Mulai sekarang, forum RMID pindah ke situs ini. Posting sudah tidak bisa dilakukan lagi.
Mohon maaf atas ketidaknyamanannya dan mohon kerjasamanya.

Share | 
 

 [StoryPlay] Eremidia : The Fragments

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Go down 
Pilih halaman : Previous  1, 2
2012-11-06, 15:53
Post[StoryPlay] Eremidia : The Fragments
#1
shikami 
Member 1000 Konsep


Level 5
Posts : 3744
Thanked : 31
Engine : Multi-Engine User
Skill : Beginner
Type : Developer
Awards:


First topic message reminder :

About Storyplay
Spoiler:
 
Tujuan
Spoiler:
 
Rules
Spoiler:
 

Background story
latar belakang cerita dibagi sesuai dengan setting. karena setiap cerita punya konflik
dasar berbeda.


world map Eremidia


1. Wesport's story
cerita berpusat di Westport city tentang kemunculan Occult of Shadowlord,sekte kegelapan dan usaha mereka untuk membangkitkan para iblis kuno. Order of Nirvanne adalah kelompok ksatria dari ajaran Holy yang berusaha menghentikan mereka.



2. Capital's story

cerita berpusat pada Capital of Eremidia tentang intrik-intrik dalam pemerintah Eremidia yang kini tengah dipegang oleh para dewan karena sang raja yang menghilang secara misterius.


3. Northreach's story
cerita berpusat di Northreach city tentang keberadaan Magic Well,sebuah sumur yang menghubungkan dengan sihir murni yang pernah eksis pada era skynesian. ada kelompok penyihir yang mencoba menjauhkan tempat itu dari keberadaan para penyihir jahat lainnya.

4. Faleon's Story
cerita berpusat pada Faleon Town tentang konflik dengan Eastern Forest yang ditinggali oleh para goblin,troll dan beastling. konflik semakin dalam ketika para merchant menyewa para mercenary untuk menghadapi mereka.

5. Algeus's Story
cerita berpusat di Southern Borderline Fort tentang aktivitas misterius yang terjadi di Gran Desert. kabarnya sebuah reruntuhan di tengah gurun mengeluarkan suara-suara mengerikan dan mendadak sering muncul monster-monster gurun yang tidak seharusnya eksis.

pilih salah satu fragment sebelum memulai storyplay..

Happy SP ~ !!



this is no signature


Terakhir diubah oleh shikami tanggal 2012-11-10, 07:26, total 1 kali diubah

2012-11-12, 16:45
PostRe: [StoryPlay] Eremidia : The Fragments
TheoAllen 
♫ RMID Rebel ♫
♫ RMID Rebel ♫


Posts : 4935
Awards:




Chapter 01 : The uncomplete Almalakh
Location : Northreach

"Jadi, disini kita akan mencari sumber sihir murni itu?" Kataku sambil menengadah melihat banyaknya pegunungan yang menjulang tinggi. Terlihat salju putih menutupi bagian atas puncak pegunungan itu yang membuat aku terkadang merasa kedinginan.

"Menurut dari referensi sejarah kuno bangsa kita memang dahulu disini ada sumber sihir murni." Kata seorang laki-laki dewasa yang dipanggil Tyrone Arthar. Dia memakai jubah coklat tua yang menutupi seluruh tubuhnya. Begitu juga kami.

"Sebaiknya kita segera mencari penginapan. Kesehatan Nerrie sebagai Almalakh menjadi kunci penting untuk keberhasilan ini." Ujarnya kemudian. Aku hanya mengangguk sambil mengikutinya berjalan menuju sebuah desa kecil yang terlihat di kelilingi kaki gunung yang penuh dengan pepohonan pinus.

Aku Rubben Landwalker. Orang lain bisa mengenalku dengan melihat rambut pirang dan goggle hijau peninggalan ayahku yang selalu kupakai. Orang yang sedang kuikuti ini adalah Tyrone Arthar. Klan yang dari turun temurun dapat dipercaya sebagai penjaga Almalakh. Dan satu orang lagi, yaitu adikku Nerrie Landwalker. Seseorang yang seharusnya dapat menjadi Almalakh. Namun entah mengapa, kekuatan sihirnya jauh dibanding ibu kami dalam umur yang sama.

Menurut para sesepuh bangsa kami, ini disebabkan oleh hasil keturunan antara manusia dengan Skynesian yang menghasilkan keturunan half-Skynesian. Memang benar, kami adalah half-Skynesian. Hal ini membuat kami tidak dapat terbang dengan lama seperti bangsa kami yang lain. Bahkan sayap kami adalah sayap hasil sihir pembentukan. Bukan sayap asli seperti bangsa kami yang lain.

Dan kami disini berharap untuk dapat menjadikan adikku Nerrie sebagai Skynesian sepenuhnya. Atau setidaknya dia dapat membangkitkan kekuatan Almalakhnya dengan menyerap Alma murni yang diyakini di suatu tempat yang ada di tempat ini.

Sementara kami berjalan memasuki desa itu, Nerrie hanya membisu sedari tadi. Entah apa yang ada dipikirannya sekarang. Mungkin dia hanya tidak terbiasa dengan suasana baru yang asing baginya.

Singkat waktu, kami memasuki sebuah rumah penginapan yang hampir seluruhnya terbuat dari kayu. Lampu lilin menerangi seluruh ruangan disana. Tyrone tampak berdiskusi dengan penjaga penginapan itu. Tak lama kemudian ia memberi isyarat kepada kami untuk masuk ke ruangan atas.

Kami memasuki ruang kamar penginapan yang cukup luas. Ruang itu terdiri dari satu ranjang besar yang kira2 cukup untuk dua orang. Dan juga sebuah kursi panjang yang berada di salah satu sisi tembok. Sementara kulihat di luar langit sudah tampak mulai gelap. Dan suasana Northreach terlihat semakin mencekam dari sini.

"Kak rubben" Aku memalingkan pandanganku ke belakang untuk mencari asal suara itu. Aku melihat Nerrie dengan wajah yang terukir jelas kekhawatirannya.

"Uhm?" Aku hanya menyahut singkat.

"Kita akan baik-baik saja kan?" Ujarnya begitu polos.

"Tenang saja, kita bersama tuan Arthar. Lagipula, aku juga ikut. Kalau terjadi apa-apa denganmu, aku bisa menolongmu" sahutku.

Baru pertama kali ini Nerrie keluar dari pulau melayang Skynesia. Hanya dengan ditemani 2 orang dengan misi yang sepertinya tidak sepele. Nerrie yang baru saja berumur 15 tahun kurasa wajar saja kalau mentalnya drop. Apalagi beberapa waktu lalu kami baru saja diserang oleh beberapa monster yang berkeliaran.

"Kau sendiri lihat kan? tuan Arthar dapat menghajar habis monster2 itu dengan sihirnya yang luar biasa. Tuan Arthar dapat diandalkan sama seperti ibu kita." Kataku mencoba untuk menghilangkan kecemasan Nerrie sambil mengacak-acak rambut coklatnya yang hanya sepanjang bahu.

"Aku harap seterusnya begitu." Sahutnya dengan senyum kecil.

"Sebaiknya kalian istirahat sekarang. Perjalanan kita akan dilanjut pada besok pagi." Kata Tyrone tiba-tiba. "Kalian dapat tidur di ranjang itu. Aku akan duduk di kursi untuk memastikan keselamatan kalian."



Continued ....
2012-11-12, 19:25
PostRe: [StoryPlay] Eremidia : The Fragments
richter_h 
Salto Master
Hancip RMID
avatar

Kosong
Posts : 1705
Thanked : 30
Engine : Other
Skill : Skilled
Type : Developer
Awards:

Chapter 2: The truth, or the fake?

Faleon.
Dari kelihatannya, kota ini harusnya damai. Namun semua tidak berarti lagi saat mahluk hutan menyerang kota, dan para pedagang makin panik saat mahluk-mahluk yang tidak diinginkan itu menyerang salah satu di antara mereka, satu demi satu pedagang mati di tangan mahluk itu. Mungkin mayat para pedagang itu dibawa ke sarang mereka, dibuat sup manusia atau dipanggang di atas bara. Yang masih hidup, menyewa beberapa petarung bayaran untuk menghadapi para mahluk hutan yang tidak pandang bulu; selama itu manusia, hajar bleh...

Para pedagang akhirnya bisa kembali melakukan kegiatannya tanpa gangguan dari para mahluk hutan; goblin, troll, beastling, atau kau beri nama mahluk yang seram dan pasti memakanmu begitu kau bertemu dengannya.

Sepenuhnya? Tidak.

Mungkin kau harus tahu, bahkan manusia juga sama kejamnya dengan apa yang mereka pandang kejam. Tidak semua petarung bayaran itu rela bertarung melawan keganasan mahluk hutan demi picisan. Tidak semua petarung bayaran itu melindungi para pedagang.

Dan jika kau ingin menyanggah perkataanku, kau harus tahu petarung perlente tampang angkuh yang bernama Boris Camoran.

--

Walau reputasinya terbilang buruk, Boris adalah salah satu dari petarung bayaran yang terbaik di kelasnya (para petarung yang setingkat dewa, yang diceritakan di kisah lain oleh orang lain tidak dihitung karena mereka memang sudah sangat sangat terampil sekali, namun masih dalam pencarian jati diri mereka). Sikap angkuhnya tidak menghalangi para pedagang untuk menggunakan jasanya dalam mengawal para pedagang selama di daerah sekitar Faleon. Para pedagang mungkin saja mengumpat karena upah yang diminta Boris kelewat batas, namun harga sebanding dengan kualitas, bukan?

Dan karena merasa dirinya lebih baik dari yang lain, dia tidak segan meminta pungutan kepada para pedagang, baik yang menggunakan jasanya maupun tidak, bahkan kepada sesama petarung bayaran yang lain. Itulah Boris. Dia begitu tamak akan materi dan reputasi.

Dimana para petarung yang lain, yang harusnya melawan Boris dan tingkahnya yang kelewatan? Beberapa mengacuhkannya, beberapa ingin melawan, beberapa hanya pasrah, tapi semuanya tidak bisa melawannya karena kemampuan Boris memang lebih dari yang lain. Keahlian pedangnya, kecepatannya, dan daya tahannya tidak bisa ditandingi petarung yang lain, yang kebanyakan adalah wajah-wajah baru dengan kemampuan tidak seberapa. Petarung kelas bawah ditindasnya, petarung tingkat menengah keatas enggan melawannya.

--

Di sisi lain, tidak lain di sisi para mahluk hutan, mereka sebenarnya tidak ingin mengganggu manusia. Namun, mereka, pada manusia, memulai duluan apa yang harusnya tidak perlu terjadi.

Para petarung masuk ke hutan, mengganggu kehidupan di dalam hutan dan seisinya. Para goblin dibantai. Para troll diburu entah untuk apa selain pengalaman dan ketenaran. Beastling? Jangan harap bisa menemukan mereka seperti dulu, dimana mereka selalu berkumpul, damai dan alami.

Mereka memang tidak sepintar, secerdas, secemerlang manusia, tapi naluri mereka untuk melawan balik membuat mereka tidak punya pilihan lain. Terlebih banyak saudara mereka dibunuh begitu saja.

Banyak yang bilang mereka, para monster, adalah pengganggu kesimbangan alam. Tapi kalau begini, siapa yang sebenarnya merusak keseimbangan alam? Bolehlah, para goblin kadang jahil kepada beberapa pedagang. Namun pembantaian satu klan bukan tindakan yang setimpal dengan apa yang mereka lakukan kepada manusia.

Dan untuk hal memakan daging manusia, terkadang membuatku heran. Memang ada yang memakan daging manusia, namun harus dilihat lagi siapa yang dimakan. Mereka, para monster, harus melindungi diri mereka, dan harus bertahan hidup. Manusia yang mati, terkadang harus menjadi takdirnya dimakan oleh monster...

--

Kembali ke kota.

Satu pagi, di belakang bar, seorang gadis penyaji minuman menjerit, menemukan sesosok mayat dengan kondisi bersimbah darah, tertelungkup di tanah. Boris. Wajahnya bisa dikenali walau tertutup dengan warna darah. Wajah angkuh itu, sekarang sudah tidak bisa tersenyum sinis lagi ke hadapan orang-orang kota.

Penyebab kematiannya tidak ada yang tahu pasti, namun dari petunjuk yang ditemukan, seseorang pasti menusuknya saat Boris mabuk. Sisa racun di luka tusukan di perut Boris, dan tidak ada lagi bukti yang menguatkan penyebab kematian Boris.

Boris Camoran mati di tangan seorang pembunuh bayaran. Itulah asumsi orang-orang kota.

Mereka benar. Dan aku yakin, Grey singgah di kota ini, membenahi untaian benang takdir yang harus berjalan di tanah Eremidia ini.
Untaian takdir yang menuju ke bentuk dunia yang seharusnya.


| My spriteworks | deviantArt | Mark's Quest | Eremidia: Dungeon! |
Developer of:



Supporter of:


Selp-Proclaimed The Most Handsome Member of the Long Lost Glorious


Disini kalo sebagai nubi mau dikritik yang bagus2 biasanya harus ngaku cewek dulu, karena you know lah... -- Brosef numfanklewhat
2012-11-13, 14:15
PostRe: [StoryPlay] Eremidia : The Fragments
hyperkudit 
Pahlawan Super
avatar

Level 5
Posts : 2288
Thanked : 30
Engine : RMXP
Skill : Very Beginner
Type : Artist
Awards:

Chapter 8 : Hilda’s House


Meja makan kecil sudah dipenuhi oleh beberapa hidangan, bentuknya cukup aneh bagiku, yang panjang bahkan seperti kotoran kering, walau aromanya sedap. Aku cukup penasaran dengan makanan manusia ini, ingin kucicipi salah satunya tapi Meidy keburu mengomeliku, menyuruhku mencuci tangan, menyikat gigi, mandi dan lain-lain. Aku penasaram kenapa tidak sekalian saja dia menyuruhku membilas organ dalamku.

“Pakai saja ini, tuan Howly”

Tangan si kacamata menjulur dari balik pintu, menyodorkan kain putih kepadaku, handuk sepertinya. Kuambil dan kupakai untuk mengeringkan rambut dan badanku, lalu keluar dari ruangan itu.

“KYAAAAH!!”

Hilda dan Meidy menjerit serempak ketika melihatku, wajah mereka memerah dan langsung dipalingkan kesamping. Matanya terpejam kuat, tidak mau melihatku.

“A-apa yang kau lakukan, pakai itu!” seru Hilda gemetaran, masih tak mau menoleh.

“Dasar cabul! Tutupi itu, bodoh!” kali ini Meidy yang membentak.

Mulai mengerti, kupindahkan handuk dibahuku, melingkarkannya di pinggang, menutupi sampai paha.

“Hehehe, kupikir kalian akan suka.”

“TIDAK!!”

Mereka berteriak kompak, samasekali tidak setuju dengan kata-kataku. Pikirku mereka cuma gadis-gadis munafik yang malu-malu kucing. Manusia memang suka membohongi diri sendiri.

“Maaf tuan Howly, pakaian Philias terlalu kecil untukmu,” gumam Hilda, matanya mengintip kondisiku sekarang, “Tapi aku akan mencuci celanamu sebelum kalian pergi.”

“Jangan apa-apakan celana itu, disana melekat aroma darah tiap musuh-musuhku!”

“Jorok! Sudah berapa lama kau memakai pakaian menjijikan itu?!” gerutu Meidy, kini dia sudah berani membuka matanya setelah si kacamata memberikan isyarat aman.

“Berisik! Itu adalah gayaku! Petarung berpakaian mewah itu terlihat lemah, seperti anak kaya yang manja!”

“Tapi kau adalah pelayanku, bodoh! Aku yang malu jika kau berjalan disampingku seperti pengemis!”

“Oy.. oy.. Siapa yang kau sebut pelayan? Kau lah yang seharusnya menjadi budakku!” timpalku kesal, “Lagi pula habis diapakan tubuh kalian? Baunya benar-benar aneh!”

“Hey, ini parfum! Bau mu lah yang aneh, bahkan setelah mandi.”

“Pakai ini!” Meidy melemparkan botol berisi cairan kearahku.

“Aku tidak mau kau meracuni makanan dengan bau busukmu itu!”

Botol berwarna ungu ini sangat mencurigakan, aku yakin sekali kalau bocah Meidy ini mencoba meracuniku. Bagaimana tidak? Botol ini ukurannya terlalu kecil untuk menyimpan air minum, mungkin hanya bisa menampung setengah gelas, itu tidak akan cukup untuk perjalanan, disamping itu aromanya sangat menyengat. Kutegak minuman aneh itu sampai habis, benar-benar pahit dan ada sensasi panas di tenggorokanku, perih lalu berubah menjadi sangat dingin.

Meidy dan Hilda berteriak panik ketika aku melakukannya, dari tadi kulihat mereka sangat kompak untuk urusan berteriak. Mungkin jika mereka membentuk duo penyanyi akan bagus.

“Bertahanlah tuan Howly! Aku segera membuatkan obat sakit perut!” seru Hilda, lalu berlari dan membuat racikan rempah-rempah lagi.

“Jangan kau minum, idiot!” teriak Meidy tak percaya, “Aku tidak mengira ada orang sebodoh ini, meminum parfum seperti air mineral.”

“Jadi.., itu tidak untuk diminum?”

“Tentu saja! Itu untuk disemprotkan di kulit!”

Satu detik… dua detik… tiga detik.

“Kenapa tidak kau katakan dari tadi, bocah tengik!!” teriakku gusar, perutku mulai terasa melilit. Seperti dicakar-cakar dari dalam. Walau aku tidak akan mati, tapi tentu saja aku masih bisa merasakan sakit. Dan rasa sakit yang kuderita saat ini sungguh menyiksa.

“Tidakkah kau berpikir itu terlalu mencurigakan untuk jadi minuman?! Kau pikir itu jus atau semacamnya, ha?!” balasnya tak kalah marah.

“Kupikir tadi kau mencoba meracuniku dengan ramuan penyihirmu!!

“Jika kau sudah mengira itu racun, kenapa masih kau minum juga!!” teriaknya, mengacak-ngacak rambut pirangnya, lalu berputar-putar seperti orang bingung. “Aku sungguh tak percaya ada orang yang tingkat kebodohannya seperti ini!”

Aku diam, membatu, bocah Meidy ini benar! Kenapa aku meminumnya jika aku sudah yakin bahwa botol itu berisi racun? Tapi aku tidak mau mengakui kalau dirinya benar dan aku yang salah. Mau ditaruh dimana mukaku jika mengalah dari bocah tengik ini.

Hilda datang membawa segelas cairan merah, kuambil dan kucelupkan jariku kedalamnya, lalu kuoleskan ke perutku sampai rata.

“Diminum!!” bentak Hilda ketika melihat kelakuanku, Meidy juga hanya menepuk wajahnya.

Kuteguk isi gelas itu sampai habis, rasanya menjijikan dan baunya amis, tapi beberapa saat setelah minuman itu tertelan sepenuhnya, perutku terasa lebih baik.

“Hey.., ini bekerja, perutku sudah tidak aneh lagi.”

Hilda dan Meidy menghela napas lega, lagi-lagi secara bersamaan.

“Ahaha… syukurlah, tapi rumah kami tidak pernah seramai ini sejak beberapa tahun terakhir,” gumam wanita berkacamata itu senang, “Philias pasti akan suka.”

Aku menoleh kearah laki-laki yang terbaring di dipan, mungkin usianya hanya dua tahun diatas Meidy. Yang membuatku heran kenapa anak itu dan si kacamata Hilda bisa diserang oleh Imp, maksudku, kenapa bisa ada Imp di dunia atas? Perlukah aku peduli?

Meh…

Tujuanku di dunia atas hanya untuk menonton dan jalan-jalan, bukan terlibat masalah. Kubiarkan saja, toh nanti mereka akan bosan sendiri.


DeviantArt | Kemudian.com| Facebook
2012-11-13, 16:02
PostRe: [StoryPlay] Eremidia : The Fragments
Signus Sanctus 
Newbie
Newbie
avatar

Level 5
Posts : 69
Thanked : 3
Engine : RMVX Ace
Skill : Beginner
Type : Developer
Awards:
Chapter V : Faith Conversion
1 bulan berlalu setelah kejadian tersebut, dan aku masih menikmati hari - hari damaiku bersama dengan Leila, Sophitia, dan anak - anak yang kurawat sendiri menggantikan almarhum Cassandra yang telah tiada.

"SANTAI PANTATMU!!! INI SUDAH 1 BULAN HOI!!! DAN KAU BELUM DAPAT KABAR SAMA SEKALI DARI ALQUERIO!!!"

Dan dalam sekejap Rudolf mengomentari monolog ku, entah bagaimana dia dapat mendengarnya, atau aku secara tidak sengaja bergumam terlalu keras.

"Mau bagaimana lagi? Alquerio sendiri sudah bilang untuk menyerahkan masalah itu kepadanya, dan kenapa kau sebegitu paniknya? Bukankah Languard tidak boleh memihak siapapun ya?"

"Kami memihak ko', terhadap rakyat dan negara Eremidia, dan karena kami memihak negara dan rakyat itulah kami tidak diijinkan untuk ikut campur masalah para Lordic - Lordic itu jika itu akan membawa kehancuran Eremidia."

"Well, memang sih..."

Saat Rudolf dan Arphage masih asik menyantap sarapan mereka masing - masing, sosok yang mereka cukup kenal datang kedalam Bar The Blue Phyton.

"Yo~! Leila, seperti biasa ya!"

"Elice, steak Orcabus seperti biasa ya? Tunggu sebentar~!"

"Elicia?! Ngapain kamu disini?!?"

Rudolf terkejut melihat Elicia tiba - tiba datang ke bar yang ada di sekitar para commoner tersebut.

"Dia jadi pelanggan reguler di sini ko, hampir setiap hari atau 2x sehari ia datang ke tempat ini."

"Yaah, aku tak menyangka makanan - makanan disini sungguh sangat enak, sampai - sampai aku lebih memilih untuk terus makan disini daripada harus setiap hari mendengarkan sahutan - sahutan nggak jelas dari Albert Forzand~!"

"Awas gembrot~!"

*BRAGG!!!

Sesaat setelah Rudolf mengatakan hal tersebut, sebuah kursi kayu yang tepat berada disamping Rudolf melayang tepat di perut Rudolf.

"GUWOOOOOOH!"

"Languard keparad...!"

Elicia Klavrein adalah salah satu Striker Force dari kelompok Pucelle's Lancette, sebuah grup yang terdiri dari wanita, berkebalikan dengan Languard yang terdiri dari pria. Pucelle's Lancette mengumpulkan para Maiden - maiden yang tidak dapat bekerja baik secara fisikal maupun untuk pekerjaan rumahan untuk dilatih menjadi salah satu Private Force yang bertugas untuk melayani para Lordic wanita dan ratu kerajaan. Karena sering sekali para prajurit kerajaan dan Languard yang diprotes karena tidak memiliki kompetensi yang baik untuk menjaga klien mereka karena ada rasa ketidak enakan diantara klien wanita dan penjaga lelaki.

"Coba kamu cewe, Arph. Mudah saja bagiku untuk menyelesaikan permintaanmu."

"Well memang sih, tapi bukankah kalian Pucelle's Lancette juga memiliki strain yang sama dengan para Languard? Tidak bisa memihak siapapun?"

"Tunggu? Memangnya kamu serius ma..."

Sesaat sebelum Elicia menyelesaikan ucapannya Rudolf langsung membungkam mulutnya.

"HNGMMFFFF"

"Bodoh...! Kalau kamu ngebeberin semua hal tentang pihak memihak itu lebih jauh lgi bisa - bisa ada rakyat yg curiga woi!"

"MMff....!"

Sadar dengan kesalahannya, Elicia terdiam, dan Rudolf pun melepaskannya.

"Well kita tunggu saja pesan dari Rudolf tiba...."

"Permisi."

Tiba - tiba seorang kurir surat datang kedalam bar dan mendekati Leila.

"Maaf, aku membawa surat untuk Arphage, bisa tolong titipkan ini padanya."

"Oh itu dia ada disana."

"Surat untukku?"

Aku langsung bersegera menuju kurir surat tersebut dan menerima suratnya, kemudian membaca isinya...

*Grin~

Aku tersenyum lebar melihat isi surat tersebut, melipatnya dengan rapi, dan segera menyiapkan perlengkapan - perlengkapanku.

"Oho!? Kabar bagus telah tiba?!"

"Lebih tepatnya, Berjalan lebih baik dari perkiraan~!"

"Oho, aku ikut~!"

Aku dan Rudolf langsung bersiap - siap menuju Noble's District.

"Tunggu, aku juga ikut?!?"

"Boleh saja, tapi steakmu gimana?"

"Leila, sudah disiapkan belum? kalo sudah, tolong dibungkus!!"

"Wah wah~"

Leila yang baru akan menghidangkannya di piring itu kemudian mengambil sebuah kotak hitam dan dengan cekatan ia langsung menyiapkan steak itu dalam formasi yang menggiurkan membuat mulut Elicia bermandikan air liur tak sabar ingin melahapnya, namun diluar tebakan kami juga, Elicia ternyata sudah menyiapkan 1 kotak Sandwich besar dan 1 kotak Chicken Salad untuk Arph dan Rudolf.

"Ini buat bekal kalian~!"

"UWOHOOO~! Thank you, Leila~!"

"Tidak apa - apa, kamu kan telah banyak membantu Arphage~...."

Namun tiba - tiba Leila menarik sebuah pisau dibalik pemotong daging yang besar dibalik rok tebalnya, kemudian mendekatkan pisau itu kemulutnya, dan menjilat pisau itu dengan senyum sinis mengerikan dengan matanya yang berwarna coklat kehitaman tersebut semakin hitam dan gelap.

"Tapi kalau sampai terjadi sesuatu kepada Arphage... Kurasa kalian akan tahu akibatnya..."

Satu bar tersebut diserang rasa ngeri seakan - akan ada sesuatu yang tajam tengah bersiap - siap menusuk mereka dari belakang, sisi lain yang tidak pernah terlihat selama ini muncul begitu saja.

"Sigh..."

Aku berjalan menuju Leila, mengelus - elus pipinya, dan kemudian

*chu

Aku mencium pipinya, membuatnya memerah merona.

"Sudah kubilang aku akan baik - baik saja, jadi kamu juga harus jaga diri baik - baik dan anak - anak asuh kita, dan kau juga harus mengajari Sophie, OK?"

"Baik~!"

Melihat senyum terang Leila tersebut, banyak penghuni bar yang merasa lega rasa ngeri itu menghilang, namun muncul lagi rasa iri hati terhadap Arphage yg dengan enaknya bermesra - mesraan didepan mereka.

"Hei, sejak kapan istrimu jadi mengerikan seperti itu?"

"Hah? Maksudmu apa?"

"Rudolf, kamu tidak paham, wanita akan menjadi sangat mengerikan ketika ia memiliki lelaki yang dicintainya~"

Ucap Elicia menceramahi Rudolf

"Hrmm, tapi ngeri juga sih, kalo dia tiba - tiba bunuh orang gara2 suaminya kenapa - kenapa itu gimana?"

"Ya itu tugasku untuk menghentikannya kan?"

Sahut Arphage, dan Rudolf hanya tersenyum kecut saja mendengarnya.

***

Saat baru saja memasuki Noble's District, Arphage bertemu dengan sosok yang cukup familiar didepan matanya.

"Aurel!"

Aurelia, seorang gadis yang sebelumnya membantu Arphage mencarikan markas Languard untuk Rudolf. Akhir - akhir ini banyak rumor tentang mereka yang sedikit dekat dengannya saja akan kehilangan nyawanya, namun aku tidak terlalu peduli dengan rumor tersebut.

".........."

Aku terus mendekati Aurelia yang tidak merespon panggilanku sama sekali, terlihat tatap matanya kosong tanpa cahaya tersebut. Dan saat jarakku dengannya sudah lumayan dekat, mendadak aku dihadang oleh sekelompok prajurit kerajaan yang terlihat cukup kuat.

"Jangan mendekati Nona Aurelia."

"Apa urusan kalian, aku hanya ingin berbicara dengannya."

"Mundurlah, demi kebaikanmu sendiri."

Namun dari pandangan prajurit yang menghadangku tersebut bukanlah tatapan seseorang yang bertekad untuk melindungi putri tersebut, melainkan tatapan ngeri penuh rasa takut dengan apa yang akan menimpanya jika aku tidak menurutinya.

".... Minggir..."

"Ja... Jangan, tuan. Sebaiknya anda mundur sekarang juga..."

"....Hei..."

"...!!!!"

Gadis tersebut akhirnya bersuara, namun suaranya penuh intimidasi dan nafsu membunuh, aku dapat mengira - ngira sejauh itu setelah apa yang selama ini kualami.

"Kenapa kamu tidak bisa segera mengusir orang itu?"

"Maafkan hamba, nona Aurelia, hamba akan segera mengusirnya sekarang juga, jadi..."

"Inkompeten...!"

Dan tanpa aba - aba Aurelia langsung menghunuskan pedang besarnya akan membelah prajurit yang tengah berada didepanku berikut pula denganku...

*CRANG!!!!

Namun, belum sempat pedang itu menyentuhku ataupun prajurit itu, kedua bilah tombak telah menghalau tebasan pedang Aurelia.

"Nona Aurelia, tidak baik jika anda membunuh seseorang di tempat umum seperti ini."

"Atau jika anda memang ingin mencari masalah disini, kami berdua, Striker Force dari Languard dan Pucelle's Lancette ini akan menjadi lawan anda."

Aku hanya diam menyaksikan Aurelia yang sangat berbeda dari pertama kali kita bertemu, matanya seakan - akan menutup sesuatu yang sangat dalam.

"Sudah cukup, Aurelia..."

Dan entah darimana seorang Noble muncul mencoba menghentikan Aurelia hanya dengan mulut manis mentahnya saja.

"Baiklah, tuan Willfrey."

Dan dengan mudahnya ia menurut?

"..............."

"Oh, anda... Tuan Arphage ya... khuhuhuhuhuhu."

Dia sepertinya mengenalku, apa Alquerio sudah menyebarkan namaku seluas mungkin sampai orang ini saja sudah mengenalku?

"Aku akan menantimu di Emperor's Hall... heheheehehehehe."

Hmm?

Apa maksudnya dengan kata - kata tersebut, apakah ada sesuatu yang diluar perkiraanku yang akan terjadi di istana? Dan belum selesai aku berpikir Aurelia sudah pergi meninggalkanku, Rudolf, dan Elicia.

"Arph, aku punya sedikit rasa tidak enak... biarkan aku menemanimu sampai Emperor's Hall..."

"Hah? Tapi kau kan tidak boleh memihak siapapun, Rudolf."

"Tapi kau belum benar - benar menjadi Noble Family kan? Berarti tidak ada salahnya jika aku sekedar ikut untuk mengamati situasi."

"Aku juga sependapat dengan Rudolf, aku masih berhutang budi dengan Leila yang pernah membiarkanku makan tanpa bayar gara - gara aku lupa bawa uang."

"Bego."

*PLAKK!

Elicia reflek menampar Rudolf yang kelepasan berbicara seperti itu.

***

Setelah sampai di depan gerbang istana yang cukup besar, aku bertemu dengan Alquerio yang sejak tadi sudah menunggu didepan.

"Kau cukup lama juga, kesasar?"

"Maaf, ada sedikit masalah...."

"... Baiklah kalau begitu, Rudolf, Elicia, kalian juga kalau bisa tolong ikut menghadiri pertemuan ini..."

"Eh? Kami berdua memang berencana akan mengikuti pertemuan tersebut, tetapi ada apa ya?"

"Seperti yang sudah kujelaskan di surat yang baru saja kukirim, situasi kali ini benar - benar sudah diluar kendaliku..."

"Hah? Bukankah isi surat itu adalah berita bahagia?"

"Kamu ngelantur apa, Rudolf? Kamu tidak baca isi surat itu baik - baik ya?"

"Apaan sih? Arphage, berikan surat itu!"

Arphage mengeluarkan lipatan kertas yang ia lipat dengan rapi tersebut kemudian memberikannya kepada Rudolf. Rudolf dan Elicia membacanya secepat mungkin sambil berjalan menuju Emperor's Hall

[Untuk Arphage

Mendengar apa yang anda lakukan untuk kerajaan, sang ratu Prima merasa bahagia dengan pengorbanan yang anda lakukan untuk negara Eremidia, namun untuk sekarang, aku ingin minta maaf, karena situasi yang akan menimpamu kali ini benar - benar diluar kendaliku.

Lord Albert Forzand mendengar laporanku mengenai perlengkapanmu, Tri-Arch Armor dan Nirvanne's Legacy, kedua relic yang kau dapatkan dari Lord Rayloft. Lord Albert sama sekali tidak percaya dengan testimoniku dan menuduhmu sebagai orang yang telah mencuri paksa kedua relic tersebut.

Aku sudah mencoba untuk membersihkan namamu sebersih - bersihnya, namun akhirnya semua berakhir dengan sang Lord Albert meminta kehadiranmu di Emperor's Hall dan mengungkapkan semua testimoni, fakta, dan alasanmu untuk memegang kedua relic tersebut.

Jika kamu berhasil meyakinkan Lord Albert atas keberhakkan dirimu memegang kedua relic tersebut, kamu akan diakui sebagai salah satu prajurit yang berjuang demi negara dan kamu akan diberikan rank yang cukup pantas sebagai seorang Noble.

Maafkan aku jika situasi berubah menjadi diluar kendali seperti ini, sekarang semuanya tergantung testimonimu di Emperor's Hall nanti.

Salam, Alquerio]

"WOOOOOOOOOOOIIIIIIIIII?!?!?!?!"

Rudolf reflek berteriak kencang di jalan menuju Emperor's Hall.

"Kau kenapa, Rudolf?"

"KALAU BERITANYA SEPERTI INI KENAPA KAU BISA DENGAN ENAKNYA SENYAM SENYUM SENDIRI WAKTU MEMBACA SURAT INI, ARPH!?!?!?!?"

"Ini benar - benar diluar kendali... salah - salah kamu bisa dihukum mati karena tuduhan pencurian relic kerajaan, Arph...."

"Kita lihat saja nanti, untuk sekarang, lebih baik kita menemui mereka, kalau tidak, aku akan dihukum lebih berat karena melanggar perintah kerajaan kan?"

"TAPI LAWAN ARGUMENMU ITU ALBERT!!!! DIA ADALAH LORD YANG TERKENAL ATAS KEMAMPUAN BERTARUNG DAN SILAT LIDAHNYA YANG TAJAM YANG MAMPU MENUNDUKKAN SEMUA DEWAN YANG MENENTANGNYA SELAIN RAJA DYNAS XIII!!! INI MUSTAHIL!!!!!"

"Rudolf, yang terpenting sekarang bukanlah aku akan mengalahkan Albert dalam adu silat lidah atau bukan...."

Aku mengepalkan tanganku dengan keras, bersiap - siap didepan Emperor's Hall.

"Tapi, aku akan membuktikan kesahanku untuk mewarisi apa yang Lord Rayloft Nirvanne telah tinggalkan untukku!"

Ucapku sambil membuka pintu menuju Emperor's Hall. Alquerio, Rudolf, dan Elicia hanya terdiam dan mengambil posisi mereka masing - masing, dan aku segera menuju ke meja tengah yang sudah disiapkan untukku. Didepanku terlihat Ratu Prima, dengan rambut coklatnya yang bergelombang kebawah dengan indah dan bercahaya, dan bibir lembut lentiknya yang terlihat menggunakan lipstik yang tidak berlebihan, membuatnya terlihat lebih anggun dan menawan. Dan tepat disebelahnya adalah orang yang akan mendengarkan testimoniku hari ini, Lord Albert Forzand.

"Selamat datang, di Emperor's Hall, Arphage...!"

"Suatu kehormatanku untuk menjawab panggilan hamba, Lord Albert...."


The Greatness of Tentacle:
 


Requiem:
 


The Last:
 
2012-11-13, 17:46
PostRe: [StoryPlay] Eremidia : The Fragments
fly-man 
Poison Elemental
Anak Cantik
avatar

Level 5
Posts : 917
Thanked : 11
Engine : RMVX
Skill : Beginner
Type : Artist
Awards:

"Adaaaa Pulaaaau!!! ", Sesorang berteriak girang dari atas menara kapal kami. Aku terbangun perlahan, sangat perlahan, berat sekali membuka mata ini. Bukan karena semalem aku begadang main poker atau sekedar nongkrong sambil senda gurau di kabin kapal. Bukan juga karena aku orang yang malas dan kerjanya hanya tidur dan main wanita. Sudah seminggu ini persediaan makanan di kapal kami benar - benar habis. Pait lidah ini rasanya sepet tak karuan ketika lagi - lagi makan ikan dan ikan hasil memancing dengan malas. Itu mengapa aku habiskan hari - hariku kini hanya dengan tidur untuk menghemat energi yang tersisa, hingga tiba saatnya kita menemukan pulau. Dan kini, di depan mata kami, benar - benar ada pulau besar menanti kami.

Keluar aku setengah berlari, ingin cepat - cepat kulihat daratan yang sudah lama kakiku tak menginjaknya. Kompas menunjukan letak pulau itu ada si sebelah barat daya kapal kami. Seorang goblin datang dengan menyeret kakinya, dia salah satu crew kapal kami, Urmolob namanya. Ia kehilangan kakinya saat kita melakukan Expedisi pulau Vixeace untuk menemukan pusaka kalung rojo geni. Dia yang menyelamatkanku dari terkaman Hiu berkaki penjaga pusaka saat itu. Urmolob semakin mendekatiku. "Lapor kapten, Pulau yang sudah kita lihat semakn dekat, apakah kita akan menepi di sana?", ujar Urmolob dengan semangat. "Tidak! kita akan berbalik arah lalu menenggelamkan kapal kita!!", ujarku tegas dengan tentakel bergerak menjijikan di wajahku untuk menggarik hidungku yang gatal. Tidak - tidak, aku bahkan tidak punya hidung, ini hanya dua buah lubang yang ku pakai utuk bernafas di darat, dan beberapa lubang kecil d kanan kiri kepalaku untuk bernafas di air.

Urmolob nampak kecewa. "tapi kapten, kita sudah tidak mungkin melanjutkan perjalanan, persediaan makanan kita sudah habis!!! mau tidak mau kita harus mampir di pulau ini!!", Urmolob menjelaskan panjang lebar. "Tentu saja menepi!! dasar lengob!!! ngapain pake nanya kalo udah tau kaya gitu? dasar kau bolo - bolo", ujarku sambil sedikit tertawa yang diikuti oleh kru kapal kami yang lainnya. Urmolob nyengir bentar, balik badan, teriak keras - keras. "MENEPI!!! KITA AKAN TIBA Di DARATAN ITU!!!", Urmolob berteriak sambil menunjuk pulu yang barusan kami liat. Cru kapal kami yang lain semua tampak gembira. Humbobo si Troll segera bergerak menggerakan layar bersamaan dengan Hamid si lelaki gagah berkumis dari ras manusia.

Aku yakin, kurang dari 10 menit lagi kami akan menginjakan kaki di pulau itu.

Spoiler:
 


 -Coming Soon-



Terakhir diubah oleh Cokre tanggal 2012-11-13, 20:09, total 1 kali diubah
2012-11-13, 19:36
PostRe: [StoryPlay] Eremidia : The Fragments
hyperkudit 
Pahlawan Super
avatar

Level 5
Posts : 2288
Thanked : 30
Engine : RMXP
Skill : Very Beginner
Type : Artist
Awards:

Chapter 9 : Occult of Shadowlord

“Hey, Hilda… Kau keren, seperti apotek berjalan,” puji Meidy ketika kami telah duduk di meja makan.

“Ahahaha.., aku memang lulusan sekolah tinggi jurusan botani di Capital, jadi sedikit banyak aku tahu seluk beluknya.”

“Hooo… aku belum memikirkan ingin mengambil bidang apa ketika dewasa kelak.”

Pembicaraan ini membosankan jika kau tanya padaku, pendidikan formal bukanlah gayaku, jadi aku tidak perlu ikut campur obrolan mereka. Lagipula guru yang paling sempurna bagiku adalah pengalamanku sendiri. Tidak dibatasi oleh usia dan kematian, sangat cocok untuk belajar dari pengalaman. Aku heran dengan manusia, mempelajari sesuatu hanya dengan teori, mendengarkan orang sok pintar memberi ceramah, menceritakan hal-hal yang bahkan belum tentu pernah dialaminya. Menggambar cacing-cacing aneh di kertas yang mereka sebut huruf, lalu untuk apa? Kau bisa mengatakannya langsung bukan? Maksudku bagaimana mungkin mereka menggambar suara?

“Bagaimana denganmu, tuan Howly?”

Pertanyaan si kacamata membuyarkan lamunanku, aku tidak tahu lagi apa yang mereka sebelumnya bicarakan, jadi aku tidak tahu dia bertanya padaku tentang apa.

“Apanya yang bagaimana?”

“Apa pekerjaanmu? Err… Sebelumnya mungkin”

Kurasa si Hilda ini meragukan kemampuanku, mungkin karena penampilanku yang sederhana membuatnya berpikir aku adalah seorang pengangguran. Tentu saja aku punya pekerjaan, tidak mungkin pria sekeren diriku menjadi pengangguran.

“Pekerjaanku adalah sebagai dewa, kau tahu?”

“Lihat? Sudah kubilang kan,” gumam Meidy, “Apa kau bisa membuatkan obat untuknya?”

“Eheheh.., aku takut itu tidak bisa, Meidy,” balas Hilda sambil tersenyum kecut, “Cedera psikologis biasanya membutuhkan terapi dan waktu yang cukup lama.”

Aku tahu kemana arah pembicaraan ini, dua gadis dihadapanku mengira aku adalah seorang gelandangan gila.

“Oh, omong-omong… kenapa kalian bisa diserang oleh Imp?” tanyaku selagi ingat, bisa kulihat dari balik kacamatanya, mata Hilda berbinar ketika aku menyebut kata Imp.

“Darimana kau bisa tahu itu? Apa kau juga mempelajari Satanologi?!” serunya, membuatku dan Meidy terkejut melihat reaksinya.

Beberapa detik aku mencoba menenangkan diri, firasatku berkata gadis ini bakal sama menyebalkannya dengan si penyihir berkerudung biru.

“Tentu saja aku tahu, aku adalah raja bumi…”

“Asura!? Iblis tingkatan raja-raja?! Para naga legendaris?!”

Si kacamata Hilda memotong kata-kataku dengan seruan antusias, beberapakali aku terkejut dibuatnya, tapi senang juga karena pada akhirnya seseorang tahu siapa diriku.

“Ya.., begitulah, aku adalah Sang pangeran kegelapan…”

“BEHEMOTH!!”

Oke, ini mulai menyebalkan, aku menatapnya dengan kesal, tidak mau melanjutkan kata-kataku lagi. Dia terus memotong kata-kataku dengan nada girang, bukannya harusnya ketakutan? Apa yang terjadi dengan manusia modern saat ini? Kenapa dia justru senang ketika menyebutkan nama asliku yang seharusnya membuat orang lari terbirit-birit.

“A-ada apa Hilda?” tanya Meidy, sangat bingung, sama sepertiku kurasa.

“Meidy, temanmu mungkin seorang jenius di bidangnya!” seru Hilda takjub, “Mungkin dia guru besar atau semacamnya, sepertinya dia gila karena terobsesi dengan pengetahuannya!”

Eh..? apa-apaan ini? Bukankah kesimpulan bahwa aku adalah Behemoth justru lebih simpel dari kesimpulan yang dibuat si kacamata itu? Aku bahkan tidak pernah berpikir untuk menjadi profesor atau semacamnya. Manusia jaman sekarang benar-benar gila!

“Kau belum menjawab pertanyaanku,”

“Oh.., maafkan aku,” gumamnya kaget, “Aku juga tidak tahu pasti bagaimana itu terjadi, semuanya berlangsung cepat.”

“Ada apa?” tanya Meidy.

“Sekelompok Imp menyerang Westport, kesatria Order of Nirvanne mampu mengatasinya, tapi beberapa mengikuti kami yang kabur ke hutan.”

“Kenapa bisa ada Imp disini? Apa mereka kurang kerjaan?” tanyaku.

“Entahlah.., tapi beberapa tahun yang lalu muncul isu tentang kumpulan rahasia yang bertujuan membangkitkan para iblis kuno.”

“Kumpulan rahasia katamu?”

“Ya.., dari gosip yang beredar, mereka menyebut dirinya Occult of Shadowlord.”

“Iblis? Ada ya orang bodoh yang percaya itu?” tanya Meidy remeh.

“Mungkin aku dan adikku adalah salah satu yang percaya,” gumam Hilda lirih, “tapi itu hanya sebatas keingintahuan kami tentang mereka, tidak lebih.”

“Jadi, iblis kuno yang kau maksud… adalah?”

“Para raja bumi, kurasa…” jawab si kacamata itu lagi.

Hohoho… aku mulai mengerti, sekumpulan fans ya? Tapi ada apa dengan Occult of Shadowlord? Bukan Occult of Dark Prince atau Behemoth. Shadowlord bahkan bukan gelar rajaku, Leviathan, Salamander dan juga Wyvern.

“Bagaimana pendapatmu, Howly?” tanya Hilda.

“Aku penasaran, kurasa aku akan mencari tahu tentang Occult of Shadowlord selama ada di dunia atas.”

“Aku juga!! Mungkin kita bisa bekerja sama!” seru si dada besar ini antusias, matanya berbinar namun kembali redup ketika melihat adiknya yang masih terbaring lemas. “Mungkin.., setelah Philias sembuh.”

“Hey.., hey, aku tidak punya waktu untuk ini! Aku juga punya pekerjaan!” sela bocah Meidy.

“Kau pergi saja! Perempuan bersusu besar ini lebih cocok menjadi budak ku!” cibirku.

“Eh? S-susu?

Bisa kulihat ekspresi Hilda berubah, kaget, tak percaya, syok, entahlah. Yang jelas dia seperti tidak menyangka ketika aku memanggilnya demikian.

****

Lampu tempel telah dipadamkan, Hilda dan Meidy sudah terlelap di dekat lelaki bernama Philias itu. Sementara aku diberi jatah tidur di dapur. Pondok si kacamata memang tidak luas, hanya ada tiga ruangan dalam bangunan. Satu ruang tidur yang hanya berisi dua ranjang, satu kamar mandi, dan sebuah dapur yang merangkap sebagai ruang tamu, tempatku tidur-tiduran sekarang.

Sayup-sayup kudengar suara kepanikan dari luar. Para Imp kah? Bukankah kata Hilda mereka telah disapu habis? Rasa penasaran membuatku membuka sedikit tirai di jendela kayu, melihat beberapa mayat manusia bergelimpangan sebelum cakar raksasa mendekat kearahku.

Spontan aku melompat kebelakang, tiarap di lantai kayu. Tangan besar itu menghancurkan separuh dinding kayu pondok Hilda. Suaranya membuat para gadis terkejut dan bangun.

“Apa yang terjadi?!”

Bisa kudengar suara si kacamata yang sedang panik.

“Kakak, ada apa ini?!” seru suara lainnya, laki-laki kali ini. Asumsi ku, itu suara saudara Hilda.

“Howly! Lakukan sesuatu!”

Kali ini si bocah tengik itu yang berteriak, melakukan sesuatu katanya? Tentu saja aku akan melakukan sesuatu! Siapa yang berani menyerangku? sang pangeran kegelapan. Aku berlari ke ruang tidur, menghindari reruntuhan atap yang terus berjatuhan di dapur. Lagipula aku ingin melihat wajah mahluk yang berani mengayunkan tangan kotornya padaku.

“Kyah!! Apa yang kau lakukan! Pakai handukmu, bodoh!” teriak Meidy ketika melihatku.

“Dimana celanaku! Aku tidak mau bertarung kalau tidak pakai celanaku!”

“Diluar, kugantung di halaman belakang!”

Hilda berteriak panik, mungkin dia menyadari ketelanjanganku, tapi gadis itu terlalu sibuk memapah adiknya yang berjalan terseok. Meidy mengikutinya sambil terus menutupi wajahnya, tak mau melihatku.

Cih!! Ini pasti merepotkan, aku berlari menerobos mereka bertiga, berjalan lebih dulu ke halaman belakang.

Bisa kulihat kain berwarna abu-abu tergantung disebuah tali tambang. Segera kuraih kain itu dan memakainya, tali tambangpun kuikatkan di pinggang sebagai sabuk. Kurang satu bagian lagi, Tuan Winkle. Kugantungkan sahabatku itu di pinggang, dengan ini lengkap sudah.

Howl, sang raja bumi, sudah dalam mode bertarung!


DeviantArt | Kemudian.com| Facebook


Terakhir diubah oleh superkudit tanggal 2012-11-14, 13:31, total 2 kali diubah
2012-11-13, 20:50
PostRe: [StoryPlay] Eremidia : The Fragments
fly-man 
Poison Elemental
Anak Cantik
avatar

Level 5
Posts : 917
Thanked : 11
Engine : RMVX
Skill : Beginner
Type : Artist
Awards:

Perjalanan ini benar - benar membuatku muak! Kakiku yang empuk benar - benar terasa gatal. Dasar sial!!! Mengapa tak seorang ilmuwan pun pernah membuat, baiklah, mungkin kata membuat terlalalu imajinatif, setidaknya berfikir saja untuk membuat sepatu khusus untuk kaumku. Kaum? Maaf aku salah ucap tentang hal itu. Aku ini cucu dari cucunya Poseidon! Biar bagaimana pun aku ini anak dewa. Hmm.. Lalu kenapa aku ada di sini? Semestinya aku duduk sntai sambil di pijat para duyung menawan di Istana raja laut timur, begitu kan pikiran kalian? Sabar kisahku baru saja dimulai.

Kapal kami sudah sampai di pulau besar ini sejak 1 jam yang lalu. Oh baiklah, karena kami tak bisa melihat ujung pulau ini , mungkin lebih tepat kami sebut benua untuk selanjutnya. Humbobo dan Urmolob langsung makan dengan lahap ketika melihat pohon apel besar sedang panen. Buahnya yang warna merah menghiasi ranting - ranting kokohnya. Urmolob manjat sangat cepat kaya monyet. Humbobo cukup bergerak tanpa repot seperti biasanya untuk mengambil apel - apel manis tersebut. Bergerak seperti biasa? ya, kaki Humbobo cacat fisik sejak lahir, namun karena kemampuan sihir yang diajarkan oleh kakeknya, Humbobo bisa melayang di udara sesuka hati bagai burung tak perlu mengepakan sayap.

Hamid sendiri hanya makan sedikit apel , itu juga gara - gara dikasih Humbobo. Fokus Hamid saat ini hanya satu. Tembakau!!! Seminggu ini Hamid mudah emosi, Kepala Urmolob digetoknya pake palu hanya gara - gara Urmolob bobonya ngorok. Urmolob teriak - teriak kesakitan kena palu hamid yang sangat besar. Biasanya Hamid menggunakan palu itu untuk menempa senjata maupun pembenahan kapal. Mendengar teriakan Urmolob, Humbobo lompat dari tempat tidur dan menggunakan sihir penyembuhannya. Beruntung ada Humbobo di kapal kami, kalau tidak... mungkin kini Urmolob sudah dimakan gagak.

Cerita Hamid emosi lainnya saat ada kapal besar lewat. Menurutnya kapal itu menutupi pandangannya terhadap awan indah berbentuk tit1t. Hamid serta merta menembakan meriam ke kapal tersebut tanpa alih permisi kepadaku. Sontak saja saling timpuk meriam terjadi, ya ya ya, dan tentu saja kami yang tidak tahu apa - apa jadi ikut repot - repot bertarung gara - gara kebodohan hamid.

Kami segenap kru kapal D'Softex tentu saja paham betul sifat Hamid. Pelayaran 7 tahun bukanlah waktu yang sebentar untuk saling mengenal antar kru. Sebenarnya Hamid marah bukan gara - gara ngorok Urmolob atau kapal yang lewat menutupi awan. Satu hal kecil yang menyebabkan semua ini terjadi pada Hamid. Rokok Hamid habis.

2 Jam sudah kita berjalan menyusuri pulau ini. Masih tak satupun makhluk hidup ku temukan. Selain pohon dan serangga tentunya. Perutku sudah berbunyi mengamuk sejak tadi subuh - subuh masih di kapal. Seekor kelinci gendut mendadak melompat cepat seperti dikejar sesuatu tampak di depan mataku. Hatiku riang sungguh gembira , "ah.. akhirnya, makan siang", ucapku dalam hati. Kutangkap klinci tersebut dengan gerak kilatku. Kelinci sudah di tangan, saatnya ucapkan selamat makan. Dari balik rindai pohon terdengar suara berisik. Aku menoleh. Segerombolan goblin sudah siap dengan senjata di tangan. Kalinci ini buruannya rupanya, aku mengernyitkan alisku jika aku punya, kamudian tersenyum manis jika ku punya mulut, dalam hati ku berkata , "PESTA BESAR SIANG INI!!!".


 -Coming Soon-

2012-11-14, 13:01
PostRe: [StoryPlay] Eremidia : The Fragments
hyperkudit 
Pahlawan Super
avatar

Level 5
Posts : 2288
Thanked : 30
Engine : RMXP
Skill : Very Beginner
Type : Artist
Awards:

Chapter 10 : The Great Lamb

Serpihan kayu beterbangan dan jatuh ke tanah, si bocah kerudung, si kacamata dan saudaranya keluar dari bangunan mungil yang hampir roboh itu. Api hijau menyelimuti desa kecil yang entah apa namanya, tapi kurasa bukan perbuatan para Imp, mengingat ukuran tangan sebesar itu bahkan tiga kali lipat dari besar badan Imp.

“Astaga! Apa itu?!” bisik Meidy tak percaya ketika melihat apa yang menyerang tempat istirahat kami.

Tubuhnya besar, seukuran gajah kurasa, mungkin sedikit lebih kecil. bentuknya berupa belulang domba raksasa, dengan dua tangan besar dan empat kaki yang membuatnya bisa berlari secepat kuda. Namanya, atau lebih tepat julukannya adalah The Great Lamb. Iblis kelas bawah, mungkin setara binatang disini, dan parahnya monster ini sangat liar dan buas. Jika ini ulah Occult of Shadowlord, berarti mereka sungguh bodoh. Maksudku, untuk apa mereka melepaskan monster yang kerjanya hanya merusak dan makan ini?

“Meidy! Howly! Apa yang kalian lakukan?! cepat lari!” teriak Hilda dari kejauhan.

Lari huh? Bukan gayaku. Rule-of-Cool nomor tiga, pria sejati berbicara dengan tinjunya. Jika seorang lelaki menggunakan benda-benda aneh sebagai senjata, atau bahkan kabur dari pertarungan, aku sarankan sebaiknya dia mengganti kelaminnya. Kepalan tangan seorang pria berisi jiwa, keberanian dan semangat bertarung, itulah kenapa aku mematuhi poin ketiga dalam Rule-of-Cool ini. Karena aku adalah pria sejati.

Makhluk itu meraung kepadaku, api hijau yang mengisi tubuh kosongnya menyala lebih kuat setiap dia melakukannya. Kupasang kuda-kudaku, menantangnya untuk mendaratkan sebuah pukulan kepadaku.

Benar saja, tangan kanannya yang besar terayun kuat tepat kearahku, Secara refleks kutahan tinju besarnya dengan kedua tanganku. Membuat udara bergetar hebat, menghempaskan daun-daun pepohonan di sekitar kami.

Aku memang tidak memiliki gerakan secepat Wyvern, atau api sepanas milik Salamander, tapi diantara kami, para raja bumi, tenaga ku lah yang terkuat. Segel Saint Maiden mungkin telah mengunciku dalam wujud manusiaku, membuatku tidak bisa mengeluarkan sihir dan menekan kekuatanku hingga 10 persennya saja, tapi itu sudah cukup untuk menghadapi makhluk ini.

The Great Lamb menarik tangan kanannya, lalu memukulku dari atas dengan tangan kiri, seperti sebuah palu raksasa yang menghantam paku kecil. Tanah yang kupijak berdentum keras, tanganku terasa sakit menahan tinju makhluk ini, bahkan telingaku sempat berdengung beberapa detik, membuatku sedikit pusing.

Makhluk itu terus menekan tangannya dan semakin berat beban yang kutahan. Kaki kiriku mulai berlutut karena tekanan yang diberikan terlalu kuat, semakin dalam tertanam ke tanah. Aku mencoba melawan balik, berusaha menghempaskan tangan besarnya, tapi makhluk itu telah mengunci gerakanku. Aku memang tidak akan mati, setidaknya jika masih berada di tanah, tapi akan sangat menyedihkan jika aku terlihat kalah dari makhluk liar tak berotak ini.

“Hey.., jelek! Makan aku!”

Kudengar, suara Meidy dari arah belakangku, melempar batu sambil berteriak lantang mencoba mencuri perhatiannya.

“Ya, makan dia! Cepatlah!” gerutuku.

“Apa kau gila! Tega sekali kau mengorbankanku!”

Dasar bocah sok jagoan, pikirnya apa yang dia lakukan? Menolongku? Aku tak sudi jika harus berhutang budi padanya, lebih baik badanku dipotong-potong lalu disebar ke penjuru dunia jika itu terjadi.

Makhluk itu mulai mengangkat tangannya dari tubuhku. Aku bisa melihat kepalanya menoleh kearah si bocah Meidy. Memang hanya rongga kosong yang ada di tempat mata seharusnya berada, tapi aku tahu perhatiannya sudah teralihkan kepada gadis itu.

“HIIY!!”

Kudengar jeritan Meidy ketika Great Lamb berlari kearahnya, berusaha menelannya mungkin, tapi tak akan kubiarkan itu terjadi. Jangan salah sangka, ini bukan karena aku ingin menolong orang yang bahkan sangat tidak kusukai, ini kulakukan karena aku tidak suka musuh mengalihkan perhatiannya dariku, membuatku merasa diabaikan.

Kugenggam ujung ekornya sebelum sempat melewatiku, lalu kutarik kuat-kuat. Monster itu terjatuh kesamping, kehilangan keseimbangan karena dihentikan secara tiba-tiba. Tanah bergetar karena benda besar itu roboh, bahkan bisa kulihat badan Meidy yang kecil ikut merasakan dampaknya. Si kacamata Hilda berlari menghampiri Meidy yang masih syok, menariknya menjauh dan bersembunyi bersama si penyakitan di balik tembok. Keputusan yang tepat kurasa, dengan begitu makhluk bongsor ini tidak akan mengalihkan perhatiannya lagi, hanya fokus kepadaku.

Langkahku semakin dekat dengan Great Lamb yang mulai berdiri kembali, kali ini kupastikan dia akan menerima pelajaran. Makhluk itu berbalik dan mengangkat dua kaki depannya, sama seperti apa yang dilakukan kuda. Dia marah rupanya, baguslah, berarti hewan buas ini sudah menganggapku sebagai ancaman serius.

Makhluk itu mengayunkan cakar besarnya membabi buta, beberapa bangunan disekitarnya menjadi korban amukan Great Lamb. Kubungkukan badanku agar bisa mencapai tubuh besarnya tanpa terkena ayunan tangan raksasa itu. Tanpa membuang waktu, kudaratkan sebuah pukulan terbaikku ke perutnya, membuat suara dentuman keras yang menggema disepanjang jalan. Bisa kulihat retakan kecil di tulang yang kupukul tadi, mungkin empat atau lima pukulan lagi untuk menghancurkannya.

“Akh!!”

Belum sempat kudaratkan serangan berikutnya, makhluk itu berhasil menyapuku dengan tangannya. Membuatku terhempas ke tembok tebal, beberapa kaki dari tempat para gadis bersembunyi. Darah hitam keluar dari mulutku, sepertinya serangan itu membuat luka dalam yang cukup serius, beberapa tulangku juga sepertinya remuk. Regenerasinya pasti membutuhkan waktu agar bisa pulih betul.

Mataku masih berkunang-kunang, pandanganku kabur namun aku berusaha melihat benda besar yang mendekat dengan kecepatan tinggi.

Astaga, dia tidak main-main, makhluk itu berusaha menyerudukku dengan tanduk besarnya.

Napasku serasa berhenti ketika benda besar melengkung di kepalanya menghantamku. Tubuhku terdorong masuk menembus tembok tebal itu, bisa kulihat lubang dan retakan disekitarnya, dan tentu saja rasanya sakit, kau pasti sudah gila jika bilang itu terasa geli atau semacamnya.

Jangan kira aku tak sadarkan diri karena serangan itu, aku masih sadar sepenuhnya. Bisa kulihat Great Lamb mengalihkan perhatiannya dariku, mengesalkan tentu, itulah kenapa aku harus kembali ke medan pertempuran.

“GROOOOOO!!!”

Makhluk itu mengaum lagi, bukan kepadaku, tapi kepada Meidy dan Hilda. Sepertinya dia telah menemukan persembunyian mereka.

“Philias! Apa yang kau lakukan!!” teriak Hilda, entah apa yang terjadi aku tidak tahu, itu karena pandanganku hanya sebatas lubang di tembok.

Terhuyung, aku berusaha berjalan keluar dan melihat apa yang sebenarnya terjadi. Pemandangan yang lucu jika kau bertanya padaku, aku melihat orang sakit sedang menolong orang yang sehat. Ingin tertawa rasanya, si Philias ini, yang bahkan tadi harus kugendong untuk pulang, sekarang berlari menjauh sambil membawa kayu yang tersulut api. Berusaha mengalihkan perhatian Great Lamb dari para perempuan.

Hilda mengambil tongkat kayu lalu beranjak dari tempatnya, berencana menyusul saudaranya kurasa, tapi niatannya terhenti ketika kutahan bahu gadis itu. Matanya sempat terkejut melihatku, wajar saja, kurasa manusia manapun tak akan mengira bahwa aku bisa berjalan dengan santai lagi setelah menerima serangan seperti itu.

Jujur saja, kali ini aku marah. Bukan karena dia menyerudukku, tapi karena makhluk jahanam itu mengabaikanku, dua kali!

Kakiku melangkah makin cepat, dan mulai berlari menyusul Philias dan Great Lamb di ujung jalan.

“Fuaaahh!!!”

Teriakan Philias sempat membuat mataku melirik kepadanya, sepertinya makhluk itu berhasil mendaratkan satu serangan kuat ke tubuh lelaki menyedihkan itu. Memang itulah yang pasti terjadi, maksudku, orang macam apa yang berusaha menyerang monster seperti ini saat dirinya sendiri masih dalam keadaan sekarat? Kuakui, Philias adalah seorang yang bodoh.

Kugenggam ekor Great Lamb begitu berada dalam jangkauanku, menariknya seperti sebuah tali tambang untuk mendapatkan perhatiannya. Aku memang tidak mau membunuh musuhku dari belakang, itu adalah tindakan pengecut. Poin Rule-of-Cool nomor tiga adalah tentang bagaimana pria sejati seharusnya bertindak, dan tindakan pengecut bukanlah sifat dari seorang pria.

Monster itu menoleh dan mengibaskan ekornya, membuatku terpental dan menghantam dinding, namun dengan cepat kukumpulkan lagi keseimbangan tubuhku, sehingga masih bisa mempertahankan gaya kerenku.

“GRRROOOOO!!!”

Raungan marah kembali menggema, kepalanya mengarah kepadaku, mau menyeruduk lagi rupanya. Tengkorak besar itu membuatku jadi teringat kalau Leviathan selalu menyebutku keras kepala, mari kita buktikan, kepala siapa yang lebih keras disini.

Tubuh raksasa itu melaju dengan kecepatan tinggi, suara berderap cepat terdengar detik-detik sebelum makhluk itu menghantamku. Kucondongkan tubuhku kebelakang, lalu kuayunkan kedepan. Menghantam wajah makhluk itu, kepala-lawan-kepala.

“UWWAAAAAA!!!” teriakku, berjongkok kesakitan dan memegangi dahiku yang seperti baru saja menghantam beton.

Sungguh tidak enak rasanya, kupingku berdengung dan kepalaku sangat pusing. Aku tidak bisa mendengar apapun selain suara seperti lebah di telingaku. Kugelengkan kepalaku agar bisa melihat dengan lebih fokus. Monster itu terhuyung, kakinya bergerak ke kiri dan kekanan, kehilangan keseimbangan dan akhirnya ambruk.

“Ha!! Siapa bos-nya sekarang!” seruku kepada makhluk itu.

Aku berjalan mendekati kambing raksasa itu, bunuh? Lempar? Jadikan peliharaan? Aku masih belum menentukan pilihan tentang apa rencanaku terhadap Great Lamb. Baru menginjakan kaki di kepalanya sebagai simbol bahwa akulah sang juara, sebuah lingkaran aneh berwarna merah terang muncul di tanah tempat monster itu berbaring.

Spontan aku melompat mundur, itu gerbang summon, Leviathan pernah mengguruiku tentang hal ini. Great Lamb tenggelam seolah ditelan bumi, masuk kedalam gerbang summon tersebut. Berarti, ini sudah jelas-jelas merupakan ulah manusia. Iblis yang bahkan setingkat Asura sepertiku tidak bisa menggunakan tipe sihir seperti ini. Hanya manusia yang mampu melakukannya, untuk memanggil entitas yang jauh melebihi kemampuan mereka, para iblis salah satunya.

Langkah kaki yang sudah kuhapal betul terdengar dari arah belakangku, Hilda dan Meidy, mereka pasti ingin berterimakasih dan merayakan kemenanganku. Aku berbalik dengan wajah bahagia, membuka tangan untuk memeluk gadis-gadis manis ini.

“Philias, bertahanlah!”

“Kita harus membawanya ke rumah sakit, lukanya semakin parah!”

Eh? Aku melupakan si penyakitan Philias, dan dimana pelukan dan kecupan yang seharusnya kudapatkan? Akulah yang mengalahkan monster itu, bukan pemuda sakit ini! Badanku terasa lemas, tertunduk kecewa, sepertinya aku berharap terlalu banyak dari penyihir-penyihir betina ini.


DeviantArt | Kemudian.com| Facebook
2012-11-14, 13:27
PostRe: [StoryPlay] Eremidia : The Fragments
Signus Sanctus 
Newbie
Newbie
avatar

Level 5
Posts : 69
Thanked : 3
Engine : RMVX Ace
Skill : Beginner
Type : Developer
Awards:
Chapter VI : Overturned Fate [Part 1]

Aku tetap berdiri ditengah - tengah lingkaran para dewan sambil menatap kearah tahta tempat Queen Prima sedang terduduk dengan mukanya yang terlihat serius, anggun dan tenang, namun terlihat dimatanya penuh rasa perhatian kepadaku yang sedang tertuduh ini. Dan disebelahnya terdapat salah satu mentri dengan pengaruh paling kuat di kerajaan, Albert Forzand. Albert Forzand adalah Dewan yang bisa dibilang memiliki 70% kekuatan Eremidia karena kemampuannya dalam pidato, debat, dan orasi, melebihi dewan - dewan lainnya.

"Hari ini, akan kita mulai pertemuan antar para dewan dan mereka - mereka yang bersangkutan, menyangkut masalah apa yang Rayloft miliki, dan Hak milik mereka. Untuk itu, saudara Albert Forzand, silahkan anda menyampaikan posisi anda sekarang ini."

Albert berdiri didepan Prima, bersiap - siap di sebuah meja yang ada didepannya dan memposisikan tempat berdirinya sejajar denganku dan meja yang berada didepanku, memberikan rasa 'menantang' dari postur badannya.

"Aku, Lord Albert Forzand, dengan ini menyatakan, bahwa Tri-Arch Armor dan Nirvanne's Legacy, kedua relic yang dimiliki oleh Rayloft Nirvanne, telah jatuh ditangan orang yang salah. Karena mustahil seorang Noble dengan posisi setinggi itu, memberikan kedua buah kekuatan relic tersebut kepada seorang commoner, yang bahkan identitas asli dan masa lalunya tidak diketahui siapapun sama sekali."

Sudah kuduga, Albert tidak akan pernah semudah itu mengakuiku, bahkan dia sendiri saja mencoba memasukkan keluarga - keluarganya sendiri untuk menjadi seorang anggota dewan.

"Lord Albert, bisakah anda menerangkan secara lebih rinci kriteria - kriteria apa yang membuatku mustahil sebagai pewaris kekuatan Rayloft yang telah kehilangan hak patennya untuk tinggal di tempat ini?"

"!"

Semua dewan terkejut dengan kalimat yang kulontarkan. Karena pada dasarnya, tidak ada commoner maupun prajurit kerajaan yang tahu proses pemasukan dan eliminasi tiap noble yang ada di Eremidia ini. Tapi, aku sendiri telah mendengar kejadian itu dari Rayloft sendiri, jadi hal yang perlu kulakukan adalah untuk ikut campur lebih dalam lagi.

"Ada 3 alasan kenapa kamu tidak berhak untuk memperoleh kedua relic tersebut. Yang pertama adalah, Kau bukanlah seorang noble, tanpa posisi itu, akan sangat mustahil untukmu berinteraksi dan mendapatkan kepercayaan dari Noble lain, terutama Rayloft adalah salah satu Noble yang sering disanjung - sanjung oleh orang lain."

Begitukah...?
Jadi dia memanfaatkan fakta bahwa banyak orang yang menyanjungnya, membuatnya sering mendapatkan tawaran - tawaran mencurigakan. Wajar saja jika orang mencurigaiku untuk mempunyai hubungan khusus dengannya.

"Kedua, kamu sama sekali tidak memiliki Faction yang dapat mendukungmu dari belakang. Satu - satunya nama Faction yang kamu sebutkan selama ini hanya satu, yaitu Nirvanne, dan Faction itu berhubungan langsung dengan Rayloft. Selama kamu tidak memiliki dukungan dari Faction lain, maka hubunganmu dengan Nirvanne's Faction dianggap Invalid!"

Ini...
Kurasa cukup fatal, sebab seorang noble butuh kepercayaan banyak orang, bukan hanya sekedar menang harta dan kekuasaan saja...
Dan tentu saja, aku tidak bisa mengandalkan Alquerio, Rudolf, maupun Elicia....

"Dan yang ketiga, kesetiaanmu kepada kerajaan masih merupakan suatu misteri. Seseorang yang memang seharusnya menggunakan armor tersebut adalah mereka yang memiliki rasa cinta tanah air dan memberikan semua pengorbanan mereka untuk kerajaan. Orang sepertimu belum ada satupun kesuksesan yang benar - benar menguntungkan Eremidia!"

Eh...?
Argumen ini...

"Sekarang, bagaimana respon anda terhadap ketiga poin yang telah kusampaikan ini, Arphage?"

Aku kemudian menarik nafas pelan - pelan, kemudian menghembuskannya dengan perlahan pula. Mempersiapkan nafasku, aku kemudian membalas ucapan Albert.

"Sebelum aku menyampaikan responku terhadap ketiga poin tersebut, ada beberapa hal yang ingin kuperjelas..."

Aku menaikkan tanganku, dan menunjuk dadaku dengan ibu jariku sendiri.

"Menurut kalian bagaimana aku bisa mencuri relic dan Legacy ini?"

Seluruh ruangan menjadi ramai, saling berbisik satu sama lain membahas sesuatu yang berbeda satu sama lain. Namun terlihat senyum sinis yang lebar terbentuk di mulut Albert.

"Mudah saja, pada awalnya Legacy itu adalah sesuatu yang diturun - temurunkan lewat darah para leluhur mereka. Dan penyampaian darah itu tidak hanya dengan lewat keturunan saja."

"!"

Ternyata dia sudah tahu sejauh itu....
Sepertinya aku sedikit meremehkan Albert...

"Ya, cara itu adalah dengan meminum darah para keturunan Nirvanne...!
Dengan meminum darah mereka, seseorang akan mendapatkan kekuatan dari para keluarga Nirvanne dengan mudah...!"

Mendadak suasana sekitar menjadi ramai dengan bisikan dan gumaman masing - masing dewan yang tergerak dengan fakta tersebut, tidak ada yang menyangka bahwa kekuatan seperti itu bisa dipindahkan seperti itu.

"Mohon perhatian sebentar!"

Mendadak Queen Prima memotong pembicaraan mereka.

"Lord Albert, kakakku yang tercinta, dari caramu mengungkapkan itu, anda sama saja dengan mencoba untuk memicu perburuan para keluarga Nirvanne dengan mengorbankan darah mereka, apa anda tidak sadar hal tersebut...?!"

"Ini bukan masalah moral lagi, Queen Prima, adikku yang tercinta. Fakta itu kutujukan dengan maksud dan tujuan lain, karena kita tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi ketika pria bernama Arphage ini menerima Nirvanne's Legacy...."

Jadi begitu, menunjukkan fakta dengan nada suara yang menggantung tersebut, membuatku harus memilih untuk jujur dan mengatakan hal yang sebenarnya...

"Meminum darah seseorang untuk mendapatkan keluarga Nirvanne untuk mendapatkan kekuatan mereka..."

Aku menarik jeda sedikit, bersiap untuk segala kemungkinan yang terjadi.

"... adalah cara untuk mendapatkan 1 dari kedua Nirvanne's Legacy..."

*BRAKK!!!

Mendadak seseorang yang ada di sekitar para dewan memukul mejanya dengan keras.

"JANGAN MEMBUAL! APA YANG KAU TAHU TENTANG NIRVANNE'S LEGACY!?!?!"

*BRAK!!

Dan gebrakan meja kali ini datang dari Albert sendiri.

"Diam!! Sekarang adalah giliran Arphage berbicara! Orang luar dilarang menyela sebelum diberi izin!!!"

"Ch...!"

"Jadi, Arphage, apa maksudmu dengan kedua Nirvanne's Legacy tersebut...?"

"Akan lebih mudah untukku menunjukkannya daripada harus menjelaskannya panjang lebar."

Aku mengangkat kedua tanganku dan menyilangkannya tepat didepan wajahku.

"Claim, My Legacy...!"

Dan secara bersamaan kedua Crest dengan lambang yang sama namun memiliki warna yang berbeda muncul secara bersamaan.

"A... apa itu...?"

"Yang ada di tangan kananku ini adalah Crest yang didapat dengan meminum darah keturunan Nirvanne, The Wrath of Demise..."

Aku kembali menarik nafas dan mulai melanjutkan penjelasanku.

"Crest ini akan aktif jika pemakainya terluka, dan sekali aktif, maka sang pemakai akan mendapatkan sebuah kekuatan yang sangat besar, stamina yang tidak terbatas, dan membuat senjata pemakainya menjadi lebih kuat dengan enchanting magic."

Para Noble ternganga mendengar penjelasan kekuatan yang menggiurkan itu.

"Namun seperti halnya sebuah pedang bermata dua, yang mampu melukai baik musuh yang ada didepannya maupun pemakainya, senjata ini pun memiliki flaw yang cukup mengerikan."

"Eh?"

"Karena pengaktifannya dengan luka yang terdapat pada tubuh sang pengguna, menunjukkan bahwa semakin besar luka yang didapat, semakin besar juga kekuatan pedang tersebut."

"Kau tidak bermaksud... semakin ia menggunakan ability Crest tersebut, maka lukanya akan semakin melebar dan tidak tersembuhkan sama sekali...?"

Komentar Albert tenang, meski semua dewan yang ada disekitarku terlihat semakin panik dan kebingungan.

"Lalu bagaimana dengan Legacy yang satu lagi itu?"

Aku memejamkan mataku dan menarik nafas perlahan kembali.

"Ini... dengan meminum setitik air mata sang Holy Maiden itu sendiri...."

"!!?!?!?!"

Seluruh dewan terkejut dengan fakta tersebut, sebuah cara yang sama sekali tidak diketahui siapapun selain keturunan Nirvanne hingga saat ini, terkuak begitu saja didepan mata mereka oleh seorang lelaki tak dikenal tersebut.

"Air mata Holy Maiden itu sendiri... Jika benar begitu, berarti kemampuan Crest itu seharusnya benar - benar 'Extraordinary', ya kan?"

"Crest ini mampu meningkatkan pertahanan tubuhku dari serangan fisikal maupun magical, dan aku mampu menangkis seluruh serangan frontal yang bisa kulihat dengan mataku sendiri."

"... Jika kau menggunakan itu, satu - satunya cara untuk mengalahkanmu adalah dengan menyerang dari belakang dengan kekuatan penuh..."

"Sayangnya ability ini pun memiliki flaw yang sama parahnya dengan Wrath of Demise..."

"Maksudmu...."

"Tubuhku tidak boleh ternodai sedikitpun oleh darah."

"Itukah syarat pengaktifannya?! Itu seperti sebuah alat untuk melindungi diri, bukan berperang!"

"Bukankah Holy Maiden tidak menyukai peperangan?"

Mendengar fakta pendek tersebut Dewan - dewan lain yang sejak tadi ribut membahas kekuatan Nirvanne akhirnya terdiam dan mulai berfikir macam - macam, namun Lord Albert tetap terdiam dan tenang.

"Jika memang benar itu semua adalah fakta yang anda kemukakan, bukankah berarti anda juga tidak seharusnya mengutarakan hal tersebut di muka umum, Arphage?"

*grin~

Aku mengeluarkan selembar kertas dari kantungku yang lain, kemudian menawarkannya kepada Albert.

"Tolong ambilkan...."

Mengikuti perintah Albert, seorang prajurit yang ikut menghadiri pertemuan tersebut mengambilkan kertas tersebut dan memberikannya kepada Albert.

".... I... ini..."

"Kuharap itu bisa meyakinkan anda...."

Albert terdiam sejenak, tanpa kata, tanpa gumaman. Ia terlihat serius menanggapi isi surat tersebut.

"... Aku akan mengemukakan suatu pernyataan...."

Aku bersiap mendengarkan ucapan Albert, ucapan yang selama ini kunanti - nanti.

"Kedua relic yang dimiliki oleh Rayloft Nirvanne, Nirvanne's Legacy dan Tri-Arch Armor, yang telah diberikan kepada Arphage, adalah sah!"

Seluruh dewan yang ada disekitarku, termasuk Rudolf dan Elicia yang ada dibelakangku hanya bisa menyandungkan suara yang sama, keterkejutan mereka karena baru kali ini ada seseorang yang bisa mematahkan lidah besi Albert, Queen Prima pun terlihat tersenyum manis mendengar hal tersebut. Namun...

"Tetapi, pihak kerajaan belum mesahkan kepemilikan kedua relic itu kepada Arphage sampai kesaksiannya terbukti benar!"

Eh?!
Mustahil....?!?!

"Lord Albert?!?! Apa maksud anda berkata seperti itu...?!?!?"

"Mohon dimengerti, Queen Prima. Kondisi kita kali ini membuat kerajaan menjadi sangat rapuh, kalau Raja Dynas XIII masih ada, masalah ini mungkin bisa dengan mudah diselesaikan. Tapi, Tri-Arch Armor itu adalah lambang untuk seseorang yang memiliki hak untuk berdiri tepat disamping anda sendiri, Queen Prima. Dan untuk kami menerima seseorang dengan keterangan yang tidak jelas seperti pria ini, adalah sebuah tindakan yang gegabah."

Cih, jadi pada akhirnya semua tergantung kesaksianku sendiri....

"Namun, meski kesaksian anda lemah, anda hanya akan kami minta untuk menanggalkan armor tersebut, dan tetap memberikan anda ranking yang sesuai."

Eh?
Apa itu maksudnya?
Jadi jika aku melakukan apa yang disarankannya, aku bisa dengan mudah memasuki kerajaan...?

.........................
...........
....

Tidak.
Jika aku melakukan itu, memang posisiku akan menjadi setara dengan Leila....
Tapi, Rayloft telah mempercayakan armor itu kepadaku, mempercayakan nasib dan takdir Queen Prima beserta keturunannya kepadaku....

"... Aku...."

Semua perhatian tertuju kepadaku, Albert pun menanti keputusanku sendiri.

"... akan merespon tiga alasan yang membuatku tidak berhak untuk mengenakan armor ini."

Albert hanya terbelalak mendengarkan responku.

"... Silahkan..."

Aku menarik nafas perlahan, menghembuskannya lagi, dan mengulangi proses itu sampai tiga kali.

"Pertama, mungkin sekarang memang statusku belum diakui, tapi, denganku menyandang warisan ini, aku menyatakan diriku sebagai salah satu pewaris keturunan Nirvanne."

Albert sedikit terkejut mendengar ekslamasi Arphage.

".... Mewakili suara kerajaan, aku mesahkan anda sebagai salahs satu pewaris keturunan Nirvanne, dan memberikan anda gelar Noble."

Seluruh dewan terkesima dan terkejut mendengar eksklamasi Albert.

"Kuharap anda tidak keberatan, Queen Prima."

"Aku menerima dan merespon gelar Arphage mulai hari ini."

"Terima kasih banyak, Queen Prima."

Aku sedikit menarik nafas, kemudian melanjutkan ekslamasiku.

"Dan pernyataan keduaku kali ini adalah...."

Albert tetap tenang dan terkomposisi mencoba mengamati situasi.

"Dengan ini akan kusebutkan kedua Faction yang rela mendukungku sampai saat ini...."

"Kamu... mempunyai Faction pendukung dari Noble lain...?"

Kemudian aku mengeluarkan sebuah surat yang selama ini kusimpan dan kusegel di kantong rahasiaku, sebuah kontrak yang selama ini kusimpan.

"Aku menyatakan kedua Faction yang kusebutkan kali ini sebagai pendukungku, yaitu Volchrat dan Albinov."

*BRAK!!!!

Albert kehilangan ketenangannya dan membanting meja yang ada didepannya.

"KAU BERANI MENGGUNAKAN KEDUA NAMA NOBLE YANG BERJASA BESAR TERHADAP KERAJAAN?!?!?!?"

Sudah kuduga mereka akan bereaksi seperti itu, bagaimana tidak, kedua keluarga itu adalah keluarga yang sangat berpengaruh dalam perdamaian dan keharmonisan antara para noble dengan commoner bagian bawah. Berani memanfaatkan kedua nama mereka adalah hal diluar nalar untuk semua anggota Noble.

"Kedua surat ini adalah bukti bahwa aku dan kedua klan tersebut memiliki hubungan yang cukup dekat."

"Prajurit!"

Albert memerintahkan prajurit nya untuk mengambilkan kedua surat tersebut dengan tergesa - gesa, tidak dapat menahan emosinya sama sekali.

"......................!"

Albert membaca kedua surat itu dengan teliti, namun cukup gusar. Dewan - dewan pun hanya terdiam dan bingung dengan reaksi yang ditunjukkan Albert.

"Lord Albert...."

Queen Prima memperhatikan saudara lelakinya sendiri dengan sangat khawatir.

"Ghrk...!"

Jujur saja, aku sangat berharap untuk tidak menggunakan kedua nama tersebut, karena aku dapat menebak kurang lebih reaksi apa yang akan timbul sekali aku menggunakan kedua nama tersebut.

"Khrk...!"

Berkali - kali Albert menelan ludahnya panik dan bingung melihat kedua isi surat tersebut beserta kedua tanda tangan dan cap darah yang hanya dimiliki oleh kedua keluarga tersebut, Sophitia Albinov dan Leila Volchrat.

"... Dengan ini aku menyatakan.... bahwa kedua keluarga yang baru saja disebutkan Arphage.... sebagai hubungan kerjasama antar keluarga.... adalah sah...!"

Semua dewan terdiam, seluruh aula menjadi sangat sepi, tidak ada yang dapat merespon balik pernyataannya, dan Queen Prima pun hanya tertunduk diam tanpa kata.

"Dan sekarang... untuk pernyataan ketiga..."

Aku hanya bisa menelan ludahku sendiri.

"Aku... tidak punya kesaksian...."

"Eh? Apa maksudnya?!"

Rudolf reflek terkejut mendengar kesaksianku sendiri. Dan Albert pun terbingung - bingung dengan kesaksianku.

"Bisa anda jelaskan... maksud ucapan anda, Tuan Arphage...?"

"... Aku kehilangan ingatanku sebelum aku bertemu dengan Leila, dan di kota ini, tidak ada satupun orang yang mengenalku sama sekali. Oleh karena itu, sebagai rakyat Eremidia sendiri, aku tidak mempunyai sedikitpun kesaksian yang akan membuktikan kesetiaanku dan kecintaanku terhadap negara Eremidia ini. Meskipun melihat hasil perjuanganku melawan Genova dan usahaku di kota Eremidia selama sebulan lebih ini, itu semua masih kurang untuk membuktikan kesaksianku."

Aku sadar kesaksianku yang ketiga ini sangatlah fatal, namun aku tidak bisa berimprovisasi lebih jauh daripada ini....

"Kau mau membuktikan kesetiaan dan kecintaanmu terhadap kerajaan?"

Hmm?

"Lord Albert...?"

"Aku bertanya, apakah kau mau membuktikan kesetiaanmu dan kecintaanmu terhadap kerajaan?"

.............

"Ya!"

"... Kalau begitu, pertemuan kali ini akan kita akhiri di sini sekarang juga."

Eh?
Apa maksud ucapannya itu...?

"Arphage, mulai sekarang kamu bebas untuk memasuki Noble District kapanpun kamu mau, tetapi kamu tetap tidak boleh memasuki istana sampai pengumuman berikutnya."

"Lord Albert, anda tidak akan segera mengeluarkan vonis untuknya?! Masalah orang ini tidak begitu penting dengan kondisi kita kali ini!!!!"

Ucap seorang Dewan yang menghadiri pertemuan tersebut.

"DIAM! Keputusanku kali ini bulat! Masalah ini akan kita tunda sampai pertemuan berikutnya! Jika masih ada yang tidak setuju, keluar dari tempat ini sekarang juga!!!!"

Albert mulai menggunakan autoritasnya, memaksa untuk mengakhiri pertemuan kali ini

***

Aku, Rudolf, dan Elicia hanya duduk memandangi air mancur sambil menikmati bekal yang sudah disiapkan Leila untuk kami bertiga.

"Aku benar - benar tidak bernafas selama pertemuan itu... Belum pernah aku melihat pertemuan Dewan yang sangat panas dan menegangkan seperti itu...."

Komentar Rudolf yang keluar entah darimana, mencoba mencairkan suasana.

"Aku memang tidak begitu paham politik dsb, tapi memangnya keluarga Albinov dan Volchrat itu sebegitu pentingnya ya?"

Arphage menghabiskan 1 tangkap Sandwich yang ada di tangannya, kemudian meminum seteguk air putih sebelum berbicara.

"Justru berkat kedua keluarga itu, berita tentang hilangnya raja tidak menyebar kemana - mana. Leila membuka bar dengan tujuan untuk mengontrol informasi yang keluar masuk kota, dan Cassandra yang mengamati kondisi diluar kota sambil mengasuh anak - anaknya...."

Ucapku terduduk sambil melanjutkan menyantap Sandwichku lagi.

"Bisa dibilang, Arphage sebagai orang yang memiliki hubungan langsung dengan kedua keluarga tersebut, adalah orang yang akan menjadi salah satu kunci problematika negara ini."

Komentar Rudolf mencoba merangkum ucapanku.

"Huh, sok pintar!"

Celetuk Elicia mendengar rangkuman Rudolf.

"Hei apa maksud ucapanmu itu! Kau pikir aku bisa membuat senjata ini kalau aku tidak tahu sejauh itu?!?!"

"....."

Dan sekarang aku hanya bisa menunggu lagi, menunggu jawaban Albert....

"Apa maksud pertanyaannya waktu itu..."

"Soal pembuktian kesetiaan itu? Entahlah, mungkin kau akan ditugaskan keluar kota, mungkin?"

"Kau bisa menebak dari mana itu, Rudolf?"

"Karena itu yang biasa kudapat dari Lord Albert. Meski ia terlihat kejam dan ambisius, namun perasaannya untuk melindungi Negara Eremidia itu nyata dan jelas. Dia rela mengeluarkan banyak biaya untuk mengirimkan entah kami, Languard, atau prajurit kerajaannya sendiri. Karena itu ketika ia mengetahui kalau Lord Willfrey telah mengkorupsi banyak uang, Albert terlihat sangat emosi dan membentaknya habis - habisan."

Willfrey....

"Ngomong - ngomong, bukankah Aurelia barusan pergi bersama orang bernama Willfrey itu...?"

"Ah, gadis itu lebih mengerikan dari Willfrey. Sudah berapa prajurit yang terbunuh hanya karena gadis itu tidak senang dengan mereka."

Komentar Elicia ketus.

"Well, ketua kami tidak pernah mengirimkan satupun prajurit untuk Willfrey sih, tapi kudengar Pucelle's Lancette pernah mengirimkan satu, ya?"

"Ya, dan keesokan harinya kami mendengar kabar bahwa dia sudah meninggal, tentu saja Mistress kami emosi dan melaporkan hal itu kepada Albert. Tapi karena kami kekurangan bukti, Albert pun tidak bisa bertindak lebih jauh...!"

".... Biar kuselidiki...."

"Eh? Kamu bicara apa, Arph?!?!"

"Aku merasakan sesuatu yang aneh pada Aurelia, dan aku akan menyelidiki hal tersebut."

"CARI MATI KAMU!?"

"Setidaknya posisiku tidak akan terancam, karena tempat tersebut ada di Noble District ini."

Dan aku punya firasat buruk tentang hal ini, termasuk sosok asli wanita tersebut. Semoga firasat ini salah.


The Greatness of Tentacle:
 


Requiem:
 


The Last:
 
2012-11-14, 14:58
PostRe: [StoryPlay] Eremidia : The Fragments
richter_h 
Salto Master
Hancip RMID
avatar

Kosong
Posts : 1705
Thanked : 30
Engine : Other
Skill : Skilled
Type : Developer
Awards:

Chapter 3: Blackened Dream

Yang menarik di dunia Eremidia ini adalah isinya, dimana orang-orangnya seperti telah melihat esok hari yang cerah. Sosok umumnya untuk kebanyakan orang kota yang tidak tahu keadaan luar seperti apa dan bagaimana...

Akan kusebutkan tempat yang mungkin bisa menarik perhatianmu di dunia Eremidia ini.

Hunter's Guild.
Tempat dimana orang-orang, terutama anak-anak muda penuh semangat menantang dunia untuk mereka taklukkan, dan kata orang-orang dari tempat seperti itulah beberapa cerita muncul dan menjadi legenda. Banyak yang menguji tingkat keberuntungan mereka dari tempat ini, dimana mereka diberi tugas-tugas--biasanya membasmi ini atawa mengunmpulkan itu, terkadang mengantar sesuatu dan diberi upah. Demi peringkat dan gelar, mereka melakukannya.

Yang menarik perhatiaku di tempat seperti ini adalah Laura Granseal. Gadis itu, belum genap 18 tahun dia ingin menjadi Hunter tingkat tinggi. Entah apa yang ada di pikirannya, namun aku yakin dia punya mimpi yang harus dicapai.

Laura, gadis berlatar belakang anak petani pinggiran Capital Town, mencoba peruntungannya dengan menjadi Hunter. Gadis manis berperawakan sedang itu lulus dan masuk ke asosiasi Eremidian Hunter berkat keterampilannya bermain pedang dan memasang perangkap. Selain keterampilannya memasang perangkap, penampilan dan rupanya yang manis bisa menjerat lelaki yang melihatnya. Ya, terkadang aku juga heran gadis-gadis dari Eremidia begitu menarik...

Suatu hari, Laura dan Brock--teman semasa kecilnya Laura diberi tugas untuk pergi ke pinggiran Faleon untuk mengambil sesuatu dari klien. Apa sesuatu yang disebutkan Guildmaster, menurut mereka. Mereka hanya bisa menurut dan bergegas ke Faleon untuk tugas ini.

--

Di pinggiran hutan Faleon, tiga hari kemudian, mereka mencari dimana klien yang Guildmaster katakan. Mencari di antara semak dan pepohonan, dan pada akhirnya mereka bertemu dengan seseorang berjubah serba merah padam, membawa sebuah kotak yang seperti diselubungi aura misterius.

Brock tidak yakin orang itu adalah orang yang Guildmaster maksud. Namun Laura, dia yakin, orang yang terlihat berbahaya seperti itu adalah klien Eremidian Hunters.

Orang berjubah merah itu memberikan kotaknya pada Laura. Terlihat oleh Laura senyum kecil dari orang misterius itu, namun...

Sosok lain, berjubah gelap, menyerang orang berjubah merah itu dari belakang. Menusuknya dengan pisau. Sosok berjubah gelap itu berkata pada Laura,

"Pergilah..."

Laura hanya terpaku, melihat wajah dibalik jubah gelap itu. Brock menarik Laura, pergi dari tempat itu, sementara sosok berjubah gelap itu mengakhiri targetnya. Laura hanya bisa berlari sambil meneteskan air matanya, sambil memegang kotak pemberian sosok misterius berjubah merah itu, yang dibunuh oleh orang misterius lainnya itu.

--

Satu malam, setelah kejadian itu, Laura hanya termenung dengan apa yang sudah terjadi. Kejadiannya begitu cepat. Dia tidak mengerti dengan apa yang sudah terjadi di hadapannya.

Laura tidak menyadari, kotak yang dia bawa itu beresonansi dengan perasaannya. Bergetar, semakin lama semakin hebat, dan tiba-tiba terbuka. Laura yang malang, isi dari kotak itu dengan cepat mengambil alih perasaannya, dan kemudian...

Dia bukan Laura yang telah kau kenal.

Dan Brock, yang baru kembali dari sungai untuk mengambil air minum, hanya terpaku saat Laura menusukkan pedangnya secara cepat kepadanya. Brock tidak bisa berkata apa-apa lagi, dan terkulai di tanah, bersimbah darah dan masih tidak percaya teman semasa kecilnya melakukan hal itu kepadanya.

Pedang yang Laura pegang masih berlumuran darah, tapi tiba-tiba terjatuh ke tanah. Laura yang malang, dia harus dibebaskan dari apa yang telah menguasai dirinya, namun dengan cara yang juga harus melepaskan nyawanya. Sosok berjubah gelap itu, dengan sangat menyesal harus mengakhiri hidup Laura karena kutukan yang berasal dari kotak raja tega itu. Dia memeluk Laura, yang sudah sekarat karena tikaman pisau di perut, dan membisikkan kata maaf.

Sosok itu, tidak lain adalah Grey sendiri, telah mengikuti Laura setelah menyadari kotak raja tega itu dibawa olehnya. Dan sekarang, kotak itu telah merenggut Laura, dan teman dekatnya.

Sekilas, Grey merasa seperti memeluk anaknya sendiri...

Ironi, memang. Tapi untaian benang takdir sudah berbicara, kawan.

Laura, gadis yang kau kenal sebagai gadis manis dan terampil itu, akan selalu dikenang oleh orang-orang kota seperti yang seharusnya orang-orang kenal. Dan Grey, setelah malam itu, dia mundur ke kegelapan malam, menunggu saat untaian benang takdir dari penenun garis hidup berkata...


| My spriteworks | deviantArt | Mark's Quest | Eremidia: Dungeon! |
Developer of:



Supporter of:


Selp-Proclaimed The Most Handsome Member of the Long Lost Glorious


Disini kalo sebagai nubi mau dikritik yang bagus2 biasanya harus ngaku cewek dulu, karena you know lah... -- Brosef numfanklewhat
2012-11-14, 23:09
PostRe: [StoryPlay] Eremidia : The Fragments
fly-man 
Poison Elemental
Anak Cantik
avatar

Level 5
Posts : 917
Thanked : 11
Engine : RMVX
Skill : Beginner
Type : Artist
Awards:

Ku lupakan sejenak kelinci yang ada di tanganku, aku menaruhnya pelan - pelan. Seorang goblin melempar tombaknya ke arahku. Aku masih dalam kedaan tertunduk karena menangkap kelinci tadi, dan pastinya kalian semua tahu kalau tertunduk bukan merupakan posisi yang baik untuk bergerak lincah. Baiklah, sebenarnya aku bisa saja menghindari tombak goblin ini dengan sangat mudah, namun aku percaya betul bahwa lemparan goblin tersebut tidak akan sampai padaku.

Benar saja, tombak goblin itu berbelok sendiri, menancap pada pohon beringin yang berada persis di sampingku. Humbobo yang membelokannya dengan kekuatan magis. Aku berdiri perlahan, benar - benar perlahan agar dramatis. Ku tegakan badanku dengan tangan mengepal. Para goblin terlihat lebih waspada, mereka semua bersiap dengan mengacungkan senjatanya ke araku. Ku yakin mereka tidak akan gegabah menyerang seperti tadi karena sadar serangan pertamanya gagal. Aku memajukan kakiku selangkah. Para goblin mundur pula selangkah. Aku mundur lagi selangkah membentuk kuda - kuda untuk menyerang. Para goblin maju lagi selangkah, Kumajukan lagi kakiku selangkah untuk memperkecil jarak. Para goblin mundur lagi selangkah. Urmolob terkekek dan berteriak, "Woi kalian!! mau berantem apa tari samba?". Para goblin terkejut karena teriakan tersebut, semua mata mereka menuju ke arah Urmolob, mereka heran bagaimana ada bangsanya yang berteman dengan kami, dan tentu saja, bagaimana bangsa goblin bisa memakai sepatu? Menyadari kelengahan itu aku melakukan gerak kilatku, ku tangkap goblin yang berada paling depan. Hamid berteriak , "Nah kan ketangkep!? Lu off side sih!", para goblin makin bingung. Bingung karena ada goblin yang berteman dengan manusia dan monster. Sebagian lain bingung memikirkan arti kata Off Side. Masih dalam kebingungan semu goblin ini kini mundur beberapa langkah setelah melihat temannya yang ku tangkap kini sudah menjadi butiran debu yang terbang di bawa angin hutan yang kencang. Secepat Elang menangkap kelinci, barusan ku tempelkan tentakelku dan menyerap sari kehidupannya. Perut ini benar - benar berasa penuh. Mungkin bisa bertahan sampai 3 hari. Aku tersenyum , lagi - lagi jika aku emang punya mulut. "Ada yang ingin jadi debu lagi?", ujarku menantang para goblin. Goblin - goblin itu berkeringat, aku bisa merasakannya lewat bau buluu mereka yang membasah. Mereka benar - benar ketakutan, saking takutnya mereka lupa cara untuk melariakn diri.

Urmolob maju ke depan, mendekati para goblin. Para goblin kali ini mengalihkan fokusnya dariku, mengacungkan senjatanya para Urmolob. "Tenang, kami semua bukan orang jahat", seru Urmolob santai. "Kami hanya ingin tempat istirahat", Lanjut Urmolob berikutnya. Para goblin saling pandang, dan nampaknya mereka mulai berfikir, itupun jika mereka bisa berfikir. Kali ini Humbobo yang maju tak sabar, sangat dekat dengan para goblin, mungkin jaraknya hanya sekitar 1 tombak. "Tolong ajak kami ke rumah kalian, biarkan kami menginap semalam saja, kami janji tidak akan mencari masalah", ujar Humbobo menjelaskan.

Troll? Goblin - goblin itu semakin heran, sebenarnya mereka ragu untuk mengajak kami ke rumahnya. Namun apa mau di kata? Mereka tak punya pilihan, jika mereka menolak dan menyerang kami, mereka tahu kemungkinan menang hanya 0 %, jika mereka pulang dengan berlari, mereka juga tahu kalau kami pasti dapat menyusul mereka. "Baiklah, ayo ikut kami", ujar salah seorang goblin.

Aku cukup senang dengan kejadian ini, perut kenyang, tempat bermalam pun dapat. Aku bayangkan aku akan samapai di pedesaan goblin dengan sumber makanan berlimpah serta keramahan para penduduknya seperti pertama kali aku bertemu Urmolob dulu. Urmolob terus mengobrol dengan para goblin. Humbobo sesekali ikut menimpal. Hamid entah kapan dan bagaimana tiba - tiba sudah memegang cerutu di tangan kanannya, namun tak terlihat sedikitpun senyum di wajahnya. Rupanya koreknya ketinggalan di kapal. "Sial!! Desa goblin dalam bahaya kalau begini", ujarku dalam hati.


 -Coming Soon-

2012-11-17, 10:42
PostRe: [StoryPlay] Eremidia : The Fragments
Signus Sanctus 
Newbie
Newbie
avatar

Level 5
Posts : 69
Thanked : 3
Engine : RMVX Ace
Skill : Beginner
Type : Developer
Awards:
Chapter VI : Overturned Fate [Part 2]

"Albert...."

Suara yang lembut, anggun, dan menawan memanggil nama dewan yang tengah serius dan fokus terhadap sesuatu tersebut, yang tidak lain adalah Queen Prima. Ia mendekati Lord Albert yang terlihat kecapaian karena pertemuan tadi siang diikuti dengan pemeriksaan dokumen - dokumen yang berada didepan matanya kali ini.

"Tidakkah sebaiknya kamu istirahat dulu, Saudaraku? Aku tidak mau kamu mengidap penyakit saat kamu sedang menghadiri pertemuan penting...."

"... Aku harus mengatur ulang susunan Dewan Kerajaan yang sudah kutata dengan rapi ini..."

"Bukankah itu semua sudah kamu lakukan beberapa hari sebelumnya, saudaraku?"

"Tidak setelah ia datang kehadapanku...."

"Apa maksudmu, saudaraku?"

"Armor itu adalah salah satu kunci untuk menstabilkan kekuatan kerajaan kali ini, dengan hilangnya raja, putri pertama Dynas, dan diikuti juga dengan kemunculan - kemunculan fenomena aneh seperti The Well, BlackWings, dan lain - lainnya, aku membutuhkan orang - orang yang bisa kupercaya untuk mempertahankan kestabilan dunia ini...."

"... Arphage... ya?"

"Kemungkinan besar, tak lama lagi aku akan kehilangan nyawaku, Prima adikku tercinta. Dan jika aku tidak melindungimu dalam perlindungan orang - orang yang kupercaya... negara ini akan mudah hancur dengan sendirinya...."

*PLAKK!!

Prima menampar Lord Albert dengan keras, emosi mendengar ucapan Albert

"JANGAN BERBICARA HAL MENYEDIHKAN SEPERTI ITU DIDEPANKU!"

"Maafkan hamba, Queen Prima...."

"Jangan pernah sekalipun mengatakan... kalau kau akan segera meninggalkanku, Albert...."

Kedua orang tersebut akhirnya terdiam, dan mulai mengurus kesibukan mereka masing - masing.

***

Menjelang malam hari, aku mendatangi sebuah mansion yang cukup megah dan besar, dikawal oleh banyak prajurit pria dengan was - was.

"Ketat sekali... Berapa banyak uang kerajaan yang dikeluarkan oleh Willfrey hanya untuk menjaga rumahnya sendiri saja....

Wajar kalau selama ini kerajaan kekurangan personil..."

Tapi...

*deg... deg...

Perasaan ini, memang tidak terlalu pekat, tapi aku merasakan BloodLust yg cukup kecil....

Sepertinya orang yang mengeluarkan BloodLust sekecil ini mampu menekannya sehingga hampir tidak terdeteksi....

Dan tujuannya... Adalah orang yang ada didalam mansion ini.

"Jika aku sembarangan memasuki rumah ini, bisa - bisa aku yang dituduh sebagai pengincarnya...."

Haruskah kuaktifkan efek armor ini sekarang juga...?

Sebaiknya jangan, meski sosok asliku tidak akan ketahuan dengan mudah, tapi untuk kedepannya akan lebih runyam....

Apa yang harus kulakukan...?

"... Apa yang kamu lakukan di tempat ini...?"

Tiba - tiba suara yang cukup familiar dan kukenal terdengar dibelakangku, dengan postur tubuhnya yang mungil dan menawan, ia memanggilku dengan nada yang dingin tanpa perasaan.

"Aurel...."

"....."

Aurelia hanya menatapku dingin tanpa ekspresi, entah dia benar - benar melupakanku, atau....

"Pergilah...."

"Hmm?"

"Lord Willfrey menyuruhku untuk tidak menyerangmu sama sekali, jadi sekarang sebaiknya kamu segera pergi dari tempat ini...."

"Kenapa kau harus mengasingkan dirimu seperti itu? Ada sesuatu yang ingin kubicarakan denganmu...."

"Tidak ada yang perlu dibahas, sekarang pergilah...."

"Meskipun ini menyangkut keselamatan Lord Willfrey itu sendiri?"

*SRING!!!

Mendengar ucapanku tentang Lord Willfrey, Aurel langsung menghunuskan pedangnya tepat dileherku.

"Apa maksud ucapanmu barusan...?"

"Pertama - tama, apa - apaan dengan orang - orang yang ada di sini?"

Aku menunjuk prajurit - prajurit kerajaan yang sejak tadi ragu - ragu dan takut - takut untuk datang mencegah perkelahian kami, jumlahnya cukup banyak, belum lagi menghitung prajurit - prajurit yang masih berkeliaran didalam mansion milik Willfrey.

"...."

"Dengan mengerahkan prajurit sebanyak itu, bukankah sama saja dengan berteriak keras - keras kalau nyawa Lord Willfrey tengah dalam bahaya?"

"... Itu bukan urusanmu...."

"Kau tidak mau mendengar hipotesisku tentang kenapa mereka mengincar Willfrey?"

Aku terus menatap Aurelia, menantang tatapan sinis dingin dan kejinya. Meski sebenarnya aku agak sedikit kecewa melihat mata birunya yang dulu begitu cerah dan indah menjadi gelap, kelam, dan tak berperasaan seperti itu.

"... Masuklah...."

"Terima kasih banyak~...."

***

Seorang pelayan wanita menyodorkan dua cangkir teh untukku dan Aurelia yang sedang terduduk di kamar privatnya, meski sebenarnya aku cukup heran kenapa ia tidak membawaku ke ruangan tamu saja... Sudahlah...

"Jadi?"

"Hmm....?"

Aku masih mengaduk - aduk teh tersebut saat tiba - tiba Aurelia mengajukan pertanyaan yang sangat ambigu.

"Kau barusan mengatakan akan membahas hipotesismu tentang kenapa orang - orang mengincar Willfrey, kenapa?!"

"Hmm... Entahlah...."

*BRAK!!

Tiba - tiba Aurel membanting mejanya dengan satu tangannya yang mungil, indah dan gemulai itu, namun memiliki tenaga yang cukup besar.

"JANGAN MAIN - MAIN DENGANKU!"

"Pertama, aku harus mendengar kesaksianmu sendiri sebelum aku melengkapi hipotesisku."

"Apa maksudmu...?"

"Apakah kau yakin orang sepertinya patut untuk dilindungi olehmu dan para prajurit - prajurit kerajaan ini?"

"Lord Willfrey adalah orang yang menginginkan perubahan pada kerajaan."

"Hmm?"

"Lord Willfrey ingin mengubah wajah kerajaan yang telah rusak oleh Queen Prima. Karena orang itu, banyak rakyat yang menderita dan tersiksa karena keserakahan ratu korup tersebut, dan Willfrey bertujuan untuk mengubahnya!"

Ucap Aurelia dengan keras, namun tidak terlihat sedikitpun antusiasi pada suara dan gerakannya, kata - katanya sangat kosong dan hampa, tanpa ada satupun perasaan yang tertanam dalam kalimatnya tersebut.

"Hahah~!"

"Apanya yang lucu?!"

"Tidak, aku sama sekali tidak menyangka, kalimat itu akan keluar dari seseorang yang barusan mencoba membunuh seorang ksatria yang gagal mengusirku ketika aku mendekatimu."

"Eh...?"

"Dan kau yakin Lord Willfrey berniat mengubah negara ini menjadi sesuatu yang lebih baik?"

"Apa maksudmu?"

"Apa saja yang selama ini orang itu telah berikan kepadamu?"

"Apa... dia...."

*DEG!!!

Ekspresi dan raut muka Aurel berubah, mukanya yang sebelumnya adalah wanita dingin yang siap membunuh orang dengan mudah, kini menjadi pucat pasi, pupil matanya mengecil, mulutnya menjadi sangat terbata - bata, dan seluruh tubuhnya bergetar, seakan - akan ia terkena sebuah serangan.

"Bunuh.... Pembunuh.... Darah... IYAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAKH!!!!!"

"Aurel!!!"

Aku mendekati Aurel panik melihat reaksinya.

"PERGI!!!!"

"!!!"

*PRAKKKKK!!!!!"

Aku terpental jauh karena tebasan pedang besarnya, membelah badanku secara menyilang dan membuatku mengucurkan darah dengan derasnya.

"Ahk...!"

Aurelia terlihat tersadar, dan terlihat matanya yang berwarna biru cerah, menyilaukan itu kembali hadir dimatanya, namun setelah ia melihat ke arahku, matanya terlihat basah, semakin berkilau karena terik rembulan malam yang sangat cerah, dan terlihat pipinya mulai terbanjiri air mata yang deras.

"Tidak... aku... aku tidak mau.... aku tidak mau ini....! Aku tidak mau membunuh lagi...!!!!!!"

Aurel....

"Tapi kau telah berdosa...."

!!!

Sesosok pria dengan pakaian yang cukup familiar nampak didepan mataku. Itu adalah... seragam BlackWings...? Dan pria itu tepat berdiri disebelah Aurel dengan pedang pendek dan tameng tipisnya.

"Meskipun kau tidak mau mengakuinya, kau telah melakukan dosa besar dengan membunuh ratusan prajurit tidak bersalah...."

"Aku... Aku...."

Lelaki itu menghunuskan pedangnya tepat dileher Aurelia.

"Akan kuakhiri semua penderitaanmu...!"

Khrk....

Bergeraklah...
Tangan kiriku....
BERGERAKLAH!!!

*BWUNGGG!!!!

"!!!"

*JRANGGG!!!

Dengan tameng tipisnya, lelaki itu berhasil menangkis lemparan tamengku.

"Kau... masih hidup...?!?!?"

"A... Arphage...?"

*grin

Aku tersenyum sinis, kemudian berdiri perlahan sedikit terhuyung - huyung, tak menyangka kalau efek tebasan Aurel akan sesakit ini.

"Apa - apaan ini... memangnya... kau belum puas... dengan meracuni kami dengan kedua teh yang disajikan untukku dan Aurel...?"

"Jadi kau sudah menyadari jebakan racun yang telah disiapkan oleh The Maid...?"

"Gadis itu sendiri saja sadar... dan asal kau tahu...."

Aku menyiapkan tangan kiriku, Crest Wrath of Demise ku, dan pedangku sendiri.

"Aku takkan mati semudah itu hanya karena serangan seperti ini...!!! WRATH of DEMISE, ACTIVATE!"

Aku maju menerjang menuju Assassin BlackWings tersebut dan langsung menebasnya.

*BWEETTSSS!!!!

Namun Assassin itu langsung mengambil langkah mundur yang cukup jauh dengan mengangkat tamengnya. Namun setelah mendarat kakinya agak sedikit terhuyung.

*CRATTT

Dan mendadak dada dan tangan kirinya mulai menyemburkan darah.

"Cih, tameng benar - benar tidak berguna ya...."

"Guard, mundur!"

Mendadak ratusan pisau lempar terbang menuju kearahku dan Aurel.

"Cih... Shinning Blade Cut!!!"

Aku menebas pisau lempar tersebut satu persatu. Namun tak lama kemudian aku mendengar suara alunan lagu yang merdu entah darimana.

"Hmm.... UGH...!!!"

Dan mendadak badanku benar - benar kaku tidak mampu bergerak.

"Hipnotis....!?"

*CRASSHHHHH!!!!

Dan tiba - tiba terasa tebasan seseorang mengenai punggungku, menyemburkan darah yang jauh lebih deras daripada luka yang ada didadaku ini.

"Aurel...?"

"Ti... tidak... kali ini... aku... tidak bisa menggerakkan tubuhku sendiri...."

Wanita itu juga menghipnotis Aurel...?

"Urk... GAH!!!!"

Aku memaksakan kedua tanganku untuk bergerak, kemudian aku gerakkan menuju telingaku.

*ZLEBB!!

Dan membuat tuli kedua telingaku, membuat badanku mampu bergerak bebas lagi.

"Aurel, maaf...!"

Aku bergerak cepat menuju punggung Aurel dan menyerang tengkuknya.

"Ah...!"

Dan Aurel langsung pingsan seketika, kemudian aku mengambil tamengku yang ada di dekatnya, menggendongnya dibahuku, kemudian segera lari keluar ruangan lewat jendela.

*CRASSSSHHH!!!!

Posisiku meloncat adalah lantai dua, dan dilantai satu, dibawah, tepat di taman - taman, telah menunggu seorang Maid yang sudah menyiapkan batu besar untuk dilemparkan kepadaku.

"Commencing Attack"

*BWUUUNG!!!

Dan Maid itu melemparkan batu keras itu tepat dihadapanku.

"Shinning Blade Cut, Extend!!!"

Dengan tenaga penuh aku menebas batu itu menjadi serpihan - serpihan batu kecil, namun tiba - tiba sesosok pria tinggi dengan pisau jagal yang besar tengah siap berada dibalik batu itu, bersiap untuk menyerangku.

"Khh...!"

Aku mencoba melempar Aurel ke sebelah kananku, namun disebelah kananku, telah siap seseorang yang yang membawa sabit raksasa bersiap - siap untuk memotong - motong Aurel.

"A... Apa...?"

Pria tinggi yang ada didepanku terlihat sedang berbicara kepadaku, namun aku sama sekali tidak dapat mendengar ucapan orang tersebut, dan hanya bisa melihat gerakan mulutnya.

"Semoga kau tenang disisinya...."

*DEG...!!

Aku... akan mati...?

*DEG DEG!!!

Gadis ini... akan mati...?

"... Jangan main - main...!"

*DEG DEG DEG DEG DEG!!!

"SUDAH KUBILANG AKU TAKKAN MATI SEMUDAH ITU!!!!!!"

Aku melempar Aurel keatasku, dan aku menyiapkan kuda - kudaku dengan sigap.

*CRASSSSH!!!!!

Dan tebasan penjagal itu mengenai dada atasku, tepat beberapa centi dibawah leherku, namun dengan luka yang cukup dalam dan fatal.

"Ugh...!"

Namun penjagal itu merasa aneh dengan posisiku, karena aku tidak melepaskan kuda - kudaku sama sekali, dan aku terus memposisikan pedangku dengan luka tubuhku yang terus mengeluarkan darah tanpa henti.

"ORRRRRYAAAAAAA!!"

Dan aku langsung menebas penjagal tersebut sekuat tenagaku.

*CRANGGG!!!!

Namun penjagal itu berhasil menangkis tebasanku, meski tebasanku mampu membuatnya terpental. Dan penjagal itu sendiri

"Hup...!"

Dan aku mendarat dengan aman, kemudian langsung bersiap menyerang pemegang sabit yang baru saja menyerbu kearahku.

*CRANG!!!!

Kemudian menangkis senjatanya yang berada dibelakang kepalaku, mementalkannya keatas dan menendangnya sejauh mungkin.

"Ugh...!"

Dan segera mengambil Aurel yang tengah terjun bebas didepanku.

"Ada beberapa perkiraanmu yang salah, The Guard...."

Dan tak lama kemudian, keenam orang dengan 1 orang yang belum pernah kuhadapi muncul didepan mataku.

"Dia tidak membelah pedang dan tubuh The Butcher meski dalam jarak sedekat itu, dan gaya bertarungnya tidak hanya mengandalkan pedang dan tamengnya saja, dia benar - benar ahli menggunakan pedangnya."

"Tidak hanya itu... dia juga berhasil menangkis sabitku yang tidak semua orang bisa melihatnya...."

Hmm....

"Jadi bisa kutebak... kalian berenam adalah orang tertinggi di BlackWings...?"

"!!!!"

Mendadak keenam orang itu terkejut dengan reaksiku ketika aku mulai berbicara dengan mereka.

"Mustahil... bukankah telingamu masih terluka karena seranganmu sendiri?!?!?"

"Lihat lukaku ini..."

Aku menunjuk kearah dadaku yang pendarahannya sudah benar - benar berhenti.

"Lukamu... sembuh...?"

"Aku memiliki tubuh yang bisa meregenerasi lebih cepat daripada manusia biasa."

"Jangan membual, kalau kau bisa meregenerasi semudah itu, kau takkan kewalahan ketika berhadapan dengan Guard dan Secretary semudah itu...!"

Ucap seorang yang paling tua dan memimpin dari mereka semua.

"Crest... Wrath of Demise..."

Seseorang yang disebut sebagai Guard itu mulai berbicara agak terbata karena luka didadanya yang cukup dalam.

"Crest itu... tidak hanya mencegah regenerasi tubuh, namun juga memperdalam dan memperlebar luka pemakainya."

Orang bernama Guard itu benar - benar teliti, dia bisa menebak banyak seranganku semudah itu...

"Jadi, kau bertarung sesuai dengan ability apa yang kau gunakan?"

"Begitulah."

"Tapi sekarang kau sudah tidak bisa menggunakan kedua Crest mu itu selama kau belum terluka, dan ini hanya masalah sekali membunuhmu dengan satu serangan...!"

Sang pemegang sabit menyiapkan kuda - kudanya.

"Jangan, Priest, kau hanya akan membuatnya tambah kuat. Kenapa dia bisa menangkis seranganmu, karena lelaki itu bisa merasakan BloodLust dengan ekstrim, sehingga bisa menebak arah gerakanmu yang penuh dengan BloodLust itu..."

"Jadi itu alasan kau memintaku menghipnotis gadis itu untuk menyerangnya?"

Keparat... kemampuan pria itu jauh diluar dugaanku, dia seperti scanner berjalan yang bisa dengan mudahnya menebak semua gerak - gerikku.

"Kalian... kenapa kalian semua mengincar gadis ini...?"

"Kau sudah mendengar beritanya sendiri, kan? Kalau gadis ini telah membunuh banyak prajurit tak berdosa dan civillian yang ada diluar desa?"

"...."

"Kalau kau sudah tahu sendiri, kenapa kau masih mau melindungi wanita ini?"

"... Aku tidak akan mempermasalahkan siapa yang salah dan siapa yang benar disini..."

Aku berdiri lantang, sambil menggendong Aurel dipangkuanku.

"Tapi... aku akan melindungi mereka yang ingin kulindungi, karena itulah aku berdiri didepan kalian semua...."

Tak lama setelah aku berbicara seperti itu, sang master mengangkat tangannya, seperti akan mengisyaratkan sesuatu.

"... Kita akan bertemu lagi suatu hari... Dan sampai saat itu tiba, aku ingin lihat apakah kau masih bisa berkata hal yang sama."

"Hmm?"

Saat aku terbingung dengan ucapannya, Tangannya mengayun dengan cepat, dan membelah sesuatu yang sama sekali tidak bisa kulihat, ia membelokkan ruang dan menghilangkan kelompok - kelompoknya yang lain.

"... Teleport...?!"

Aku syok dan terkejut dengan kemampuannya mentransfer banyak orang sekaligus hanya dengan ayunan tangannya, sepertinya mereka jauh lebih kuat daripada Genova yang waktu itu kulawan.

"...."

***

Aku menidurkan Aurel yang masih pingsan di kasurnya, dan dibelakangku terdapat Willfrey yang terus tersenyum sinis, namun terus mengeluarkan keringat dingin.

"Hehehe, aku berterima kasih kepadamu, tuan Arphage. Tenang saja, aku pasti akan membalaskan budi anda...."

"...."

Aku terus mendekati Willfrey, berdiri tepat disampingnya, kemudian menghentikan langkahku dan mengintimidasinya.

"Apa yang akan kau lakukan terhadap gadis itu?"

"... Kau tidak tahu...?"

"...."

Aku hanya diam menanti jawaban dari Willfrey.

"Heheheh, aku hanya mengarahkan gadis itu menuju jalan takdirnya yang seharusnya...!"

"Maksudmu...?"

"Tahukah kamu kalau ratu yang sekarang... adalah ratu kedua milik King Dynas XIII?"

Willfrey tetap tersenyum sinis sambil menjelaskan kondisinya.

"Jadi kau mengimplikasikan kalau Aurelia... adalah anak dari ratu pertamanya...?"

"Bukan implikasi, tapi kenyataan! Kau lihat sendiri senjata yang telah merusak armormu itu!"

"...."

Aku mengamati pedang yang memiliki ukiran unik dengan warna yang cukup aneh untuk sebuat senjata tersebut, dan memang kualitas pedang itu sama anehnya dengan armor yang kupakai sekarang ini.

"Apa yang akan dijalani wanita itu... itu terserah Aurelia... Tapi...."

Aku menghunuskan pedangku dan mengarahkannya pelan - pelan di belakang kepala Willfrey

"Kuharap kau tidak memperparah kondisinya lebih dari ini...."

Terlihat tubuh Willfrey tergetar ngeri dengan ancamanku. Aku terus berjalan keluar meninggalkan mansion Aurel dengan hati menyesal.


The Greatness of Tentacle:
 


Requiem:
 


The Last:
 
2012-11-17, 15:56
PostRe: [StoryPlay] Eremidia : The Fragments
NachtEinhorn 
Robot Gedek Galak
avatar

Level 5
Posts : 1274
Thanked : 9
Engine : Multi-Engine User
Skill : Beginner
Type : Developer

Phase 4 - Trans:Form

Beberapa hari setelah 2 insiden percobaan pembunuhan Willfrey dan Aurel. Suasana mansion kembali menjadi semula, dengan dipekerjakannya penjaga penjaga baru, tentu saja menggunakan uang rakyat. Willfrey dengan sembunyi sembunyi menaikkan pajak rakyat untuk menutup kerugian dalam memperbaiki mansionnya, dan meng-hire penjaga baru.

Aurel, yang trauma dengan kejadian kemarin, mengurung dirinya ke kamar, nyaris tidak mau menemui orang lain. Bahkan ketika Willfrey memaksanya untuk kembali "mempelajari hal yang benar", Aurel menolak, meronta, dan kabur dari mansion, kai ini hanya untuk ditangkap dengan mudahnya oleh penjaga, karena mentalnya yang sedang lemah.

==================================================================================

"Laporkan statusmu, manusia"

'Sesuatu' menemui Willfrey di kamarnya pada tengah malam...

"Maafkan hamba, Hamba nyaris merubah kepribadian putri boneka itu... namun sesuatu membuat hamba kembali ke garis awal..."

PLAK!

'Sesuatu' itu menampar Willfrey. Namun di wajahnya tidak terlihat kemarahan... ekspresi kosong...

"Ma-maafkan saya tuan! Ada yang mulai menganggu rencana kita..."

"Siapa?!"

"N-namanya Arphage, dan memiliki wajah yang mirip dengan tuan..."

"Arphage? Tidak mungkin.... Kenapa dia membantu manusia?!"

mahkluk berkuit manusia itu memang memiiki wajah yang sama dengan Arphage, pemuda misterius yang membantu Aurel kemarin malam, bahkan warna rambut mereka sama persis, namun, sesuatu ini memiiki postur tubuh yang lebih besar, dengan rambut yang lebih panjang.

"Jika begini caranya, mau tidak mau kami harus mempercepat rencana... Besok aku akan mengutus 2 anggota keluargaku. Siapkan ruangan kosong. Kita akan melakukan 'itu' "

"I-itu?!"

"Mungkin kiniah saatnya Amarah kami kembali ke permukaan dunia ini!"

================================================================================

Keesokan harinya, seperti yang dijanjikan, datang 2 sosok misterius ke mansion Willfrey. 'Laki laki' dan 'Perempuan'. 'Laki laki' itu memiliki postur tubuh bulat, pendek, dan lebar. Kulitnya hitam, kepalanya botak plontos. Raut mukanya menunjukan bahwa ia sangat lapar, dan akan memakanmu setiap saat. Di lain pihak, 'Perempuan' ini memiliki tubuh yang diidam idamkan nyaris semua orang, bahenol dengan E Cup. Rambut perak panjangnya sinkron dengan kemolekannya. Semua penjaga *ehm*, TEGANG MY HEART :lol: *ehm* melihat sosok bak bidadari turun dari surga ke tujuh tersebut.

Segera Willfrey menyiapkan sebuah kamar kosong di bawah tanah mansion, dan segera menjemput Aurel. Ketika mendapati kamar sang putri kosong, Willfrey segera memerintahkan seluruh penjaga untuk mengejarnya.

Aurel yang bersembunyi, masih di sekitar taman mansion, segera berlari menuju ke pintu keluar. Namun, tak disangka sangka, dari belakang datang bak peluru meriam raksasa hidup, menangkap tubuh Aurel dengan kedua tangannya bagaikan menangkap bola sepak.

"Dapat si anak nakaaaaaal~ boleh kumakaaaaaan~?"
Aurel berteriak, meronta mencoba melepaskan dirinya dari genggaman mahkluk itu.

"KYA! Le-lepaskan!"

"Ah, kau yang akan menjadi 'Amarah'... tidak boleh dimakan.... bawa kembali ke dalam..."

"Le-epaskan!"

================================================================================

Singkatnya, Aurel dipaksa masuk ke ruangan itu, yang didalamnya terdapat sebuah meja. Pakaian Aurel dilucuti, dan ia dipaksa untuk berbaring di meja itu. Tangan, kaki, dan lehernya diborgol.

Di dalam ruangan itu hanya ada 2 'Anggota Keluarga' dan Willfrey. Ruangan itu sudah didesain sedemikian rupa agar suara sekeras apapun tidak dapat keuar dari ruangan itu. Rintihan, teriakan, dan tangisan Aure tidak dapat mencapai keluar...

'Perempuan' itu mengeluarkan sesuatu, berbentuk mirip bola, merah menyala bagaikan memiliki kehidupan, lau menghampiri Aurel. Si botak gemuk itu melihat dari sudut ruangan, dan Willfrey dari sudut yang lain...

"A-apa yang akan kau lakukan?!"

"Sesuatu yang menakjubkan, nona muda..."

Segera ia menaruh bola itu di dada Aurel, memaksanya masuk ke dalam. Aure meronta, karena secara tgiba tiba tubuhnya dipenuhi 'Kekuatan', yang maha dahsyat, namun juga Maha Jahat.

"AAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA!!!!!!!!!!!!!!!"

"Oooh, bagus sekali, sepertinya memang takdirmu menjadi anggota keluarga kami..."

Bola itu masuk perlahan ke dalam tubuh Aurel, memancarkan sinar merah sesekali. Aurel yang meronta kesakitan hingga boa matanya memutar ke atas, lalu pingsan. Setelah bola itu menghiang dari pandangan, terukir sesuatu di dadanya...

"Happy Birthday, adikku, Sang Pemarah, Chrome Aurelia"

Semenjak saat itu, Aurel tidak pernah kelihatan keluar dari mansion Willfrey. Sifatnya yang nyaris kembali menjadi gadis sebelum bertemu Willfrey, tidak kelihatan lagi. Yang ada adalah tatapan kosong, dengan aura Amarah yang maha dahsyat...


"Imagine Iron Man, kill Tony Stark, and replace him with Dinosaurs. That's why Tachikazes are awesome"


2012-11-17, 21:02
PostRe: [StoryPlay] Eremidia : The Fragments
hyperkudit 
Pahlawan Super
avatar

Level 5
Posts : 2288
Thanked : 30
Engine : RMXP
Skill : Very Beginner
Type : Artist
Awards:

Chapter 11 : Back to The Town

“Bertahanlah Philias! Kau akan baik-baik saja!” seru Hilda panik. Seperti tahu apa yang akan terjadi saja jika dia berkata demikian, aku bertaruh si penyakitan itu tak akan bertahan sampai matahari terbit.

Bisa kulihat Meidy berlari kearah kami, setelah mengambil seember air dari sumur yang masih utuh. Saking terburu-burunya, air dalam ember tersebut beriak dan beberapa kali tumpah sedikit ke tanah.

“Bagaimana keadaannya?” tanya Meidy cepat.

“Tidak bagus, sepertinya luka dalam.”

Hilda terus membasuh luka-luka Philias, lalu mengambil sejumput tanaman yang sudah disiapkannya dan mengunyahnya. Pemandangan berikutnya membuatku merasa jijik, aku tidak mengerti apa maksudnya, ini seperti melihat induk burung memberi makan anak-anaknya. Si kacamata itu tanpa ragu memuntahkannya dan memasukannya kedalam mulut Philias, lalu mengunyah tanaman lain dan menempelkan muntahan itu di luka luarnya.

Ketika dalam penjara, aku dan Tuan Winkle sering berimajinasi tentang bagaimana dunia atas setelah 500 tahun kutinggalkan. Bayanganku akan ada kereta tanpa kuda dan kaleng yang bisa membuatmu berbicara dengan orang di seberang negeri, tapi ini? Kurasa kemampuan otak manusia modern tidak berkembang, tapi menurun.

“Lukanya terlalu parah, kita harus membawanya ke Westport!”

Wesport huh? Kota yang tadi? Mataku melihat ke sekitar, ini benar-benar penuh kekacauan. Tidak hanya Hilda yang sedang panik menangani saudaranya, beberapa orang juga terlihat menangisi mayat disampingnya, sedangkan orang-orang lainnya berusaha memadamkan api yang masih berkobar.

“Howly! Jangan melamun saja, cepat bantu kami!”

Nada suara yang sangat tak kusukai keluar dari bibir si bocah Meidy, mulai berlagak bos lagi rupanya. Aku tidak peduli dengan apa yang akan terjadi pada Philias itu, toh manusia selalu lahir dan mati dengan cepat. Mereka berkembang biak seperti tikus.

“Akh!!”

Darah segar keluar dari mulut Philias, membuat Hilda yang awalnya hendak memapahnya mengurungkan niatannya. Bisa kulihat dari balik kacamatanya, sembab dan membuat kaca mata itu berembun.

“Kakak.., disini, sangat dingin…” bisik si penyakitan lirih.

“Aku akan menghangatkanmu,” balas Hilda, “Aku tidak akan meninggalkanmu, Philias.”

Bisa kutebak yang akan terjadi setelah ini adalah adegan dramatis dimana si jantan mengucapkan kata-kata perpisahan, dan si betina akan memeluk tubuhnya sambil meraung seperti singa sakit gigi. Sungguh klise dan terlalu di dramatisir. Ayolah bocah Philias, matilah dengan cepat, tenang dan bahagia!

Matanya menatap kearah wajah si dada besar itu kosong, sudah mati kurasa, pada akhirnya. Hilda terlihat syok ketika mengetahui adiknya hanya tinggal tubuh tanpa nyawa, begitu pula si bocah Meidy. Yang aku heran disini adalah si Meidy ini, dia bahkan tidak mengenal Philias dan Hilda, kami baru bertemu beberapa jam tapi perempuan berkerudung itu malah ikut-ikutan berkabung. Dasar ratu drama, lihatlah diriku, kematian Philias tidak berimbas apapun padaku bukan? Hilda hanya memeluk tubuh adiknya itu, menangis terisak, tak berkata sepatahpun.

Raut wajahnya begitu menyiratkan ekspresi yang cengeng bagiku, aku tak memang belum pernah mengalami sesuatu yang bernama kesedihan karena dunia atas adalah taman bermain bagiku, semuanya terlihat menyenangkan dari mataku. Tapi, aku sempat ragu apakah aku benar-benar belum pernah merasakan kesedihan? Seperti apa rasanya?

Oh, tunggu sebentar…

Ketika penyihir cilik itu merebut Tuan Winkle dariku, aku merasakan sesuatu yang sedikit aneh, apakah itu kesedihan? Tapi jika begitu, kenapa si kacamata sampai menangis seperti itu? Yang kurasakan saat dipisahkan dari tuan Winkle adalah kombinasi antara rasa kesal, marah dan khawatir, apakah itu formula yang tepat untuk membentuk rasa sedih?

Entahlah, lagipula seperti yang biasa ku katakan… Apa peduliku?

****

Matahari mulai terbit dan kulihat Hilda sibuk mengangkat batu-batu besar bersama Meidy. Mereka berencana memakamkan Philias seperti apa yang dilakukan warga desa lainnya pada kerabat mereka.

“Howly! Cepat bantu kami!” teriak Meidy dari kejauhan, tapi kuabaikan dan terus melanjutkan tidurku, yang tak sempat kulakukan karena si tolol Great Lamb itu.

Bisa kudengar suara rumput yang diinjak di sebelah telingaku. Meidy sepertinya, ya siapa lagi memangnya?

“Tidak bisakah kau menunjukan sedikit rasa empati?!” bentaknya, “Hilda sudah baik kepada kita dan sekarang dia sedang berduka!”

“Oy.., aku sudah menyelamatkan kalian, jadi anggap saja itu impas!”

“Grr! Kau! Dia kehilangan orang yang dicintainya! Setidaknya bantu kami memakamkannya dengan layak!”

“Orang mati setiap hari, suruh saja si dada besar itu berkembang biak, dia akan mendapatkan orang lain untuk dicintai!”

Aku membuka mataku, hanya untuk melihat sebuah sepatu mengarah tepat ke wajahku.

“Argh!! Apa yang kau lakukan dasar penyihir!”

Kututupi wajahku yang babak belur setelah Meidy menginjak-injaknya beberapa kali, dan tentu saja ini menyakitkan. Bocah ini! Dia benar-benar berusaha membunuhku rupanya! Kugenggam pergelangan kakinya lalu kuangkat tanganku, membuatnya jatuh tersungkur.

“Pfft.., kelinci,” cibirku ketika melihat sesuatu dari balik roknya yang tersingkap, “kau memang masih bocah ingusan.”

“Be-berani sekali kau!”

Si bocah Meidy langsung menutup roknya, wajahnya merah seperti kepiting rebus. Gadis itu menarik kakinya lalu menghentakannya kuat-kuat kearahku.

Ekh! Ini, seperti ada yang pecah! Perutku melilit dan rasanya sangat ngilu. Rasa sakit yang tak tertahankan dan menyiksa. Meidy, bocah jahanam ini menendang tepat di pusaka ku! Membuatku meringkuk di tanah dan berguling-guling ksesakitan. Setelah pertarungan dengan Great Lamb, pada akhirnya anak inilah yang membuatku berada diambang kematian.

Masih merasakan sakit yang teramat, aku berusaha berdiri lalu menyusul bocah Meidy itu, kupastikan kali ini akan kugantung dia di tiang bendera. Tanganku berhasil menjangkau ujung kerudungnya, kutarik dan langsung kupersiapkan dua jariku untuk mencongkel matanya.

“Howly, Meidy…, jika tidak keberatan, maukah kalian ikut mendoakan Philias?”

Ucapan lirih Hilda membuat kami berdua menoleh kepadanya, aku secara pribadi sedikit heran dengan permintaannya, maksudku, iblis macam apa yang berdoa? Meidy langsung menyetujuinya, tapi aku tidak mau membuang-buang tenaga untuk omong kosong ini.

“Kumohon Howly, kaulah orang yang berusaha menyelamatkannya, ini akan sangat berarti bagiku,” tambahnya ketika melihat raut wajahku, mungkin dia tahu bahwa aku berencana menolak.

Haaah, ini benar-benar merepotkan. Aku ke dunia atas hanya untuk berjalan-jalan, menjauh dari masalah sebisa mungkin. Tapi belum ada sehari semenjak keluar dari penjara, sepertinya masalah yang terus mengikutiku.

“Baiklah.. baiklah.., tapi berhenti memanggilku Howly,” gumamku malas, “Panggil saja Howl.”
Si kacamata tersenyum dibalik air mata tipis yang mengalir di pipinya. Dasar wanita, wajah memelasnya memang senjata mematikan untuk para lelaki. Aku memang iblis, tapi aku juga laki-laki. Lelaki normal, tulen dan tentu saja contoh bagus untuk mewakili kata Pria Sejati. Aku bukan pria pengidap homoseksual yang gemulai dan menyedihkan, walau berasal dari ras rendahan, wajah si kacamata ini cukup menarik minatku, terlebih tubuhnya sintal dan seksi. Itulah mengapa aku sangat menginginkannya untuk menjadi budakku. Tidak seperti si bocah Meidy yang kurus kerempeng, berdada rata. Yah.., mungkin itu memang karena faktor usia, tapi tetap saja, Meidy adalah tipe betina yang akan mati ketika disetubuhi.

****

Aku menghabiskan waktu berdoa yang membosankan di gundukan batu itu dengan menghayal yang tidak-tidak, Beberapa kali mengintip kearah dada Hilda. Hehehe, kencang dan bulat. Aku suka itu, tapi ketika menoleh kesisi lain, kulihat Meidy menatapku dengan tatapan curiga dan waspada. Dari matanya aku bisa tahu kalau dia ingin bilang aku ini mesum atau semacamnya.

“Amen,” gumam Hilda pada akhirnya, aku tidak tahu apa maksudnya, tapi sepertinya ini akhir dari keheningan ini.

“Howl, kau tahu apa yang menyerang kita tadi?” tanyanya, “Apa itu iblis?”

“Ya, The Great Lamb, iblis kelas bawah.”

“Kuakui, kau cukup hebat ketika membunuh monster itu,” sela Meidy.

“Aku tidak membunuhnya,” koreksiku “Dia ditarik kembali oleh summonernya, kau tidak lihat gerbang summon di tanah?”

Entah apa yang salah dengan ucapanku, tapi sempat mengeluarkan suara kecil yang langsung ditutupnya dengan tangan, terkejut kurasa. Tak seberapa lama, wajahnya kembali menjadi kelam, bukan seperti ekspresi sebelumnya, ini seperti… dendam, kurasa.

“H-Howl, menurutmu apa Occult of Shadowlord terlibat dengan ini semua?”

“Entahlah, aku tidak peduli, lagipula itu sudah pergi.”

“Hilda, jangan bilang kau mau…”

Meidy terlihat khawatir dengan si kacamata Hilda ini, mungkin tahu apa rencananya ketika melihat wanita itu mengepalkan tangannya kuat-kuat.

“Aku harus ke West Port, ada yang ingin kucari tahu!” seru Hilda cepat.

“Kalau begitu aku ikut, Howly juga!”

Eh? Aku? Untuk apa? Aku juga punya agenda kegiatan disini, jangan memutuskan apa yang akan kulakukan seenaknya dasar anak bawel! Otak, berpikirlah! Keluarkan daftar agendaku.

Errr.. kita lihat…

Euh.. ternyata aku tidak punya agenda kegiatan.

Tapi setidaknya isi pikiranku tidak ku keluarkan melalui kata-kata, jadi aku tidak akan mendengar ocehan penyihir kecil itu lagi. Tapi, yang benar saja? Masa aku harus mengikuti perintahnya lagi?

“Howly, cepatlah!”

Suara Meidy membuyarkan lamunanku, mereka sudah berjalan kearah kami datang tadi, kembali ke kota itu? Sepertinya aku salah soal pemikiranku barusan.

Bukan masalah yang mencariku, tapi kamilah yang selalu mencari-cari masalah.


DeviantArt | Kemudian.com| Facebook
2012-11-18, 00:23
PostRe: [StoryPlay] Eremidia : The Fragments
Signus Sanctus 
Newbie
Newbie
avatar

Level 5
Posts : 69
Thanked : 3
Engine : RMVX Ace
Skill : Beginner
Type : Developer
Awards:
Chapter VII : Blessed Days

Aku kembali menikmati Sandwich ku dipagi hari bersama dengan Leila, Sophie, dan anak - anak yang berada dalam asuhanku kali ini. Jumlah anak - anak yang kami asuh sekarang ada 15 anak. Yang paling tua adalah Shelke Adriemus, seorang gadis tomboy berusia 16 tahun. Ayahnya adalah seorang mercenary dan ibunya adalah salah satu member Order of Nirvanne, dan mereka berdua kehilangan nyawa mereka saat sedang bertugas melawan salah satu monster yang dipanggil oleh Occult of Shadowlord.

"Arph! Sampai kapan kamu mau makan terus?! Katanya hari ini kamu mau menemaniku latihan sparring?!?!"

"Sabar Shel, laper neh~"

Kemampuan berpedang Shelke bisa dibilang sudah cukup stabil dan kuat untuk gadis seumurnya, meski menurutku untuk bisa mencapai rank tinggi di Order of Nirvanne masih kurang.

"Arph..."

"Hmm? Ada apa, Klam?"

Gadis kecil berusia 14 tahun ini adalah Klamier Halken, dengan kacamata bulat dan besarnya, cocok dengan rambutnya yang pendek lurus dan tersusun rapih. Gadis ini sangat pemalu dan mudah takut dengan pria lain, namun setelah beberapa minggu aku mencoba mendekatinya, ia menjadi sangat dependen dan terus lengket denganku.

"... Ini...."

Dan terlihat gadis itu memberikanku sepiring sandwich, dan kebetulan sandwich yang ada ditanganku dan piringku sudah habis.

"Pantas saja aku bingung kenapa Leila tumben cuman ngasih setengah porsi dari yang biasa kumakan."

Aku langsung mencomot 1 tangkap Sandwich yang ada di piringnya dan melahapnya.

"Hmm?!? Enak!? Lebih enak daripada buatan Leila?!?"

Sekejap aku mengatakan itu, senyum lebar terlihat jelas dimuka Klamier, senyum polos yang tidak terduga - duga oleh orang lain.

"Hei, Arph! Apa maksud ucapanmu barusan!?"

Mendadak leila nampak dibelakangku dan terlihat sedikit emosi dengan ucapanku.

"Kau coba saja sendiri~!"

Aku menyodorkan Sandwichku kepada Leila, kemudian membiarkan Leila mencicipinya.

"Hmm?! Rotinya gurih, kematangan dagingnya pun pas, seladanya yang tidak ikut dibakar membuatnya jadi lebih segar, potongan tomat dan timunnya pun serasi, dan ketipisan kejunya pun pas. Darimana kamu belajar membuat Sandwich seenak ini, Klam?!"

Tanya Leila keheranan terhadap murid ajarannya.

"Umm... aku hanya mencoba membuat beberapa kombinasi yang menurutku tidak terlalu membuat leher eneg..."

"Hei Klam! Kalau kamu terus memberinya sandwich seperti itu, Arph tidak akan jadi - jadi menemaniku sparring!!"

"Tak usah terlalu terburu - buru, Shelke."

Ucap Leila menenangkan Shelke.

"Benar, kak Shelke lebih baik sparring bersamaku saja!!!"

Sosok bocah lelaki dengan warna rambut yang sama dengan Klam muncul dari kamarnya, dan membawa sebilah tongkat kayu.

"Ngomong apa kamu?! Lupa ya sudah berapa kali kamu kukalahkan dalam Sparring?!?"

"HARI INI HASILNYA AKAN BERBEDA, LIHAT SAJA!!!"

Bocah itu bernama Krimheld Halken, dia adalah saudara kembar Klam, yang paling muda. Ibunya meninggal saat melahirkan mereka berdua dan ayah mereka meninggal saat melindungi kedua anaknya saat mereka diserang oleh kumpulan monster liar.

"Ayolah kalian berdua, aku akan menemani kalian berdua Sparring hari ini..."

Ucapku sambil mengambil sebuah kantung kecil dan mengantungi semua Sandwich yang Klam buatkan.

"Eh? Maksudmu, aku dan bocah ini akan melawanmu, Arph?"

"AKU BUKAN BOCAH!!!"

"Shelke, dalam peperangan, kerjasama dan kepercayaan antar rekanmu itu penting, kalau kamu tidak bisa menguasai ini, kemampuan pedangmu hanya terbuang percuma."

"Tapi aku tidak mau kalau bocah ini menghalangiku dalam pertarungan!"

"SUDAH KUBILANG JANGAN PANGGIL AKU BOCAH!!!"

"Akan lebih mudah kalau kuajarkan langsung sambil latihan, Leila, aku pergi dulu. Phoenix! Ayo!!"

"Hati - hati dijalan~!"

Aku segera meninggalkan bar bersama Krim, Shelke, dan Phoenix, burung piaraan Leila yang sekarang menjadi sangat dekat denganku.

Disisi lain, Sophie terlihat kelabakan, bukan hanya karena sambil membantu Leila mengurus barnya, namun juga terlihat kelabakan mengurus anak - anak asuhnya yang lain.

"Ayolah Sophie, kau harus lebih teliti lagi dengan sekitar, tidak ada waktu untuk bengong~!"

Sementara Leila terlihat sangat sigap dalam melayani pelanggan - pelanggan maupun mengurus anak - anak asuhnya.

"Ibu... lapar..."

"Bu Leila, Eleanor bangun!!"

"Baiklah, ibu akan segera kesana!!!"

Dan diasuhan Leila dan Sophie adalah anak - anak kecil yang masih belum bisa menjaga dirinya sendiri, sehingga butuh perhatian ekstra dari Leila dan Sophie. Yalkur, anak lelaki berusia 9 tahun, kehilangan orangtuanya karena orangtuanya adalah member dari Occult of Shadowlord dan dihukum mati. Iba, akhirnya Cassandra dan Sophie memutuskan untuk mengadopsinya.

Ikraum, anak lelaki berusia 9 tahun, sebaya dengan Yalkur, adalah anak yang kehilangan orangtuanya yang seorang Merchant keliling, diserang oleh monster liar, dan hanya Ikraum yang selamat.

Neitzch dan Ingram, anak lelaki berusia 5 tahun, adalah kedua anak yang dulu pernah diasuh oleh panti asuhan lain, namun suatu hari, pengasuh panti asuhan itu menjadi gila karena beratnya biaya untuk mengasuh anak - anaknya, dan membunuh - bunuhi semua anak - anaknya, menyisakan Neit dan Ingram saat diselamatkan oleh prajurit kota tersebut.

Juon adalah anak lelaki berusia 3 tahun yang terdampar dari benua lain saat sebuah kapal kargo diserang oleh Kraken, dan hanya dia yang selamat dari kapal tersebut.

Anak lelaki terakhir adalah Grim, seorang bayi yang ditelantarkan orangtuanya entah kenapa di sebuah sungai.

"Ibu Leila, aku menemani Neit dan Ingram jalan - jalan dulu, ya~"

"Baiklah, hati - hati dijalan, Riella~"

Riella adalah gadis berusia 10 tahun yang sempat menjadi korban perbudakan di benua lain, saat dikirim ke tempat ini, kereta mereka diserang monster liar, Riella berhasil kabur sendirian namun tidak memiliki tempat tinggal sampai Cassandra menemukannya.

"Helena, bantu Sophie mencuci piring sebentar."

"Siap, bu~! Diana, Linda, ayo ikut!"

"Iya~!"

Helena adalah gadis berumur 9 tahun dan anak seorang Noble yang di exile dan dibunuh oleh sekelompok assassin misterius.

Diana dan Linda adalah dua kakak beradik berumur 9 dan 7 tahun yang terusir dari rumahnya karena kedua orangtuanya yang sering bertengkar satu sama lain, membuat ibunya terbunuh dan ayahnya dipenjara oleh pihak kerajaan.

Soledad, anak kecil berusia 5 tahun yang menjadi korban penjualan anak oleh beberapa desa. Namun saat penggrebekean markas penjualan anak tersebut, ia berhasil diselamatkan oleh Cassandra dan akhirnya membuatnya berada dalam asuhan Cassandra dan Sophie

Dan Eleanor, adalah anak berusia 1 tahun yang kehilangan ibunya saat melahirkan dan dalam kondisi tidak punya bapak, akhirnya Cassandra mengambil inisiatif untuk merawatnya.

Sepeninggal Cassandra, mereka semua tidak punya tempat tinggal dan Sophie sendiri tidak akan sanggup mengurus mereka semua. Akhirnya Arphage mengambil inisiatif untuk mengasuh mereka bersama dengan Leila, dan sekarang mereka berdua tinggal bersama.

***

Suatu malam, aku terbangun karena merasakan suatu gejolak yang sungguh ajaib namun terasa sangat natural oleh seluruh makhluk di dunia ini.

"Sial kebelet...."

Aku segera berlari perlahan menuju toilet dan mengeluarkan semua isi sampah yang ada di dalam perutku.

"Fuuh lega... hmm?"

Aku melihat sosok yang sangat familiar didepan mataku, seorang gadis dengan rupawan yang cukup menawan dibawah terang rembulan malam hari.

"Sophie?"

"Ah, Arph..."

"Sedang apa kau malam - malam diluar? Kau mau sakit?"

"... Aku sedang melihat bulan purnama...."

"Ya aku tahu itu...."

"Bulan purnama adalah hal yang paling disukai kak Cassandra...."

"...."

Sophie masih tidak bisa melupakan kakaknya sendiri, yang mati demi melindungi anak - anaknya dan adiknya sendiri....

"Tidurlah, besok kau harus bangun pagi - pagi dan membantu Leila, kan?"

"... Iya, maaf, kalau begitu aku masuk duluan...!"

"... Sophie...."

"Hmm...?"

"Kamu tidak membenciku sama sekali? Karena aku terlambat menyelamatkan Cassandra?"

"... Mungkin kalau kamu tidak memutuskan untuk mengasuh kami... aku akan membencimu...."

"... Terima kasih, Sophie...."

***

"Kau yakin mau menemaniku ke tempat ini, Leila? Bukankah kamu sendiri yang bilang kamu tidak menyukai distrik ini...?"

"Tenang saja, lagipula tidak setiap hari aku bisa berduaan saja denganmu, Arph~!"

"Begitukah? Kalau begitu kau mau kemana sekarang?"

"Terserah kamu, Arph~"

Aku dan Leila tengah berlibur dan menghabiskan waktu seharian kami dengan berjalan mengelilingi Noble District, masih banyak sudut - sudut distrik ini yang sama sekali belum kuketahui.

"Tapi aku masih susah mempercayainya...."

"Hmm?"

"Kamu bukanlah keturunan raja ataupun keturunan Noble, tapi kamu mampu mendaki puncak para pemegang saham terbesar di dunia ini."

Leila menatap pemandangan diluar kota lewat balkon yang berada sangat tinggi melebihi tiang dining Eremidia, namun terlindungi oleh magic barrier disekitarnya.

"Andaikan saja membuang nama Noble yang kumiliki lebih mudah daripada mendapatkannya...."

"Hmm? Apa maksudmu?"

"Aku... waktu kecil aku tidak suka dianggap spesial oleh teman - temanku hanya karena aku adalah seorang Noble, kakak ku yang lebih tua sudah memilih jalannya sebagai prajurit kerajaan, dan akhirnya akulah harapan kedua orangtuaku untuk mewarisi nama mereka berdua...."

Leila mendekatiku, kemudian merangkul tanganku dan memeluknya dengan erat.

"Aku mencoba mematuhi perintah kedua orang tuaku... terus belajar, belajar, dan belajar. Namun semakin aku menguasai semua hal yang kubutuhkan, aku semakin ditinggal jauh oleh orang - orang sebaya yang ada disekitarku...."

Aku menyentuh salah satu tangannya yang terasa bergetar, kemudian Leila mengencangkan genggamannya lebih erat lagi.

"Suatu hari... aku membantah perintah kedua orangtuaku untuk pertama kalinya... Aku lari dari rumah itu, aku tidak mau lagi bertemu dengan mereka, aku... aku...!"

"...."

"Ketika seorang Languard datang dihadapanku bersama dengan Lord Rayloft... mereka mengabarkan... kalau... kalau... ayahku... ibuku... kakakku....!!!!!"

"...."

Aku melepaskan genggaman tangannya yang terus merangkul lenganku dengan sedikit memaksa.

"A... Arph...?"

Kemudian aku memeluk Leila seerat - eratnya dengan kedua tanganku, menaruh dan menyenderkan kepalanya didadaku.

"....!!!"

Leila hanya terkejut dan bingung dengan perlakuanku, namun aku tetap memeluknya dengan erat tanpa memberinya celah untuk pergi.

"Tapi... tapi aku... tidak sempat mengucapkan kata maaf kepada kedua keluargaku... kepada kakakku...!!!!"

Leila kemudian membalas memelukku dengan sangat erat, seolah - olah tidak mau melepaskanku.

"Kalau saja... kalau saja aku tidak melakukan semua itu... kalau saja aku tidak mementingkan diriku sendiri daripada orang lain...!!!!"

"...."

"Aku... wanita bodoh...."

Leila menitikkan air matanya satu persatu secara perlahan, membasahi pipi merah meronanya.

"... Ya, kamu memang bodoh meskipun kamu memiliki pengetahuan yang sangat luas."

"Eh?"

"Aku tidak tahu apa perasaanmu terhadap kedua orangtuamu, kepada kakakmu, dan aku tidak tahu seberapa menyesalnya kamu karena tidak mampu meminta maaf terhadap mereka...."

"Arph...?"

"Tapi kau ada disini, dan kau telah bertemu denganku... semua karena kamu menghargai dirimu sendiri...."

"Menghargai... diriku sendiri...?"

"Kalau kau hanya tetap menuruti perintah orang tuamu hanya demi membahagiakan mereka, kau hanya seperti boneka tanpa jiwa, dan aku tidak mau itu terjadi padamu...."

Aku mengelus pipi Leila yang basah karena airmatanya.

"Dan karena kamu menghargai dirimu sendiri, aku bisa bertemu denganmu...."

"...!!!"

Leila terkejut dan melompat pendek dari pelukanku seketika itu juga, kemudian matanya kembali dibasahi oleh genangan air mata yang sangat deras.

"Aku... aku... Arph... aku...!!"

Saat Leila tengah terbata - bata mencoba menyampaikan sesuatu, aku menahan mulutnya dengan dahiku.

"Leila... aku mencintaimu...."

Seluruh muka Leila memerah padam seperti buah stroberi yang sudah matang, merona dan manis dipandang, ditambah dengan genangan air mata yang terus mengalir tanpa hentinya dari kedua bola mata Leila.

"Arph...! Aku... aku juga... aku juga mencintaimu...!!!"

Leila meloncat ke pelukanku, mendekatkan kepalanya dengan kepalaku, dan menggodaku dengan bibir merah mudanya yang sungguh menggoda dan menawan. Kemudian aku membalasnya dengan mendekatkan bibirku dengan bibirnya, dan akhirnya kedua bibir kami saling bersentuhan. Namun Leila terus memegangi kepalaku dan semakin mendekatkan bibirnya tepat di sela - sela mulutku, dan aku mengikuti permainan bibir dan lidah Leila yang basah, manis, dan hangat itu. Kami berdua terus menahan posisi ini dalam kurun waktu yang cukup lama dan terus menikmati tanpa mempedulikan beberapa pandangan orang - orang disekitar kami. Akhirnya setelah puas, Leila melepaskan tangannya dari kepalaku.

"Arph...."

"Semoga kita bisa terus bersama, Leila...."

"... Iya...."

Leila kembali merangkul lenganku dan meletakkan kepalanya diatas bahuku, sambil menikmati pemandangan matahari terbenam yang sungguh indah, warna langit yang sebelumnya biru kini menjadi merah kekuningan bersiap - siap untuk saling berganti.


The Greatness of Tentacle:
 


Requiem:
 


The Last:
 
2012-11-18, 14:32
PostRe: [StoryPlay] Eremidia : The Fragments
hyperkudit 
Pahlawan Super
avatar

Level 5
Posts : 2288
Thanked : 30
Engine : RMXP
Skill : Very Beginner
Type : Artist
Awards:

Chapter 12 : Entrance Gate

Cukup lama perjalanan kearah matahari yang mulai menampakan dirinya ini dilanda keheningan, baik Hilda, Meidy atau diriku secara pribadi tidak ada yang berbicara sepatah katapun. Aku tidak tahu bagaimana dengan mereka, tapi aku melakukannya karena sangat mengantuk. Inipun aku seperti berjalan sambil setengah tertidur, tapi aku bisa melihat mereka juga sama. Mata Meidy jelas-jelas sudah sangat berat dan merah, dan walaupun berkacamata, Hilda tetap tidak dapat menyembunyikan wajah lelah dariku.

Kami akhirnya sampai di pintu masuk kota yang disebut Westport ini, cukup kacau kurasa, semuanya tampak berbenah dan membereskan sudut kota yang berantakan. Banyak pasukan seperti lima pria yang kutemui di sel ku terlihat mengawasi sekitar, setidaknya itu yang bisa dilihat dari pandanganku yang dibatasi tembok-tembok tinggi.

“Maaf, mohon tunjukan kartu identitas kalian!” seru salah seorang penjaga di pintu masuk kepada kami.

“Ini, tolong proses dengan segera, kami sangat terburu-buru!” balas Hilda.

“Hanya satu? Bagaimana dengan milik orang itu?”

Pria botak itu menunjukku dengan dagunya, mengesalkan sekali, seolah mau menantangku. Aku mulai berjalan selangkah, berencana membenamkan kepalanya di tanah.

“Suamiku kehilangan kartu identitasnya,” sela si kacamata cepat, ”Rumah kami diserang salah satu monster tadi malam, bahkan dia tidak sempat memakai pakaian yang layak.”

“Jadi, anak ini adalah…?”

“Ini putri semata wayang kami,” gumam Hilda lirih, sembari menarik bahu Meidy, membekapnya penuh perasaan.

Harus kuakui, si dada besar ini adalah aktris yang hebat. Ketika mulai menyadari apa yang dilakukannya, aku sempat senyum-senyum sendiri. Mungkin dia tidak tahu siapa sebenarnya diriku, tapi sepertinya dia tahu betul kalau aku bakal terlibat masalah seperti ini dan berusaha melindungiku.

Tapi yang benar saja, apa ini benar-benar terlihat seperti keluarga yang natural? Maksudku, masa iya seorang wanita berambut merah seperti Hilda, menikahi pria berambut hitam sepertiku akan melahirkan seorang anak berambut pirang? Bukankah seharusnya akan menjadi merah gelap? Atau mungkin akan lebih mudah jika rambutku berwarna biru, jika aku menikah dengan Hilda, maka rambut Meidy akan berwarna ungu, itu akan lebih masuk akal.

“Wanita ini seorang librarian, dia terdaftar,” bisik salah seorang prajurit ketika kembali, kurasa mengecek kebenaran dari kartu identitas itu.

“Bagaimana dengan kau, apa pekerjaanmu?” tanya pria lainnya kepadaku.

“Aku adalah dew…”

“Dia seorang nelayan,” potong Hilda, “Kalian bisa melihat dari posturnya bukan?”

Nelayan? Sejak kapan aku berurusan dengan ikan? Kenapa si kacamata ini tidak mengarang pekerjaan yang lebih manly untukku? Petarung misalnya.

“Baiklah nyonya, silahkan masuk!” ijin penjaga tersebut, “Tenda pengungsian berada di pusat kota.”

“P-papa, cepatlah!” seru Meidy tertahan ketika Hilda menarik tangannya masuk kedalam kota.

Suara dan ekspresinya yang sok imut terkesan begitu dipaksa, dan dari sekian banyak hal yang membuatku kesal dengan gadis itu, inilah yang membuatku merasa sangat kesal sekaligus jijik. Sungguh, aku tidak sudi menjadi ayah dari anak ini.

“Grr!! berani sekali kau memanggilku dengan kata itu anak jahanam!”

Spontan, Hilda memeluk Meidy semakin erat, seperti berusaha melindunginya ketika aku mulai merangsek melewati pintu gerbang itu. Namun tiba-tiba dua penjaga tadi menahan tubuhku.

“Hey.. hey! Kami tahu kau telah melalui hal buruk, tapi itu bukan alasan untuk berkata seperti itu pada anakmu!”

“Dia.. bukan.. anakku..! idiot!”

Kugenggam pakaiannya, begitu kesal dengan semua ini. Kurasa aku akan membunuh satu atau dua orang supaya bisa lebih tenang.

“Papa, hentikan!”

“Howl, jangan kau lakukan itu!”

Hilda dan Meidy langsung menahan kedua belah tanganku, berusaha mencegahku melampiaskan rasa kesal ini. Beberapakali aku merasakan benda empuk memantul di lengan kiriku, tempat Hilda saat ini, aku sepertinya tahu apa itu, dan tampaknya membuatku lebih lega.

Kulepaskan cengkramanku dari pria itu, membuatnya terjatuh dan terbatuk-batuk. Temannya yang awalnya mengacungkan pedang kearahku langsung membantunya berdiri.

“Lihatlah, mereka menyayangi dan melihatmu sebagai seorang kepala keluarga!” serunya, “Tidak bisakah kau melakukan hal yang sama pada mereka?”

Aku hanya menatapnya heran, tidak mengerti apa maksudnya. Kurasa idiot-idiot ini benar-benar percaya bahwa kami adalah sebuah keluarga.

Beberapa lama setelah ceramah yang membosankan, mereka memeluk kami semua dan mengijinkan kami pergi. Hilda dan Meidy melambai kearah para penjaga gerbang, begitu pula sebaliknya.

“Hee.., itu tadi benar-benar tidak terduga,” gumam Hilda sambil merentangkan tangannya keatas, meregangkan ototnya yang sepertinya tegang.

“Kau hebat Hilda, aku tidak menyangkan kau bisa mengambil hati mereka semua,” puji Meidy.

“Ahaha, terimakasih, dulu aku memainkan drama saat kuliah.”

Entah apa yang terjadi pada perempuan ini, belum ada setengah hari dia ditinggal mati saudaranya, tapi sekarang dia sudah tersenyum-senyum dan bercanda dengan Meidy.

“Ey, susu besar!” panggilku, membuat wanita itu menoleh kearahku, “Kenapa kau tidak menangis cengeng lagi? Apa sudah bisa melupakan kematian si penyakitan?”

Hilda tersenyum tipis kepadaku, kurasa tersirat sedikit ekspresi kesedihan di dalamnya, aku tidak bisa menjelaskannya, tapi entah mengapa aku merasa demikian.

“Aku juga punya kehidupan yang harus kujalani, aku tidak mau menangisi apa yang telah terjadi terus-menerus.”

Aku dan Meidy hanya menatapnya, terdiam tak bersuara. Kurasa si bocah Meidylah yang tampaknya mengerti betul dengan kata-katanya, terlihat dari bagaimana ekspresinya berubah dan kepalanya yang tertunduk.

“Lagipula, masih ada urusan yang harus kulakukan,” tambahnya, “Ini untuk mencegah korban seperti Philias bertambah lagi.”

“Soal itu, sebenarnya apa yang kau cari?” tanya Meidy.

“Sebuah jurnal,” jawabnya, “Aku ingin mencari para Asura, sebelum Occult of Shadowlord.”

Kata-katanya membuatku terbelalak, mencari Asura ya? Kau bahkan tidak tahu kalau sedang berjalan bersama salah satunya. Ahahahah, tapu terus terang, aku tertarik dengan gadis ini. Kuputuskan untuk ikut bersamanya, dan sepertinya tujuan akhir dari perjalanan ini adalah sebuah reuni keluarga.


DeviantArt | Kemudian.com| Facebook
2012-11-19, 16:08
PostRe: [StoryPlay] Eremidia : The Fragments
Oscar 
Senior
Senior
avatar

Level 5
Posts : 830
Thanked : 13
Engine : RMVX
Skill : Beginner
Type : Writer

TRAILER

Location: Faleon Guild House
Narrator: Nadya Sterling, Swordgirl Eremidia 12th Batalion

Mata itu, mata itu sungguh mengerikan. Mata itu diliputi rasa benci, dendam, amarah. Aku tidak tahu, mungkin karena benda yang dipegang di tangannya. Sebuah benda yang tidak seharusnya dia pegang.

Sekarang dia berjalan menuju ke guild. Bersama para goblin, dia berniat ingin menghabisi pemimpin kami. Aku harus menghentikannya.

Aku berlari menyusulnya saat dia masuk di beranda depan.

"Jack cukup! Apa kau berniat membunuh pemimpin kami?" sergahku pada pria itu.

"Minggir!" jawabnya tegas. Matanya yang bersinar tidak memandangku, matanya tertuju pada pintu yang berada di belakangku. Tangannya masih mengenggam belati terkutuk itu.

"Jack cukup!" teriakku. Aku menghadangnya, berusaha mendorongnya keluar namun...

JLEB...

Dia menusukkan belatinya ke perutku.

Aku merintih kesakitan, namun itu belum seberapa. Melihat Jack yang menjadi seperti ini jauh lebih menyakitkan.

Ku tatap matanya yang kosong, air mataku mulai keluar. Dengan tangan gemetaran kupeluk dirinya.

"Jack... jangan diteruskan, sudah cukup!" kataku lirih.

Jack tidak bergeming, ia mencabut belatinya dari perutku. Aku pun terjatuh. Jack dengan tenang berjalan melewatiku diikuti para goblinnya, dia bahkan tidak melihatku tidak mempedulikanku, matanya yang penuh dendam dan amarah itu terus penatap pintu masuk pemimpin guild kami.

Aku mencoba merayap menggapainya, aku berusaha menahan rasa sakit yang ada di perutku. Kuulurkan tanganku berusaha menggapainya.

"Jack... kembali...," rintihku. Dia makin berjalan menjauh. Pandanganku mulai memudar.

Aku seakan sudah tidak mengenalnya lagi, dia sudah berubah. Mana Jack yang dulu menolongku? Mana Jack yang selalu tersenyum? Mana Jack yang selalu menjunjung tinggi keadilan? Mana Jack dengan kapak pemecah kayunya?

Aku melihat Jack membuka pintu itu, namun pandanganku mulai memudah, tubuhku melemas. Aku tidak bisa melakukan apa-apa untuk menghentikannya. Aku hanya bisa berkata dalam hatiku...

"Jack... kembalilah!"


There are 1 and 0 kinds of people in the world: Those who understand binary and those who don’t.

nitip emot favorit dolo:

(╮°-°)╮┳━┳... (╯°□°)╯ ┻━┻
2012-11-19, 21:09
PostRe: [StoryPlay] Eremidia : The Fragments
richter_h 
Salto Master
Hancip RMID
avatar

Kosong
Posts : 1705
Thanked : 30
Engine : Other
Skill : Skilled
Type : Developer
Awards:

Chapter 4: Nord Mead!

Di utara, ada sebuah kota yang ditutupi salju abadi, mengelilingi sebuah menara putih tinggi yang bisa dilihat dari Capital Town jika sedang cerah.

Northreach.
Kota yang selalu riang ini, dengan orang-orang yang selalu bernyanyi bersorak dan minum. Northreach adalah salah satu kota penghasil minuman khas orang Utara; biang madu orang Utara, atau dalam bahasa kerennya 'Nord Mead.'

Sementara, aku tidak akan menceritakan tentang kota dan orang-orang periang itu. Kita akan beralih ke sebuah rumah di kota, di antara penduduk-penduduk, rumah kayu dengan arsitektur khas orang Utara. Di sana, tinggal seorang perempuan penyihir cantik jelita. Galvina Lavinne, itulah nama perempuan itu. Orang-orang Northreach mengenalnya dari rambut keemasannya dan mata hijau zamrudnya yang menawan.

Galvina memang seorang penyihir. Tingkat empat, atau lima dari kemampuannya. Ahli dalam ilmu mistis dan herbalisme, Galvina terkadang dipanggil untuk mengusir roh jahat atau mengobati orang dengan ramuannya. Karena jasanya, Galvina dikenal baik oleh semua orang di Northreach.

--

Satu hari, seseorang datang ke rumah Galvina. Hanya jubah merah yang terlihat, sedangkan wajah orang itu tidak terlihat jelas. Tapi, Galvina bisa melihat raut wajah orang itu, walau tidak jelas, dia butuh pertolongan.

Lantas dia membawa orang asing itu ke dalam, dibaringkan dan diberikan sebotol ramuan luka dalam.

Tidak ada luka senjata atau luka luar, makanya dia memberikan obat itu ke orang asing yang tiba-tiba masuk rumahnya itu. Dan setelah diberikan, beberapa saat kemudian, ramuan itu bekerja, membuat orang asing berjubah merah itu bisa duduk bangkit dan mengatakan beberapa kata kepada Galvina. Dan salah satu kata yang membuat Galvina terhenyak kaget,

Grey. Dia telah muncul kembali di sini.

--

Sore itu, Galvina seperti biasa melakukan rutinitasnya membuat ramuan dari tumbuhan hasil petikannya. Saat mengambil botol untuk wadah, dia menemukan gulungan kertas aneh. Dia yakin dia tidak punya kertas itu, namun dia penasaran dengan apa isi dari gulungan itu.

Dia membuka gulungan kertas itu. Aneh, hanya berisi garis-garis dan bulatan-bulatan yang terhubung dengan garis tipis. Tidak berkesan apapun bagi Galvina.

Namun, setelah menyimpan gulungan kertas itu ke atas meja, sosok berjubah gelap itu sudah ada di sampingnya. Ya, dialah Grey, sosok yang membuat Galvina terpaku dan tidak bisa berkata apa-apa lagi. Jubah gelapnya cukup menjelaskan kepada perempuan jelita itu siapa yang ada di hadapannya.

Grey meminta gulungan kertas itu. Galvina, yang masih terpaku, segera mengambil gulungan kertas yang dimaksud dan langsung memberikannya pada Grey dengan penuh gemetar. Grey, dengan nada tenang, mengucapkan sepatah kata yang tidak terbayangkan oleh perempuan itu,

Tenanglah. Aku tidak akan menyakitimu.

Lantas, pandangan Galvina semakin kabur. Badannya mulai melemah. Diapun terjerembab di lantai, tidak sadarkan diri. Grey, mematuhi untaian benang takdir, membiarkan Galvina--yang telah melihat rupa wajahnya hidup. Dia punya kode etik untuk tidak membunuh tanpa alasan, atau tanpa petunjuk dari penenun untaian benang takdir.

--

Galvina, di rumahnya, hanya ingat dia sedang membuat ramuan. Begitu dia tersadar, dia melanjutkan kegiatannya itu. Aku bisa menjamin, dia tidak akan ingat dia pernah melihat sosok Grey setelah itu.

Tapi Grey,

Dia punya sesuatu yang harus dibereskan di kota ini, di bawah menara putih Northreach, dimana orang-orangnya ramah dan selalu bersuka cita. Di bayang-bayang selasar kota, dia menunggu waktu yang tepat, sambil memandangi seutas pita dari seorang gadis yang telah mencuri hatinya. Tapi dia sudah melepaskannya. Gadis itu tidak akan dia temui lagi. Grey, masih memegang pita merah itu, berbisik ke hatinya,

Laura. Setidaknya, kau telah memberikan alasan untuk tetap hidup.


| My spriteworks | deviantArt | Mark's Quest | Eremidia: Dungeon! |
Developer of:



Supporter of:


Selp-Proclaimed The Most Handsome Member of the Long Lost Glorious


Disini kalo sebagai nubi mau dikritik yang bagus2 biasanya harus ngaku cewek dulu, karena you know lah... -- Brosef numfanklewhat
2012-11-21, 02:38
PostRe: [StoryPlay] Eremidia : The Fragments
fly-man 
Poison Elemental
Anak Cantik
avatar

Level 5
Posts : 917
Thanked : 11
Engine : RMVX
Skill : Beginner
Type : Artist
Awards:

Lembab, terasa dingin menusuk kakiku. Stalaktit dan stalakmit terpampang tak beraturan di depan mata. "Haruskah sejauh ini?", ucapku dalam hati sedikit kesal, karena setelah lama berjalan tak sampai - sampai juga pada desa goblin yang mereka janjikan. Sempat ku berfikir dalam hati, "jangan - jangan mereka hanya mau menjebak kami?", namun fikirku itu segera terbantahkan ketika aku melihat segerombolan goblin sedang melakukan aktifitasnya di dalam goa ini. Ada yang sedang membakar babi hutan, ada pula yang sedang duduk - duduk santai sambil mengobrol dengan sesamanya. "Yang mulia, orang - orang ini meminta kami untuk mengajaknya kemari", ucap seekor goblin yang beberapa menit lalu berniat menyerang kami. Semua mata goblin itu tertuju pada kami. Hamid maju perlahan, hingga jarak antara dirinya dengan goblin yang sedang membakar babi hutan hanya beberapa centi saja. Goblin pembakar babi tersebut mundur perlahan membuat jarak. Goblin lain terlhat menggenggam senjatanya erat - erat. "Boleh aku pinjam kertas atau kain tak terpakai?", ujar Hamid pelan namun dapat didengar dengan jelas oleh goblin pembakar babi hutan. Goblin tersebut segera menyobek sedikit pakaiannya yang terbuat dari kulit hewan dan menyerahkannya pada Hamid dengan hati -hati. Hamid segera mengambilnya. Di bakarnya sobekan itu. Hamid merogoh saku bajunya, kaluarlah sebatang kayu berlubang yang ujungnya sudah di isi tembakau. Hamid membakar tembakau itu dengan api di sobekan tadi. hamid menghisapnya dalam - dalam, sejurus kemudian asap mengepul dari mulut Hamid. "Terimakasih banyak", ujar Hamid dengan tersenyum kepada goblin tersebut, ia pun berjalan kembali menuju ke arah kami. Kami semua merasa lega. Desa Goblin kini aman fikirku.

Goblin - goblin itu terheran - heran melihat ke arah kami. Namun aku tahu betul kalau mereka kini sudah tidak menganggap kami sebagai ancaman. Tiba - tiba terdengar suara menggelegar dari arah goa yang lebih dalam. "Mau apa kalian datang ke desa kami?". Kami tak dapat melihat sosok pemilik suara tersebut karena gelapnya Goa, anehnya para goblin mendadak menunduk seperti sangat hormat pada sosok pemilik suara tersebut. Derap langkah pemilik suara terdengar makin mendekat. Jelas sudah kini yang ada dihadapan kami. Goblin besar dengan banyak bekas luka ditubuhnya. Nampaknya dia telah mewatkan banyak pertarungan mengerikan hingga dapat luka - luka tersebut dan tentu saja dia Goblin yang hebat karena terbukti masih bertahan hidup hingga saat ini. Urmolob mendadak berlutut dan berkata, "yang mulia Hangtulah". Hangtulah? Hangtulah adalah gerlar untuk para goblin yang sudah bertahan hidup hingga 300 tahun, serta mendapat kekuatan sejak lahir untuk menyerap kekuatan lawannya dengan melakukan upacara adat goblin yang dinamakan upacara Hombororo. Hangtulah sendiri akan langsung diangkat menjadi ketua suku walau dia bukan seorang anak ketua suku terdahulu. "Kami datang ke sini untuk bermalam", ujarku memecah senyap yang sudah terjadi beberapa saat. Hangtulah mendekati kami, dia melihat ke arah urmolob, kemudian melihat kami satu - persatu dengan teliti. "Baiklah sielamat datang saudaraku", ujarnya ramah namun tetap berwibawa. "Orang yang melakukan perjalanan panjang dengan bangsa kami akan kami anggap saudara sendiri", ujarnya kemudian. Aku mendekat dan menyalami tangannya yang kekar. "Slomon Voidal", ujarku singkat, "Shirloin", jawabnya tak mau kalah singkat dariku.

Waktu berlalu dengan cepat, aku tak dapat melihat matahari dari dalam goa ini, namun aku yakin, walau aku keluar aku takan melihatnya sebab sudah saatnya sang rebulanlah yang bertahta di langit kini. Urmolob dan Humbobo tampak sudah tertidur pulas di samping para goblin yang baru dikenalnya. Hari ini mereka nampak sangat bahagia. Mereka minum air tebu bersama sambil terus mendongeng tentang perjalanan kami keliling dunia, dan para goblin terlihat antusias mendengar cerita mereka. Hamid pergi keluar Goa dengan beberapa goblin untuk mencari babi hutan. Tak kurang dari 12 babi ia dapatkan hari ini, dan tentu saja.. setelah mendapatkan petunjuk dari para goblin , Hamid membwa masuk 1 karung tembakau dengan wjah puas.

Ku lihat semua makhluk hidup yang ada di Goa ini sudah terhanyut dalam mimpinya, bahkan suara jangkrik yang semenjak tadi menemani malam kami kini sudah senyam tanda terlelap. Aku bersiap untuk merebahkan badan untuk mengikuti mereka, namun tiba- tiba sebuah tepukan pelan mengejutkanku. "Aku ingin tahu kisahmu", ujar sosok yang menepuku yang ternyata adalah Shirloin. "Baiklah, tapi kau juga harus cerita tentang kisahmu dan kaummu di sini", uajrku membuat kesepakatan. Shirloin mengangguk tanda setuju, dan aku pun mulai berkisah.

"Kau tahu tentang dewa - dewa? Zeus si penguasa langit, Hades penguasa bumi, dan Poseidon penguasa lautan?" , tanyaku pada shirloin. Shirloin menggeleng. "hmm.. ok singkat saja, ayahku adalah anak dari poseidon sementara ibuku anak dari hades", aku berucap sambil menggerakan tentakel di kepalaku untuk menggarik pipi yang tak gatal. Shirloin mengangguk - angguk , aku tak tahu apakah dia paham yang ku maksud atau dia hanya ingin aku mempercepat ceritaku. "Alhasil aku mendapatkan tubuh tak jelas seperti ini, tubuh yang tak satupun makhluk di dunia ini miliki", lanjutku. Shirloin menatapku dengan seksama dan kembali menganngguk , kali ini tampak setuju. "Semua orang menganggapku buruk rupa serta jijik melihatku. Para duyung tak ada yang mau berteman denganku. Baiklah, mungkin duyung memang ras unik dan istimew dengan penampilannya yang anggun dan menawan, yang membuatku sedih adalah bahkan para ikan tak berakal itu jijik melihatku", aku berucap lalu terdiam sejenak mengingat kenangan pahit itu. "Semua kesendirianku belum seberapa jika dibandingkan hari itu, aku benar - benar ingat hari itu, saat umurku 5 tahun. Ayahku dihukum mati oleh Poseidon, kakekku sendiri karena dianggap melakukan hubungan terlarang dengan keturunan Hades. Sejak dulu kedua kakekku memang tidak pernah bisa akur. Ibuku ditarik kembali ke neraka oleh Hades dan hingga saat ini aku tak tahu apa yang kakekku perbuat terhadapnya", aku melanjutkan ceritaku sabil menunduk. "Aku mengamuk sejadi-jadinya hari itu!! Dengan kekuatan yang aku punya aku mengacau istana Poseidon. Banyak nyawa duyung dan ikan - ikan melayang. Poseidon murka dan tampak jelas ia hendak membunuhku.
Aku yang kalap mulai tersadar, dengan sisa kekuatanku itu aku berenang sekuat tenaga untuk menjauh, Poseidon mengejarku tak mau kalah. Namun karena usianya yang sudah uzur tenaganya tak sekuat ia waktu muda. Kejar- kejaran itu memakan waktu hingga berhari - hari. Semakin hari tenagaku semakin habis, hingga tiba saat dimana kakiku tertangkap olehnya, namun sungguh beruntung, sebagian badanku sudah berada di darat. Hades terlihat mulai muncul dari permukaan tanah dan menatap Poseidon dengan sinis", Aku terus bercerita dengan semangat. Shirloin tampak semakin antusias. “Biarkan aku yang menghukum anak ini! Dia sudah masuk ke wilayahku”, ujar hades pada poseidon. Poseidon tidak melunak mengingat sudah banyak waktu yang terbuang hanya untuk mengejarku. “Enak saja kau main ambil alih! Biar bagaimanapun dia bangsa laut! Dia takan sanggup bertahan di darat, dan itu berarti dia masih urusanku!”, Poseidon membantah setengah berteriak. Namun kenyataannya tidak demikian. Aku mampu bernafas, bukan, aku bahkan hidup tidak memerlukan udara untuk bernafas, jadi aku dapat hidup dimana saja. Menyadari hal tersebut Hades tanpa alih – alih mengambil pedang di pinggangnya untuk menebas Poseidon, namun Poseidon sudah siap bertempur sejak awal perjumpaan. Tebasan Hades mampu dipentalkannya dengan mudah. Tiba – tiba langit bergelegar dan munculah sesosok dewa lagi. Kini ke -3 bersaudara itu saling bertemu.
“Tak ada yang berhak menghukumnya!”, ujar zeus tegas dari langit. “Anak ini tak bersalah apapun! Munculnya anak ini jika kalian anggap dosa maka yang bersalah adalah anak – anak kalian!”, Zeus melanjutkan. Hades dan Poseidon masih saling tatap dengan tatapan ingin saling membunuh. “Lepaskan anak ini! Anak ini biar menjadi urusanku! Biarkan ia hidup dimanapun ia mau! Siapa yang mengganggu anak ini berarti menantang perang dengan langit”, ujar Zeus tegas kepada ke-2 saudaranya. Poseidon dan Hades hanya terdiam. Siapa yang menggangguku pastilah akan mati sebab akan berhadapan dengan 2 kerajaan dewa. Sejak saat itulah aku berpetualang, mencari senjata serta kekuatan – kekuatan hebat ke seluruh dunia, semua itu semata – mata agar aku suatu saat nanti dapat membalaskan dendam ayah dan ibuku pada Poseidon dan Hades. Mungkin terdengar konyol untuk mengalahkan dewa. Biar bagaimanapun aku akan tetap mengejar mimpiku meski aku mati karenanya.”Lalu bagaimana kau bertemu dengan para anak buahmu yang unik ini?”, tanya Shirloin menghentikan ceritaku. “3 malam aku bercerita pun tak akan cukup, mungkin aku akan menceritakannya ketika kita bertemu lagi lain waktu”, jawabku dengan santai dan tidak mengada – ngada.
“Baiklah, apakah sekarang giliranku untuk bercerita?”, tanya Shirloin menatapku. “Ya seperti yang telah kita janjikan”, jawabku. “Aku mendapat luka ini..” Shirloin mulai bercerita dengan menunjuk salah satu luka di wajahnya. “Bukan, aku sama sekali tidak tertarik dengan cerita kesaktianmu goblin tua”, sergahku. “Aku sudah cukup yakin kau sedemikian sakti dengan semua luka – luka itu”, lanjutku. “hahahah.. dasar tamu kurang ajar”, sirloin menjawab sambil terkekeh dan kemudian melanjutkan kata – katanya, “Jadi apa yang ingin kau dengar dariku?”. “Kisah hidup kaummu, bagaimana kau bisa tinggal di Goa seperti ini? Apakah peradaban di Negaramu memang seperti ini? Kau tidak mengenal baju? Tidak adakah manusia di negara ini?”, aku menyerbu dengn pertanyaan membabi buta, memang ini yang mengganggu pikiranku sejak siang tadi. “Baiklah, dengarkan baik – baik kisahku”, Shriloin mengubah raut wajahnya hingga terkesan serius.
Pulau kau berada kini, sebenarnya ini bukan pulau. Ini adalah sebuah daratan luas yang lebih cocok kau sebut dengan benua. Benua atau negara ini di sebut dengan Eremdia. Dahulu kami tinggal serta berharmonisasi dalam lingkup sosial yang baik dengan manusia pada wilayah Eremdia yang di sebut kota Fleon. Kami memiliki rumah yang layak dengan peradaban yang tentu saja tidak tertinggal dengan manusia. Teknologi yang kami miliki pun tak ada bedanya, jangankan baju, bahkan sepatu atau senapan anginpun kami miliki.
Entah apa yang terjadi malam itu, suatu malam saat bulan muncul dilangit dengan sangat terang dan bulat, aku mendengar suara aneh yang mengganggu tidurku. Suara itu benar – benar menakutkan, tubuhku rasanya seperti dikendalikan. Kau tahukan? Aku adalah Hangtulah, Kepala suku serta Goblin terbaik yang ada dalam suatu koloni. Tentu saja aku memiliki ajian rahasia sehingga dapat mementalkan sihir dari tubuhku. Ajian itu kubaca dalam hati, seketika itu juga aku terbangun dari tidurku. Aku benar – benar terkejut ketika ku dengar teriakan dari luar rumahku, teriakan para goblin, juga teriakan manusia yang sungguh menyayat hati.
Ku buka jendela kamarku perlahan hendak melihat apa yang terjadi. Aku tidak tahu apa dan bagaimana semua ini bisa terjadi, yang ku lihat di depan mataku adalah goblin yang mengamuk, mayat manusia, serta beberapa rumah terbakar. Cepat ku ambil pakaianku yang menggantung di dinding dan berlari keluar untuk menghentikan semuanya. Aku berteriak memanggil para goblin, namun malam ini sungguh aneh, tak satu pun dari mereka mau mendengar ucapanku. Mereka terus mengamuk menghancurkan apa yang ada dihadapannya. Aku lari ke jalanan, ku pukuli mereka! Ku ikat! Namun jumlahnya terlalu banyak. Kerusuhan itu terus berlangsung hingga membuat pasukan pemerintahan turun tangan, mereka membawa tombak dan pedang. Para goblin di tusuk, dibunuh di depan mataku. Aku tentu saja tidak bisa menerima semua itu walau aku tahu kalau mereka yang salah.
Aku berlari menuju pimpinan pasukan, memohon agar tidak terjadi pertumpahan darah, namun yang terjadi adalah aku di tikam dari belakang oleh salah seorang dari mereka. Aku tidak ingin melawan, sebab aku tahu itu hanya akan membuat nama goblin di mata manusia menjadi bertambah buruk. Akhirnya yang bisa ku lakukan hanyalah berlari meninggalkan kota. Para goblin yang mengamuk tadi pun akhirnya terdesak dan berlari meninggalkan kota.
Setelah berjarak cukup jauh dengan kota para goblin yang mengamuk tadi mendadak pingsan. Aku duduk saja terdiam menunggu mereka sadarkan diri. Anehnya saat ku tanya apa yang terjadi mereka hanya menggeleng tidak tahu apa – apa. Keesokan harinya aku dan beberapa goblin mencoba kembali ke kota untuk menjelaskan apa yang terjadi. Dengan susah payah bernegosiasi dengan penjaga gerbang akhirnya kami diizinkan masuk kembali k kota. Sialnya hal yang sama terjadi lagi. Aku mendengar suara – suara aneh hingga membuatku hampir tak sadarkan diri. Aku membaca ajian itu lagi dan semua kembali normal. Tidak bagi goblin yang lain. Mereka kembali mengamuk dan menghancurkan kota. Beruntung aku tak membaw banyak kawan sehingga mereka dapat ku atasi seoang diri. Aku mengeluarkan mereka kembali dari kota. Keesokan harinya ku dapati tulisan di gerbang bahwa dengan ini secara resmi pemerintahan kota Fleon melarang kami untuk tinggal di kota.
“Ya, beginilah nasib kami sekarang, tinggal di Goa – goa dan jauh dari peradaban”, ujar Shirloin Syahdu. Aku menunduk. “Sihir? Kekuatan apa sebenarnya yang dapat mengendalikan mereka?”, ujarku dalam hati. Yang aku tahu pasti , negara ini memiliki sesuatu yang menarik. Sebuah kekuatan besar, yang jika aku miliki mungkin aku bisa mengalahkan Poseidon dan Hades bajingan itu! “Ya, sialnya lagi kini seua orang menganggap kami jahat dan liar, bahkan beberapa dari mereka terkadang datang ke hutan untuk memburu kami”, lanjut Shirloin. “Tentu saja rakyatku melawan bukan? Mana ada makhluk yang mau dibunuh begitu saja? Bahkan semutpun menggigit bila digangu”, Shirloin berucap menyedihkan. “Ceritamu sungguh menarik boy”, ucapku sambil menepuk bahu kekar Shirloin. “Kau juga boy!”, ucap Shirloin nampak senang bisa menceritakan keluh kesahnya. “Kau tahu? ”, ucapku sambil menunjuk Urmolob yang sedang tertidur pulas. “Tadi sore dia memintaku untuk membuat kalian dapat kembali ke kota”, ucapku selanjutnya. “Yaaa.. apa mau dikata? Bukankah pemimpin yang baik harus mendengarkan rakyatnya?”, ujarku dengan gaya paling keren yang aku miliki. Shirloin hanya memandangku , mencoba menerka apa yang hendak aku lakukan. “Lebih baik malam ini kita tidur. Besok pagi aku dan seluruh awak kapal akan masuk ke kota Fleon untuk mengembalikan hak-mu. Berhasil atau tidak siapa yang tahu? Yang pasti aku sudah berusaha menuruti keinginan salah satu rakyatku.”, ucapku sambil sok tidak acuh agar nampak dramatis. “Kau... Trimakasih kawan, semoga kau berhasil”, ucap Shirloin nampak tak percaya dan kembali berharap. Aku menengadahkan badanku setelah mneguk air tebu yang tersisa di gelasku. Mata lelah ini ku pejamkan. Walau sudah terpejam, masih kurasakan Shirloin sedikit tersenyum seolah berkata dalam hati, “semoga kau beruntung sang pemimpi”, dengan nada benar – benar tidak yakin kalau rencanaku akan berhasil besok.
Spoiler:
 


 -Coming Soon-

2012-11-29, 15:25
PostRe: [StoryPlay] Eremidia : The Fragments
RolandMelvinZ 
Novice
Novice
avatar

Level 5
Posts : 294
Thanked : 3
Engine : RMXP
Skill : Beginner
Type : Composer

"Wahai para pemuja Nirvanne, ketahuilah di dalam kitab suci kita, The Tales, Dewi Nirvanne pernah mengajarkan bahwa hidup kita ini seperti sebuah ruangan besar yang gelap."

"Saat gelap, kita merasa hidup kita biasa" saja, semua nampak bersih dan baik, dan itu semua karena mata kita ditutupi oleh kegelapan!"

"Namun ketika ada satu nyala lilin kecil menyala d pojok ruangan, kita akan melihat tiga-empat kotoran ada di situ."
"Ketika kita memasang lilin yang lebih besar, kita dapat melihat lebih banyak kotoran dan sampah bertumpuk-tumpuk."
"Ketika kita memasang lampu yang cukup besar untuk menerangi seluruh ruangan. Barulah kita tahu bahwa ruangan itu penuh dengan kotoran dan sampah-sampah yang begitu banyak. Beribu-ribu, berjuta-juta. Dan kotoran" itu adalah dosa kita!"

"Wahai pemuja Nirvanne, kalau kita hidup semakin dekat dengan sang Nirvanna dan malah merasa hidup kita ini benar, berarti selama ini mata kita masih ditutupi oleh kegelapan!"

"Kita merasa benar karena membandingkan diri kita dengan manusia yang fana yang lebih berdosa dari kita. Seperti seorang pembohong membandingkan dirinya dengan seorang pembunuh dan pezinah, dan hal ini tentu salah!"

"Ketika kita hidup makin dekat kepada Nirvanna, sang terang yang kudus itu, seharusnya terangnya makin menerangi ruang hati kita, dan disana kita dapat melihat betapa berdosanya kita!"

"Semakin kita dekat kepada Nirvanna yang adalah terang dan kudus itu. Sudah sewajarnya kita merasa diri kita ini hitam legam dan penuh dosa."

Oleh karena itu kalian mendekatlah kepada-Nya! agar Dia sendiri mencelikkan mata kita terhadap semua dosa yang telah kita buat supaya kita bertobat dari dosa-dosa kita.


Itulah apa yang diajarkan oleh Elder Dorram di Tenda Suci "Revania". Sebagai seorang gadis kecil aku sangat kagum kepada Elder yang mengajar dengan penuh wibawa dan penuh ketegasan. Kualihkan pandanganku melihat-lihat orang-orang yang ada di dalam tenda yang cukup untuk menampung sekitar tujuh puluh orang itu. ada yang tatapannya kosong, ada yang berbisik-bisik sendiri sambil menatap sinis kepada Elder Dorram, ada yang menangis tersedu-sedu, dan ada yang hanya duduk tenang sambil memperhatikan Elder Dorram.

Kemudian tak lupa aku menoleh ke arah kakak laki-lakiku. Kulihat dia begitu serius memperhatikan ajaran Elder dan nampak setitik air mata yang mengalir keluar dari matanya.

"Kakak, kenapa kau menangis?" Tanyaku.

"Tidap apa.. Re.. aku hanya ingat kepada ayah.." balasnya.

Beberapa bulan yang lalu desa kami didatangi oleh kelompok yang bernama Occult of Shadowlord. Waktu itu, kami tinggal bertiga. Aku, kakak, dan Ayah. Semua pengikut ajaran Holy, yaitu Nirvanne, dibunuh, dan beberapa ditawan. Ketika tentara Shadowlord hendak mendobrak rumah kami. Ayah menyuruh kami berlari memperingatkan tenda suci melalui "jalan rahasia" sementara ayah mengambil pedangnya untuk menahan tentara Shadowlord.

Aku menangis sejadi-jadinya, tetapi kakak menarik tanganku dan menarikku masuk ke lorong kecil yang ada di balik lemari kayu. Setelah melalui jalan rahasia, kami keluar di hutan yang ada di luar desa dan segera berlari secepatnya menuju tenda suci.

Sesampainya kami di tempat tenda suci didirikan, kami melihat tenda suci sedang dibereskan dan diangkut, sepertinya sudah ada orang lain yang memperingatkan mereka tentang kedatangan tentara Shadowlord. Saat melihat kami, mereka segera mendekati kami dan mengangkut kami ke atas kereta, dan tanpa kami sadari rombongan kereta sudah berjalan dengan pengawalan beberapa pemuda desa.

Kami berdua hanya bisa menatap kosong ke arah desa kami, dan kami bisa melihat asap hitam mengepul ke atas dari arah desa kami. Aku menangis sejadi-jadinya, tetapi kakak berusaha menenangkanku, "Tenang Re, ayah pasti akan baik-baik saja. Ayah itu orang yang kuat. Tidak bisa dikalahkan dengan mudah."

"Bohong." Balasku, "Aku melihat sendiri ketika hendak masuk ke jalan rahasia, pedang ayah jatuh.. dan.. dan.." Tak kusadari air mataku keluar dengan deras. Sementara kakak yang kelihatan bingung akhirnya memutuskan untuk memelukku dan menenangkanku. Meski berusaha untuk kuat, tapi aku tahu kakak sebenarnya sama sedihnya dengan aku.

Begitulah, dan kemudian kami tinggal bersama rombongan Elder Dorram yang adalah pengurus dari tenda suci ini. Kami bergerak nomaden, mengumpulkan para pengikut ajaran suci Nirvanne yang ingin beribadah secara diam-diam. Karena di wilayah ini kekuasaan tentara Shadowlord sangat kuat, hingga tentara yang membela ajaran Nirvanne yaitu The Order of Holy, tidak sanggup menembus ke wilayah ini. Sehingga Elder Dorramlah yang dengan berani masuk ke wilayah ini untuk menguatkan hati umat-umat Nirvanne yang tertindas di daerah ini.

Tanpa tersadar aku melamun terlalu lama, hingga Elder sudah selesai berbicara. Kemudian seperti biasa kami menutup pertemuan kami dengan doa, supaya setiap jiwa yang tertindas di daerah ini boleh diberi kelepasan dari tangan para Occult dan juga agar setiap umat Nirvanne yang meninggal boleh menerima keselamatan.

Kami keluar dari tenda dan melihat beberapa orang segera berkemas untuk kembali ke desa mereka masing-masing. Lalu kami menentukan tempat berikutnya kami akan berhenti, supaya kami dapat berkumpul dan beribadah bersama lagi. Hanya dalam sekejap, suasana sekitar tenda menjadi sepi. Yang ada hanya Elder Dorram, kami, dan sekitar sepuluh orang pengurus tenda.

"Tunggu di sini Re, aku ingin berbicara dengan Elder."

Mendadak saja kakak mengucapkan hal itu padaku, dan aku hanya mengangguk tanda mengiyakannya. Kakak segera berlari mendekati Elder, dan kulihat mereka berbincang-bincang sejenak. Sementara menunggu mereka, aku hanya melihat-lihat sekitar. Kemudian aku termenung sejenak dan tenggelam dalam pikiranku sendiri. Ayah.. Re ingin bertemu Ayah..

bersambung~


Composer of:


Fans of an Indonesian RPG game:


Developer of:


StoryPlay:
Episode 1: http://www.rpgmakerid.com/t6405p10-storyplay-eremidia-the-legends-begin#100301
Episode 2: http://www.rpgmakerid.com/t6405p90-storyplay-eremidia-the-legends-begin#100644
PostRe: [StoryPlay] Eremidia : The Fragments
Sponsored content 




 

[StoryPlay] Eremidia : The Fragments

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Kembali Ke Atas 
Halaman 2 dari 2Pilih halaman : Previous  1, 2

Permissions in this forum:Anda tidak dapat menjawab topik
RPGMakerID :: Community Central :: Role Playing-