampai masuk kedalam hutan. Terdengar suara petir dan raungan iblis tak jauh dari tempat kami berada. Kami dapat menduga seorang penyihir tengah melawan iblis. Dan dugaan kami pun benar, terlihat seorang nenek penyihir tua sedang berusaha melawan seekor Orc raksasa. Tanpa pikir panjang kamipun segera membantunya.

“Kau butuh bantuan nenek…?” ucapku tanpa mengalihkan pandangan dari Orc. Aku kaget ketika melihat nenek itu mempunyai tiga buah mata. Satu mata tertutup didahinya yang keriput.

“Jangan berbasa-basi dan segera habisi Iblis sialan itu…! mereka telah menculik cucu kesayanganku…!” Perintah nenek itu.

Tanpa memberikan kesempatanku untuk berpikir, Orc itu segera melayangkan pemukul besarnya ke arahku. Namun aku segera menahannya dengan sebuah perisai besi.

Melihat kesempatan Leon segera berlari dan menebas kaki Orc raksasa itu. Orc itu kesakitan dan jatuh ketanah. Tanpa pikir panjang aku segera melangkahkan kakiku dan menebas kepala Orc itu. Darahnya memuncrat ke armor yang kukenakan.

“Orc ini sudah lemah… kerja bagus nenek…” Ucap Leon sambil menyarungkan pedang dan menginjak tubuh Orc yang telah mati.

“Siapa kalian…?!” sang nenek penyihir memandang tajam ke arah kami dan mengarahkan tongkat sihirnya.

“H-hei.. kami sudah membantumu… kami bukan musuh…” Leon berusaha menenangkan sang nenek. Ia memandang wajah nenek itu dan menyadari sesuatu, “Whooa…! Kau punya tiga mata…?!”

Nenek itu mendengus kesal dan menurunkan tongkat sihirnya, “Baiklah… bocah, aku tidak akan menganggap kalian sebagai musuh… tapi ingat, sedikit saja gerakan mencurigakan maka aku akan membakar kalian dengan api sihirku…! Aku tidak pernah percaya dengan ksatria order of Nirvanne…!”

Keluar keringat dingin dari pelipis Leon, sementara aku mendekati nenek tersebut untuk bertanya sesuatu.

“Cucu kesayanganmu yang kau maksud… apakah ia adalah Peony…?” aku berusaha menebak.

Nenek itu terlihat sedikit terkejut, “Ya… bagaimana kau bisa tahu…? Ah, tunggu… kau pasti adalah Raze… ksatria yang dibicarakan oleh cucuku tadi sore…”

“Ya, namaku adalah Raze Blight…” aku sedikit membungkukan badanku.

“Namaku adalah Abella… terima kasih karena kau telah mengantarkan cucuku pulang dengan selamat…”

“Dimana Peony sekarang…?” tanpa basa-basi aku segera bertanya.

Abella mengarahkan wajahnya ke area hutan yang sangat lebat, “Mereka membawanya… jauh kedalam hutan sana…”

“Ke dalam sana…? Itu.. itu adalah arah kuil kuno Chronos…! tempat para Occult of Shadowlord melakukan ritual, tempat yang sangat berbahaya…!” Leon terlihat agak gelisah.

“Aku akan pergi kesana untuk menyelamatkan cucuku…” Ucap Abella tanpa menghiraukan peringatan Leon.

“Jangan nekad nek…! Kau dapat mati terbunuh sebelum dapat sampai ke tempat terkutuk itu…! jalan menuju kesana seperti labirin dan dipenuhi oleh iblis…!” Seru leon dengan mimik serius.

Abella kembali memandang tajam mata Leon, “Jika kalian tak dapat membantuku, maka pergilah…! Sejak awal aku tak membutuhkan bantuan kalian…!”

Kami berdua terdiam.

Melihat itu Abella mengeluarkan sebuah batu bersinar dari kantong jubahnya.

“I-itu adalah…” Leon terkesima melihat batu tersebut.

“Philosopher’s stone…” ucapku tanpa mengedipkan mata.

“Ya… aku akan menggunakan batu ini disaat terdesak… bersyukurlah aku telah memperlihatkan mahakaryaku ini kepada kalian…!” Abella kembali memasukan Philospoher’s Stone ke dalam kantong jubahnya. Dia hanya bermaksud untuk menyombongkannya.

“Sigh, kalian hanya membuang waktuku…, selamat tinggal bocah…!” Abella segera berlari ke dalam hutan dan menghilang. Aku berusaha mengikuti Abella namun Leon dengan sigap mencegahku.

“Aku juga harus menyelamatkan Peony…!” ucapku sambil berusaha melepaskan genggaman Leon.

“Jangan bodoh Raze…! Banyak iblis kuat disekitar tempat itu…! lebih baik kita segera kembali ke kota…!!” Leon semakin menguatkan genggamannya.

Aku terdiam sejenak. Leon benar. Pergi tanpa persiapan ketempat itu hanya akan mengantarkan nyawa. Kami harus kembali dan membantu teman-teman kami di kota. Tapi hatiku terus bergejolak, aku tak dapat tinggal diam, aku harus segera menyelamatkan Peony! Para pemuja setan itu dapat melakukan sesuatu yang mengerikan kepada Peony. Akupun berpikir keras, apakah menyusul Abella dan segera menyelamatkan peony. Atau kembali lalu menyusun rencana.

Setelah agak lama, lamunanku dibuyarkan oleh suara pekikan kuda. Dari arah kota Wesport muncul seorang ksatria wanita yang sedang menunggangi kuda. Sosoknya sudah sangat tidak asing lagi bagi kami, dia adalah kapten divisi dua, Irene.

“Disini rupanya…! Cepat ikut aku…! Graham mencari kalian…!” perintah Irene tegas.

Aku dan Leon hanya dapat memandang satu sama lain. ini gawat, benar-benar gawat.

***

Di tengah kota terbaring seekor Baphomet raksasa yang telah mati. Graham duduk diatasnya sembari menikmati anggur lokal buatan kota Wesport. Dengan perlahan kami mendekatinya. Mata garang Graham segera menyoroti kami. Aku benar-benar tak berani membalas pandangannya.

“PENGECUT…!! Lari sebelum bertempur…!! Ksatria macam apa kalian…?!!” Suara keras Graham benar-benar membuat nyaliku ciut.

Aku melangkah dan mencoba untuk menjelaskan, “Kami tidak lari, aku mempunyai seorang kenalan di luar kota Wesport… dan aku pergi untuk memeriksa keadaannya, Leon menemaniku.”

Graham melemparkan botol anggurnya, “BODOH…!! Kalian mementingkan kepentingan pribadi…!! Tahukah kalian berapa banyak teman kalian yang gugur malam ini…?!! mereka gugur melaksanakan tugas mereka untuk melindungi kota…!! Dimana kalian berdua saat teman-teman kalian berjuang HAH…?!!”

“Maafkan aku… tapi… kenalanku diculik para pemuja setan, kami sempat ragu apakah menyusulnya atau kembali…” ucapku sambil tertunduk.

Irene tiba-tiba menyela pembicaraan kami, “Diculik…? Mengapa…?”

Aku mengalihkan pandanganku pada Irene, “Aku tidak tahu… aku belum cukup lama mengenalnya… yang jelas sekarang neneknya sedang berusaha untuk menyelamatkan Peony…”

“Neneknya seorang penyihir aneh dengan tiga buah mata…!” Leon menambahkan.

Graham terlihat sangat kaget, “Tiga buah mata…?! Jangan-jangan yang kau maksudkan adalah Abella…?!”

Sekarang giliranku yang kaget, “Iya…! Namanya adalah Abella, Apakah anda mengenalnya…?”

Graham terlihat berpikir keras, tidak pernah kulihat wajahnya setegang ini, “Tak kusangka ia masih hidup…”

“Ada apa…? Siapa Abella…?” tanya Irene penasaran.

Graham dengan enggan mula bercerita, “Ratusan tahun yang lalu Abella pernah menjadi pemimpin Occult of Shadowlord… suatu hari dia berhasil membangkitkan seekor iblis kuno yang sangat kuat…”

“Iblis kuno…?! tidak mungkin…! apa yang terjadi dengan iblis itu…?!” Tanya Irene antusias.

“Aku tidak tahu… iblis itu lenyap begitu saja… bersamaan dengan Abella…” sesaat pandangan Graham menjadi kosong.

“Aku menduga… hanya menduga… gadis yang mereka culik adalah iblis yang pernah dibangkitkan Abella…” Lanjut Graham.

“Peony bukan iblis…!!” Sergahku. Ini adalah pertama kalinya aku membentak Graham.

“DIAM…!!” teriak Graham. Masih berusaha untuk berpikir.

“Jika itu benar, maka kita harus segera mencegahnya… mereka akan membangunkan sang iblis kuno…!” ucap Irene.

“Ya… kau benar…”

“Segera siapkan prajurit yang tersisa…!! Minta bantuan pasukan pada pihak kerajaan…!! Kita akan menyerang kuil Chronos malam ini juga…!!” Perintah Graham kepada Irene.

“Siap…!!” setelah itu Irene segera pergi melaksanakan perintah Graham.

Leon tersenyum kepadaku, “Tenanglah kawan, Peony akan segera kita selamatkan…!”

Aku membalas senyumannya dengan tatapan tajam, “Tidak… mereka akan membunuhnya…, Graham dan para ksatria suci akan membunuh Peony…!! Mereka tidak akan membiarkan Peony hidup Leon…!!”

Leon bergumam kecil, “Benar juga, jika Peony adalah iblis kuno, maka mereka akan langsung membunuhnya…”

Aku segera menarik lengan Leon, “Ikut aku, aku mempunyai rencana untuk mencegahnya…!”

Bersambung…


malasnya...
2012-11-08, 10:04
PostRe: [StoryPlay] Eremidia : The Fragments
#9
hyperkudit 
Pahlawan Super
avatar

Level 5
Posts : 2288
Thanked : 30
Engine : RMXP
Skill : Very Beginner
Type : Artist
Awards:

Chapter 2 : Nightmare Awakening

Suara langkah kaki diatas genangan air memecah kesunyian yang mengisi gendang telingaku, suaranya semakin dekat dan terus mendekat, tapi aku terlalu malas untuk berbalik dan menoleh kearah sumber suara.

Aku masih berbaring menyamping, menghadap ke tembok dan menyangga kepalaku dengan tangan kiriku. Sedikit terkejut memang karena setelah sekian lama, kini ada orang yang berani mendatangiku, kurasa dunia atas belum sepenuhnya melupakanku.

“Apakah anda sang pangeran kegelapan?”

Suara yang cukup berat terdengar dari arah belakangku, suara manusia jantan, sepertinya kelelahan atau sesuatu membuat adrenalinnya berpacu begitu cepat. Aku bisa merasakan dari suaranya yang bergetar.

“Pergilah, aku sudah tidak melakukan pekerjaan itu lagi!” usirku, aku selalu bisa menerka apa yang diinginkan manusia dariku. Mahluk dengan nafsu yang tak pernah terpuaskan, selalu dikuasai oleh keegoisan dan keserakahan mereka.

“Dengan segala hormat, Yang Mulia, kami disini untuk membebaskan anda,” terang suara yang terdengar berbeda, membuatku mulai tertarik dan membalikan tubuhku.

“Untuk apa? Aku hidup senang disini,” balasku, “Berikan aku alasan kenapa aku harus repot-repot kembali ke dunia atas!”

“Apa kau yakin dia adalah sang pangeran kegelapan? Dia hanya seperti gelandangan menyedihkan!” bisik pria pertama, seolah aku tidak dapat mendengar kata-katanya.
“Jaga bicaramu, menurut legenda, salah satu raja bumi telah tersegel dibawah markas Order of Nirvanne! Jadi ini tidak salah lagi,” balas pria satunya khawatir.

Order of Nirvanne huh? Aku sedikit terkejut setelah mendengar itu, kalau tidak salah nama belakang dari si Saint Maiden adalah Nirvane. Jadi ini adalah warisannya? Sebuah organisasi, sepertinya, yang bertujuan untuk menjagaku. Sepertinya aku harus merasa tersanjung dengan semua ini. Perempuan itu benar-benar serius dan bekerja keras untuk menanganiku.

“Jadi… sudah menemukan jawaban bagus?” aku duduk bersila, menggoyang-goyangkan badanku ke depan dan belakang, sedikit antusias dengan jawaban mereka.

“Err.., kami membutuhkan anda, Yang Mulia,” jawab pria yang terlihat yakin denganku, “Kami telah berhasil melepaskan para Imp, namun kami membutuhkan kekuatan para Raja Bumi.”

“Boooosaaaaan…!” cibirku, “Pergilah, temui saja Salamander atau yang lainnya!”

“Tapi.., menurut legenda anda adalah yang terkuat, bahkan para Raja Bumi lain takut kepada anda!” desaknya.

“Cium saja bokongku!”

Kusodorkan pantatku kepada orang-orang itu, memberikan hinaan paling rendah yang bisa kuberikan saat ini. Jujur saja, aku sudah jenuh dengan permintaan-permintaan klise para manusia. Kekuasaan, kekayaan, ambisinya untuk menghancurkan dan memiliki apapun yang dikehendaki, baik itu dunia, wanita, harta.., betapa menyedihkannya. Mereka bahkan melupakan apa bayaran mereka jika melakukan kontrak kepadaku, sang iblis yang melahap jiwa tentu saja aku akan mengambil jiwa mereka. Mati mengenaskan tepat setelah mereka mendapatkan apa yang diinginkan, tanpa bisa kembali bereinkarnasi, terus tersiksa dalam derita yang sama, berulang-ulang dan tanpa akhir. Tersiksa dan menjerit dalam api hitamku.

“Tapi! Yang Mulia..”

“Ini,” potongku sambil mendudukan Tuan Winkle di depan jeruji besi, tepat di depan mereka, “Bicaralah dengan Tuan Winkle, dia adalah asisten pribadiku!”

“Sudah kukatakan, dia bukan raja iblis, dia hanya orang gila!” seruan pria yang memang meragukanku dari awal menggema, memenuhi lorong becek dan gelap itu. Pria satunya tampak sangat panik dengan kata-kata rekannya, mungkin takut aku menjadi marah dan membunuh mereka, tapi itu tidak akan terjadi, energiku terlalu berharga jika harus dibuang untuk membunuh manusia, apa lagi hanya dua orang.

“Menyusup kedalam markas Order of Nirvanne itu ide buruk!” seru pria pertama, “legenda itu hanya sekedar mitos, pangeran kegelapan yang sebenarnya dipanggil dalam sebuah ritual!”

Hey.. hey… orang ini justru lebih percaya mitos yang jelas-jelas salah daripada mempercayai bahwa akulah entitas yang mereka bicarakan.

“Oh.., sebelum aku lupa, kau..! Muka lesu,” Jari telunjukku mengarah ke pria kedua, yang sepertinya masih meyakini bahwa akulah pangeran kegelapan. “Jelaskan padaku tentang Order of Nirvanne!”

Lelaki itu mengangguk, lalu merapat ke jeruji besi, “Dahulu, Saint Maiden membuat sebuah organisasi yang bergerak dibawah tangan para malaikat, yang bertujuan untuk menjaga anda, Yang Mulia.”

“Ya..ya.., aku sudah tahu yang itu, ceritakan tentang apa yang mereka lakukan saat ini, mereka seperti sudah melupakan keberadaanku disini,” potongku.

“Tepat sekali, Yang Mulia, orang-orang telah melupakan kekuatan dewa seperti anda,” gumamnya, “Itulah kenapa anda harus kembali menunjukan kepada mereka, dipuja dan disembah seperti dulu.”

Aku mengelus janggut di daguku, kembali dipuja sebagai dewa, huh? Kenapa tidak? Bermalas-malasan akan lebih lengkap jika dilayani dan disembah.

“Lalu apa yang Order of Nirvanne lakukan saat ini?” tanyaku.

“Mereka, hanyalah sekumpulan pembunuh yang mengatasnamakan Tuhan mereka, tidak lebih.”

“Tuhan, huh? Jadi kali ini orang-orang dunia atas memuja sesuatu yang lain?”

“Ya, tapi kami tetap teguh dengan keyakinan kami, hanya para raja bumilah Tuhan kami,” kata lelaki itu, “Anda harus menunjukan kepada mereka, bahwa Tuhan yang sesungguhnya adalah anda sendiri.”

Kata-katanya membuat aku besar kepala, seringai puas mengembang di bibirku. Aku memang lemah terhadap pujian, aku tahu itu tidak berlebihan, itu memang benar adanya. Aku tampan, keren, kuat, dan berkuasa, setidaknya dulu, aku memang terlahir dengan kesempurnaan.

“Baiklah, aku akan jalan-jalan sebentar di dunia atas,” gumamku seraya mengikatkan Tuan Winkle di tali, yang mengikat celana kusam yang kukenakan dengan pinggangku.

“Tapi.., apa diantara kalian ada yang membawa makanan? Atau aku harus memakan salah satu dari kalian?” tanyaku, membuat lelaki yang awalnya tidak yakin padaku bergidik. Sudah 500 tahun perutku tidak diisi, kurasa aku bisa memakan sekeluarga gajah bulat-bulat karena rasa lapar ini.

Salah seorang dari mereka membuka jeruji tebal berlapis yang telah mengurungku, cukup rumit jika kau bertanya padaku, Saint Maiden benar-benar membuat sangkar ini dengan sangat baik. Cukup lama, sel itu akhirnya terbuka, pria satunya menyeret kantung besar yang menggeliat ke depanku.

Bisa kucium aroma darahnya, manis, pikirku itu adalah anak manusia betina, kesukaanku. Orang-orang ini benar-benar tahu bagaimana cara melayani dewa. Kubuka tali yang mengikat kantong itu, seorang gadis kecil berkerudung biru terlihat menatapku dengan benci.

“Dasar om-om mesum!!” teriaknya sambil meninju wajahku, reaksi yang tidak pernah terpikirkan olehku, aku bahkan belum melakukan apa-apa terhadapnya. Biasanya mereka hanya menjerit, menangis, menggeliat, lalu mati, belum pernah ada makanan yang memukulku sebelumnya. Tampaknya bukan hanya aku yang terkeju, tetapi dua pemujaku juga kaget dengan kelakuan anak itu.

“Itu mereka, kami menemuka penyusupnya!” aku mendengar teriakan lain dari lorong. Bisa kulihat orang-orang berpakaian yang mirip seperti dua pemujaku ini, mulai sedikit mengerti bagaimana mereka bisa sampai ketempatku. Kurasa mereka menyusup dengan menyamar sebagai orang dalam, tapi tampaknya itu sudah ketahuan sekarang.
Pasukan mereka hanya terdiri dari lima orang, perlukah aku turun tangan? Sudah sangat lama aku tidak memanjakan otot-ototku. Yah.., semoga mereka bisa memberiku permainan yang menyenangkan.


Terakhir diubah oleh superkudit tanggal 2012-11-10, 22:56, total 1 kali diubah
2012-11-08, 20:22
PostRe: [StoryPlay] Eremidia : The Fragments
Signus Sanctus 
Newbie
Newbie
avatar

Level 5
Posts : 69
Thanked : 3
Engine : RMVX Ace
Skill : Beginner
Type : Developer
Awards:
Chapter I : Blighted Human



Cahaya mulai kembali kepada pandanganku, dan aku melihat sebuah lentera menyala terang berada disampingku, beserta dengan baju2 yang terlipat dengan rapi, terlihat lipatan yang rapi dan tercium aroma pewangi dari baju tersebut, namun aku belum tahu baju siapakah yang bersangkutan, atau yang lebih pasti, aku tidak tahu kenapa aku berada di sini.

Aku mencoba memasang posisi duduk, namun tubuhku terasa sedikit berat, dan aku menyadari bahwa aku sama sekali tidak mengenakan pakaianku, dan diliat dari postur badanku, sesuai dengan baju yang sedang terlipat itu. Tak sempat aku mempertanyakan kenapa aku tidak memakai pakaian, kenapa aku tertidur di sini, kenapa aku berada disini, karena yang keluar dari mulutku yang pertama adalah....

"Siapa aku....?"



Aku tidak bisa mengingat apapun, namaku, bentuk tubuhku, maupun apa yang ingin kulakukan. Aku memegangi kepalaku, berusaha mengingat semua yang terjadi, namun kepalaku sakit, seperti terbakar api neraka yang sangat panas.

Saat aku masih merintih kesakitan dengan kondisiku, seseorang datang dibalik pintu kayu yang halus dan mulus itu, seorang wanita muda berkulit putih mulus berparas manis mendekatiku, dan bertanya kepadaku...

"Akhirnya kamu sadar juga, tuan Arphage...."

Aku terbingung dengan panggilannya, siapa itu Arphage? Dan kenapa ia memanggilku dengan tambahan "tuan"? Apakah ia mengenalku? Ataukah aku ini sebenarnya orang yang cukup dikenal?

"Arphage? Siapa?"

Dan aku hanya bisa merespon panggilannya dengan pertanyaan lain.

"Eh? Jadi itu bukan nama anda? Aku mengira bahwa Arphage itu adalah nama anda sesuai dengan tulisan kuno yang tertera di leher kanan anda..."

Aku meraba - raba leher kananku dan merasakan ada sebuah ukiran yang menjumal keluar dari kulit leherku, namun aku tidak bisa menerjemahkan kalimat yang kuraba tersebut.

"Arph... Arphage..."

Mendadak rasa mual menyerangku, sakit dikepalaku semakin kencang dan tubuhku mulai memerah dan memanas seakan - akan aku dibakar oleh sebongkah api yang menjalar mengisi seluruh ruangan dan membakarku tepat ditengah - tengah ruangan tersebut.

"AAAAAAAAARGH....!!! UUUUUUUUUUUWAAAAAAAAAAAAARGH!!!!!!!!!!!"

"Tuan?!?! Anda kenapa?!?!?"

Wanita itu langsung mendekatiku, meraba - raba kepala badanku, memeriksa apakah ada bagian yang membuatku tersakiti, namun nihil, tidak ada keanehan sama sekali dalam tubuhku jika dilihat dari luar, namun aku tetap merasa tubuhku tersakiti entah oleh apa.

"RRRRAAAAAAAAAAAAAAARGH!!!!!!"

Aku mendorong wanita itu reflek, dan sekejap wanita itu terlempar hingga ujung ruangan dan mulai mengeluarkan darah dari dahinya. Aku langsung terhenyak dengan pemandangan tersebut dan bangun dari kasurku menuju ke arah wanita tersebut, namun wanita itu segera bangun setelah ia terkapar selama beberapa detik di bawah.

"Aku... Aku tidak apa - apa, aku lebih mengkhawatirkan dirimu sendiri tuan...."

Wanita itu kemudian mendekatiku, kemudian mendorongku pelan - pelan kembali terduduk di kasur, dan akhirnya aku menundukkan kepalaku berusaha untuk menahan rasa sakit dan mual yang terus menyerangku setiap aku mencoba mengingat 1 hal tentang diriku sendiri.

"Leila, jangan terlalu memaksa, kasus pemuda ini berbeda dengan pria - pria yang kau temui di bar"


Mendadak suara seorang lelaki yang sudah berumur mulai terdengar dari arah pintu, mengagetkan Leila yang sedang terduduk disampingku sekarang ini dan aku bisa melihat dengan jelas sesosok pria tua renta yang masih berdiri tegak meski membawa tongkat dengan ukiran yang cukup unik di bagian puncaknya.

"Anak muda, kamu saya temukan di sebuah hutan depan gua misterius di arah utara dari sini. Jikalau memang kamu bersedia, aku bisa membawamu ke tempat itu lagi, siapa tahu kamu mampu mendapatkan ingatanmu ketika kamu kembali ke sana. Tapi untuk sementara waktu, beristirahatlah."

Ucap pria tua misterius itu dengan mukanya yang ditampakkan cukup ramah, aku pun hanya bisa menganguk dan melemaskan seluruh badanku tanpa memaksakan diri untuk mengingat 1 hal pun.

"Anu.... ini bajumu... bisa kamu pakai sekarang..."

Terlihat wanita bernama Leila tersebut memberikanku lipatan baju yang selama ini tergeletak di sampingku, dan terlihat muka wanita tersebut merona kemerahan, entah karena apa.

***

Aku terbangun oleh suara teriakan burung merah flamboyan yang tepat sedang berdiri di sampingku diatas lentera lampu yang telah dimatikan.

"Burung? Berisik amat...."

Aku melihat burung tersebut memiliki sebuah kalung yang agak ringan dan menarik, dan sedikit terlihat di kalung tersebut sebuah ukiran nama yang lumayan bisa kubaca.

"Phoenix...?"

Tiba - tiba burung tersebut menoleh kearahku dan terbang berdiri tepat disamping bahuku, setelah kulihat - lihat lagi, burung ini cukup besar, kira - kira sebesar kepalaku.

"Eh? kalian berdua cepat sekali akrabnya...?"

Leila terkejut melihat burung merah ini hinggap di bahuku dan mulai mematoki isi rambutku entah mencari apa.

"Ngomong - ngomong, tidak apakah jika aku memanggilmu Arphage? Agak sulit memanggilmu ketika kamu tidak ingat namamu sendiri~"

"Tidak masalah."

"Kalau begitu turunlah kebawah setelah kamu mencuci mukamu, sarapan sudah kusiapkan dan Tuan Rayloft sudah menunggumu dibawah~"

"Rayloft?"

"Orang yang membawamu kemari setelah kamu pingsan~"

Ah, kakek yang kemarin rupanya, jadi namanya Rayloft.

***

"Jadi bagaimana nak? Sudah merasa enakan?"

Tanya kakek - kakek renta itu sambil menikmati teh lemon yang disajikan oleh Leila. Aku cukup kagum dengan suasana tempat ini, dimana orang - orang berkumpul ramai dimana - mana, terlihat canda gurau serta keakraban di tempat tersebut, yang melayani mereka semua adalah gadis - gadis dengan paras yang cerah dan menawan, membuat para pelayan pria menikmati suasana yang ada dan para wanita dengan bebas mengobrol dengan salah satu pelayan yang tidak terlalu sibuk, namun yang paling hebat dari semuanya adalah pemilik tempat ini, Leila Volchrat, adalah seorang wanita bangsawan dari klan Vlochart, namun kemampuannya untuk melayani pelanggan - pelanggannya sangat sempurna, ia mampu merespon lebih dari 3 pelanggan sekaligus yang memesan dan cekatan pula ketika mencatat pesanan - pesanan mereka, dan caranya melayani pelangan - pelanggan mereka pun cukup cekatan namun anggun dan menawan, membuat para pelanggan terpesona dengannya, ditambah lagi kemampuan Leila dalam memasak bisa dibilang salah satu yang terbaik di Capital, membuatnya menjadi aset utama di bar The Blue Python ini.

"Arph, ini bagianmu, dan ini untuk Phoenix~"

Leila memberikan 1 piring sandwich untuk ku dan 1 piring daging monster yang dimasak setengah matang untuk burung merah yang sejak tadi tidak mau turun dari bahuku, dan akhirnya turun untuk makan daging pemberian Leila. Aku cukup kagum dengan cara burung tersebut makan, cepat, namun tidak membuat meja berantakan sama sekali, ia membersihkan daging - daging yang ada di piring tersebut secepat mungkin...

"Tunggu dulu, burung ini karnivora?"

Dan pertanyaan itu lah satu - satunya yang keluar dari mulutku disamping banyak hal yang misterius tentang burung tersebut.

"Burung itu aku temukan ketika aku dan tuan Rayloft sedang jalan - jalan di sebuah gunung ketika sedang mencari jamur, dan tempat itu adalah bekas sarang Garuda yang sudah lama dimusnahkan. Aku melihat ada 1 telur yang masih utuh, namun tak lama kemudian burung tersebut lahir dan pertama kali ia melihatku, ia langsung menempel kepadaku sambil merayap terhuyung - huyung, dan akhirnya, seperti yang kamu lihat sekarang~"

"Tapi mengurus burung itu tidak mudah, sudah berapa kali burung tersebut menyerang orang - orang yang mencoba menggoda Leila hingga dibawa ke rumah sakit."

Ucap Rayloft tertawa terbahak - bahak sambil berkata seperti itu, dan Leila sendiri pun mulai bertingkah aneh ketika Rayloft bercerita seperti itu. Tak lama setelah aku dan Phoenix menghabiskan porsi makanan kami berdua secara hampir bersamaan, Phoenix kembali hinggap di bahuku.

"Tapi ini pertama kalinya aku melihat burung itu akrab dengan orang lain selain terhadap Leila..."

"Kurasa kalian bisa menjadi partner yang cocok, Phoenix dan Arphage~"

Aku hanya bisa menghela nafas mendengar ucapan sinis mereka berdua, aku tidak tahu apa yang ada di pikiran burung ini....

Atau sebaliknya, entah kenapa aku mengerti sikap burung merah ini, matanya ketika menatapku terlihat seakan - akan ia mau bersamaku karena selain aku ini tidak membahayakan untuk Leila, ia merasa bahwa aku dan burung ini memiliki 1 kesamaan, entah apa itu.

"PERMISI, PESANAN ROOT BEER 5 BAREL DATANG!!!"

Mendadak dua orang dengan tubuh yang sangat kekar datang dan terlihat dibelakang mereka membawa 5 barel yang sepertinya berisi bir

"Tumben kalian terlambat? Ada apa?"

"3 pekerja kami mendadak sakit, tidak terlalu parah sih, namun kondisi mereka tidak bagus untuk bekerja, jadi mereka disuruh pulang oleh para manager dan sekarang hanya kami berdua yang mampu mengirimkan ini...."

"Aduh... Yakin kalian berdua sanggup...? Kalau tidak salah kalian selalu membawa barel itu bertiga kan...?"

"Dengan willpower, tidak ada yang mustahil!!"

Mendengar ucapan mereka, kemudian aku berdiri dan mendekati kedua orang tersebut.

"Arph?"

"Biarkan aku membantu, setidaknya aku sudah diberi makan dan tidur gratis di tempat ini."

Leila sedikit terkejut dan kemudian tersenyum manis menatapku sementara aku langsung menuju ke salah satu barel yang berada diluar bar.

"Hoi mas, kuhargai niat baikmu, tapi barel itu cukup berat, bahkan untuk seorang Hunter dan prajurit veteran, butuh dua orang untuk mengangkat 1 barel itu."

Kemudian aku memposisikan tubuh, tangan, dan kakiku untuk menemukan posisi yang pas untuk membawa Barel tersebut, dan aku mencoba mengangkat barel tersebut.

"HUMP!"

Dan ternyata tidak seberat dugaanku, meski aku tetap harus mengangkat barel ini dengan 2 tangan karena ukurannya yang sekitar setengah badanku yang cukup tinggi ini.

"Mu... Mustahil...."

Para pelanggan maupun pelayan, beserta dengan 2 orang yang membawakan barel bir ini berikut Rayloft dan Leila, hanya bisa melotot melihatku mengangkat barel bir itu dengan mudah, ditambah dengan Phoenix yang memindahkan posisinya diatas kepalaku agar aku tidak kehilangan keseimbangan.

"Leila, ini mau ditaruh dimana?"

Pertanyaanku pada Leila menyadarkannya yang terlihat syok sejenak, kemudian membuka pintu gedung dan mengarahkanku dan kedua pembawa bir itu untuk menaruh bir tersebut di tempat yang telah disediakan Leila, dan kedua pembawa bir itu mengambil kembali barel - barel yang sudah kosong.

Tak butuh waktu lama, kiriman pun selesai dan Leila pun membayar biayanya kepada kedua orang tersebut dengan penuh meski terlambat.

"Kamu... siapa namamu?!"

"Aku? Aku Arphage..."

"Maukah kamu membantu kami mengirimkan bir - bir ini ke tempat lain!? Jujur saja, meski kami berdua bisa mengirimkan ini sendiri, semua kiriman ini tidak akan selesai sampai nanti sore dan kami masih ada banyak pekerjaan!"

"Kami akan memohon kepada bos kami untuk membayar bagianmu juga, jadi maukah?!?"

Aku menggaruk - garuk kepalaku yang tidak gatal sama sekali dan melihat kearah Rayloft dan Leila.

"Kenapa tidak, ini kesempatan emas untukmu berkeliling kota dan melihat - lihat sekitar, dan kamu juga dibayar, hitung - hitung membantu beban Leila~"

Ucap Rayloft sambil meneguk habis teh lemonnya yang baru disajikan lagi oleh Leila.

"Tapi, ingatan Arph masih...."

Aku hanya bisa menatap mata Leila yang penuh kekhawatiran dan kebingungan.

"Mangkanya aku juga ikut, untuk jaga - jaga."

Kemudian Rayloft berdiri dan berjalan mengikuti Arph

"Leila, ini."

Kemudian aku memegang Phoenix dan membiarkannya terbang menuju bahu Leila

"Eh lho? Kenapa kamu tidak membawa Phoenix juga?"

"Karena tidak ada yg menjagamu ketika Rayloft pun pergi kan?"

Aku berkata demikian setelah memahami Phoenix yang ingin tinggal di bar dan kemudian terlihat muka Leila sedikit merona kemerahan mendengar ucapanku.

***

Hari sudah semakin siang dan akhirnya semua kiriman berhasil terselesaikan, aku pun lumayan paham dengan struktur Capital City ini, aku dan Rayloft berjalan kembali menuju Bar, namun ditengah jalan Rayloft bertemu dengan sosok yang sangat tidak asing untuknya.

"Lord Arngeir?"

"Oho, tak menyangka kalau aku akan bertemu dengan Lord Rayloft, salah satu dewan penasihat yang posisinya cukup dekat dengan Queen Prima itu sendiri."

"Apa yang anda lakukan di pemukiman warga seperti ini?"

"Apakah ada yang salah denganku sebagai anggota dewan kemasyarakatan sepertiku untuk berada di tempat seperti ini?"

"Kau tidak pernah sekalipun menginjakkan kakimu di tempat seperti ini sampai kejadian tersebut, apa maumu?"

"Oi oi, begitukah caramu berbicara pada salah satu rekanmu sendiri?"

"Kau pikir aku akan semudah itu mempercayaimu setelah apa yang kau lakukan pada pertemuan tersebut!?"

"Itu terserah mereka untuk percaya atau tidak, kalau Ratu Prima adalah wanita yang rakus dibalik sosoknya yang anggun menawan tersebut!"

"Beraninya kamu menghina pemimpin negaramu sendiri...!"

"Pemimpin?! HAH! Aku tidak pernah menganggap wanita rakus dan kotor sepertinya sebagai pemimpinku! TIDAK AKAN PERNAH!!!"

"TUTUP MULUTMU, KEPARAT!"

Kedua lelaki yang sudah uzur tersebut saling memaki - maki satu sama lain didepan mataku dan banyak orang. Namun tak lama kemudian mereka menghentikan emosi mereka dan saling berjalan memalingkan wajah mereka satu sama lain, aku penasaran dengan apa yang sedang mereka bicarakan tapi aku memutuskan untuk tidak menggubris hal tersebut.


The Greatness of Tentacle:
 


Requiem:
 


The Last:
 
2012-11-09, 11:59
PostRe: [StoryPlay] Eremidia : The Fragments
hyperkudit 
Pahlawan Super
avatar

Level 5
Posts : 2288
Thanked : 30
Engine : RMXP
Skill : Very Beginner
Type : Artist
Awards:

Chapter 3 : The Forgoten God

“Sial, kita ketahuan!” gerutu salah seorang pria di depanku, mereka memberikan isyarat agar aku bergegas keluar dari tempat ini, tapi untuk apa? Aku tidak mau pergi sebelum makan, lagipula mereka hanyalah manusia, apa yang perlu kutakutan?

“Berani sekali kalian menjejakan kaki di tempat suci ini!” bentak salah seorang prajurit.

“Pengikut iblis seperti kalian tidak pantas menyentuh tanah ini!” tambah prajurit lainnya.

Sepertinya mereka adalah kesatria-kesatria Order of Nirvanne yang diceritakan. Ku gemeretakan otot-ototku yang telah beristirahat terlalu lama, lalu berjalan mantap kearah sampah-sampah itu. Ini tak akan lebih dari sepuluh detik, kuangkat tangan kananku ke depan, mempersiapkan ibu jari dan telunjukku kearah sekumpulan idiot itu.

“Apa yang akan kau lakukan?” tanya salah seorang bingung. Tak kujawab, karena kutahu ini berada di luar nalar mereka, sihirku bukanlah apa seperti yang biasa mereka lihat. Biar kutunjukan, bagaimana sihir asli itu sebenarnya.

Kujentikan jariku tepat di depan wajah seorang prajurit, tak terjadi apa-apa, kuulangi lagi dan lagi. Sebelumnya tak pernah seperti ini, mungkinkah segel Saint Maiden belum lenyap? Sial, sungguh sial jika begitu.

Sebuah tikaman pedang menembus dadaku, terkejut, akupun tersungkur dan jatuh bersandar pada jeruji besi sel ku. Kudengar teriakan pengikut-pengikutku, ditambah jeritan kecil dari gadis yang awalnya hendak kumakan.

Terdengar langkah-langkah panik memenuhi ruangan, sepertinya orang-orang yang membebaskanku itu dibantai.

“Semoga para malaikat mengampuni dosa-dosa kalian,” gumam seorang prajurit sebelum kulihat darah mengalir melewati kakiku.

Kulihat mereka memasuki sangkar yang mengurungku tadi, berjalan kearah anak yang sepertinya sedikit lega karena diselamatkan. Namun beberapa detik kemudian, ekspresinya berubah ketika salah satunya mengalungkan mata pedang ke leher bocah itu.

“Dengan kuasa para malaikat di pedang ini, maka dosa-dosa gadis ini akan dihapuskan, dan dapat terhindar dari siksa neraka,”

Aku salah dengar bukan? Mereka berusaha menyembelih makananku? Dagingnya tidak akan segar lagi, ini benar-benar tak bisa dibiarkan.

“Hey.., mau kau apakan mangsaku?”

Mereka tampak sangat terkejut ketika aku berdiri dan berbicama dengan santainya, Mereka pasti berpikir bahwa aku telah mati. Jika manusia, tertusuk pedang tepat di jantung pasti sudah merengut nyawanya secara instan, tapi perlu ku tekankan disini… Aku bukanlah manusia.

“B-bagaimana bisa? Aku yakin telah menusuk jantungnya!” seorang pria, sepertinya yang menusukku tadi berusaha meyakinkan kawan-kawannya.

“Hey.., hey, jika kau berencana membunuh seseorang, pastikan dulu jika dia bisa mati,” sindirku, membuat semuanya terbelalak.

“Kau iblis!” bentak prajurit lainnya, “Berani sekali kau kemari!”

Semuanya serempak mengarahkan pedang kepadaku. Membuatku tersenyum miris, sepertinya mereka samasekali tidak menyerap kata-kataku, lagipula aku tak pernah pergi kemanapun, justru merekalah yang datang kepadaku.

Mereka melesat kearahku, hampir bersamaan, namun bisa kuhindari semua gerakannya. Terus terang, aku sedikit kesal karena kemampuan sihirku tak bisa digunakan, kupikir segel Saint Maiden semata-mata hanya menahanku dalam wujud manusiaku, tapi ternyata ini lebih buruk. Yah.. setidaknya kekuatan dan kecepatanku masih cukup baik, walau sepertinya telah ditekan dan tersisa hanya sepuluh persennya saja.

Senyum mulai mengembang di bibirku ketika melihat mereka kembali menyerang, cukup gigih untuk ukuran sampah, setidaknya ini permainan yang lumayan bagus. Kulayangkan tinjuku pada dua prajurit, menghancurkan baju besi yang dikenakannya menjadi serpihan kecil dan membuat mereka terpental beberapa langkah jauhnya. Tiga pria yang tersisa melongo melihat itu, seolah tak percaya dengan apa yang terjadi dengan rekannya. Tidak seperti iblis yang kalian lihat sebelumnya, bukan? Pikirku.

“Bagus! Hajar terus!”

Teriakan dari arah belakang membuat telingaku sakit, gadis ini tampaknya begitu girang ketika aku membunuh orang yang hendak memenggalnya. Setelah apa yang dilakukannya padaku, meninju wajah tampanku dan meneriakiku dengan sebutan om-om mesum.

“Awas dari di depanmu!” teriaknya lagi.

Aku mengelak, lalu menggenggam wajah orang yang mencoba menyerangku. Menariknya kebawah dan membenamkannya ke tanah. Tertancap dilantai dan tak bergerak lagi.

“Hajar lagi!, gunakan kakimu! Tendang selangkangannya!!”

“BERISIK!!” teriakku gusar.

Gadis ini benar-benar menyebalkan, prinsipku dalam bertarung sudah tercetak dalam Rules-of Cool, dimana bertarung santai adalah gayaku, jangan perlihatkan wajah terdesak karena serangan musuh, dan anggaplah semua serangan mereka tak ada artinya bagiku. Tapi gadis ini benar-benar mengganggu pertarunganku, ingin rasanya ku tanam kepalanya ke tanah seperti pria disampingku ini.

“Bodoh, aku ini memberimu dukungan mental!” balasnya ketus.

“Kau hanya memberiku tekanan mental, bocah tengik!” bentakku tak kalah keras.

“Jangan banyak bicara, pukul saja!”

Aku berusaha mengabaikan suara bocah itu, bergerak lincah ke kiri dan kanan lalu menghabisi sisa kesatria Order of Nirvanne yang masih berdiri. Salah satunya sepertinya masih bernapas, walau terlihat sekarat.

“K-kau, iblis.., siapa sebenarnya kau?” tanyanya dengan kondisi menyedihkan.

“Iblis, huh?” gumamku sembari berjalan kearah tubuh lemasnya, “Aku jauh diatas level yang kalian pikirkan, kau sedang melihat.. Dewa.”

“Tidak mungkin,” Lelaki itu terbelalak, “Kau, the howling demon Behem-”

Belum sempat dia menyelesaikan kata-katanya, kusumpal mulutnya, menginjak wajahnya dan membuat mahluk menjijikan ini berhenti bergerak.

Jadi dunia atas telah melupakanku, huh?

Aku tersenyum puas, mungkin masih ada manusia yang mengingat dan memujaku seperti dua mayat dengan leher tergorok di belakangku, tapi sepertinya sebagian besar mahluk-mahluk gagal itu tidak tahu siapa dewa mereka dahulu.

Kurasa inilah alasannya…

Akan kutunjukan kepada manusia-manusia itu, kenapa dulu mereka takut akan kegelapan.
2012-11-09, 20:54
PostRe: [StoryPlay] Eremidia : The Fragments
NachtEinhorn 
Robot Gedek Galak
avatar

Level 5
Posts : 1274
Thanked : 9
Engine : Multi-Engine User
Skill : Beginner
Type : Developer

Phase 2 - Cor:Rupt

Segera setelah sampai ke Faleon, Aurelia mendaftarkan dirinya sebagai Hunter. Hanya dalam beberapa bulan saja, ia dapat menyelesaikan tugas2 nya sebagai hunter dengan nyaris sempurna, dan mendaki ranking hingga menjadi seorang Hunter Rank A yang disegani, meski usianya masih sangatlah muda.

Suatu hari, Aurel mendapatkan tugas untuk mengescort seorang anggota Dewan Kerajaan untuk kembali ke Ibukota dari kunjungannya ke Faleon.

"Aku membayar mahal untuk seorang penjaga, bukan seorang anak" gerutu anggota dewan itu ditengah perjalanan mereka. Aurel hanya bisa diam.

Tiba tiba Anggota Dewan yang memiliki jenggot putih nan tebal dan panjang itu terbelalak, melihat sesuatu yang menarik perhatiannya di leher Aurel: Liontin Perak dengan lambang kerajaan.

"Oooooooh.... Dimana kau mencuri Liontin kerajaan itu?!" tanyanya kasar kepada Aurel. Tidak tahan dengan ucapan si Jenggot tebal itu, Aurel mulai mengutarakan emosinya "Dari tadi kau mengeluh terus, laki laki bukan?! Dan aku tidak mencuri ini! Kakek menemukanku memakai liontin ini... ketika aku masih bayi! Berhenti mengeluh dan menuduh!"

Mulut anggota dewan itu menganga lebar. Baru kali ini ada Hunter yang berani memarahi anggota dewan. Akan tetapi hal yang lebih penting adalah: Ada kemungkinan gadis ini adalah putri raja yang hilang!

"Ehm, maafkan kelancanganku nona. Kalau boleh tahu umur anda?"
"Jika setelah ini anda bisa diam dan melanjutkan perjalanan, aku 15 tahun"

Senyum terbit di wajah anggota dewan itu, bukan senyum bahagia, tapi senyum... sinis.
Sambil melanjutkan perjalanan, Anggota dewan itu berusaha menarik perhatian Aurel, mulai dengan mengungkapkan bagaimana korupnya Kerajaan dengan absennya sang raja, Skema menarik nyaris semua pengawal Dewan yang pro Raja (yang mengakibatkan anggota Dewan ini harus menyewa Hunter untuk menjaganya selama perjalanan kembali ke Kota Raja), dll dll.

"Lalu apa hubungan semua ini denganku?"
"Sebenranya sebelum Ratu saat ini Raja memiliki seorang istri, dan seorang putri... yang keduanya menghilang 15 tahun yang lalu, di Hutan dekat Faleon. Dan kakekmu menemukanmu tepat 15 tahun yang lalu... dan asalmu dari Faleon kan?"
"Jadi maksud anda..."

"YA! Kau mungkin saja Putri Raja yang hilang itu! Langit ternyata tidak meninggalkan rakyat Eremidia...Kau akan menjadi Cahaya harapan kami.... Cahaya harapan Eremidia! Dengan kembalinya Putri pertama, Kita gulingkan Si Ratu Korup!"

...........

Segera setelah mereka sampai ke ibukota, Anggota Dewan yang bernama Sir Garmore McEzel itu memboyong Aurel ke sebuah rumah besar di dekat bukit. Di Ibukota, Aurel melihat pemandangan yang mengenaskan dibalik megahnya tembok besar yang menjaganya: Kemiskinan di kiri kanan, Anak anak terlantar dengan tatapan kosong...

Di dalam rumah itu Aurel diperkenalkan kepada seorang anggota dewan lain. Usianya sedikit lebih muda dari SIr Garmore, sekitar 40-50 tahunan. Setelah mendengarkan cerita Sir Garmore, lelaki itu tersenyum lebar, lalu menepuk pundak Aurelia.

"Kini saatnya Eremidia keluar dari cengkeraman wanita itu! Dan Tuan Putri, izinkanlah Tyson Willfrey ini membantu anda mengklaim kembali Tahta Kerajaan!"

"Jika memang ini tugasku untuk memperbaiki negara ini..."

=====================================================================

2 Tahun berselang dan dengan didikan dan manipulasi Willfrey, Aurel yang dulunya ceria dan care terhadap orang lain, menjadi sosok pendiam dengan tatapan dingin. Willfrey puas dengan development ini, karena dia memang merencanakan hal ini: Jadikan Aurel penguasa boneka, dan kau akan memiliki Eremidia.

"Sebentar lagi, ambisiku akan terpenuhi... dan Putri boneka itulah yang akan membantuku mewujudkannya... Tidak bapak tidak anak sama saja, gampang dimanipulasi, Mwahahahahaha!"


"Imagine Iron Man, kill Tony Stark, and replace him with Dinosaurs. That's why Tachikazes are awesome"


2012-11-09, 22:13
PostRe: [StoryPlay] Eremidia : The Fragments
Signus Sanctus 
Newbie
Newbie
avatar

Level 5
Posts : 69
Thanked : 3
Engine : RMVX Ace
Skill : Beginner
Type : Developer
Awards:
Chapter II : Covered Dirt

Sudah sekitar 1 minggu aku terus berada di bawah naungan Leila, dan aku masih belum mendapatkan sedikitpun pecahan ingatanku. Aku terus merasa bersalah karena selalu merepotkan Leila, namun Leila terus menghiburku dengan mengatakan bahwa aku tidak perlu terburu - buru. Tapi bolehkah aku terus seperti ini? Terus tinggal dirumah Leila dan selalu merepotkannya...

"Arph, bisa tolong kemari sebentar?"

"Ah baiklah, sebentar!!"

Aku menaruh kapak kau yang sejak tadi kuayun - ayunkan sambil menaruh beberapa kayu yang sudah kupotong ke tempat lain yang telah disediakan Leila, kemudian aku segera bergegas menuju tempat Leila berada.

"Ada apa?"

"Ini, seseorang meninggalkan benda ini di meja, sepertinya dia lupa mengambil ini saat akan meninggalkan bar...!"

Aku melihat kearah tangan Leila yang sedang memegang suatu kalung besar dengan hiasan segitiga dengan 3 cincin di tiap sudutnya dan berwarna emas. Kalau tidak salah aku sering melihat lambang tersebut di bendera - bendera kota ini, apakah kalung ini milik seseorang yang penting di Eremidia?

"Ini adalah Entry Pass milik seorang Languard, jika seorang Languard kehilangan barang ini, dia bisa terkena hukuman yang berat, malah ia bisa kehilangan pekerjaannya karena ini!"

What the...? Sebegitu ketatnya kah Languard tersebut? Lagipula salah orangnya juga sih meninggalkan barang sepenting ini di bar...

Tunggu, di kalung ini terdapat nama orang tersebut beserta fraksinya...

"Rudolf Einhart, Striker Force...."

"Eh? kamu bisa membaca tulisan setipis itu, Arph?"

"Yaah aku hanya kurang lebih menebak - nebak bentuk ukiran tipis ini...."

"Kalau begitu perkara jadi mudah, Arph, bawa ini~!"

"Eh?"

***

Aku terus berjalan menuju sebuah dinding yang sangat besar membentang dari samping ujung penglihatanku, dan didepanku terdapat kedua orang penjaga kekar dengan armor yang komplit.

"BERHENTI! Apa tujuanmu mendatangi tempat ini!?"

Sekarang saatnya untuk mengatakan hal yang telah diajarkan Leila.

"Namaku adalah Arphage, aku adalah seorang Ambassador yang diutus oleh Nona Leila Volchrat untuk menemui seorang prajurit Languard bernama Rudolf Einhart."

Ucapku sambil menunjukkan sebuah surat yang disegel dengan segel yang membentuk lambang yang sama dengan bendera negara Eremidia.

"Mohon maaf kelancangan kami, tuan Arphage, silahkan masuk!"

Sambil membungkukkan badannya kepadaku prajurit itu segera membukakakn gerbang besar itu untukku. Dan dibalik gerbang besar yang dikelilingi dinding raksasa tersebut tersembunyi sebuah sisi kota lain dimana tempat itu dilalu-lalangi oleh para prajurit - prajurit, dewan - dewan istana, beserta dengan para Lords yang tengah sibuk berbincang - bincang satu sama lain. Keramaian ini sama dengan keramaian di kota tengah, namun suasana di tempat ini lebih membuat tegang daripada nyaman, seolah - olah orang - orang tersebut sedang dilanda sebua konflik panjang yang tak kunjung kelar.

"Sekarang aku masih harus mencari dimana markas Languard berada..."

***

Aku berjalan melewati beberapa tempat namun tidak menemukan satupun tempat yang memiliki tulisan "Languard" di banner nya, dan semua tempat yang ada disana memiliki lambang segitiga dengan tiga cincin ini, jadi ini sama saja mencari benang diantara jarum.

"Sial, Leila juga tidak tahu ciri - ciri markas Languard, andaikan saja aku bisa bertemu Rayloft disini..."

Sambil menggerutu aku mencoba untuk beristirahat dan duduk di sebuah kursi didepan air mancur.

"Ah!"

Mendadak ada seseorang yang terkejut dengan kehadiranku yang tiba - tiba, aku tidak menyadari sama sekali ada seseorang disampingku selama ini.

"Ah maaf, biarkan aku beristirahat sebentar disini, tidak akan lama ko'"

Gadis itu terlihat gelisah namun dengan suara yang lembut dan halus ia menjawab pelan.

"Tidak apa, kau boleh tetap berada disini."

Aku sedikit terhenyak mendengar nada bicara dan suara gadis tersebut yang dingin, rambut merah gelapnya terlihat kontras dengan kulit putih meronanya, mata birunya terlihat bercahaya bening didepan kolam air mancur tersebut, pakaiannya terlihat rapi dan mengembang seperti seorang Noble Lord yang memiliki autoritas tinggi....

Eh, tunggu...

"Maaf, boleh aku sedikit bertanya?"

Gadis itu langsung meloncat sedikit ketika aku menolehkan wajahku dan melontarkan pertanyaan didepan wajahnya, sepertinya ia benar - benar terkejut melihatku atau ia hanya gugup.

"Ada apa?"

"Ah, entah ini adalah hal yang besar atau bukan, tapi kamu tahu letak markas Languard?"

"Markas Languard? Maksudmu markas yang berada di 'Palace of the Empress'?"

"Palace of the Empress?"

"Distrik yang memiliki hubungan dengan para petinggi - pertinggi yang berhubungan langsung dengan raja atau ratu Eremidia..."

"Jadi tempat ini masih ada pembagian distriknya?"

"Begitulah..."

Beneran nih?! Kota utamanya saja belum kutelusuri semua, sedangkan tempat Lord Noble ini saja sudah memiliki distrik - distrik lain yang belum kuketahi sama sekali, seluas apa tempat ini sebenarnya?

"..."

Gadis itu kemudian menoelku denga jarinya yang lentik dan mungil

"Ya?"

"Kalau kamu tidak keberatan, aku bisa mengantarkanmu ke tempat itu..."

"Oh? Benarkah? Terima kasih banyak!"

"Hmph...! Tidak perlu berterima kasih...!"

Ucap gadis itu memalingkan matanya.

"Perkenalkan, namaku Arphage!"

Gadis itu menatapku kembali dengan dingin dan sinis, namun matanya yang lentik dan indah itu tidak membuatku merinding sedikitpun.

"Aku Aurelia...!"

***

Setelah berjalan cukup lama dan melewati beberapa jembatan - jembatan, aku dan Aurelia sampai di sebuah distrik yang jauh lebih mewah daripada distrik - distrik lainnya, dengan sebuah istana menjulang tinggi dan megah di kejauhan.

"Jadi itukah istana raja...? Megah sekali..."

Gumamku terkagum - kagum melihat pemandangan yang sama sekali baru didepan mataku ini.

"Kamu tidak tahu? Kekuatan Istana Eremidia itu sudah berkembang sangat luas karena raja Eremidia sudah bertahan selama kurang lebih 13 generasi! Wajar saja istana raja menjadi semegah itu!"

"Jadi begitu..."

Aku dan Aurel terus berjalan menyusuri jalan yang semakin dilalu-lalangi oleh banyak prajurit dan noble lord, sepertinya sedikit lagi akan sampai...

"Hmm?"

Tiba - tiba aku melihat seorang pria paruh baya tengah kebingungan mencari - cari isi tas dan kantongnya dengan panik, berulang - ulang kali ia memasukkan dan mengeluarkan barang - barangnya dari tas - tasnya, dan kulihat dari seragamnya yang rapi, sepertinya dia orang yang kucari.

"Aurelia, dari sini menuju markas Languard seberapa jauh lagi?"

"Itu sudah didepan mata anda."

Aku melotot terbelalak melihat gerbang yang ukurannya 2 kali badanku tersebut dan melihat gedung Languard yang menjulang tinggi.

"Kurasa sampai sini sudah cukup, terima kasih!"

"Hmph...!"

Ucapnya malu - malu tersipu - sipu sambil memalingkan bajunya dan menyilangkan tangannya di depan dadanya. Kemudian aku mendekati orang yang panik tersebut.

"Maaf, apakah anda Rudolf Einhart?"

Orang tersebut terkejur dan melotot menatapku dengan rasa panik, takut, dan curiga, kemudian memalingkan kepalanya kembali.

"Ma... Maaf, itu memang aku, tetapi aku sedang sibuk, tolong jangan ganggu aku...!"

Bingo!

"Barang yang kamu cari sekarang berada tepat dibalik kotak hitam ini, kamu meninggalkannya saat kamu sedang beristirahat di Blue Phyton."

Ucapku sambil menyerahkan sebuah kotak hitam yang cukup besar. Rudolf kemudian langsung menarik kotak itu dan membukanya dengan kasar, dan terlihat sebuah kalung emas dengan segitiga dan 3 cincin diujungnya didalamnya.

"TERIMA KASIH BANYAK ANAK MUDA!!! KAMU MENYELAMATKAN HIDUPKU!!!!"

"Tidak masalah, dan kamu juga harus berterima kasih kepada pemilik bar Blue Phyton tersebut, karena ialah yang merencanakan cara untuk mengembalikan barang ini kepadamu..."

Cara yang cukup rumit, aku diminta untuk menjadi seorang ambassador Languard dan bersegera menuju markas Languard dengan pura - pura mengetahui letak markas Languard tersebut berada, kemudian mencari - cari orang yang kira - kira sedang panik mencari - cari sesuatu yang sangat penting untuknya. Bagian tersulitnya adalah saat mencari markas tersebut karena Leila yang jarang memasuki tempat ini tidak menyadari betapa luasnya tempat ini.

"Aku mengucapkan terima kasih banyak atas usahamu untuk mengembalikan barang ini tanpa membuat yang lain sadar bahwa aku menghilangkannya, bagaimana kalau kita masuk ke dalam dulu untuk sedikit berbincang - bincang?"

"Ah terima kasih, dan bolehkah aku mengajaknya juga kedalam?"

Aku menunjuk kepada seorang gadis berambut merah yang berada tepat disampingku, Aurelia.

"No... nona Aurelia?!?!?"

Rudolf terlihat terkejut bukan main melihat wanita tersebut, seakan - akan ia baru saja melihat hantu atau apa.

"..........."

Dan Aurelia hanya tertunduk diam tak bersuara sama sekali.

"Jadi kamu ada disini, Nona Aurelia..."

Mendadak dibelakangku terdengar suara seseorang yang tidak terlalu familiar untukku.

"Ayo Nona, sudah saatnya anda pulang dan menghadiri 'Education'."

"... Baik..."

Tanpa terbata - bata Aurel langsung menjawab perintah lelaki tersebut dan langsung memalingkan wajahnya dariku, dan pergi bersama dengan lelaki tua yang memanggilnya barusan.

"Hei kau, namamu siapa?"

"Aku? Arphage."

"Apa hubunganmu dengan Nona Auriel?"

"Tidak ada, aku baru bertemu dengannya hari ini dan ia membantuku menunjukkan jalan menuju tempat ini."

"Tapi sepertinya ia memiliki sedikit ketertarikan terhadapmu..."

Ucap Rudolf curiga

"Kau bercanda? Commoner sepertiku yang tiap hari kerjanya memotong kayu bakar dan bekerja paruh waktu sebagai kurir antar barang bisa menarik perhatian seorang Lord Noble?"

"Eh? Kamu Commoner? Lalu bagaimana kamu bisa memasuki tempat ini?"

"Ceritanya panjang sih..."

"Baiklah, hal seperti ini tidak pantas untuk dibahas di tempat seperti ini, sebaiknya kita masuk, dan kita bicarakan hal ini di kantor pribadiku."

Ternyata orang bernama Rudolf ini memiliki peringkat yang tinggi di kemiliteran Languard, sepertinya aku bisa mendapatkan banyak informasi mengenai apa yang kubutuhkan, ingatanku.


The Greatness of Tentacle:
 


Requiem:
 


The Last:
 
2012-11-10, 18:29
PostRe: [StoryPlay] Eremidia : The Fragments
hyperkudit 
Pahlawan Super
avatar

Level 5
Posts : 2288
Thanked : 30
Engine : RMXP
Skill : Very Beginner
Type : Artist
Awards:

Chapter 4 : The Annoying Girl

Kuhentakan kepalaku ke kiri dan ke kanan, menimbulkan bunyi gemeretak, sendi-sendi yang kaku sudah terasa nyaman di tubuhku.

“Hey, paman, apa kau manusia super atau sejenisnya?”

Kata-kata itu membuatku menoleh kearah belakang, Aku hampir melupakan gadis pirang berkerudung biru ini, yang tadinya akan menjadi makananku, tapi sekarang lambungku sudah tidak bernafsu lagi.

“Aku ini Asura, lebih dari itu semua, aku adalah dewa,” jawabku bangga.

“Asura? Jadi itu nama pahlawan supermu? Mana kostummu?” tanyanya.

“Kostum? Pikirmu aku ini badut?” tanyaku heran, “Asura, bangsawan iblis, kau pasti tahu itu.”

“Iblis? Semua orang juga tahu kalau iblis itu tidak ada.”

“Jika begitu adanya, lalu apa yang sedang kau lihat?”

Gadis itu memperhatikanku dari ujung kepala sampai ujung kaki. Akupun berpose macho yang memang sesuai dengan kepribadianku, mengencangkan otot-ototku dan memberikan senyum keren kepada bocah itu, memperlihatkan deretan gigiku yang bersinar. Dia pasti menyadarinya, walaupun dalam wujud manusia, selalu ada perbedaan fisik antara kami, bangsa iblis dengan manusia. Ciri fisik paling terlihat adalah bentuk telinga yang runcing dan gigi taring yang lebih panjang.

“Err.., gelandangan super yang membawa boneka beruang, yang entah mengapa membuatku merasa tidak nyaman.”

Jawaban yang tak disangka-sangka keluar dari bibir mungilnya, membuatku membatu dan hampir terkena serangan jantung, walau aku tahu jantung tidak cukup bodoh untuk menyerangku.

“Hmm, mungkin kau adalah tahanan di tempat ini,” gumamnya ketika melihat kesekitar, sepertinya dia menyadari siapa diriku ini.

“Atau mungkin, kau memang gelandangan super membawa boneka beruang yang jatuh ke dalam got dan berakhir di tempat menyedihkan ini, hahahahaha!”

“ARRRGHH! Aku benci kau!” kucekik leher bocah itu ketika dia menertawakanku, kuremas dan kugoyang-goyangkan tubuhnya dengan kuat.

“Hoek!! Ekh! Ekkkk!”

Anak itu hanya meracau tak karuan, kepalanya berguncang hebat ke depan dan belakang sampai akhirnya gadis itu tak sadarkan diri. Sempat terpikirkan olehku untuk meninggalkan anak ini disini, tapi kurasa dia bisa menjadi bekalku diperjalanan. Siapa tahu aku butuh kudapan, disitulah anak ini akan berguna bagiku.

Kutaruh badan kecilnya di bahuku, lalu berjalan kearah kesatria Order of Nirvanne tadi datang, kurasa itu jalan menuju dunia atas, walau aku tidak tahu pasti ujungnya berada dimana.

*****

Cukup lama perjalanan di selokan berkelok dan penuh cabang ini, bahkan kini bocah kerudung biru sudah mulai sadar dari tidurnya. Menggeliat dan mengumpulkan kembali seluruh kesadarannya.

“Eh!, apa yang kau lakukan, turunkan aku!!” teriaknya tiba-tiba, begitu tahu kugendong dalam seperti membawa karung beras.

Gadis itu terus meronta, menendang-nendang kakinya ke udara, membuat tubuhku goyah. Aku berusaha memperkuat jepitan lenganku, berpikir untuk mengunci gerakannya.

“Ekkh!! Jangan sentuh bokongku!” jeritnya, kakinya berayun makin kuat sampai akhirnya mendarat tepat di wajahku.

Sungguh sial hari ini, dua kali mendapat hantaman tepat di ketampananku, kunci utama dari Rule-of-cool adalah wajah menawanku, kuharap ini tidak berdampak buruk. Bocah itu melompat dari bekapanku, mengambil kesempatan ketika aku lebih mengkhawatirkan wajah daripada perut.

“Aku sudah curiga kepadamu, kau adalah pelahap anak dibawah umur!” teriaknya murka, tapi itu justru membuatku tersanjung, walau dia tidak tahu nama dan identitasku, tapi dia masih memiliki rasa takut terhadap kebiasaanku memangsa manusia.

“Hehehe.., akhirnya kau melihat diriku dari rasa takutmu!” gumamku dramatis, memberikan kesan antagonis mungkin, jika ini adalah drama atau semacamnya, tapi itulah diriku.

“Dasar pedofil mesum!” teriaknya, lalu berlari dariku tanpa menunggu apapun lagi.

Pedofil katanya? Mesum? Masih melongo, aku tak habis pikir bahwa bagaimana seorang bocah manusia betina merepresentasikan diriku sebagai entitas yang bahkan tak pernah terbayangkan akan serendah ini.

Aku belum sampai ke dunia atas, namun salah satu penghuninya telah menghancurkan hatiku sampai berkeping-keping. Terlebih dia adalah anak-anak, yang seharusnya memiliki lebih banyak rasa takut daripada manusia dewasa.

Dulu, cerita-cerita tentang diriku senantiasa tersiar di seantero jagat ini, terutama masa-masa setelah keagunganku berakhir. Ketika manusia telah berhenti memuja dan menghormatiku, mereka mengubah rasa itu menjadi ketakutan. Sangat banyak versi yang menceritakan teror yang kubawa ke dunia ini. Vampir tak bersayap, iblis yang muncul dari jendela untuk menangkap anak-anak manusia jika mereka tidur terlalu larut.

Generasi lahir dan mati silih berganti, semakin jauh roda jaman berjalan, mereka menganggap cerita-cerita tentangku hanya sebuah dongeng belaka, mitos yang jelas-jelas tidak perlu dipertanyakan bahwa itu semua fiktif. Mereka telah melupakan, bahwa terkadang, sebuah dongeng itu berdasarkan dari sesuatu yang nyata.

Siluet sosok kecil terlihat mendekat diiringi gemericik langkah diatas air selokan yang menggenang tipis. Kupicingkan mataku agar bisa melihat sosok itu lebih jelas, sedikit terkejut setelah tahu siapa yang berjalan mendekat. Gadis itu kembali, terlihat depresi dan putus asa, membuatku geli dan ingin menertawakan nasibnya.

“Sebaiknya kau tahu jalan keluar dari tempat ini!” serunya ketus.

Sombong sekali kelakuannya, kembali seenak pusarnya dan berkacak pinggang di hadapanku, memerintah dan menyuruhku layaknya babu pula!

“A-aku tersesat!” tambahnya lagi.

“Pfft.., Gyahahahahah!! Selama ini setelah berlagak hebat, ternyata kau menyedihkan!” cibirku.

“Berisik! Cepat tunjukan jalan keluarnya!”

“Tidak mau! Aku akan pergi sendiri, biasakan dirimu berteman dengan tikus-tikus got.”

Aku berlari melewatinya, memasuki lorong-lorong gelap dan melewati berbagai persimpangan. Cukup lama berjalan, hanya untuk kembali ketempat semula. Bertemu bocah tengik yang kini melihatku dengan tatapan mengejek.

“Pfft.., selama ini setelah berlagak sok jagoan, ternyata kau bodoh!”

Gadis itu membalikan kata-kataku, membuatku menghela napas menyerah.

“Hey, setidaknya lihat dirimu,” balasku, “Kau tidak lebih baik dariku.”

Kugaruk bokongku yang terasa sedikit gatal, aku tahu kalau otakku jarang bekerja keras beberapa ratus tahun belakangan. Tapi dalam situasi seperti ini, aku tidak boleh memperlihatkan ketololan. Rule-of-cool nomor dua, berpikirlah seperti seorang jenius walau sebenarnya kau tidak tahu sedang melakukan apa, aku tahu itu hanya demi penampilan, tak ada gunanya, tapi penampilan adalah segalanya bagiku.

*****
“Hey, kau dengar itu?” sela bocah itu ketika aku sibuk pura-pura berpikir.

“Apa? Aku hanya mendengar suara air”

“Itu maksudku, kau mengerti bukan?” timpalnya girang.

“Tidak.., yang aku mengerti kalau ini membuatmu mulai gila.”

“Itu saluran air bodoh! mengarah keluar,” terangnya, “Sebenarnya apa yang kau pikirkan dari tadi?”

Aku bisa merasakan sindiran kasar dari kata-katanya, tak kujawab karena aku sendiri masih bingung ingin mengelak dengan alasan apa. Di kepalaku saat ini hanya ada kera yang bermain simbal sambil jungkir balik, ngelantur dan tidak fokus. Aku memang sulit memfokuskan pikiran.

“Pikirmu kau kau bisa keluar dari sini dengan mengikuti aliran air? Seperti menyusuri sungai?” tanyaku.

“Tepat, ayolah, aku sudah tidak tahan dengan got bau ini!” perintahnya.

Seperti babu rasanya, entah kenapa aku mau saja mengekor bocah itu, berjalan dibelakangnya seperti anjing peliharaan. Bukan karena aku sangat ingin keluar, dan aku juga tidak mengenal anak ini, aku bahkan tak tahu siapa namanya. Hanya saja, gadis ini menarik perhatianku, seperti pernah bertemu dengannya.
2012-11-10, 21:31
PostRe: [StoryPlay] Eremidia : The Fragments
Signus Sanctus 
Newbie
Newbie
avatar

Level 5
Posts : 69
Thanked : 3
Engine : RMVX Ace
Skill : Beginner
Type : Developer
Awards:
Chapter III : Bloody Mayhem

"Jadi kau kehilangan ingatanmu, kemudian kau diasuh dan sekalian bekerja dengan Leila?"

"Begitulah, dan Leila sendiri yang menawarkan supaya aku menjadi ambassador mu dan mengirimkan benda itu padamu."

Aku dan Rudolf berbincang - bincang tentang kenapa aku yang seorang commoner berada di tempat ini, dan aku mencoba mencari tahu informasi - informasi yang ada di sini namun ternyata hasilnya nihil, ternyata Capital ini sendiri memiliki masalah yang sangat rumit dan kompleks, hingga tidak sempat untuk mengurus kasus rakyatnya sendiri.

" Tapi wajar saja aku bisa dengan mudah masuk hanya dengan mengaku sebagai ambassador..."

"Untuk masalah tersebut, tolong kau rahasiakan dari semuanya, dari penghuni bagian menengah kebawah, hanya Leila yang menyadari kasus yang sekarang terjadi di Capital ini..."

Berita yang cukup mengejutkan sebenarnya, dan tentu akan menggemparkan seluruh rakyat di seluruh benua ini ketika mereka semua mengetahui kalau raja mereka, Dynas XIII, telah menghilang tanpa tahu alasannya apa.

Berarti...

"Tunggu, kalau begitu sekarang siapa yang mengambil alih tahta nya sekarang?"

"Tentu saja Queen Prima, istri Dynas XII."

"Dan apakah semua orang yang ada di istana setuju dengan keputusan tersebut?"

Rudolf kemudian terdiam tanpa suara, namun sikap tersebut membuatku paham dengan kondisi kerajaan kali ini.

"Kalau begitu bagaimana dengan kalian sendiri?"

"Hah?"

"Kau barusan menjelaskan kalau Languard adalah Force Elite yang bertujuan untuk melindungi ibukota, tapi kalau kondisinya sekarang terpecah dua begini, apakah kalian akan mengambil pihak?"

"Tidak, kami akan tetap bersikap netral, tugas kami adalah melindungi rakyat Eremidia, dan kami rela mati demi tercapainya hal tersebut."

Aku bernafas lega, setidaknya ada yang mau melindungi rakyat kecil seperti Leila tanpa harus terpengaruh oleh pecahnya pemerintahan itu sendiri.

"Nah sekarang, bagaimana caranya kau keluar dari tempat ini..."

"Hah?"

"Kau barusan selamat karena kau bisa mengaku sebagai ambassador untuk masuk, tapi bagaimana ketika kau akan keluar? Apa yang akan kau beritahu mereka nanti?"

"Entahlah, Leila hanya menyuruhku untuk menunggu di gerbang pintu perbatasan."

"Begitukah? Baguslah kalau kau sudah punya jalan keluar sendiri...."

***

Aku terus berjalan sambil memandang sekitar, suasana tegang ini disebabkan oleh adanya ketidaksetujuan kedua belah pihak dalam pemerintahan yang adil. Dan kalau berita ini tersebar sampai rakyat luar, perang revolusi bisa terjadi tanpa bisa dihentikan siapapun, belum lagi jika ada negara lain yang mengambil kesempatan ini untuk menguasai Eremidia.

"Gadis itu... apakah ia juga terlibat dengan kasus ini...?"

Aku mengingat gadis berambut merah yang membantuku hari ini, Aurelia. Dilihat dari pakaiannya dia adalah seorang Noble, namun orang yang memanggilnya waktu itu, entah kenapa, aku merasakan sesuatu yang keji didalam dirinya.

"Hei anak muda...!"

Aku menoleh kearah suara tersebut berasal karena menyadari siapa orang memiliki suara berat dan ramah seperti itu.

"Rayloft?!?"

"Lama sekali kau mengantarkan pesananmu!"

"Ah, bagaimana kau bisa tahu?"

Tiba - tiba ada sesuatu yang sangat berat hinggap di pundakku, sesuatu yang merah dan flamboyan, aku cukup mengenal rupa dan wangi burung tersebut.

"Phoenix?"

"Leila mengirimkan surat kepadaku lewat Phoenix, katanya kau membutuhkan bantuan untuk melewati perbatasan itu ya?"

"Yaah, mendengar ucapan Rudolf... begitulah..."

Aku hanya bisa sedikit tersenyum dengan kondisiku sekarang ini, banyak sekali masalah - masalah disekitarku meski itu semua tidak ada hubungannya dengan hilangnya ingatanku sekarang ini...

*DEG*

"Eh?"

Perasaan apa ini...?
Kenapa tiba - tiba aku merasakan sesuatu yang tidak enak dalam kepalaku...?

"Anak muda, ada apa?"

Samar...
Tapi aku dapat merasakannya...
Seseorang yang seharusnya tidak ada di tempat ini...

"RAYLOFT, TIARAP!!!"

Sambil menjatuhkan Rayloft ketanah aku mengulurkan tanganku menuju sebuah arah yang tidak tentu...

*ZLEBB*

Eh?
Apa yang terjadi...?

"KYAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA!!!!! PEMBUNUHAN! ADA PEMBUNUHAAAAAAAAAAAN!!!!!!"

Pembunuhan...?
Siapa yang dibunuh...?
Dan siapa yang membunuh...?

"CARI PELAKUNYA, IA ADA DI SEKITAR ATAP!!!"

"ANAK MUDA!!!!!"

Rayloft terlihat panik melihatku, darah mengucur deras, tapi itu bukan darah Rayloft, namun darah itu mengalir deras menodai Rayloft...

Dan satu - satunya orang yang dekat dengan Rayloft adalah...

Aku...

Aku melihat kearah dadaku, dan tanpa kusadari, dada kiriku telah tertancap sesuatu, terlihat seperti sebuah kayu tipis dengan ujung yang sangat tajam.

"Anak panah...?"

Aku memegangi dada kiriku, perih, panas, dan menusuk, rasa sakit terus mengalir bersamaan dengan darahku yang sama sekali tidak berhenti, banyak prajurit sudah mengelilingi dan membelakangiku dan Rayloft, sepertinya sang pembunuh masih belum berhenti...

"Dia... masih mengincar Rayloft...?!"

Aku menarik anak panah yang hinggap di dada kiriku dengan cepat, dan membuat darah yang ada didalam tubuhku mengalir lebih deras, namun aku tidak mempedulikan itu semua dan mencoba mengamati situasi lebih jauh.

"Anak muda! Jangan memaksakan diri! Kau sudah kehilangan banyak darah!!"

Aku memejamkan mataku, merasakan perasaan yang barusan, mendeteksi kearah mana musuh itu akan datang...

"Terasa dengan jelas..!"

Aku kemudian menarik sebilah pedang pendek yang ada di pinggang prajurit kerajaan yang tepat berada disampingku, kemudian menerjang ke arah seorang wanita tua yang tepat berada didepanku.

"AaaaaAAAA..............?!!"

*ZLEBB!!!!!!

Kutusuk lehernya dengan pedang pendek tersebut dan kutarik lagi dengan cepat, dan dalam sekejap mengucurkan seluruh darah yang ada di lehernya, membuatnya kehilangan kesadaran dan akhirnya tewas seketika.

"A... APA YANG KAU LAKUKAN?! MENYERANG RAKYAT SIPIL TAK BERDOSA!!!!"

Seorang prajurit kerajaan membentakku dengan kencang, namun aku tidak mempedulikan hal tersebut dan mulai mengambil tas yang selama ini ia pegang, kemudian kulemparkan kepada prajurit tersebut.

"Isi tas ini... CrossBow, racun, dan pisau?!?!"

*DEG*

Perasaan ini lagi...
ternyata masih ada 1 orang lagi...

Tapi untuk kali ini...

"Ufh...!"

*CRANG!!!!!

Kedua bilah pedang tersebut saling beradu, aku mementalkan orang yang menyerangku yang sedang dalam posisi tidak menapaki tanah, dan akhirnya kostum orang tersebut terlihat dengan sangat jelas.

"I... itu... BlackWings?!?! Organisasi Assassin yang akhir - akhir ini muncul dan membunuh banyak Noble - Noble yang ada di Eremidia...?!?!"

Tanpa menghiraukan sekitarku aku maj menerjang orang tersebut.

*CRANG!!!

Dan kali ini ia menahan pedangku dengan kekuatan yang sama, tapi ia menjatuhkan sesuatu dari tangannya yang satu lagi.

"CrossBow lagi?!? Mereka masih belum menyerah?!?!?"

"Ugh"

Aku mendengar geraman dari seorang assassin yang tepat berada didepanku. Tiba - tiba ada sebuah bola dengan sumbu api jatuh tepat disampingku.

*BAM!!!!

Mendadak seluruh area tersebut menjadi penuh kabut dan asap, dan orang yang sedang beradu pedang denganku waktu itu melarikan diri bersamaan dengan kabut asap tersebut.

"DUST CLEAR!!!"

Dan dalam sekejap seluruh area tersebut menjadi bersih tanpa asap, seakan - akan ada suatu ledakan yang menghilangkan seluruh kabut asap tebal tersebut. Dan terlihat tubuh Rayloft yang menyala terang.

"Tu... tuan Rayloft... kau... bisa sihir...?"

Eh? Sihir? Jadi itukah sihir?

"......"

Rayloft hanya terdiam seribu kata, tidak ada yang berkomentar sedikitpun tentang apa yang terjadi sekarang ini, semua terjadi begitu cepat dan tiba - tiba, tidak ada satu orangpun yang mampu berpikir jernih pada kasus seperti ini.

***

"BlackWings mengincar tuan Rayloft?!?!?"

Leila terkejut ketika mendengar berita itu sampai, kebetulan waktu itu tengah malam jadi tidak ada satupun pelayan ataupun pelanggan yang ada disana, dan aku sendiri tengah diinterogasi oleh Leila.

"Tapi... bagaimana bisa...? Kenapa mereka mengincar Rayloft juga...?"

"Entahlah, yang aku tahu mereka akan menghalalkan segala cara untuk membunuh incaran mereka, termasuk dengan menggunakan nenek - nenek sebagai anggota mereka..."

"Mustahil...."

"Dan karena aku yang telah membunuhnya, mulai besok aku akan dibawa ke persidangan dan menerima hukuman sepantasnya..."

"Tunggu apa maksudmu, Arph!!?!? Bukannya kau hanya melindungi Rayloft?!?"

"Waktu itu aku menyerang nenek tersebut hanya dengan insting... jadi tentu saja hal tersebut juga divonis sebagai sikap gegabah..."

Leila hanya terduduk lemas mendengar ucapanku, dan aku hanya bisa menatap Leila dengan tatapan kosong.

"Padahal... padahal kukira aku tidak akan sendiri lagi... kupikir kalian semua akan terus menemaniku...."

Eh?

"Selamat malam, Arphage..."

Aku terkejut mendengarnya memanggil nama lengkapku, karena selama ini ia selalu memanggilku dengan nama akrabku, ditambah aku melihat sesuatu yang agak berbeda, wajah Leila tengah dibasahi oleh setitik air, namun bukan sebuah keringat.

"Air mata...?"

***

Aku termenung di tengah kota menatap rembulan terik yang bersinar menyilaukan diantara gelap dan kelamnya langit malam ini, dan aku terus memegangi dada kiriku, yang sebenarnya tidak sakit lagi, namun aku merasakan rasa sakit yang lain didada kiriku ini, entah apa itu.

"Jadi kau ada di sini, anak muda...?"

"Rayloft?"

Rayloft dengan tenang duduk disebelahku dan ikut memandangi terang rembulan yang sama.

"Memikirkan sesuatu?"

Aku terdiam sejenak mendengar pertanyaan dari Rayloft, kemudian kembali menatap langit rembulan.

"Terlalu banyak hal yang terjadi dan yang kuketahui hari ini, aku tidak tahu darimana dan apa yang harus kupikirkan sekarang sekarang ini, semua terjadi begitu cepat dan tak terduga..."

"Biarkan aku memberikan 1 atau dua solusi dari semua kebingunganmu, anak muda. Mengingat aku tidak akan bisa berada di kota ini lebih jauh lagi..."

"Apa? Apa maksudmu?"

"Aku telah diusir dari kota ini...."

Aku terbelalak mendengar ucapan Rayloft yang tiba - tiba tersebut.

"Apa maksudmu?! Memang apa yang telah kau lakukan?!?!?"

"Sebelumnya kuberitahu dulu siapa aku ini sebenarnya..."

Rayloft berdiri, kemudian berjalan membelakangiku dan menatap langit kembali.

"Aku adalah Rayloft Nirvanne, aku adalah mantan Dewan Penasihat dari grup Order of Nirvanne yang berada di Westport..."

Order of Nirvanne, kelompok ksatria yang menganut ajaran Holy Nirvanne yang bertujuan untuk menghentikan grup Occult of Shadowlord yang bertujuan untuk membangkitkan para iblis kuno...

"Dan aku memalsukan identitasku sebagai seorang Noble dari keluarga Nirvanne dan memasuki Eremidia, hanya untuk mendekati Queen Prima...

Aku membutuhkan kekuatan kerajaan Eremidia untuk merevisi ulang Order Of Nirvanne...!

Kelompok itu sekarang sudah lebih busuk daripada para bandit atau assassin seperti BlackWings! Mereka dengan tega membunuh dan menyiksa korban - korban mereka dengan mengatasnamakan leluhur kami...!!

AKU TIDAK TERIMA ITU SEMUA...!!!!!!"

Emosi Rayloft semakin memuncak dan terlihat kebenciannya terhadap Order of Nirvanne yang sekarang.

"Namun, aku mulai menyesali kesalahanku... ketika aku bertemu dengan Leila..."

"Leila?"

"Leila... dia adalah anak yang sangat baik, meskipun ia harus kehilangan kedua orangtua dan adiknya diwaktu yang bersamaan dengan kasus utama kerajaan sekarang... dan membuatnya menyandang gelar Noble Volchrat sendirian..."

EH?!?
Apa maksudnya itu...!?!?!
Kedua orang tua Leila... dan adiknya... meninggal bersamaan dengan hilangnya raja Dynas XII?!?!?!

"Huh, dari reaksimu, kurasa kau sudah tahu kasus utama yang menimpa Kerajaan Eremidia sekarang...

Dan biar kuberitahu, semua hal menyangkut keburukan Queen Prima, adalah palsu..."

"Kenapa kau bisa yakin dengan hal seperti itu...?"

"Karena Queen Prima tidak pernah mencoba untuk memaksa mereka untuk mematuhinya. Queen Prima memang tidak mempunyai kharisma yang sama dengan King Dynas XIII, namun keteguhan hati dan harapannya untuk rakyatnya adalah asli. Tapi itu adalah pendapatku sendiri, karena orang - orang yang mendukung Queen Prima mempunyai alasan masing - masing, dan kamu sendiri sudah mendengar alasanku mendekati Queen Prima, anak muda...."


Begitukah...

Aku kurang lebih paham dengan seluk beluk kejadian yang terjadi sekarang ini.

"Tapi sekarang aku tidak bisa lagi kembali ke kota ini untuk menemani Leila kembali...."

Kemudian Rayloft memandangku dengan tatapan serius.

"Arphage! Jadilah Noble!!!"

"Eh?! Apa maksudmu...?!?!"

"Jangan berpura - pura bodoh! Kamu itu pintar dan teliti, karena kau mampu menangkap apa yang terjadi hanya dengan penjelasan singkat dari kami semua, orang sepertimu mampu mengubah Eremidia kearah yang lebih baik!!!"

"Kau... bercanda..."

Aku hanya bisa tersenyum kecut mendengar permintaan Rayloft yang terlalu besar itu, namun ia sepertinya benar - benar serius.

"Setidaknya... meskipun kau tidak bisa menjadi Noble... jangan pernah pergi dari sisi Leila..."

"Ah...!"

Jadi waktu itu dia berkata begitu karena ia tidak mau aku dan Rayloft pergi meninggalkannya.

"Untuk satu hal itu, aku berjanji!"

Rayloft tersenyum mendengar ucapanku.

"Kalau begitu, sebagai hadiah perpisahan dariku, ini untukmu!"

Tiba - tiba Rayloft mengeluarkan Lingkaran magis di tanah, dan dengan seberkas pilar cahaya yang pendek, didalamnya muncul sebuah 1 set armor dengan lambang segitiga dengan tiga cincin di tiap sudutnya beserta dengan sebuah tameng dengan kualitas yang sama.

"Itu adalah 'Armor of the Tri-Arch', konon digunakan oleh para Warrior yang melayani King Dynas tiap generasi, aku ingin kamu mengenakan armor tersebut, dan berdiri disamping Queen Prima."

"Tapi..."

"Alasan lain kenapa aku memilih untuk memihak Queen Prima, adalah juga karena aku tidak mau garis keturunan raja Eremidia digantikan oleh darah keluarga lain...
Yang pantas menyandang gelar raja adalah keturunan King Dynas itu sendiri, selain itu tidak ada lagi yang pantas!"

Aku terdiam mendengar prinsip lelaki tua yang selama ini telah membantuku dalam kondisi apapun, meski ia sendiri memiliki masalahnya sendiri.

"Akan kuusahakan...!"

***

"Nona Leila, kamu tidak terlihat baik sekali hari ini...?"

Ucap seorang pelayan yang khawatir dengan kondisi Leila, sudah 5 kali ia salah memberi pesanan.

"Ah, tidak apa - apa, aku masih bisa bekerja dengan giat!"

Meski Leila memaksakan untuk tersenyum, namun semua penghuni bar tersebut menyadari kalau kondisi Leila tidak begitu bagus hari itu. Dan tiba - tiba ada seseorang yang datang kedalam bar lagi.

"Selamat datang~!

Oh, Arphage~?! WAW Keren sekali~!"

"Eh?! Arphage?!?!?"

***

Aku terduduk sambil menikmati sandwich dan segelas susu yang disediakan oleh Leila, dan tepat disampingku Phoenix kembali menikmati daging sarapannya.

"Hei Arph~"

Tiba - tiba salah satu pelayan mendatangiku dari belakang dan meraba - raba dadaku.

"Kenapa sekarang kamu ganti pakaian formal dan keren seperti ini? Mau menggoda siapa ni~h~?"

"STACEY~! JANGAN MENGGODA PELANGGAN!!!"

"Ih Nona Leila cemburu, mentang - mentang penampilan Arphage berubah jauh dan menjadi keren~!"

"STACEY!!!"

Stacey kemudian kabur dan kembali melayani pelayan lain.

"Arph! Kamu juga apa - apaan?!?!"

"Hah?"

"ITU LHO! KAMU NGAPAIN PAKE BAJU ZIRAH SEMPURNA DARI LEHER SAMPAI TELAPAK KAKIMU BEGITU! MEMANGNYA KAMU INI JENDRAL ISTANA?!?!"

"Ini adalah hadiah dari Rayloft, kalau aku tidak memakainya, sama saja aku tidak menghormatinya..."

"Oh..."

Leila termenung kembali mendengar ucapanku.

"Tuan Rayloft... tidak akan kembali ya..."

Leila mengelus - elus Phoenix yang masih asik melahap daging - dagingnya.

"Entah, tapi setidaknya, aku bisa mengutarakan 1 hal lagi...."

"Ya?"

"Aku tidak akan pernah meninggalkanmu, meskipun aku mati, aku akan selalu ada disampingmu, Leila...."

Setelah aku mengucapkan kalimat tersebut, seluruh bar menjadi sunyi, Phoenix telah selesai meyantap dagingnya, pelayan - pelayan lain menatap Arphage dengan terkejut, begitu pula dengan pelanggan - pelanggan utamanya. Sedangkan Leila hanya mematung dengan muka merah padam merona - rona, karena terkejut dengan ucapan seorang lelaki yang tepat berada didepannya.

"Tidak... tapi... aku... aku bukan orang yang pantas kamu temani, Arph...!"

"Ya memang, meski pakaianku seperti ini, aku masih Commoner, tapi setidaknya aku akan berusaha menjadi Noble supaya bisa terus bersamamu, Leila..."

"Tu... tunggu, bukan begitu! Aku tidak bilang kalau aku tidak mau bersamamu...!"

Gerak gerik Leila semakin mencurigakan dan membingungkan, kadang ia memegang meja, kadang ia memegangi dadanya, dan terkadang ia menepuk - nepuk kan tangannya dengan halus.

"Hei..."

Aku menyentuh pipi Leila, dan sekejap seluruh wajah Leila memerah padam, kemudian membatu sesaat dan terus menatap mataku dengan matanya yang biru terang bercahaya sedemikian terang dan indahnya, namun Leila langsung memegang tanganku perlahan dan kemudian menyingkirkannya dari pipinya.

"Stacey... aku... merasa tidak enak badan... untuk sementara... kutitipkan bar ini ditanganmu..."

Leila langsung berlari menuju kamarnya yang berada dibalik dapur dilantai dua, dan aku hanya bisa terbengong melihat kelakuan Leila yang aneh.

"DAN AKHIRNYA, SETELAH 1487 Orang yang telah gagal dan ditolak oleh Leila, akhirnya orang ke 1488 berhasil meruntuhkan hati Leila yang sekeras permata itu!!!! SELAMAT KEPADA ARPHAGE!!!"

"Hah?"

Aku terbingung - bingung dengan situasiku sekarang ini, dimana pelayan - pelayan Blue Python banyak yang menyambutku dengan gembira, namun hampir seluruh pelanggan bar tersebut menyalurkan rasa marahnya kepadaku, apa yang sebenarnya terjadi aku pun tidak paham.

"Ah iya, Stacey, nanti tolong bilang pada Leila mungkin malam ini aku akan pulang sangat terlambat...."

"Eh? Kamu mau kemana?"

"Kembali ke Noble's District."

Aku berjalan keluar dari Bar dan melangkahkan kakiku menuju Noble's District, menyelesaikan apa yang kakek tua itu titipkan padaku.


The Greatness of Tentacle:
 


Requiem:
 


The Last:
 
2012-11-11, 08:33
PostRe: [StoryPlay] Eremidia : The Fragments
richter_h 
Salto Master
Hancip RMID
avatar

Kosong
Posts : 1705
Thanked : 30
Engine : Other
Skill : Skilled
Type : Developer
Awards:

Chapter 1: Assassination!

Eremidia.
Kerajaan yang konon dibangun oleh King Dynas, sekarang sudah menjadi kerajaan besar bin megah dengan kemakmuran menyebar ke seluruh penjuru kerajaan.

Seluruhnya? Tidak.

Banyak sekali intrik dan kejahatan terjadi di kerajaan dimana sang raja yang seharusnya ada di singgasana, melihat bagaimana kerajaannya sekarang, hilang. Begitu sang raja menghilang, banyak sekali yang ingin mengambil alih kekuasaan kerajaan, sampai fitnah memfitnah, bunuh membunuh, saling licik melicik, sampai umpat mengumpat sudah biasa di kalangan atas kerajaan.

Selain itu, terlalu banyak masalah sudah muncul di luar istana. Kemunculan aliran sesat, monster, dan misteri-misteri yang belum terkuak menjadikan Eremidia tidak bisa menyandang nama kerajaan yang damai.

Beberapa orang yang layak disebut dalam cerita, sekarang sedang mencari jati diri dan tempatnya di Eremidia. Tidak bisa dipungkiri juga kalau mereka adalah orang dengan bakat dan kekuatan melebihi dewa, tapi selebihnya mereka sudah masuk terlalu dalam dengan apa yang ada di kerajaan ini.

--

Terendius Dulmatin.

Dia salah satu dari dewan kerajaan yang mungkin bisa dibilang bermuka dua baik oleh rakyat maupun oleh orang-orang kalangan dewan sendiri. Terkenal dia sangat tamak, dan seringkali mengadakan pesta teler di kediamannya hampir tiap malam. Memang, kehidupan Terendius sudah berubah sejak dia menjadi anggota dewan.

Terendius dulunya adalah seorang kapten pasukan kerajaan yang ditugaskan ke Faleon, dan kembali ke Capital Town dengan kemenangan. Saatu itu, King Dynas memberikan kursi di perdewanan sebagai hadiah atas kemenangannya. Namun semua berubah ketika dia mengenal seorang gadis yang berakhir di pancungan lantaran gadis itu ternyata adalah salah satu pengikut aliran Shadowlord...

Terendius berubah. Pikirannya yang semula berorientasi rakyat dan kerajaan sekarang menjadi egois; dia hanya memikirkan dirinya sendiri. Mengadakan pesta teler hanya untuk kesenangan dia dan orang-orangnya, setengah mati dia mencari cara mendapatkan kesenangan dunia.

Cerita Terendius berubah saat malam itu, setelah pesta telernya, dia ditemukan sudah mati di kediamannya, bersimbah darah, terkapar di lantai marmer mewahnya. Semua orang di kediamannya kaget, majikannya sudah tidak bernyawa. Para penjaga kota disiagakan, mungkin saja pembunuh Terendius masih ada di kota. Semua penjaga dikerahkan untuk mencari dan mengadili pembunuh anggota dewan kerajaan. Namun, salah satu penjaga menyadari pembunuh Terendius sudah keluar dari kota.

Kerajaan berduka atas meninggalnya Terendius, namun tidak untuk rakyat Capital Town. Mereka bersyukur, orang yang memakan upeti kerajaan sudah menerima balasannya.

--

Grey. Orang-orang mengenal dia sebagai salah satu pembunuh bayaran yang sangat tangkas. Dia bekerja entah untuk siapa, entah apa tujuannya, tapi orang-orang yakin Grey melakukannya untuk kebaikan yang lebih baik lagi.

Tunggu. Orang-orang Eremidia tidak mengenalnya?
Baiklah. Aku akan menceritakan seperti apa dia.

Grey,
cukup dengan nama itu bisa membuat orang-orang seperti dicekam rasa takut, seakan-akan dia muncul dan menusuk mereka dari belakang. Dia bekerja sendiri, dan entah untuk apa dan siapa dia bekerja. Dia dikenali dengan pakaian serba gelap dan jubah abu-abu tuanya, terlihat di malam hari seperti bayangan yang melompat di bawah sinar bulan. Dia tidak ingin berhubungan dengan orang lain karena dia sadar siapapun yang dekat dengannya akan berada dalam bahaya dari siapapun, termasuk dari kerajaan sekalipun. Pisau yang sering dia gunakan untuk melakukan pekerjaannya memiliki simbol yang hampir sama dengan simbol Dark Brotherhood, namun hanya satu atau dua orang yang hidup dan menceritakannya setelah melihat pisau yang Grey hunuskan.

Setelah berhasil membereskan Terendius, Grey entah pergi kemana. Mungkin kembali berbaur dengan bayangan, atau dia pergi ke suatu tempat dimana dia bisa menenangkan diri...


| My spriteworks | deviantArt | Mark's Quest | Eremidia: Dungeon! |
Developer of:



Supporter of:


Selp-Proclaimed The Most Handsome Member of the Long Lost Glorious


Disini kalo sebagai nubi mau dikritik yang bagus2 biasanya harus ngaku cewek dulu, karena you know lah... -- Brosef numfanklewhat
2012-11-11, 11:30
PostRe: [StoryPlay] Eremidia : The Fragments
hyperkudit 
Pahlawan Super
avatar

Level 5
Posts : 2288
Thanked : 30
Engine : RMXP
Skill : Very Beginner
Type : Artist
Awards:

Chapter 5 : Howl and Meidy

Kami berlari kecil mengikuti arus air selokan ini, semakin jauh langkah kami dari tempat semula, semakin kami merasa dekat dengan pintu keluar. Kulihat anak perempuan itu berhenti disebuah persimpangan, lorong yang jauh lebih besar dari apa yang telah kami lewati sebelumnya.

“Ini saluran utama!” serunya senang, “kita sudah dekat!”

Gadis itu berbelok ke kanan, mengikuti arah air yang semakin deras. Tanpa membuang waktu akupun mengikutinya, sedikit repot memang bagi pria besar sepertiku berjalan di tepian selokan yang licin dan sempit, salah langkah sedikit maka aku akan terpeleset dan berakhir di air got berwarna hitam mengenaskan ini, dan jelas itu sangat-sangat tidak keren.

Beberapa menit berjalan dengan kecepatan yang cukup konstan, kami akhirnya sampai di ujung saluran. Raut kecewa terlihat dari wajah bocah yang beluk ku tahu namanya ini, wajar saja, setelah berjalan jauh ternyata pintu keluar saluran air ini tertutup oleh teralis besi.

“Apa ini juga ada dalam rencana brilianmu?” sindirku, membuat bibirnya merengut sebal.

Tak sampai sedetik kemudian, bisa kulihat mata suramnya terlihat berbinar, entah karena terkejut atau senang, atau mungkin keduanya, aku tidak tahu, tapi firasatku bilang ini melibatkanku.

“Paman gelandangan, cepat hancurkan benda itu!” perintahnya.

“Lakukan sendiri, aku malas!”

“Kau tidak mau keluar dari tempat ini ya?”

“Tidak terlalu,” jawabku, “Aku keluar jika aku mau, dan tidak bersamamu.”

Kudengar dia menggeram marah, lalu berjalan dengan langkah yang besar-besar kearahku. Tak kusangka anak ini berani merengut Tuan Winkle yang menggantung di sabukku, tentu aku panik dan berusaha merebutnya kembali.

“Hoo.., jadi sebegitu pentingnya kah boneka ini?” gumam bocah ini licik, senyum dan tatapannya entah mengapa membuatku memiliki firasat buruk.

“Kembalikan Tuan Winkle, atau aku akan membunuhmu!”

“Begitukah? Kalau begitu…,” gumamnyanya terpotong, seolah merencanakan sesuatu. Sesuatu yang firasatku bilang sangat jahat, sangat-sangat-sangat jahat.

Gadis itu menjulurkan Tuan Winkle keluar jeruji, melepas genggamannya dan membuatnya jatuh di genangan air yang kotor.

“Ups… ”
“Grrr!! Kau! Dasar penyihir cilik!”

Aku berlari dan langsung menendang teralis besi yang menyumbat kami berdua. Mengambil Tuan Winkle lalu membersihkannya. Tuan Winkle adalah sahabatku, lebih dari itu semua penampilannya sangatlah imut dan lucu, tempatnya bertengger di pinggangku sudah pasti sangat menunjang penampilan kerenku.

“Hehehe.., terimakasih paman, selamat tinggal!” seru anak itu

“Tunggu dulu!”

Kutarik ujung kerudungnya, membuat perempuan itu tak bisa beranjak lebih jauh lagi. Aku sudah sangat kesal, terutama ketika bocah tengik ini membuang Tuan Winkle, tak ada yang boleh melakukan itu kepadaku dan Tuan Winkle.

Kuangkat gadis itu layaknya baju yang tergantung di lemari, membuatnya meronta-ronta dan berusaha memukuliku, tapi tangannya terlalu pendek untuk menggapai tubuhku.

“Tak ada yang pernah memperlakukan seorang raja bumi seperti itu,” gumamku “Kau akan mendapatkan hukuman!”

“Kau tidak akan membunuhku bukan? Tuan Howlin Demy?”

Apa-apaan ini? Kini dia berlagak baik dan memelas, dan apa itu Howlin Demy? Yang kutahu salah satu sebutanku adalah Howling Demon, bukan nama konyol macam Demy, bukankah prajurit terakhir di dalam telah menyebutnya dengan cukup jelas?

“Hukuman mati terlalu ringan untukmu, setelah apa yang kau lakukan padaku.”

Kudekatkan wajahnya sambil berbisik, membuat ekspresi kejam demi dramatisasi suasana, ingat rule-of-cool, penampilan adalah segalanya.

“Kau akan melayaniku, menjadi budakku sampai nenek-nenek dan mati membusuk!”

“Tidak mau!!”

Bocah itu langsung menghantamkan tas coklatnya ke wajahku. Ini kali ketiga, dia merusak ketampananku tiga kali dalam sehari. Aku memang terlalu lengah karena mempersempit jarak serangan bocah itu, sehingga dia bisa memukulku, tapi kenapa lagi-lagi di wajahku?

Anak itu melompat, berusaha berlari namun belum sempat keluar dari jangkauan tanganku, aku berhasil menjitak kepalanya.

“Aww!!” jeritnya sembari memegangi bagian atas kepalanya, benjol kurasa, tapi siapa peduli? Itu salah satu hukumannya.

“Sudah kukatakan, jangan macam-macam dengan dewa, bocah tengik!”

“Dewa, dewa.., kau ini terlalu meninggikan posisimu, dasar tak tahu diri,” gerutunya, masih memegangi kepala benjol itu.

“Dasar bocah bandel! Kau jauh lebih berisik dari Salamander!”

“Hey!! Berhenti memanggilku bocah, aku juga punya nama!” bentaknya, “Panggil aku Meidy.”

“Oh, salam kenal Meidy,” gumamku seraya menyalami tangannya.

Satu detik… Dua detik… Tiga detik…

Apa-apaan ini! Seharusnya aku marah-marah dan mengomeli anak ini, bukan malah berkenalan dan menyalaminya! Otak!! Kali ini ngelanturmu sudah benar-benar kelewatan!

Mulutku mulai terbuka, hendak memberinya makian atau semacamnya, tapi mata anak itu tampaknya tidak tertuju padaku. Aku bisa melihat rasa kengerian dari matanya, sepertinya dia baru saja melihat sesuatu yang mengerikan, dan menyedihkannya itu tidak berasal dariku. Melihat itu wajar saja aku penasaran, ingin melihat apa yang dilihat si Meidy kerudung biru ini. Aku berjalan menjauhi gorong-gorong, berdiri disamping Meidy, hanya untuk melihat kepulan asap di kejauhan, kota sepertinya.

Perang, huh?

Aku tidak tahu apa yang terjadi, atau kota apa yang sedang berpesta itu, tapi sepertinya itu adalah tempat dimana aku dikurung sebelumnya. Tepatnya permukaan dari sangkarku yang memang berada dibawah tanah. Order of Nirvanne berarti, dan mungkin dua orang yang menyusup ketempatku awalnya memanfaatkan situasi itu agar dapat masuk dan mencariku. Dari keadaan yang mulai sepi dan asap tipis yang terlihat, aku hanya bisa mengira-ngira bahwa keadaan disana sudah terkendali. Tapi apa peduliku? Aku keluar hanya untuk jalan-jalan, bukan terlibat urusan manusia, lagi.

“Ayo bocah Meidy.”

Kutarik ujung kerudung anak itu, menyeretnya yang masih terpaku melihat kota itu dari kejauhan, Syok mungkin.

Aku tidak tahu kemana tujuanku, atau saat ini sedang mengarah kemana. Yang terpenting, sebisa mungkin aku tidak ingin dimanfaatkan manusia lagi, belum kuputuskan rencana kegiatanku di dunia atas kedepannya, tapi untuk sekarang, aku ingin melihat-lihat dunia yang telah lama kutinggalkan ini.
2012-11-12, 06:58
PostRe: [StoryPlay] Eremidia : The Fragments
Signus Sanctus 
Newbie
Newbie
avatar

Level 5
Posts : 69
Thanked : 3
Engine : RMVX Ace
Skill : Beginner
Type : Developer
Awards:
Chapter IV : 'Execute' - Shine Light [Part 1]

Aku berjalan menuju kearah perbatasan antara Noble District dan City's District, dan aku terus berdiri tepat didepan jembatan sebelum gerbang perbatasan tersebut. Orang - orang disekitarku menatapku dengan tatapan heran dan bingung, melihat pakaianku yang sepertinya terlihat Extravagant dimata orang - orang.

"Hoi Ar... WHOA, pakaian apa itu?!? Bisa - bisanya pakaianmu lebih keren daripada kami para Languard!!"

Tak lama kemudian datanglah Rudolf, seorang Languard rank atas yang memiliki pengaruh cukup tinggi diantara para noble, meski posisinya dengan Queen Prima tidak terlalu dekat.

"Jadi, bagaimana dengan permintaanku? Bisakah kau menyanggupinya?"

"Bukan masalah bisa apa nggaknya sih..."

Rudolf kebingungan dengan permintaan yang kuajukan lewat surat yang kukirim dengan bantuan Phoenix, meski aku tak menyangka kemampuan Phoenix sebagai kurir pengantar surat sangat bagus, karena mampu melacak orang sejauh apapun dengan hanya mencium aroma orang yang sama. Dan tentang isi surat tersebut, aku meminta Rudolf untuk mencarikan cara agak aku dapat berinteraksi dengan Queen Prima, mendapatkan kepercayaannya, dan menjadikanku seorang Noble.

"Tapi dimasa seperti ini, permintaanmu itu hampir mustahil, Arphage! Aku memang berhutang budi padamu, tapi kalaupun ini bukanlah sesuatu yang bisa kulakukan, aku tak bisa melakukannya!"

"Aku paham itu, tapi setidaknya aku ingin mencari cara agar aku bisa berinteraksi dengannya."

"Tapi kau sendiri sudah paham kan posisiku dengan kerajaan itu seperti apa!?"

Ya, karena posisi para Languard yang netral, alias tidak berpihak kepada baik Lordic maupun Kingdom, mereka sama sekali tidak bisa berinteraksi bebas dengan salah satu dari kedua belah pihak tersebut.

"Dan kau tidak mau menjadi anggota Languard, benar - benar deh, memangnya apa yang membuatmu harus melakukan ini semua?"

"Bisa dibilang aku berhutang budi pada seseorang, dan aku ingin menjalankan pesan terakhirnya sebelum aku tidak bisa melakukan apapun sama sekali."

"Hrmm....!"

Rudolf mencubit dahinya dan memejamkan matanya, ia sama sekali bingung dengan apa yang harus ia lakukan.

"Ah iya, kemarin kalau tidak salah kau berhasil menggagalkan kematian seorang Noble dari para BlackWings kan?"

"Ya, memangnya ada apa dengan itu?"

"Aku memiliki 1 permintaan yang ditujukan untuk para elites Languard dari para Order of Nirvanne, dan dilihat dari konten permintaan tersebut, bisa dibilang tingkat kesulitannya sama diluar akal sehatnya dengan permintaanmu..."

Aku hanya mendengarkan ucapan Rudolf dengan seksama, akhirnya ada jalan yang terbuka untukku memenuhi permintaan Rayloft.

***

"Tunggu sebentar, apa - apaan ini semua?!?!?"

Bentak seorang wanita berambut hijau dengan armor yang cukup tipis dan luwes tersebut terhadap seorang agen Order of Nirvanne yang tengah dikerumuni oleh beberapa orang, dan yang dimaksud dengan beberapa orang di sini adalah mereka yang memiliki nama - nama khusus dalam ranking mereka semua.

"Bagaimana kau bisa dengan beraninya meminta kami, Pucelle's Lancette, untuk datang membantu kalian sementara kalian sendiri sudah memanggil para Languard dan Mercenary lain kemari!?!?!?"

"Sudahlah mbak~, jarang - jarang kita bisa bertemu dalam satu misi sama - sama seperti ini~!"

Ucap Rudolf bercanda terhadap wanita tersebut.

"JANGAN SEMBARANGAN BERBICARA DENGANKU, PRIA TENGIK!"

"APA?!?!"

Rudolf sepertinya cukup syok dipanggil pria tengik oleh wanita tersebut, namun ia sama sekali tidak membalas perkataan wanita tersebut.

"Dan untuk membuat kondisi tambah parah, aku tak menyangka kau akan membawa 1 orang civillian ke tempat ini, belum lagi perlengkapannya yang super lengkap itu, kamu mau sok pamer mentang - mentang kamu sudah punya perlengkapan mewah seperti itu, hah?!"

Ucap wanita itu bengis menatapku dan perlengkapanku, memang tidak seharusnya commoner sepertiku berada di tempat seperti ini, tapi aku tidak perlu membalas ucapan wanita tersebut.

*BRUK

"Awch!"

Tiba - tiba seorang gadis mungil terjatuh tepat berada didepan kami beserta seorang gadis yang berpakaian lengkap siap berperang.

"Ayolah Sophie, kau harus lebih berhati - hati lagi lain kali...!"

"Maaf kak..."

"Kamu... Cassandra Albinov?"

"Salam kenal juga, Elicia Klavrein, Striker Force dari kelompok Pucelle's Lancette, dan aku juga berterima kasih kepada kalian yang mau datang kali ini atas permintaanku terhadap jendral Vervent Hyrule, Striker Force dari Order of Nirvanne, Rudolf Einhart, Striker Force dari Languard, dan kedua mercenary yang jauh - jauh datang dari Faleon dan Algeus, Omnigauld dan Gramveir."

Cassandraa Albinov, ia terkenal sebagai noble yang paling anggun dan ramah dari para noble yang terdapat di Eremidia karena kelembutan hatinya yang mampu menyadarkan bahkan pembunuh paling keji sekalipun, dan ia juga memiliki panti asuhan dimana ia mengasuh banyak anak - anak yang sudah tidak punya orang tua, ia juga memiliki teknik pedang yang cukup anggun yang mampu menjatuhkan musuhnya tanpa melukai mereka sedikitpun, memberinya gelar "Pure Maiden".

"Dan maaf, anda, pria berambut merah dengan perlengkapan lengkap, aku tidak mengenal anda sama sekali..."

Semua orang yang ada disini selain Rudolf menatapku dengan sinis, sama sekali tidak mengharapkan keberadaanku di sini karena rankingku yang sama sekali tidak jelas di tempat ini.

"Namaku Arphage, dan untuk sekarang ini, biarkan aku menggunakan wewenangku untuk menyandang gelarku sebagai Rayloft's Ambassador."

Dan mendadak semua orang yang ada di tempat tersebut terkejut mendengar nama orang tersebut, sebagai seorang Noble yang telah terusir dari Eremidia, namun memiliki pengaruh yang cukup besar baik dari Westport, Faleon, dan tempat lainnya.

"Aku mengerti, armor itu memang sepantasnya dimiliki oleh perwakilan dari sang 'Holy's Blessing' Lord Rayloft Nirvanne."

Dan gadis itu kemudian tersenyum lega setelah mendengar nama tersebut, dan terlihat semua orang yang ada di sekitarku termasuk Rudolf terbengong - bengong dengan klaimku sebagai Ambassador dari Rayloft.

"Hei kau, apa memangnya hubunganmu dengan Lord Rayloft?!?"

"Kau bisa menganggap aku sebagai pewarisnya."

Aku menunjukkan magic crest yang tertanam di balik Tri-Gauntlet yang sedang kukenakan tersebut, dan terlihat lambang sihir yang persis dengan lingkaran sihir yang dimiliki Rayloft.

"Hmph, memangnya kenapa jika kau adalah Ambassador dari Lord Rayloft, belum tentu kau berguna di medan perang~!"

Elicia memalingkan wajahnya kecut dan kesal.

***

Kami semua diantarkan menuju sebuah Barrack tempat para tentara menyusun strategi, namun formasi kami kali ini bukanlah formasi peperangan, melainkan...

"Barricade?!? Hanya dengan 6 orang ini saja!?!? Anda bercanda, Lord Alquerio!!!"

Rudolf mengutarakan komentarnya terhadap Alquerio, ia adalah seorang noble yang kehadirannya dipenuhi misteri, selain karena ia memakai topeng, ia juga jarang sekali bicara kecuali memang perlu.

"Vervent..."

"Waktu itu kami telah mengirimkan 1 batalyon kami untuk menghalau penyerangan tersebut..."

Kemudian Vervent terlihat mengepalkan tangannya karena kesal.

"Dan satu batalyon kami tersapu bersih oleh mereka..."

Semua orang terkejut mendengar laporan Vervent yang tak terduga tersebut, bisa - bisanya 1 batalyon Order of Nirvanne musnah begitu saja.

"'Genova'... mereka adalah kelompok pembunuh kecil yang hanya terdiri dari 6 orang member saja, namun tiap orang memiliki kemampuan khusus yang tak bisa diterka siapapun."

"Dan yang membuat kondisi makin parah, pemimpin mereka, Hail, adalah orang yang telah melakukan ritual Dark Arts dan mendapatkan kekuatan Underworld, dia sudah bukan lagi manusia..."

Dan alasan mereka menyerang desa JillBerry ini, tempat yang tidak mempunyai hal berarti untuk diculik ataupun kota yang populasinya tidak terlalu bagus adalah....

"Dan mereka dengan kejinya menyatakan akan membunuh semua anak - anak yang ada di panti asuhan Cassandra...?"

Elicia menutup mulut dan matanya mencoba menahan rasa kesal dan tangis atas kekejian Genova tersebut. Kemudian Alquerio berdiri dan menaruh tangannya dimeja.

"Karena itu aku mengutus kalian berenam disini, untuk mencegah kasualitas yang lebih besar lagi dan mengakhiri kekejaman para Genova hari ini juga!!"

"SIAP!!!"

Kami semua serentak menyahut perintah dari Alquerio, dan akhirnya mereka semua sepakat untuk menyusun strategi pertarungan.

***

Beberapa jam sebelum waktu yang ditentukan, Arphage sedang berada di sebuah ruang keluarga yang sangat luas dipenuhi dengan anak - anak yang tengah bermain dengan bahagia dan girangnya bersama Sophie.

"Kamu tidak bersiap - siap, Arphage?"

Cassandra tiba - tiba muncul dibelakangku dan mulai duduk tepat disebelahku.

"Tidak perlu, perlengkapanku sejak awal hanyalah armor, tameng, dan pedang ini, aku tidak membawa apapun lagi."

"Lalu apa yang kamu lakukan di tempat seperti ini?"

"Melihat mereka...."

Aku terus menatap kerumunan anak - anak yang tengah menjahili Cassandra dengan memain - mainkan rambutnya dan menarik - narik bajunya membuat Sophie kalang kabut.

"Akan sangat menyedihkan jika senyum mereka menghilang dari dunia ini..."

"... Ya... kamu benar sekali, Arph..."

***

"Disini Rudolf, aku sudah sampai pada 'checkpoint' yang telah ditentukan."

"Disini Elicia, tidak ada pergerakan mencurigakan sama sekali didaerah ini."

"Di sini juga tidak ada tanda - tanda Genova..."

"Hey Omni, sebutkan namamu sebelum berbicara! Disini Gram, aku belum menemukan tanda - tanda kehidupan satupun."

"Vervent disini, mereka akan datang dengan tiba - tiba tanpa pertanda apapun, bersiap siagalah kapanpun."

"Siap!"

Kami semua berkomunikasi lewat Fairy Comm yang telah dipanggil oleh Alquerio, Alquerio memiliki kekuatan sihir yang cukup tinggi yang mampu membuat kami berbicara satu sama lain dari jarak yang sangat jauh sekalipun.

"Mereka mempunyai scroll yang membuat mereka mampu melakukan teleportasi jarak pendek darimanapun menuju kearah manapun, jika kalian sudah mendeteksi adanya pergerakan segera bersiap - siaga karena mereka bisa saja bergerak tepat dibelakang kalian."

*DEG!!!

"Eh?"

"Ada apa, Arphage?"

Tanya Elicia mendengar reaksiku yang aneh.

"DISINI GRAM! AKU MELIHAT SEKILAS PERGERAKAN DARI ARAH HUTAN! MEREKA SUDAH DEKAT!!"

"Disin Alquerio, kalian semua, siapkan senjata kalian!"

Mendengar peringatan Gram, semua orang langsung menyiapkan senjatanya. Dan tiba - tiba...

*BWUUUUUUUNG

Sesosok bertubuh kekar mengerikan dengan pedang pendek yang cukup lebar muncul dihadapan mereka semua.

"EN GARDE!!!!!"

Rudolf, Elicia, Omnigauld, Gramveir, dan Vervent langsung menyerang orang yang ada didepan mereka masing - masing.

*DEG!

"Mu... mustahil...."

Aku hanya bisa syok membatu sejenak melihat sekitarku sama sekali.

*DEG!!!

"Ada apa, Arphage!?!?!"

"Arph!?!?"

Sophie ikut berteriak mendengar reaksiku yang tidak wajar.

*DEG! DEG!

Aku dapat merasakannya, rasa tidak mengenakkan yang terus bergejolak dalam dadaku ini, perasaan ini dapat kurasakan datang dari 6 arah yang berlainan satu sama lain. Namun, tidak ada satupun sumber perasaan itu yang tepat berada didekatku.

"SIAAAAAAAAAAAAAAAAL!!!!!!"

Aku berlari kembali menuju desa, dengan kecepatan penuhku dan mengabaikan semua perintah dan teriakan yang ada ditelingaku. Aku terus berlari dengan panik, tidak bernapas sama sekali, dan terus melihat kearah desa dengan perasaan kacau balau tak tentu, ngeri membayangkan apa yang akan terjadi. Perasaan tidak mengenakkan itu, berasal dari tengah desa


The Greatness of Tentacle:
 


Requiem:
 


The Last:
 


Terakhir diubah oleh Signus Sanctus tanggal 2012-11-12, 09:34, total 1 kali diubah
2012-11-12, 09:27
PostRe: [StoryPlay] Eremidia : The Fragments
hyperkudit 
Pahlawan Super
avatar

Level 5
Posts : 2288
Thanked : 30
Engine : RMXP
Skill : Very Beginner
Type : Artist
Awards:

Chapter 6 : Under the Moonlight

Meidy tampak terus meronta-ronta setelah lama ku seret, kulepaskan cengkramanku, membuatnya suara napasnya terdengar lebih lancar, sedikit terengah kurasa. Bisa kulihat dia memegangi lehernya, sepertinya tercekik kain kerudungnya sendiri. Sedikit puas aku melihat manusia teraniaya seperti itu, kuanggap ini untuk menunjukan siapa bosnya disini.

“Apa yang kau lakukan!” bentaknya “Aku bukan binatang!”

“Ya.., tapi kau budak ku.”

“Kenapa aku harus menjadi budak mu?” teriaknya gusar, kurasa dia tidak setuju dengan keputusanku.

Kubungkukan tubuhku, agar wajahku bisa sejajar dengan kepalanya. Mulai membisikan sesuatu agar membuatnya sadar bahwa posisinya berada dibawahku saat ini.

“Karena aku berkata demikian, berandal cilik!”

“Memangnya apa yang membuatmu sok berkuasa seperti ini?”

“Aku adalah dewa, berkuasa adalah takdirku!”

Gadis itu menggeram, lalu memasukan tangan kecilnya kedalam tas coklat yang selalu dibawanya. Mencari sesuatu kurasa, mungkin untuk mematahkan kata-kataku.

“Gembel sepertimu tidak pantas menjadi bos!” bentaknya sembari mengeluarkan kantung merah bertali emas, “Aku punya uang, akulah bosnya! Kau pelayanku!”

Kurebut kantung itu dari tangannya, melihat isinya hanya membuatku tersenyum remeh. Inikah yang membuatnya merasa bisa berkuasa? Lembaran kertas bergambar dan koin-koin perak? Menyedihkan sekali.

“Bagaimana kau bisa berkuasa dengan benda-benda ini, idiot?” cibirku.

“Kau pikir dengan apa aku akan membayar seorang pelayan, bodoh?” balasnya ketus.

“Dengan jiwa mereka?” tanyaku.

“Bukan! Kau benar-benar.. grrr!!”

Entah apa yang salah dengan kata-kataku, tapi bocah ini benar-benar terlihat frustasi. Pikirku sekarang budak-budak sudah tidak dibayar dengan pengampunan terhadap nyawa mereka lagi. Menyedihkan memang, selama 500 tahun aku ketinggalan informasi dan perkembangan jaman, membuatku merasa seperti manusia gua yang muncul di era modern.

*****

Dibawah sinar bulan, kami menyusuri jalan-jalan setapak di hutan yang tidak terlalu rindang, beberapakali kulihat bocah itu bergidik ketika mendengar suara burung hantu, atau melihat sekelibat kelelawar yang melintas di pepohonan.

Lelah, bocah itu akhirnya memutuskan beristirahat di tanah terbuka, duduk di sebatang kayu tumbang. Kebetulan aku juga sedang ingin buang air, belum kulakukan sejak seharian ini.

“Eh? E-eh? Apa yang akan kau lakukan!” teriaknya ketika aku mulai mengendurkan tali di pinggangku. “Kau maniak! Aku baru 12 tahun!”

“Kau pikir apa? Aku mau pipis,” balasku santai.

“Ekh? M-menjijikan! lakukan itu ditempat lain!”

“Kau ini hanya bocah ingusan, apa yang perlu ku khawatirkan?”

“Walau begitu aku juga perempuan dasar kau bodoh!”

Aku memasang ekspresi sebal, bahkan untuk kencing saja dia mengomeliku macam-macam. Di sangkar menyedihkan itu, bahkan justru si Saint Maidenlah yang kabur ketika aku beranjak buang air.

“Whoa… Deras sekali!” seruku.

“Lalalalalala.. aku tidak dengar, tidak dengar!”

Aku menoleh kebelakang, Meidy memunggungiku sambil terus menutupi kupingnya. Tetes terakhir jatuh ketanah, melegakan rasanya setelah seharian menahan itu. Kurasa aku akan melanjutkan perjalanan ini.

“Ey, paman Demy, kau lihat itu tadi bukan?” tanyanya pada akhirnya, “Kenapa kau malah menjauh?”

“Hentikan sebutan konyol itu, jika kau mau memanggilku dengan julukan itu, panggil saja aku Howl!” seruku, “Dan berhenti memanggilku paman.”

Setidaknya Howl jauh lebih keren daripada Demy yang justru membuatku terdengar seperti orang lemah atau binatang peliharaan.

“Ya.. yaa, tapi kau lihat itu bukan?”

“Tentu saja aku melihatnya!” seruku, “Aku harus memegangnya jika mau pipisku terarah.”

“Bukan itu bodoh!!” teriak Meidy, bisa kulihat wajahnya memerah.

“Yang kumaksud itu yang terjadi pada kota Westport,” tambahnya.

“Hoo.., jadi namanya Westport? Aku baru tahu.”

“Aku tidak mendengar ada pertikaian atau konflik sebelumnya disana,” gumamnya lirih, “jadi itu mungkin hanya kebakaran biasa.”

Aku tidak terlalu peduli dengan apa yang terjadi, tapi penjelasannya membuatku ingat beberapa hal, hanya hal-hal sepele, tapi tetap saja membuatku penasaran.

“Omong-omong, bagaimana kau bisa bertemu orang-orang yang membawamu padaku?”

“Eh? Benar juga! Penjahat-penjahat itu!” geramnya, “Mereka menculikku ketika sedang bertugas!”

“Tugas, huh? Anak ingusan sepertimu memangnya memiliki tugas apa?”

“Hey.., begini-begini aku ini petugas pengantar pesan resmi, kau tahu?”

“Pfft.., tukang pos kecil yang berlagak sok jagoan!” ejekku.

“Itu jauh lebih baik dari gelandangan yang menganggap dirinya dewa.”

“Pikirmu pekerjaan tukang pos membuatmu pantas menjadi bos?”

“Bercerminlah!” suruhnya, “Bahkan orang buta bisa tahu siapa yang lebih pantas menjadi pelayan!”

Aku ingin terus berdebat dengan anak tak tahu diri ini, tapi suara di semak-semak mengalihkan perhatianku. Binatang? Manusia? Aku tidak tahu, tapi aku tahu kalau mereka sudah sedari tadi berada disana.

Kurenggangkan otot-ototku, lalu berjalan kearah semak-semak tersebut. Menyibaknya dan memperlihatkan dua sosok anak muda yang bersembunyi di balik tanaman lebat.

“Apa yang kalian lakukan, orang rendahan?”

Kutatap mata menyedihkan mereka tanpa menundukan kepala, melelahkan memang, tapi ini membuat penampilanku lebih angker. Bisa kulihat mata-mata ketakutan mereka, tersorot sinar bulan, yang jantan tampak terluka. Entah apa yang terjadi sebelumnya, tapi jelas sekali bahwa mereka bersembunyi dari sesuatu.
2012-11-12, 09:38
PostRe: [StoryPlay] Eremidia : The Fragments
Signus Sanctus 
Newbie
Newbie
avatar

Level 5
Posts : 69
Thanked : 3
Engine : RMVX Ace
Skill : Beginner
Type : Developer
Awards:
Chapter IV : 'Execute' - Shine Light [Part 2]

"UWOOOOOOO!"

Rudolf langsung melayangkan senjatanya kearah Genova yang tepat berada didepannya, namun dengan mudahnya ditepis oleh orang tersebut dan mementalkan senjata Rudolf, yang memiliki panjang 2x tubuhnya sendiri dan memiliki ujung yang tajam, sebuah spear yang sangat panjang dan lebar.

"Damn!"

Selesai menepis, Genova itu langsung menyerbu masuk dan menerjang Rudolf, namun Rudolf langsung dengan sigap menarik senjatanya dan menghindari serangan yang ditujukan terhadap lehernya.

"Makan ini!!"

Rudolf mengayunkan spearnya kearah Genova dengan ayunan samping, namun lagi lagi ditangkis dan kembali melakukan Counter-Slash, yang berhasil dihindari oleh Rudolf.

*FWITTT!!!!

Dan berhasil melukai leher Rudolf, meski tidak fatal.

"Brengsek, belum pernah aku mendengar pembunuh yang ahli menggunakan teknik 'Counter-Slash seperti itu..."

Rudolf langsung menjauhkan jaraknya dari Genova, namun Genova tersebut langsung maju menerjang Rudolf.

"HAH!!!"

Dan dalam sekejap Rudolf langsung menusukkan tombaknya menuju Genova.

*CRANG!!!

Namun ternyata tusukan itupun berhasil ditahan oleh Genova, meski serangan itu tetap membuat Genova terpental agak jauh dari Rudolf.

"Heh~!"

Rudolf langsung menekan sebuah tombol, dan mendadak ujung moncong tombak itu terbuka, memunculkan sebuah laras peluru yang cukup besar.

"MAMPUS KAU!!!!"

Dan menembakkan peluru itu langsung menuju Genova

*BLAM!!!!!!!!!

*BLLARRRRRRRRRRRRRRR!!!!!!

Terlihat sebuah ledakan besar hasil tembakan Rudolf tepat mengenai Genova tersebut.

"Heh... Eh?!?!?"

Mendadak sebilah pedang terlempar kearah kepala Rudolf, namun...

*CRASH!!!!

Langsung mengenai pundak Rudolf, ia berhasil menghindari serangan mendadak dari Genova tersebut.

"Masih hidup!?!?!"

Rudolf langsung mengisi Gun-Lance nya dengan satu peluru mesiu lagi, namun ketika asap - asap tersebut mulai memudar, terlihat sosok Genova yang sudah kehilangan tangan kirinya dan setengah kepala dan badannya, namun tetap berdiri tegak dengan tangan yang menunjuk kearah Rudolf, selesai melempar pedang tersebut.

"Hidup untuk membunuh, dan mati dengan membunuh... sungguh prinsip yang gila... Tapi kau salah ketika telah berhadapan denganku, 'Piercing Flame' Rudolf Einhart!"

Rudolf mengecilkan tombaknya lagi dengan segel sihir dan mengalungkannya lagi.

"Rudolf! Kau sudah selesai disana?!?!"

"Ada apa, Lord Alquerio?!?"

"Segera kembali ke desa, rekanmu Arphage...!!!!"

"EH?!?!?"

***

"ugh!"

*CLANG! *KLANG! *CTRANG!!!

Elicia terlihat panik menahan serangan pedang jarak pendek yang terus dilancarkan Genova dengan bertubi - tubi, meski badannya sangat besar. Spear milik Elicia memang cukup panjang dan tajam untuk melancarkan serangan menuju Genova tersebut, namun terlihat kalau spear tersebut tidak cocok untuk digunakan sebagai media pertahanan.

"Apa - apaan orang ini...! Serangannya akurat dan cepat, jika aku melewatkan pertahananku sedikit saja, entah jantungku, nadiku, leherku, ataupun kepalaku, akan segera menjadi mangsanya...!"

Gumam Elicia terus menangkis serangan demi serangan yang dilancarkan oleh Genova

*CLANG! *KLANG! *CTRANG!!!

"Mmmh!!!!"

*SYATT!!

Terlihat serangan - serangan Genova tersebut mulai menyerempet Elicia, dilihat dari bekas luka yang berada ditangan sekitar nadinya, lecet di sekitar armornya, dan beberapa luka sayatan di muka dan leher.

"SUDAH CUKUP!!!"

*BLARR!!!

Dalam sekejap, Elicia mengeluarkan Magic Crest yang memenuhi seluruh tubuhnya, mementalkan seluruh serangan Genova dan membuatnya terpental cukup jauh dari Elicia.

"Brengsek, dasar pembunuh brengsek... berani - beraninya kamu memaksaku mengeluarkan kekuatan penuh...!"

Elicia langsung mematahkan lembing nya menjadi dua, kemudian merapalkan sebuah mantra sihir.

"Grâce à la puissance de Tri-Arch, je vous accorde le pouvoir d'absolu, peut accepter ton âme ma bénédiction."

Dalam sekejap kedua bilah lembing yang patah itu berubah menjadi 2 bilah pedang dengan 3 ujung pedang yang tajam.

"WUOOOO!"

Namun dalam sekejap Genova langsung menerjang menuju Elicia tanpa ragu, namun.

*CLANG! *KLANG! *CTRANG!!!

Kali ini Elicia mampu menahan serangan demi serangan yang menuju kearahnya dengan lancar, ia bahkan mampu mendorong balik Genova tersebut dan memaksanya bertahan, dan terlihat ketidakmampuannya dalam bertahan sama sekali.

"TRIDENT BLADE!!!!"

*CRASH!!!!!

Dan dalam sekejap Elicia membelah badan Genova itu menjadi 3 bagian, membuatnya mati seketika.

"fuuh...."

Kemudian Elicia menyambungkan kedua pedangnya lagi, dan seketika itu juga kedua bilah pedang itu berubah menjadi Spear dengan bentuk yang sama seperti sebelumnya.

"Aku tak menyangka aku akan diserang oleh orang yang mampu menyerang dengan kecepatan tinggi seperti itu..."

Elicia memegangi badannya yang agak perih karena serangan bertubi - tubi dari Genova barusan.

***

"GUOOOOOOOOOOO!!!!"

*JRANG!!!!

Adu kekuatan terus terjadi antara Omnigauld, yang tengah memakai sarung tangan besi yang cukup keras, besar, dan tebal itu, dengan Genova yang menggunakan pedang yang diselimuti dengan sihir hitam yang membuat pedangnya menjadi sangat keras.

"ORAAAAAAAAAAA!!!"

Karena badan Genova yang besar, ia tidak mampu bergerak secepat Genova lainnya, namun ia mampu menahan serangan Omnigauld yang sama besarnya dengan Genova tersebut dan menangkis tiap serangan bertubi - tubinya dengan sebilah pedang hitamnya.

*JRANG!!!! *JRANG!!!! *JRANG!!!! *JRANG!!!! *JRANG!!!! *JRANG!!!! *JRANG!!!!

Sekilas kekuatan mereka berdua terlihat sangat imbang, tidak ada satu orangpun yang menyangka ini akan berakhir, namun.

******!!

Terlihat jelas adanya retakan di Gauntlet yang tengah dipakai Omnigauld, dan melihat kesempatan itu, Genova melancarkan serangannya lebih kuat lagi.

*JRANG!!!! *JRANG!!!! *JRANG!!!! *JRANG!!!! *JRANG!!!! *JRANG!!!! *JRANG!!!!

*CRAK! *****!!!!

Retakan itu terus melebar dan memenuhi seluruh gauntletnya.

"MUOOOOOOOOOOOOOO!"

Genova itu melancarkan serangan mengayun tepat menuju bahu Omnigauld, dan...

*PRAK!!!!!!!!

Terlihat Gauntletnya mulai pecah berkeping - keping tanpa sisa ketika Gauld mengangkat tangan kirinya untuk menangkis serangan Genova, Gauld terlihat syok dengan apa yang Genova itu lakukan.

"MUO...!"

******!

Namun terlihat di pedang Genova itu kali ini sebuah retakan yang sangat lebar, yang akan membuat pedang tersebut langsung patah jika diayunkan sekali lagi.

"Cih, ini pertama kalinya ada orang yang bisa menembus 'First Layer' dari 'Allmächtig' ku...!"

Dan dengan tangan kanannya, Gauld langsung menyerang perut Genova tersebut.

*JRASHHHH!!!

Dan membuat tubuh bagian bawah Genova tersebut hancur belebur tanpa sisa, menyisakan dada, kedua tangan dan kepala saja. Tubuh tak berkaki itu langsung terjatuh dengan darah yang muncrat dimana - mana beserta serpihan - serpihan organ dalamnya yang ikut hancur bersamaan dengan itu semua.

"Kuharap misi kali ini bayarannya besar, akan memakan biaya yang sangat mahal untuk memperbaiki ini semua...!"

***

*GREP!!!

"UGH!?!?"

Terlihat kaki Gram tengah tertangkap oleh Genova yang tidak menggunakan senjata apapun, atau lebih tepatnya, kedua senjata itu sudah hancur karena Gram menggunakan sebuah pedang besar yang cukup tebal yang mampu membelah tanah itu sendiri. Namun kali ini Gram menjauh dengan panik dari Genova tersebut, setelah ia mencoba menyerang Genova, namun ternyata pedangnya tidak mampu membelah badan makhluk tersebut, aura - aura hitam yang menempel di makhluk itulah penyebabnya. Dan akhirnya Gram tertangkap olehnya dan...

******!!!

"AAAAAARGH!!!!!"

terdengar bunyi yang menyakitkan keluar dari kaki Gram, dan setelah Genova itu melepaskan genggamannya, Gram langsung menjauh dari Genova tersebut. Terlihat kakinya sudah tidak lurus lagi dan Gram hanya bisa berdiri dengan 1 kaki, ditopang oleh pedang besarnya.

"Sial, aku tak menyangka ada hal seperti itu... Andaikan saja sekarang ini OmniGauld ada disampingku..."

Lelaki berambut panjang yang cukup dandy itu mulai meringis karena rasa sakit yang bukan main dari kaki kanannya yang dipatahkan dengan mudah oleh Genova itu.

*BRUG *BRUG *BRUG *BRUG *BRUG *BRUG

Kemudian Genova itu mulai menyerbu dengan brutal, seperti seekor banteng yang siap menyerbu mangsanya.

"IGH!!!!"

Gram langsung menghindar, namun tangan kirinya sempat terserempet serudukan Genova tersebut.

"GAH!!!"

Dan entah kenapa, tiba - tiba tangan kirinya membengkak kebiruan, tidak bisa digerakkan sama sekali.

"Ugh... GURHK...!!!"

Kakinya lumpuh, tangan kirinya pun lumpuh, kali ini Gram benar - benar dalam kondisi yang tidak bagus.

"Cih... benar - benar makhluk sialan..."

Kemudian makhluk itu mulai menyeruduk lagi, tanpa membiarkan Gram beristirahat dan menambahkan kecepatannya, membuat Gram tidak yakin apakah ia bisa menghindar atau tidak.

*CRAKK!!!

Gram menancapkan pedang besarnya kedalam tanah sedalam - dalamnya, kemudian mengucapkan mantra lain.

"Spada l'Onnipotente, concedimi la tua forza senza precedenti, perché io ho sacrificato due dei miei arti, Che la benedizione del vostro concesso su di me"

*BLING!!!!!!

Sebilah cahaya keluar dari balik pedang itu saat Gram menarik gagang pedangnya, meninggalkan mata pedangnya tetap tertancap ditanah, dan setelah menariknya sepanjang - panjangnya, Gram langsung menyiapkan posisi menebas.

"LUCE SPADA!!!!!"

*BWEEEEETTTT!!!

Pohon - pohon yang berada didepan Gram mulai rontok satu persatu, dan bersamaan dengan rontoknya pohon itu, Genova yang sejak tadi terus maju menerjang Gram akhirnya terjatuh, namun yang jatuh hanyalah kaki dan pinggangnya saja, badan bagian atasnya sudah terjatuh duluan dibelakangnya sebelum ia menyadari bahwa ia telah terbelah dua.

"Ufh..."

Gram Memasukkan pedang cahayanya kembali kedalam mata pedangnya.

"Ugh... Gauld... boleh aku minta tolong untuk menjemputku disini...? Aku tidak bisa bergerak sama sekali..."

***

"UWOOOOOOOH!"

Vervent terus menyerbu Genova tersebut dengan Magic Missile nya, namun nihil, semua misil sihir itu ditebas oleh Genova itu dengan pedang anti sihirnya.

"Brengsek, pedang anti sihir bukanlah hal biasa, tapi dia yg mampu menebas semua sihirku..."

Vervent kemudian menyiapkan sihir lain di tangan kanannya, kemudian melepaskannya menuju Genova.

"Thunder!!!"

Melepaskan sihir petir secepat cahaya, namun...

*BWETSS!!!

Ditebasnya dengan mudah oleh Genova tersebut.

"Cih...! Bagaimana aku bisa menembus pedang tersebut..."

Namun tiba - tiba Genova itu menghilang dari pandangan Vervent.

"Eh?"

*CRASH!!!!

Dan mendadak tangan kanan milik Vervent lepas dari tubuhnya, dan mengeluarkan banyak sekali darah.

"AAAAAAARGH!!!!!"

Vervent langsung bergerak menjauhi Genova tersebut, namun terlihat Genova itu tidak mengejar Vervent sama sekali.

"Ugh... gah...!!"

Vervent dengan panik menutup lukanya dengan sihir penyembuhannya, dan tak lama kemudian akhirnya Genova tersebut bergerak kembali.

"Ufh.... sekarang aku mengerti..."

Vervent kemudian menyerang Genova itu dengan membabi buta, namun seperti biasa, Genova itu terus menebas semua misil sihir yang datang kearahnya.

"CHARGE!!!"

Dan ketika Vervent tengah menyiapkan sihir besarnya, Genova itu kembali menghilang, dan...

*CRASH!!!

Membelah tangan kiri Vervent.

"UWAAAAAAAAAAAAAAAAAARGH!!!!!!"

Vervent berteriak dengan sangat keras, dan kini kedua tangannya telah menghilang, tidak ada lagi yang ia bisa lakukan...

*ZLEBB!!!!!

Darah mengucur sangat deras, mengalir membasahi tanah, darah yang sangat banyak, berasal dari satu sumber, dan membasahi prajurit berpakaian putih rapi itu. Kini didepan sosok Vervent terlihat mangsanya tengah kehilangan kepala dan kedua lengannya, ditambah dengan berlubangnya dada kiri Genova tersebut, dan keluar banyak darah dari Genova tersebut.

"Conjuration, Sword Arm, Multiple Blade...."

Terlihat tangan kanannya yang baru saja putus, membentuk sebuah lengan dengan 4-5 bilah pedang yang terbuat dari sihir, membelah tubuh - tubuh Genova tersebut sesaat setelah Genova itu menyayat kedua lengan Vervent.

"Jangan remehkan aku, Vervent Hyrule, seorang Striker Force dari Order of Nirvanne... menyihir tanpa tangan... adalah bakatku untuk bisa mencapai ranking ku sekarang ini..."

Vervent kemudian tertunduk lemas selesai mengalahkan musuh yang ada didepannya.

***

"Arphage!! Jawab, kenapa kau meninggalkan posisimu Arphage?!?!?"

"Lord Alquerio, ada apa dengan Arph?!"

"Dia mendadak meninggalkan posisinya!"

"Eh? Kena..."

"LORD ALQUERIO!!!! DIA DATANG!! GENOVA DATANG!!!!"

Disaat Alquerio dan Cassandra panik saat Arphage meninggalkan posisinya, seorang prajurit Order of Nirvanne datang dan melaporkan hal yang lebih mengejutkan

"APA?!?! APA MAKSUDMU?!?!"

"Tiba - tiba orang itu muncul dibelakang para prajurit kami, dan memaksa kami untuk bertarung satu lawan satu dengan mengeluarkan ruangan hitam yang mencegah orang lain memasuki ruangan hitam tersebut... dan satu persatu... prajurit - prajurit kami...."

"Jadi... ia tidak mendatangi tempat Arphage berada dan langsung memasuki desa ini dengan kemampuan teleportasinya....!"

"Aku akan menghalaunya sampai Arphage datang!!"

"Tunggu, Miss Cassandra!! Itu terlalu gegabah!!!"

"Daripada semuanya terlambat!!! Lebih sedikit korban lebih baik!!!"

Dan ketika Cassandra kelar dari tempat persembunyian, telah berdiri seseorang dengan kubah hitamnya tengah menolak siapapun yang mencoba menerjang masuk, dan terlihat didalamnya seorang pria kekar dan besar menggunakan topeng besi tengah membantai orang - orang yang masuk kedalam.

"Genova... Hail....!"

"Jadi kaukah Miss Cassandra, kenapa kau tidak mau mendengarkan perintahku untuk memberikan tumbal 1 anakmu kepadaku? Kalau kau bersedia, semua ini tidak akan terjadi."

"Kau pikir aku akan setuju denganmu untuk mengorbankan anak - anakku untuk menyelamatkan nyawaku sendiri!?!?"

"Manusia itu lemah, Nona~"

"Eh?"

"Ketika mereka merasa aman dengan kondisi mereka sekarang, mereka akan mengumbar - umbarkan kebenaran dan hal - hal lainnya, namun ketika nyawa mereka terancam, mereka membuang semua nilai kebenaran tersebut dan memilih untuk menyelamatkan nyawa mereka sendiri."

"Apa yang mau kau coba sampaikan...?"

"Intinya, PERCUMA KAU MENGUMBAR - UMBAR UNTUK MENYELAMATKAN ANAK - ANAKMU, KARENA SEBENTAR LAGI KAU AKAN MEMINTA AMPUN KEPADAKU UNTUK MENYELAMATKAN NYAWAMU!"

Tak lama kemudian orang itu memperluas kubahnya dan melemparkan mereka yang ada disekitarnya, membuat Cassandra memasuki ruangan tersebut.

"Sekarang, bersiap - siaplah untuk memohon ampun kepadaku~!"

"Kh..."

Cassandra maju menyerang dengan menyiapkan tamengnya.

"LEMAH!"

Dan ketika Hail mengayunkan pedangnya, Cassandra langsung mencoba menahannya dengan tamengnya.

"Eh?"

Namun dalam waktu sekejap, Cassandra langsung menghindari pedang tersebut.

*JRAAASH!!

Dan terlihat pedang itu membelah tanah disekitar kubah tersebut, membuat semua orang yang ada disana terkejut.

"Memang hebat, Pure Maiden... mampu menyadari kekuatanku yang beratus - ratus kali lipat ini..."

"Ikh...."

"Sekarang giliranmu menyerangku..."

"Hah?"

Hail kemudian melemaskan badannya, tangannya melepaskan pedangnya, kemudian postur badannya yang berdiri telentang begitu saja menantang Cassandra untuk maju menyerangnya.

"Kita lihat bagaimana sang Pure Maiden akan menyerang lelaki tak berdaya sepertiku ini..."

"Aku tidak pernah peduli bagaimana orang melihatku, yang penting aku tidak akan membiarkan orang sepertimu mendekati anak - anakku!!!"

Dengan Pedang besi yang tak memiliki ujung yang tajam sedikitpun, ia menyerang bagian tengkuk Hail.

*PRAKKK!!!

Namun tak ada yang menyangka, jika pedang yang terlihat tumpul dan keras itu akan hancur belebur tak berbekas seperti sebuah ranting yang mencoba menghajar tumpukan batu karang. Cassandra terkejut melihat pemandangan tersebut, dan terlihat di tubuh Hail aura - aura gelap melindungi seluruh badannya menjadi lebih keras daripada besi apapun.

"Mu... mustahil..."

"Inilah kekuatan Underworld, Nona Cassandra..."

Kemudian Hail mengambil pedangnya yang telah terjatuh ditanah.

"Sekarang, kalau kau bersedia untuk mengorbankan anak - anakmu untukku, aku akan melepaskanmu 'saja'..."

"Eh?"

"Ya, kamu 'saja', dan aku akan melanjutaknnya dengan membantai semua prajurit - prajurit disini yang dengan berani - beraninya menentangku...!!!"

Terlihat wajah ngeri mulai muncul di muka para prajurit Order of Nirvanne dan prajurit - prajurit lainnya.

"...."

Cassandra terdiam tanpa kata sama sekali.

"Jadi, apa pilihanmu, Nona Cassandra...?"

"Aku..."

Cassandra mengambil sebilah pedang pendek yang selama ini ia sarungkan di pinggangnya.

"AKU TIDAK AKAN MENGAMPUNIMU!!! MESKI AKU HARUS MENODAI TANGANKU DENGAN DARAH SETAN SEPERTIMU, AKU TIDAK AKAN PERNAH MEMBIARKANMU MENYENTUH ANAK - ANAKKU MAUPUN ORANG - ORANG INI YANG TELAH BERSEDIA MELINDUNGI ANAK - ANAKKU!!!!"

Cassandra maju menerjang Hail.

"Wanita bodoh!!!"

Namun tiba - tiba Hail menghilang dari pandangan Cassandra.

"Eh...?"

*ZLEBBB!!!!!!


The Greatness of Tentacle:
 


Requiem:
 


The Last:
 


Terakhir diubah oleh Signus Sanctus tanggal 2012-11-15, 20:40, total 1 kali diubah
2012-11-12, 15:23
PostRe: [StoryPlay] Eremidia : The Fragments
shikami 
Member 1000 Konsep


Level 5
Posts : 3744
Thanked : 31
Engine : Multi-Engine User
Skill : Beginner
Type : Developer
Awards:


Hari ke 18 bulan ke 7 tahun 2202 C.E,

Tujuh minggu sudah aku menjalani pelatihan sebagai seorang Assassin,
Banyak hal ya kupelajari di "pekerjaan" baru ini seperti bagaimana tehnik menyembunyikan keberadaan, berbaur dengan sekitar dan banyak lagi..
Mungkin aku terlalu bersemangat karena senang mempelajari sesuatu yang baru..
Guru yang mengajariku tidak pernah menyebut nama, beliau hanya ingin dipanggil sebagai "The Master". beliau adalah seorang guru yang hebat. Aku merasa beliau ini pernah menjadi seorang Assasin yang berbahaya.
Gerakannya masih lincah dan mantab meski usianya kupikir sudah melebihi 60an.

Tempat pelatihan kami ada disebuah hutan yang lumayan jauh dari istana.
Berkat komandan Hawk,aku mendapat "tugas" khusus sebagai dapat meninggalkan istana selama berminggu-minggu.
Aku dan kawan-kawan memperoleh dasar pelatihan menjadi seorang assassin. Pada minggu ke 4 kami mulai memperoleh pelatihan sesuai skill bertempur masing-masing.

Ah, aku jadi teringat. Para assassin itu seperti halnya aku bekerja dalam istana. Mungkin agar tidak membahayakan posisi mereka, aku cukup menyebutkan nama pekerjaan mereka. Mereka bukanlah orang-orang biasa, mereka dipilih karena kemampuan khusus mereka.
Ada The Maid,yang sehari-hari bekerja sebagai pelayan istana. Dibalik senyumnya yang hangat dan wajahnya yang manis. Tersembunyi seorang petarung jarak dekat yang memiliki kekuatan fisik luar biasa. Aku ingat dimana saat latihan ia mampu menghancurkan batu sekali pukul.
Lalu ada juga The Ministrel,sekilas dia adalah seorang yang berwajah yang cantik ( meski dia pria ) dan rambutnya yang bergelombang turut memperkuatnya, tapi kemampuannya dalam menghipnotis melalui petikan harpanya patut ditakuti.
Lalu ada seorang wanita dewasa "the secretary", ia bekerja sebagai juru tulis di kantor sipil istana. Dingin dan anggun, ahli dalam melempar pisau atau segala macam projektil yang tersembunyi dibalik bajunya.
Seorang pria tinggi besar yang bekerja sebagai tukang masak "The butcher", adalah orang yang halus dan lembut tapi jangan ditanya soal kemampuannya dalam menggunakan pisau jagalnya yang besar, bahkan ia sanggup menggunakan 2 pisau besar tersebut.
Kemudian The Priest,adalah seorang pendeta muda yang tinggal di istana membantu Kardinal untuk memimpin upacara agama di ibukota. Sehari-hari ia sering kali tertawa bersama anak-anak, ceroboh dan lainnya. Tapi ia bisa dibilang paling "kejam",aku merasakan hawa tidak enak saat bersamanya dalam pelatihan. Ah dan ia menggunakan sabit raksasa!
Dan aku disebut sebagai "The Guard", sebenarnya aku tidak berbakat apa-apa namun Master mengatakan aku memiliki kemampuan taktis,kesiagaan yang dibutuhkan seorang assasin. Namun benarkah itu aku tidak tahu..

Pelatihan terakhir dilakukan kemarin, pelatihan tersebut bukan merupakan pelatihan fisik namun kami ber-enam diperintahkan untuk memasuki sebuah kolam air hanya dengan memakai penutup bagian terlarang. Kolam tersebut berwarna hitam, beberapa orang kemudian masuk dan membaca mantra sambil menuliskan sesuatu di punggung kami dengan ..darah.
Lalu sebuah cahaya muncul dari kolam, dan tulisan di punggungku terasa sangat panas,rasanya ada sesuatu masuk ke dalam tubuhkul. Kami semua mengerang kesakitan.

"ini adalah ritual terakhir dari blackwings, dengan pembaptisan ini kalian telah resmi menjadi pasukan kuasa sang bayangan, menjadi tiada dalam keberadaan.."
"kudoakan semoga kalian baik-baik saja.." bisik Master setelah kami berjuang menghadapi rasa sakit tersebut.

Kami diperintahkan untuk menjalankan aktifitas sehari-hari seperti biasa dan menunggu perintah untuk eksekusi.
Jauh dilubuk hati,Aku masih belum yakin dengan semua keputusanku ini.


Eremidia Castle,18 - 7 -2202 C.E


this is no signature
2012-11-12, 15:42
PostRe: [StoryPlay] Eremidia : The Fragments
Signus Sanctus 
Newbie
Newbie
avatar

Level 5
Posts : 69
Thanked : 3
Engine : RMVX Ace
Skill : Beginner
Type : Developer
Awards:
Chapter IV : 'Execute' - Shine Light [Part 3]

Aku terus berlari, berlari tanpa henti, mendekati bau yang cukup familiar dengan bau yang kurasakan di Noble's Distric kemarin...

"Bau darah... apakah aku terlambat...!"

Terlihat tumpukan mayat prajurit - prajurit Order of Nirvanne tergeletak di tanah, aku memandangi pemandangan tersebut dengan ngeri, membayangkan apa yang orang itu bisa lakukan dengan orang sebanyak itu...

"AKU TIDAK AKAN MENGAMPUNIMU!!! MESKI AKU HARUS MENODAI TANGANKU DENGAN DARAH SETAN SEPERTIMU, AKU TIDAK AKAN PERNAH MEMBIARKANMU MENYENTUH ANAK - ANAKKU MAUPUN ORANG - ORANG INI YANG TELAH BERSEDIA MELINDUNGI ANAK - ANAKKU!!!!"

"Eh? Cassandra...?!?"

Aku melihat kearah suara tersebut, dan terlihat Cassandra tengah bertarung dengan seorang pria dengan tubuh kekar dan bertopeng besi...

*DEG!!!

Aku dapat merasakannya...
Gejolak dada yang tidak mengenakkan ini...

*DEG *DEG!!

Namun aura ini lebih pekat, dan lebih menyesakkan daripada yang lain...

Aura yang tidak mengenakkan ini ditujukan kepada....

"CASSANDRA...!!!!"

"Wanita Bodoh!!!"

*ZLEBB!!!



Darah....

Darah mencurat kemana - mana...

Darah segar berwarna merah gelap mengalir kemana - mana...

Sebagian cipratan darah itu mengenai pipiku...

Dan sumber darah itu adalah...

"Ca..."

*DEG

Gejolak itu muncul lagi...

*DEG DEG...!

Namun gejolak yang muncul kali ini berbeda...

*DEG DEG DEG DEG!!!!

"CASSANDRAAAAAAAAAAAAAA!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!"

Aku menerjang menuju kubah hitam yang makhluk tersebut ciptakan, dan terpental begitu saja.

*PRAK!!!

"Tuan Arphage!! Kubah itu tidak akan bisa ditembus sampai salah satu dari kedua orang yang ada didalam itu mati....!!"

"MEMANGNYA AKU PEDULI!!!!"

Aku menyiapkan tamengku dan langsung menerjang kubah hitam itu lagi.

*JRAAAANG!!!!!

Tamengku dan kubah hitam itu terus beradu, membuat percikan - percikan api yang terus menusuk - nusuk tubuhku dan memaksaku untuk mundur.

"Arph...."

"!!!"

Samar - samar aku mendengar suara Cassandra perlahan memanggilku.

"La... ri...kan... anak... anakku...."

"!!!!!?"

"Wanita bodoh, sampai sekarang masih memikirkan anak - anak tolol tak beruntung seperti mereka, tidak mempunyai orang tua..."

*DEG!!!

"AAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!"

*BYAR!!!!!

Mendadak aku mampu menembus kubah hitam yang menyelimuti lelaki tersebut dan Cassandra, semua orang yang ada disana terkejut dan bingung.

"WOOOOOOOOOOOOOOOOOOO!!!!"

*BRAK!!!

Kuhantam lelaki itu dengan tamengku, mementalkannya sampai ujung kubah dan melepaskan pedangnya dari Cassandra.

"Cassandra...!!"

Cassandra yang cukup terkejut melihatku berada didepannya, kemudian tersenyum lebar dan memegangi pipiku.

"Arph... kumohon... lindungi keluar...ga...ku..."

Dan tak lama kemudian akhirnya Cassandra kehilangan kesadaran dan terlelap dalam tidurnya, selamanya.

*DEG!!!

"Cassandra..."

Aku hanya bisa syok melihatnya, kemarin aku tidak masalah dengan membunuh seorang nenek - nenek, tapi kali ini...

"DASAR PRAJURIT SIALAN!!!!!"

Mendadak lelaki kekar itu berteriak keras, dan membuat kubah yang sangat besar, semakin mementalkan orang - orang disekitarku dan lelaki itu.

"Berani - beraninya kau mengganggu kesenanganku, kau tidak akan selamat kali ini, dari pedangku, sang prajurit hebat HAIL INI!!!!!!"

"DIAM KAU KEPARAT!!!!!"

Aku membawa cassandra menuju ujung kubah tersebut, kemudian kembali menatap Hail.

"Kau pikir kau yang paling hebat di dunia ini...?!"

"MEMANGNYA KAU BISA APA?!?! KAU MENEMBUS KUBAH INI BARUSAN HANYALAH KEBETULAN!! KAU TAKKAN BISA MEMBUNUHKU, THE GREAT HAIL!!!!!"

"Memangnya kau bisa apa hanya dengan mengandalkan pedang kecilmu itu?" Ucapku menantang.

"INI!!!"

Mendadak Hail menghilang dari mataku, aku langsung mengangkat tamengku dan....

*BRAKK!!!!!

Kuhajar Hail yang mendadak berada di belakangku dengan tamengku.

"UGH...!"

Semua orang yang ada disana terkejut melihat gayaku bertarung, belum pernah ada yang sampai sekarang bisa menyerang Hail, bahkan dengan tameng.

"BEDEBAH!!!"

Hail kemudian menghilang lagi dari hadapanku, namun

*BRAKK!!!!!

Kuhajar lagi dengan tamengku ketika ia berada di sebelah kiriku.

"Ugh.... Keparad...!!!"

"Kau pikir hanya dengan kekuatan berpindah tempat dalam sekejap itu kau bisa menyerangku secara mendadak?"

Ucapku sombong dan terus menatap Hail yang terjatuh di tanah.

"Aku tahu semua rahasia seranganmu, dan kau tidak akan bisa menang dariku...!"

"Apa katamu....!!!!!!"

Hail terlihat emosi dan mengamuk.

"JANGAN SOMBONG KAU PRAJURIT BEDEBAH!!! KAU TAHU SEMUA RAHASIAKU!?!?!? MUSTAHIL!!!!"

***

"Elicia! Dimana posisimu sekarang?!?!?"

Rudolf terus berlari menuju desa, sambil mencoba menghubungi yang lain.

"Aku sedang membawa Vervent menuju desa, ia mengalami pendarahan parah, Gould seharusnya sudah sampai duluan karena posisinya tidak terlalu jauh dengan desa!"

"Maaf, aku sedang membawa Gram, kakinya patah berkat musuhnya waktu itu..."

"Sial... Aku tidak yakin apakah Arphage mampu bertahan melawan Hail sendirian...!"

"KALAU BEGITU KENAPA KAU MEMBAWA DIA, BODOH!?!?!?!?"

Elicia membentak Rudolf dengan sangat emosi karena panik.

"Tidak, aku yakin lelaki bernama Arphage itu mampu menghalaunya..."

Mendadak Gram mencoba memuji Arphage...

"Apa buktimu? Dia itu hanya seorang commoner...."

"... Tatapan mata lelaki itu... itu bukanlah tatapan seorang rakyat biasa tanpa konflik... ia lebih veteran... dari kita semua..."

Komentar Gould terhadap Arphage membuat Elicia terdiam seribu kata, seorang Mercenary handal seperti OmniGould mampu mengeluarkan kata - kata merendah seperti itu

***

"AHK.... ARGHK...!!!!"

Hail terlihat menderita, tidak pernah sekalipun ia dipermalukan seperti kondisinya sekarang, dan ia juga kaget mengetahui apa yang terjadi pada dirinya sekarang.

"Sudah kubilang kau tidak akan bisa menang melawanku, keparad...!"

Aku menahan pedang yang baru saja diayunkan Hail, kemudian mendorongnya dan membelah badan Hail sendiri, dan kepala Hail yang tertolak oleh kubah buatannya sendiri lebih sakit dari yang ia kira.

"KAAAH!!!!!!"

Hail sama sekali tidak bisa mengerti apa yang sebenarnya terjadi terhadapnya, tangan kirinya menampakkan suatu magic crest yang tidak wajar.

"Itu... Bliss of Nirvana...? Sihir tingkat tinggi para tetinggi Order of Nirvanne yang mampu menolak sihir hitam apapun yang mencoba merasuki pemakainya..."

"Ke... keparad.... darimana... kau mendapatkan kekuatan seperti itu...!?!?!"

"Aku tidak perlu menjelaskan hal tersebut kepada keparad sepertimu..."

"JANGAN KAU.... BERANI MERENDAHKANKU SEPERTI ITU!!!!!!!"

Dan akhirnya Hail melebarkan kubahnya kembali, dan mundur dari posisi Arphage berada.

"Akhirnya kau melebarkan kubahmu sendiri, pengecut...!"

"APA...?!?!"

"Ternyata pada akhirnya kau hanyalah manusia lemah... mengumbar - umbar kalau kaulah yang terkuat, membunuh semua yang ada didepan matamu, tapi ketika kau sudah merasa terancam, akhirnya kau mundur... tipikal manusia pengecut...!"

Ucapku menghina.

"KEPARAD....!!!!!!!"

Kemudian Hail melakukan teleportasi lagi, tepat disebelah kananku.

"!!!!"

Dan aku hanya bisa memutar membelakangi Hail...

*CRASH!!!!!!!

Dan punggungku pun akhirnya mengeluarkan darah yang cukup deras, tebasan yang seharusnya hanya menyerempet itu kali ini membuat sekujur punggungku nyeri.

"HAHAH! Sudah kuduga, meski tamengmu benar - benar ampuh, pedangmu sama sekali tidak ada apa - apanya!!!"

Menyadari kelemahan pedangku, Hail tertawa keras.

"UWOOOOOOOOOOOOOOOO!!!"

*BLARRRR!!!!

Mendadak terdapat ledakan keras dari luar kubah, dan terlihat Rudolf dari kejauhan, bersama dengan Elicia yang menggendong Vervent di punggungnya dan Omnigould dan Gram dengan posisi yang sama.

"Huhu, teman - temanmu datang, tapi mereka tidak akan bisa membantumu, dan kau akan MATI DITANGANKU!!!!"

"ARPHAGE, MUNDUR! KAU BISA MENEMBUH KUBAH ITU KAN?!!?"

Teriak Rudolf kebingungan.

"........... Bukankah sudah kubilang kalau kau takkan bisa mengalahkanku...?"

"Masih sombong saja kau?!?!?!"

Hail kembali melakukan teleport di sebelah kananku.

"Bliss of Nirvana, release. Wrath of Demise, Activate."

Dalam sekejap aku mengaktifkan Magic Crest yang ada di tangan kananku dan mematikan Magic Crest di tangan kiriku.

"Shinning Blade Cut!"

*BWETS!!!!!"

Semua terjadi begitu cepat dan tak terduga, orang - orang yang ada disekitarku benar - benar terkejut dan membelalakkan matanya, semua tidak akan menduga kejadian tersebut, dan hanya bisa terbengong mencoba mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi. Darah terus mengalir, mencurat tanpa henti - hentinya, membasahi sekujur tubuhku dengan darah keparat tersebut.

"AAAAAAAAAAAAARGH!!!! TANGANKU.... TANGANKU!!!!!!!!!!!!"

Lengan Hail tergeletak ditanah memegang pedang kecilnya, masih mengeras namun tidak bisa bergerak sama sekali, dan Hail hanya bisa berdiri terkejut melihat apa yang terjadi kepada tangannya yang besar, kini terlepas dari tangannya.

"....."

Aku menatap Hail dengan mata siap membunuh, dan terlihat sosok Hail mulai ketakutan menatapku, kemudian Kubah yang selama ini mengitariku mulai menghilang.

"Ampun... maafkan aku.... aku tidak akan mengulangi ini semua lagi... MAAFKAN AKU!!!"

Hail kemudian melepas topengnya, meminta ampun kepadaku dengan muka dan nada suara memelas, namun aku tidak menghiraukan itu semua. Kuangkat pedangku tinggi - tinggi, bersiap memenggal kepala Hail.

"AA...aaaa.... AAAAAAA..........."

"TUAN ARPHAGE, HENTIKAN!!!!"

Mendadak seorang gadis mencoba menghentikanku dan memelukku dari belakang, Sophie.

"Tuan... jangan membunuh didepan anak - anak... Kak Cassandra sudah menitipkan anak - anak kami kepada anda... kumohon... jangan..."

".............. Wrath of Demise, release...."

Aku menurunkan tanganku dan menyarungkan pedangku yang telah terlumuri darah.

"Aaaaa....."

Namun tak lama setelah Hail merasa lega, kuhantam kepalanya dengan tamengku.

*BRAK!!!

"AH...!?"

"Kurasa begitu sudah cukup..."

***

Tak lama kemudian Alquerio meninggalkan desa tersebut setelah meninggalkan 5 kantong uang dalam ukuran yang sangat besar.

"WOHOO!! KITA KAYA, GAULD! KITA KAYA!!!!"

Ucap Gram girang melihat hadiah kantong uang sebesar itu didepan mata mereka.

"Tapi uang ini langsung kita gunakan untuk memperbaiki gauntletku dan kaki tanganmu, Gram."

"Cih, hoi, Vervent! Kamu gak bisa nyembuhin kami apa?! Kan kamu sendiri yang meminta tolong terhadap kami?!?"

"KALIAN BERDUA TIDAK SADAR YA LUKA MACAM APA YANG TERJADI PADANYA?!?!?"

Elicia terlihat mengamuk melihat ketidak sopanan 2 mercenary tersebut.

"Dan kau juga!"

"Hah?"

Elicia menunjukku lagi, terlihat sedikit geram dengan apa yang kulakukan.

"Bisa - bisanya kau menghadiahi seluruh uangmu untuk anak - anak itu, mereka sudah cukup mendapatkan uang ganti rugi dari kerajaan, kenapa kau harus memberi mereka uang lagi! Bagianmu sendiri mana, setelah mengalahkan Hail?!?!?!"

"Sebanyak apapun uang yang mereka terima, tidak akan bisa mengembalikan Cassandra...."

"Ah..."

Tempat mereka beristirahat, panti asuhan milik Cassandra, terlihat sepi, hanya dihuni oleh keenam prajurit yang mati - matian bertarung melawan Genova. Semua penghuninya menghadiri pemakaman Miss Cassandra dan prajurit - prajurit Order of Nirvanne lainnya.

"Tapi tetap saja, kamu itu tidak punya tanggung jawab apa - apa ke mereka semua!"

"Kata siapa?"

"Hah?"

***

"Anak - anak, waktunya makan!"

"IYA BU LEILA~!"

Suasana bar menjadi lebih ricuh daripada sebelumnya, bukan hanya karena pelanggan - pelanggan Bar tersebut, namun juga tempat itu dipenuhi anak - anak dari panti asuhan yang dilarikan ke tempat Leila.

"Umm... Nona Leila..."

"Ada apa, Sophie?"

"Anda yakin mau mengasuh kami? Tidak akan merepotkan anda?"

"Repot sih, mangka nya kamu harus belajar masak, mencuci, dan melayani supaya kamu bisa membantuku di bar, ok?"

"E... EEEH?!?!?!?"

Sophie terkejut mendengar proposal dari Leila, dan terlihat muka Leila semakin cerah melihat anak - anak itu dengan ramai dan asik menyantap makanan yang telah disediakan Leila, memunculkan muka senyum mereka lagi.

"Kau yakin, Arph?"

"Hah? Apanya?"

Lirik Elicia bertanya sambil Rudolf, Gram, dan Gould menyantap makanannya, Vervent sudah dilarikan ke rumah sakit duluan karena lukanya paling parah dari yang lain.

"Melemparkan masalah mereka kepada Leila begitu saja, kau benar - benar tidak punya hati apa?"

"Justru sebaliknya, Nona Elicia~"

"Eh?"

Mendadak Leila datang dan memberikanku sepiring Sandwich dan daging steak untuk Elicia, beserta daging setengah matang untuk Phoenix yang berada disampingku.

"Aku justru senang karena Arph memberikanku orang - orang yang ingin menemaniku dan membutuhkanku~!"

Aku tersenyum tipis mendengar hal tersebut, Leila dan anak - anak itu memiliki kasus yang sama, kehilangan orang - orang terdekat mereka, jadi kupikir lebih baik untuk mereka saling bersama dan menutupi kekosongan mereka daripada membiarkan mereka berjuang sendiri - sendiri.

"Ngomong - ngomong, Arph, bagaimana dengan janjimu dan Alquerio?"

Tanya Rudolf sambil menyantap ayam bakarnya dengan nikmat.

"Aku belum tahu, dia bilang dia akan mengabariku jika beritanya sudah tiba."

"Hmm, begitukah...."

"Emm Arph..."

"Hah?"

"Kenapa kamu tidak menikahi Leila saja?"

*BRAK!!

Mendadak Leila menjatuhkan nampan nya mendengar ucapan Elicia, membuat satu bar hening.

"Maksudmu...?"

"Kalau kau sebegitu inginnya menjadi Noble, kau tinggal menikahi Leila dan semua masalahmu akan selesai kan?"

"APA YANG KAMU BICARAKAN, ELICIA~!!?!?!?!"

Leila terlihat panik dan malu - malu, kemudian mengambil kembali nampannya dan memukulku pelan namun bertubi - tubi.

"Ugh.... Bukan begitu... Justru aku ingin menjadi Noble karena aku ingin menikahi Leila dengan posisi kami yang sejajar, sehingga aku bisa mendapatkan kepercayaan dari Noble Lord yang lain"

"Hmm..."

Elicia mengangguk - angguk mengerti perkataan Arphage, dan terlihat Leila sendiri sudah membatu mendengar ucapan Arphage itu sendiri.

"WAAY, ARPHAGE JADI BAPAK KITA!!!"

Seorang anak berteriak kegirangan mendengar berita tersebut, membuat Leila semakin kalang kabut.

"Hei, Danku, jangan berteriak - teriak begitu!"

Sophie terlihat mengomeli anak yang baru saja berteriak kegirangan.

"Paman Arphage akan selalu melindungi kita, yay~!!!"

Senyum polos dan teriakkan anak - anak yang, pada intinya, mengimplikasikan aku akan menikahi Leila, membuat para pelanggan bar semakin tersulut api amarah yang dengan jelas menatapku iri. Dan Leila yang tambah panik, hanya mencekekku.

"ARPH!!!! KAMU....!!!!!"

"HOI... WUEEEK, salah apa...~!"

Seluruh Bar dipenuhi dengan canda dan tawa, menghilangkan rasa sedih atas kehilangan orang - orang terpenting mereka. perang kecil yang telah merengut banyak nyawa orang tersebut tidak akan pernah kulupakan, dan akan terus kuingat sampai kapanpun


The Greatness of Tentacle:
 


Requiem:
 


The Last:
 
2012-11-12, 15:54
PostRe: [StoryPlay] Eremidia : The Fragments
hyperkudit 
Pahlawan Super
avatar

Level 5
Posts : 2288
Thanked : 30
Engine : RMXP
Skill : Very Beginner
Type : Artist
Awards:

Chapter 7 : Librarian


Tanpa kusadari, Meidy telah berdiri disampingku, penasaran dengan sepasang manusia yang mungkin hanya beberapa tahun diatas umur bocah ini usianya. Si perempuan terlihat waspada, melindungi lelakinya yang terlihat sangat parah. Namun begitu melihat Meidy, dia sedikit merasa lega.

“Astaga, apa yang terjadi? Kalian diserang binatang buas?” tanya Meidy terkejut.

“Nona, Tuan, kami butuh bantuan kalian! Adik ku terluka parah!” balasnya memelas.

Bisa kulihat itu, laki-laki yang diakui sebagai adiknya memang mengenaskan. Darah mengalir dari luka-lukanya yang dalam dan terbuka, seperti cakaran hewan buas. Aku mungkin tidak memperoleh pengetahuan dari pendidikan formal, tapi aku bisa mengetahui mahluk apa yang memberikan luka seperti itu. Tiga cakaran sejajar dengan aroma hangus terbakar, itu adalah bekas cakaran Imp, iblis kelas rendah.

“Pondok kami berada di desa dekat danau kecil di luar hutan,” tambah wanita itu, “Aku mohon, tolong kami.”

Aku sebenarnya tidak peduli jika mereka mau mati atau semacamnya, tapi ketika aku hendak berbalik, si berengsek Meidy menarik celanaku. Aku punya firasat kalau dia akan menyuruhku seperti babu lagi.

“Howly, bawa dia! Kita harus bergegas!”

Bingo! Ini dia.

“Angkat saja sendiri, gunakan tanganmu!” balasku ketus.

“Lalu untuk apa badan seperti itu? Hanya pamer?” serunya, “Cepatlah, jangan kekanak-kanakan!”

Hey, hey.. aku tidak salah dengar bukan? disebut kekanak-kanakan oleh seorang anak-anak? Aku tak bisa memikirkan hal yang lebih ironis seperti ini, dan yang lebih penting, untuk apa aku menolong mereka?

“Aku tidak mau, kalau mereka mau mati, mati sajalah!” gumamku sambil berjalan menjauh.

“hey.., Howly…”

Nada suara itu benar-benar untuk menarik perhatianku, wajar saja aku berbalik dan menoleh ke arah Meidy

Tuan Winkle! Sejak kapan? Aku meraba-raba pinggangku, memastikan mimpi buruk yang kulihat ini nyata. Hilang! Penyihir cilik itu mencurinya dariku, LAGI! Grrr, kalau saja gadis itu bisa ku raih, akan ku kuliti dia, lalu kujadikan ikat pinggang!

Aku memasang ancang-ancang, siap melesat untuk meremukan tulang-tulang bocah tengik itu.

“Eit, mau apa?”

Aku langsung menghentikan langkahku ketika melihat Meidy menarik tangan Tuan Winkle.

“Kau tidak akan berani!” teriakku.

“Kita buktikan saja,” gumamnya enteng.

Dadaku berdegup kencang, was-was tentu, bagaimana tidak? Salah mengambil keputusan, maka tangan Tuan Winkle akan terpisah dari tubuhnya. Tanganku mengepal kuat, bergetar karena khawatir, sangat khawatir. Akut tidak mau menuruti perintahnya, tapi juga tidak mau Tuan Winkle rusak, ini pilihan yang sulit.

“Jadi.., mau membantu?”

Senyum licik mengembang di bibirnya, aku yakin anak ini pasti titisan penyihir. Aku benar-benar ingin melihat wajah orangtuanya.

Napas panjang berhembus dari mulutku, menyerah dengan situasi tidak mengenakan ini. Kuputuskan untuk membantu dua orang ini, membuat Meidy tersenyum penuh kemenangan. Akan kubunuh gadis ini, aku berjanji!

“Baiklah, jika memang harus, lakukan dengan cepat,” gerutuku.

Kugendong tubuh lelaki itu di bahu, sempat mengerang kesakitan karena aku mengangkatnya dengan kesar. Perempuannya tampak khawatir ketika melihatku membawa laki-laki ini seperti seikat kayu bakar, tapi inilah cara tercepat bagiku. Sementara Meidy memapah perempuan itu lalu berjalan di depanku, yang menunjukan jalan kepada kami.

****

Kami akhirnya sampai disebuah desa yang cukup sunyi, di pinggir danau kecil disisi hutan barat. Berjalan menyusuri jalan batu ke sebuah rumah kecil dan sederhana.

“Cepatlah, baringkan dia di ranjang!” seru perempuan itu.

Kulempar tubuh menyedihkan dipundakku keatas dipan, membuatnya terpantul kecil beberapakali sampai kepalanya menghantam tembok dan berhenti. Spontan para gadis berteriak panik melihat apa yang kulakukan, berlari kearah lelaki yang sepertinya justru tak sadarkan diri setelah kutaruh di ranjang. Ya.., ya, aku tahu itu bukan cara menaruh barang yang baik, tapi kebiasaan lama sulit di hilangkan.

“Dasar bodoh! Kau mau membunuhnya ya?!” bentak Meidy.

Kuangkat bahuku, tak peduli dengan komentar bocah itu. Sementara itu perempuan berkacamata itu sedikit panik dan memeriksa kondisi saudaranya. Wajahnya berubah lebih lega, namun matanya langsung mengarah kepadaku dengan tatapan benci. Kulihat dia berdiri dan mengambil sesuatu, buku kurasa. Membacanya lalu mempersiapkan beberapa rempah-rempah. Aku samasekali tidak tahu apa yang sedang dibuat manusia betina berdada besar itu, tapi sepertinya itu saudaranya, obat mungkin.

Gadis itu meminumkan cairan hijau berbau aneh ke mulut lelaki itu, lalu mengoleskan ampasnya di luka yang terbuka. Tentu saja sebelumnya dia membersihkan lukanya dengan air.

“Apa kau tabib atau semacamnya?” tanya Meidy memecah keheningan, atau mungkin lebih tepatnya kekacauan.

“Tidak, aku hanya seorang librarian di Westport,” terangnya, “Aku tertarik mempelajari Satanologi, jadi aku tahu cara menanggulangi apa yang dilakukan mereka.”

“Satanologi? Kedengarannya menyeramkan,” komentar Meidy.

Jujur saja, aku juga baru mendengar istilah itu, tapi sepertinya itu tentang pelajaran. Mengingat pengalamanku, kata-kata dengan akhiran logi atau grafi selalu membuatku bosan.

“Itu ilmu yang mempelajari tentang iblis,” jawabnya ramah, mungkin karena sudah merasa tenang dengan luka-luka saudaranya, dia tidak terlalu panik seperti sebelumnya.

“Hoo.., aku tidak tahu kalau ada ilmu tak berguna seperti itu.”

“Ahahaha, begitulah,” balas wanita itu, “omong-omong terimakasih banyak atas bantuannya, nona…, err?”

“Meidy, dan ini Howly, pelayanku”

Oy.. oy, jangan memutuskan seenak mu, kaulah budakku, bukan sebaliknya! Aku sungguh sebal dengan kata-kata bocah tak tahu diuntung ini.

“Aku Hilda, sebagai rasa terimakasih, aku akan membuatkan makan malam untuk kalian.”

Hoo.., makan ya? Aku memang mulai lapar lagi, lelaki sekarat di ujung ruangan tidak terlalu menarik perhatianku, tapi dua betina-betina dihadapanku tampaknya lezat dan empuk dagingnya. Dan kuharap si bocah Meidy ini menjadi hidangan pembukanya.
2012-11-12, 16:11
PostRe: [StoryPlay] Eremidia : The Fragments
NachtEinhorn 
Robot Gedek Galak
avatar

Level 5
Posts : 1274
Thanked : 9
Engine : Multi-Engine User
Skill : Beginner
Type : Developer

Phase 3 - In:Trude

Hari demi hari diewati Aurel dengan manipulasi habis habisan dari Lord WIllfrey. Awalnya, dia sering kabur dari mansion untuk mengelak dari "Latihan Mental" yang diberikan oleh Wilfrey dan antek anteknya, dan sering dianjutkan dengan kejar kejaran dengan prajurit penjaga Willfrey. Namun, setelah beberapa saat, mulai terjadi perubahan di sifat Aurel, berkat manipulasi dan Hipnosis Willfrey.

Aurel kini menjadi sangat patuh dengan Willfrey, namun memandang rendah orang lain. Pandangannya menjadi tajam dan sadis. Nyaris tidak ada senyum, apalagi tawa keluar dari mulut mungilnya. Jika pada masa awal hidup di mansion Willfrey, ia sangat toleran dan ramah dengan para penjaga dan pengurus mansion, kini dia tidak segan segan membunuh mereka karena kesalahan sekecil apapun.

Willfrey tentu saja senang dengan kemajuan rencananya. Namun tidak disadari olehnya, kebusukannya tercium oleh kelompok khusus yang meindungi Eremidia dibalik layar; Mereka yang menjatuhkan hukuman terberat kepada mereka yang berniat mengusik ketentraman negara: Backwing.

Suatu malam, ketika sedang tertidur, Aurel tiba tiba terjaga, merasakan hawa pembunuh yang pekat mengincar sang pemilik Mansion. Segera ia mengambil pedang besar, yang menjadi senjata pilihannya selama pelatihan oleh Willfrey, dan menuju ke lorong mansion...

Tergeletak beberapa tubuh prajurit penjaga, semuanya tanpa kepala. Aure bersiaga, namun tiba tiba...

"SLING"

Sebilah sabit mengalungi lehernya, bersiap memutuskan kepala dari badan. Aurel dengan sigap membungkuk dan menghunuskan pedang besarnya, berbalik, dan dihadapannya adalah...

sesosok bayangan berselubung kain hitam, membawa Sabit Raksasa. Wajahnya tidak kelihatan, tertutup bayangan. namun samar samar dapat terlihat sepasang mata merah menyala.

"Siapa?!" sahut aurel dengan tatapan tajam terhadap sosok itu.

Sosok itu terdiam sejenak, mengamati Aurel, dan meihat liontin kerajaan di lehernya, lalu bergumam "Jadi inikah rencana busuk Wilfrey..."

Audrey melompat, mengayunkan pedangnya ke badan sosok hitam itu, yang dengan sigap ditangkis dengan sabit super besarnya. sosok itu membalas dengan ayunan sabitnya, yang juga ditahan Aurel dengan pedangnya...

Pertarungan berlangsung sengit, dimana kedua belah pihak tidak dapat memberikan uka yang berarti kepada musuhnya. Hingga akhirnya...

".... Dapat."

Sosok itu lengah, dan Aurel memanfaatkan kesempatan itu untuk menebasnya. Namun hanya sedikit robekan kain hitam yang didapat, dan terlihat tangan manusia dibalik kain hitam itu, berdarah karena sabetan pedang Aurel.

"kuh?!" sahut sosok hitam itu, mendapati tangannya terluka. Aurel dengan sigap melancarkan serangan lanjutan, yang ditangkis langsung oleh sosok itu.

"Itu dia, kejar mahkluk itu!"
Serombongan pasukan berlari masuk ke lorong, mendapati Aurel sedang bertarung dengan sosok itu. Merasa tidak dapat menang dengan jumah penjaga yang terlalu banyak, sosok itu mundur, "Terdapat salah perhitungan... sepertinya aku perlu menyusun kembali rencana ini", sembari memecahkan kaca, kabur dan menghilang di kegelapan malam.

Para penjaga mengahmpiri Aurel, menanyakan keadaannya, "Anda tidak apa apa nona?" Namun Aurel menghardik mereka, mengayunkan pedangnya, dan...

"CLASH"

Lorong itu dipenuhi dengan mayat para prajurit, dengan kepala mereka terlepas dari raganya. Aurel, bermandikan darah, kembali ke kamarnya, sambil bergumam "Willfrey perlu mencari penjaga baru. Mereka payah"


"Imagine Iron Man, kill Tony Stark, and replace him with Dinosaurs. That's why Tachikazes are awesome"


2012-11-12, 16:45
PostRe: [StoryPlay] Eremidia : The Fragments
TheoAllen 
♫ RMID Rebel ♫
♫ RMID Rebel ♫
avatar

Kosong
Posts : 4935
Thanked : 62
Awards:




Chapter 01 : The uncomplete Almalakh
Location : Northreach

"Jadi, disini kita akan mencari sumber sihir murni itu?" Kataku sambil menengadah melihat banyaknya pegunungan yang menjulang tinggi. Terlihat salju putih menutupi bagian atas puncak pegunungan itu yang membuat aku terkadang merasa kedinginan.

"Menurut dari referensi sejarah kuno bangsa kita memang dahulu disini ada sumber sihir murni." Kata seorang laki-laki dewasa yang dipanggil Tyrone Arthar. Dia memakai jubah coklat tua yang menutupi seluruh tubuhnya. Begitu juga kami.

"Sebaiknya kita segera mencari penginapan. Kesehatan Nerrie sebagai Almalakh menjadi kunci penting untuk keberhasilan ini." Ujarnya kemudian. Aku hanya mengangguk sambil mengikutinya berjalan menuju sebuah desa kecil yang terlihat di kelilingi kaki gunung yang penuh dengan pepohonan pinus.

Aku Rubben Landwalker. Orang lain bisa mengenalku dengan melihat rambut pirang dan goggle hijau peninggalan ayahku yang selalu kupakai. Orang yang sedang kuikuti ini adalah Tyrone Arthar. Klan yang dari turun temurun dapat dipercaya sebagai penjaga Almalakh. Dan satu orang lagi, yaitu adikku Nerrie Landwalker. Seseorang yang seharusnya dapat menjadi Almalakh. Namun entah mengapa, kekuatan sihirnya jauh dibanding ibu kami dalam umur yang sama.

Menurut para sesepuh bangsa kami, ini disebabkan oleh hasil keturunan antara manusia dengan Skynesian yang menghasilkan keturunan half-Skynesian. Memang benar, kami adalah half-Skynesian. Hal ini membuat kami tidak dapat terbang dengan lama seperti bangsa kami yang lain. Bahkan sayap kami adalah sayap hasil sihir pembentukan. Bukan sayap asli seperti bangsa kami yang lain.

Dan kami disini berharap untuk dapat menjadikan adikku Nerrie sebagai Skynesian sepenuhnya. Atau setidaknya dia dapat membangkitkan kekuatan Almalakhnya dengan menyerap Alma murni yang diyakini di suatu tempat yang ada di tempat ini.

Sementara kami berjalan memasuki desa itu, Nerrie hanya membisu sedari tadi. Entah apa yang ada dipikirannya sekarang. Mungkin dia hanya tidak terbiasa dengan suasana baru yang asing baginya.

Singkat waktu, kami memasuki sebuah rumah penginapan yang hampir seluruhnya terbuat dari kayu. Lampu lilin menerangi seluruh ruangan disana. Tyrone tampak berdiskusi dengan penjaga penginapan itu. Tak lama kemudian ia memberi isyarat kepada kami untuk masuk ke ruangan atas.

Kami memasuki ruang kamar penginapan yang cukup luas. Ruang itu terdiri dari satu ranjang besar yang kira2 cukup untuk dua orang. Dan juga sebuah kursi panjang yang berada di salah satu sisi tembok. Sementara kulihat di luar langit sudah tampak mulai gelap. Dan suasana Northreach terlihat semakin mencekam dari sini.

"Kak rubben" Aku memalingkan pandanganku ke belakang untuk mencari asal suara itu. Aku melihat Nerrie dengan wajah yang terukir jelas kekhawatirannya.

"Uhm?" Aku hanya menyahut singkat.

"Kita akan baik-baik saja kan?" Ujarnya begitu polos.

"Tenang saja, kita bersama tuan Arthar. Lagipula, aku juga ikut. Kalau terjadi apa-apa denganmu, aku bisa menolongmu" sahutku.

Baru pertama kali ini Nerrie keluar dari pulau melayang Skynesia. Hanya dengan ditemani 2 orang dengan misi yang sepertinya tidak sepele. Nerrie yang baru saja berumur 15 tahun kurasa wajar saja kalau mentalnya drop. Apalagi beberapa waktu lalu kami baru saja diserang oleh beberapa monster yang berkeliaran.

"Kau sendiri lihat kan? tuan Arthar dapat menghajar habis monster2 itu dengan sihirnya yang luar biasa. Tuan Arthar dapat diandalkan sama seperti ibu kita." Kataku mencoba untuk menghilangkan kecemasan Nerrie sambil mengacak-acak rambut coklatnya yang hanya sepanjang bahu.

"Aku harap seterusnya begitu." Sahutnya dengan senyum kecil.

"Sebaiknya kalian istirahat sekarang. Perjalanan kita akan dilanjut pada besok pagi." Kata Tyrone tiba-tiba. "Kalian dapat tidur di ranjang itu. Aku akan duduk di kursi untuk memastikan keselamatan kalian."



Continued ....


Bosen ama signature. Hapus aja dah ....
PostRe: [StoryPlay] Eremidia : The Fragments
Sponsored content 




 

[StoryPlay] Eremidia : The Fragments

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Kembali Ke Atas 
Halaman 1 dari 2Pilih halaman : 1, 2  Next

Permissions in this forum:Anda tidak dapat menjawab topik
RPGMakerID :: Community Central :: Role Playing-