Mulai sekarang, forum RMID pindah ke situs ini. Posting sudah tidak bisa dilakukan lagi.
Mohon maaf atas ketidaknyamanannya dan mohon kerjasamanya.

Share | 
 

 [StoryPlay] Eremidia : The Legends begin

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Go down 
Pilih halaman : 1, 2, 3, 4, 5  Next
2012-07-09, 19:17
Post[StoryPlay] Eremidia : The Legends begin
#1
shikami 
Member 1000 Konsep


Level 5
Posts : 3744
Thanked : 31
Engine : Multi-Engine User
Skill : Beginner
Type : Developer
Awards:


StoryPlay adalah istilah baru untuk sebuah permainan cerita pendek dimana character akan mengembangkan plot dalam suatu setting dan memungkinkan bisa berinteraksi dengan character lain.
dalam storyplay,pemain hanya diberikan sebuah basic background cerita dimana mereka cukup mengembangkan cerita tersebut dengan gaya mereka sendiri. setiap tokoh buatan pemain dapat digodmodding sendiri selayaknya dalam sebuah cerita normal.

Tujuan :
Spoiler:
 
Rules :
Spoiler:
 

Background Story
Eremidia, . .
Negeri indah nan megah terletak di benua forumia. negeri dimana sihir dan ilmu pengetahuan berpadu. para penduduk luar berdatangan menuju ke tempat ini untuk berbagai macam tujuan. demi mimpi mereka, demi cita-cita ataupun demi tujuan yang lebih gelap seperti balas dendam dan ambisi.
namun banyak misteri menyelimuti negeri ini, seolah ada suatu rahasia gelap yang tersembunyi dan siap menghancurkan keharmonisannya.
para orang bijak meramalkan bahwa legenda-legenda baru akan lahir
untuk melindungi atau pun mungkin
menghancurkan dunia.
Peta Eremidia
http://www.nible.org/images/worldmapver2.jpg
< peta ini bersifat temporary, anda bisa menambahkan daerah sendiri di eremidia >

Important Fact
- setting Eremidia adalah antara abad feudal dan pre modern. sekitar 2200 C.Y
cek lebih lanjut di sini
- Eremidia membutuhkan banyak hunter karena kemunculan misterius para monster-monster asing.
- Ibukota Eremidia ini cukup luas terdiri dari 4 bagian kota. dikelilingi tembok raksasa.
ada 4 Quest Center di kota. Quest Center adalah tempat untuk mencari Quest bagi para Hunter.
- para bandit serigala padang pasir/Desert mengacau di wilayah selatan negara eremidia.
- Winhart family adalah keturunan keluarga penyihir yang cukup terkenal di pusat kota Eremidia.

fakta2 lainnya bisa dlihat disini
rmid.forumotion.net/t5706-eremidia-verse-central-database

Richter's stories
chapter 1
chapter 2
chapter3
chapter4
chapter5
chapter6
chapter7
chapter8
chapter9
chapter10
chapter11

Cokre's stories
chapter 1
chapter2
chapter3
chapter4
chapter5

Izn's stories
chapter 1
chapter 2

Clover's stories
chapter1
chapter 2

Signus's stories
chapter 1
chapter 2
chapter3
chapter4
chapter5
chapter6
chapter7
chapter8
chapter9

Roland's stories
Chapter 1[/END]

Nacht's stories
chapter1
chapter2
chapter3
chapter4
chapter5
chapter6
chapter7

mcpherson 's stories
chapter 1

lowling's stories
chapter1

Theo's stories
chapter1
chapter 2
chapter3
chapter4

EmperorAlan's stories
Chapter 1

nisa's stories
chapter 1
chapter 2
chapter3
chapter4

Whitehopper's stories
chapter1
chapter2

Aegis's stories
chapter1
chapter2

Radical Dreamer's stories
chapter 1

Lyonesse's stories
chapter 1

superkudit stories
chapter1
chapter 2
chapter3

yukitou's stories
chapter 1

echizen's stories
chapter1

aidil's stories
chapter1

kabutop's stories
chapter1
chapter2



this is no signature


Terakhir diubah oleh shikami tanggal 2012-07-13, 05:49, total 12 kali diubah
2012-07-09, 20:09
PostRe: [StoryPlay] Eremidia : The Legends begin
#2
shikami 
Member 1000 Konsep


Level 5
Posts : 3744
Thanked : 31
Engine : Multi-Engine User
Skill : Beginner
Type : Developer
Awards:


Episode I The Awakening

<Morning, 6 A.M>

sepercik sinar menerangi kamar. membentuk sebaris cahay di lantai.
suara ramai jalanan terdengar dari sini.
aku terbangun dan mengucek mata. ku terdiam sejenak untuk mengembalikan kesadaran.
"oh sudah pagi ya ?"
ku buka jendela kamar.
tampak lalu lalang memenuhi jalan.
di lantai dua penginapan, semua pemandangan ini terlihat cukup jelas.
matahari sedikit menyilaukan tapi itu tidak menghalangi pandanganku.

Eremidia,..
ku dengar negeri ini membutuhkan banyak tenaga para hunter,
kemunculan para monster yang tiba-tiba,membuat pemerintah negeri ini cukup kewalahan.
mereka menawarkan hadiah-hadiah besar untuk setiap monster yang ditaklukan.
namun tidak semua hunter mementingkan materi.
kebanggaan..
ambisi..
semua tidak bisa dinilai dengan materi apapun.

udara pagi terasa segar. aku membasuhi wajahku dengan air dan memandang cermin dalam kamar.
"yah, aku harus memperoleh pekerjaan kali ini.."

memang,kesempatan besar di eremidia menarik orang-orang untuk datang namun jumlah orang dan pekerjaan yang ada tidak sesuai sehingga banyak para hunter yang menganggur tak jelas dan akhirnya menjadi junker.
junker adalah pemungut buruan,mereka sering menyerang para hunter untuk mengambil buruan untuk menjualnya pada kerajaan.
ya katakanlah mereka adalah para "bandit" di kalangan para hunter.
mereka adalah golongan terendah para hunter.. aku tidak ingin menjadi seperti mereka.

aku mempersiapkan perbekalan dan peralatan yang sudah kubeli sejak 3 hari lalu.
hanya obat-obatan dan beberapa ration sebagai bekal makanan.

"sigh... uangku juga makin menipis. mungkin hanya cukup untuk 2-3 hari lagi.."
"hei,. selamat pagi!"
pemilik penginapan menyapaku dengan ramah saat aku menuruni tangga.
"pagi.."
"semoga hari ini kau bisa beruntung..."
"terima kasih.."
aku pun keluar dari tempat ini.
pemilik penginapan adalah seorang wanita separuh baya yang ramah. mukanya yang bulat mengimbangi bentuk tubuhnya yang besar. dia tidak hanya pemilik tapi juga koki tempat ini.

<Morning, 8 A.M>

ibukota eremidia ini cukup luas. dengan jalanan yang lebar dilalui bermacam-macam hal misalnya kuda ataupun orang-orang yang berlalu lalang.
bangunan yang tinggi menjulang berbaris di bagian pinggiran kota. tempat ini juga dikelilingi tembok-tembok besar yang kokoh.
aku merasa seperti kurcaci yang tersesat di negeri para raksasa.
sudah beberapa hari disini rasanya aku tidak bisa hilang kekagumannya.
namun aku harus segera bergegas menuju Quest Center.

Quest Center adalah tempat dimana para hunter mencari info tentang monster yang muncul di sekitar wilayah eremidia dan berapa harga untuk monster tersebut. jika para hunter berhasil mengalahkan para monster, mereka harus membawa benda penting dari monster tersebut sebagai bukti. monster-monster tersebut kadang berukuran besar sehingga mustahil membawa bangkainya.
bangunan itu cukup besar. ada 4 quest center di ibukota eremidia ini. yang aku datangi saat ini adalah Quest center bagian timur kota.

"selamat pagi.. ada yang bisa kami bantu?" sapa petugas center..
"saya ingin mengambil quest.." jawabku.
"baiklah, ada di hunter level berapa anda ?" tanyanya sekali lagi
"umm, level C ? "
"baiklah, silahkan berikan lisensi hunter anda.."
petugas itu meminta kartu lisensi hunterku. memang sudah aturan jika hunter harus memiliki level tertentu. C adalah level terbawah hunter. hal ini untuk mengatur agar hunter rendahan tidak boleh menghadapi monster yang sangat kuat.namun bayaran bagi hunter level tinggi pun sepadan.
setelah memeriksa lisensiku ia memberikan sebuah lembaran.
"hmm untuk level C,ada beberapa quest yang bisa anda ambil. seperti memburu bloobies, memburu para gawolf.. oh sepertinya hanya itu yang tersisa.."
"berapa hadiahnya.."
"keduanya sekitar 1000 Rmidollar"
harga yang cukup rendah, namun aku sangat membutuhkan uang saat ini.
" baiklah, saya ambil quest memburu gawolf"
"oh begitu, baiklah.. jadi nama anda..?"
"Luc ... Luc Fallbringer" jawabku.
"baiklah tuan Luc, serahkan formulir ini pada petugas di gerbang timur untuk mengkonfirmasinya.. nanti dia akan memberi tahu letak dimana anda bisa menemukan buruan anda."
"terima kasih.."

aku memegang pedang di tangan kiriku erat. perburuan pertamaku ini harus berhasil.
demi menjadi seorang hunter sejati seperti dia, aku harus memulai semuanya sekarang.
dengan mantap,aku melangkahkan kaki menuju ke gerbang timur.

to be continued..





this is no signature


Terakhir diubah oleh shikami tanggal 2012-07-14, 08:14, total 3 kali diubah
2012-07-09, 20:54
PostRe: [StoryPlay] Eremidia : The Legends begin
#3
fly-man 
Poison Elemental
Anak Cantik
avatar

Level 5
Posts : 917
Thanked : 11
Engine : RMVX
Skill : Beginner
Type : Artist
Awards:

Aku itu memakan daging ayam terakhir yang ada dimeja,..

Jangan makan terus!! Pergilah berburu, persediaan makanan kita hampir habis!!!
Aku melangkah dengan malas menuju pintu depan rumah. Pintu? baiklah, aku berbohong. Sebenarnya ini hanya mulut goa biasa seperti goa kebanyakan, ku tutupi beberapa helai daun pisang agar terlihat seperti pintu rumah, walau apa pun yang kulakukan orang - orang tersebut hanya akan menyebut Goa ini sebagai kandang atau sangkar.

Kulanjutkan langkahku masih dengan malasnya, namun kali ini berbelok sedikit. Ku ambil gada yang menggantung di dinding Goa, satu - satunya senjata berburu yang kupunya.

"Jangan lupa ambil topengmu!!!"
Suara wanita tua itu... AAAAaaarrghhh.. kau tahu? aku sudah remaja, umurku sekarang 130 tahun!! Namun dia tetap memperlakukanku seperti anak kecil.

"Baiiik buuuu" , jawabku seadanya.
Aku takan lupa hal yang satu ini. Topeng. Ini adalah benda yang wajib dipakai oleh bangsaku , aku tahu ini tidak akan membuat mereka berfikir kalau aku adalah bagian dari mereka, tapi aku percaya. Di hutan belantara yang penuh dengan pepohonan rindang serta pencahayaan yang kurang hal ini cukup mengecoh.

ah ,... aku lupa memberitahumu suatu hal penting. Berburu makanan bagi kami ini adalah pertarungan Hidup mati, aku adalah salah satu dari bangsaku yang terkuat, walau tubuhku pendek dan kakiku kecil, aku dapat berlari dengan cepat. Pukulanku juga cukup kuat. kalau kalian datang ke kamarku akan aku pamerkan dengan bangga beberapa kepala tengkorak kepala para Hunter bajingan yang telah mencoba membunuhku.

Dia mendekatiku dengan perlahan, umurnya yang tua sudah merampas keperkasaannya, "Kembalilah dengan selamat anakku" ujarnya.
"Baik ibu, saya Sirloin ... Atas nama bangsa Goblin berjanji, TIDAK AKAN MATI DI PEDANG MANUSIA BAJINGAN PERUSAK ALAM EREMDIA.."
"Do'akan aku ibu" lanjutku sambil mulai melangkahkan kaki semakin jauh dari Goa..


 -Coming Soon-



Terakhir diubah oleh Cokre tanggal 2012-07-09, 20:58, total 2 kali diubah
2012-07-09, 20:56
PostRe: [StoryPlay] Eremidia : The Legends begin
#4
richter_h 
Salto Master
Hancip RMID
avatar

Kosong
Posts : 1705
Thanked : 30
Engine : Other
Skill : Skilled
Type : Developer
Awards:

The Tale of Vent McGraves
Chapter I


Matahari sudah naik. Orang-orang sudah memulai aktivitas mereka. Tapi untuk orang satu ini, jam segini masih terlalu pagi untuk bangun dan bergegas melanjutkan perjalanannya. Di sudut ibukota, di sebuah bar, dia masih tertidur di mejanya, dimana dia menghabiskan malamnya dengan banyak minum. Mungkin lima atau enam botol dia habiskan malam tadi, tapi ternyata begitu banyak botol kosong di depannya. Dia terlalu banyak minum tadi malam.

"Oi!" Seorang bartender bar itu membangunkannya. "Ini sudah siang! Lekas bangun dan berangkat!"

Ogah-ogahan dia bangun, lalu berdiri dan membawa bawaannya di kolong meja. Dengan wajah yang masih kusam dan terlihat masih mabuk, dia lantas berjalan sempoyongan keluar bar. Namun,

"Oi, oi! Kamu belum bayar semua yang sudah kamu minum!"

Dia menoleh ke bartender itu. Lalu dia merogoh sakunya dan mengeluarkan beberapa picis uang. Untung saja dia masih punya cukup uang untuk membayar semua minuman yang dia sudah minum tadi malam. Kembali dia menuju ke pintu keluar, dan begitu dia membuka pintu...

"WASEEEEEMMMM!!" Dia berteriak keras saat dia sadar dia bangun terlalu siang, "SILAU BANGET DI LUAAAR!!!"

--

Dia berjalan-jalan di jalanan ibukota. Semua orang melihatnya, ada yang heran, ada yang terpaku saat dia lewat, dan kebanyakan mengacuhkan dia yang terlihat masih mabuk. Kota Eremidia ini, baginya, adalah kota yang begitu asing. Tidak seperti di tempat asalnya, dimana begitu banyak pepohonan dan dataran tinggi masih terlihat jelas. Kota ini begitu banyak bangunan tinggi, dan tembok tinggi. Begitu banyak orang berlalu lalang, banyak juga kereta kuda yang melintas. Walau masih pagi tapi kota ini sudah rame, menurutnya sambil jalan sempoyongan.

Lantas dia duduk di sebuah kursi di pinggiran, dekat dengan tembok kota. Tempat itu teduh, dan dia berniat untuk tiduran sebentar sambil melihat-lihat sekitar. Dia merogoh sebuah botol yang tergantung pada ikat pinggangnya, dan minum beberapa tetes sisa minuman yang dia bawa jauh-jauh dari Westmidland, kota asalnya. Tidak sadar dia duduk di sebelah lelaki tua renta, yang juga duduk setelah berjalan beberapa langkah dari rumahnya.

"Kau baru disini, ya?" Lelaki tua itu menyapanya dengan ramah. Dia hanya heran dengan sikap lelaki itu.

"Memang kota ini selalu ramai. Bahkan sampai larut malampun banyak yang belum masuk ke rumahnya dan tidur. Beginilah keadaan ibukota Eremidia ini. Tapi, sebenarnya siapa dirimu ini? Pengelanakah?"

Dia diam sebentar, lalu bersandar di kursi itu. Dengan nada yang ramah dan rada parau, dia berkata, "Ane hanya kebetulan lewat kota ini. Ane udah lewatin banyak tempat, ane udah berkelana jauh, tapi selama ada bar, ane selalu merasa ada di rumah."

"Aneh juga, ada anak muda sepertimu sudah punya kebiasaan mabuk berat seperti itu." Orang tua itu makin penasaran dengan pemuda yang dia ajak bicara. "Kalau boleh tahu, siapa namamu?"

"Ane punya banyak sebutan. Beberapa orang manggil ane 'Si Bayangan di Siang Hari', orang-orang di bar manggil ane 'Si Penari Mabuk', tapi panggil ane Vent. Vent McGraves."

OOT: Dialek Vent memang rada berbeda dengan orang-orang di kota, bahkan di tempat asalnya dialek dia unik dan hanya dia sendiri yang bicara dengan logat itu. Tapi walau dialeknya unik, kebanyakan orang bisa mengerti apa yang dia katakan.

"Sebenarnya, ane sedang cari beberapa bahan untuk bikin minuman paling eksotis. Beberapa minuman yang ane bikin semuanya belum ada yang yahut. Selalu kurang bahan. Bisa dibilang, ane adalah peramu minuman yang orang-orang Westerland sebut 'Brewmaster,' gelar yang tidak semua orang bisa dapatkan dengan gampangnya, ilmu yang tidak ada di sekolah manapun. Kakek mungkin mau mencoba racikan ane yang terbaik..."

"Terima kasih, anak muda." Lelaki tua itu menerima sebuah botol kecil berisi minuman hasil racikan Vent. Baru beberapa teguk, lelaki tua itu langsung batuk-batuk, tidak lama kemudian dia tertawa.

"Itu ane bikin dari akar Pokis, akar yang cuma ada di Westerland." Vent menjawab pertanyaan lelaki tua yang sudah merasakan seteguk minuman yang belum pernah dia rasakan. "Selain itu, ane juga punya racikan ReClover, jamur-jamuran, akar, dan yang paling ane suka, racikan dari rumput Shimmerweed. Rasanya itu loh, manis di mulut hangat di tenggorokan..."

Hanya beberapa saat lelaki itu bersama dengan Vent, lelaki itu langsung akrab dengannya. Memang, dengan minuman ikatan persaudaraan bisa terjalin erat. Dengan minuman pula karakter asli orang-orang bisa keluar, kebahagiaan muncul, cerita-cerita terus diceritakan dari mulut ke mulut, dan tersimpan dalam kehangatan sebuah persaudaraan. Itulah yang sering dikatakan Vent, dan itulah tujuan keberadaan dari seorang Brewmaster.

Terlalu pagi untuk mabuk, lelaki tua itu tidak berniat minum lagi. Dia meminta minuman yang dia terima dari Vent, dan Vent menghadiahkannya. Rasanya begitu hangat jika bisa berbagi minuman ke orang-orang...

Klik to Chapter II


| My spriteworks | deviantArt | Mark's Quest | Eremidia: Dungeon! |
Developer of:



Supporter of:


Selp-Proclaimed The Most Handsome Member of the Long Lost Glorious


Disini kalo sebagai nubi mau dikritik yang bagus2 biasanya harus ngaku cewek dulu, karena you know lah... -- Brosef numfanklewhat


Terakhir diubah oleh richter_h tanggal 2012-07-09, 23:45, total 2 kali diubah
2012-07-09, 21:39
PostRe: [StoryPlay] Eremidia : The Legends begin
#5
izn_lawliet 
Advance
Advance


Kosong
Posts : 434
Thanked : 5
Engine : RMVX
Skill : Beginner
Type : Event Designer

Legend of Aeryn
Chapter 1



Musim panas, entah tahun berapa ini, aku sudah tidak bisa menghitung berapa tahun sejak aku dikirim untuk bertugas di padang pasir ini. Sebagai salah satu jendral kerajaan Erimidia, aku wajib mengerjakan tugas yang diberikan oleh kerajaan kepadaku. Pasukanku dan aku dikirim untuk membasmi para perusuh yang bermukim di padang pasir ini. Mereka sudah menyebar terror selama bertahun-tahun lamanya sebelum kerajaan memutuskan untuk turun tangan. Dan disinilah aku dan pasukanku, menghadapi terror para bandit yang menyebut diri mereka Serigala Padang Pasir.

Para Serigala Padang Pasir ini tidak hanya menggunakan pedang mereka saja, tetapi mereka juga menggunakan sihir pemanggilan atau summoning. Kami seringkali harus bertarung melawan Cacing Raksasa atau bahkan Griffin. Tidak jarang juga para Serigala Padang Pasir itu turun tangan sendiri melakukan perlawanan terhadap kami. Karena mereka, pasukan kami yang awalnya berjumlah 1000 orang berkurang drastis menjadi 500. Dan aku tidak tahu berapa lama lagi sampai mereka bisa menghabisi kami semua.
Meskipun aku bisa optimis menyelesaikan tugas ini, tetapi mungkin pasukanku tidak. Melihat rekan-rekan mereka dibantai oleh para Serigala Padang Pasir tersebut pastilah membuat mental mereka turun. Tiba-tiba salah seorang prajurit menghampiriku,

“Jendral Silverlance, prajurit pengintai menemukan tempat yang cocok untuk berkemah mala mini. Dan kami harap bisa dipakai untuk beberapa hari kedepan.”

Prajurit tersebut masih muda, aku jadi merasa bersalah karena masa depannya tentulah masih panjang jika ia tidak ikut dalam misi ini.

Aku mengikuti prajurit itu berjalan sampai ke pos pengintaian. Disana ia menunjukkanku sebuah batu besar, batu itu besar dan datar, luasnya cukup untuk menampung satu desa diatasnya. Sedangkan tingginya ku taksir sekitar lima meter.

“Segera kirim tiga orang untuk memeriksa batu itu, jika bisa dipakaiuntuk berkemah, malam ini kita mendirikan tenda disana” kataku kepada salah seorang prajurit pengintai yang langsung mengajak dua orang temannya untuk mengambil kuda.

Mereka tidak butuh waktu lama untuk kembali. Setelah menerima laporan mereka, aku memerintahkan semua pasukanku untuk berpindah ke batu tersebut. Di balik batu tersebut terdapat daerah landai yang bisa dilalui kuda-kuda kami berbentuk hampir seperti jalan. Segera setelah semua pasukan kami berada di atas batu tersebut, kami mengatur pertahanan. Para pemanah disebar disekeliling tepi batu tersebut, kuda-kuda kami letakkan ditengah, bersama dengan bahan makanan kami. Sedangkan kemah prajurit kami atur melingkar, melindungi bahan makanan dan kuda-kuda. Mengatur 500 orang tidaklah mudah, apalagi ketika berada di tengah situasi dan tempat yang tidak bisa diprediksi.

Malam ini relatif dingin dibandingkan malam-malam sebelumnya. Tetapi kami masih takut untuk menyalakan api unggun, karene beberapa minggu yang lalu, kami menyalakan api unggun, dan dalam hitungan menit, kemah kami porak-poranda dihancurkan oleh para Serigala Padang Pasir. Sejak saat itu, kami tidak pernah menyalakan api unggun kembali.

Akhirnya aku berpikir, apakah masih ada kesempatan untukku kembali ke kehidupanku sebelumnya,kehidupan yang damai, menjadi instruktur para prajurit baru yang mendaftar di kerajaan. Tanpa terasa, aku tertidur pulas.

***
Sebuah suara besi berdentang membangunkanku. Kepalaku rasanya seperti terhantam perisai, sakit sekali. Kemudian aku melihat sekeliling, di jalan masuk yang kami lewati tadi, terdapat mayat seorang prajurit. Diatasnya, seseorang sedang mencabut pedangnya yang menusuk melewati jantung prajurit sial tersebut. Serigala Padang Pasir! Aku yakin orang ini hanyalah pembukaan saja, seorang pengintai. Dengan panik karena kepala sakit, aku mencari pedang dan perisai sambil menendang tubuh prajurit yang kulewati. Mereka yang terbangun karena tendanganku kuminta membangunkan prajurit lainnya.

Sementara pengintai Serigala Padang Pasir tadi masih sibuk mencabut pedangnya, aku mengambil belati dari kantongku. Kulemparkan belati tersebut menuju kearah Serigala Padang Pasir itu. Belati itu melesat dan dalam hitungan detik, menancap di antara kedua matanya yang kaget melihatku. Bersamaan dengan jatuhnya dia, orang itu masih sempat mengeluarkan lengkingan yang tidak manusiawi.

“Bersiaplah, orang itu memanggil bala bantuan.” Kataku kepada prajurit yang berada disekitarku. “Persiapkan para pemanah, lindungi bahan makanan, jangan takut terhadap apa yang akan mereka keluarkan!” teriakku mencoba membangun semangat para prajurit.

Kami menunggu dalam diam. Tiba-tiba batu yang kami pijak tersebut bergetar hebat. Belum sempat kami memantapkan pijakan, dari tengah-tengah batu tersebut muncul lima ekor serigala berbulu lebat yang besarnya tidak lazim. Besar satu serigala tersebut hampir sama dengan seekor kuda kami. Anak panah segera menghujani kumpulan serigala itu. Tetapi sebelum anak panah tersebut sampai dikepala mereka, mereka menghilang.

Lolongan-lolongan kesakitan segera membuatku menoleh, kelima serigala tersebut sudah menyebar ke segala penjuru perkemahan. Membantai prajurit yang cukup bodoh untuk mendekati mereka. Seekor serigala berada tidak jauh dariku, disibukkan oleh prajurit-prajurit yang menusuknya dengan tombak. Tentu saja tombak tersebut tak dapat bertahan lama karena terbuat dari kayu. Tetapi tombak itu dapat membuat luka yang cukup dalam jika sang penusuk beruntung. Aku berlari sambil mengeluarkan pedangku dari sarungnya.

Pedang yang ditempa khusus untuk ayahku, terbuat dari batu luar angkasa, dinamakan Aeryn dari nama batu tersebut. Pedang panjang yang harus digenggam dengan dua tangan ini memiliki panjang yang lebih panjang dari pedang panjang biasa. Dengan mengandalkan panjang pedang ini aku menebas serigala itu.

Gerakanku kurang cepat! Aku hanya dapat menebas ekornya saja karena ia sudah melompat tinggi di udara. Dan dengan tiba-tiba dia mendarat di atasku, membuatku menjatuhkan diri ke tanah. Aku menendang perutnya, cukup kuat untuk mengambil pedangku yang terlempar disamping kakinya. Tetapi tubuh serigala tersebut mendadak jatuh, menimpa badanku. Dengan kedua kakiku aku menyingkirkan tubuh tersebut. Tubuh yang sudah tidak bernyawa, di punggungnya tertancap dua tombak. Salah satunya menembus dada serigala itu.

Aku melihat penyelamatku, prajurit muda yang tadi melapor kepadaku. Aku mengangguk kepadanya dan berlari menghampiri serigala lain di sisi kiri perkemahan. Tetapi sebelum aku sampai di serigala tersebut, sebuah ledakan melemparkanku jauh ke sisi lain dari perkemahan.

Dengan menggunakan pedang sebagai tumpuanku berdiri aku mencari sumber ledakan tadi. Tepat di tengah-tengah perkemahan terdapat sesosok manusia. Sosok tersebut berbeda dengan manusia umumnya. Kepalanya serigala, tetapi dari dada sampai pinggul adalah bagian tubuh manusia, sedangkan dari pinggul kebawah adalah kaki serigala beserta ekornya. Sosok tersebut membawa sebuah tongkat.

Dan astaga, ia melihat kearahku. Badanku masih gemetar dan lemas akibat ledakan tadi. Waktu seakan berhenti saat ia berjalan ke arahku. Dia berhenti tepat didepanku, mengacungkan tongkatnya. Mulut serigalanya terbuka, mengeluarkan suara geraman. Aku menangkap beberapa kata darinya,

“Kau………… Silverlance…….. Aeryn…………… Kaum kami…………….”

Setelah itu sebuah cahaya terang keluar dari ujung tongkatnya yang diacungkan kearahku, membuatku pingsan.

To be continued..



~Jadikan kegagalan sebagai awal kesuksesan~

Anda asik, saya santai
Anda rusuh, saya bantai


~>izn_lawliet is here<~


Terakhir diubah oleh izn_lawliet tanggal 2012-07-09, 22:10, total 1 kali diubah
2012-07-09, 22:06
PostRe: [StoryPlay] Eremidia : The Legends begin
#6
aidilriski 
Senior
Senior
avatar

Level 5
Posts : 643
Thanked : 2
Engine : Multi-Engine User
Type : Mapper

Arth, The World’s Savior
Chapter I

“Hmm… Pagi yang indah…” Itulah yang sering dikatakan oleh orang yang memiliki semangat untuk memulai hari yang baru. Dan itulah yang dikatakan oleh orang ini, Arth Windslayer, ya, itulah nama orang itu. “Aku harus bisa menaklukan hari ini!” Katanya sambil bersiap-siap. “Ya, memang susah untuk bertahan hidup di kota sebesar ini, tapi aku harus tetap berusaha!” Itulah yang ada di pikirannya. Ya, Kota Eremidia ialah kota yang sangat besar, dimana banyak orang yang tidak tahan untuk tetap tinggal disini. Tapi, Arth memiliki tekad yang kuat, untuk tetap tinggal disini.


Setelah ia selesai bersiap-siap, ia pun pergi ke kota untuk mencari hikmah, dari apa yang sudah ia lalui selama ini. Arth pun pergi ke terminal bus dekat kos-nya. “Hei nak!!!” teriak seseorang di terminal bus. “Eh, aku???” Tanya Arth padanya. “Iya, sini kamu nak!!!” seru orang itu. Arth pun langsung mendekatinya. “Ada apa ya pak?” Tanya Arth pada orang itu. “Nak, kamu memiliki takdir yang sangat besar… Aku bisa melihatnya dari wajahmu.” Jelas orang itu pada Arth. Arth pun bingung, tapi tetap mendengarkan apa yang dikatakan oleh orang itu. “Nak, dunia ini sedang dalam bahaya, aku bisa merasakannya…”


“Maksud bapak apa? Saya masih tidak mengerti…” Arth pun semakin ingin tahu. “Takdirmu sangat berat, beban dunia ada padamu, dan hanya kamulah yang bisa menyelamatkan dunia.” Arth pun menoleh sebentar, tapi ketika ia ingin bertanya… Ternyata pria tersebut telah hilang bak debu disapu angin.


Bus yang ingin dinaiki Arth pun datang. “Mas, Emm… Apa ini bus yang mau ke arah Selatan?” Tanya Arth. “Eh, iya, kamu ini kenapa?” Kenek bus itu langsung menariknya masuk, dan langsung pergi tanpa penumpang lain. “Mas?!? Saya mau dibawa kemana!?!?”
“Kamu Arth kan?” Arth pun langsung mengangguk. “Tuan Reasts ingin berbicara padamu.” “Eh, siapa kau?!? Siapa Reasts?!?” Arth masih berusaha keluar dari bus itu.


“Sudahlah, kau duduk yang manis, biar aku bisa cepat menyetir dan member tahumu…”Sambut Supir bus tersebut. “Hei kau!?! Jangan terlalu banyak bicara!?! Nanti…” Arth pun teringat pada kata-kata orang yang ditemuinya di terminal. Setelah beberapa menit, sampailah mereka di sebuah Rumah yang sangat besar tapi terpencil di persawahan. To be continued…

CERITA INI DILUAR KONTEKS DARI SETTING ASLI DAN GODMODDING SATU UNIVERSE.
ANGGAP SAJA INI ALTERNATIVE UNIVERSE VERSI YANG BERSANGKUTAN





Visit my Project :D

Tamu klik ya...


"Lari!?!?!" :zombie: "Woi Tamu, mau lari ke mana lu!?!?!" :zombie:

Tamu
:stupid:

Tamu awas kamu ya :twisted:
2012-07-09, 22:13
PostRe: [StoryPlay] Eremidia : The Legends begin
#7
Cloverfield 
Novice
Novice
avatar

Level 5
Posts : 254
Thanked : 27
Engine : RMVX Ace
Skill : Beginner
Type : Artist

Episode I Night Wind

<Afternoon, 4 P.M>

Sore yang damai di Eremidia, sebuh negeri indah yang banyak penduduknya. Aku tinggal di rumah keluargaku di ibukota negeri Eremidia yang cukup ramai.
Ketika itu aku sedang berada di dapur.
*tuk tuk tuk bugh!*
*tuk tuk tuk sret*
"Aw!! ow... ck"
Tanganku terluka lagi... oleh pisau dapur ini.
"Sakit..."
Aku terdiam sejenak meredam rasa perih pada jariku.
"Tapi aku tidak boleh berhenti! Bill akan pulang sore ini dari perburuannya, sebagai kekasih yang baik, tentu saja aku harus memasak sesuatu yang spesial~"
"ha... ahahaha~"
Aku malu sendiri mendengar perkataanku, sebenarnya aku bukan kekasihnya, Aku dan Bill lumayan dekat, itu hanya sekedar kata-kata penyemangat diri.
Ya, aku berkata seperti itu karena aku menyukainya.
"Aduh makin perih sebaiknya aku obati dulu..."
Aku pun mengobati lukaku, dan setelah itu aku meneruskan untuk memasak.
"Semoga Bill senang dengan masakannku ini, aku kan sudah banyak berlatih, fufufu"

<Evening, 7 P.M>

Aku duduk di depan meja makan, masakanku tadi sudah tertata rapi di meja itu.
Keluargaku, Ayah, Ibu dan Adik perempuanku juga sudah duduk di sini, berwajah agak kesal dan menahan lapar, ya... kami sedang menunggu Bill, hingga jam segini.
"Jadi... kapan Bill akan datang?"
Tanya ayah dengan sedikit marah.
"M-mungkin sebentar lagi Ayah"
Adikku pun ikut kesal.
"Kakak, aku sudah lapar sekali! aku makan duluan ya?"
"Emm..."
Aku melirik pada Ibu, beliau hanya diam, tapi aku tahu Ibu juga sudah lapar.
Aku jadi panik.
"Kalian makan saja duluan, mungkin Bill baru akan menuju kesini siapa tahu dia baru pulang dari perburuan"
Aku bergegas ke kamar untuk mengambil Jaketku.
Aneh sekali, padahal Bill sebelum pergi sudah kuberitahu untuk mampir ke rumah untuk makan malam, padahal perburuan yang sebelumnya dan sebelumnya lagi, dia datang tepat waktu...
Ketika aku keluar kamar dengan mengenakan jaketku, keluargaku sudah mulai makan malam.
"Nina"
Panggil ketika aku baru saja keluar dari kamar.
"Iya ayah?"
"Jangan terlalu dekat dengan lelaki itu, apa kau tidak bisa mendengarkan kata-kata ayah?"
Ini lagi... sebelumnya Ayah juga sudah berkata seperti ini pada makan malam kedua dengan Bill.
Aku hanya bisa diam, aku rasa Bill orang yang baik... aku lebih banyak bersama dirinya daripada dengan ayah.
"Dia itu asal usulnya tidak jelas"
Kata Ayah lagi.
Aku yang sedikit tersinggung Bill dikatai seperti itupun membalas.
"Dia seorang hunter ayah, dia yatim piatu"
Tidak mau melanjutkannya akupun segera pergi untuk memeriksa dimana Bill berada.
"Nina Winhart! kau itu anak gadis dari keluarga Winhart, mau-maunya kamu bersikap seperti ini untuk seorang lelaki tidak jelas seperti dia!"
Seru ayah, langkahkupun terhenti...
"Tidak ada hubungannya dengan status ayah... Aku pergi sebentar..."
"Kakak..."
Adikku Mimi sedikit terlihat ketakutan.
Akupun langsung pergi keluar, tanpa melihat ke wajah Ayah.
Ya kami dari keluarga Winhart, yang memiliki marga Winhart hampir semuanya adalah penyihir terpelajar yang dipandang baik, termasuk Ayah dan Ibu. Pendidikan sihir yang baik itu mahal, bisa dibilang keluarga kami cukup berada.
"Kenapa Ayah berkata seperti itu tentang Bill, dan soal status..."
Aku kesal hingga langkahku menjadi cepat, pertama-tama aku mau mengecek ke tempat Bill sering mampir, yaitu bar, kebetulan itu lebih dekat dari rumahku.
Aku mengambil jalan pintas lewat gang kecil, agak gelap tapi bisa lebih cepat sampai, aku tidak mau juga membuat Ayah dan Ibu semakin marah jika aku pulang terlambat.
Langkahku masih cepat, tiba-tiba...
*BRUGH!*
"WAH?!"
Aku terkejut, ada sosok hitam berjubah yang jatuh dari atas di gang sesempit ini, sepertinya dia jatuh dengan perhitungan.
"..."
Sosok itu memakai pakaian serba hitam, dia juga mengenakan topi hitam yang hampir menutupi wajahnya.
Dia mulai mendekat padaku, akupun ketakutan dan siap-siap mengambil langkah berbalik...
Namun dia dalam sekejap...
"Titip ini ya nona..."
"Hah..."
Dia sudah berada sangat dekat denganku dan memberikan sebuah benda, segera setelah dia berkata seperti dia langsung menghilang, yang tersisa hanya hembusan angin dingin di pipiku.
"..."
Aku hanya bisa bengong, sedikit ketakutan, aku membuang benda itu di gang itu dan segera berlari ke Bar.
"Apa orang itu penyihir... hii tidak ada hubungannya denganku! mencurigakan!"
Aku sudah berada di depan Bar, dan aku membuka pintu masuk.
Ramai sekali sepertinya, tapi mataku sedang dalam fokus mencari sosok Bill.
"Bill... mana ya..."
Ketemu.
"...Bill?"
Aku melihat Bill bersama banyak orang sedang minum-minum dan tertawa, di meja itu ada sekantung harta...
Akupun tersenyum dan menghampirinya...

To be Continued...


Terakhir diubah oleh Cloverfield tanggal 2012-07-09, 22:48, total 3 kali diubah
2012-07-09, 22:31
PostRe: [StoryPlay] Eremidia : The Legends begin
#8
shikami 
Member 1000 Konsep


Level 5
Posts : 3744
Thanked : 31
Engine : Multi-Engine User
Skill : Beginner
Type : Developer
Awards:


OOT info :
jika ada poin2 penting yang ingin dimasukan sebagai setting misal nama ras,tempat,penjelasan tentang job dan laennya mohon digaris bawahi. thanks

@aidil ~ cerita anda diluar konteks jadi saya anggap anda bukan bagian dari cerita. :)


this is no signature
2012-07-09, 22:53
PostRe: [StoryPlay] Eremidia : The Legends begin
#9
LowlingLife 
Administrator
Administrator
avatar

Kosong
Posts : 2000
Thanked : 25
Engine : Multi-Engine User
Awards:

:lol: BTW, ide-ide di thread ini boleh dipakai di game kan? :- Soalnya seru nih jadi tahu OC-OCnya karakterisasinya gimana...


There is nothing perfect in this world. So why do you pursue perfection?
~ LowlingLife

Join Ngacay Club!

Cause Ngacay can bring inspiration & makes you healthy!
2012-07-09, 22:53
PostRe: [StoryPlay] Eremidia : The Legends begin
Signus Sanctus 
Newbie
Newbie
avatar

Level 5
Posts : 69
Thanked : 3
Engine : RMVX Ace
Skill : Beginner
Type : Developer
Awards:
Chapter I : Lost Memoir

Cahaya mulai kembali kepada pandanganku, dan aku melihat sebuah lentera menyala terang berada disampingku, beserta dengan baju2 yang terlihat sedang dikeringkan karena basah, namun aku belum tahu baju siapakah yang bersangkutan, atau yang lebih pasti, aku tidak tahu kenapa aku berada di sini.

Aku mencoba memasang posisi duduk, namun tubuhku terasa sedikit berat, dan aku menyadari bahwa aku sama sekali tidak mengenakan pakaianku, dan diliat dari postur badanku, sesuai dengan baju yang sedang dikeringkan itu. Tak sempat aku mempertanyakan kenapa aku tidak memakai pakaian, kenapa aku tertidur di sini, kenapa aku berada disini, karena yang keluar dari mulutku yang pertama adalah....

"Siapa aku....?"



Aku tidak bisa mengingat apapun, namaku, bentuk tubuhku, maupun apa yang ingin kulakukan. Aku memegangi kepalaku, berusaha mengingat semua yang terjadi, namun kepalaku sakit, seperti terbakar api neraka yang sangat panas.

Saat aku masih merintih kesakitan dengan kondisiku, seseorang datang dibalik pintu kayu yang halus dan mulus itu, seorang wanita muda berkulit putih mulus berparas manis mendekatiku, dan bertanya kepadaku...

"Kamu sudah sadar? Kondisimu saat terdampar dipantai sungguh buruk sekali...."

"Terdampar...? Aku...?"

Aku terbingung dengan ucapannya.

"Kamu tidak ingat? Kamu terdampar di pantai sekitar sini dengan luka dalam yang cukup mengerikan, aku sampai ngeri kalau kamu akan mati karenanya..."

Sambil malu - malu, wanita itu semakin mendekatiku

"Namun ajaibnya... lukamu menutup dengan sendirinya, dan dalam waktu yang cukup pendek... aku tidak perlu lagi memanggilkan dokter untukmu..."

Banyak hal yang ingin kutanyakan pada wanita ini, namun satu - satunya hal yang ingin kutanyakan pertama kali adalah....

"Siapa... aku...?"

"Eh?"

"Aku... Siapa...?"

"Kamu... Amnesia?"

"Amnesia?"

"Itu adalah suatu gejala dimana seseorang kehilangan ingatannya sementara, tapi aku yakin suatu saat ingatanmu akan kembali, untuk sekarang, kamu istirahatlah di sini..."

"Begitu...."

"Bagaimana... untuk sekarang kamu kuberi nama sementara?"

"Nama... sementara...?"

"Ya, aku ini sebenarnya pecinta burung - burung, dan aku memelihara banyak burung legendaris di sini, mulai dari Pigeon sampai Garuda"

"Dan...?"

"Untuk sekarang, bagaimana jika aku memanggilmu.... Suzaku?"

DEG

Mendadak jantung didadaku berteriak keras, badanku menjadi panas, kepalaku seperti terbakar oleh api neraka yang berkelimat didalam sekujur tubuhku yang berujung di kepala, dan terus membunyikan kata - kata...

'SUZAKU.... BUNUH...!!! SUZAKU!!!! BUNUUUUUUUUUUUUUUUH!!!!!!!'

Kondisiku sekarang masih sadar dengan apa yang kulakukan, namun aku tidak bisa mengontrol gerakanku sendiri dan sesaat aku melihat ada sebilah pedang disampingku dan

ZLEBB!!!!!
Kutusukkan pedang panjang itu tepat mengenai jantung wanita itu dan mati seketika....

"ROWAAAAAAAAAAAAAAAAR!!!!!!"

SLASH'D!!!!

Namun belum puas, aku membelah kepala wanita itu hingga lepas...

"AAAAAAAAAAAAAAARGHHHHH!!!!!!!!!!!!!!!!"

Dan membakar seisi rumah ini dengan sihir apiku yang besar.

Para burung - burung berterbangan kesana kemari, panik karena rumah pemeliharanya terbakar, dan panik melihat mayat pemeliharanya yang kepalanya sudah terpisah dari tubuh pemiliknya dan terbakar.





Mendadak, dua burung besar mendekatiku, Condor, burung legendaris yang mengerikan yang mampu memusnahkan 1 desa dalam semalam.

"Burung merah... Api.... SUZAKUUUUUUUUUUUUUU!!!!!!!!!!!!!"

Aku terus mengamuk, membalut tubuhku dalam api, membuka segel pedangku, dan menerjang membasmi kedua burung besar legendaris yang menyerangku.

***

Fajar pun tiba, dan terlihat sebuah pulau yang dulunya adalah hutan bersih tanpa campur tangan manusia tersebut, bermandikan darah para burung - burung legendaris yang berhuni di hutan tersebut. Suzaku berdiri diatas tumpukan mayat Garuda dan Condor, menatap cahaya matahari yang menyilaukan, namun menyakitkan.

"Api.... Suzaku...."

Kembali mengenakan armor dan pakaiannya yang sudah kering namun sedikit terbakar tersebut, Suzaku mencari - cari sesuatu yang bisa menjadi petunjuk, dan ia menemukan sebuah kotak penyimpanan, yang berisi uang dan sebuah peta...

"Peta dunia 'Eremidia'....."

Dan tiba - tiba beberapa kalimat tersinggung dalam kepala Suzaku

'WELCOME TO THE NEW WORLD, PHOENIX'

"GRAH!!!"

Aku memegangi kepalaku lagi, yang panas dan menyakitkan itu

"Phoenix.... itu... aku...?"

Tidak tahu apa yang harus kulakukan, kumanfaatkan peta yang baru saja kutemukan bersama dengan uang tersebut, dan kumulai pula perjalananku mencari tahu siapa diriku sebenarnya, dan siapa Suzaku yang mampu membuatku menjadi seekor pembunuh brutal ini...

To be Continued...


The Greatness of Tentacle:
 


Requiem:
 


The Last:
 


Terakhir diubah oleh Signus Sanctus tanggal 2012-07-12, 08:07, total 4 kali diubah
2012-07-09, 22:58
PostRe: [StoryPlay] Eremidia : The Legends begin
richter_h 
Salto Master
Hancip RMID
avatar

Kosong
Posts : 1705
Thanked : 30
Engine : Other
Skill : Skilled
Type : Developer
Awards:

The Tale of Vent McGraves
Chapter II


Klik to Chapter I
Klik to si Goblin's Previous Chapter

Vent berjalan di luar kota, mencari beberapa bahan lain yang bisa dia gunakan untuk racikan minuman selanjutnya. Sembari membawa sebuah barel kecil, dia mencari dan meneliti beberapa tumbuhan, akar-akaran dan jamur-jamuran dengan seksama. Dia bisa mengenali banyak jenis bahan dengan bantuan Spirit yang mendampinginya setelah dia berguru dan meditasi di Corona beberapa tahun lalu. Spirit disini adalah roh pendamping Brewmaster untuk memberi petunjuk dan arahan dalam pencarian, peramuan dan beberapa pengetahuan tentang Brewmastery--ilmu dan seni meracik bahan untuk minuman. Brewmastery sendiri adalah seni untuk "membangkitkan Spirit yang berada pada bahan racikan, yang dapat berkomunikasi dengan peminum minuman hasil racikannya."

Baru saja memetik beberapa jumput Shimmerweed yang berada tepat di bawah pepohonan, dia sadari seekor Goblin sedang mengamatinya dari balik semak-semak. Tapi dia tidak hiraukan Goblin itu. Dia kembali menyibukkan dirinya dengan memilih-milih jamur yang bisa dipakai untuk racikannya.

Namun tiba-tiba...

"MATI KAU MANUSIA PERUSAK ALAM EREMIDIA!!!!"

Goblin itu tiba-tiba menyerang Vent yang sedang asyik memetik jamur. Goblin itu mengira dia akan berhasil mengalahkan Vent yang terlihat masih mabuk dan membawa barel di tangan kirinya, namun yang terjadi justru dia tiba-tiba tersungkur dan terjerembab ke tanah. Gada yang dia pakai untuk senjata terpental saat dia tersungkur tanpa sebab. Apa yang terjadi sebenarnya, pikirnya.

Goblin itu kembali bangkit, lalu mengambil gada yang tidak jauh dari tempatnya terjerembab. Vent yang menatapnya dengan tatapan sayu bin mabuk hanya diam dan tetap menenteng barelnya.

"Oi, tadi ente teriak apaan, ya?"

Goblin itu terbakar hatinya. Dia seperti dilecehkan dengan kata-kata seorang pemabuk seperti Vent. Suasana hening sejenak di bawah rimbunnya pepohonan.

"Meremehkan Goblin terbaik... PEMABUK GILA! SAATNYA UNTUK KAU MATI!!!!!"

"...wah wah... Banyak orang bersemangat hari ini, ya."

Dan pertarungan antara Goblin terbaik di desanya dan Vent terjadi. Vent dapat mengelak serangan demi serangan si Goblin walau dia juga banyak kena pukulan gada si Goblin yang sedang dibakar api amarah. Juga si Goblin itu, pukulan dan tendangan Vent tidak membuatnya berhenti menyerang manusia yang mengoloknya. Cepat, tidak terduga, dan menyakitkan. Kata-kata itu memang pantas untuk menggambarkan bagaimana mereka berdua menyerang satu sama lain. Namun Vent bisa -bisanya menyempatkan diri untuk minum seteguk minumannya, dan tiba-tiba gaya bertarungnya berubah drastis. Dia lebih sempoyongan daripada saat pertama dia diserang si Goblin, dan membuat si Goblin makin kewalahan menyerangnya karena tidak satupun serangannya ada yang kena.

Saat si Goblin itu berhenti menyerang karena terlalu capek, Vent lantas mengeluarkan serangan andalannya. Jurus yang dia kuasai saat dia masih berguru kepada Ki Joko Perkasa, guru dari Timur Jauh, teknik yang mengandalkan serangan cepat dan akurat, dimana serangannya dapat melumpuhkan musuh sebesar dan sekuat apapun. Jurus ini dia beri nama 'Jurus Tapak Sepatu.' Si Goblin tidak bisa mengelak serangan Vent ini, dan mendapati wajahnya ditendang secara seksama dna meninggalkan tapak sepatu di wajahnya. Goblin itu terkapar seketika. Dia tidak bisa bangkit lagi. Si Goblin pasrah, mungkin ajalnya tiba hari ini. Dia akan berkumpul bersama rekan-rekan dan leluhurnya di alam sana. Tapi,

"Ane bukan pembunuh kek gituan," celetuk Vent. "Ane ngga mungkin bunuh orang atau mahluk gitu aja. Lagian, semua orang harus tau kalo terlalu banyak pembantaian monster bakalan bikin jenisnya punah dan merusak alam."

Kata-kata itu dia dapatkan saat dia masih di Westerland, mengingat dulu di tempat asalnya banyak monster dan binatang liar punah karena eksploitasi manusia dan demi menaikkan level juga ketenaran mereka. Si Goblin hanya diam, bengong kayak sapi bengong saat mendengar kata dari manusia, mahluk yang dia dan kaumnya benci. Lantas Vent meninggalkan si Goblin yang terkapar dengan tapak sepatu di wajahnya, membawa bahan-bahan hasil petikan dan kembali ke bar di pinggiran kota untuk istirahat.

--

Sebelum dia masuk ke bar, dia bertemu dengan salah satu pemburu di luar bar. Dia menceritakan bagaimana dia menangani Goblin yang marah dan menyerangnya.

"Tunggu," Pemburu itu heran dengan apa yang Vent lakukan kepada Goblin itu. "Mereka licik dan berbahaya. Banyak yang membunuh mereka karena mereka berbahaya. Lagipula, mereka itu banyak dan tersebar dimana-mana."

Vent bengong, dia berpikir sejenak, lalu dia frustasi sendiri.

"KENAPA ANE NGGAK BERESIN TU MAHLUK COKLAT DEKIL?!?!" :FU:

Klik to Chapter III

Quote :
Jurus Tapak Sepatu nama aslinya Mark of the Foot


| My spriteworks | deviantArt | Mark's Quest | Eremidia: Dungeon! |
Developer of:



Supporter of:


Selp-Proclaimed The Most Handsome Member of the Long Lost Glorious


Disini kalo sebagai nubi mau dikritik yang bagus2 biasanya harus ngaku cewek dulu, karena you know lah... -- Brosef numfanklewhat


Terakhir diubah oleh richter_h tanggal 2012-07-10, 14:56, total 5 kali diubah (Reason for editing : Tambah link biar asik bacanya XD)
2012-07-09, 23:23
PostRe: [StoryPlay] Eremidia : The Legends begin
fly-man 
Poison Elemental
Anak Cantik
avatar

Level 5
Posts : 917
Thanked : 11
Engine : RMVX
Skill : Beginner
Type : Artist
Awards:

Siang Malam Sama Saja

Ku awasi setiap suara yang ada...
Ku tatap dengan seksama setiap ada pergerakan..

Perburuan selalu dimulai dengan perjalanan menuju Goa - Goa lain. Kami para goblin selalu melakukan perburuan secara kelompok , hal ini mempermudah kami untuk menangkap buruan juga dirasa lebih aman.

Sulit membedakan siang dan malam di sini, rindangnya pepohonan menghalau sinar matahari yang hendak menyentuh tanah tempatku berpijak. Suara burung gagak ramai sekali diangkasa tak terlihat tertutup lebatnya pohon yang sudah berumur ribuan tahun. Lumut - lumut dan jamur yang tumbuh dibatang pohon menyebabkan daerah ini semakin dingin karena lembab. Rumput - rumput berduri tajam serta beracun tumbuh dengan liarnya tanpa memandang kawan dan lawan. Hutan ini hanya miliknya, hanya itu yang kufikir ada dalam benaknya. Hewan - hewan tak berkuping seperti ular dan kadal sering terlihat menyelinap dengan anggun dari balik dedaunan , memandangku dengan senyum indahnya, lalu pergi lagi mencari siapa tahu saja ada beberapa ekor tikus yang tersesat. Hal inilah yang menyebabkan kami berfikiran bahwa ini adalah daerah ternyaman bagi kami di Eremdia untuk tinggal.

Jauh dari jangkauan para manusia pencari harta itu...
Jauh dari jangkauan Makhluk perusak alam..

Sayang sekali , yang merasa nyaman untuk tinggal di hutan ini hanya kami para goblin, tanaman - tanaman aneh, serta para reptil dan beberapa jenis kelelawar. Tak ada satu pun hewan yang bisa kami makan mau mampir kemari, kalau pun mampir, pasti sudah dilahap para reptil kelaparan itu.

Kelelawar beterbangan, suara burung gagak tak terdengar lagi. Inilah acuan waktu yang kami pakai. Ini berarti matahari sudah selesai waktu tugasnya, hewan - hewan manja nan lezat telah tidur, para manusia bajingan telah kembali ke kota , dan aku... tanpa terasa sudah sampai di depan Goa para Cuk Goblin.

Cuk Goblin adalah goblin prajurit. Setiap kali aku berburu , aku selalu dikawal oleh mereka karena aku adalah Hangtulah istilah yang diberikan pada goblin - goblin yang umurnya sudah lebih dari 100 tahun. Hangtulah berada di barisan paling belakang saat berburu. Menentukan arah berburu dan hewan apa yang akan diburu. Hangtulah tidak boleh mati saat melakukan perburuan sebab terkadang para Paladin atau prajurit kerajaan nekad datang kemari untuk memporak porandakan desa kami yang dianggap sebagai ancaman. Saat itulah Hangtula berada di barisan paling depan untuk membela desa.

Aku cukup berteriak, teriakan khas ala goblin. Para Cuk Goblin keluar dari Goa mereka dengan membawa senjata seadanya yang mereka punya, Gading gajah, Bambu runcing, Panah, atau hanya sekedar batu yang diukir dengan batu lain agar tajam.

"Ayo kita ke selatan", ujarku dibuat - buat agar tampak wibawa.

"Hauuu hauuu hauuu...", para Cuk Goblin menyahuti.

Perburuan kami pun dimulai.


 -Coming Soon-

2012-07-09, 23:54
PostRe: [StoryPlay] Eremidia : The Legends begin
RolandMelvinZ 
Novice
Novice
avatar

Level 5
Posts : 294
Thanked : 3
Engine : RMXP
Skill : Beginner
Type : Composer

Episode 1 - A Familiar Place

Dimana kita?

Sesaat aku terhenyak mendengar perkataan temanku.. Kemudian, aku mulai melihat area di sekelilingku sambil membolak-balik sebuah lembaran peta yang kupegang sejak perjalanan ini dimulai.. Dan aku sampai pada sebuah jawaban.

Entahlah.. Kita tersesat di hutan ini.

Mendengar jawabanku.. kontan air muka temanku segera berubah.. "ARGH!! seharusnya aku tidak menyuruhmu menjadi pemandu jalan karena alasan ingin belajar! kemarikan peta itu! Biar aku yang memandu jalan."

Akhirnya kuserahkan peta itu kepadanya. Ia menerima peta itu, kemudian membuat sebuah tanda di sebuah pohon, lalu berjalan sambil terus mengoceh, "Kalau hari ini kita tidak berhasil mendapatkan goblin LAGI, ketua akan marah pada kita!" ocehnya sambil berjalan dan melihat peta.

Kami terus berputar-putar.. dan setelah berjalan lama, kami berhenti. Temanku nampak bingung dengan peta yang dibacanya.. Sementara aku melihat lingkungan hutan di sekelilingku.

"Hei, bukankah ini tanda yang kau berikan pada pohon tempat kita tersesat tadi?"

Temanku hanya diam saja. "Aneh, seharusnya memang disini..." Gumamnya. Memang, tidak biasanya dia gagal memandu jalan. Setelah agak lama berdiam diri mendadak dia seperti menyadari satu hal.. dan kemudian menoleh padaku..

Sepertinya.. Peta ini palsu.. Pedagang di pasar tadi telah menipu kita.

Mendengar itu ingatanku segera bekerja mengingat kejadian tadi pagi itu. Kami berdua sedang berjalan melewati pasar. Seorang pedagang di pasar mendatangi kami dan menunjukkan sebuah peta bagian hutan yang tidak biasanya dijelajahi para hunter, dan dia berkata "Di daerah ini ada satu desa goblin tersembunyi yang memiliki cukup banyak populasi, mereka adalah ras goblin yang paling lemah. Ini akan jadi buruan besar bagi kalian! Aku akan menjual peta ini hanya seharga 200 Remi saja." Saat itu kami baru saja ditegur oleh ketua kelompok Hunter kami karena sudah 2 minggu tidak mendapatkan buruan, peta ini seolah-olah seperti jalan pintas bagi kami, dan tanpa pikir panjang, kamipun percaya dan membelinya.

"Lalu, sekarang bagaimana?" Tanyaku dengan nada lemas.

"Entahlah, yang jelas kali ini kita tidak bisa pulang dengan tangan kosong. Kalau tidak, ketua akan menghukum kita.." Jawab temanku dengan nada pasrah.

Karena jengkel dan tidak enak hati, Temanku menendang tanah tempat kakinya berpijak. "Dasar Pedagang bodoh! Kita sudah jauh-jauh kemari hanya untuk berputar-putar di hutan? Bagh!!" Dia mengoceh sejadi-jadinya, aku hanya menggeleng-geleng kepala saja melihat tingkahnya.

BRUKKK.. BRAAAKK..

Tiba-tiba tanah tempatnya berpijak runtuh.. Dan ketika kudekati, kudapati lubang itu cukup dalam dan gelap, sehingga aku tidak bisa melihat ke dalam.. Kontan saja aku bingung, lalu otomatis aku berteriak "ERMI!!! KAU TIDAK APA-APA KAN!!?"

"Ya, aku tidak apa-apa." Balasnya. Lalu Dia menyalakan obor yang dibawanya, Kini aku bisa melihat dasar lubang ini. Kurang lebih dalamnya 5 meter. Ketika temanku melihat sekelilingnya, aku dapat melihat raut terkejut dari wajahnya, lalu dia menoleh padaku.

Seren.. Turunlah kemari.. Cepat!!

Aku tanpa pikir panjang segera saja turun.. Dan ketika berada di bawah aku juga ikut terkejut dengan apa yang kutemukan.

"Ini adalah gua bawah tanah, dan kalau kau lihat, di sekeliling kita banyak sekali jejak kaki goblin dan sisa-sisa makanan mereka.. Kita sudah dekat dengan sarang goblin itu!" Ucapnya dengan nada gembira.

Namun, bukan itu yang sedang kupikirkan.. Aku hanya merasa... Aneh... Tempat ini serasa familiar sekali denganku.. Tapi aku tidak tahu kenapa..

Hei Seren! Jangan melamun terus! ayo, kita harus mengikuti jejak para goblin ini.

Mendengar perkataan Ermi, lamunanku pun buyar sudah. Kemudian kami berdua melangkah.. mengikuti jejak kaki goblin itu...

to be continued~
2012-07-10, 00:18
PostRe: [StoryPlay] Eremidia : The Legends begin
Signus Sanctus 
Newbie
Newbie
avatar

Level 5
Posts : 69
Thanked : 3
Engine : RMVX Ace
Skill : Beginner
Type : Developer
Awards:
Chapter 1 Link

-----------------------------------------------------------
Chapter 2 : Nightmare after Death



Berjalan mengikuti petunjuk di peta, Aku sampai di sebuah kota peternakan yang lumayan dihuni oleh keramaian, aku melihat - lihat keadaan sekitar sambil menuju sebuah bar untuk mengisi tenaga. Sesampainya disana, aku melihat banyak orang yang sedang membicarakan sesuatu tentang bahaya diluar kota, namun aku tidak terlalu memperdulikan hal tersebut dan duduk di sebuah bangku dan meja yang kosong, dan seorang pelayan berkostum Bunny Girl Suit mendatangiku dan menanyakan apa yang ingin kupesan.

"Well-Done Steak dan segelas air"

Saat aku baru selesai menyebutkan pesananku, tiba - tiba 1 kota panik dan berlarian kemana - mana, termasuk orang - orang yang berada di dalam bar. Aku penasaran, kulihat diluar, ternyata kumpulan Wild Boar menyerang kota dalam jumlah yang cukup besar, kutarik pedangku sambil menatap kumpulan Wild Boar tersebut...









"Ya sudah, makan mereka saja...!!!!"



Aku langsung maju menerjang kumpulan Wild Boar tersebut, dengan gerakan teknik pedang yang aku tidak tahu namun tubuhku reflek bergerak dengan sendirinya menyapu bersih kumpulan WildBoard tersebut, darah, daging, dan taring mereka berterbangan kemana - mana, tubuhku terbalut cairan merah dari tubuh mereka. Orang - orang kota mulai berkeluaran melihat pemandangan yang menakjubkan namun mengerikan tersebut, melihat banyak sekali Wild Boar yang terbantai satu demi satu, darah yang tersebar kemana - mana sampai mengotori dinding perkotaan tersebut, bersamaan dengan angin debu yang dibuat oleh Wild Boar yang mengamuk melihat rekannya dibantai satu demi satu.

Akhirnya tersisalah satu Wild Boar dari ratusan Wild Boar lainnya, yang terlihat masih sangat muda dan segar, merinding ketakutan melihatku yang sudah bermandikan darah bangsa - bangsanya. Aku memalingkan pandanganku dari Wild Boar malang itu dan membalikkan punggungku, dan kemudian aku menyadari Wild Boar itu maju menerjangku yang sudah membalikkan punggunggku padanya, kemudian aku segera berbalik dan membelah Wild Boar itu menjadi dua.

Orang - orang kota terpana melihatku, ada yang menatap dengan tatapan syukur dan terima kasih, namun ada juga yang melihatku dengan tatapan ngeri dan takut. Mayor kota itu ingin berterima kasih padaku dengan memberikanku lisensi Hunter, C Class Hunter. Aku tidak tahu apa gunanya license ini, tapi sepertinya ini mampu membuatku mendapatkan penghasilan dari menyelesaikan masalah - masalah orang lain, kupikir - pikir lebih baik kusimpan saja, supaya aku tidak mendapat banyak masalah di kemudian hari.

Hari itu diadakan festival besar - besaran ditengah malam, yang ternyata merayakan hilangnya Wild Boar yang mengancam keamanan kota ini, ternyata selama ini mereka selalu diserang oleh kumpulan ratusan Wild Boar tersebut, tanpa bisa melawan balik. Aku ditemani oleh wanita pelayan berbaju Bunny Suit tersebut sambil menikmati bir gratis demi merayakan kedamaian kota ini.

Aku memisahkan diri dari keramaian festival tersebut, mendatangi tempat dimana mayat - mayat Wild Boar itu berada, yang sekarang hanya tersisa darah dan gading Wild Boar itu saja. Kemudian aku menyadari langkah seseorang yang datang dari belakang, seorang wanita pelayan bar tadi...

"Kenapa kamu ada di sini?"

"Aku tidak terlalu terbiasa dengan keramaian, apalagi aku tidak begitu suka disorak - sorakkan oleh orang lain..."

wanita itu mendekatiku dan memandang mataku dengan serius.

"Tidak baik menolak niat baik orang lain hanya karena kamu tidak suka~"

"Like I care~" Ucapku risih

"Wah wah~" Wanita itu menjauh dariku, membelakangiku, kemudian menatapku lagi.

"Tapi kamu adalah Hero kami hari ini, jadi kami tidak bisa membiarkanmu begitu saja~!"

DEG

Lagi - lagi, situasi ini datang lagi, entah apa pemicunya aku tidak tahu, tetapi aku tahu dalam kondisi ini apa yang akan kulakukan pada wanita tersebut.

"Hey, Hero? Kenapa kamu diam saja??"

DEG

Aku memegang wanita tersebut dengan erat, dan kubawa paksa menuju sebuah gang sempit yang tiada seorang pun menyadari.

"A.... apa yang mau kau lakukan...?!?!"

Kulihat disampingku ada sebilah pisau dapur yang cukup besar, kuambil dan

*ZLEBBB!!!!

Kutusuk lehernya.

"U.... Akh....!!!!"

Wanita itu tidak bisa berteriak ataupun berbicara, ia hanya bisa menatapku dengan rasa takut dan ngeri, namun kuhiraukan itu semua dan....

*ZLEBBB!!!!!!

Kubelah kedua matanya hingga darah berlumuran dibajuku

"Jangan pernah memanggilku "Hero"....!!!!"

Belum puas, kulanjutkan dengan membelah dadanya....

*SLASH'D!!!

dan kulanjutkan dengan membelah tangan dan kakinya...

*SLASH'D!!!!


kemudian diakhiri dengan tebasan leher seperti biasa

*SLASH'D!!!!!!!!

.................................

Aku kembali pada kesadaranku, dan kulihat wanita yang ada didepanku sudah tidak berbentuk sama sekali, dan aku berlari dari kota tersebut, pergi menjauhi siapa saja yang mendekatiku, dan terus berlari sampai kota tersebut tidak terlihat sama sekali.

***

Aku terbangun kembali di sebuah gua dan melihat tanganku masih memegang pisau yang berlumuran darah, dan sekujur bajuku pun menjadi sedikit kemerahan akibat darah - darah tersebut.

"Apa... Apa yang sebenarnya kulakukan....

Kenapa.... Kenapa aku bisa.....

Kenapa aku tega....!!!!!!!!"

Aku terus mengulangi kata - kata 'Kenapa' entah berapa kali, kehilangan ingatan dan nafsu untuk membunuhnya terasa semakin kuat, termenung di sebuah gua yang sepi dan gersang, tidak tahu apa yang harus dilakukan...

To be continued...


The Greatness of Tentacle:
 


Requiem:
 


The Last:
 


Terakhir diubah oleh Signus Sanctus tanggal 2012-07-10, 19:43, total 2 kali diubah
2012-07-10, 00:34
PostRe: [StoryPlay] Eremidia : The Legends begin
shikami 
Member 1000 Konsep


Level 5
Posts : 3744
Thanked : 31
Engine : Multi-Engine User
Skill : Beginner
Type : Developer
Awards:


Previous story

Episode II In The Forest

<morning,9 A.M >

napasku sedikit terengah-engah. rupanya jarak gerbang timur dengan Quest Center cukup jauh. disana cukup ramai karena ada antrian pemeriksaan rutin bagi para pendatang. mereka akan didaftar lebih lanjut untuk mencegah berbagai macam hal atau demi alasan keamanan.

aku mencari-cari petugas yang dikatakan oleh staff Quest Center.
"hmm mungkinkah dia orangnya?"
kulihat seorang bapak-bapak berkumis tebal dengan pakaian seragam petugas sipil eremidia kingdom.
dia dengan asiknya merokok cerutu sambil memandang teman-temannya yang lain tengah memeriksa barang2 milik para pendatang.
"permisi..apakah anda petugas.. mm.."
"josef ?"
tanya sedikit sambil sedikit melirk ke arah formulir. di situ tertulis : kepada petugas josef.
petugas itu sedikit mengebulkan asap cerutu tersebut. matanya sejenak memandangiku.
"ya, aku josef" terdengar suara berat darinya.
" ada perlu apa?"
aku sedikit takut karena tatapannya yang menyeramkan itu membuat kakiku sedikit gemetar.
"anu..saya hunter, ini formulir untuk meminta ijin dari anda.."
Josef masih memandangku dengan tajam namun kali ini dengan tatapan heran.
"heh. masih 15 tahun .. berani juga kau nak.."
"putraku yang masih 15 tahun saja tidak berani pergi keluar sendirian.."
ia lalu memegang lenganku.
"lihat saja lenganmu yang kurus ini... hah..kau ini masih anak-anak.."
sebenarnya aku sangat tersinggung. tapi kudiamkan saja.
"jadi dimana.. letak para gawolf itu?"
"hoo..gawolf, mereka adalah serigala yg tidak biasa,mata mereka merah menyala. mereka senang berkelompok di kawasan hutan..."
"ah pergi saja ke arah timur.. kau lihat bukit-bukit itu? cobalah kau capai wilayah itu.."
kupandang sejenak perbukitan itu. sebuah bukit yang tidak begitu tinggi namun terasa curam dan dikelilingi hutan yang cukup rindang.
"oh begitu... baiklah"
"hei.. kau benar-benar ingin sendiri ke sana ?"
aku memandang heran.ia kembali memasukan cerutu ke dalam mulutnya.
"meski gawolf adalah makhluk lemah diantara para monster, mereka tetaplah berbahaya.."
"mereka tidak punya otak,hati dan belas kasihan.. jika kau ragu,kau akan mati !"

"terima kasih atas saran anda, saya kira saya bisa menjaga diri.." jawabku tenang.
"ho..? sepertinya kau menganggap enteng peringatanku.. baiklah..jaga dirimu .."
aku mengangguk pelan.

ya,aku sudah mempersiapkan diri bertahun-tahun berlatih keras. tentu saja aku tidak ingin mati konyol,tapi aku percaya bahwa aku bisa.

petugas yang lain membukakan pintu gerbang. jalan setapak diantara padang rumput membentang di depan mata.

"hmm,aku harus kembali sebelum gelap,kurasa terlalu berbahaya jika berdiam disana terlalu lama.."
kaki pun melangkah meninggalkan pintu gerbang.


< Noon, 2 P.M >

akhirnya aku tiba di hutan itu. banyak julukan penduduk bagi hutan tersebut,Goblin Forest,Eastern Forest. kudengar terdapat koloni goblin jauh di pedalaman hutan. entah benar apa tidak.

suasananya cukup sunyi. aku sendiri heran, apakah mungkin tidak ada hunter lain yang mengambil quest ini?

hanya ada hewan-hewan liar tidak terlalu berbahaya,kemanakah semua monster pergi?
apakah mungkin mereka semua bersembunyi di sarang mereka.

mendadak terdengar suara dahan berdesik,
"monster liar? angin? hewan hutan?" pikirku. kukeluarkan pedangku dalam posisi siaga.

suara itu makin keras. kuperlahan mendekatinya.

"WUUUUUTTTTTT!"

aku melontarkan diri untuk menghindar.
kulihat seekor makhluk besar menyerupai kucing berdiri di hadapanku.

"monster ?"
makhluk kucing itu hanya memandangku. aku semakin memegang erat pedangku. berjaga-jaga untuk serangan mendadak.

suaranya makin keras menggeram. rasanya jantungku berdetak makin cepat.

"wuttttt !!"
"graaaaaaaaawllll "

dia menubrukkan tubuhnya ke arahku. kucoba menahan namun aku malah terjembab di atas tanah. kedua kakinya menekan pedangku namun aku terus berupaya untuk menahan.
ia memperlihatkan taringnya yang tajam. serta nafasnya yang makin liar.
"ini tidak bagus.."
tiba-tiba terpikir sebuah ide.

aku mencoba menendang perutnya. dia sedikit mundur namun tidak begitu banyak bergerak. aku mencoba sekuat tenaga untuk mendorongnya.

"ughhhhhhhh!!!"

monster kucing itu mengendur. aku mengambil kesempatan untuk mencabu belati di belakang pinggang dan menusukkan di badannya.

"GRAAAAAAAAAAWWRRRR!!!"

makhluk itu menyingkir. aku bangun dengan susah payah.
kurasakan dia semakin kuat untuk ingin memangsaku. sial,pikirku. bertemu goblin saja tidak,kenapa harus melawan makhluk mengerikan seperti ini.

makhluk itu mengambil ancang-ancang dan melompat penuh tenaga. tapi kali ini aku sudah siap,aku sedikit memiringkan badan sambil menebaskan pedang ke badannya.

darah mengucur deras.

"GRAAAAAAAAAAAWWWWRRRR!!!!!!!!"

makhluk itu terluka namun dia tidak tampak kesakitan. dia mengambil ancang-ancang kembali. kali ini lebih cepat,aku hanya sanggup berkelit.

namun aku salah duga, makhluk itu langsung berbalik arah dan mencoba menubrukku dari belakang.

"sial!" aku tahu aku tidak bisa menghindar.

"JLEBBB! JLEBBB!"

dua buah anak panah meluncur mengenai bagian leher makhluk itu. dia jatuh sebelum berhasil mencapai diriku.

"hei..kau tidak apa-apa..?"


seorang gadis berambut putih panjang menghampiriku. ia memakai armor yang eksotik,sehijau zamrud. tangannnya membawa sebuah panah dekoratif.

"yah.. terima kasih.."jawabku gugup. wajar karena aku belum pernah bertemu gadis secantik dia.

dia tersenyum manis. lalu memandang ke arah makhluk tadi.

"syukurlah,dia sudah tidak dapat menyerang siapa-siapa lagi.."
"makhluk apa itu?" tanyaku.
gadis itu menoleh.
"itu adalah Cathyloph,monster kucing pemangsa .."
"aku tidak pernah melihat monster seperti itu.."
"itu wajar,Cathyloph adalah makhluk kelas tinggi.."
dia lalu memandangku tajam.
"hei tunggu, kau hunter ?"
aku mengangguk.
"hmm.. berapa levelmu ?"
"aku hunter level C" jawabku polos.

"wow,..seorang pemula mengalahkan Cathyloph.. itu luar biasa!"
"ah tapi bukankah kau yang membunuhnya.."
gadis itu mendekati cathyloph dan mencabut anak panah yang menancap di leher makhluk tersebut.
"memang, tapi kau melukainya duluann.."
"jika kau tidak melukainya,dia pasti menghindari panahku dengan mudah.."
"ya,.. mungkin.."
"kau tahu berapa harga buruan cathyloph ? 50.000 Rmidollar.!"

aku terhenyak. makhluk itu dihargai begitu besar sekali. itu sama saja aku memburu erogoblin 50 kali.

"yah,kau memang hunter pemula.."dia tersenyum lebar.
"baiklah,kau boleh memperoleh 40 %nya.. bagaimana ?"
aku terkejut. siapa gadis ini? kudengar para hunter adalah orang-orang egois. dia.. dia terlalu baik.
"setuju..40%.."jawabku tergugup.
"deal! kalau begitu kita harus membawa kepala monster ini sebagai bukti.."
"haruskah?" sebenarnya aku tidak suka jika harus membawa bagian tubuh monster. lebih baik membawanya secara utuh.
"tentu,kau tahu kan.. tidak mungkin membawa seluruh bagiannya?"
aku mengangguk setuju.

< noon, 3 A.M >

kami pun keluar dari hutan bersama-sama.
"oh iya, siapa namamu ?"tanyanya di tengah perjalanan.
"aku Luc.. Luc Falbringer"
"salam kenal Luc..namaku Luna.. Luna Cresentia.."
Luna Cresentia,aku akan mengingat nama itu.

"nama yang indah.."kataku pelan. sebenarnya itu refleks saja sih.
"hoho terima kasih.." jawabnya sambil tersenyum manis sekali.
rasanya seluruh wajahku memanas,aku jadi malu sendiri.
oh bodohnya aku,umpatku dalam hati

to be continued.


this is no signature


Terakhir diubah oleh shikami tanggal 2012-07-14, 08:34, total 1 kali diubah
2012-07-10, 01:37
PostRe: [StoryPlay] Eremidia : The Legends begin
fly-man 
Poison Elemental
Anak Cantik
avatar

Level 5
Posts : 917
Thanked : 11
Engine : RMVX
Skill : Beginner
Type : Artist
Awards:

Sial dan Untung, siapa tahu?
Roland n Rich baca ya XD



Tak perlu waktu lebih dari 1/2 jam untuk menyebrangi hutan gelap menuju area perburuan bagi para goblin yang sedang bersemangat.

"Lihaaat!! Ada rusa gemuk di sana!!" ujar salah satu Cuk Goblin. Aneh bagiku seekor rusa berdiri sendiri tanpa kawananannya di malam hari seperti ini. Dari pengalaman berburuku yang sudah cukup lama biasanya seekor rusa selalu bergerombol apa lagi di malam hari, mereka kan menekukan kakinya, lalu memejamkan matanya.

Tanpa aba - aba Cuk Goblin tersebut langsung lari dengan batu besar ditangannya, wajahnya sangat gembira hingga tak tega mulutku untuk sekedar berkata tunggu. Darah, ya betul sekali, darah tiba - tiba menggenang di tanah. Kaki Goblin bahagia itu terkena panah, ku dengar teriakan girang dari arah sebrang . "1 Goblin!! huahahhaha.. tak ku sangka bisa semudah itu " ujar sesosok manusia berpakian putih dengan kain merah bergambar lambang kerajaan Eremdia yang bergantung dari lehernya.

"Ah sial kau dapat duluan", ujar sosok lainnya yang tampak sedikit kecewa. "Tenang saja sobat, setelah ini akan banyak buruan kita kemari, mereka pasti tidak terima kawannya kita lukai " , Ujar manusia biadab yang menembak kawanku tadi dengan senyum sinis.

"Berputar" , bisikku perlahan sekali agar 2 sosok manusia tadi tak mendengar. Para Cuk Goblin yang menahan marah menuruti perintahku. Berhadapan dengan 2 orang Hunter baru itu mudah bagiku, hanya saja dengan melakukan penyergapan dari arah lain itu akan menyebabkan lebih sedikit luka.

kini kami sudah bersiap di balik pohon yang tepat berada di belakang 2 sosok Hunter tersebut. Seekor Cuk Goblin maju tanpa aba - aba sudah tak sanggup menahan amarahnya melihat temannya kehabisan darah karena kakinya kena panah. Sontak saja temannya yang lain ikut maju.

Puluhan anak panah datang dari langit malam yang gelap, beberapa Cuk Goblin berjatuhan, ternyata kedua orang hunter tersebut sudah di back-up oleh puluhan kawannya di belakang. Para Hunter itu maju sambil berteriak - teriak mengangkat senjatanya bersiap membantai para Cuk Goblin yang masih sanggup berdiri.

Aku berlari sekuat tenaga menuju medan laga. seorang hunter hampir menusukan pedangnya tepat di kepalaku, namun gerakan tanganku jauh lebih cepat. Gadaku membuat kepalanya terpental jauh berpisah dengan tubuhnya. para hunter lain langsung mengalihkan serangan mereka terhadapku, namun para Cuk Goblin yang masih berdiri dengan sigap menyerang mereka dari belakang, Perang kecil terjadi, aku mengamuk sejadi - jadinya. Luka tusukan di perut serta beberapa goresan di tangan terasa langsung terobati ketika aku melihat bola mata para hunter yang sudah jauh dari hudungnya, kepala yang berjatuhan, atau sekedar otak yang tak terasa terinjak membuatku semakin bersemangat. 10 Menit berlalu, mungkin sekitar 20 Hunter mati malam ini. dari pihak kami 5 ekor Cuk Goblin mati dan 2 ekor tak mampu berdiri karena luka parah, 15 Cuk Goblin lainnya ku perintahkan segera pulang membawa kawannya yang terluka. Aku maju sendiri untuk membawa rusa jebakan tadi, setidaknya akan ada hal baik dalam setiap keburukan.

Dalam perjalananku menangkap rusa aku melihat seorang hunter tersisa berusaha lari ke balik pepohonan untuk bersembunyi dari pandanganku. Terlambat, lariku begitu cepat, aku melupakan soal rusa buruan itu. Aku melompat dan menindih pundaknya, ku lepaskan pelindung kepala yang ia kenakan, "Ah dia", ujarku dalam hati. Dia yang memanah Cuk Goblin pertama, yang tertawa terbahak - bahak akan terlukanya temanku. Aku sungguh beruntung bisa melaukan ini. Aku benturkan kepalanya berkali - kali ke baru besar yang menempel di tanah, perlawanan yang awalnya cukup merepotkan makin benturan makin melemah, hingga saat benturan terakhir yang menyebabkan sukar dibedakannya antara bagian muka dan belakang kepala, aku hentikan tindakanku, ku tarik lepas kepalanya dari tubuh. Untuk dibawa pulang sebagai oleh - oleh untuk goblin yang kakinaya terpanah tadi, pasti dia akan senang mendapat koleksi tengkorak baru fikirku.

nafasku terengah - engah, aku balikan badanku.. ah.. ada sesuatu yang mengusikku, aku merasakan kehadiran manusia lainnya. Saat aku menoleh ke belakang aku melihat sesosok manusia yang sedang memetik jamur. Ini pasti hanya akal - akalannya untuk mengecoh kami lagi. Aku langsung menyapanya dengan kepalan tangan memegang gada besar, dan pertarungan pun berlangsung sengit.

-------------------------------------------------------------------------------------------

Aku tersadar saat cahaya fajar matahari membelai wajahku dengan lembut, aku pulang...

pulang dengan perasaan malu,...

malu telah kalah dari manusia,...

malu karena tidak bertarung hingga mati...

dan malu karena pulang dengan tangan kosong..

--------------------------------------------------------------------------------------------
"Huaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa..." Seekor goblin wanita berteriak kaget melihat 2 sosok manusia berada di rumahnya. Kedua sosok manusia tadipun berteriak tak kalah keras, tak kalah kaget. Sontrak saja Goblin - goblin lain datang. 40 goblin banyaknya yang tinggal di Goa tersebut. Tanpa basa basi mereka menghajar kedua orang tersebut, dipukuli, digigit dan, dan "Dan kita dapat makanan tambahan sore ini", ujar salah seorang goblin.

suara langkah kaki yang berat terdengar dai mulut Goa, selueuh pandangan goblin was-was khawatir ada penyergapan berikutnya, mereka terkejut melihat salah satu Hangtulah datang dengan banyak luka.

"Aku Pulang", ujar Hangtulah tersebut.


 -Coming Soon-

2012-07-10, 09:03
PostRe: [StoryPlay] Eremidia : The Legends begin
Signus Sanctus 
Newbie
Newbie
avatar

Level 5
Posts : 69
Thanked : 3
Engine : RMVX Ace
Skill : Beginner
Type : Developer
Awards:
Chapter II Link

--------------------------------------------------------------------------

Chapter III : Blood of Gratitude



Aku terus berjalan mengarungi padang sabana yang luas membentang ini, mencari tempat peristirahatan yang layak, setelah memenuhi tempat ini dengan lautan darah yang luas dari kumpulan Wild Beast yang berkelompok untuk menjadikanku makanan mereka.

Aku tiba di sebuah Windmill, dimana seorang wanita sedang duduk bersandar di windmill tersebut, dalam kondisi sekarat.

"Hey kamu... maukah kamu kemari sebentar...?"

Sepertinya dia adalah salah satu hunter yg sedang menjalani misi entah apa itu.

"Apakah kamu juga seorang Hunter....?"

Aku hanya bisa menganguk, diam menatap kondisi Hunter tersebut.

"Syukurlah, aku ingin minta tolong padamu...."

Wanita itu menyerahkan License dan sebuah kotak hadiah kepadaku

"Titipkan itu kepada Bar Mistress Leila di Eremidia's Bar di Center Block.....
dan sampaikan pesanku padanya....

'Maaf, aku tidak bisa memenuhi janjiku padamu'......"

Setelah mengucapkan kalimat tersebut, Hunter itu langsung tewas seketika, namun aku tidak sedikitpun merasa simpatik padanya, bersamaan dengan itu aku memeriksa isi tasnya untuk menemukan sisa - sisa item yang ia tidak sempat gunakan untuk keperluanku sendiri, dan kembali aku meneruskan perjalanan.

"Tidak ada salahnya untuk pergi ke Eremidia yang dia bilang...."

Dan aku melanjutkan langkahku menuju Eremidia

***

Perjalanan yang cukup panjang dan melelahkan itu membuatku sedikit menyesali pilihanku untuk datang ke Eremidia ini, tapi karena aku sudah sampai di depan gerbangnya, tidak ada salahnya untuk masuk

"Berhenti!!"

Aku dihentikan oleh seorang pengawal, ia terlihat berpakaian sangat lengkap dan berbahaya, tidak biasanya untuk seorang penjaga berpakaian rapi dan lengkap seperti itu.

"Atas tujuan apa anda kemari?!"

Aku mengambil sebuah surat dan dua Hunter License, satu milikku dan satu lagi milik hunter yang sekarat waktu aku melewati Windmill

"Aku mendapat pesan dari seorang hunter yang sekarat di sekitar windmill di daerah barat untuk mengantarkan ini pada kenalannya di bar kota ini...."

"License ini....!! Ukh...."

Pengawal itu terlihat sangat sedih mendengar berita kematian Hunter tersebut

"Dengan ini kita kehilangan 1 Hunter terbaik lagi...."

Aku tidak terlalu peduli dengan kondisi Hunter tersebut, aku hanya ingin segera masuk dan beristirahat...

"Maaf aku sudah mencurigaimu, sekujur tubuhmu penuh dengan bau darah yang pekat, kukira kamu adalah Junker"

"Junker?"

"Ya, mereka adalah pencuri buruan yang akhir - akhir ini sering sekali mencuri hasil kerja keras dari seorang Hunter, bahkan mereka tega membunuh Hunter itu sendiri dan mencuri hadiah yang seharusnya ditujukan untuk para Hunter tersebut, sebaiknya kau juga berhati - hati"

Aku tidak perlu memikirkan hal - hal yang tidak terlalu penting seperti itu.

"Ah maaf, sebagai rasa terima kasih dan maaf, aku akan mengantarkanmu berkeliling sekitar Eremidia ini, ini pertama kalinya kah kamu di Eremidia?"

Aku cukup menganguk melihat kondisi mulai berpihak padaku...

"Namaku Ernest, aku adalah salah satu Guard General yang ada di Eremidia ini."

Guard General, pantas pakaiannya sangat resmi, grand, dan berwibawa.

"Panggil saja aku Phoenix...."

"Phoenix... The Immortal Bird Phoenix, haha, nama yang hebat!"

Aku tidak mau menggunakan nama Suzaku, sebelum aku tertangkap basah menyerang Guard General seperti dia....

***

Biasanya aku tidak begitu peduli dengan apa yang ada disekitarku, tapi Eremidia sendiri memiliki pesonanya tersendiri, 5 block besar yang membagi tiap kota tersusun rapi dengan penjagaan yang terlihat strict namun tidak mengekang, begitu pula penduduknya yang terlihat menikmati pekerjaan mereka masing - masing di kota ini

"Kota ini terbagi menjadi 5 block, Eastern Block, Western Block, Nothern Block, Southern Block, dan Center Block, dan yang sering menjadi tempat kunjungan adalah Centar Block.."

Aku terus mendengarkan ocehan General Ernest yang cukup singkat namun jelas, tidak ada salahnya untuk mendapatkan informasi yang cukup.

"Untuk Hunter Guild sendiri terletak di Center block. dan Bar yang akan kita kunjungi terletak di Center"

***



Aku hanya bisa menatap wajah Mistress Bar ini, yang sepertinya adalah kakak dari Hunter yang waktu itu kudatangi, dan merasakan beratnya suasana bar saat itu, ketika mendengar kematian Hunter tersebut. Dan saat itu juga wanita itu menatapku sambil menahan airmatanya...

"Phoenix kah? Terima kasih kamu mau menerima permintaan terakhirnya sebelum kematiannya, aku sungguh berterima kasih..."

Aku hanya diam menatapnya, tanpa bisa memahami mereka yang terlihat sangat terpukul atas kematian Hunter itu.

"Untuk hari ini, bagaimana kalau kamu menginap disini terlebih dahulu, untuk seterusnya pun tak apa - apa?"

"Bolehkah?"

"Tentu saja boleh, sebagai rasa terima kasihku padamu, ah iya, namaku Leila, salam kenal, Phoenix~"

Aku hanya terdiam termenung menyaksikan pemandangan tersebut tanpa tahu apa yang harus kukatakan.

To be continued...


The Greatness of Tentacle:
 


Requiem:
 


The Last:
 


Terakhir diubah oleh Signus Sanctus tanggal 2012-07-12, 12:16, total 4 kali diubah
2012-07-10, 09:24
PostRe: [StoryPlay] Eremidia : The Legends begin
LowlingLife 
Administrator
Administrator
avatar

Kosong
Posts : 2000
Thanked : 25
Engine : Multi-Engine User
Awards:

@ om signus : Bentar. Itu yang sekarat wanita atau pria?

Quote :
Aku tiba di sebuah Windmill, dimana seorang wanita sedang duduk bersandar di windmill tersebut, dalam kondisi sekarat.

sama


Quote :
Lelaki itu menyerahkan License dan sebuah kotak hadiah kepadaku


There is nothing perfect in this world. So why do you pursue perfection?
~ LowlingLife

Join Ngacay Club!

Cause Ngacay can bring inspiration & makes you healthy!
2012-07-10, 09:35
PostRe: [StoryPlay] Eremidia : The Legends begin
Signus Sanctus 
Newbie
Newbie
avatar

Level 5
Posts : 69
Thanked : 3
Engine : RMVX Ace
Skill : Beginner
Type : Developer
Awards:
Holy sh*t, thank you LowlingLife

*Edited

Spoiler:
 


The Greatness of Tentacle:
 


Requiem:
 


The Last:
 
2012-07-10, 11:21
PostRe: [StoryPlay] Eremidia : The Legends begin
NachtEinhorn 
Robot Gedek Galak
avatar

Level 5
Posts : 1274
Thanked : 9
Engine : Multi-Engine User
Skill : Beginner
Type : Developer

Chapter 1: Another Era?

Kepalaku masih pusing saat aku terbangun. Kutengok kiri kanan, yang ada hanyalah rumput lebat dan pohon. "Ini dimana..?" gumamku setengah sadar. Sepertinya aku berada di tengah hutan.

Tiba tiba aku teringat kejadian sebelum aku bisa "tertidur" di tengah hutan ini. Aku menancapkan /Buster ke core Grausamme, lalu... lalu...

"SELPHIE!" teriakku seketika. Mataku yang masih setengah tertutup tiba tiba terbelalak. Aku melihat sekeliling lagi, yap, ngga ada siapapun. Tangan kananku terasa menggenggam sesuatu. Saat kutengok, kulihat /Buster, sedikit retak.

Aku mencoba duduk, saat tiba tiba terdengar teriakan di balik semak semak, "PERUSAK ALAM! BUNUUUUUUUUUUUH!".Terkejut, aku seketika berdiri, bersiap dengan fight stance ku seperti biasa.

Dibalik semak semak itu muncul seekor goblin kumal, berlari dengan pisau batu kearahku. Dengan sigap kutangkis dengan /Buster, akan tetapi...
"Drache Kinha..."
"PRANGG"
Berhasil ditangkis sih berhasil, tetapi disaat yang bersamaan /Buster pun terpecah menjadi 2, karena retak tadi. Goblin itu dan aku sama sama terkejut.

"Awawawa... "
Melihat senjataku rusak, Goblin itu tersenyum, lalu berteriak "KALI INI KAU AKAN BENAR BENAR MATI MANUSIAAAAA!" sambil mencoba menyerangku lagi. Mencoba tenang, kumasukan lagi /Buster yang patah ke sarungnya sambil menghindar, lalu menyiapkan tangan kananku untuk serangan berikutnya.

Melihat serangan keduanya juga gagal, Goblin itu mulai kesal, dan mencoba menyerang lagi. Aku menyiapkan kuda kudaku, menarik tangan kananku sambil mengumpulkan spirit.

"TERIMA NASIBMU MANUSI... KENAPA TANGANMU BERCAHAYA?! APAPUN TRIK ITU, KAU AKAN TETAP MATI! HYAAAAAAAAAA!"

"Heaven and Earth One Strike Sure Kill! Drache Kinhakken, Barehand Special!" Seketika kugenggam perut buncit Goblin itu dengan tangan kananku, kusalurkan paksa spirit yang sudah kukumpulkan ke tubuhnya. Goblin itu berteriak kesakitan.

Dengan tampang slenge'anku, seperti biasa, aku berteriak "Kukutuk kau dengan mencret selama 7 hari 7 malam! Pergi dari hadapanku dan jangan pernah kembali lagi! Explosive Diarhea END!" lalu kupentalkan goblin itu dengan ledakan energi yang tersisa dari tanganku. Memegang perutnya, goblin itu mencoba menyerangku lagi, akan tetapi... Rasa sakit yang amat sangat terasa dari perutnya, menandakan dia perlu pup. Tersujud, dengan kesal ia berteriak "SIALAN KAU MANUSIA! UUUUOOOOH!" lalu suara2 "bom meledak" pun terdengar. Aku meninggalkan area itu, sedikit jijik.

Setelah sedikit berjalan, keluar dari hutan tersebut, akhirnya aku menemukan sebuah kota, dikelilingi tembok batu. Suasana medievil terasa kental sekali. Bahkan Penjaga Gerbangnya juga mengenakan baju besi yang terlihat cukup berat.

Saat aku akan memasuki kota, Salah seorang penjaga memintaku memperlihatkan Pass. Aku langsung memperlihatkan Kartu Anggota Velchen Guild kepada mereka. Setelah beberapa saat, Penjaga itu memasang tampang garang.
"Apa apaan ini?! Kamu pasti seorang Junker! Ikut kami!" katanya sambil menyeretku
"Hei hei! Time out! kamu minta pass, aku beri itu. Bukannya Kartu itu bisa dipakai sebagai Pass di mana saja?!"
" Kamu sinting ya nak? Tidak ada Guild bernama Velchen di Erimidia!" jawab penjaga itu.

Eremidia... Wait! Ini bukan Festiana maupun Zelute?! Lalu, apakah ini? Era Baru yang lain lagi? atau...

Dengan pasrah, aku, Schneide Vanzelt, diseret oleh penjaga untuk diinterogasi...

To Be Continued


"Imagine Iron Man, kill Tony Stark, and replace him with Dinosaurs. That's why Tachikazes are awesome"


2012-07-10, 14:54
PostRe: [StoryPlay] Eremidia : The Legends begin
richter_h 
Salto Master
Hancip RMID
avatar

Kosong
Posts : 1705
Thanked : 30
Engine : Other
Skill : Skilled
Type : Developer
Awards:

The Tale of Vent McGraves
Chapter III


Klik to Chapter II
Klik to Pembantaian Babi Liar dan Seorang Wanita oleh Seorang Petarung Tak Dikenal

"Beneran?" Vent hanya heran dengan cerita salah satu pemburu yang kebetulan nongkrong di bar.

Cerita tentang pembantaian babi liar dan pembunuhan sadis seorang wanita di sisi lain kota dengan cepatnya merebak ke seluruh penjuru kota. Menurut kabar burung itu pula, kota aman dari serbuan babi liar yang mengamuk ke arah kota berkat seorang petarung yang tidak diketahui darimana asalnya. Dia menghadapi kawanan babi liar ngamuk itu sendirian dan tidak terluka segorespun. Namun, tiba-tiba dia malah membunuh salah seorang wanita setelah melindungi kota dari kawanan babi liar.

"Ente cerita seperti orang mabok lima botol bir saja..." Vent tidak percaya dengan cerita itu. "Ane tidak percaya dia bisa menghadapi kawanan babi liar itu sendiri, selama ane enggak lihat sendiri aksinya di depan mata."

"Kau yang pemabuk pun tidak percaya, kita apalagi..."

Seisi bar rame hanya karena cerita itu. Ada yang nanggapin serius, ada juga yang tidak percaya, ada juga yang tidak peduli dengan cerita itu. Vent sendiri terus mendengarkan cerita dari pemburu itu sepanjang malam, disamping beberapa cerita yang pernah diceritakan sebelum Vent datang ke kota Eremidia. Kota ini memang unik, menarik dan pantas untuk ditinggali beberapa saat, menurutnya...

--

Besoknya, dia jalan-jalan ke tengah kota. Dia heran kenapa banyak orang--dengan perlengkapan dan pakaian layaknya pemburu betulan berkumpul di sana. Dia iseng-iseng masuk ke kerumunan dan melihat beberapa poster dan berita dinding di tempat itu. Mereka sebut tempat itu dengan nama 'Quest Hunter,' tempat mencari pekerjaan bagi para pemburu.

"Ah, kamu baru disini, ya?" Tiba-tiba seorang gadis muda, berambut hitam sebahu dengan perlengkapan berburu menyapa Vent yang bengong dengan poster dan berita dinding itu. Gadis itu hanya heran dengan tatapan sedikit kurang ngeh, karena Vent sedang memegang botol bir saat membaca berita dinding.

"Eh, ente salah satu 'hunter' itu ya? ...hmm. Ane jadi inget seseorang di tempat asal ane..."

"Memang, aku adalah Hunter. Sekarang kota lagi butuh banyak tenaga untuk memberantas monster-monster yang semakin banyak bermunculan di sekitar kota. Aku baru saja dapat lisensi Class B."

"Kelas B?"

"Iya. Memang begini sistemnya. Pertama, aku punya lisensi Class D, lalu naik ke Class C, dan sekarang Class B. Makin tinggi Class-nya makin jago si Hunter itu."

Gadis itu lantas menjelaskan apa saja yang ada dan pernah dia dapatkan selama menjadi pemburu. Dia juga menjelaskan bagaimana sistem kerja di Quest Center, membuat Vent hanya diam dan mendengarkan dengan seksama. Dia juga menjelaskan apa saja yang ada di kota; tukang tempa, toko persediaan stok barang, toko perlengkapan, sampai penginapan dan bar yang Vent sudah tau.

"Menarik juga sih," Vent tertegun setelah mendengar penjelasan dari gadis itu. "Tapi ane belum tertarik jadi pemburu. Ane masih punya buruan sendiri di alam liar sana, dan bunuh membunuh bukan gaya ane."

Vent lantas berjalan kembali, melihat-lihat apa saja yang ada di Quest Center itu. Tidak lupa, dia memberi semangat pada gadis muda itu, karena mungkin saja dia tidak bisa melihat matahari esok pagi.

"Semoga leluhur bisa memberi petunjuk ke ente."

Gadis itu hanya heran. Kenapa dia bicara seperti itu, katanya.

--

Setelah dari Quest Center, dia berniat untuk mencari bahan racikan lagi, namun dia mendengar dari salah satu penjelajah yang tadi malam nongkrong di bar ada tempat dimana dia bisa mendapatkan beberapa rumput-rumputan dan tanaman unik bernama White Barley alias Barley putih yang langka. Tempat itu ada rada jauh di timur kota, di kedalaman hutan.

"Semoga ane bisa dapat bahan yang bener untuk minuman dewa..."

Klik to Chapter IV


| My spriteworks | deviantArt | Mark's Quest | Eremidia: Dungeon! |
Developer of:



Supporter of:


Selp-Proclaimed The Most Handsome Member of the Long Lost Glorious


Disini kalo sebagai nubi mau dikritik yang bagus2 biasanya harus ngaku cewek dulu, karena you know lah... -- Brosef numfanklewhat


Terakhir diubah oleh richter_h tanggal 2012-07-10, 19:32, total 1 kali diubah
2012-07-10, 14:56
PostRe: [StoryPlay] Eremidia : The Legends begin
McPherson 
Senior
Senior
avatar

Level 5
Posts : 777
Thanked : 7
Engine : Multi-Engine User
Skill : Intermediate
Type : Mapper
Awards:


The Seeker of Legendary Swordman

Episode 01 : "Pemuda ahli pedang ambisius dari negeri asal Sakura. " Part 1


Location : South East of Eremidia, Faleon City.
"Keluar!! " - Teriak seseorang bertubuh besar dan berjenggot juga berkepala plontos, sambil memegang sebuah wajan berukuran besar. Tampaknya seperti seorang koki.
"Ugh! " - Seorang remaja terjatuh karena didorong oleh koki tadi, dan ia mengenakan kaos berwarna oreng.
"Jangan pikir kau bisa makan di sini lagi dengan gratis! " - Teriak lagi koki tadi.
"Ah, tidak apa-apa, saya sudah bersyukur dapat makan satu mangkok di sini. " - Kata seorang remaja tadi dengan wajah senyum.
"Dasar bocah! Pergi kau! " - Koki kembali marah, sembari kembali lagi ke dalam.
Setelah itu, remaja tadi bangkit berdiri, lalu menyapu pakaiannya yang kotor karena terjatuh, dan bergegas untuk melanjutkan perjalanannya.
"Huff.. Syukurlah masih bisa dapat satu mangkok makanan, hehe.. " - Kata remaja tadi, sambil menengok ke arah langit.
Dia merupakan seorang remaja berusia 17 tahun, yang bernama Kotaro. Ia sangat berambisius, dan seorang ahli pedang,
Ia juga sedang mencari seseorang yang sangat ia pujai dan sambil berusaha memperdalam ilmu pedangnya dalam perjalanannya di negeri Eremidia.
Gambar character
Menyusul

Ia melanjutkan perjalanannya dengan berkeliling kota Faloun. Menurutnya, ia yakin akan menemukan sebuah petunjuk tentang keberadaan seseorang yang ia cari,
sebab ia merasakan auranya di sini.
Tapi ia juga menyadari, kalau ia perlu uang untuk keperluan makanannya. Oleh karena itu, ia pun berjalan mencari perkerjaan.
"Aih, dimana yah saya bisa mendapat perkerjaan? " - keluhnya.
Tiba-tiba, ia mendengar ada suara teriakan untuk meminta tolong.
"Tolong!! Ada perampok! " - Teriak seorang warga kota sambil mengejar perampok tersebut.
"Ah, dia yah! Tunggu, aku akan menangkapnya! " - Kata Kotaro dngan smangat.
Kotaro mengejarnya dngan kecepatan tinggi. Cuman dalam hitungan detik, perampok itu terkejar.
Dan cukup dngan memakai sarung pdang, ia dapat menjatuhkan perampok tsb. Perampok itu juga menjatuhkan uang yang ia rampok.
"Urgh. Sial! Awas kau yah! " - Kata perampok itu dngan kesal, sambil bangkit berdiri dan kabur, namun uangnya ia tinggalkan.
"Terima kasih! Oh yah, apakah kau adalah seorang Hunter? " - Ucap seorang warga tadi, dengan perasaan terkagum-kagum.
"Hunter? Apa maksudmu? " - Tanya Kotaro, sambil mengembalikan uang tadi.
"Ah, rupanya kau dari negeri jauh yah? " - Ucap warga tadi.
"Baiklah, akan kuberitahu apa saja yang perlu kau ketahui di Negeri ini. Sebelumnya, ijinkan aku memperkenalkan diriku, namaku Tony, dengan gelar Sir, aku adalah seorang bangsawan di kota ini.
Entahlah apakah karena gelar ini, aku jadi sering dirampok, hahaha.. Ikutlah aku ke rumahku. " - Ajak Tony pada Kotaro dngan ramah, sambil menunjukan arah kereta kuda miliknya.

Bersambung..


by mobile. :)


Supporter of :

2012-07-10, 16:22
PostRe: [StoryPlay] Eremidia : The Legends begin
NachtEinhorn 
Robot Gedek Galak
avatar

Level 5
Posts : 1274
Thanked : 9
Engine : Multi-Engine User
Skill : Beginner
Type : Developer

Chapter 2: Welcome to the City

Aku diseret ke ruang interogasi. Disana menunggu Kepala Sipir dengan muka mirip gorila plus jenggot yang tebalnya minta ampun. Sesekali ia menggaruk perutnya yang buncit. Ia menatapku dengan sinis.

Setelah berbicara dengan anak buahnya, ia mulai mengintrogasi diriku.

"Jadi kamukah Junker tolol yang berniat mengacau di dalam kota?"
"Heee? Junker? Ap.."
*PLAAAK!*
Belum selesai aku menjawab, Gorila gemuk itu menamparku.
"Kamu berani ya... Minta dijeblosin ke penjara bawah tanah?!"
Pipiku terasa panas. "Ouch, Sakit tauk!" rintihku, sengaja, memancingnya agar lebih naik darah lagi.
"Heh, Bocah ini berani rupanya"
Gorila itu mulai memukulku lagi.

ditengah tengah penyiksaan itu, seorang penjaga tiba tiba masuk ke ruangan. Kepala Sipir menghardiknya "Ada Apa?! Kau tidak lihat aku sedang sibuk?!"
Aku mulai nyeplos lagi "Sibuk bercinta?"
Yang kudapat adalah 1 pukulan di punggung. Wajah penjaga itu memucat, dan berkata pelan " Ketua, setelah melakukan pelacakan lebih lanjut, dia bukanlah Junker yang kita cari. Pass nya mungkin aneh, dan bukan Pass Eremidia, Tapi dia tidak terdapat di list Junker yang kita cari".

"Begitukah?" jawab sang Kepala Sipir. "kalau begitu bawa keluar orang ini!"

Dengan dipapah penjaga tadi, aku berjalan terhuyung keluar. "Maaf ya, Kepala Sipir kami memang terkenal kejam"
"Ahaha, sudah biasa" jawabku menahan sakit di sekujur tubuh.
"Pakaianmu aneh. Kamu bukan dari sini ya?" tanyanya lebih lanjut, mengamati pakaianku yang jadi compang camping.
"Yap, aku berasal dari suatu tempat yang amat jauh"
"Kalau begitu, selamat datang di Erimidia" katanya.
Penjaga itu mengantarku sampai ke dalam kota. Saat aku hendak pergi "Tunggu!" sahutnya.
"Kamu pasti tidak punya uang untuk saat ini kan? ambil ini, kamu akan membutuhkannya, hitung hitung permintaaf maaf atas perlakuan kasar Bos kami" katanya sambil memberiku sekantung uang.

Nah, sekarang, kemana aku harus pergi? Setelah kuhitung uang tadi hanya cukup untuk membeli 1 set pakaian (karena pakaianku udah "beyond repair"), makan dan menginap beberapa malam, dan aku harus mencari senjata baru karena /Buster patah.

Pada malam hari, kumasuki sebuah bar untuk mencari makan. Hiruk pikuk merajalela di dalam bar itu, kudengar ada seseorang berhasil menahan kawanan babi liar... dan membunuh seorang gadis setelahnya. Reaksi orang orang di bar itu berbeda, ada yang merasa orang ini gila, hebat, dsb dsb. Ada juga pemabuk dengan dialek aneh yang tidak percaya akan hal tersebut. "Pembunuh ini menarik" gumamku.

Keesokan harinya, aku berkeliling kota lagi, dan melihat ornag orang mengerumuni 1 papan pengumuman. Aku mencoba melihat papan tersebut, ternyata penuh dengan poster2 request buruan.

"Hei" sesorang menepukku dari belakang. Ternyata penjaga kemarin. "Kau tertarik menjadi Hunter juga?"
"Ah, kau nggak jaga gerbang? Dan aku memang seorang Hunter, S-Class..."
"Aku sedang dalam masa istirahat. Dan kamu mungkin S-Class Hunter, dinegerimu. Tapi di sini, kamu harus punya Hunter Pass dulu"
"Rueppooooooot... dimana aku bisa mendapatkannya?" Penjaga tersebut lantas menunjuk 1 bangunan mungil. "Terima kasih" Aku pun lekas menuju ke sana.
Setelah aku mengisi formulir dan tetek bengek lainnya, akupun mendapatkan Hunter Pass Eremidia. Rank C.
"Oke... sekarang waktunya cari duit!"
Aku kembali ke papan pengumuman itu, dan melihat 1 pamflet quest rank C yang cukup menarik: "Wanted: 5 ikat White Barley. bayaran 5000 RMIDollar"
Aku mengambil pamflet itu, menggenggam tanganku dan berkata "Mission Start!"

To Be Continued


"Imagine Iron Man, kill Tony Stark, and replace him with Dinosaurs. That's why Tachikazes are awesome"


2012-07-10, 17:44
PostRe: [StoryPlay] Eremidia : The Legends begin
LowlingLife 
Administrator
Administrator
avatar

Kosong
Posts : 2000
Thanked : 25
Engine : Multi-Engine User
Awards:

Episode 1 - Failed Reunion

10 A.M - Morning

Huh.. Sampai juga akhirnya... Eremidia. Aku baru pertama kali melihat kota semegah ini. Benar-benar beda. Bangunan-bangunan menjulang tinggi ke angkasa seakan-akan berlomba untuk mencapai langit. Sepanjang mataku melihat banyak sekali orang lalu-lalang di jalanan.

Oh ya! Aku lupa memperkenalkan diriku. Namaku Life. Aku datang ke kota ini dengan maksud untuk bertemu kembali dengan ke-2 sahabatku, Rei dan Clarissa. Mereka sudah seperti orang tua kandungku... Hehehe... 8) Saat aku kecil mereka pernah datang ke desaku dan mengajariku berbagai hal. Bagaimanapun juga, aku sudah berjanji dengan mereka kalau aku sudah besar, aku akan menemui mereka di Eremidia.

Aku masih ingat kata-kata mereka dengan jelas, "Temui kami di ibukota Eremida di bagian Barat. Kami akan menunggumu!" Mereka juga memberi tahuku untuk datang pada jam 10 pagi.

===================================================================================

12 P.M - Afternoon

Sudah 2 jam aku menunggu... Lama sekali mereka datang. Apa mereka terjebak macet? Tiba-tiba dari kejauhan aku melihat sesosok pria yang memakai jaket warna hitam. Siapakah pria itu?

Pria itu mendekatiku sambil berkata : "Apakah anda yang bernama Tuan Life?" Aku tertegun. Bagaimana dia bisa tahu namaku? Dalam hati, aku berpikir tentang kemungkinan terburuk yang terjadi. Apakah dia diutus untuk membunuhku? Ah.. Jangan berpikiran negatif dulu.

Akupun menjawab "Ya..." Pria itu langsung mengeluarkan sesuatu dari dalam jaketnya. "Ini, paket untuk anda. Paket ini sudah 10 tahun berada di kantor kami. Entah siapa yang mengirimkannya. Yang jelas paket itu memiliki pesan untuk dikirim setelah 10 tahun. Tidak ada nama jelas tentang pengirimnya. Kami hanya diberikan pesan untuk memberikannya kepada seseorang yang bernama Life. Katanya Ia akan berdiri di bagian Barat Eremidia pada jam 10. Kami kesulitan mencari anda karena hanya diberikan ciri-cirinya."

Setelah memberikan paket itu, pria itu langsung pergi. Hm.. :hmm: Paket? Dari siapa ya? Sepertinya aku merasa ada yang spesial dengan paket ini.

1 PM - Afternoon

Aku langsung mencari tempat yang teduh karena matahari semakin terik. Aku masuk ke dalam suatu bar. Di papan rumor aku membaca bahwa ada seorang pemuda yang datang membunuh sekawanan babi liar dan katanya sudah membunuh seorang gadis.

Sudahlah... Langsung saja kubuka paket itu.

Hmm.. Tulisannya sudah mulai tidak bisa terbaca. R... E... I.. Rei? C... L... A... R... I... S... S... A...Clarissa? Dari Rei dan Clarissa!? Ada sebuah surat.

Quote :
Kepada Life

Apa kabar? Kami baik-baik saja... Kalau kamu membaca surat ini, berarti sudah 10 tahun berlalu. Kami tidak sabar ingin melihatmu! Life, sebelumnya kami ingin minta maaf karena tidak bisa menemuimu secara langsung. Kami terpaksa menitipkan paket ini sehingga orang lain mengantarkannya karena sebenarnya kami sudah pindah ke negeri Vixephio. Kami bersama rekan-rekan kami lainnya mengikuti projek kerjasama Eremidia bersama Vixephio untuk meneliti tentang F.O.E.

Dalam paket ini terdapat kunci rumah yang dapat kamu tinggali. Di situ juga tertulis alamatnya. Saat kamu sampai ke rumah itu, cobalah buka brankas yang terdapat di kamar no. 2 dengan kode 1342.

- Dari Rei dan Clarissa.

Hmm... Aku harus segera pergi ke rumah itu. Sepertinya ada yang tidak beres..... Mengapa sepertinya ada yang janggal dengan surat ini?

To Be Continued...


There is nothing perfect in this world. So why do you pursue perfection?
~ LowlingLife

Join Ngacay Club!

Cause Ngacay can bring inspiration & makes you healthy!


Terakhir diubah oleh LowlingLife tanggal 2012-07-28, 22:37, total 1 kali diubah
2012-07-10, 18:01
PostRe: [StoryPlay] Eremidia : The Legends begin
Signus Sanctus 
Newbie
Newbie
avatar

Level 5
Posts : 69
Thanked : 3
Engine : RMVX Ace
Skill : Beginner
Type : Developer
Awards:
Chapter 3 Link

------------------------------------------------------------------------------
Chapter IV : Cursed Love



Aku membiasakan diri dengan kehidupan baruku tinggal bersama Leila, kebutuhan hidupku disediakan olehnya, dan ia selalu berada disampingku ketika aku sedang menyendiri, mungkin ia merasa kesepian dan ingin seseorang untuk menemaninya, jadi sebaiknya kulayani saja....



"Apakah kamu akan pergi?"

"Pergi?"

"Apakah kamu akan meninggalkanku lagi...?"

Aku tidak begitu paham kenapa ia sama sekali tidak ingin aku meninggalkannya, namun akupun berterima kasih karena ia mau mengasuhku.....

"Untuk sekarang aku belum ada niat untuk pergi kemanapun, tenang saja...."

Ucapku

"Terima kasih..."

Aku melihat setitik air mata keluar dari matanya, dan aku tak mengerti arti dari air mata itu sendiri....

***

Aku mendatangi Hunter Guild dan menunjukkan Hunter License ku pada GuildMaster di tempat itu.

"Rank C ya...? Untuk sekarang belum ada quest yang pas untukmu, maaf."

"Kalau begitu, ada cara supaya aku bisa mendapatkan Quest level B?"

"Sebegitu perlunya kah kamu untuk menjadi Hunter B Class...?"

Aku hanya memandang tajam tanpa berbicara apapun.

"Untuk menjadi B Class Hunter, kamu harus membayar 15000 Rmidollar dan mengikuti Trial tertentu."

"Trial?"

"Datangi sebuah dungeon di Eremidia bagian utara, disana kamu carilah GemStone of Vigor, jika kau berhasil membawa GemStone itu, kamu akan kunobatkan secara spesial menjadi B Class Hunter"

"Secara Spesial?"

"Biasanya satu - satunya ceremony yg resmi adalah dengan menyelesaikan beberapa Quest C Class, namun jika kamu mampu menyelesaikan Quest B Class yang sudah kamu bayar 15000 itu, kamu secara spesial akan kunobatkan sebagai B Class."

"I see, easy enough~!"

Aku tersenyum sinis mendengar informasinya, dan kukeluarkan kantong uang yang kuambil dari hutan burung tersebut, dan kulihat ada sekitar 50000 Rmidollar

"Wow, uangmu cukup banyak?!? Benarkah kamu hanya seorang C Class Hunter?!?!"

"Sumber penghasilan di dunia ini bukan hanya Hunting kan?"

Senyum sinis ku makin melebar dan makin gelap sambil menyerahkan uang dan menerima Quest tersebut.

***

Kutelusuri Dungeon yang cukup terjal dan berbahaya ini, karena langit - langit dungeon nya seakan mau roboh, diikuti dengan jebakan - jebakan maut yang sudah memangsa ribuan Hunter yang mencoba

"Well, setidaknya monster - monsternya bukan sesuatu yang mengerikan seperti Condor, Garuda, dan lainnya"

Diikuti dengan tumpukan Giant Rat, Spider, Scorpion, dan monster - monster lainnya.

*whush~

Sesaat aku merasakan ada pergerakan orang dibelakangku...

"Mungkin...."

Namun aku tidak perlu menghiraukannya dan terus berjalan menyusuri Dungeon ini.

***

Aku sampai di ujung dungeon dan kulihat permata sebesar badanku berujung diatas sana.

"Dammit...."

sambil aku menyumpat tiba - tiba seekor Troll Golem datang dari atas dan mulai menyerangku dengan membabi buta.



"This is a B Class Quest?!?! You've gotta be kidding me, that's why many people are dying so easily....!"



Sambil aku menghindari beberapa serangan golem tersebut, kuserang tangan dan kakinya, namun efeknya tidak begitu nampak karena kulitnya yang lebih keras daripada Garuda maupun Condor

"Sepertinya sudah saatnya kulakukan ini..."

Aku terus berlari menuju sebuah sudut dan kutebas sebuah dinding dekat situ...

*SLASH'D!!!!!

Dan aku berhasil melukai seorang wanita yang sedang bersembunyi di sudut ruangan tersebut.

"ERIKA!!!!!!"

Seorang lelaki berteriak dari salah satu sudut, dan itu memancing perhatian Troll Golem tersebut.

"Hah! sudah kuduga, sesulit apapun Quest ini, mustahil tidak ada satupun yang berhasil menyelesaikannya, ternyata ini ulah kalian kan, Junker?"

Senyum sinis ku melebar tak tertahankan, wanita yang baru saja kulukai itu memasang muka ngeri dan takut terhadapku.

"Sebaiknya kau tolong partnermu melarikan diri dari Golem sialan itu, sementara aku membawa Vigor Gem ini dulu"

Ucapku sambil berlari mengutamakan pendapatanku sebagai Hunter, sambil tersenyum sinis melihat Junker lelaki itu sedang sekarat setelah menerima serangan telak dari Troll Golem tersebut.

Setelah kulihat - lihat lagi, ternyata ada banyak sekali Gem - gem kecil disekitar batu besar ini, dari sini kusimpulkan bahwa ternyata yang harus kubawa hanyalah batu - batu kecil tersebut, kuambil sebanyak - banyaknya sebelum perhatian Troll Golem itu kembali kepadaku, namun terlambat, Troll Golem itu sudah maju menerjangku yang sedang mengambil Vigor Gem tersebut.....

BRUAKKKKK!!!!

Aku terjepit diantara dinding dibelakangku dengan pundak karang yang dimiliki oleh Troll Golem itu.

"GHUAHK!!!!"

Darah keluar dari mulutku dalam jumlah banyak, tulang - tulangku banyak yang retak, tangan kiri dan kaki kiriku patah, dan aku hampir kehilangan kesadaranku.

"Kedua Junker itu.... kabur ya...."

Sesaat itu juga kedua tubuhku kembali dibungkus api yang panas membara, namun aku sama sekali tidak merasakan apapun karena sarafku sudah mati beberapa, namun aku dapat merasakannya, sesuatu mengambil alih tubuhku, dan aku melontarkan tebasan - tebasan yang lebih berat daripada sebelumnya

"Shinning Blade Cut....!!!"

kumpulan api mulai terkumpul dalam pedangku, membuat pedangku menjadi suatu senjata yang mengeluarkan api yang tajam, panas, dan semakin panjang, kemudian dalam sekejap kutebaskan kepada Troll Golem tersebut dan

BWETTTTSSSSS!!!!

Sekejap tubuh Troll Golem itu terbelah dua, darah langsung muncrat dengan banyaknya dari tubuh Troll Golem tersebut, dan aku berjalan terus menuju pintu keluar dengan terhuyung - huyung.

***

"Erika... kamu tidak apa - apa....?"

Lelaki yang sekarat tersebut memegangi pipi wanita Junker tersebut

"Luke, mari kita hentikan ini..."

"Maksudmu, sebagai Junker...."

"Aku tidak mau lagi melihatmu menderita seperti ini, tidak apa - apa jika kita kembali menjadi tukang angkat barang di Merchant Guild... atau sebagai pengasuh anak.... aku rela... daripada harus melihatmu tersiksa seperti tadi..."

"....................Kau benar.... Pekerjaan seperti ini... tidak seharusnya seperti ini...."

"Luke...."

Dan sesaat itu juga

*ZLEBBBBB!!!!!!

darah mengucur dengan deras dari kepala Erika, mengalir menuju Luke yang terkapar ditanah, kepala Erika telah tertusuk pedang, pedang yang sangat familiar....

"............."

Aku hanya mampu menatap mereka dengan tatapan pembunuh keji, tidak ada rasa simpatik maupun belas kasihan, aku hanya ingin memberikan hukuman pada mereka karena berani mengganggu quest ku....

"Ka... kau...!!!! KENAPA...!!!!! KENAPAAAAAAAAAAAAAA!!!!!"

dan dalam sesaat

*SLASH'D!!!!

Kubelah kedua kepala pasangan itu secara bersamaan, dan kukeluarkan kembali gumpalan api yang bersemayam dalam tubuhku, kemudian kukumpulkan pada pedangku...

"Shinning Blade Cut...."

Kutebas langit - langit dungeon tersebut, menutup dungeon tersebut beserta mengubur kedua junker tersebut selamanya.

to be continued...


The Greatness of Tentacle:
 


Requiem:
 


The Last:
 


Terakhir diubah oleh Signus Sanctus tanggal 2012-07-10, 20:20, total 2 kali diubah
PostRe: [StoryPlay] Eremidia : The Legends begin
Sponsored content 




 

[StoryPlay] Eremidia : The Legends begin

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Kembali Ke Atas 

Similar topics

+
Halaman 1 dari 5Pilih halaman : 1, 2, 3, 4, 5  Next

Permissions in this forum:Anda tidak dapat menjawab topik
RPGMakerID :: Community Central :: Role Playing-