Mulai sekarang, forum RMID pindah ke situs ini. Posting sudah tidak bisa dilakukan lagi.
Mohon maaf atas ketidaknyamanannya dan mohon kerjasamanya.

Share | 
 

 [StoryPlay] Eremidia : The Legends begin

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Go down 
Pilih halaman : Previous  1, 2, 3, 4, 5
2012-07-09, 19:17
Post[StoryPlay] Eremidia : The Legends begin
#1
shikami 
Member 1000 Konsep


Level 5
Posts : 3744
Thanked : 31
Engine : Multi-Engine User
Skill : Beginner
Type : Developer
Awards:


First topic message reminder :

StoryPlay adalah istilah baru untuk sebuah permainan cerita pendek dimana character akan mengembangkan plot dalam suatu setting dan memungkinkan bisa berinteraksi dengan character lain.
dalam storyplay,pemain hanya diberikan sebuah basic background cerita dimana mereka cukup mengembangkan cerita tersebut dengan gaya mereka sendiri. setiap tokoh buatan pemain dapat digodmodding sendiri selayaknya dalam sebuah cerita normal.

Tujuan :
Spoiler:
 
Rules :
Spoiler:
 

Background Story
Eremidia, . .
Negeri indah nan megah terletak di benua forumia. negeri dimana sihir dan ilmu pengetahuan berpadu. para penduduk luar berdatangan menuju ke tempat ini untuk berbagai macam tujuan. demi mimpi mereka, demi cita-cita ataupun demi tujuan yang lebih gelap seperti balas dendam dan ambisi.
namun banyak misteri menyelimuti negeri ini, seolah ada suatu rahasia gelap yang tersembunyi dan siap menghancurkan keharmonisannya.
para orang bijak meramalkan bahwa legenda-legenda baru akan lahir
untuk melindungi atau pun mungkin
menghancurkan dunia.
Peta Eremidia
http://www.nible.org/images/worldmapver2.jpg
< peta ini bersifat temporary, anda bisa menambahkan daerah sendiri di eremidia >

Important Fact
- setting Eremidia adalah antara abad feudal dan pre modern. sekitar 2200 C.Y
cek lebih lanjut di sini
- Eremidia membutuhkan banyak hunter karena kemunculan misterius para monster-monster asing.
- Ibukota Eremidia ini cukup luas terdiri dari 4 bagian kota. dikelilingi tembok raksasa.
ada 4 Quest Center di kota. Quest Center adalah tempat untuk mencari Quest bagi para Hunter.
- para bandit serigala padang pasir/Desert mengacau di wilayah selatan negara eremidia.
- Winhart family adalah keturunan keluarga penyihir yang cukup terkenal di pusat kota Eremidia.

fakta2 lainnya bisa dlihat disini
rmid.forumotion.net/t5706-eremidia-verse-central-database

Richter's stories
chapter 1
chapter 2
chapter3
chapter4
chapter5
chapter6
chapter7
chapter8
chapter9
chapter10
chapter11

Cokre's stories
chapter 1
chapter2
chapter3
chapter4
chapter5

Izn's stories
chapter 1
chapter 2

Clover's stories
chapter1
chapter 2

Signus's stories
chapter 1
chapter 2
chapter3
chapter4
chapter5
chapter6
chapter7
chapter8
chapter9

Roland's stories
Chapter 1[/END]

Nacht's stories
chapter1
chapter2
chapter3
chapter4
chapter5
chapter6
chapter7

mcpherson 's stories
chapter 1

lowling's stories
chapter1

Theo's stories
chapter1
chapter 2
chapter3
chapter4

EmperorAlan's stories
Chapter 1

nisa's stories
chapter 1
chapter 2
chapter3
chapter4

Whitehopper's stories
chapter1
chapter2

Aegis's stories
chapter1
chapter2

Radical Dreamer's stories
chapter 1

Lyonesse's stories
chapter 1

superkudit stories
chapter1
chapter 2
chapter3

yukitou's stories
chapter 1

echizen's stories
chapter1

aidil's stories
chapter1

kabutop's stories
chapter1
chapter2



this is no signature


Terakhir diubah oleh shikami tanggal 2012-07-13, 05:49, total 12 kali diubah

2012-07-14, 15:39
PostRe: [StoryPlay] Eremidia : The Legends begin
fly-man 
Poison Elemental
Anak Cantik


Posts : 917
Awards:

Sebuah Pertemuan

Derap langkah kaki terdengar. Aku hafal betul suara ini. Suara yang benar - benar membuatku harus wasapada, dulu ibu berkata agar aku lari sejauh mungkin jika mendengar derap langkah seperti ini. Langkah kaki, manusia.

Hari ini berbeda, hari ini aku sudah menjadi seorang hangtulah. Bukan... bukan sekedar hangtulah, aku adalah pemimpin para hantulah. Aku harus keluar, menemui suara tersebut, lalu memastikan bahwa sumber suara tersebut tak dapat mengeluarkan suara itu lagi.

Aku bergegas keluar dari kamarku, langkahku berat saat akan keluar dari mulut Goa. ku lirik saja sedikit. Sesosok manusia nampak samar - samar. Bukan, ini pasti bukan manusia biasa... itu yang aku fikirkan seketika, Manusia mana yang bisa dan berani datang sendiri kemari? Dia mau cari mati? Atau ...Ok cukup.. ucapku pada diri sendiri, yang harus kulakukan hanya menerjangnya tiba - tiba lalu mengakhiri ini semua.

Aku melompat, cakarku siap di tancapkan, tanganku mengayun cepat. Sekelebat saja sosok tadi hilang dalam gelap malam. Benar - benar hilang. Namun firasatku berkata lain, aku yakin aku masih merasakan kehadiran sosok yang tak ku kenal ini. Kepalan tangan datang dari arah belakang, hampir mengenai kepalaku. Jika aku tidak diberkahi kekuatan batu hitam itu, aku yakin kini aku sudah jatuh terjerembab di tanah, namun semuanya berjalan lain kali ini, aku mengelak, tangannya berhasil ku raih, aku angkat tanganku tinggi - tinggi, dia menancapkan cakar di dadanya, Zrash... Sosok tersebut hilang kembali, namun kali ini ia muncul lebih cepat. Dari arah kiri, kakinya berusaha menjangkau bagian perutku. Tangan kiriku merespon dengan baik, Tentakelnya mengikat kainya, lalu menariknya hingga ia terjatuh. Sosok itu hanya tersenyum kecut, kemudian menghilang lagi.

Serangannya kali ini datang dari arah belakang, lagi - lagi belakang. Aku benar - benar tidak siap karena posisiku yang menarik kakinya tadi , dengan lutut tertekuk tak memungkinkan untuk melakukan counter attack. Tinjunya melayang cepat , aku mementalkan wajahku terlebih dahulu, agar daya tolak yang dihasilkan dari pukulan tersebut melemah, namun ternyata pukulan tersebut tidak sampai wajahku , aku berbalik secepat aku bisa. Werewolf ternyata menangkap makhluk tersebut, dari arah kiri. Balik pohon, Kobold memanah denagn cekatan, berhasil mengenai betis manusia tersebut, Ogre keluar dari Mulut Goa sambil membawa Gelas Besar berisi air. Wajahnya masih mengantuk. Ia memaksakan keluar karena penasaran ada suara ribut tiba - tiba.

Manusia tadi menggenngam tangan werewolf kuat - kuat, lalu menekukan badannya dengan cepat, mirip dengan gerakan judo. Werewolf terpental, aku yang berada di depannya menunduk, tubuh werewolf menabrak pohon besar. Sesaat setelah tubuh werewolf menghalangi pandanganku, aku tak dapat melihat sosok manusia tadi. 5 Detik berlalu tanpa apa pun muncul, kami semua sudah dalam keadaan siaga, kecuali Ogre yang masih mengumpulkan nyawa.

Makhluk besar datang dari angkasa dengan kecepatan tinggi, berusaha menyerang ke arahku, aku menghindar dengan sempurna. Ya setidaknya sempurna menurut pandanganku. Salah, salah sama sekali!!! aku tidak menghindarinya, tangan kiriku terbakar api hitam. Aku terkejut, namun tanpa pikir panjang aaku mengarahkan tendanganku ke arahnya. Jika tendangan ini kena manusia, tentu dia akan terpental jauh sekali, jatuh tersungkur di tanah, lalu takan sanggup bangun kembali. Berbeda, semua benar - benar berbeda, makhul ini emang terpental jauh, tersungkur ke tanah, sepertinya kali ini ia tak sempat menghilang. Namun tak butuh waktu lebih dari 5 deitk, makhluk ini telah bangkit kembali dengan tegap, entah bagaimana caranya lukanya di lutut akibat panah kobold kini sudah tak tampak, begitu pula bekas tendanganku. Dia mengarahkan pandangan padaku. dalam 5 detik itu setidaknya werewolf sempat mengidentifikasi dengan berucap penuh keyakinan, Howl... Howl... dia mengucapkan itu dengan mata terbelalak. Dan dalam 5 detik itu pula Ogre mendadak memliki respon cepat, dia menyiramkan air dari gelasnya ke tangan kiriku yang terkena api hitam, namun sama sekali tak padam. Aku mulai menyadari kekuatan api tersebut, dan memutuskan tangan kiriku sesegera mungkin sebelum api melahap tubuhku hingga habis tak tersisa.

"Ooooh.. jadi kalian di sini? ", ujar ibu tiba - tiba dari mulut Goa, "Ini, sudah selesai ibu perbaiki", ibu menunjukan mayat beruang yang ku temukan tadi siang tercantel di gadaku. Ya, penglihatan ibu emang sudah kabur sejek beberapa tahun lalu, ibu tak bisa melihat sosok gede bersayap mengerikan, yang ia lihat hanya aku , kobold, dan ogre. Tentu saja ia mengira kalau kami sedang bermain gala asin sehingga menyebabkan keributan.

1, oh kurang, kurang dari 1 detik makhluk besar tadi sudah berada di depan ibu, kamudian berubah menjadi sosok manusia, mengambil mayat beruang tersebut dan berkata, "Tuan winkle?"

Aku bersumpah, jika sejentik saja ia menyentih ibu, hari ini harus ada 1 nyawa melayang, nyawaku ... atau dia si Howl, tangan kiriku menggenggam keras. Menggenggam? ya.. aku tidak tahu bagaimana bisa, tiba - tiba saja setelah aku memutuskan tangan kiriku... aku merasa... dia..

Aku Immortal
2012-07-14, 17:17
PostRe: [StoryPlay] Eremidia : The Legends begin
EmperorAlan 
Senior
Senior
avatar

Level 5
Posts : 622
Thanked : 5
Engine : RMVX Ace
Skill : Very Beginner
Type : Developer

The Beforemath of Crestfallen Heroes

Aldyan Alan
Piece 3
Genre: Humor/Adventure.




Daerah Pinggiran Ibukota Erimidia Timur

Daerah pinggiran ibukota Erimidia bukanlah tempat yang terindah untuk dikunjungi, bahkan menurut laporan beberapa Hunter, ada beberapa monster berkeliaran di daerah sekitar sini, hanya orang yang mempunyai kemahatololan yang kelewatan yang ingin datang kesini ataupun pasangan yang ingin mencari tantangan.

Tapi, untuk dua orang ini, sepertinya kasusnya berbeda.

Duagh, Jeramyu menendang sebuah batu yang cukup besar didepannya, Exiled sendiri sedang serius untuk mencari tanda-tanda seekor mahluk. "Bisa kau ingatkan kenapa kita bisa disini?" tanya Jeramyu dengan kesal.

"Senang kau bertanya, newbie. Kita berdua didaftarkan dalam sebuah misi level C untuk mencari anjing seorang anak Merchant kaya. Terakhir anjingnya lari disekitar disini, dan aku dipaksa untuk menemanimu siapa tahu saja kau mati." jelas Exiled tidak kalah kesalnya.

"Kau tidak bisa menggunakan kemampuan mabukmu untuk mencari anjing itu?" tanya Jeramyu sarkaristis. "Cium pantatku, ayo!" balas Exiled, betul-betul pasangan Hunter yang serasi.

"Kau melihat anjing itu?" tanya Jeramyu lagi. "Tidak, aku mencoba memakai instingku." jawab Exiled seraya terus berjalan. Setelah beberapa saat berjalan dan melewati beberapa bebatuan, Exiled tiba-tiba berhenti. "Ada apa? Kau mau muntah?" tanya Jeramyu yang bingung.

"Keluarkan pedangmu." ucap Exiled seraya mengeluarkan pedangnya juga.

Jeramyu tahu, bahwa akan ada monster yang menyerang, dia tahu dia tak sekuat Exiled. Tetapi dia tentunya tidak ingin mempermalukan dirinya didepan pemabuk yang dua hari yang lalu membuatnya koma sementara. Paling tidak dia puluhan kali berlatih dengan Porter, temannya. Porter sendiri adalah maniak Swordman. Dia sering berlatih dengan giat dan mengajak Jeramyu.

Jeramyu sekejap melirik tembok raksasa Erimidia sebelum sebuah bunyi dentingan pedang menghentikan kesunyian. Dua ekor monster berbentuk lebah menyerbu ke arah Jeramyu dan Exiled. Lebah yang pertama menyerbu ke arah Exiled, tetapi dengan lincah Exiled berhasil menangkisnya dengan pedangnya.

Lebah yang kedua lalu menyerbu ke arah Jeramyu, yang sedikit telat untuk menyadarinya. Alih-alih menyerang, Jeramyu melempar dirinya ke samping untuk menghindari serangannya.

"Hei, newbie! Monster ini tergolong lemah, walau sedikit merepotkan. Mereka juga bisa memakai elemen alternatif Death untuk menyebar racun dari jarum mereka, hati-hati!" jelas Exiled seraya menebas lebah yang menyerangnya, tetapi lebah itu dapat menangkis balik dan terbang menjauh dari Exiled.

"Sial, aku lengah." kutuk Jeramyu, menghadap ke arah lebah penyerangnya. Monster lebah tersebut mempunyai ukuran yang cukup besar dari lebah biasanya, ukurannya mencapai ukuran seekor kucing. Walau begitu mereka kelihatannya cukup gesit.

Sambil berteriak, Jeramyu berlari ke arah lebah tersebut sambil mengeratkan tangannya pada pegangan pedangnya. Lebah tersebut pun ikut menyerbu kembali ke Jeramyu. Jeramyu mengayunkan pedangnya ke lebah itu, tetapi lebah tersebut dapat menghindar.

Jeramyu kehilangan keseimbangannya dan terjatuh ke tanah, "Sial,". Lebah itu pun tak memberi waktu ke Jeramyu dan kembali menyerang. Jeramyu segera mengambil pedangnya yang tergeletak cukup dekat.

"RASAKAN INI!!", batsh! Pedang Jeramyu berhasil mengenai sang lebah yang terlempar ke kiri sebelum menghantam tanah, sebelum menghilang dengan asap hitam. "Apa yang kau lakukan begitu? Berdansa?" ledek Exiled yang sedaritadi sudah membunuh musuhnya.

"Tutup mulutmu, aku masih kecapean karena baru bangun setelah dua hari." kata Jeramyu bangkit dan menyarungkan kembali pedangnya.

"Terserah kau saja. Aku sudah pernah bertemu yang lebih parah dalam menghadapi monster seperti ini." kata Exiled.

*arff... arff*

"Kau dengar itu?" tanya Jeramyu melirik ke segala arah. "Yeah, kedengarannya dari arah sana." lirik Exiled ke beberapa batuan yang bertumpuk.

Mereka berdua lalu berjalan ke arah bebatuan tersebut dan menemukan sebuah sumur yang tua. "Sumur? Kenapa bisa ada sumur disini?" tanya Jeramyu seraya memerika sumur tersebut.

"Kurasa mungkin yang membuat ini adalah penduduk desa yang dulunya ada disekitar sini sebelum digusur. Kelihatannya tidak dalam, aku rasa anjing itu melompat ke dalam sini." jelas Exiled seraya melirik ke dalam sumur.

"Kau punya semacam penerang?" tanya Jeramyu. Exiled lalu merogoh sebuah tas kecil yang diikat di ikat pinggannya dan mengeluarkan sebuah benda silinder bewarna hitam.
"Apa itu?" tanya Jeramyu melihat benda yang dipegang Exiled.

"Ini? Kurasa namanya, uhh, aku rasa namanya 'senter'. Cukup langkah, aku mendapatkannya sebagai hadiah pengganti uang di sebuah misi dulunya. Exiled lalu melempar benda bernama senter itu ke Jeramyu, secara refleks Jeramyu menangkapnya.

"Kau memandu jalanan, aku akan turun duluan." kata Exiled seraya melompat turun ke dalam sumur. "Kenapa aku tidak meninggalkannya saja didalam sumur ini, dan pergi?" pikir Jeramyu.

"Ah, terserahlah. Aku hanya butuh cukup uang untuk saat ini." katanya memantapkan pikirannya sebelum ikut meloncat turun.




Jeramyu mencoba menyusuaikan matanya dengan kegelapan disekitarnya sebelum melihat Exiled yang mendekat. "Menemukan sesuatu?" tanya Jeramyu, rasanya sudah tidak terlalu gelap.

"Aku rasa, ikuti aku." kata Exiled berjalan menjauh.
"Aneh, aku tak pernah menemukan sebuah sumur yang begini luas." kata Jeramyu sambil mengarahkan senternya ke berbagai arah.
"Hei! Tetaplah menghadap ke depan! ...Aku juga terkejut, kurasa mungkin ada orang yang tinggal disini." kata Exiled.

*arff arff*

Setelah berjalan cukup jauh, mereka menemukan seekor anjing yang berada didepan sebuah genagan air. "Heh, itu dia anjing tolol yang kita cari." kata Jeramyu mendekat ke arah anjing itu.

"Ciri-ciri anjingnya cocok, ayo, kita kembali." kata Exiled mengingat kembali ciri-ciri yang dijelaskan sang Merchant dan anaknya. "Sabar sedikit, kenapa?" katanya seraya mengangkat anjing itu.

Tiba-tiba, air yang ada digenangan di belakang Jeramyu mengeluarkan gelembung aneh, hal ini tidak luput dari mata Exiled. Dan perlahan sebuah sosok besar keluar dibalik genangan air itu, tanpa dilihat Jeramyu.

"HEY! NEWBIE!! AWAS!!" teriak Exiled memperingatkan Jeramyu. Jeramyu melirik ke arah belakangnya tepat ketika sosok itu mengayunkan tangannya. "Holy sh*t!!" Jeramyu melempar dirinya dengan paksa untuk menghindari serangan sosok tersebut.

Ketika Jeramyu terjatuh, dia juga ikut menjatuhkan senter yang dia pegang. Exiled lalu mengambil senter yang jatuh tak jauh dari kakinya dan menyinari sosok tersebut... seekor monster.



"Gawat, monster level B." kata Exiled menggertakkan giginya.

To be continued...
2012-07-14, 18:39
PostRe: [StoryPlay] Eremidia : The Legends begin
hyperkudit 
Pahlawan Super
avatar

Level 5
Posts : 2288
Thanked : 30
Engine : RMXP
Skill : Very Beginner
Type : Artist
Awards:

Quote :
About Howl
Quote :

Previous Chapter

Related Story

chapter 8 : Second Contract.

"Tuan Winkle!!!" aku benar-benar kegirangan, kuambil tuan Winkle dari tangan wanita tersebut, ya kurasa dia goblin wanita.

"tuan Winkle, bagaimana keadaanmu? apa kau baik-baik saja? kau tidak nakal kan?" tanyaku bertubi-tubi pada sebuah boneka, walau aku tahu dia tidak akan menjawab, terlihat bodoh memang. Goblin wanita yang berdiri didepanku terkejut melihat kehadiranku, mungkin karena wujud manusia ini, karena kudengar Goblin bangsa yang menghindari kontak dengan manusia.

"IBU!! masuklah, orang itu berbahaya!!" terdengar suara pria yang menyerangku tadi. Aku mengingat suaranya, tapi tidak dengan wajah itu, wajah yang menyeramkan dengan tubuh yang cukup besar.

*sniff.. sniff

Aku berusaha mencium bau darahnya, kuharap bisa mengenali orang ini. Ya.. aku memang cukup jago dalam mengenali seseorang dari bau darahnya, aku juga bisa memprediksi bagaimana rasa darah seseorang dari aromanya, dan jelas-jelas orang ini punya darah yang pahit.

"eh?? jadi kau Shirloin-something? kau cepat sekali besar?"

Buk!!

Baru saja aku menyelesaikan kalimatku Shirloin-something mendaratkan pukulannya kewajahku, mukaku serasa masuk kedalam dan kuharap ketampananku tidak berkurang setelah terkena pukulan sekeras itu.

"grrr... menjauh dari ibuku!!" kudengar dia menggeram kepadaku, matanya melotot dan tampak sangat marah, sepertinya ini memang kesalahpahaman. Aku kembali berdiri, mengusap darah yang keluar dari hidungku. Aku hampir tidak ingat kapan terakhir kali melihat darahku sendiri,tapi yang kutahu, Shirloin-something jauh lebih kuat dan cepat dari pertama kali aku bertemu dengannya.

"Apa maumu disini?" tanya Sirloin-something, masih sama, dia masih suka mengintrogasi dan mencekokiku dengan pertanyaan.

"aku hanya ingin menjemput tuan Winkle." jawabku enteng.

"jangan bercanda!! aku sudah melihatmu berubah wujud menjadi babi besar bersayap! katakan, siapa kau sebenarnya?! jenis apa dirimu ini?! apa tujuanmu?!"

JLEB!!

babi besar bersayap... babi besar bersayap... babi besar bersayap... babi besar bersayap...

Dikepalaku berputar-putar babi aneh bergaris putih dengan sayap kelelawar. Seolah memukul-mukuli kepalaku dan mengejekku dengan bokong besarnya.

*cough

"pertama aku bukan babi bersayap... aku memang bersayap tapi aku bukan babi." ralatku, aku benar-benar mulai jengkel dengan lelucon babi ini. Mataku melihat-lihat ke sekeliling, lalu menunjuk werewolf yang sempat menyerangku.

"kurasa aku lebih mirip dia, hanya saja lebih macho, garang dan tampan." semua mata mendadak tertuju kepada werewolf itu, membuatnya salah tingkah dan menjelaskan kalau dia tidak tahu apa-apa. Mereka terlihat masih bingung, merasa tidak percaya padaku bahwa aku bukan manusia, hanya Shirloin-something yang pernah melihatku tapi kurasa itu tidak akan membantu karena sepertinya Shirloin-something masih tidak yakin bahwa aku tidak memihak manusia. Ya.. aku memang tidak memihak kepada siapapun, setidaknya saat ini.

"Dengar.. perjalananku kesini sudah cukup melelahkan, aku tersesat dihutan dan tiba-tiba terbangun disebuah ruangan dengan seorang pria konyol berambut perak dan orang-orang yang membuatku memutar otak, setelah itu tersesat lagi di kota Capital, lalu berhasil keluar dan tersesat di hutan, lalu di ejek oleh anak-anak dan kalian... bisakah kalian membiarkanku pergi dengan tenang, sehingga tidak akan ada yang terluka disini?" gerutuku panjang lebar.

aku memang sudah cukup sebal semenjak keluar dari penjara, hariku memang sial.. sangat sial.

"tunggu sebentar, kau bilang kota? maksudmu kota Eremidia?" tanya Shirloin-something sembari mengarahkan gadanya ke leherku.

"tidak, maksudku memang kota Capital, kau tahu? Capital itu bagian dari Eremidia, jadi pada dasarnya Eremidia adalah kerajaan sedangkan Capital adalah ibukotanya." aku menurunkan gada Shirloin-something sambil memberinya les singkat, tindakan membuatnya melompat mundur, mungkin mengira aku akan menyerang.

"untuk apa kau ke Eremidia? apa kau mata-mata manusia?!" geramnya.

hahh... kurasa ini akan menghabiskan malam, dia benar-benar tidak mengerti.

"dengar, sebelumnya namanya Capital, bukan Eremidia, dan aku tiba-tiba muncul disana, bukan datang kesana.. seseorang membawaku kesebuah penginapan di kota itu."

aku memberi jeda pada kalimatku untuk menarik nafas.

"lagipula tujuanku kesini hanya untuk menjemput tuan Winkle, dan menanyakan sesuatu kepadamu."

"apa yang ingin kau tanyakan!? dan bagaimana manusia tidak sadar dengan keberadaan mu?" tanyanya.

"hello... tanyakan pada diri kalian sendiri, kalian bisa mengira aku adalah manusia.. tentu saja para manusia juga begitu!" aku memberikan nada mengejek pada kata-kataku, saking kesalnya pada mereka.

"oh... begitu, aku mengerti.. jadi benar kau bukan mata-mata manusia?" Shirloin-something kembali menanyakan hal tersebut.

PLAK!!

aku menepuk dahiku, entah berapa kali dia menanyakan hal itu, dan kenapa juga mereka berpikiran sangat serius jika manusia akan menyerang Goblin? di kota aku bahkan tidak mendengar seseorang membicarakan Goblin, topik yang sedang hangat disana adalah dikalahkannya Chrome Disaster. Kurasa Shirloin-something terlalu besar kepala dan menganggap dirinya bahaya terbesar bagi bangsa manusia.

"tidak, sudah kukatakan padamu.. boleh aku pergi sekarang?" aku sudah mulai jenuh dengan situasi ini.

"hmm.. kau tidak seperti orang jahat.. mau kah kau bergabung dan menjadi anak buahku?" katanya tiba-tiba.

WHATT!!!!! Reaksi macam apa itu!! sikap waspadanya kepadaku langsung hilang.. aku tidak percaya dia bahkan bisa memimpin pasukan kecil. Tapi melihat bagaimana kerja kelompok dan kepercayaan mahluk-mahluk lain disekitarku kepada Shirloin-something, aku yakin dia memiliki kharisma tersendiri sebagai seorang pemimpin. Aku memang sudah tahu dia bukan orang sembarangan, itu karena aku merasakan hal yang berbeda dari terakhir aku bertemu dengannya.

ya.. aku merasakan setitik aura Magus pada Shirloin-something, jauh lebih kecil dari pria berambut merah di bar, tapi aura itu selalu bisa tertangkap oleh indra ku.

---------------------------------------------------------------------------------------

"Jadi.. apa yang ingin kau tanyakan?" tanya Shirloin-something kepadaku. Ngomong-ngomong kami sudah berada di dalam gua, di kediaman Shirloin-something dan disambut dengan hangat. Mereka seperti melupakan kejadian diluar tadi, ibu Shirloin-something menyuguhkan sup hangat kepadaku, setidaknya itu makanan yang cukup lezat dibandingkan darah dan daging mereka yang sudah pasti terasa pahit, sama seperti rasa Ucok.

"hey.. Shirloin-something, apa kau tahu tentang Magus?" tanyaku.

"Magus? tidak pernah dengar.." sahutnya, lalu kembali menyeruput sup di mangkuknya.

"hoo.. aku dengar dia adalah pangeran kegelapan yang berusaha mengalahkan umat manusia." jawab ibu Shirloin-something sambil mencuci perabotan.

Jleb..

pangeran kegelapan.. pangeran kegelapan.. Prince of Darkness...

Apakah dunia ini tidak memiliki undang-undang yang melarang plagiarisme hak cipta?? Prince of Darkness adalah gelar bangsawanku sebagai salah satu raja bumi. Magus mencuri kekuatanku, selanjutnya salahsatu julukannya.. lalu apa?? mencuri kekasihku??
Aku bersumpah jika melihat Magus meniduri kekasihku akan ku potong kemaluannya, lalu kumasukan ke bokongnya.

"err.. ya, apa kau tahu dimana dia sekarang?" tanyaku dengan senyum terpaksa kepada ibu Shirloin-something.

"dia dibunuh oleh Sir Dnasman seribu tahun lalu, tindakannya yang mengumpulkan semua monster dan melawan kebiadaban manusia menginspirasi kami para goblin.. dia itu bagai pahlawan.." jawab ibu Shirloin-something dengan berbinar-binar.

JLEB!!.. pahlawan katanya, bagiku Magus hanya seorang penipu dan pencuri pengecut.

"err.. apa kau tahu informasi lebih tentangnya? misalkan dimana dia dimakamkan atau tujuh dewa yang dia ciptakan?" tanyaku lagi.

"tidak tahu.. tapi jika ada mahluk yang diciptakan Magus, ajak juga Shirloin menemui mereka.. mungkin mereka mau menjadi anak buahnya, kau dengar Shirloin?"

"yaa.. buu..." Shirloin menjawab dengan ogah-ogahan.

sementara aku hanya membatu, salah satu alisku bergetar mendengar percakapan aneh yang membuat hatiku tertusuk-tusuk itu yang diucapkan dengan santai layaknya perbincangan ringan saat makan malam.

"hey.. dengar Shirloin-something, aku akan membantumu memperkuat 'pasukan' mu, dengan satu syarat.." bisik ku Shirloin-something.

"apa itu?" gumamnnya, mulutnya masih penuh dengan daging dari sup itu.

"bantu aku menemukan Magus." gumamku dengan nada berat, kubuat sedikit kegelapan menyelimutiku, lagi-lagi demi alasan dramatisasi.

"deal.." jawabnya singkat sembari mengulurkan tangan kanannya..

Akupun sepakat dan menyalami tangannya, ya.. kurasa ini kontrak dari orang kedua yang menemuiku, walau ini bukanlah kontrak yang resmi dan benar seperti apa yang dilakukan Magus sebelumnya, tapi ini saja sudah cukup. Setidaknya kali ini bukan aku yang sedang dimanfaatkan.

-to be continued-


Terakhir diubah oleh superkudit tanggal 2012-07-15, 10:56, total 1 kali diubah
2012-07-14, 21:26
PostRe: [StoryPlay] Eremidia : The Legends begin
Oscar 
Senior
Senior
avatar

Level 5
Posts : 830
Thanked : 13
Engine : RMVX
Skill : Beginner
Type : Writer

Merchant Princess


Episode 1: Artana Agile, The Merchant Princess




19 Tahun yang lalu

Northreach, Ironwood Village
Afternoon, 01.00 PM

Narrator: Redoric Rothgar

Aku bersama pasukan banditku pergi menunggang kuda melewati bukit menuju ke desa. Suara gemuruh kaki kuda seakan menggetarkan tanah selagi kami melewatinya. Kami membawa barang-barang hasil rampokan karavan keluarga Moire.

Sebenarnya kami tidak mau berurusan dengan keluarga Moire, tapi kali ini berbeda. Marvis Moire sengaja membayar kami untuk merampok karavannya sendiri.

Aneh memang, tapi aku tidak peduli, yang penting kami bisa memiliki harta dan makanan yang cukup untuk desa.

Kami menunggang kuda menuruni bukit. Angin bersalju Nortreach menerpa wajahku. Aku berada paling depan, sementara di sampig kiriku adalah seorang yang paling aku percaya. Nama orang itu Arthar Aglile.

Sesuai dengan namanya, ia memang lincah dan lihai saat menggunakan belati. Kami berdua sering melewati bahaya bersama.

Kali ini dia sedang berkuda dengan satu tangan. Tangan kirinya memegang tali dan tangan kanannya membawa sesuatu. Seperti buntelan. Sesuatu yang dibungkus dengan kain. Seperti sesuatu yang begitu berharga.

"Hei... Arthar! Apa yang kau bawa?" tanyaku disela-sela deru kuda. Aku harus mengeraskan suaraku agar lebih terdengar.

"Bukan apa-apa," jawabnya sambil sedikit berteriak.

Aku tidak tahu apa yang dibawanya. Tapi dia memeganginya begitu erat, seakan tidak membiarkannya jatuh.

Akhirnya, kami pun sampai di desa, aku turun dari kudaku. Para anak buahku disambut gembira oleh para penduduk. Kami menurunkan barang rampasan, anak-anak kecil berlarian berebut makanan yang kami bawa.

Ya, kami memang bandit. Tapi kami bukan bandit biasa. Kami merampok, merampas, tapi memberikan hasilnya pada desa kami. Desa Ironwood.

Desa kami adalah desa yang ditinggalkan oleh Jarl kami. Tanah kita tandus, produksi juga tidak begitu cukup untuk dibagikan sebagai upeti. Akhirnya Jarl meninggalkan desa kami, tidak mau mengurusi keluhan-keluhan yang kami ajukan dan kami berakhir menjadi bandit.

"Ayah... ayah...!" teriak seorang anak berusia 5 tahun yang mengampiriku. "Ayah membawa roti manis?" tanyanya dengan wajah polosnya.

"Oh... Varengir," ujarku sambil menggendongnya. "Tentu saja aku membawanya. Hei Falkan!" teriakku pada seorang anak buahku yang sibuk mengeluarkan makanan dari karung. "Lemparkan aku segulung roti manis!"

"Baik tuan Rothgar!" katanya sambil mencari-cari sesuatu. Tak lama kemudian ia melemparkanku segulung roti manis.

"Nih, roti manis untuk jagoan ayah," kataku sambil memberikannya ke Rothgar kecil. Lalu mataku tertuju pada Arthar. Ia masih memandangi buntelan itu.

"Kau turun disini ya? Jangan nakal!" kataku sambil menurunkan Varengir. Bocah laki-laki kecil itu tidak menggubrisku dan sibuk dengan roti manisnya.

Aku berjalan menghampiri Arthar. Ia sedang bergumam-gumam pada buntelan itu.

"Tenang, ayah ada disini, kau tidak perlu takut." gumamnya sambil menepuk-nepuk halus buntelan itu.

Mendengar gumaman dan gerak-geriknya, ternyata buntelan yang tampak berharga itu berisi seorang bayi.

"Kau membawa seorang bayi?" tanyaku tidak percaya.

"Oh... Redoric, aku... aku tidak tahu harus berkata apa." ujar Arthar terbata-bata.

Aku menghela nafas. Baru kali ini dia tidak melaksanakan tugasnya dengan baik.

"Dengar Arthar," kataku sambil memegang pundak temanku. "Kita dibayar untuk membunuh apa saja, tanpa meninggalkan saksi disana."

"Tapi... apa kau tega membunuh seorang bayi? Lagipula dia juga tidak tahu apa-apa. Dia tidak akan pernah tau kalau tidak ada yang cerita." jawab Arthar.

Aku melirik bayi yang ada di buntelan kain itu. Dia tampak manis dan sedang tertidur. Dia tampak begitu damai seolah dia tidak pernah sadar kalau baru saja ada pembantaian di sekelilingnya.

"Dia cantik," komentarku. "Akan kau berni nama siapa?"

"Artana..." jawab Arthar singkat. "Artana Agile"

"Nama yang bagus," komentarku singkat. Lalu pandangaku tertuju pada kalung yang dikenakan bayi itu. Aku begitu terkejut setelah melihat kalung itu. Ada simbol keluarga Moire di gantungannya.

"Dia anak Marvis Moire!" pekikku.

Arthar memandangiku dengan pandangan terkejut.

"Sekarang semua masuk akal, kenapa si Marvis brengsek itu tiba-tiba meminta kita merampok karavannya." simpulku. "Dia menginginkan bayinya mati."

Arthar memandangiku seolah-olah dia tahu apa yang akan aku katakan selamjutnya.

"Kita harus membunuhnya,"

"TIDAK!" jawabnya lantag. Baru kali ini dia berani menjawabku. Matanya yang tampak jujur dan tajam itu memandangiku. "Aku akan membesarkannya, aku berjanji tidak akan memberitahu siapa dirinya."

Bayi yang dipegangnya tiba-tiba menangis. Arthar lalu melepas kalung yang ada di leher bayi itu.

"Ini akan menghapus siapa sebenarnya dirinya," kata Arthar sambil menggenggam kalung itu di tangan kanannya. Lalu ia melempar kalung itu ke jurang di tepi kami berdiri.

"Baiklah," simpulku. "Kau bisa merawatnya, aku harap dia tidak menghambatmu bekerja denganku."

Lalu aku pergi meninggalkannya, aku berhenti dan menoleh ke belakang. Aku melihat sahabatku yang terkenal sadis bisa luluh hatinya hanya dengan seorang bayi. Aku hanya tersenyum.

"Artana Agile, seorang Putri Saudagar, terdengar lucu" gumamku.



There are 1 and 0 kinds of people in the world: Those who understand binary and those who don’t.

nitip emot favorit dolo:

(╮°-°)╮┳━┳... (╯°□°)╯ ┻━┻


Terakhir diubah oleh Oscar tanggal 2012-07-15, 10:54, total 1 kali diubah
2012-07-14, 22:26
PostRe: [StoryPlay] Eremidia : The Legends begin
richter_h 
Salto Master
Hancip RMID
avatar

Kosong
Posts : 1705
Thanked : 30
Engine : Other
Skill : Skilled
Type : Developer
Awards:

The Tale of Vent McGraves
Chapter XIV


Klik to Chapter XIII

Sudah dua hari perjalanan Brom Sradovirr bersama Vent dan Vischelia ke kota Remorr menggunakan karavan, yang ternyata cukup jauh dari Northreach. Menyusuri Lembah Frostriver, dimana yang terlihat di kiri tebing di kanan tebing dan hanya salju dan tebing sejauh mata memandang. Di antara bebatuan dan pohon yang suah mati, mereka berniat berhenti untuk sekedar istirahat dan makan-makan. Memang, perjalanan selama dua hari itu mengejutkan terutama bagi Vischelia.

Roti kering dan biang madu menjadi santapan mereka, kecuali Vischelia yang Vent larang untuk minum; dia diberi susu hangat sebagai ganti biang madu yang pernah membuatnya mabok berat dan lupa diri.

"Kalo aja kita ketemu sama oom Brom, ente kemaren ngga minum biang madu itu." Ucap Vent menjawab tatapan Vischelia yang menggodanya untuk memberikan setetes biang madu pada gelas tingginya itu. "Sudah, minum susu kambing sanah..."

Vischelia menjawabnya dengan makan roti kering dan minum susu kambing jatahnya dengan wajah cemberut.

"Memang untuk gadis kecil sepertimu itu minum minuman keras tidak baik..." Timpal Brom.

Angin semilir dingin bertiup di lereng pegunungan itu. Terlihat matahari mulai turun . Mereka harus segera bergegas atawa mereka akan terjebak di kedinginan lereng pegunungan bersalju abadi.

--

Malam kedua dalam perjalanan mereka ke kota Remorr. Menyusuri tanah bersalju dengan beberapa pohon pinus, Mereka masih belum melihat tanda-tanda kota terlihat di horizon. Namun, yang membedakan malam ini dengan malam kemarin adalah langitnya. Ya, langit Northreach berbeda dengan langit Eremidia malam itu; terlihat sinar-sinar yang terjalin teratur seperti tirai, dalam beberapa warna dan rupa, menghiasi langit malam Northreach yang cerah. Vischelia takjub melihatnya, dan dia ingin sekali melukis langit malam itu.

"Kalian belum pernah lihat langit seperti ini ya?" Brom hanya tertawa saat Vischelia begitu antusias mengeluarkan perlengkapan melukisnya. "Memang jika malam cerah selalu nampak aurora. Tidak aneh bagi kami, orang utara, melihat karya para dewa ini."

Vent--sambil minum biang madu Nord ikut melihat langit malam itu. Dia termenung, dan dia mengatakan, "Dulu pas di Northrend, Charlotte juga ngatain kata-kata yang sama kayak Pissel tadi katakan. Dia juga ingin sekali menggambarkan apa yang dia lihat saat itu..."

Vischelia hanya heran, siapa Charlotte yang Vent selalu sebut? Sepertinya, Charlotte itu adalah seseorang yang sangat berarti bagi pemuda mabuk itu, gumamnya. Apa jangan-jangan Charlotte itu... Ah, tidak mungkin. Pikirnya, mana mungkin Vent bisa dapat seorang kekasih? Daripada pusing memikirkan hal begituan, Vischelia lantas mulai melukis keindahan langit yang kata oom Brom 'lukisan para dewa' itu.

Perjalanan masih berlanjut. Kota Remorr sepertinya masih jauh. Sepertinya akan memakan beberapa hari lagi untuk sampai ke kota itu...

Vischelia masih berusaha melukiskan langit itu. Sepertinya warna yang diperlihatkan aurora di langit itu sangat banyak, namun Vischelia punya warna yang tidak kalah banyaknya. Hmm... Keindahan yang pantas diabadikan, gumamnya. Dia terus melukis, melukis, melukis... sampai tidak sadar dia tertidur dan kepalanya bersandar pada pundak Vent yang masih menikmati biang madu Nord. Vischelia tidak terganggu dengan napas bau birnya Vent, sepertinya dia terbiasa dengan bau itu. Mungkin karena dia sudah minum dua jenis bir, makanya dia nyaman-nyaman saja bersandar pada pundak Vent.

"Pemuda pemudi jaman sekarang..." Brom hanya geleng-geleng kepala melihat Vent dan Vischelia, lalu kembali mengendalikan karavannya.

--

"Sudah sampai?!"

Pagi-pagi buta mereka sudah sampai di sebuah kota kecil. Ya. Kota Remorr. Mereka sudah sampai, kata Brom. Mereka ada di depan gudang minuman milik Sir Muro, temannya Brom.

"Ah, jadi kamulah yang Bromski ceritakan tadi..." Lelaki berjanggot brewok seperti lebatnya hutan pinus Nord's Peak itu dengan hangat menyambut kedatangan Vent dan Vischelia. "Kudengar kamu bisa membedakan banyak jenis minuman dan tahu bagaimana karakter bir dan minuman lain. Sepertinya aku bisa minta tolong padamu."

"Di hutan barat Nord's Peak, ada satu bahan bir Homebrew yang unik; Akar Hucklewood. Banyak sekali sampai bisa dibuat beberapa puluh barel Bir Hucklewood, namun tempat itu dijaga oleh para Goblin Es dan salah satu mahluk Ancient bernama Sappling. Tidak ada yang berani ke sana tanpa bantuan beberapa orang petarung dari Wolfenhunter." Muro memberitahukan apa yang dia maksud dengan 'meminta tolong' pada Vent.

"Tapi jika kamu ingin melihat dan mungkin memanen beberapa ikat, kamu boleh pergi ke sana bersama Sven, orang terbaik Wolfenhunter sekaligus teman kami."

Tawaran dua sekawan itu menarik perhatian Vent, terlebih nama bahan yang dimaksud belum pernah dia temui sebelumnya.

"Boleh, boleh..." Vent angguk-angguk setelah mendengarkan penjelasan singkat tentang akar Hucklewood. "Kayaknya asik banget tuh akar itu..."

"Besok pagi, Sven akan menunggumu di sini. Sementara, kamu dan pacarmu bisa singgah di penginapan punya John Barrelmore. Bilang saja kamu temannya Brom."

Apa? Pacar?! Vischelia kaget saat dia dianggap oleh Brom selama ini adalah pacarnya Vent. Dia spontan berkata dengan wajah yang memerah,

"Aku bukan kekasih Vent! Aku cuma teman Vent!"

Brom dan Muro tertawa mendengarnya.

"Tentu saja, gadis manis," Brom yang masih tertawa menjelaskan, "Dari pertama kali aku melihatmu, aku sudah tahu soal itu. Dan juga Vent sudah memberitahu tentang dirimu itu. Sudahlah, kalian pergilah ke tempat John dan beristirahatlah. Kota ini juga punya beberapa tempat bagus untuk dikunjungi, jadi sempatkan diri untuk jalan-jalan."

Lalu mereka membawa bawaan mereka ke penginapan milik John Barrelmore, terhalang beberapa rumah dari gudang minuman Muro. Apa tadi memang kesalahpahaman atau mereka tidak menganggap serius kata-katanya, pikir Vischelia.

Klik to Chapter XV


| My spriteworks | deviantArt | Mark's Quest | Eremidia: Dungeon! |
Developer of:



Supporter of:


Selp-Proclaimed The Most Handsome Member of the Long Lost Glorious


Disini kalo sebagai nubi mau dikritik yang bagus2 biasanya harus ngaku cewek dulu, karena you know lah... -- Brosef numfanklewhat


Terakhir diubah oleh richter_h tanggal 2012-07-16, 13:31, total 2 kali diubah
2012-07-15, 12:55
PostRe: [StoryPlay] Eremidia : The Legends begin
DrDhoom 
Doomed Zombie
avatar

Level 5
Posts : 629
Thanked : 22
Engine : Multi-Engine User
Skill : Intermediate
Type : Scripter

Previous Chapter

Chapter 4: In Cage

Aku terus berlari... Kuhiraukan mereka yang berteriak teriak di belakang ku... Tinggal satu langkah lagi menuju gerbang, tiba - tiba penjaga di gerbang tersebut langsung menutup gerbang, sehingga akupun terbentur dan jatuh. Seketika aku langsung di gebuki dan di ikat bagaikan seorang narapidana. Padanganku kabur, dan akupun pingsan.

....

Aku mendengar suara gemerisik di sekitarku, seketika kubuka mataku. Kulihat ternyata hanya sekawanan tikus yang lewat dan kaget akan kehadiranku. Mereka langsung masuk kedalam lubang kecil yang ada di lantai dan menghilang. Aku mengeram kesakitan akibat kejadian yang tidak lama menimpaku. Tangan dan kakiku terikat rantai, cukup kuat untuk menahanku. Aku berada di sebuah ruangan lembab, dengan jeruji besi didepanku. Aku tebak, ini pasti penjara. Disekitarku sangat gelap. Satu - satunya cahaya yang ada hanya sebuah lilin di atas kepalaku yang ditaruh di atas sebuah lempengan besi.

Gelap... Pikiranku buyar. Aku memejamkan mataku. Aku tidak tahan akan kegelapan ini. Ini adalah penyiksaan terbesar bagiku. Rasanya, aku ingin bunuh diri sekarang juga.

to be continued
2012-07-15, 16:21
PostRe: [StoryPlay] Eremidia : The Legends begin
Aegis 
Legendary
Legendary
avatar

Level 3
Posts : 2152
Thanked : 56
Engine : Multi-Engine User
Skill : Very Beginner
Type : Artist
Awards:


Chapter 3 : The Emejing SpiderAnus And The Goat's Salty Water Art

JRENG, tiba-tiba, ujug-ujug, sekonyong-konyong, eng ing eng, bakekok, cilukba, sesuatu yang harusnya tidak boleh disebutkan tersebut, benda yang dimiliki hampir semua orang maupun hewan di dunia, sesuatu entiti gaib dan ajaibku itu terasa sangat gatal, sangat gatal sekali banget, yaitu lubang pantatku. Ya, merasakan anus yang sangat gatal banget itu, otakku yang biasa dipakai cuma 1%, sekarang naik 0.1%, sungguh ajaib,bukan otaknya, tapi rasa gatalnya yang ajaib. Rasanya sangat ingin digaruk-garuk, dipencet-pencet, ditonjok-tonjok, dicaci maki, diberi sms ma minta pulsa, tapi pada waktu itu keadaan taman sudah sangat ramai, kemungkinan melakukan tindakan-tindakan memalukan yang bener-bener di atas batas kewajaran adalah tidak ada kemungkinan. Ya pokoknya begitulah intinya.

Saking gatalnya, aku pun tidak bisa berpikiran jernih, walaupun sebelumnya pun kurang bisa berpikiran jernih, padahal udah minum air jernih tiap hari. Mungkin rasa gatal ini adalah gara-gara aku cebok pake daun gak jelas tadi malam. Pada waktu itu. aku serasa dikhianati, sekali lagi seperti kesambar geledek, dikhianati oleh si daun, terutama si klorofil. Ternyata hanya namanya saja yang keren, padahal udah rencana kalo punya hewan kayak kura-kura atau batu bakal dinamain klorofil, kalo punya kolor baru juga pengen dinamain kolorfil, tapi harapan itu pupuslah sudah, sialan kamu klorofil.

Di situasi yang genting itu pun, aku memperbaiki genting rumah orang lain. Tanpa sadar aku pun melakukan hal-hal yang tidak perlu, seperti berjalan sambil moonwalk dengan dua tangan, ataupun makan nasi pakai snack pilus. Di tengah-tengah neraka dunia yang menggila tersebut, tiba-tiba pikiran ku bekerja agak lebih cepat sedikit sekali, aku harus menghilangkan rasa gatal ini. Namun ketika kutanya orang-orang di sekitar taman, tidak ada yang mau menggaruk pantat ini. Padahal mereka pun sering garuk-garuk pantat sendiri, apa bedanya pantatku dengan pantatnya ? Aku harus mencari air untuk cebok dan menghilangkan rasa gatal ini. Aku pun berlari-lari di dalam taman untuk mencari kolam buat cebok. Setelah berlari dan berlari, aku pun akhirnya menemukan kolam ikan. Namun, penglihatan pada waktu itu tidak dapat dipercaya oleh siapapun di dunia ini yang masih sedikit waras kejiwaannya. Seekor kambing sedang kencing di kolam tersebut. Aku pun bingung, harus cebok disitu atau tidak. Aku jadi teringat, sewaktu kecil pernah mempunyai trauma terhadap kencing kambing.

Pada waktu itu, hari sangat cerah, matahari bersinar sangat terang, di langit tidak ada awan, burung-burung berkicauan, ada pelangi, ada balonku ada lima, tapi semua itu bohong karena pada waktu itu langit sangat mendung. Di desa itu sedang terjadi kekeringan, gagal panen dimana-mana, air jernih sulit ditemukan. Namun sayangnya air sirup sangat melimpah, tapi pada waktu itu aku tidak suka sirup karena rasanya yang manis dan enak sekali dan rasa stroberi dan enak sekali dan segar sekali dan semua orang suka, makanya aku tidak suka. Maka kehausanlah diriku pada waktu itu. Aku pun pergi ke sungai dan berharap ada hujan karena langit sedang mendung. Tiba-tiba ada air mengalir di atas sungai. Aku pun sangat bahagia dan langsung meminum air tersebut. Namun pada saat itu, aku pun melihat hal yang menakutkan, lebih seram daripada melihat durian jatuh dari atas, lebih seram dari melihat tsunami sedang menerjang, atau melihat anak bugil dengan mulut berbusa membawa pisau sambil lari-lari. Aku melihat di hulu sungai ada seekor kambing yang sedang membuang water art dengan bahagianya. Mataku pun tiba-tiba serasa berkunang-kunang, perut serasa mual, tanganku bergetar, seluruh tubuhku kejang-kejang, dan aku pun pingsan.

to be continued...
2012-07-15, 19:25
PostRe: [StoryPlay] Eremidia : The Legends begin
Oscar 
Senior
Senior
avatar

Level 5
Posts : 830
Thanked : 13
Engine : RMVX
Skill : Beginner
Type : Writer

Chapter 1

Merchant Princess

Chapter 2

The Two Hunters




Morning, 06.00 AM
Northreach Mountain

Narrator: Artana Agile

Aku berlari menuruni bukit, melompati bebatuan menuju ke sebuah hutan pinus tak jauh dari situ. Aku berlari begitu cepat, aku tidak mau kalah sama si muka troll Varengir itu.

Kami berdua selalu berlomba jika ingin berburu, dan seperti biasa, aku pemenangnya.

Mau bagaimana lagi? Dia selalu ngotot memakai armor besinya dan membawa kapaknya yang berat saat berburu, sedangkan aku? Bajuku ringan, rompi kapas berwarna khijauan, sebuah busur panjang dari kayu dan beberapa anak panah. Enteng.

"Artana tunggu *puff *puff ... " kata Varengir yang kelelahan mengejarku.

Aku hanya tertawa. "Apa kau pikir bisa mengejar seekor elk dengan kecepatan seperti itu?" ejekku.

"Ah diam kau," katanya. Nafasnya masih terengah-engah Dia lalu menepuk pundakku dan menunjuk ke kejauhan. Tampak seekor elk bertanduk besar dan lebar sedang merumput.

Kutempel jari telunjukku ke mulut, memberi isyarat untuk tetap tenang. Aku menyuruh Varengir bersembunyi lalu aku mengendap-endap menuju balik pohon.

Tanpa terasa aku menginjak ranting kerik sehingga menimbulkan suara. Elk itu terusik, ia mendongak sebentar seperti sedang memastikan keadaan lalu merumput lagi.

Aku memeriksa arah angin dengan tanganku, memastikan anginnya tidak menuju ke arah elk itu. Karena rusa itu pasti akan lari jika mencium aromaku.

Ternyata angin berada di pihakku, arahnya menuju ke arahku sehingga membuat aroma badannku tidak tercium binatang itu. Kuambil sebuah anak panah, lalu kubidik elk itu.

Aku menahan nafas sebentar, lalu kulepas anak panah dari busurku. Anak panah itu melesat, meluncur dan langsung mengenai kepala elk yang malang itu.

Binatang itu mengerang sebentar, berlali beberapa langkah lalu ambruk.

Akupun memberi tanda pada Varengir yang bersembunyi di balik batu untuk mengikutiku.

"Kau berisik sekali," komentarku mendengar suara armor milik Varengir yang berbunyi gemrincing saat ia berlari.

"Tau ~lah, armor berat begitu." jawabnya.

Kami sudah berada di bangkai binatang itu, Varengir menggorok urat nadi leher binatang itu agar darahnya lebih cepat keluar sebelum binatang itu menjadi kaku. Daging elk yang berdarah rasanya tidak enak.

"Kenapa sih kau selalu memakai armor berat seperti itu? Sudah brisik, membuatmu jadi lamban, dan tidak membuatmu keren." komentarku pada lelaki kekar yang sedang mengikat kaki elk itu.

"Aku terlihat lebih keren, itu saja..."

Aku tertawa. "Keren katamu?"

"Hei manusia barbar, jika kau ingin memikat wanita dengan armor tebalmu, percayalah, itu tidak bekerja," godaku.

Varengir melirikku, raut mukanya memandangiku dengan aneh sedikit mengejek. "Jadi kau pikir selama ini aku sedang memikatmu ya?" katanya.

"Huh?... siapa yang mau dipikat oleh barbar sepertimu," ujarku ketus.

"Lagipula siapa juga yang memikat gadis bandit sepertimu. Jika aku ingin memikat seseorang, aku akan melakukannya dengan putri seorang saudagar yang cantik, anggun, dan tau bagaimana wanita itu seharusnya." katanya dengan gerak-gerik lebay. Membuatku ingin menonjok mukanya.

"Ah diam kau," ujarku agar dia tidak keterusan.

Varengir adalah temanku sejak kecil, kami selalu bersama dan sering bertengkar. Tapi mesti begitu kita tidak saling benci. Dia sudah seperti kakakku sendiri. Aku masih ingat bagaimana dia melindungiku saat penjarahan Desa Ironwood oleh para mercenary yang disewa oleh keluarga Moire.

Keluarga Moire sialan, seandainya saja aku sudah besar seperti ini, akan kulumat mereka.

Ayahku Arthar Agile tewas saat penjarahan itu saat usiaku masih 10 tahun, semenjak itu kami dan para bandit hidup berpindah-pindah, dari gua ke gua lain. Syukurlah sekarang kami punya tempat untuk menetap, dan ayah Varengir, Tuan Rothgar juga cukup baik padaku.

"Hei... kenapa kau senyum=senyum sendiri?" kata Varengir membuyarkan lamunanku.

"Ah... tidak... tidak ada apa-apa," elakku.

"Aha... kau diam-diam mengagumi armor beratku ya? " kata Varengir sambil memasang senyum menyebalkannya. "Ayo-ayo ngaku..." godanya sambil mengangkat alisnya berkali-kali.

"Huh..." aku hanya membuang muka.

Tiba-tiba terdengar suara auman, tak jauh dari tempat kami berdiri.

Varengir memberi isyarat padaku untuk berdiri di belakangnya. Matanya dengan was-was memandangi sekeliling.

"Ini bukan bidangmu, Arta..." katanya.

Aku mempersiapkan busur panahku dan mengambil anak panah. Siap memanah apa saja yang keluar di depanku.

"Auman apa itu?" tanyaku.

"Beruang..." katanya dengan penuh waspada. "Satu dua anak panah tidak cukup untuk membunuhnya."

Tiba-tiba dua beruang muncul dari semak-semak. Mereka mengaum buas dan tampak kelaparan.

"Tetap dekat denganku!" seru Varengir padaku.

Kedua beruang itu berlari menyerang. Aku terburu-buru menembakkan anak panahku sehingga meleset.

"Sial!" pekikku.

Varengir dengan berani berlari menuju kearah beruang-beruang itu. Salah satu beruang berusaha melompat dan mencakar Varengir dengan kedua cakar depannya. Dengan tangkas ia menangkis beruang itu dengan kapak besarnya, lalu dengan cepat ia menendang perut beruang itu hingga mundur kebelakang, lalu dia berputar mengayun kapaknya menhajar kepala beruang itu.

Beruang pertama tewas, namun beruang yang dibelakangnya menerkamnya.

"Varengir!!!" teriakku cemas.

Beruang itu membuatnya terjatuh, cakarnya mencabik badannya, tapi syukurlah, dia memakai armor berat.

Segera kupanah beruang itu hingga binatang itu mengerang kesakitan. Binatang itu lalu menoleh ke arahku.

"Oh tidak!" aku membayangkan apa yang terjadi berikutnya. Beruang itu mengejarku. Segera kucabut belati kecilku dan bersiap menghadapinya. Namun Varengir berdiri dan melompat di punggung beruang itu. Ia menusuk-nusuk belatinya di perut samping beruang itu.

Binatang buas itu meronta, menggerak-gerakkan badannya dengan liar sampai membuat Varengir terlempar. Belatinya terjatuh, kini dia hanya dengan tangan kosong. Masih belum sempat bangkit, beruang itu menerkamnya, namun dengan sigap ia menendang beruang itu hingga terpental.

Beruang itu terhenyak sesaat lalu ia berdiri dan mulai menerkam. Namun sebelum hal itu terjadi, anak panahku sudah menembus leher beruang itu, memotong urat nadinya. Beruang itu roboh, Varengir berguling menghindarinnya.

Varengin berdiri sambil membasuh dahinya. "Fyuhhh..."

"Hei... bilang terima kasih dong, aku sudah selamatkan nyawamu." kataku.

"Enak saja, kalau kubuarkan beruang itu, kau pasti sudah jadi sarapan mereka." balasnya.

Aku hanya mencibir.

"Tapi ngomong-nomong..." kata Varengir sambil mengambil nafas panjang. "Kita dapat tiga binatang buruan. Mau kita apakan mereka?"

"Kita ambil yang elk saja, buat apa beruang?" kataku,

"Hei, kuku beruang harganya mahal kalo dijual ke alchemist, kulitnya juga laris di pasaran." kata Varengir.

Aku berfikir sejenak. "Oke baiklah, ambil kuku-kukunya aja. Nanti kita berikan pada tuan Alarik The Swift agar dijual di kota. Kau tidak berniat mengulitinya di sini kan?"

Varengir tertawa. "Aku tidak mau menjadi hidangan makan siang oara beruang di sini."

Kami pun kembali, aku membawa kuku-kuku beruang di kantongku. Sementara Varengir memanggul elk. Dia cukup kuat, dia bisa membawa elk itu sampai ke puncak bukit.

Setelah setengah jam berjalan, kami pun tiba di atas bukit tempat tinggal kami. Varengir segera menurunkan elk itu di dekat gubuk seorang butcher lalu dia duduk bersandar. Nafasnya ngos-ngosan.

"Air... air..." katanya. Tangannya melambai-lambai padaku.

Kuberikan kantong airku padanya. Dia meneguk air itu dengan bersemangat.

"Hei... hei... jangan dihabiskan!" kataku.

Varengir melirikku sebentar lalu meneguk airnya sampai habis. Ia menjulurkan lidahnya, menadahi air yang menetes-netes dari kantung airku.

Aku hanya memandanginya sambil cemberut.

"Kenapa? Gimana kalau lain kali kau yang bawa elknya," kata Varengir sinis.

Aku hanya murung, lalu kurebut kantung airku yang sudah kosong.

Varengir menoleh ke arah gubuk utama. Disana tampak ramai.

'Ada apa disana?" katanya.

Aku hanya mengangkat bahu, lalu aku pun pergi kesana. Rupanya Alarik the Swift sudah kembali. Alarik adalah seorang pengintai, dalam bahasa Global tongue biasa disebut dengan scout.

Tugasnya adalah memetakan rute-rute dagang. Terkadang ia pergi ke kota untuk konfirmasi rute dagang.

"Oh, kau Arta... mana Varengir?" tanya tuan Rothgar disela-sela pertemuannya.

Aku hanya menunjuk kejauhan, tampak Varengir sedang duduk kelelahan.

"Jadi sampai mana tadi?" lanjut tuan Rothgar.

"Jadi begini, rute uatama akan ada sekitar 10 karavan dagang yang melintas, sedang rute utara mungkin hanya dua." jelas Alarik.

Tuan Rothgar mengelus-elus dagunya berfikir.

'Tapi kita ada masalah," lanjut Alarik. "Gara-gara seringnya bandit merampokjalur utara, kini patroli para penjaga kota diperketat. Sedang jalur utara adalah keluarga Moire."

"Sasaran empuk," celetukku.

"Tidak juga, menurut informasi yang kudapat mereka menyewa para mercenary dari Wolvenhunter. Kemampuan mereka tidak bisa diremehkan." jelas Alarik.

"Kita bisa menyerangnya mendadak, atau secara sembunyi-sembunyi." kataku bersi keras.

"Tidak... jangan..." sela tuan Rothgar. "Kita bukan tandingan orang-orang Wolvenhunter. Kita pilih jalur utama saja, kita target karavan bagian tengah, karavan ke-lima atau ke-enam."

"Tapi tuan Rothgar, darimana kita bisa tau kemampuan kita kalau belum mencoba?" kataku.

"Kita bukan tandingan mereka. Orang-orang itu cukup terlatih, segala kemungkinan sudah diperhitungkan oleh mereka." jelas tuan Rothgar.

"Kita kan juga bisa balik menyusun strategi..."

"ARTANA!!" kali ini Tuan Rothgar membentakku. Akupun terdiam, namun mataku masih tetap memandangi wajahnya.

"Ada apa ini?" tiba-tiba Varengir muncul di belakangku. Aku melihatnya sekilas lalu aku pergi meninggalkan kerumunan itu dengan langkah cepat.

"Arta...!" panggil Varengir, namun aku tidak menggubrisnya. Aku pergi meninggalkannya degan langkah cepat.

"Biarkan dia," sayup-sayup aku mendengar suara tuan Rothgar memperingatkan anaknya.

Aku tidak peduli, aku terus berjalan keluar desa menuju ke tepi tebing tempatku biasa menyendiri. Pemandangan di sana indah, pohon-pohon pinus yang berkabut di kejauhan, udara yang segar. Suasananya begitu menenangkan hati.

Aku masih dendam, aku masih belum bisa memendam amarahku. Terutama pada orang-orang Wolvenhunter. Aku melihatnya saat itu. Aku melihat bagaimana ayah terbunuh. Sebuah belati menembus jantungnya.

Tidak ada yang bisa kulakukan selain menangis dan meronta-ronta dibalik pelukan Varengir yang membawaku menjauh dari ayah. Aku melihatya roboh, aku tidak sempat mengucapkan selamat tinggal padanya.

Namun sekarang, apa yang terjadi? Tuan Rothgar malah menjadi pengecut. Dia tidak melakukan apa-apa demi membalaskan dendam ayah yang katanya adalah sahabat baiknya. Sekarang dia malah mentarget orang-orang lemah macam penjaga kota.

Aku pun berdiri, kusiapkan busurku lalu kuambil sebuah anak panah. Kuarahkan busurku ke horizon, menuju ke arah pepohonan pinus di kejauhan.

"Lihat saja Wolvenhunter, aku akan habisi kalian satu persatu!" kataku, lalu kulepas anak panahku hingga ia meluncur dengan cepat dan sampai menghilang tak terliihat di kejauhan.

To be continued...


There are 1 and 0 kinds of people in the world: Those who understand binary and those who don’t.

nitip emot favorit dolo:

(╮°-°)╮┳━┳... (╯°□°)╯ ┻━┻
2012-07-15, 20:50
PostRe: [StoryPlay] Eremidia : The Legends begin
richter_h 
Salto Master
Hancip RMID
avatar

Kosong
Posts : 1705
Thanked : 30
Engine : Other
Skill : Skilled
Type : Developer
Awards:

The Tale of Vent McGraves
Chapter XV


Klik to Chapter XIV

Penginapan John Barrelmore. Dari namanya Vent bisa mengira ini juga merangkap sebuah bar, apalagi saat di depan pintu mereka mendengar sorak sorai banyak orang di dalam sana, bernyanyi dan bersorai bersama. Dan begitu dia dan Vischelia masuk, mereka disambut dengan pesta biang madu Nord. Mereka yang ada di bar lantai bawah menyanyikan lagu yang sama. Mereka menyanyikan lagu itu dengan Global Tongue alias bahasa global, yang biasa digunakan sebagian besar orang Eremidia.

We're merry men of Northreach
So strong and so stout
When the day is done
When it's time for fun
We'll drink and sing and shout!

You weak livered milk drinkers
Can let your throats run dry
Cause there's just one drink
That we will sink
Until the day we die


Dan juga satu lagu yang tidak kalah asik, mereka nyanyikan sambil bersulang bersama,

Chug a mug of mead
And another mug of mead
Chug another mug of mead
Till you fall down
Chug a mug of mead
And another mug of mead
Chug another mug of mead, warrior!


Sungguh asik banget, kata Vent. Vischelia membalas senyum saat beberapa orang yang mabok oleh biang madu yang notabene dibuat oleh orang-orang utara itu tersenyum pada gadis manis seperti dia. Mereka melewati orang-orang yang sedang bersenang-senang itu dan menuju ke orang yang duduk di belakang meja bartender. Sepertinya lelaki tegap kekar dengan baju dan rompi kulit adalah John Barrelmore, temannya oom Brom.

"Oh, jadi kalian yang bersama Brom..." John menyambut Vent dan Vischelia dengan hangat, sehangat biang madu Nord yang disimpan di dekat perapian. "Kalian bisa pakai kamar yang Brom biasa pakai. John beri diskon untuk kalian, karena temannya Brom adalah teman John."

Tawa John disambut dengan tawa Vent yang orangnya memang hangat bersahabat. Vischelia hanya bengong kenapa mereka tertawa.

"Oke, John akan antar kalian ke kamar kalian. Tidak perlu takut dengan orang-orang itu. Mereka memang selalu bernyanyi dan berteriak sepanjang hari sambil minum mead, tapi mereka orang baik. Jangan menyinggung mereka, dan kalian akan baik-baik saja."

--

"Inilah kamar yang bisa kalian pakai."

Di lantai atas penginapan, Vent dan Vischelia diberikan sebuah kamar yang lumayan luas dan nyaman, dengan lantai, dinding dan langit-langit kayu. Ada dua ranjang di kamar itu. Sepertinya kamar itu untuk dua orang. Cahaya matahari bisa masuk dengan lancar tanpa hambatan dari dua jendela yang menghadap langsung ke kota dengan latar belakang pegunungan bersalju.

"John lihat kalian suka kamar ini..." John kembali tertawa melihat Vischelia langsung melihat pemandangan dari jendela sementara Vent langsung tiduran di salah satu ranjang. "Jika ada apa-apa, panggil saja John."

Vischelia terus melihat pemandangan dari jendela. Terlihat beberapa orang lalu lalang di kota sementara awan begulung di tebing pegunungan. Belum puas melihat pemandangan dari jendela saja, dia melompat ke lantai dan ingin mengajak Vent untuk jalan-jalan di luar.

"Mumpung cerah dan rame," kata Vischelia yang terus mengguncang-guncang badan Vent yang sudah malas bangun. "Aku ingin lihat lebih banyak lagi pemandangan di luar sana. Sepertinya bagus kalau dilihat langsung di sana."

Vent lantas bangun, ogah-ogahan dia meregangkan badannya yang pegel terus duduk di karavan selama tiga hari perjalanan dari Northreach.

"Okelah, tapi kita nggak bakalan jauh-jauh dari kota."

Vischelia langsung membawa perlengkapan melukisnya, dengan semangat dan setengah lari dia membuka pintu kamar.

"Vent, ayo!" Vischelia terlihat begitu semangat, padahal selama perjalanan kemarin dia tidak sesemangat kali ini.

"Oke," timpal Vent rada ogha-ogahan dan ingin lanjut rebahan, "Tunggu di bawah aja duluan."

--

Vischelia--dengan wajah penuh semangat menunggu Vent turun di luar penginapan. Tidak lama kemudian, Vent muncul dari pintu penginapan sambil membawa sebotol biang madu.

"Ini buat ane doang," Vent langsung berkata begitu saat Vischelia melihat botol yang Vent pegang. "Soalnya di sana rada dingin, makanya ane bawa bekal buat hangetin badan."

"Oh, ane punya sesuatu yang kali aja ente suka."

Vent memberikan sebotol 'apple cider' alias sari apel ke Vischelia. Botol yang tidak terlalu besar, namun mungkin bisa menghangatkan badan saat diminum nanti, kata Vent. Apple cider itu juga buatan Vent saat dia melewati kebun apel di dekat Belmont's Town dulu, dan dia masih punya beberapa botol tersisa.

"Tenang," jawab Vent saat Vischelia khawatir dia akan mabok berat lagi seperti hari kemarin di Northreach. "Sari apel itu ngga bikin mabok-mabok amat, lagian itu sari apel kesukaan Charlotte dulu..."

Sekali lagi Vischelia mendengar nama Charlotte. Sepertinya Charlotte itu memang orang yang sangat berarti bagi Vent, gumamnya. Sebotol sari apel dia terus lihat, warna keemasan yang berkilau dari minuman itu memukaunya. Dia masukkan botol itu ke kantongnya yang gedenya naudzubileh; sepertiga dari tinggi badannya dan isinya rupa-rupa.

Lalu mereka melangkah ke luar kota, berniat mencari pemandangan indah pegunungan bersalju di luar sana.

--

Petang hari mereka baru kembali dari luar kota, setelah berkeliling jalan-jalan melihat banyak sekali pemandangan yang Vischelia bisa lukis; mulai dari gunung yang dihiasi gumpalan awan seperti kapas, pepohonan cemara dengan banyak jenis burung, beberapa ekor elk yang kepergok nongkrong di tanah bersalju, dan seekor beruang yang menyerang mereka dan berhasil Vent kalahkan dengan gaya. Pengalaman yang asik banget untuk mereka di alam liar sana...

Kembali ke penginapan John Barrelmore, dengan orang-orang yang gembira dan selalu bernyanyi bersama, mereka disambut dengan meriah. Vent dan Vischelia ditarik untuk ikut minum-minum bersama, bernyanyi dan sorak sorai bersama para pemburu, petarung dan orang-orang penikmat biang madu dan berbagai jenis minuman, tua maupun muda, laki-laki maupun perempuan. Sampai malam mereka minum, bernyanyi dan bergembira bersama--kecuali Vischelia yang sudah bertekad berhenti mabok-mabokan, namun pada akhirnya dia ikut minum mead alias biang madu itu bersama. Beberapa gelas mungkin lebih dari cukup untuknya.

Bersama Vent yang membimbingnya untuk tidak terlalu mabok, Vischelia diboyong ke kamar dan ditidurkan di ranjang. Sementara, Vent menyimpan bawaan Vischelia di bawah tempat tidur Vischelia dan lanjut tidur di ranjang yang lain. Cahaya lilin menerangi kamar, lalu Vent meniup api lilin itu. Mereka harus beristirahat untuk besok hari. Sepertinya mereka berdua akan bangun kesiangan lagi seperti biasa jika malamnya mereka minum-minum.

"Vent..."

"Pisselia..."

Klik to Chapter XVI

Quote :
NB: Lirik lagu diambil dari Miracle of Songs - Nord Mead. Dengan sedikit perubahan. headbang
Dan juga, seperti yang ane tekankan berkali-kali, tidak ada kisah cinta diantara Vent dan Vischelia. Sekian. 8)


| My spriteworks | deviantArt | Mark's Quest | Eremidia: Dungeon! |
Developer of:



Supporter of:


Selp-Proclaimed The Most Handsome Member of the Long Lost Glorious


Disini kalo sebagai nubi mau dikritik yang bagus2 biasanya harus ngaku cewek dulu, karena you know lah... -- Brosef numfanklewhat


Terakhir diubah oleh richter_h tanggal 2012-07-16, 13:32, total 3 kali diubah
2012-07-15, 21:16
PostRe: [StoryPlay] Eremidia : The Legends begin
NachtEinhorn 
Robot Gedek Galak
avatar

Level 5
Posts : 1274
Thanked : 9
Engine : Multi-Engine User
Skill : Beginner
Type : Developer

Chapter 9: Instruction

Aku dan Kyrie masuk ke tenda besar, yang sepertinya milik gadis mungil berambut hijau, dan berkacamata yang mengadakan ekskavasi ini. Di depan pintu masuknya berjaga 2 orang kekar, memelototiku.

Di dalamnya terlihat sebuah meja lipat, dengan sebuah lilin dan beberapa carik kertas diatasnya, dan sebuah kasur lipat yang tergulung rapi.

"Baiklah" katanya. "Pertama, bisa kau memberi tahu apa yang tertulis di badan Zirah Ksatria itu?"

"NAG - 0099 Gearberos" jawabku. Kurasa aku tidak perlu memberi tahu lebih jauh tentang Velchen Guild.
"ooh, menarik sekali. Dan sekarang, bagaimana kau bisa membaca huruf kuno tersebut?"

Aku terdiam.

Aku sendiri juga tidak tahu apa yang harus aku jawab. Apakah aku datang dari masa depan, atau zaman inikah zaman depan? Akan tetapi, jika jawaban yang kedua adalah yang benar, kenapa teknologi di sini tidak semaju di Zelute? Tidak, jangankan Zelute, bahkan Festiana yang penuh dengan *cough* Sihir *cough* ngga jelas lebih maju dari tempat ini.

"Halooo, kau dengar aku tidak? Hei kakak berambut aneh~" tanya gadis pendek tadi lagi kepadaku.

"Uh, oh ya, jadi sebenarnya..." aku menemukan alasan yang sepertinya lumayan logis "Bahasa ini mirip dengan bahasa yang dipakai di tempat asalku"

Well, tidak dihitung ngibul kan?

"Oooh, begitukah? Hahaha, bagus!" Gadis itu menepuk tangannya "Akhirnya ada yang bisa membantuku mentranslasi kitab kuno yang ditemukan bersama Zirah Ksatria ini. Kakak berambut aneh, maukah kamu melakukan tugas tambahan ini? Tentu saja dengan bayaran ekstra yang lumayan besar"

Menterjemahkan... kitab?

"Bisa kulihat kitab apa yang kamu maksud?"

"Ah, ini"
dia memberiku sebuah buku kumal, yang ketika kulihat lebih lanjut lagi, samar samar terlihat sisa cetakan logo Velchen Guild di sampulnya. "NAG-0099 Blueprint and Manual" tercetak di bawah logo tersebut.

Aku harus menguak lebih lanjut hal ini. Dengan membaca baca blueprint... kitab ini, aku mungkin bisa mengetahui di zaman apa aku sekarang tinggal.

"Oke, beri aku waktu beberapa hari, akan kutranslasikan menjadi Bahasa Eremidia."
"Jadi kita sepakat? Yahoo!" gadis itu melonjak kegirangan.
"Ah, ya, omong omong kita belum berkenalan. Namaku Ryliene Von Taffres, Putri pertama keluarga Von Taffres. Senang berkenalan denganmu dan maaf atas ketidaksopanannya" kata gadis itu sambil sedikit membungkuk.
"A... aku juga minta maaf atas ketidaksopananku. Namaku Schneide Vanzelt, Hunter. Dan Sister yang bersamaku ini bernama Kyrie."
Kyrie pun tersenyum dan ikut sedikit membungkuk "Namaku Kyrie, Sister. salam kenal"
"Salam kenal" jawab gadis bernama Ryliene itu. "Kyrie... apakah hanya perasaanku atau aku pernah mendengar nama itu?" gumamnya pelan.

Kyrie sedikit bingung "Eh?"

Ryliene menjawab "A, tidak, mungkin aku yang salah"

Singkatnya, setelah memberi tahu Ryliene inn tempat kami tinggal, kami undur diri.

===============================================================================

Malamnya, aku mencoba membaca baca manual tersebut. Kulihat struktur Armored Gear yang ada di dalamnya, mirip dengan struktur Armored Gear yang kami miliki di guild, AG-03 TypeSpecter, dan versi customnya, AGX-03c NachtEinhorn. akan tetapi juga, Armored Gear yang memiliki kode seri NAG-0099 ini juga memiliki sistem yang lebih rumit, sehingga sulit untuk aku mengerti.

"Wow, sistem transformasi ke 'LandCrash' mode ini benar benar hebat..." sepertinya Gearberos ini memiliki kemampuan untuk merubah bentuknya agar dapat bergerak lebih efisien di daerah darat.
kubalik ke halaman berikutnya, dan kulihat foto wanita yang tidak kukenal, kulihat namanya...

Mataku serasa mau copot.

"Lily... Vanzelt?"

Siapa? aku tidak kenal Vanzelt lain selain kakak....

Kepalaku terasa berat. Aku tidak akan mendapatkan hasil lebih jauh jiak aku memaksakan diri. Akhirnya, aku menutup manual itu, dan tidur...

=======================================================

Selang beberapa hari, aku berhasil menerjemahkan manual tersebut, dengan sedikit modifikasi. Aku mengganti semua kata Vanzelt dengan Zonvolt, nama yang aku ambil dari salah satu tokoh anime idolaku saat aku masih kecil... hingga saat ini sih.

Pagi harinya, aku bersiap turun ke bagian lobby penginapan. Ternyata Ryliene sudah hadir di penginapan itu, dengan 2 pria kekar di sebelah kiri dan kanan nya.

"Ah, selamat pagi, Tuan Schneide Vanzelt" sapa Ryliene. "Selamat pagi, Ryliene, ini hasil transla..."
Tiba tiba 2 pria kekar tersebut berdiri, menghunuskan pedangnya, dan menodongkannya kepadaku.

"Eh?"
"Beraninya kau tidak sopan dengan Putri keluarga Von Taffress!" sahut salah satu penjaga itu.

"Kian, Kion, turunkan senjata kalian. Huh, kalian ini terlalu Overprotektif."

"Tapi Putri, dia tidak sopan..."

Aku akhirnya sadar. Ryliene ini tampaknya berasal dari salah satu keluarga terpandang di Eremidia, dan aku memanggilnya hanya dengan nama. Dan sialnya sepertinya dia mendapat penjaga yang terlalu ketat, hingga salah panggil saja berakibat ditodong pedang begini.

Pikiranku mulai berpikir yang tidak tidak. Apakah gadis ini juga tipe gadis yang memandang rendah orang lain, seperti putri putri bangsawan pada umumnya? kalau iya, It's nyolot time...

"Maafkan mereka, tuan Schneide, mereka sering begitu"

"Err... sudah biasa?" jawabku gugup. Ok, kayaknya Ryliene ngga seperti putri putri bangsawan mainstream. Dia lembut dan sopan. bahkan lebih sopan dari saat kami pertama bertemu di gua Ekskavasi. Di sana kata katanya sedikit kasar, seperti berusaha membaur dengan para penambang. Disengaja atu tidak, Plan nyolot canceled.

Aku menyerahkan "kitab" dan hasil translasinya ke Ryliene, dan mendapatkan upah tambahan.

"A,anu" kata Ryliene sebelum berpamitan "Jika tuan tidak sedang menjalankan quest, maukah tuan, err... menerima misi lagi?"

"Tentu, kenapa tidak" Jawabku "Dan ngga perlu memanggilku tuan. Cukup Schneide saja" kataku smbil mengacungkan jempol.

"Ka-kalu begitu, mohon Tu- Schneide, dan Sister yang bersama Schneide, menyiapkan diri"

"Eh?"

"Dalam 3 hari ini, saya akan pergi ke utara untuk melakukan 'percobaan' terhadap Zirah Ksatria di Villa kami, dekat Northreach. Mengingat cuaca Utara yang ekstrim..."

Percobaan? Mungkinkah dia akan mencoba mengaktifkan kembali Armored Gear itu?
Kesempatan ini tidak boleh dilewatkan.

"Ok, dalam 3 hari, kami akan bersiap siap!" ucapku bersemangat.

===================================================

Setelah Ryliene undur diri, aku segera mengetuk kamar Kyrie. Kyrie membuka kamarnya, dengan muka masih rada mengantuk.

"Bersiap siaplah! 3 hari lagi, kita ke utara! Ada Misi penting!"

To Be Continued


"Imagine Iron Man, kill Tony Stark, and replace him with Dinosaurs. That's why Tachikazes are awesome"


2012-07-15, 21:35
PostRe: [StoryPlay] Eremidia : The Legends begin
Dezwil 
Moderator
Moderator
avatar

Kosong
Posts : 310
Thanked : 7
Engine : RMVX
Skill : Advanced
Type : Developer

from chapter 4

Chapter 5: Bad Route

Sampai di North Cave.
Sekitarnya hanyalah rumput2 hijau dan sedikit pepohonan.
Di depan ada pintu masuk goa. Sepertinya goa ini langsung turun ke bawah.
SIap-siap menghadapi banyak monster.
Molfone, "Punya sihir yang membuat sekitar kita terang kan?"
Fion, "Iya punya."
Kami segera memasuki goa dan jalan ke bawah.
Terdengar suara kelelawar dan angin lewat yang seperti teriakan setan.
Sekitarnya sudah mulai gelap. Fion mengeluarkan Rune Book dan mulai mengeluarkan sihir.
"Dewa, izinkan kami menggunakan cahayamu untuk menunjukan jalan yang sebenarnya..
Flash Light!
Muncul cahaya yang begitu terang dari buku Fion. Buku Fion menjadi sebuah bohlam yang menerangkan sekitar kami.
Cena, "Dengan ini kita bisa melihat jelas sekitarnya."
Kami berjalan dengan hati-hati perhatikan sekitarnya.
"krekk.. krekk.."
Tiba-tiba terdengar bunyi yang ringan tetapi jumlahnya cukup banyak.
"Merekakah...?"
Fion segera siap-siap untuk mengeluarkan spellnya.

"krtetetetetetetekerekrek!"
Muncul skeleton dengan jumlah yang amat banyak.
Aku tidak sengaja teriak Waw! karena saking banyaknya.
Molfone, "Takut karena kalah jumlah? Innalilahi~ :fa:"
Fion mencoba mengeluarkan sihir Fire tetapi apinya tidak muncul.
Jelas, ini di dalam goa. Dan api tersebut jatuh dari langit tetapi api tersebut dihalang oleh goa.
Molfone, "Kamu bodoh atau apa. Mikir dulu sebelum mengeluarkan spell! Jangan memakai spell yang muncul dari langit!"
Fion, ":ngacay:"
Fion tampak sedikit melas dan Magic Point dia kebuang sia-sia.
Cena, "Akan ku urus satu per satu!"
Mencoba maju dan menyerang skeleton.
Molfone, "Ini lagi! Lawan segitu banyak berani maju sendirian!"
Cena, "!"
Aku ngerem mendadak. Tetapi lenganku dipegang oleh skeleton dan juga kakinya.
Aku tidak bisa melakukan apa-apa.
"Uuukh... Sial..! Woy Fion! Bantu kek! Ny. Molfone juga bukannya bantu!?"
Fion, "......! :o Oh iya! Rasakan ini, Thunder!"
Panah listrik menyerang para skeleton yang sedang menahan aku.
Berhasil lolos dari mereka.
Tetapi tidak lama kemudian skeleton itu bangkit lagi.
"Ukh, apa mereka tidak mempan spell!?"
Fion tampak panik.
Cena, "Sihir tidak mempan. Bila ku maju langsung ketangkap. Bagaimana ini...!?"
Molfone, "......... :ckck:"
Cena, "Ny. Molfone, apakah ada cara yg baik untuk lawan mereka!?"
Molfone, "................Untukmu, untukmu yang sekarang, tidak ada. Kamu tidak akan bisa melawan bahkan mengalahkannya!"
Cena, "!?"
Fion, "!?"
Cena, "Lalu...!? Kenapa testnya seperti ini!?"
Molfone, "Berarti kamu memang tidak pantas untuk menjadi anggota guild kami!"
Cena, "....!! :o"
Fion, "Tidak...! Masih ada harapan!"
Cena, "Apa...!?"
Molfone, ".......!"
Fion, "Hampi saja ku lupa keberadaan spell baru ini.. Mungkin karena baru jadi aku tidak begitu dipandang.."
Cena, "Lah, gimana maksudnya itu...? :swt:"
Fion, "Purification...! Dengan spell ini kita bisa mengalahkan skeleton dalam sekejap!"
Molfone, "...... hmph. :fa:"
Cena, "Akan ku tarik perhatian agar castingmu tidak terbatal."
Mencoba menarik perhatian skeleton untuk menyukseskan spell Fion.
Ini demi keberhasilan test kami ini...!
"Cahaya mengkilap menerangi bumi dan isinya. Hapuskan kegelapan yang ada di muka bumi ini! Dan sucikan kami dari tangah setan! Purification!"
Cahaya suci yang menerangi sekitar kami. Membuat para skeleton shock dan berhasil melepaskan roh jahat dari tubuhnya.
"Aaaaaaaaagh..." Suara roh-roh jahat telah meninggalkan tubuhnya dan terhapus oleh
cahaya spell.
Semua sekelton yang ada di sekitar kami berhasil mati.
Fion, "Yeah! Berhasil!"
Cena, "Nice Job, Fion!"
Molfone, "Pekerjaan yang bagus.. "
Fion, "Terimakasih nenek, atas spell yang anda berikan! Ternyata tertolong untuk menyelesaikan test ini...!"
Molfone, "....................."
Cena, "Nah, dengan ini test kita selesai bukan? Tinggal lapor master dan menjadi hunter secara formal...! =w=b"
Molfone, "Tidak."
Cena, "!!"
Fion ,"!! ..............Nenek..?"
Molfone, "....Kalian semua tidak lolos tst hunter.."
Cena, "Loh!? Kenapa...!? Kita berhasil mengalahkan skeleton! Syarat lolos test sudah kami lakukan!"
Molfone, "Kau kira.. Menjadi hunter itu semudah ini...!?"
Cena, ".....!!?"
Molfone, "Dari tadi ku lihat, kalian ini benar-benar bodoh! Ampas!"
Fion, ".....! APA!? :kesel:"
Molfone, "Aku sudah melihat kemampuan kalian sejak dari kalian melawan Goblin Chief."
Cena, ".....! Jadi, andakah yang menolong kami!?"
Molfone, "Tidak berguna kekuatan kalian.. Dengan kemampuan secuil gitu ingin menjadi hunter? Hah! Benar-benar membuatku kesal!"
Cena, ":grr:"
Molfone, "Kalian tahu? Aku yang kekuatan sperti ini. Yang kalian pandang hebat! Aku ini hanyalah hunter rank B!"
Cena, "!?"
Fion, "B!? ....Tidak mungkin...!!"
Molfone, "Sudah cukup untuk tes kemampuan kalian. Kalian dicap sampah oleh guild kami.
Selamt tinggal kalian.. Kalian cocoknya menjadi Junker :twisted:"
Fion, "... Nenek sialan...! :FU:"
AKupun menjadi marah dan menyerang Molfone. Begitu juga Fion langsung siap mengeluarkan spell untuk menyerang Molfone.
Cena, "Rasakan ini!"
Fion, "Hanguslah kau, Thunder!"
Spell Fion dan seranganku maju bersamaan.
Molfone hanya senyum melihat kami...
"......................Musnahkan ketidakgunaan dari dunia ini. Berikan sanksi kepada mereka yang tidak tahu apa-apa. Indignation!!"
Muncul bola kegelapan dari buku Molfone. Tiba-tiba tubuhku dan spell Fion danjuga dia terhisap oleh bola itu dan bola tersebut meledak mengeluarkan kegelapan yang merasa ngilu. Tubuhku dan Fion tiba-tiba berguncang secara cepat dan penglihatanku menjadi gelap...


"Junker.. Istilah yang cocok untuk kalian..."

To Be Continued...
2012-07-15, 22:45
PostRe: [StoryPlay] Eremidia : The Legends begin
Signus Sanctus 
Newbie
Newbie
avatar

Level 5
Posts : 69
Thanked : 3
Engine : RMVX Ace
Skill : Beginner
Type : Developer
Awards:
Chapter 13 Link

Chapter XIV : The Monster of Hero

"FINAL BLADE SAVER!!!!"

*SLASH'D!!!!!!!

Minotaur terakhir berhasil kutebas, sejauh pandanganku melihat, sama sekali tidak ada lagi bayangan seekorpun Minotaur di sekitar desa Clemates yang terletak tepat sebelum perbatasan antara Grand Desert dengan Kingdom Road yang langsung menuju kerajaan Eremidia ini, sepertinya serangan mereka terhenti sejenak.

"Ini sudah yang ke 10 kalinya mereka menyerang tempat ini...."

Ucap Hibana, dan menghitung yang kali ini, sudah lebih dari 5 hari aku, Elicia, dan Hibana terus berada di kota ini, mengambil Quest Class B untuk melindungi kota dari serangan Minotaur.

"Ada yang sedikit aneh...."

Ucapku sedikit bingung.

"Kudengar dari Leila, Minotaur memang memiliki kekuatan besar, namun reproduksi bangsa mereka tidak terlalu sering, seharusnya bangsa mereka tidak mungkin sebanyak ini...."

"Apakah Minotaur yg baru itu bisa melahirkan banyak Minotaur?"

Ucap Elicia spontan, membuatku memegag dahiku dengan keras dan Nina hanya bisa geleng - geleng mendengar ucapan Elicia, memang sudah terduga pikiran Elicia tidak sepintar General lainnya, namun tetap saja mengejutkan.

"Satu - satunya cara untuk menghentikan serangan mereka adalah dengan menyerang langsung sarang mereka dan mengurangi populasi mereka...."

Sambil aku berkata seperti itu, aku memandangi Hunter License ku dengan sedikit emosi, berkat penjagaan ketat Dnasman, aku benar - benar tidak bisa naik menjadi Rank A dengan mudah.

"Sial, andaikan saja ada cara lain untukku mencapai Rank A...."

"Kau mau mencapai Rank A?"

Segera setelah aku melontarkan gumamanku sedikit keras, seorang laki - laki dibelakangku yang cukup familiar mendatangiku dan menawarkanku sebuah solusi yang cukup mengejutkan.



"Master Alquerio..."

Ucap Leila sambil memasang postur hormat.

"Kalau kau memang bersedia untuk mencapai Rank A, aku bisa membantumu...."

Membantu?

***

"Tempat apa ini...?"

Aku menaiki Tower tinggi yang terletak di sekitar barat laut dari Eremidia, butuh perjalanan lebih dari 3 hari dari Eremidia kemari, dan dihitung dengan perjalanku dari Desa Clemates, kurang lebih 4 hari.

"Tower of Oblivion. Tower ini sempat dibentuk oleh Magus sebagai tempat untuk pengintaian Eremidia, namun sejak kekalahan kerajaan Garnean, Tower ini hanya tower kegelapan yang jarang didatangi oleh orang lain."

Aku cukup kagum dengan luasnya pengetahuan orang ini tentang tower ini, bagaimana ia bisa tahu bahwa tempat ini adalah milik Magus.

"Kau sepertinya tahu banyak tentang Magus..."

Aku mencoba memancing pembicaan dengannya, aku cukup penasaran dengan Magus ini sendiri, dengan ia yang telah melahirkanku, Lichty, dan kelima Chrome Familia yg lainnya...

"Aku adalah keturunan dari salah satu pengikut Magus...."

Aku lumayan syok dengan jawabannya, kenapa ia bisa dengan mudahnya memberitahukan identitas aslinya padaku, dan kenapa ia bisa menjadi salah satu orang yang memiliki jabatan tinggi di Eremidia.

"Mungkin kau penasaran dengan apa yang kulakukan di Eremidia atau kenapa aku memberitahukan hal ini dengan mudahnya padamu...."

Tak lama kemudian, aku dan Alquerio sampai di sebuah ruangan yang cukup besar dan megah, namun aku mampu mencium bau darah yang menggelinang di tempat ini, sangat pekat, namun tidak ada satupun mayat ataupun bekas darah ditempat ini, semuanya bersih.

"Akan kuberitah setelah kamu mengalahkan monster itu...."

Alquerio menunjuk kepada 1 orb yang ada ditempat itu, kulihat itu bukanlah suatu obyek biasa, aku merasakan sesuatu yang sangat mengerikan dari objek tersebut.

"S Class Monster, DoppleGanger."

Aku terkejut mendengar ucapannya, pantas saja ia bisa dengan entengnya memberikan bantuan kepadaku, sekalipun ia tahu konsekuensinya menaikkan rank seorang hunter sepertiku dengan mudahnya.

"Heh, lagipula aku tidak mengharapkan sesuatu yang lebih mudah daripada ini... Dan lagipula bukan berarti aku tidak bisa mengalahkan belahan diriku sendiri kan?"

"Tidak, kalau hanya sekedar DoppleGanger biasa, aku sanggup mengalahkannya...."

Eh? Apa maksud ucapannya tersebut.

"Tidak ada yang tahu sebelum mencoba...."

Aku melangkah, mendekat Orb hitam tersebut dan kulihat ia mulai mengambil bentuk manusia.

"Pada kenyataannya, DoppleGanger biasa yang meniru bentuk lawannya sendiri hanyalah Monster Class A, namun untuk DoppleGanger Class S...."

Dan terlihat sosok yang benar - benar familiar untukku, sosok yang mampu membuatku merinding, sosok yang membuatku selama ini menderita, sosok yang selama ini telah membuatku lepas diri, dan sosok yang terus tertanam di batinku selama entah berapa ratus tahun, atau bahkan ribuan tahun....



"Suzaku Trance....!?!?!?!?!?!"

Ya, Hero yang dulu pernah mengalahkanku pada masa perang antara Eremidia melawan Garnean, dan yang bertukar posisi denganku ketika aku hampir tersegel, menyebabkan ia sendiri yang tersegel.

"DoppleGanger ini mampu mengambil wujud ketakutanmu yang paling dalam, dan bahkan memiliki kekuatan yang jauh lebih tangguh daripada sumber ketakutanmu...."

Tubuhku bergetar, tak sanggup menahan kuasa ini lebih jauh, seluruh tubuhku merinding, seakan tubuhku diambil alih oleh seekor setan penakut ketika melihat sosok tersebut.

"GWAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAARH!!!!!!"

Aku langsung menerjang sosok tersebut tanpa jeda, dan seketika itu juga...

*CLANG!!!!!!

Pedangku dan pedang monster ini beradu dengan keras, gerakan dan caranya menangkis pedangku terasa sama, aku tidak bisa berpikir jernih, kedua mataku hanya dipenuhi oleh sosok mengerikan yang berdiri tepat dihadapanku, aku hanya bisa terus menyerang, menyerang dan menyerang.

"Shining Blade Cut!!!!!"

Aku mengeluarkan jurus andalanku seperti biasa, namun...

*BLAM!!!

Ia mengeluarkan sihir api dari tangannya, menghentakkannya ke tanah, dan membuat badannya terpental kebelakang, menghindari seranganku dengan mudahnya.

"Cih....!!!!! kalau begitu terima ini, FINAL BLADE SAVER!!!!"

Kulepaskan tenaga tebasanku melesat menuju monster itu dengan kecepatan penuh, namun seketika itu juga ia membuka telapak tangan kirinya dan...

"Mana Control...."

Ia menghilangkan energi mana tersebut dengan tangan kirinya, seakan - akan itu adalah hal yang mudah.

"Hybrid Skill; Flame Drift."

Monster tersebut mengeluarkan gelombang api yang tidak begitu cepat, aku dengan mudahnya memperhitung jarakku dan serangan tersebut, kemudian menghindarinya....

*ZRASH!!!!!

Dan tanpa kusadari serangan itu telah membelah setengah perutku, aku hanya bisa syok menatap perutku yang terbuka setengah itu dan mempertanyakan bagaimana orang sepertinya bisa mengeluarkan serangan yang membingungkan seperti itu.

"Guuu... GAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAH!!!!"

Aku hanya dapat menyerang membabi buta dengan seranganku yang terbatas, namun ia menghindari semua seranganku, atau lebih tepatnya, setiap aku melakukan serangan tertentu, ia selalu berada diluar jarak seranganku, dan kemudian kembali dengan cepat supaya serangannya sampai kepadaku.

"Hybrid Skill; Desperate Thrust"

Kembali ia melakukan serangan tusukan - tusukan mematikan kepadaku, aku berusah payah menghindari serangan - serangannya, namun akhirnya tubuhku pun tercabik - cabik tidak karuan hingga aku hanya mampu menggerakkan tangan kananku dan kaki kiriku.

"Argh.... aghk...."

Mustahilkah bagiku untuk mengalahkannya? meski ia bukan orang yang mengalahkanku.... meski ia bukan manusia yang sama....

"Hybrid Skill; Agito Firewing."

Dengan kecepatan tinggi, Doppleganger itu menusukku ditengah - tengah dadaku, dan dengan sekejap membakar seluruh jiwa dan ragaku dalam sekali telan, aku yang sudah terbiasa dengan rasa sakit, mulai berteriak dengan rasa sakit yang diberikan oleh tiruan ini.

"AAAAAAAAAAAAAAAGHK!!!!! GHAAAAAAAAAAAAAHK!!!! GRAAAAAAAAAAAHK!!!!!!!"

Inikah akhir dari kehidupanku? mati ditangan tiruan orang yang telah mengalahkanku...? Setidaknya aku yang seorang monster ini tidak punya penyesalan....

---------------------------------------------------------------

(Reminiscing of the Past)

"Phoenix-sayang~"

"Ya?"

Aku dan Leila yang sedang berada dalam 1 ranjang dikamar yang sama, saling bertatap mata satu sama lain, sambil terkadang mencium kepala ataupun pipi masing - masing.

"Serakah kah aku.... jika aku menginginkanmu untuk tetap hidup sampai akhir hidupku bersamamu...?"

Aku menatap dalam - dalam mata Leila, ia sangat ingin aku mejawab pertanyaan tersebut, aku tahu Leila sangat terpukul akan kematian adiknya, namun aku sendiri belum tahu banyak tentang Leila, dan aku tidak ingin melukainya lebih dalam lagi, namun aku akan siap jika ia sudah siap ingin memberitahukanku tentang masa lalu. Aku mengelus pipi Leila sambil berkata...

"Aku akan terus hidup... demi kamu, dan demi anak kita...."

"Phoenix.... sayang....!"

---------------------------------------------------------------

DEG!!!

"GAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAH!!!!!!!"

Kudorong pedang monster biadab ini pelan - pelan keluar dari dadaku, monster itu tetap berusaha mendorongnya, namun dengan sisa tenagaku yang ada, aku terus menerus mendorong pedang itu dari tubuhku yang sudah berlubang ini.

"EX..... TEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEND!!!!!!!!!!!!"

*BYAAAAAR!!!!!!

Kuledakkan aliran energi yang ada dalam tubuhku untuk mementalkan monster tersebut, darah terus mengucur dari seluruh tubuhku, pikiranku menjadi lebih jernih, dan entah mengapa pandanganku semakin jelas, kemudian sekilas aku mengingat ajaran yang diberikan oleh Hibana padaku...

"Fokuskan seluruh kesadaranmu dalam pedangmu, jika kamu dapat menguasai ini, kamu akan dapat melakukan segala macam serangan apapun yang kamu inginkan, dan kamu dapat membelah apapun yang kamu inginkan...."

Ya, aku lupa Monster dan Manusia itu adalah dua entitas yang sangat berbeda, jika mereka memfokuskan kesadaran kepada senjata, maka untuk monster adalah dengan memfokuskan energy kepada senjata. Kuambil pedangku yang tergeletak di lantai, kupusatkan seluruh energy ku kepada pedangku.

"Extend!"

*BWOOOOOOOOOOSH!!!!

Pedangku mengeluarkan aura yang pekat, tajam, dan mengintimidasi, aku merasakan keraguan pada gerakan Monster yang ada didepanku. Ya, aku lupa akan satu hal, hanya karena dia mampu menyerupai gerakan dan kekuatannya, tetap banyak hal yang sangat berbeda darinya denganku.

"Sungguh ironis, dulu aku yang seorang monster melawanmu yang seorang manusia, sekarang aku adalah manusia, meski tidak sempurna, melawanmu monster...."

Aku menyiapkan kuda - kuda baru untuk seranganku, serangan yang kupastikan akan mengenai monster itu dengan telak.

"Hybrid Skill; Agito Firewing!"

Aku terus bernapas, kuabaikan semua rasa takut, semua rasa trauma, semua rasa keraguan yang tertanam dalam - dalam.

"HISSATSU!!!!!!!!Chaotic Deep Hazard!!!!!!!!!!!!!"

*CRING!!!!!



"愛がなければ、みえない (Ai ga Nakereba, mienai) [Without Love, You cannot see it]"

Kulepaskan 16 tebasan dalam 1 gerakan, dengan menggunakan semua energi yang kufokuskan pada ujung pedangku, dan kuledakkan semua tebasan itu pada timing yang sama, meledakkan musuh dari dalam dan memberikan luka external yang cukup dalam.

.......................................

Keheningan merajalela, baik diriku maupun Doppleganger yang ada dibelakangku terdiam, namun perlahan - lahan aku sedikit tertunduk dan mulai ambruk, aku hampir tidak mampu menahan lukaku yang sudah terlalu dalam.

"You have a great skill, it's been a long time since I've fought that serious, you've already surpased the Great Magus, o Warrior of the new age...."

Mendadak sosok hitam tersebut menghilang ditelan kegelapan, setelah mendengar ucapannya, aku cukup bangga karena berhasil melampaui ayahku sendiri, aku tersenyum kecil sambil mencoba menahan badanku dengan pedangku.

"Kau berhasil, sunggu mengejutkan...."

"Alquerio...."

"Maaf aku tidak membantumu sama sekali, jika monster itu mendeteksi ada orang lain disekitar arena pertarungan tersebut, ia bisa membelah diri menjadi dua dan kamu akan kesulitan melawan mereka berdua...."

"Memangnya kamu tidak bisa menahannya?"

"Sayangnya, mentalku tidak sekuat dirimu...."

Alquerio hanya dapat tertunduk malu dihadapanku, entah karena ia seenaknya memintaku untuk mengalahkan Doppleganger itu atau karena ia tidak sekuat diriku.

"Di pintu inilah tujuanku kemari..."

Alquerio menunjuk pintu lemari yang sangat besar tersebut, dan kemudian dengan sihirnya Alquerio membukakan lemari tersebut.

"Pedang?"

"Sword of Destiny, pedang takdir yang dibuat oleh Magus untuk menghisap kekuatan sang Prince of Darkness...."

Pedang takdir yang digunakan untuk menghisap kekuatan orang lain? Aneh sekali sense penamaan Magus....
Tapi kalau kupikir - pikir...

"Ia yang mendapatkan kekuatan baru, sama saja mengubah takdirnya sendiri...."

"Benar, bersamaan dengan saat ia memperoleh kekuatan baru dari sang Prince of Darkness, pada saat itu juga, takdirnya berubah jauh dan menjadi Magus yang sekarang semua orang tahu...."

"Dan inikah alasanmu mengajakku kemari?"

"Benar, Phoenix, atau Chrome Arphage, salah satu dari 7 Heavenly God yang dibuat oleh Magus...."

Aku hanya menatap Alquerio dingin, aku sudah bisa menebak ia sudah tahu segalanya tentangku dari pertama kita bertemu.

"Ini...!"

"Eh?!?!?"

Pedang itu dilemparkan kearahku, dan secara bersamaan, pedangku yang selama ini kupegang berubah menjadi Sword of Destiny.

"EH?!?!"

"Aku ingin kau memegang pedang tersebut...."

"Apa maksudnya semua ini?!?! Kau membantuku mencapai Rank A, sekarang kau memberikan pedang berharga ini kepadaku?! Apa tujuanmu sebenarnya?!?!?"

".............................."

Alquerio terdiam sejenak sambil tertunduk.

"Aku mempunyai seorang istri...."

"Hmm?"

"Dia adalah seorang Hunter, ceria, baik, cerdik, dan juga rendah hati...."

Apa maksudnya dia tiba - tiba berbicara tentang istrinya...?

"Namun, ia... telah tewas ditangan seekor S Class Monster.... sang naga legendaris, Kirin."

Kirin...? Aku belum pernah mendengar nama monster tersebut....

"Dan yang mengabarkan kematiannya adalah... seorang stray Hunter berambut merah dan penuh dengan bau darah...."

Eh....? Jadi selama ini....

"Chrome Arphage!!!!"

Alquerio maju kehadapanku, kemudian bertekuk lutut dihadapanku, dan membuka topengnya dan menunjukkan mukanya kepadaku, muka yang mungkin menurut manusia sangat menjijikkan, tubuhnya penuh bekas jahitan luka dan memar, entah darimana.

"AKU MOHON!!! BALASKAN DENDAMKU PADA MONSTER BIADAB ITU!!!!! WANITA ITU TIDAK BERHAK MENERIMA SEMUA INI, WANITA ITU.... WANITA YANG MAU MENERIMA LELAKI BIADAB DAN MENGERIKAN SEPERTIKU...!!!!!! TIDAK SEHARUSNYA IA MATI DENGAN TRAGIS SEPERTI INI!!!!! KUMOHON!!! AKU PAHAM AKU MEMINTA YANG TIDAK - TIDAK KEPADAMU, TAPI.... TAPI....!!!!!!"

".................."

Aku menarik nafas sejenak, kemudian aku menjawab pertanyaan Alquerio....

"Janjiku pada Leila adalah untuk tetap bersamanya...."

Alquerio sedikit kecewa ketika aku mengucapkan setengah kalimatku...

"Tapi jika aku berhasil menemukan monster itu, akan kupenuhi itu semua, untuk mengembalikan semua pertolongan yang telah kamu beri."

Dan senyuman lebar menghiasi muka Alquerio yang hancur, ia terlihat sangat bahagia dan kembali menundukkan kepalanya kepadaku.

"TERIMA KASIH BANYAK, ARPHAGE!!!!!!!"

***

"Dan begitulah, berkatnya, aku berhasil mencapai Rank A dan mendapatkan pedang baruku~! semua berakhir dengan damai~!"

"BERAKHIR KAKIMU!!!! LIHAT LUKA PERUTMU!!!! LIHAT BADANMU!!!! KAU PIKIR KONDISIMU YANG SEPERTI INI KAMU BILANG DAMAI?!?!?!?!?!"

Teriak Leila murka dirumah sakit besar Eremidia, wajar saja, sudah tidak pulang - pulang selama lebih dari seminggu, sekarang malah kembali membawa tubuh sekarat yang hampir mati ini.

"Le... Leila... kalau kamu teriak - teriak seperti itu, bayimu bisa stress...!"

"Bayi monster ini~, seharusnya teriakan seperti ini hanya sebuah erangan monster saja kan~?"

Entah sarkasme atau reality, tapi mudah sekali Leila berkata seperti itu.

"Tapi setidaknya selain kamu berhasil mengalahkan orang yang menjadi traumamu, kamu berhasil menyelesaikan latihanmu selama berminggu - minggu, kurasa ini adalah pencapaian yang sangat besar...."

Tidak, aku belum dapat mengalahkannya, karena monster itu dan lelaki itu...
Kemampuan mereka berdua masih berbeda, Monster itu tidak bisa merasakan ini...
sesuatu yang telah kudapatkan setelah aku bertemu Leila....

"Leila..."

"Apa?"

Jawab Leila ketus.

"あいしてる (Aishiteru)[I love you]"

"EH?!?! APA YANG KAU UCAPKAN TIBA - TIBA, PHOENIX?!?!?!?!"

Leila langsung panik dan kalang kabut mendengar ucapanku yang keluar secara mendadak.

"Dasar...!"

Leila langsung mendekati mukaku dan mulai menggerakkan bibirnya yang halus merona kemerahan.

"私もあいしてます (Watashi mo Ai shitemasu) [I love you too]"

Dan dalam sekejap sekelilingku dan Leila menjadi hening dan sepi, sepertinya ketika aku mengucapkan kata barusan, semua orang meninggalkan ruangan ini.

"Phoenix...."

"Leila....

Aku masih sakit, jadi tolong pelan - pelan...."

"Ihihihi~

You're so hopeless~...."

selesai mengucapkan kata - kata tersebut, aku dan Leila saling menempelkan bibir kami masing - masing, saling melahap kedua bibir kami dan menelusuri bagian - bagian terdalam mulut kami berdua dengan lidah kami, dan meneruskan aksi kami diranjang seperti apa yang kami lakukan akhir - akhir ini.

To be continued in Next Week


The Greatness of Tentacle:
 


Requiem:
 


The Last:
 
2012-07-15, 22:55
PostRe: [StoryPlay] Eremidia : The Legends begin
Cloverfield 
Novice
Novice
avatar

Level 5
Posts : 254
Thanked : 27
Engine : RMVX Ace
Skill : Beginner
Type : Artist

Episode IV After Storm, Spring Is Coming

Air mataku mengalir hangat di pipiku, Mungkin sekarang ini aku sudah mati... Gadis berambut pirang itu terlihat kebingungan melihatku, dan bertanya.
"Ada apa? ada yang sakit?"
"Sakit? bukankah aku sudah mati karena semburan Chrome Disaster... Ini di surga ya?"
Gadis itu terdiam sejenak, lalu dia tertawa kecil. Aku tidak mengerti, aku jadi ingin menangis, maka menangislah aku sambil memejamkan mata. Kematian yang sangat mengerikan, dibunuh oleh Chrome Disaster hanya karena sedang mencari tumbuhan untuk membuat ramuan cinta.
"Wuaaaaa tidaaaaaaaaak, kenapa aku matiiiiii"
Tiba-tiba saja, ada rasa sakit di pipiku.

*gyuuuuuuuuuuuuuuuuut*

"AW AW AW AW Sakiiiiiiit!!"

"Sudah benar-benar sadar sekarang?"

Seorang anak laki-laki berambut coklat dengan goggle di kepalanya mencubit kedua pipiku. Aku langsung duduk memegangi kedua pipiku.
"Andy! tidak sopan"
Kata gadis berambut pirang itu sambil setengah tertawa. Apa yang sedang terjadi di sini, yang pasti pipiku sakit sekali habis dicubitnya sekeras itu. Aku tidak mati??? Aku bengong sambil menatap wajah Andy yang tersenyum geli melihat wajahku yang kebingungan. Sebelum aku bengong berkepanjangan, gadis itu berkata kepadaku.
"Namaku Alexis, sekarang kamu sedang berada di klinikku, semalam kamu pingsan sampai saat kamu bangun tadi, namamu Nina kan?"
"Aku Andy, kejadian kemarin benar-benar sulit dipercaya... seperti bohongan saja"
Setelah dilihat baik-baik ini memang klinik, astaga memalukan sekali aku tadi, menangis seperti orang aneh... :hammer:


....


*Blush*

"maafkan aku sudah merepotkan kalian... bagaimana dengan yang lainnya?"
"Kami juga tidak tahu, sepertinya mereka punya urusan tersendiri. Alexis lukaku sepertinya mulai sakit lagi nih"
"Baik, akan kuganti segera Andy"
Aku diam di tempat tidurku sementara Alexis mengobati tangan Andy yang terluka. Aku berusaha mengingat-ingat lagi... cahaya kematian itu... aku mungkin tidak akan bisa melupakannya seumur hidupku, kecuali aku mengalami hal yang lebih buruk lagi.
"Jadi, apa kalian juga ikut bertarung kemarin...?"
Mereka berdua melihat kearahku, kemudian Alexis yang menjawab.
"Benar, kemarin kau pingsan selama pertarungan..."
"..yang sangat epic menurutku"
Sahut Andy.
"Epic apanya, jangan bodoh, kita hampir mati semalam"
"Ouch, pelan-pelan dengan lukaku Alexis! :hammer: "
Jadi mereka benar-benar mengalahkannya... hebat sekali aku tidak bisa membayangkannya... aku jadi pusing, aku memegang kepalaku, eh.. jadi aku tidak pulang seharian?!!
DOENG Ayah pasti sangat marah kepadakuuuuu, otakku pun segera berpikir untuk mencari alasannya... Tidak mungkin aku bilang kalau aku menghadapi Chrome paus itu, bisa-bisa aku tidak boleh pergi kemanapun selamanya nanti.
"Aku mau pulang dulu ya! berapa biaya.... hauuuu"
Aku panik kelabakan dan buru-buru turun dari tempat tidur, namun badanku limbung, aku seperti habis mengeluarkan tenaga dalam jumlah besar saja kemarin, mataku pun berkunang-kunang karena bangun tiba-tiba.


"Awas"


Hup, Andy langsung menangkapku. Tangan kirinya memeluk dan menopang bagian belakang tubuhku.

"Hati-hati, kamu kan baru saja sadar, kenapa terburu-buru seperti itu?"
"Terimakasih..."
Cepat sekali dia menangkapku, padahal tadinya dia berjarak sekitar 3 meter... wajahnya jadi dekat. Matanya berwarna biru... wajahku jadi panas, perutku jadi geli, apa yang aku pikirkan :hammer: . Aku segera berdiri sendiri dan melepaskan pegangan Andy.
"Aku harus segera pulang, keluargaku pasti khawatir... Akan aku bayar biayanya..."
"Kalau begitu hati-hati ya, kau yakin kau baik-baik saja? kulihat kondisimu memang sudah baik, tapi jangan memaksakan diri ya. Dan tidak perlu bayar kok khusus hari ini"
Ujar Alexis sedikit khawatir. Aku tersenyum lega, lalu segera mengambil jaket dan tas yang ada di meja.
"Aku pulang dulu ya Alexis dan Andy"
"Yoo"
"Hati-hati ya Nina"
Aku melemparkan senyum kepada mereka berdua dan segera berlari-lari kecil menuju rumah. Benar saja Ayah langsung menginterogasi aku, aku sudah menyiapkan alasan, bahwa ada sedikit rintangan selama perjalanan, jadi kami menginap di hutan. Tapi tetap saja ayah memarahiku, yah ini lebih baik daripada ayah mengetahui kalau anak perempuannya hampir kehilangan nyawa oleh seekor monster kelas S.
Hari pun berlalu... dengan tenang.

-

Aku duduk di sofa sambil membaca buku, sudah berlangsung sekitar 45 menit. Aku meletakkan bukuku di pangkuan, dan melihat ke arah jam, sekarang ini pukul 2 siang... Aku merasa sedikit jenuh di rumah. Soal eksperimen itu sudah aku lupakan :hammer: bahannya masih ada di kamarku, mungkin lain waktu saja aku membuat ramuan cinta bodoh itu.

Sudah 2 hari semenjak aku keluar dari klinik, tiba-tiba aku merasa ingin tahu kabar mereka, apa mereka masih ada di Eremidia? Aku pun memutuskan untuk mengunjungi Alexis dan Andy. Aku segera mengambil sepatu boots coklat kesukaanku. Aku keluar dari rumah dan melangkahkan kakiku menyusuri jalanan kota Eremidia menuju ke klinik Alexis. Hari ini begitu cerah, aku memandang ke langit biru yang silau, udaranya juga nyaman, burung-burung menari di udara bersama pasangannya dengan riang. Orang lain ada yang berjalan searah denganku ada pula yang berlawanan, setelah melewati satu gerbang perbatasan blok, terlihat kerajaan Eremidia yang megah dan tinggi, tempat berdiamnya Dnasman, sang raja dari negeri ini. Hari-hari yang damai di Eremidia... meski akhir2 ini banyak sekali isu-isu tentang serangan monster berbahaya. Aku harap aku dan negeri ini selalu berada dalam kedamaian. Tinggal beberapa meter lagi aku sampai di klinik Alexis, aku melihat Andy keluar dari pintu klinik.

"Andy!"
Panggilku


"oh?"

Andy yang tadinya melihat ke depan menolehkan kepalanya kepadaku.
"Aku sedang ingin mengunjungi kalian berdua, apa kabar kalian?"
Tanyaku sambil tersenyum, Andy pun membalas.
"kami berdua baik-baik saja, luka-lukaku sudah sembuh dirawat oleh Alexis"
"Kalau begitu syukurlah!"
Jawabku lega dan riang.
"Bagaimana denganmu? sudah tidak apa-apa?"
"Ya, aku baik-baik saja kok"
Kataku sambil mengepalkan kedua tanganku di depan dadaku, aku agak senang Andy menanyakan keadaanku.
"Bagus, kalau begitu aku pergi dulu ya, Alexis ada di dalam tuh"
"Ah... iya Andy, hati-hati ya"
"yoo"

Andy melambaikan tangannya dan pergi, aku masih diam di tempat bersama bayanganku, menatap punggung Andy sampai dia menghilang di dalam keramaian. Kalau berdiri terus di sini, aku bisa dianggap patung :hammer: akhirnya aku segera masuk ke dalam klinik.

Begitu pintu klinik dibuka, tercium aroma herbal yang wangi dan menenangkan, membuat hati dan pikiranku ringan.
"Alexis...?"
Aku membuka tirai putih di tengah ruangan, dimana tadi ada terlihat siluet Alexis. Aroma herbalnya semakin tercium, bahkan lidahku hampir merasakannya, terlihat jelas Alexis sedang meracik tumbuh-tumbuhan.
"Nina?"
Alexis yang menyadari keberadaanku segera menghentikan aktivitas meraciknya. Aku merasa sepertinya aku mengganggu kesibukannya.
"Aku datang mengunjungi kalian berdua, sepertinya Andy sudah sembuh ya?"
"Iya benar, terimakasih ya Nina sudah mau mengunjungi kami lagi, kamu mau minum teh herbal?"
"Bo-boleh jika tidak merepotkan..."
Nina pun mempersilahkan aku untuk duduk di kursi kayu putihnya, karena di situ tidak ada tempat untuk duduk yang lainnya, yang ada hanyalah beberapa tempat tidur bersprei putih yang bersih. Aku melihat ke meja kerja Alexis tadi, ada banyak sekali tumbuhan yang pernah kulihat dibuku ensiklopedia kesehatan. Didorong oleh rasa penasaranku aku mendekat ke meja itu.
"Wah... ternyata seperti ini ya pembuatannya... uhm..."
Aku memegang-megang tumbuhan yang ada di atas meja, ada yang warnanya bagus sekali, warna merah muda dan bertulang enam. Wanginya seperti apa ya? Aku mencoba menghirupnya aromanya :hammer:
"Uwah wanginya menusuk... :pokerface:"
Wanginya tajam sekali, aku tidak tahan dan jadi agak pusing. Uwah pusing sungguhaaaan. Mataku jadi berputar-putar, gawat.


"Nina ini tehnya... Nina?!"
"Awawawa Alexis...."
Mataku berputar-putar dan hampir jatuh. Alexis panik, dia meletakkan teh itu di meja dan mencoba menolongku.
Aku pingsan lagi :hammer:

-

Setelah aku sadar aku sudah ada di tempat tidur... Alexis tidak ada... oh ternyata dia sedang melayani para pengunjung klinik...
Aku segera turun dari tempat tidur dan mengintip dari balik tirai. Alexis sepertinya sibuk sekali, pengunjungnya banyak dan sepertinya kebanyakan adalah hunter. Bodohnya aku tadi :hammer: merepotkan Alexis saja.

...

"terimakasih sudah datang berobat ke sini, semoga cepat sembuh tuan"

...

"baik akan saya ambilkan potionnya, silakan tunggu sebentar"

...

"Selamat sore, mari saya periksa dulu"

...

"Apa monster yang menyerang anda mengeluarkan lendir berwarna ungu? kalau iya..."

...

Sepertinya Alexis sibuk sekali, apa tidak ada orang lain yang membantunya di sini? :OMG: Aku merasa harus membantunya, jadi aku segera keluar dari balik tirai.

"Alexis ada yang bisa aku bantu?"
"Nina, kamu sudah sadar? tidak perlu, kamu kan tamu, tunggu saja dulu"
"Sepertinya kamu kerepotan sendirian, biar aku bantu ya"
Aku memaksa untuk membantu, aku janji tidak akan membuatnya susah lagi.
Aku melihat list potion, lalu aku melihat ke lemari penyimpanan potion. Beberapa pengunjung ada yang hanya memerlukan potion biasa, ini dia kesempatanku.
"Alexis, biar aku yang menjual potion biasa, jadi kamu perlu terlalu banyak bolak balik kan? ini listnya bukan? aku hapal kok tentang potion potion umum"
Alexis mengangguk dan tersenyum.
"Lemari potionnya ada di balik tirai tadi, kamu sudah lihat kan?"
"Baik!"
Aku pun dengan semangat membantu Alexis, melayani pengunjung klinik. Ini mungkin pengalaman kerja yang bagus meskipun sukarela.
Health Potion I, Health Potion II, Antidote... Mana Potion I dua botol... Antidote... Mini Serum...

"Terimakasih tuan, semoga cepat sembuh ya"

...

"Terimakasih, semoga cepat sembuh"

...

"Eh bukan yang ini potionnya tuan? Alexis? ini bukan ya? :hammer: "

...

" :OMG: Alexis ini health potion I nya habiiiiis"

...

"Alexis :hammer: "

...

"Aaaaaaaaaaaaa potionnya habis lagi Alexissss :OMG: "

...

Aku ricuh sekali. :hammer:

Tak terasa hari sudah sore, matahari sudah sangat menjauh ke barat, langit mulai berwarna pink,ungu, dan jingga, klinik pun sudah sepi. Kami berdua duduk menikmati teh herbal Alexis yang menenangkan syaraf yang tegang sehabis bekerja.
"Nina terimakasih atas bantuanmu ya, aku terbantu sekali"
"Ah tidak kok! maaf ya kalau agak merepotkan selama bersamamu"
"ahahaha, santai saja Nina"
Kami pun berbincang-bincang, ternyata Alexis asalnya adalah dari Alumnea begitu pula dengan Andy, karena dari tanah yang sama makanya mereka berdua bisa akrab. Aku pun berbagi cerita soal beberapa kebudayaan Eremidia.

*Kriek* Pintu Klikin terbuka.
"Aku kembali Alexis"

Itu Andy, dia baru saja kembali ternyata...

"Bagaimana Andy? apa kamu mendapatkan informasi?"
Tanya Alexis sambil meletakkan cangkir tehnya. Informasi apa ya...?
Kulihat Andy hanya menggelengkan kepala dan duduk di kursi sebelah kami. Aku segera menuangkan teh herbal Alexis ke cangkir yang baru untuk Andy.
"Terimakasih Nina"
Andy tersenyum, namun dia agak lesu.
Alexis menatap dan menepuk-nepuk bahunya Andy .
"Tenanglah, kamu harus optimis Andy, kamu pasti akan menemukannya"
"Hmm kamu benar"
Aku tidak mengerti apa yang mereka bicarakan, sepertinya Andy sedang mencari sesuatu yang berharga baginya, namun aku tidak berani untuk bertanya terlalu jauh, hubunganku dengan mereka masih terlalu dangkal...
Andy meminum tehnya, lalu dia menatap kepadaku.

*dheg*

Lalu dia menatap jam.

:hammer:

"Nina ini sudah jam setengah 6 lho, apa tidak dicari keluargamu?"

Oh iya :hammer: aku harus segera pulang.

"Kalau begitu aku pulang dulu ya, Alexis terimakasih untuk hari ini"
"Sama-sama Nina, hati-hati di jalan ya"
"Hati-hati Nina"

...
Aku sudah memegang ganggang pintu keluar klinik, aku ragu-ragu tapi aku mau mengatakan sesuatu. Aku berbalik dan melihat Andy yang ternyata sedang melihat aku yang mau keluar klinik.

"?"

"Andy semangat ya! semoga apa yang sedang kamu cari kamu temukan secepatnya"

Mataku sambil sedikit terpejam saat mengatakannya.
Mata Andy membuka lebar, sepertinya agak kaget dengan kata-kata spontanku barusan. Aku jadi malu sendiri, mukaku merah dan siap mengambil langkah keluar klinik secepatnya. Namun Andy akhirnya tersenyum.

"Terimakasih Nina, aku pasti akan menemukannya"

Aku...
Wajahku pasti sangat aneh sekarang, aku hanya tersenyum dan langsung pergi keluar.

Aku menatap bebatuan jalanan Eremidia, warnanya jadi cantik sekali karena ditimpa oleh cahaya senja... atau karena aku habis melihat senyum Andy?
Langkahku jadi ringan, entah karena teh herbal Alexis atau...
...
...
Rasanya aku ingin menampar diriku sendiri sudah berpikiran seperti itu. :hammer:
Aku melewatir gerbang perbatasan blok... setelah melewati naungannya terlihatlah langit yang perlahan memperlihatkan warna ungu dan biru malam beludrunya... Ada bulan...

"Bella Luna..."

gumamku pelan, aku tersenyum, sambil berjalan kurasakan belaian angin sejuk yang menyentuh pipi dan membelai rambutku. Pipiku memerah dan terasa hangat. Aku terus tersenyum tanpa bisa kubantah.
Rasanya bersemi...

-

Selama 3 hari kedepannya aku terus membantu Alexis, aku senang bekerja di klinik, selain itu aku juga punya niat terselubung... Aku menunggu Andy pulang ke klinik setiap sore :hammer: .
Benar-benar, bekerja di klinik itu tidak mudah juga, hampir setiap hari, selepas siang pasti akan ada banyak pengunjung yang datang, hampir tidak ada jedanya sampai sore tiba...

-

Hari keempat aku membantu Alexis, aku mau mengabarkan soal pertemuan penyihir kepada Alexis dan Andy. Benar, Lusa adalah hari pertemuan penyihir dari seluruh negeri. Apa itu pertemuan penyihir? Pertemuan penyihir adalah pertemuan yang diadakan satu tahun sekali di Eremidia, bertempat di kastil Eremidia, seluruh penyihir dari berbagai negeri bisa ikut. sebenarnya sampai dua tahun yang lalu, pertemuan ini eksklusif hanya untuk para penyihir saja, namun sekarang warga non-penyihir bisa menikmati event ini juga. Acara yang diselenggarakan event ini adalah, Presentasi ilmu sihir baru, lelang barang antik sihir, pertunjukkan hiburan sihir, dansa di istana dan dansa rakyat.
Aku tidak sabar untuk segera sampai ke klinik.

To be continued...


My first project :3


I Support These Games :
2012-07-16, 13:05
PostRe: [StoryPlay] Eremidia : The Legends begin
richter_h 
Salto Master
Hancip RMID
avatar

Kosong
Posts : 1705
Thanked : 30
Engine : Other
Skill : Skilled
Type : Developer
Awards:

The Tale of Vent McGraves
Chapter XVI


Klik to Chapter XV

"Hari yang cerah untuk berburu, kawan!"

Pagi menjelang siang--dimana Vent dna Vischelia bangun kesiangan setelah bersenang-senang dengan orang-orang kota di penginapan John Barrelmore mereka disambit oleh pria kekar brewokan berwajah garang seperti beruang dan memakai perlengkapan serba kulit; rompi kulit, sarung tangan kulit, sampai celana dan sepatu kulit.

"Akulah Sven si barbar," jawabnya. "Muro telah memberitahuku, kalian akan pergi ke hutan Nord's Peak. Dan teman Muro adalah temanku juga."

Tidak lama kemudian, Muro muncul dari gudang minuman, melihat Vent, Vischelia dan Sven sedang berbincang di depan gudangnya itu.

"Akhirnya kalian datang juga," sambut Muro yang menunggu mereka. "Jadi, Ventski, kau akan pergi ke Nord's Peak sekarang?"

"Pastinya. Ane penasaran sama akar Hucklewood yang kemaren disebut-sebut."

"Dan gadis itu akan ikut juga?"

Muro dan Sven melirik Vischelia yang dari tadi senyum-senyum saja. Vent ikut lirik, lalu dia menghela napasnya.

"Ni cewek emang pengennya ikut ane terus..." Vent menjawab keraguan Muro dan Sven. "Leluhur sepertinya pengen banget cewek ini sama ane terus, makanya ane ngga bisa nolak. Lagian, dia udah nolong ane dulu."

Muro dan Sven saling tatap, saman-sama sepikiran menangkap apa yang dikatakan Vent.

"Apa dia akan baik-baik saja selama kita ke hutan itu?" Tanya Sven, "Bahkan satu rombongan penuh dengan petarung sampai kerepotan saat di sana melawan Goblin Es yang memakai perlengkapan aneh. Aku tidak bisa menjamin keselamatan gadismu itu, Vent."

"Tenang saja, aku bisa jaga diriku sendiri!" Jawab Vischelia dengan semangat. "Aku, Vischelia Abilaine, bisa jaga diriku sendiri. Berlaga di medan perang, aku sudah terbiasa melihat dan bergelut dengan kematian."

"Meyakinkan, kan?" Vent facepalm lalu menghela napasnya. "Paling enggak ni cewek bisa jaga dirinya sendiri. Selama kita-kita pergi ke hutan sana, ane yang tanggung jawab sama keselamatan Pissel."

Muro dan Sven angguk-angguk saja mendengar penjelasan Vent.

"Sebelum pergi, mungkin Ventski dan Vischelski mau melihat-lihat perlengkapan dan perbekalan di toko Aldurski. Ya, Aldurski adalah temanku. Bilang saja kalian adalah temanku, dan dia akan memberikan apa yang akan kalian butuhkan."

--

Toko milik Aldur berada tidak jauh dari penginapan John Barrelmore, terpisah beberapa rumah dari penginapan itu. Mereka masuk ke toko itu dan disambut oleh seorang lelaki paruh baya yang sedang membereskan dagangannya yang macem-macem; mulai dari obat-obatan, perlengkapan berburu, sampai ke bahan-bahan ramuan dan beberapa buku. Kata Sven, Aldur ini dulunya pedagang yang sering keliling Northern Borderline dan sudah menjelajah seluruh penjuru Eremidia, dan memutuskan untuk berhenti menjelajah dan membuka toko di kota Remorr ini.

"Ah, akhirnya pelanggan," sambut Aldur. "Apa yang kalian butuhkan, kawan?"

Sven menjelaskan apa yang akan mereka lakukan, dan menjelaskan siapa Vent dan Vischelia yang ikut bersamanya. Aldur angguk-angguk dan dia dengan ramahnya menyambut kawan baru Brom, teman lamanya.

"Teman Brom adalah temanku juga," kata Aldur. "Ya, tentu, aku punya beberapa barang khusus untuk temanku, tentunya dengan potongan harga yang menarik... Tapi akakn kuberikan ini gratis, karena kalian akan pergi ke tempat dekat para Goblin sering berkeliaran."

Aldur mengeluarkan beberapa botol obat-obatan. Aldur sudah tahu bahaya macam apa yang akan mereka jumpai di huta Nord's Peak itu.

"Itu gratis." Aldur tertawa saat Vischelia heran kenapa dia bisa dapat obat-obatan itu cuma-cuma. "Apalagi untuk gadis secantik dirimu..."

Aldur Surandul ini memang punya kebiasaan menggoda gadis yang ada di depannya, dan kebanyakan kata-kata yang dilontarkan pria itu selalu melempem di hadapan para gadis. Vischelia hanya menatapnya dengan tatapan seperti melihat kakek-kakek genit :lirik:

"Kami akan pergi sebelum tengah hari, dan terima kasih atas pemberianmu."

Sven, Vent dan Vischelia lantas beranjak ke luar. Tentu saja mereka menerima obat-obatan itu dengan senang hati. Bukan hanya itu, Vischelia tertarik dengan segulung lukisan yang disimpan di rak buku, dan dia membelinya dengan harga 20 keping emas, harga yang tinggi menurut Aldur. Petualangan pun dilanjutkan...

--

Sepanjang hari mereka berjalan ke arah selatan, ke arah gunung yang tingginya naudzubileh dan dikelilingi pepohonan yang tertutup salju. Nord's Peak, nama gunung itu. Menurut legenda, seorang petarung asli Northreach pergi ke sana untuk berlatih pedang dan dia menemui banyak halangan rintangan untuk sampai ke sebuah reruntuhan kuil tepat di puncak gunung sana. Tidak ada lagi orang yang pergi ke sana setelah orang itu sampai sekarang, menurut Sven.

Hingga mereka sampai ke pinggiran hutan, maahari sudah berada di belakang pegunungan dan hari mulai gelap. Mereka memutuskan untuk berkemah di alam liar. Sven mengumpulkan beberapa ranting kering dan membuat api unggun sementara Vent memeriksa minuman dalam barel yang selalu dia bawa dan Vischelia melukis lagi pemandangan hutan dan pegunungan menjelang malam. Malam yang dingin akan mereka lewati di sana, kata Sven.

Malam gelap, hanya api unggun menerangi mereka di luar sana. Suara dari dalam hutan mewarnai suasana kelam. Terlihat jelas langit malam bertabur bintang dihiasi tirai penuh warna hasil karya para dewa. Mereka masing-masing bercerita tentang apa yang telah mereka lalui ditemani minuman hasil racikan Vent dan sari apel. Memang, minuman beralkohol di tempat gelap dan dingin itu rasanya nendang banget. Namun kehangatan api unggun dan minuman itu harus terganggu dengan suara-suara mencurigakan dari dalam hutan. Sven langsung siaga, menghunuskan pedangnya dan bersiap jika ada yang menyerang.

"Waspadalah," Sven berbisik pada Vent dan Vischelia yang juga sudah bersiap, "Mungkin beberapa serigala sedang mengintai kita dari dalam sana."

Terlihat beberapa pasang mata menyala dari kegelapan hutan. Seram dan menyeramkan, tapi baik Vent, Sven bahkan Vischelia tidak takut. Tiba-tiba, sekonyong-konyong beberapa ekor serigala muncul dan langsung mengepung mereka. Mungkin tujuh atawa delapan ekor, dan mereka terlihat begitu nanas ganas dan kelaparan. Tanpa banyak menghabiskan baris naskah para serigala itu langsung menyerang. Sven menghalau serigala yang menyerang dengan pedangnya, sedangkan Vent menendang setiap serigala yang menuju ke arahnya. Vischelia menghindari setiap serangan serigala dengan indah dan gaya sambil mencoret mata setiap serigala yang menyerangnya dengan kuas. Paling tidak para serigala itu tidak bisa melihatnya, tutur Vischelia sambil membasahi kuasnya dengan cat hitam.

"Vent, Vischel, lari!"

Vent dan Vischelia lari sambil membawa bawaan mereka masing-masing, sementara Sven menghalau para serigala gila itu. Mereka meninggalkan Sven, masuk ke dalam hutan dan tidak tahu mereka berlari ke arah mana.

"Vent, apa Sven akan baik-baik saja?"

"Ente nggak usah kuatir. Dia udah terlatih sama suasana dimari."

Vent dan Vischelia terus lari ke dalam hutan. Terlihat di ujung kegelapan hutan sebuah obor yang menyala. Mereka terus berlari ke arah sana. Terlihat sebuah pintu tua nan besar dari besi di tebing, dan tidak panjang pikir mereka membuka pintu itu dan bersembunyi di dalam.

Terengah-engah, mereka memutuskan beristirahat di balik pintu itu yang ternyata adalah pintu goa, dan goa itu diterangi dengan obor-obor yang mungkin saja memandu mereka ke suatu tempat antah berantah di dalam sana. Tidak lama kemudian, mereka memutuskan untuk menyusuri goa itu, kemanakah goa itu akan membawa mereka?

Mereka terus berjalan menyusuri goa yang diterangi cahaya obor di dinding goa dimana jarak antar obor tidak terlalu jauh. Ternyata goa itu membawa mereka ke sebuah pintu besi lagi.

"Vent," Vischelia merasa tidak yakin untuk membuka pintu itu. "Lebih baik jangan dibuka. Perasaanku tidak enak..."

Baru saja Vent mau memegang gagang putar pintu itu, pintu itu tiba-tiba terbuka sendiri dan terlihat jelas beberapa orang kerdil lengkap dengan pakaian paduan besi dan kulit serta membawa berbagai senjata--pedang, kampak, palu dan tombak dan langsung menyergap mereka.

"Penyusup!!" Teriak salah satu orang kerdil itu. "Bawa mereka ke kurungan!"

Ditodong berbagai jenis senjata, Vent dan Vischelia memilih untuk cari jalan aman; dibawa ke kurungan oleh para orang-orang kerdil dengan kumis dan jenggot brewokan yang tingginya hanya setengah dan lebih dikit dari tinggi Vent. Entah apa yang akan mereka jumpai nanti...

Klik to Chapter XVII


| My spriteworks | deviantArt | Mark's Quest | Eremidia: Dungeon! |
Developer of:



Supporter of:


Selp-Proclaimed The Most Handsome Member of the Long Lost Glorious


Disini kalo sebagai nubi mau dikritik yang bagus2 biasanya harus ngaku cewek dulu, karena you know lah... -- Brosef numfanklewhat


Terakhir diubah oleh richter_h tanggal 2012-07-17, 19:45, total 2 kali diubah
2012-07-16, 15:26
PostRe: [StoryPlay] Eremidia : The Legends begin
McPherson 
Senior
Senior
avatar

Level 5
Posts : 777
Thanked : 7
Engine : Multi-Engine User
Skill : Intermediate
Type : Mapper
Awards:

Gila! Ketinggalan bnyk bngt! :hammer:

y udahlah, langsung saja chapter 2 milikku.


The Seeker of Legendary Swordman


Episode 02 : "Pemuda ahli pedang ambisius dari Negeri asal Sakura" - Part 2



Location : Tony's House, Faleon, South-East Eremidia

"Silahkan teh dan kuenya. " - Ucap seorang pelayan wanita di kediaman Sir Tony
"Hei, terima kasih yah. " - Kata Kotaro dengan senyum di wajahnya,
"Wah, rumah anda besar sekali, sepertinya nyaman sekali. " - Lanjut, Kotaro
"Hei, sopan sedikit, beliau ini adalah seorang bangsawan. " - Kata pelayan itu.
"Hahaha, tidak benar, meskipun rumah ini cukup besar, namun isinya tidaklah senyaman yang kau kira. " - Kata Sir Tony dengan ramah.
"Kenapa begitu? " - Tanya Kotaro.
"Di dalam rumah ini hanya ada saya dan pelayanku, dan berdua saja sungguh sangat sepi. Makanya aku sering berjalan-jalan di kota ini untuk menghilangkan kebosananku. Tapi, setelah sekian lama, berkat anda, rumahku kedatangan tamu juga. Mungkin rumah ini akan jadi ramai karena kedatangan anda. " - Ucap Sir Tony.
"Katakan, maukah anda tinggal di rumah ini untuk sementara? " - Tanya Sir Tony.
"Wow, anda baik sekali. " - Kata Kotaro.
"Jadi anda mau? " - Tanya Sir Tony sekali lagi,
"Baiklaaah, lagipula aku juga membutuhkan tempat tinggal di Negeri ini. " - kata Kotaro.
"Bagus! Segera siapkan kamarnya untuk Tuan ini. Omong2 siapa nama anda? " - Tanya Sir Tony.
"Oh, namaku Kotaro, saya berasal dari Negeri timur jauh, Negeri asal bunga Sakura. " - kata kotaro dengan senyum.
"Negeri asal Sakura? Begitu, anda adalah seorang petualangkah? " - Tanya sir Tony.
"Begitulah, saya di sini ingin mengasah ilmu pedang saya sekaligus mencari orang yang saya kagumi yang rumornya merupakan ahli pedang nomor satu di seluruh dunia. " - Jawab Kotaro dengan antusias, matanya yang juga menyorotkan sinar tanda ambisi.
"Wah, hebat sekali padahal masih muda, tapi anda sudah berani berpetualang. hahaha. " - Puji Sir Tony.
"Ngomong-ngomong, Tuan sebelumnya bertanya tentang 'pemburu', apa yang Tuan maksud dengan itu? " - Tanya Kotaro
"Ah, ya, benar! Hunter! Hunter yang saya maksud adalah seorang pekerja upahan untuk membasmi para Monster, yang akhir-akhir ini makin banyak jumlahnya. Terdapat banyak sekali seorang Hunter di negeri ini, mereka bekerja dengan sebuah misi yang dberikan oleh Guild Hunter, yang merupakan tempat para hunter berkumpul, dan tempat penerimaan reward dan misi. " - Jelas sir Tony.
"Wow, sepertinya asyik sekali. Hehe. " - Kata Kotaro.
"Jelas asyik untuk seorang sperti anda, haha, apalagi bayarannya cukup besar. " - Kata sir Tony.
"Kau mau menjadi Hunter? " - Tanya sir Tony
"Ya! " - Jawab Kotaro.

Lalu, keduanya saling asyik bercerita tentang negeri asalnya, pelayannya pun ikut mendengarkan, tampak rumah seperti ramai. Bahkan sir tony sampai terkagum-kagum mendengar cerita dari kotaro, tentang perjalanannya menjadi seorang ahli pedang di negerinya, ia kaget, karna sudah banyak sekali ahli pedang di negerinya, lebih takjub lagi ternyata ia smua sudah terlatih sjak umur 3 tahun.

...
Bersambung

yg d garis bwh, blum tau nama yg cocok.. :hammer:


Supporter of :

2012-07-16, 18:12
PostRe: [StoryPlay] Eremidia : The Legends begin
hyperkudit 
Pahlawan Super
avatar

Level 5
Posts : 2288
Thanked : 30
Engine : RMXP
Skill : Very Beginner
Type : Artist
Awards:

Quote :

About Howl
Quote :

Previous Chapter
Chapter 9 : Red Riding Hood

Aku berjalan menyusuri hutan, masih sedikit kesal dengan perintah Shirloin-something yang seenaknya. Aku memang membuat kontrak tidak resmi dengannya, tapi tidak seperti ini yang ada dalam bayanganku, aku berpikir bahwa aku bisa memanfaatkan Shirloin-something dan antek-anteknya, tapi yang terjadi justru sebaliknya.

"gah.. menyebalkan!!" seruku, aku ingin sekali rasanya menarik kembali ucapanku semalam, namun itu benar-benar menyimpang dari Rule-of-Cool point delapan, pria sejati tidak pernah menarik kata-katanya. dan yang lebih penting adalah The Master Rule of Rule-of-Cool, setiap poin dalam Rule-of-Cool adalah MUTLAK!!, melakukan hal yang menyimpang dari Rule-of-Cool adalah sebuah kejahatan terbesar dimuka bumi.

Aku berusaha berjalan tegap dan selalu terlihat tampan, walau aku tidak tahu pasti sebenarnya perintah yang Shirloin-something berikan padaku, tetapi aku pura-pura mengerti agar terlihat berotak. Aku memang benci rapat, teori, belajar dan semua hal yang berhubungan dengan duduk lalu mendengar orang yang menganggap dirinya lebih pintar komat-kamit kepada ku.

Ribuan tahun aku ada di dunia ini tapi tak satupun bentuk aksara dan tulisan yang bisa kumengerti, aku hanya melihat mahluk hidup menggambar garis-garis yang terkadang berbentuk seperti cacing atau hewan lainnya, lalu secara ajaib gambar tersebut membuat orang-orang berkata 'A' atau 'B' atau 'C' dan lain-lain.

Aku belajar segalanya dari pengalaman, praktek bukan teori.. siap yang membutuhkan teori jika kau bisa mengalaminya langsung, mengulanginya semaumu, dan tanpa batasan waktu untuk umurmu? jika aku sedikit mau berpikir, kurasa aku adalah pria paling jenius yang ada di dunia. Tapi belajar teori tetaplah membosankan, praktek adalah tehnik ku, pengalaman adalah guruku, walau aku seringkali tidak belajar dari pengalaman.

"KYAAAAH.."

Jeritan seorang gadis membuatku memfokuskan perhatian kepada sumber suara itu. Seorang gadis kecil berkerudung merah tersungkur, merangkak menjauh dari tiga ekor serigala besar, bukan werewolf, hanya serigala yang mungkin tingginya setengah manusia dewasa. Meh.. bukan masalahku, orang-orang mati setiap hari, jadi ini hanya satu hari sial bagi gadis itu, dan sebuah keberuntungan bagi para serigala.

"PERGI KAU ANJING NAKAL!!!" teriak gadis itu, sembari memukul-mukuli setiap serigala yang mendekat dengan keranjangnya. Hanya itu jurus pamungkas mu? menyedihkan sekali memang menjadi manusia. Aku memutuskan untuk menonton pertunjukan ini sebentar, berharap bisa melihat sesuatu yang keren seperti darah yang muncrat atau usus dan otak yang beterbangan.

"Tuan.. Tolong!!" seru gadis itu tiba-tiba ketika matanya mengarah ketempat persembunyianku. Aneh, ini sangat aneh, aku yakin sekali persembunyianku ini sempurna dan sangat keren, bagaimana mungkin dia bisa menemukanku?



Aku menyibak daun pohon yang telah menyembunyikan wajahku bersama ketampanannya.

"khukhu.. Kau pasti bukan orang sembarangan jika bisa mengetahui keberadaanku." gumamku sambil memberikan kesan misterius.

"Tolong tuan!!! mereka anjing-anjing buas." teriaknya lagi, gadis itu berusaha mempertahankan roknya yang ditarik-tarik oleh para serigala.

"hmm... apa untungnya bagiku?, jika aku menolong mu apa yang kau akan berikan kepadaku?" tanyaku sembari mengusap-usap daguku yang ditumbuhi rambut tipis.

"Aku akaan memberikaan apapuuunn!!!" teriaknya karena sudah tidak tahan lagi.

Aku manggut-manggut sambil mengamatinya dari ujung rambut sampai ujung kaki, gadis itu memiliki rambut pirang, mata biru dan tubuh ramping kira-kira mungkin usianya 14 tahun.
Selain itu dia mengenakan kemeja putih, lengkap dengan kerudung dan rok merah lebar sampai betis.

Mataku terfokus ke arah dadanya.. indah, sungguh sangat indah sekali, aku belum pernah melihat yang bentuknya sebagus itu sebelumnya.

"Baiklah, tapi sebagai imbalannya aku ingin itu jadi milikku.." tunjuk ku kearah dada gadis itu, kearah sebuah hiasan kupu-kupu berwarna merah yang juga berfungsi sebagai kancing.

"baiklaaaahh!!, tapi cepat tolong aku!!!" teriaknya.

Aku mengangkat tangan kananku, bersiap menjentikan jariku kearah para serigala.

...

Tiba-tiba aku teringat menggunakan kemampuan membakar ku pada situasi yang sama seperti ini, aku ingat ketika berusaha membakar musang-musang yang mencuri kelinci buruanku yang rasanya manis, mereka terlalu dekat sehingga kelinciku juga ikut mati terbakar dan tidak enak lagi rasanya. Aku tidak ingin kancing kupu-kupu itu juga ikut terbakar. Tidak heran mengapa orang mengatakan pengalaman adalah guru terbaik.

Aku mengurungkan niatku untuk membakar mereka, lalu mengambil kuda-kuda.

BUK!!!

Kutendang satu serigala, lalu ku tinju serigala lainnya. sekarang mereka sudah cukup jauh dari gadis itu, namun masih berusaha menyerang. sungguh menyedihkan, bahkan serigala kini tidak takut padaku.

GRRR...

Salah satu serigala menyerangku dari depan dan berhasil ku halau, namun seekor serigala melompat kearahku dari belakang, melahap kepalaku dan wajah tampanku, membuatku tidak dapat melihat apapun keluar.

"AAARRGGHHH.. ARRRGGHH!!! AKU BUTA!!! SESEORANG NYALAKAN LILIN ATAU SESUATU!!" teriakku sambil berlari berputar-putar. kepalaku masuk sepenuhnya kedalam mulut mahluk itu, membuatnya serigala itu menempel pada leherku.

UGH!!!

Aku terdiam, aku baru saja melanggar Rule-of-Cool nomor 6, bertarung santai. Aku malah berteriak seperti orang gila, di depan seorang gadis pula. Aku menenangkan diriku, lalu kembali membuat kuda-kuda walaupun samasekali tidak bisa melihat. Ya, aku akan bertarung dengan seekor serigala menutupi kepalaku. Tidak keren? kawan.. tehnik bertarung dengan menutup mata adalah salah satu hal terkeren legendaris yang pernah tercipta.

Aku mendengar derapan langkah kaki mereka, ku prediksikan kemana mereka bergerak.
Aku terus menunggu, menendang, berputar dan berbalik sampai akhirnya kudengar mereka melarikan diri. Aku berjalan mundur dan tiba-tiba..

JLEB!!.

"kyaaa..." Kudengar jeritan gadis itu lagi

Terlebih serangan ini terasa sakit, sangat sakit.. sesuatu menembus punggungku sampai ke dada, apa ini pimpinan mereka? sungguh pengecut jika menyerang dari belakang.

"k-kau ini a-apa?" kudengar samar-samar suara gadis itu, mungkin dia bertanya kepadaku/

"mblp..blm..blp..bmlemblep.." Itu suara yang keluar dan tersalurkan melalui udara, padahal aku sudah yakin mengatakan 'Aku adalah seorang pria macho, tampan dan jenius yang melintas.'

"LEPASKAN ITU DARI KEPALAMU!!" bentaknya, membuatku teringat satu lagi serigala yang menancap di kepalaku.

Aku melepaskan serigala itu, lalu membuangknya. Kini aku bisa melihat mata gadis itu berlinang ar mata, bukan sedih tapi kurasa karena ketakutan. Aku melihat kearah dadaku, yang membuatku merasa sakit dari tadi. yang ternyata....

hanya sebuah batu tajam..

Jadi yang kusangka pemimpin para serigala itu hanya sebuah batu yang tajam? kurasa aku tertusuk karena kecerobohanku sendiri. Kurasa aku memang tidak belajar dari pengalaman, terakhir aku bertarung dengan mata tertutup aku berakhir dengan terjatuh di jurang.

Errggh... aku melepaskan diriku dari batu itu, seperti biasa, lukaku meregenerasi dan sembuh kembali, lalu berjalan kearah si gadis.

"si-siapa kau sebenarnya.." tanyanya ketakutan.

"hmmpphh.. namaku..., HOWL" aku biarkan kegelapan menyeliutiku, setengah wajahku berubah menjadi wajah asliku dengan mata emas bercahaya, lagi.. demi dramatisasi, tertulis dalam Rule-of-Cool poin kedua.

"a-aku tahu Howl.. apa kau akan memakanku sekarang?" tanyanya, kakinya gemetaran. tapi kata-katanya benar-benar membuatku terharu, ini pertamakalinya, ya pertama kalinya saudara-saudara...
seorang gadis muda dari generasi modern tahu dan takut akan diriku. Jangan menangis.. jangan menangis.. jangan menangis.. pikirku dalam hati, aku meneguhkan hatiku dengan Poin no 3, aku meneteskan sedikit airmata lalu berjongkok didepannya, memberikan wajah tertampanku dan senyum terbaikku.

"Tenanglah nona, aku tidak akan memakan gadis sepertimu, dan apakah kancing itu boleh kuminta seka..." belum selesai kalimatku, gadis itu telah pingsan.

Aku menggaruk-garuk kepalaku yang tidak gatal, sebenarnya aku tidak pernah peduli dengan hal seperti ini, bisa saja ku ambil kancingnya, lalu kugeledah barang-barang yang mungkin bisa menunjang penampilan tuan Winkle lalu meninggalkannya. Tapi aku tidak bisa meninggalkan anak muda yang tahu akan eksistensiku di dunia ini, mungkin seharusnya gadis ini kuangkat menjadi anggota pertama sekaligus koordinator Howl Fans Club, pikirku mengenai rencana kedepannya.

Kugendong gadis itu, lalu kembali berjalan sambil mengingat-ingat apa sebenarnya yang Shirloin-something perintahkan padaku.

-to be continued-

2012-07-16, 20:22
PostRe: [StoryPlay] Eremidia : The Legends begin
Dezwil 
Moderator
Moderator
avatar

Kosong
Posts : 310
Thanked : 7
Engine : RMVX
Skill : Advanced
Type : Developer

from chapter 5

Chapter 6: Shock

Apa aku tertidur...? Tetapi kenapa rasanya tidak lega...?
Splash! .... Splash!
....Bunyi apa ini...?
Splash! .... Splash!
...Rasanya tubuh ku terkena sesuatu...?
Splash! .... Splash!
.....Rasa sakit apa ini!? Tubuhku kenapa...!?
Cena, "....!!"
Aku terbangun dan shock. Lenganku terikat dan juga kakiku. Tubuhku berpose seperti huruf X.
Cena, "A... Ada apa ini...!?"
Sadar kalau kalau tubuhku tidak berpakaian.
Splash! .... Splash!
Cena, "Aw!! ...Aw..!!!"
Molfone, "Sudah bangun junker?" Splash!
Cena, "Gah!!"
Apa-apaan ini!? Kenapa aku ini...!?
Splash! .... Splash!
Molfone, "Kuat sekali kamu.. Padahal daritadi ku cambukmu sudah lebih dari 20 kali..
Lihatlah, tubuhmu sudah merah begitu.."
Cena, "...!?"
Tiba-tiba tubuhku terasa perih dan sakit di bagian dada dan perut.
Cena, ".....! ......!!! ..Argh!!"
Sakit sekali. Aku tidak bisa teriak apa-apa. Ternyata selama aku pingsan aku terus dicambuk oleh Molfone.
Splash! .... Splash!... Splash! .... Splash!
Cena, "Aaaaaaaaaaaaaaaahh!!"
Molfone, "Hmmm,, nyammy.. :hihi: Mendengar orang kesakitan itu rasanya pook pok pok pok! :v"
Splash! .... Splash!
Molfone, "Hayo! Teriaklah! Teriaklah budak ku!!"
Splash! .... Splash!
Cena, "Uwaaaaaaaaa!?"
Molfone, "Hmm,, dengan cambukan saja tidak puas. Baiklah, akan ku berikan penderitaan yang lebih dari ini...! :twisted:"
Cena, "....!?!?"
Molfone mengambil lilin yang ada di sekitar.
Molfone, ":-"
Molfone teteskan lilin yang meleleh ke badanku.
Cena, "!!!!!! Gwaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaah...!!!"
Molfone, "Panas kan? Seger toh!? :lol:"
Splash! .... Splash!
Cena, "....!!!!"
Sudah tidak ada tenaga untuk teriak lagi.. Dadaku sudah mulai membiru. Perutku sudah terluka sampai keluar darah.
Aku tidak melihat keberadaan Fion..
Molfone, "Kecewalah kepada temanmu itu! Dia telah meninggalkanmu sendirian untuk melarikan diri dari siksaanku...!"
Cena, "....!?"
Molfone, "Hmm.. Bagian atas sudah cukup untuk disakiti. Baiklah, selanjutnya bagian bawah..."
Cena, "......!?"
Molfone membuka celanaku hingga terlihat segalanya.
Molfone, "Uhuhuhu ada ulat kecil... :lol:"
Splash! .... Splash!
Cena, "Aaaaaaaaaa!!"
Molfone, "Hihihi sepertinya ulatmu tidak ada tenaga untuk bangun.
Baiklah, akan ku teruskan hingga benar-benar tidak berfungsi lagi...!"
Splash! .... Splash! .... Splash! .... Splash!
DUAKKK!!!
Molfone, "Ugh...!?"
Molfone tiba-tiba diserang oleh seseorang dari belakang.
".... Sudah cukup. Kau akan mati di sini...!"
Molfone, "....S..... Siapa kau...!?"
Muncul 3 orang dari belakang. Salah satunya ada Fion.

"Dreadnought 3rd Divicion Sub Captain, Dirge...!"

"Dan, Dreadnought 3rd divicion member, Irene!"
Fion, "Nasibmu sampai sini, nenek tua...!"
Molfone, "Ukh! Tak kusangka kau memanggil bantuan..! Dreadnought!? Guild mana itu!?
Aku tidak pernah dengar!!"
Dirge, "Wajar.. Kami adalah Organisasi Junker yang tersembunyi.."
Molfone, "Junker..!?"
Dirge, "Tetapi kami bukanlah junker yang sembarangan. Target kami hanyalah Hunter Hunter seperti kau, Molfone dari guild Quad Force...!"
Molfone, "...!!"
Dirge, "Rasakan pedangku.."
Dirge mengeluarkan dua pedang dari pinggang dan keluar aura merah dan biru di masing-masing pedang.
Dirge, "Api dan Es bersatu menghasilkan energi 0.
Saat menerima serangan ini, kau tidak akan merasakan apa-apa.
Tetapi bagian yang ku tebas akan hilang tanpa dirasakan!"
Molfone, "...!!"
Dirge, "Rasakan... Diez-Slash!"
Tebasannya melukis huruf X dan menyerbu Molfone.
Molfone mencoba menghindar tetapi tidak berhasil. Akibatnya lengan kiri dia menghilang dalam sekejap.
Molfone, "Hufff.... Hufff... Kuat...! Tak ku sangka bisa kehilangan lengan kiri ku ini...!
Tidak merasakan apa-apa saat menghilang..! Sungguh berbahaya skillmu...!"
Molfone bernafas pelan-pelan..
Molfone, "Baiklah.. Kali ini aku pergi begitu saja.. Tetapi, lain kali jangan harap kau bisa pulang dengan selamat...!"
Molfone mengeluarkan sihir teleport dan menghilang dalam sekejap.
Dirge, "...Itu omonganku.."
Cena, "Hufff..."
Aku merasa lega walau rasa sakitnya belum hilang.
Irene, "Kau tidak apa-apa?"
Irene mencoba mendekatiku.
Irene, "Akan ku lepaskanmu... .................:gag: WOAH! :shocked: ..................Nnnng.. Nnnnng... Tn. Dirge.. Tolong lepaskan dia... :oops: "
Cena, "......:oops:"
Aku tidak bisa mengatakan apa-apa. Aku hanya bisa diam dan malu..
Pertama kalinya dilihat wanita..
Dirge, "Loh? Kenapa emang? .................... =)) Baiklah baiklah segeral ku lepaskan.
Tetapi.. Lukanya sangat parah.. Segera kembali ke markas dan sembuhkan lukanya..!"
Fion, "Maafkan aku Cena telah meninggalkanmu begitu saja sampai terluka seperti itu..
Tetapi aku punya alasan."
Cena, "Tidak apa-apa.. Syukurlah bisa menemukan bantuannya.."
Aku dibebaskan oleh Dirge dan segera dibawa ke markas mereka.
_______________________________
_______________________________
~Medical Room
Dirge, "Kira-kira berapa lama dibutuhkan untuk menyembuhkan kembali?"
"Hanya 20 menit." Jawab seorang member.
Dirge, "Setelah kamu sembuh, akan ku kenalkan siapa kami.
Temui aku nanti.."
Cena, "Baik."
Setelah Dirge pergi, pemulihanpun dimulai.
Dengan sihir cahaya yang terasa sejuk, lukakupun mulai sembuh dan menghilang.
Luka yang ku terima saat lawan goblinpun hilang.
Sungguh lega..
___________________________
"Pemulihan selesai. Silahkan bangun dan menemui tuan Dirge."
Aku segera bangun dan meninggalkan ruangan.
Keluar ke koridor yang sangat terang karena lampu. Sekitarnya tidak ada jendela satupun.
Apakah markas ini ada di bawah tanah?
Aku berjalan lurus mengikuti jalan.
Aku telah menemukan pintu masuk yang bertulisan 3rd devicion room.
Kalau tidak salah, dia adalah sub captain 3rd devicion. Mungkin dia ada di sini.
Aku segera memasuki pintu itu.
Saat ku masuk, menemukan ruangan yang cukup luas beserta meja-meja dan kursi, serta beberapa pintu menuju kamar para member.
Aku menemukan pintu menuju ruang sub captain. Aku mencoba ketok pintunya dan memasuki ruangan tersebut.
_______________________
Dirge, "Oh, sudah selesai ya?"
Dirge berdiri di depan lemari dan menoleh ke arahku.
"Kemarilah."
Dirge segera duduk di kursi meja tugas dan aku mendekatinya.
Dirge, "Cena... Kan?"
Cena, "Iya, benar."
Dirge, "Ceritanya sudah ku dengar dari Fion. Kalian tidak beruntung ditolong oleh anggota Quad Force.."
Cena, "Sebenarnya, siapa mereka..!?"
Dirge, "Quad Force adalah salah satu guild yang memiliki Hunter Hunter.
Secara formal, mereka gild official yang diakui. Tetapi di belakangnya, mereka beraktifitas untuk memburu para hunter. Iya, sama saja seperti Junker Tetapi bedanya keberadaannya diakui oleh guild tersebut. Jadi, selama pemburuan tersebut dilakukan secara diam-diam / tidak diketahui, tidaklah masalah. Bila ketahuan juga akan segera dilenyapkan yang melihatnya."
Cena,"Junker....! :grr:"
Dirge, "Sabarlah.. Dan, Guild seperti itu tidak hanya Quad Force. Masih banyak guild seperti itu di Eremidia."
Cena, "...!"
Dirge, "Kami adalah guild kumpulan para Junker yang mencoba melenyapkan guild Hunter Hunter."
Dirge, "Kami semua sebelumnya pernah diburu oleh para hunter hunter. Dan berkumpul, membentuk suatu organisasi pembasmi hunter hunter guild."
Dirge, "Pekerjaan kami memang hampir sama seperti Junker.
Tetapi kami aktif seperti hunter guild biasa. Dan, tugas utama kami hanyalah memburu hunter hunter. Itulah bedanya."
Cena, ".....Apakah aku bisa masuk ke organisasi kalian...?"
Dirge, "Tentu... Fion sudah menjadi anggota kami. Dia sengaja tidak mengajakmu karena dia sudah yakin kau akan bergabung bersama kami."
Cena, "Butuh test untuk menjadi anggota organisasi ini?"
Dirge, "Tidak.. Kami tidak memberikan test apapun...! Yangkami perlu hanyalah kebersamaan untuk membasmi hunter hunter. Mau lemah atau tidak, itu urusan pribadi..!"
Cena, "...! Baiklah, Daftarkan aku segera! :)"
Dirge berdiri dan mendekatiku.
Toss bahuku dan berkata:

"Selamat datang di Dreadnought..."

To Be Continued...


Terakhir diubah oleh dezwil tanggal 2012-07-16, 21:50, total 1 kali diubah
2012-07-16, 21:31
PostRe: [StoryPlay] Eremidia : The Legends begin
Oscar 
Senior
Senior
avatar

Level 5
Posts : 830
Thanked : 13
Engine : RMVX
Skill : Beginner
Type : Writer

Merchant Princess

Chapter 3 : Young Merchant

Narrator: Artana Agile





< North Hill morning, 09.30 AM>

Kulampiaskan amarahku dengan menembakkan beberapa anak panah ke udara. Kuarahkan mereka ke horizon.

Pengecut,

Hanya itulah, kata-kata yang ingin kulontarkan pada pria kekar berbrewok coklat itu, Rothgar.

"AAaaaa...." aku berteriak sekencang-kencangnya. Suaraku menggema seakan sampai ke lembah.

"Ahem...." tiba-tiba suara orang mengagetkanku. Aku menoleh ke arah orang itu.

"Oh... kau," kataku setelah melihat Varegnir berdiri bersandar di batu sambil melipat tangannya.

"Kenapa? Lagi suntuk ya?" Dia bertanya.

Aku hanya menghela nafas. Kupalingkan pandanganku di kejauhan, melihat lembah yang ditumbuhi banyak pinus.

"Bagaiamana? Apa ayahmu jadi merampok karavan di jalur utama?" tanyaku.

"Begitulah," jawab Varegnir.

Aku hanya diam tidak merespon apa-apa.

"Arta, lihat..." katanya sambil tangannya yang besar memegangi kedua lenganku yang kecil agar menghadap ke arahnya. "Apapun yang terjadi, aku ada di pihakmu."

"Terima kasih," kataku pelan. "Tapi... ayahmu itu ada benarnya. Para pemburu dari Wolfenhunter memang tidak bisa diremehkan."

"Akhirnya kau mengerti juga."

"Karena itu aku akan pergi sendiri," sahutku.

Varegnir langsung terkejut melihat pernyataanku. "Arta... kau jangan bodoh, aku tau kau membenci mereka, tapi jangan nekat seperti ini."

Aku tersenyum sinis. "Kau ternyata sama saja dengan ayahmu," lalu aku berjalan melewatinya.

"Arta..." panggilnya. "Arta tunggu!..."

Aku tidak menggubrisnya. Aku tetap meneruskan langkahku.

"Arta kumohon!" pintanya.

Akupun berbalik. "Hanya ada dua pilihan untukmu, Varegnir. Ikut aku? Atau jadi pengecut seperti ayahmu!"

"ARTA!" bentaknya, sorot matanya memandangiku dengan tajam.
Aku mengerti, dia tentunya sangat marah karena aku mengejek ayahnya.

Aku kembali tersenyum sinis meremehkanya. "Kau hanya manis di bibir Varegnir. Katanya kau selalu berada di pihakku."

Dia langsung terdiam tidak bisa menjawab apa-apa. Lalu aku berbalik dan pergi meninggalkannya. Aku menoleh kebelakang sekali lagi setelah cukup jauh, aku melihat pria berambut coklat pendek itu masih berdiri di sana. Dia memandangiku dari kejauhan, seolah ingin mencegahku, tapi sesuatu membuatnya menghentikan langkahnya.

"Selamat tinggal, Varegnir." gumamku dalam hati.




Narrator: Sam Moire

< Northreach, Moire Mansion, morning 09.45 AM >

Pagi ini adalah pagi yang cukup merepotkan, tentu saja, aku harus mengumpulkan dokumen-dokumen, laporan euangan bulanan. Dan terlebih lagi, aku harus pergi ke Ramorr setelah ini. Karena ada janji dengan seorang pengusaha disana, Duke Lucan Reinhold.
Katanya sih perusahaan mereka mengalami krisis, dia butuh bantuan. Ayah bilang ini kesempatan untuk menanam modal. Karena itu aku disuruh kesana untuk mengurus perjanjian kerjasamanya.

Aku pun selesai mempersiapkan semua dokumen dan baju ganti selama di perjalanan nanti. Perjalanan ke Remorr memakan waktu tiga hari, jadi persiapan harus matang.
"Baju siap, dokumen oke... apa lagi ya?" aku mencoba mengingat-ingat. "Ah... kurasa sudah cukup."
"Permisi Tuan Muda, kereta anda sudah siap." kata pelayanku yang tiba-tiba muncul di pintu.

"Oke, tolong bawakan dulu koper-koperku kesana." kataku. Lalu aku berjalan menuju cermin. Aku melihat wajahku, tampan :v , rambutku berwarna kemerahan lurus dan pendek dan disisir menyamping ke kanan. Mataku berwarna biru. Aku memakai kameja bangsawan putih dengan pita berumbai berwarna biru di leherku.

Setelah kurapihkan kameja dan rambutku, aku berjalan keluar kamar menuju ke pekarangan depan. Ada ayahku disana, tuan Marvis Moire. Rambutnya sudah mulai memutih, maklumlah dia sudah berumur 60 tahun, sebentar lagi pensiun. Karena itu dia selalu melatihku untuk menjadi penggantinya.

Ayahku sedang berbicara dengan seseorang di sana. Felmar the Red, nama orang itu. Seorang mercenary dari guild Wolfenhunter. Badan tegap, gagah, tinggi berambut oranye. Brewoknya tebal dan dikelabang. Ia membawa pedang besar dan lebar di punggungnya. Armornya logam berwarna perak dan mengkilat terkena sinar matahari pagi itu.

"Kami akan berusaha menjaga armada karavanmu tetap utuh, tuan Moire. Anda tidak perlu khawatir." ujar Felmar pada ayahku.

"Sebenarnya aku tidak begitu peduli, yang penting kau jaga Sam dengan nyawamu. Aku sengaja membayar kalian lebih untuk ini." kata ayah.

Kami pun berangkat, kami mampir di pasar dulu untuk mengangkut kereta barang yang berisi kulit binatang, bahan makanan, dan obat-obatan untuk dijual di Remorr. Setelah itu rombongan berangkat keluar kota melewati gerbang timur Nortreach.

Karavan kami memilih jalur utara yang menuju ke Remorr. Jalan itu melewati lembah yang dipenuhi pepohonan pinus yang lebat, sarang para srigala atau bahkan lebih buruk, Troll. Namun itu adalah jalan tercepat menuju ke Remorr.

< Pine Forest, evening 05.30 PM >

Setelah beberapa jam, hari sudah mulai gelap. Aku sudah menghabiskan rotiku untuk makan siang tadi. Aku berada dalam kereta. Aku melihat keluar, kini pemandangannya bukan padang rumput North Border lagi, tapi di kanan kiriku sudah banyak pepohonan.

Rombongan karavan tiba-tiba berhenti, aku penasaran lalu aku melongok keluar jendela.

"Ada apa ini?" tanyaku pada seorang mercenary yang menunggang kuda. Ia hanya melihatku lalu turun dari kudanya.

Ia berjalan mengampiriku dan membuka pintu kereta dengan kasar.

"Hei ada apa ini?" aku terkejut. Tapi ia mencengkram pundakku dan menyeretku keluar.

"Hei... kau tidak bisa melakukan ini padaku!" teriakku sambil meronta.

Aku melihat para pedagang disana memasang wajah cemas. Sesuatu terjadi pada para mercenary itu.

"Bunuh mereka semua!" aku mendengar Felmar menyuruh anak buahnya untuk menyerang para pedagang.

Para mercenary pun berbalik menyerang mereka. Para pedagang yang tidak bersenjata itu berlarian panik. Para mercenary mengejar mereka, menghabisi mereka satu persatu.

"Felmar, apa ini?!" teriakku. "Apa kau sudah lupa pesan ayahku?"

Felmar tersenyum sinis. Ia berjalan menghampiri diriku yang masih dicengkram anak buahnya.

"Kenapa? Apa yang akan ayahmu lakukan?" katanya. "Saudagar tamak itu pantas mendapatkannya."

"Kau..." sahutku penuh amarah.

Aku tidak mengerti, sudah lama guild Wolfenhunter selalu membantu kami. Mengawal karavan kami, menjaga semua properti kami, bahkan terkadang menyabotase aset lawan. Mereka sudah seperti tangan kanan, sudah seperti partner dalam untung dan rugi.

"Kau tidak akan pernah mengerti, saudagar muda!" kata Felmar. "Kau adalah aset terpenting bagi si tua bangka Moire itu."

Aku masih tidak menyangka, kenapa dia bisa berubah seperti itu.

"Kau tau? Mendengarnya menyuruh-nyuruh kami melakukan strategi busuknya sudah membuatku muak," kata Felmar. "Sabotase, pembunuhan... ini semua bukan tujuan Wolfenhunter berdiri!"

"Kalian hanyalah tentara bayaran, kalian dibayar untuk melayani kami!" tegasku.

Felmar melangkah dengan cepat ke arahku dan mencengkram daguku dengan tangannya. "Uang kalian tidak senilai dengan nyawa-nyawa yang sudah kami bunuh." Lalu ia melepaskan cengkramannya dengan kasar.

"Bunuh dia!" kata Felmar.

"Hei... jangan lakukan itu, kumohon!" pintaku. Namun mercenary yang mencengkramku mendorongku hingga jatuh telentang. Lalu ia mengangkat pedangnya dan akan menikam perutku. Namun... sebuah anak panah melesat dan mengenai lengan kanannya.

"Aarrrghhh..." mercenary itu mengerang kesakitan, pedangnya terjatuh. Ia mengerang sambil memegangi lengannya.

"Ada apa ini?..." tanya Falmer, wajahnya tampak kebingungan.

Anak panah kedua melesat mengenai mercenary yang berada agak jauh dariku.

"Hei siapa disana?!" teriak Felmar. Para mercenary juga mulai kebingungan.

Melihat kesempatan ini aku segera mengambil pedang itu lalu berlari ke hutan.

"Hei... dia lolos!" teriak seorang mercenary. Aku pun segera berlari masuk kedalam hutan. Seorang mercenary menghadangku di depan. Ia mengayunkan pedangnya, dengan sigap kutangkis dan ku tendang selakangannya. Ia merintih kesakitan, namun kakiku juga sakit. Akhirnya aku berlari terpincang-pincang menuju ke hutan.

Sementara itu, anak panah tidak jelas terus melesat, menumbangkan para mercenary itu satu-persatu. Tapi aku tidak peduli, aku terus berlari masuk kedalam hutan.

Aku terus berlari, ada seorang mercenary yang mengejarku.

"Kembali kau bocah tengik!" umpatnya sambil mengacung-acungkan pedangnya.

Aku terus berlari sampai akhirnya aku tersandung dan jatuh. Pedangku terlempar beberapa langkah di depanku.

"Ini adalah akhir hidupmu, bocah tengik," katanya sambil menghunuskan pedangnya. Dia mengayunkan pedangnya kearahku. Aku memejamkan mata, mungkin sebentar lagi pedangnya akan memenggal kepalaku, namun.

"Aacckk...." pedang mercenary itu terjatuh. Sebuah anak panah menembus tenggorokannya. Ia pun roboh.

Aku melihat seorang wanita, berambut panjang. Tangannya membawa busur panah yang di arahkan ke arah mercenary itu.

Aku sedikit lega tapi masih cemas.

Siapa dia? Kenapa dia menolongku?

Wanita itu berlari ke arahku, dia mengambil anak panahnya lalu mengarahkan busur panahnya padaku.

Waktu melihat wajahnya, aku sangat terkejut.

"Ibu?..." celetukku.

Wanita itu memiliki ciri yang sama dengan ibuku yang sudah meninggal. Tapi ia lebih muda, rambutnya kemerahan sepertiku dan bola matanya berwarna biru.

"Siapa yang kau panggil ibu, dasar Moire brengsek." katanya dengan kasar. "Hidupmu berakhir disini!" katanya.

Wajahku pucat pasi, ia mengarahkan anak panahnya ke arahku. Aku tidak tahu apakah dia akan menembakku atau tidak, tangannya gemetaran. Kalau sampai dia melepas tali busurnya, mungkin anak panahnya akan langsung menembus jantungku.

Siapa dia? Kenapa dia begitu membenciku?

Aku hanya seorang saudagar muda, tapi kenapa semua ini datang menghampiriku?

Kenapa?


There are 1 and 0 kinds of people in the world: Those who understand binary and those who don’t.

nitip emot favorit dolo:

(╮°-°)╮┳━┳... (╯°□°)╯ ┻━┻
2012-07-17, 19:43
PostRe: [StoryPlay] Eremidia : The Legends begin
richter_h 
Salto Master
Hancip RMID
avatar

Kosong
Posts : 1705
Thanked : 30
Engine : Other
Skill : Skilled
Type : Developer
Awards:

The Tale of Vent McGraves
Chapter XVII


Klik to Chapter XVI

Disekap di penjara dalam goa, Vent dan Vischelia memutar otak mereka, bagaimana mereka bisa keluar dari tempat itu. Vent mengintip dari lubang pintu, apa yang para orang kerdil itu lakukan di luar sana dengan suara riuh rendah seperti yang mereka sekarang dengar. Suara tempaan besi, desis air yang disiramkan ke besi panas, dan suara besi beradu mewarnai seisi goa, diiringi nyanyian dan teriakan orang-orang yang kedengarannya tua dan kuat. Beberapa orang kerdil yang terlihat tegap dan kuat berada di depan pintu tempat Vent dan Vischelia disekap, sedang minum-minum dan bersenda gurau. Siapa orang-orang kerdil itu, gumam Vent. Dia tidak pernah melihat orang-orang seperti itu bahkan saat dia di Westerland dulu.

Tahu dia dan Vischelia tidak akan bisa keluar, Vent memutuskan untuk duduk dan mengucurkan sedikit minuman dari barel yang dia bawa ke sebuah mug yang sedari dulu selalu ada di kantongnya. Daripada galau nggak jelas, lebih baik minum, menurutnya. Sementara sang gadis imut kita, Vischelia, hanya duduk dan terus menatap obor yang menjadi penerang ruangan yang kecil dan beralaskan jerami. Beberapa tulang belulang menjadi penghias penjara itu.

Tidak lama kemudian, pintu penjara dibuka, membuat Vent dan Vischelia kaget saat beberapa orang kerdil tua brewokan menatap mereka dengan tatapan tajam.

"Kalian, menghadap ke ketua!"

Vent dan Vischelia lantas dibawa keluar, menaiki beberapa anak tangga yang dibentuk oleh alam. Disinari cahaya obor, menyusuri lorong goa dan melewati sebuah tempat dimana banyak orang-orang kerdil seperti yang menggiring mereka sedang menempa besi-besi panas dan mengasah beberapa perkakas dan senjata. Orang-orang kerdil terlihat begitu pandai membuat perkakas dan senjata, dan mereka begitu bangga memakainya; mulai dari helm, zirah sampai ke sepatu dan sarung tangan banyak terpajang di pinggir bengkel itu.

Akhirnya mereka sampai ke sebuah ruangan dimana ada satu orang kerdil lengkap dengan perlengkapan seperti panglima perang dan kampak besar duduk di sebuah kursi besar. Vent dan Vischelia lantas didorong jatuh di depan orang kerdil tua yang terlihat garang namun bijaksana itu.

"Siapa kalian, manusia, sampai kalian masuk ke kediaman para Dwarf?"

Tunggu. Dwarf? Vent--yang masih mabok langsung bengong saat mendengar nama salah satu ras Ancient yang sudah tidak terdengar lagi di Westerland.

"Tentu," jawab sang Dwarf yang menyebut dirinya si Raja Pegunungan (Mountain King). "Kami, bangsa Dwarf, dikenal sebagai bangsa yang sekeras batu pegunungan dan sekuat bir Hucklewood. Sudah lama sekali sejak manusia terakhir datang ke tempat kami, dan mungkin kalian sudah bertemu dengannya di penjara bawah sana."

Vischelia hanya melihat orang-orang sekitar, dimana dia terlihat tinggi diantara para Dwarf itu. Dia lantas berkata, "Apa kalian tidak ada yang lebih tinggi?"

"Diam, nona muda, atau kamu ingin jadi sependek kami?!"

"Tenang, Gotz Rockheart," sang Raja Pegunungan merespons reaksi temannya yang begitu cepat naik pitam. "Gadis muda ini mungkin belum pernah melihat bangsa kita sebelumnya. Lagipula, tidak banyak dari kaum kita yang pergi keluar sana."

Memang, tidak begitu banyak Dwarf yang terlihat di luar. Terlebih lagi banyak manusia di luar sana yang skeptik dengan keberadaan Dwarf; mereka mengira para Dwarf itu sama saja seperti para barbar yang berkeliaran di sekitar pegunungan, namun sang Raja Pegunungan ini menjelaskan kenapa mereka tidak pergi ke dunia luar dan menetap di goa itu.

"Selain itu, kami para Dwarf masih berperang melawan para Goblin yang semakin menggila dan ingin sekali menguasai tempat kami ini. Bisa dibilang juga, kami di sini adalah suku Dwarf yang tersisa di daerah kekuasaan King Dnasman, dan ingin sekali meminta bantuannya untuk mengusir para Goblin."

Para Dwarf sedang berperang melawan Goblin yang sudah menjadi musuh mereka beberapa abad, makanya mereka sedang mempersiapkan pasukan dan perlengkapan untuk menghadapi serangan Goblin yang selalu tiba-tiba dan licik itu. Disamping itu, para Dwarf sudah tahu tanah utara ini sudah masuk daerah kekuasaan King Dnasman dibawah kerajaan Eremidia. Namun tidak satupun yang pernah melihat secara langsung sosok raja yang begitu berpengaruh itu. Mereka ingin meminta bantuan kepada King Dnasman, namun jarak yang jauh ditambah dengan serangan Goblin yang tidak menentu membuat mereka susah untuk mengirim utusan ke ibukota yang jaraknya bisa berminggu-minggu untuk seorang Dwarf. Cerita dari sang Raja Pegunungan bisa dimengerti oleh Vent yang baru kali ini melihat ras Ancient yang masih hidup dan bisa menjadi cerita saat dia kembali ke bar.

"Oke, mungkin ane bisa bantu kalian dalam masalah ini." Vent tiba-tiba berkata demikian untuk menolong ras Ancient itu. "Lagian, ane udah pernah berurusan sama Goblin di ibukota. Bukan masalah yang susah kalo kata ane..."

"Kau rupanya sudah tahu banyak tentang Goblin, petarung." Sang Raja Pegunungan tertawa saat Vent mengajukan tenaganya untuk membantu kaumnya menghadapi para Goblin. "Namun, kami sudah berjanji untuk tidak membunuh Goblin dari Menara Frostclock. Mereka pernah membantu kami untuk membangun tempat ini."

"Goblin yang mengancam tempat ini adalah Goblin coklat penghuni Mourncave jauh di dalam hutan. Beberapa petarung kami pergi ke sana namun tidak ada yang kembali selamat," lanjut Gotz, Dwarf berjanggut coklat itu. "Kekuatan para Goblin itu tidak bisa diremehkan terlebih mereka selalu menyerang dalam jumlah banyak."

Vent menggangguk. Lalu dia berkata, "Ane akan pergi ke sana tapi dengan satu syarat."

"Vent?!" Vischelia hanya heran kenapa dari tadi Vent begitu semangat.

"Syarat? Syarat apa yang kau maksud?"

"Ane cuma minta satu syarat. Ane ingin coba bir Hucklewood yang ente pada bilang kuat sekuat kalian."

Para Dwarf tertawa mendengar syarat yang diajukan Vent itu. Sekarang Vischelia hanya bengong saja...

"Jika kau ingin bir itu, kau bisa saja cukup dengan memintanya..." lepas sang Raja Pegunungan itu sambil tertawa. "Ya, aku tahu kau itu adalah si peracik minuman. Si pengembara dan pembuat bir, petarung yang bahkan selalu membawa minumannya ke medan perang. Brewmaster, jika aku tidak salah."

"Tunggu," Vischelia heran kenapa orang-orang yang bahkan tidak pernah sama sekali ke dunia luar bisa tahu profesi Vent. "Kalian bisa tahu itu dari mana?"

"Jangan sebut kami ras Ancient kalau kami tidak tahu orang-orang yang menyenangkan seperti Brewmaster. Sayangnya sekarang sudah jarang sekali Brewmaster seperti kekasihmu itu..."

"Apa?! Kekasih?! Aku hanya kebetulan ikut bersama Vent!" Vischelia tanpa ekspresi malu maupun wajah memerah menampik keras perkataan sang Raja Pegunungan itu, dan dibalas tawa semua Dwarf bersama Vent.

"Besok, anakku Gotzon Rockheart akan memandu kalian ke Mourncave jika kalian ingin membantu kami. Kembalilah dengan selamat, dan kami akan memberikanmu bir Hucklewood yang kau inginkan."

--

Besok harinya, Vent dan Vischelia--yang diberikan tempat tidur lebih baik daripada penjara bawah tanah di dalam goa itu bersiap untuk pergi ke Mourncave. Mereka bisa tahu kalau waktu itu sudah pagi berkat teknologi jam dengan kalibrasi pergerakan matahari dan bulan buatan Goblin Frostclock.

Di mulut goa, bersama Gotzon Rockheart si Dwarf janggut coklat yang seperti ayahnya, Gotz Rockheart, mereka pamit ke sang Raja Pegunungan untuk pergi mengatasi ulah para Goblin Mourncave yang mengancam tempat tinggal para Dwarf.

Melalui pepohonan yang tertimbun salju, mereka menyusuri jalan setapak yang akan memandu mereka ke tempat dimana baik Frostclock dan Mourncave berada. Diwarnai dengan beberapa pertarungan melawan serigala, beruang bahkan Troll yang sering menyerang pengelana yang lengah, sampai mereka menemukan sosok orang yang terkapar ditimbun salju. Dari perlengkapan dan pedang dekat orang itu, sudah jelas itu adalah Sven si Barbar--orang yang memandu mereka ke hutan Nord's Peak.

"Sven? Sven!" Vischelia membangunkan Sven yang terlihat penuh luka dan lemas.

"Minggir, ane mau kasih dia ini."

Vent mengeluarkan sebuah botol kecil berisi minuman akar Pokis yang dulu pernah membangunkan Andy Landwalker setelah pingsan diserang Troll Pro. Aroma minuman beralkohol itu nendang banget sampai Sven langsung bangun dan lompat lalu tersungkur.

"Sven! Syukurlah tidak kenapa-napa..."

Vischelia meminumkan sebotol obat pada Sven untuk memulihkan tenaganya. Setelah Sven sadar betul, dia kaget dan menghunuskan pedang pada Dwarf pemberani kita, Gotzon.

"Tunggu, Sven," Vent menurunkan pedang Sven ke tanah dan menjelaskan, "Ane sama Pissel ketemu sama sekampung Dwarf, dan Gotson ini kawan kita-kita. Ane, Pissel sama Gotson mau ke Morncape buat ngasi urusan sama Goblin di sono."

"Gotzon. Gotzon Rockheart. Dan kita akan ke Mourncave."

Sven heran, sejak kapan Dwarf yang dia kenal beringas dan kejam itu menjadi teman manusia? Tapi, karena Vent bisa menjelaskan bagaimana ceritanya sampai dia bisa bersama Gotzon itu, Sven akhirnya mengerti.

"Seumur hidup aku tidak pernah berbincang dengan Dwarf. Maafkan kelancanganku..." Sven akhirnya bisa menerima Gotzon yang karakternya lebih lembut daripada ayahnya yang bahkan jika bicara biasapun seperti berteriak.

"Brewmaster, nona Vischel, Sven sang Barbar, saatnya kita pergi ke Mourncave untuk membungkam para Goblin!!"

Dan perjalanan ke Mourncave itupun dilanjutkan...


| My spriteworks | deviantArt | Mark's Quest | Eremidia: Dungeon! |
Developer of:



Supporter of:


Selp-Proclaimed The Most Handsome Member of the Long Lost Glorious


Disini kalo sebagai nubi mau dikritik yang bagus2 biasanya harus ngaku cewek dulu, karena you know lah... -- Brosef numfanklewhat
2012-07-17, 21:58
PostRe: [StoryPlay] Eremidia : The Legends begin
Dezwil 
Moderator
Moderator
avatar

Kosong
Posts : 310
Thanked : 7
Engine : RMVX
Skill : Advanced
Type : Developer

from chapter 6

Chapter 7: Preparation

Diberikan kamar pribadi dari tn Dirge. Bagiku cukup luasnya. Aku lompat dan tiduran di atas kasur. Guling-guling dan menguap. Sungguh nikmat berada di atas kasur itu.
Pedangku dan perisaiku hilang sejak kejadian siksaan itu..
Aku tidak punya senjata maupun pelindung apapun.. Aku memikirkan masa laluku sejenak.
Berawal dari nyasar di Grand Dessert dan ditolong oleh pedagang.
Dan, pergi membasmi para goblin untuk bisa meminjamkan kuda.
.....Oh iya, apa kabar tuh Falcion...?! Baru ingat kalau kudanya ku tinggalkan di sekitar guild Quad Force...!
Semoga dia masih hidup.. Kalau sampai terbunuh, aku benar-benar harus minta maap kepada tn Voldo..
"..Knock knock"
Seseorang mengetok pintu kamarku.
"Cena? Aku masuk ya."
Pintu terbuka, dan yang masuk ke kamarku adalah Irene.
Irene, "Oh, sedang istirahat ya?"
Aku buru-buru bangun dan berkata, "Oh tidak, hanya tiduran saja. Ada apa? Hmm... Ny. Irene?"
Irene, "Irene saja tidak apa-apa. Toh, kayanya kita seumuran."
Cena, "Oh, aku 17 tahun. ..Kamu?"
Irene, "Tuh, dugaanku benar. Aku juga 17."
Aku sedikit kaget mendengar usia dia karena wajah dia sedikit terlihat dewasa daripadaku..
Irene, "Bisa keluar sebentar?"
Cena, "Baik."
Irene keluar dari kamarku dan akupun ikut keluar dari kamar.
Cena, "Ada apa?"
Aku bertanya lagi karena pertanyaan itu belum dia jawab.
Irene, "Ikut aku sebentar ke ruangan sub captain."
Irene menarik tanganku dan membawa ku ke ruangan sub captain.
Sampai di ruangan sub captain, tn Dirge sedang duduk sambil membaca buku.
Dirge, "Oh, Irene! ..Dan, Cena! Ada apa?"
Irene, "Aku ingin mengajak dia untuk melakukan misi. Apa ada misi yang belum diambil orang lain?"
Dirge, "Oh, mau misi bareng ya? Baik-baik. Akan ku carikan sebentar.
Tn Dirge membuka buku kumpulan misi yang bertulisan "Simple Mission".
Dirge, "Hmmm.... Misi yang mudah....."
Tn Dirge mencari halaman sana-sini dengan tampak bingung.
Dirge, "...Maaf, belum ada! :v"
Irene, "Loh? Benar-benar kosong misinya? :o"
Dirge, "Belum ada kabar / info mengenai hunter hunter yang baru. Jadi, kalian mending ke Quest Center dan ambil quest saja."
Irene, "Quest? Hmmm, yaudadeh."
Irene menoleh ke arahku dan berkata, "Kalau begitu, yuk! Kita ke Quest Center terdekat!
Kita menyelesaikan quest bersama!"
Cena, "Oh baiklah kalau begitu aku ajak Fion juga."
Dirge, "Fion bukan anggota divisi ini. Jadi dia tidak ada di tempat ini."
Aku sedikit shock mendengar perkataan itu.
Cena, "Maksudnya...?
Dirge, "Di sini adalah markas untuk divisi 3. Dan, Fion bukan anggota divisi ini. Dia masuk ke anggota divisi 1."
Cena, "kenapa!?"
Dirge, "Sub Captain divisi 1 telah menarik Dion ke divisi dia. Dia tertarik dengan kemampuan dia dan Fionpun setuju."
Dirge, "Jarak antara markas divisi 1 dengan 3 cukup jauh. Kau akan sulit menemui dia."
Aku sedikit kecewa mendengar itu.
Dirge, "Biarkan dia berkembang dengan sendiri. Bila kamu khawatirkan dia, lebihbaik berdoa saja."
Cena, "......Iya."
Dirge, "Toh, kamu punya teman yang seumuran di sini. Dia juga masih baru di divisi ini.
Kenapa tidak berkembang bersama dia saja?"
Cena, "Maksud anda, Irene?"
Dirge, "Iya. Dia juga sudah mengajak kamu untuk quest bersama. Lebih baik, kamu bersosialisasi dengan anggota divisi ini."
Cena, "Baik!"
Irene, "Pembicarannya sudah belum nih? Aku mau pergi ke Quest Center... :kabur:"
Dirge, "Ooh iya iya maaf sudah menunggumu sedikit lama. Pergilah dan kembalilah dengan selamat."
Kami keluar dari ruangan dan berjalan menuju pintu keluar markas.
Ternyata benar, markas ini terletak di bawah tanah. Untuk keluar dari markas ini harus naik tangga yang cukup panjang.
Keluar dari markas. Melihat sekitar, ternyata markas terletak di luar kota Eremidia.
Dan, pintu masuk markasnya dihalang oleh batu-batu besar dan pepohonan yang lebat.
Ini memang sulit ditemukan.
Kami berjalan ke arah Erimidia. Ternyata jaraknya tidak begitu jauh dari west gate.
Sesampai di kota Eremidia, aku sedikit ketakutan karena mungkin anggota Quad Force menemukan kita dan lapor kepada Molfone.
Sepertinya Irene menyadari apa yang aku rasakan.
Irene, "Tidak usah takut. Kota ini sangat luas. Quad Force terletak di bagian timur. Kita ini ada di bagian barat. Lumayan rumit untuk menemukan kamu."
Mendengar itu aku sedikit lega. Dan, aku baru menyadari bahwa aku kemari tidak membawa apa-apa.
Cena, "Ah... ! :o"
Irene, "? .....Ada apa?"
Cena, "Aku tidak punya senjata maupun pelindung...!"
Irene, " :swt: oh iya, aku juga baru sadar.. Baiklah, pakai saja uang ku sedikit untuk membeli perlengkapan bertarung."
Cena, "Benar kah? Akan ku kembalikan uangnya nanti."
Irene, "Tidak usah. Uangnya akan kembali bila sudah menyelesaikan quest. Santai saja!"
Aku diberikan 2000 Dollar untuk membeli perlengkapan bertarung.
Kami putuskan untuk mencari toko senjata dan pelindung dulu sebelum ke Quest Center.
AKu menemukan toko senjata yang menyediakan cukup banyak senjata.
"Selamat datang silahkan membeli yang menurutmu cocok."
Aku mencoba mencari two handed sword. Selama ini aku memakai pedang kecil tetapi
serangannya tidak begitu kerasa oleh monster yang besar. Segi hindaran aku sangat percaya diri. Jadi ku putuskan untuk mengganti jenis senjata.
Aku membeli Claymore dengan harga 1800 Dollar.
Sisa 200 Dollar ku pakai untuk membeli herb saja.
Irene, "Loh, kamu tidak membeli pelindung apapun?"
Cena, "Mungkin nanti. Atau tidak akan pakai. Menggunakan pedang besar, tubuh harus ringan. Agar bisa menghindar serangan."
Irene, "Oh, begitu ya. Kalau begitu aku tidak komentar apa-apa lagi. Baik, mari kita ke Quest Center."
Kami menuju ke Quest Center terdekat. Bangunannya cukup bagus namun jarang ada orang yang memasuki gedung itu.
Kami memasuki Quest Center. Di sana ada pelayan yang menunggu kami yang ingin mencari quest.
"Selamat datang. Apakah ada yang bisa kami bantu?"
Irene, "Ada quest yang mudah? Macam memburu monster lemah, maupun mengumpulkan barang.."
"Tunggu sebentar..."
Pelayan membuka daftar quest dan mencari quest yang kami inginkan.
"Untuk sementara, ada quest memburu para Gremlin. Mungkin untuk pemula sangatlah mudah untuk menyelesaikannya. Pengirim questnya adalah Tn. Mardius yang tinggal di
west field. Temuilah dia untuk memulai questnya."
Irene telah menandatangani perjanjian dan kami keluar dari quest center.
Irene, "Mardius di West Field ya.. Syukurlah dekat.. Ayo kita mencari dia!"
Cena, "Iya...!"
Kami jalan keluar dari Eremidia dan mencari tempat tinggal Mardius.
Berjalan sekitar 15 menit kami menemukan qumah kecil yang ada sumurnya di samping.
Di kelilingi pepohonan yang hijau, sekitarnya tidak ada monster satupun.
Irene, "Mungkin itu rumahnya."
Kami mendekati rumahnya. Tiba-tiba pintu rumah terbuka dan keluar seorang lelaki yang cukup tua.
Irene, "Apakah anda tn Mardius?"
Mardius, "Owh, iya! Kaliankah yang menerima questku!? Baiklah, akan ku jelaskan isi questnya."
Mardius, "Jadi, questnya begini. Malam hari di sekitar rumah ku sering didatangi para Gremlin untuk mencari mangsa. Dan 2 hari yang lalu, mereka mendatangi rumahku dan mengacak rumahku. Begitu juga kemarin! Sungguh ketrlaluan!"
Mardius, "Jadi, aku ingin kalian berada di sini hingga malam sampai para gremlin itu muncul.
Dan, membasmi mereka saat mereka mendatangi rumahku lagi."
Irene, "Mengerti. Kalau begitu, kami akan menunggu di sini sampai gremlin itu muncul."
Mardius, "Kalau mau minum atau istirahat, masuk saja rumahku dan pakailah kamar kosong. Mungkin itu bisa membantu kalian."
Cena, "Terimakasih tuan."
Irene, "Baiklah kalau begitu. Kita harus menunggu sampai malam. Sambil menunggu malam, kita berlatih di sini. Mau kan?"
Cena, "Tentu. Aku juga ingin terbiasa dengan pedang besar. Mari kita berlatih bersama dengan bertarung."
Irene, "Bertarung? Baiklah, akan ku tunjukkan kemampuanku!"
Kami mulai berlatih dengan cara bertarung one by one.
Dengan ini aku akan tahu kemampuan dia dan diapun mengetahui kemampuanku.
Semoga hasilnya akan ngaruh saat bertarung dengan Gremlin nanti...

To Be Continued...
2012-07-18, 14:09
PostRe: [StoryPlay] Eremidia : The Legends begin
Deenos 
Advance
Advance
avatar

Level 5
Posts : 487
Thanked : 7
Engine : RMVX Ace
Skill : Skilled
Type : Databaser
Awards:
Chapter 1: Woke Up In The Forest

Latar tempat : salah satu hutan di eremidia...

Aku terbangun...
di tempat yang tak kukenal
dan aku bertanya...
siapa aku?
dimana diriku?
apa yang ku lakukan disini?
dan aku berjalan mengikuti jalan...
dan aku pun melihat satu rumah...
aku masuk kerumah itu...
dan aku melihat isi rumah itu...
aku terkejut alangkah banyaknya senjata di hadapanku...
dan pada saat yang sama...
datanglah seseorang...
orang itupun berkata...
"kau siapa?, kau mau mencuri sesuatu?"
dan aku pun menjawab
"tidak..."
"akh...kau pasti maling bersiaplah untuk mendapat balasan!!!"
aku pun bertarung dengan orang itu dan menang...
dan orang tua itupun bertanya...
"sebenarnya siapa kau?"
dan aku berpikir dan menjawab pertanyaan orang itu
"aku rasa nama ku radorm"


To be continued...
2012-07-18, 18:12
PostRe: [StoryPlay] Eremidia : The Legends begin
NachtEinhorn 
Robot Gedek Galak
avatar

Level 5
Posts : 1274
Thanked : 9
Engine : Multi-Engine User
Skill : Beginner
Type : Developer

Chapter 10: Revelation

3 Hari ini aku menghabiskan waktu di dalam kota, membeli perlengkapan untuk perjalanan ke utara. Jaket tebal, perlengkapan makan, tenda, dll, dll. Kyrie juga sibuk di kamarnya, mengerjakan sesuatu dengan kain tebal yang ia beli, entah apa yang dibikin. Selain itu, aku juga menjalankan quest quest kecil, hitung hitung nambah uang sedikit, seperti ngusir goblin2 nekat yang berada di deket kota, nyari boneka ilang, dan lain sebagainya.

"Baiklah, ayo berangkat". Pagi hari pada hari ke 3, aku melihat Ryliene telah bersiap di lobby penginapan kami, mengenakan jaket tebal. Tak kulihat 2 orang kekar yang menjaganya 3 hari yang lalu.

"Tidak apa apa tuh, langsung pakai pakaian tebal begitu? Lalu, mana 2 orang yang bersamamu kemarin?"
"Aku memberi instruksi ke mereka untuk tidak ikut"
"Oh..."

Akhirnya, kami meninggalkan kota, menuju ke utara, dengan aku menyeret 1 buah peti besar yang beratnya bujubuneng. Sepertinya di dalamnya terdapat Armored Gear yang akan diperiksa lebih lanjut di utara.

Di tengah perjalanan, belum sampai tengah tengah sih, kami dihadang oleh sekelompok troll yang kelihatan kayak tidak makan 3 hari.

Ryliene dengan sigap membuka bungkusan besar yang dia bawa selama ini. Ternyata di dalamnya terdapat sesuatu yang berbentuk mirip sebuah Bazooka dengan pernak pernik medieval.

"Troll Troll lucu" raut muka Ryliene berubah, menjadi mirip saat pertama kali kami temui di gua ekskavasi "MINGGIIIIIIRRRRRRR!!"

BAM!

1 tembakan dari bazooka itu melontarkan troll troll tersebut ke angkasa. Aku dan Kyrie terbelalak.

"Jangan bilang papa!" sahut Ryliene kepadaku.

Ternyata usut punya usut, Ryliene memiliki sifat bebas dan sedikit liar, namun harus dia tahan ketika berada di dalam kota karena "mata" dan "telinga" orang tuanya yang tidak mau reputasi keluarga mereka jatuh gara gara kelakuan anaknya, ada di mana mana.

"2 Penjagaku terlalu loyal sama papa. Makanya nggak aku bawa. Sebagai gantinya, Kak Schneide dan Kak Kyrie yang 'menjaga' aku" lanjut Ryliene.

Err... kayaknya bocah sekuat ini nggak perlu penjagaan deh. Well, money comes first, so, that's it.

Kami melanjutkan perjalanan kami, tentu saja dengan dihadang beberapa goblin, troll, Cathyloph, yang entah kenapa tetap Poyo seruduk, meski dia juga termasuk cathyloph.

===============================================================================

Area yang kami masuki mulai terasa dingin. Aku dan Kyrie segera memakai jaket tebal yang kubeli di kota.
"Poyo, kemari" kata Kyrie, membuka buntelan kecil hasil kerjaan dia di kamar tempo hari.

Ternyata itu adalah jaket kecil yang dibuat khusus untuk ukran tubuh Poyo. Ada ada saja, pikirku. Yah, dengan memakainya, si bulet itu jadi keliatan tambah ndut, dan tambah bulet.

"Cathyloph itu bulunya udah tebal, kenapa dikasih jaket lagi?" tanya Ryliene.
"Tidakkah Poyo jadi keliatan lucu?" jawab Kyrie

"Hi~ya~" sahut Poyo.

"Mungkin kau benar juga, boleh aku gendong?" tanya Ryliene,sambil mencoba menggendong Poyo, tentu saja dengan sigap dan tatapan tajam, Poyo segera melompat ke kepala Ryliene dan....

*capu*

"MUGYYYYYYYYYYYYAAAAAAAAAAAAAAAAWWWWWWWNYYYYYAAAAAAAAAAAAA~ LEPAS! LEPAS! LEPAS! SAKITTTTT!!!!!!!!!!! NYYYYAAAAAAAAAAA~~~~~~!!!!!!!!!!!" rintih Ryliene, dengan Poyo mengigit kepalanya.

Kyrie dan aku tertawa "Itu adalah salam dari Poyo" kataku.

"Uuu~ Bayi Cathyloph sialan" Ryliene mengusap dahinya, seketika setelah Poyo melepaskan gigitannya, dan kembali ke Kyrie.

"Hyaaa~"

===============================================================================

4 hari setelah berjalan di area yang dingin dan penuh salju, yang entah kenapa membuat mata Kyrie dan Ryliene berbinar binar, dan sempat mendelay perjalanan kami karena mereka berdua asik bermain :swt: , kami tiba di sebuah desa kecil. Kami menginap semalam dan berangkat besok harinya, setelah kami me resuplai persediaan makanan untuk kelanjutan perjalanan kami ke Northreach.

Setelah kami berjalan cukup jauh dari desa kecil itu. Aku merasakan ada sesuatu... seseorang membuntuti kami. Wajah Kyrie juga rada rada pucat, dan Rylien kebingungan melihat kami berdua.

"Kalian berdua kenapa?" Tanya Ryliene.
"Sshhh...." jawabku "Kamu yang di belakang pohon, keluar!"

Benar saja, di belakang Pohon besar yang berada di depan kami, aku melihat sesosok bayangan keluar. Seorang perempuan, berumur sekitar 40-an, dengan pakaian tipis dan senyum.

"Siapa tante ini? Dan hebat sekali dia bisa bertahan dari hawa sedingin ini dengan pakaian setipis itu!" celetuk Ryliene

"Sekali lagi aku mendengar kau memanggilku tante, kupenggal kepalamu, gadis kontet!" gelegar Perempuan itu.

"Dan... Kyrie, aku tidak menyangka kau ada di tempat seperti ini... dengan manusia manusia ini?"

Aku terkejut. Perempuan ini mengenal Kyrie?

Aku melihat Kyrie. Tangannya memegang dahinya, seperti kebingungan. Wajahnya pucat. "Si...apa?" tanyanya ke perempuan itu.

"Arara, amnesia kah? Apakah kau lupa dengan orang tuamu , sang Maou ini?"

Maou?
WTF?
Perempuan ini ngaku ngaku kalau dia Maou?

"Aku tidak peduli kau Maou atau apa, minggir! Kami mau lewat" sentak Ryliene.

"Ara~ Kasar sekali gadis ini~" jawab Maou itu "Kalau begitu sebagai Pass-nya, bisa aku minta Kyrie kecilku kembali?"

"Jangan bercanda! Tidak ada bukti kalau Kyrie itu anak mahkluk jejadian sepertimu" bentakku spontan.

"Kalau begitu, sayang sekali~ Black Lightning!"

Petir hitam tiba tiba menyambarku. Badanku terasa seperti mau hancur.

"Uwaaagh!" Aku terpental.

Ryliene dengan sigap menyiapkan Bazookanya, diarahkannya ke Maou itu. "Minggiiiiiiiir!"

BAM!

Akan tetapi, serangan itu tidak melukai Maou itu sama sekali. Lecet pun tidak.

"Gadis kecil, Black Lightni~ng"

BLAR!

sekejap Ryliene terkena sambaran petir hitam, lalu pingsan.

"Nah, Kyrie... ayo ikut..."

"tunggu Tunggu TUNGGU!" aku berdiri, sempoyongan gara gara serangan tadi.

"Ara, masih sadar ya, bocah imut (Writer's note : :eneg: ) ini? Black Lightni~"

"Jangan pikir kau bisa menyambarku dengan jurus yang sama 2 kali!" Aku berlari, menyerbu perempuan ini. Aku tidak menghunuskan pedangku, karena bagaimanapun, adalah larangan untuk menggunakan senjata untuk melawan perempuan.

"Drache Kinhakken Barehand Special!" tanganku bersiap menyambar perut maou itu, dengan harapan kutukan mencret bisa mengusir 'maou' ini. Akan tetapi, dengan sigap maou itu menghindari seranganku. Wajah maou itu berada tepat di depan telingaku...

"Black Lightning, bocah. Ufufufu~"

Aku tersambar lagi oleh Petir Hitam jurus Maou itu. Benar benar penghinaan aku bisa kena jurus yang sama 2 kali.

"Nah, sekarang~" Maou itu bersiap siap mengeluarkan jurus penghabisannya kepadaku. Akan tetapi tiba tiba Kyrie menghadangnya. Maou itupun kaget, dan seketika menghentikan serangannya.

"Tolong jangan sakiti mereka lagi!" teriak Kyrie.

"Dengan satu syarat, Kyrie-chan." jawab Maou itu "Kau harus ikut denganku"
Kyrie mengangguk pelan.

"H-hei..." aku setengah sadar.

"Maaf, dan terima kasih atas segalanya..."

Maou, Kyrie (dan Poyo yang entah kenapa tetep nempel ama Kyrie) pergi. Entah bagaimana. Tubuhku terasa berat. Kurasa aku pingsan, begitu pula Ryliene...

===============================================================================

Ketika aku sadar, Ryliene duduk disebelahku dengan wajah kuatir. "Kak Schneide tidak apa apa?"
"Badan dan mentalku sama sama remuk, kayaknya"
"Maaf, gara gara misi ini..."
"Ini bukan salahmu" aku mengusap kepala Ryliene, "Ayo, kita lanjutkan perjalanan."
Akhirnya, kami berdua melanjutkan perjalanan kami, minus Kyrie.

Damn it, Maou, kemana kamu bawa Kyrie?!

To Be Continued


"Imagine Iron Man, kill Tony Stark, and replace him with Dinosaurs. That's why Tachikazes are awesome"


2012-07-18, 20:35
PostRe: [StoryPlay] Eremidia : The Legends begin
Kuro Ethernite 
The Creator
avatar

Level 5
Posts : 1631
Thanked : 24
Engine : RMVX Ace
Skill : Masterful
Type : Jack of All Trades
Awards:

Chapter I : Emblem, Symbol of Justice



AKU hadir hanya untuk NYA
AKU merupakan tangan kanan NYA
AKU percaya, kejayaan berada di pihak NYA


Sumpah tersebut pernah kuucapkan kepada King Dnasman. Namun aku tidak ingat pernah disetujui oleh beliau.
. . . .
"Jiwa dan raga ku hanya untuk satu orang..." Siapakah orang itu? Sang raja, kan?
. . . .
"Aku sudah memberikan hidup dan matiku pada beliau, namun belum pernah beliau menganggapku sebagai hambanya..." Sia-sia sajakah pemberianku? Kemana aku harus mendapatkannya kembali?
. . . .
"Tidak... Jikalau bukan beliau, lalu atas dasar apakah kehidupanku ini?" Ah! Pertanyaan yang bagus!
. . . .
Ku hadapkan tombakku menjunjung tinggi ke arah matahari. Biarkan dunia mendengar pernyataanku kali ini!

"Aku, Emblem dengan ini menyatakan kesetiaanku, jiwaku, serta ragaku pada keadilan dan kejayaan!"



*cirp~ cirp~*
Sekitar beberapa jam aku dengan tegar berdiri masih dengan pose yang sama. Ya... Karena aku adalah Emblem! Simbol daripada keadilan!
Berbicara soal keadilan... Aku masih ragu dengan statusku saat ini. Aku adalah prajurit automaton yang sengaja diciptakan untuk satu hal yakni loyalitas. Tidak terekam oleh memoriku tentang misi, bahkan asalku. Mungkinkah ada seseorang yang pernah bermain dengan isi kepalaku? Aku tidak tahu. Aku yang sekarang ini hanya merupakan seonggok logam hidup...
Bicara apa aku ini? Aku tidak boleh mempertanyakan kehadiranku! Aku yang sekarang masih hidup, dan mengenal diriku. Aku tidak memiliki siapa-siapa. Tapi aku masih memiliki wujudku, serta tombak keadilanku!
Oh! Aku juga memiliki kuda IMO!
. . . .
CMIIW, sebenarnya aku pernah punya kuda gak sih?
Sebagai seorang prajurit yang kini tidak mengetahui apa-apa selain dirinya, yang bisa ku lakukan hanyalah... Bertindak sebagai prajurit!
Ku turunkan tombakku. Aku berjalan ke arah kastil besar di hadapanku. Dengan gagah aku berdiri tegak tak bergeming membelakangi kastil.
. . . .
"BTW, ini di mana sih?" Ku telan kembali pertanyaan tersebut setelah melihat banner yang tertera di kastil...
* https://dl.dropbox.com/u/37321795/Eremap.png *
"Eremidia ?" Tidak mengetahui atas dasar apa mengapa diriku berada di sini, untuk saat ini aku hanya bisa melakukan apa yang aku percayai benar...


Spoiler:
 

2012-07-22, 15:19
PostRe: [StoryPlay] Eremidia : The Legends begin
Signus Sanctus 
Newbie
Newbie
avatar

Level 5
Posts : 69
Thanked : 3
Engine : RMVX Ace
Skill : Beginner
Type : Developer
Awards:
Chapter 14 Link

----------------------------------------------------------

Chapter XV : Cold Desert

Akhirnya setelah 1 minggu silam, tubuhku telah pulih dengan sempurna, sebenarnya agak
aneh juga monster S Class sepertiku tidak mampu sembuh dari luka seperti itu dalam

sehari padahal waktu melawan lelaki berambut perak bernama Schneide itu, aku bisa sembuh

dalam sehari, tapi Ability Hero brengsek itu, Hybrid, mampu menggerogoti seluruh sel tubuhku dengan serangan Hybrid element nya, sehingga regenerasi luka pun menjadi lebih
menyakitkan daripada biasanya, itulah alasan kenapa aku yang sebelumnya bisa dengan mudah kalah oleh Hero bajingan itu. Tapi sekarang belum saatnya aku membahas hal tersebut, karena Elicia, Hibana, dan Lichty sudah menantiku untuk menyerbu Minotaur's
Nest, ya, Rank A Quest, aku telah berhasil mencapai Rank A berkat bantuan Alquerio,
ditambah lagi aku mendapatkan Magus' Sword, The Sword of Destiny, pedang yang mampu menyerap tenaga musuh dan menjadikannya kekuatan sendiri, aku bisa memanfaatkan ini untuk menjadi lebih kuat, demi Leila.

"Phoenix-sayang...."

Leila memanggilku lembut namun terlihat sedikit khawatir.

"Ini, aku tahu mungkin ini tidak membantu banyak, tapi setidaknya aku ingin kamu berhati - hati dan usahakan jaga kondisimu agar tetap fit...."

Leila memberikan sebuah keranjang yang berisikan sandwich favoritku dan sebotol susu hangat, kombinasi yang sangat cocok untuk melengkapi lapar dan dahagaku nanti.

"Ini sudah lebih dari cukup, Leila, terima kasih banyak~!"

Ucapku dengan sedikit senyum, dan kulihat Leila tersenyum kembali kepadaku, kemudian memejamkan matanya sambil mendekatkan mukanya kepadaku, dan terlihat bibir merah meronanya bergerak seakan - akan memberikan suatu tanda.

*chuu~

Kutempelkan mulutku kepada mulut Leila, dan kami menikmati sentuhan kedua bibir kami yang sekilas tersebut kemudian saling menatap satu sama lain.

"Baiklah kalau begitu, aku pergi dulu."

"Hati - hati, Phoenix-sayang~"

***

Perjalanan dari kota menuju Minotaur Nest lebih jauh ketika berjalan menuju Faleon, jadi Elicia menyiapkan Caravan untuk kami semua, Lichty sepertinya telah mempersiapkan segala Magic tingkat atas kelas manusia, ia tidak mau merepotkanku dan Lichty yang kerepotan setiap Lichty mengeluarkan sihir yang diluar batas kemampuan manusia, aku juga belum berani mengembalikan Core ku kedalam tubuhku sendiri, takut - takut aku dikuasai oleh sesuatu yang sedang ada dalam diriku, sosok monsterku yang mengerikan.

"Ngomong - ngomong, setelah ini, apakah kamu akan melanjutkan perjalananmu lagi, Hibana?"

Aku bertanya spontan pada Hibana, karena aku ingat sebelum bertemu denganku ia adalah S Class Hunter yang mengembara berkeliling dunia, namun karena harus mengajariku ilmu pedang dan menyembuhkan bekas luka Joker pada perutnya.

"Sepertinya begitu, lagipula, kamu sudah mempelajari Serene Mind kan?"

"Serene Mind?"

"Kondisi ketika kamu sudah bisa menggapai sense tertinggi dari para petarung, dan mampu meningkatkan kemampuanmu lebih tinggi daripada pengguna pedang biasa."

Aku mengingat - ingat kembali kondisi ketika melakukan jurus tersebut, aku hanya perlu mengingat tujuanku bertarung untuk apa, dan demi siapa.

"愛の力(Ai no Chikara)[The power of Love]"

Hibana hanya bisa meletakkan tangannya didahinya mendengar ucapanku, entah mengapa, tetapi terlihat Elicia pun hanya bisa terpejam syok mendengar ucapanku.

"Phoenix..."

"Ya?"

"Sejak Leila hamil, kamu berubah menjadi lebih aneh ya..."

Aku hanya bingung memikirkan ucapan Elicia, benarkah aku berubah sejauh itu?

***

Segera setelah kami memasuki sarang minotaur, lusinan Minotaur langsung menyergap kami berempat.



"ROWAAAAAAAARRRRRRRRRR!!!!!!!!!!"

"Akhirnya saatnya aku mengakhiri kalian semua, Minotaur sialan!!! Gara - gara kalian, aku tidak bisa mendapatkan cuti panjang!!!!!"

Teriak Elicia sambil menerjang maju menuju kumpulan Minotaur yang ada didepan mata.

"PIERCE!!!!!"

Mengarahkan tombaknya menuju kumpulan Minotaur, Elicia menerobos banyak Minotaur depan mata dan menembus badan mereka masing - masing.

"Sebenarnya tanpa bantuan kami, kau bisa saja menyelesaikan misi ini sendirian, Elice."

Ucapku sedikit meledek.

"Aku sanggup sebenarnya, tetapi prajurit - prajurit ku yang lain yang tidak sanggup! Aku mana bisa menghabisi mereka semua sambil melindungi yang lain!"

"FINAL BLADE SAVER!!!"

Kulemparkan tenaga pedangku tepat disamping Elicia, dan Minotaur hitam yang tersembunyi dibalik kegelapan itu langsung terbelah dua seketika.

"Eh?"

"Tapi tidak ada salahnya membawa bala bantuan, karena belum tentu semua masalah bisa kamu selesaikan sendiri."

Ucap Hibana, sambil mengeluarkan beberapa scroll dan menerbangkannya ke sekitar.

"Katon!!!!"

dan dalam sekejap seluruh area tempat Hibana berpijak, menjadi lautan api yang besar.

"Yah, aku kemari karena bosan terus berada di rumah leila!!"

Leila mengeluarkan Magic Circle yang ukurannya cukup besar.

"Quake! Titan's Wrath!!!!!"

Dan mengeluarkan familiar golem yang cukup besar, menyapu semua minotaur yang menghalangi.

"Kurangi tenagamu sedikit, Licht! Bahaya jika kamu dituduh macam - macam oleh kerajaan!"

Bentakku kepada Licht.

"Tapi kalau aku tidak mengeluarkan ini, jumlah mereka tidak akan ada habisnya!!"

Setelah kupikir - pikir lagi, ucapan Licht ada benarnya juga, baru masuk pintu saja lebih dari 4 lusin Minotaur menghalangi kami, entah apa yang akan menunggu kami lebih dalam...

*BLAAAAAAAAAAARRR!!!!!

"Holy Hell?!?! Apa itu...?!?"

Ucapku reflek melihat kearah ledakan tersebut berasal.



Mendadak sesosok minotaur yang lebih mengerikan daripada minotaur lain muncul begitu saja tanpa aba - aba, dan menghancurkan Golem buatan Licht dengan mudah.

"KURANG AJAR! BERANI SEKALI KAMU MENGHANCURKAN GOLEM KESAYANGANKU!!!!"

Ucap Licht sedikit marah.

"Minotaur General?!? Kenapa Monster Class A seperti itu sudah muncul di sini?"

Elicia terkejut melihat sesosok Minotaur General, Monster yang 1 tingkat lebih kuat daripada Minotaur biasa, dan bukan hanya 1, tetapi puluhan. "Ini aneh, hanya karena kemunculan minotaur biru aneh itu, semua minotaur yang ada disini mulai bergeser keluar...."

"Arph! sebaiknya kalian langsung masuk menemui monster tersebut, tugas kita disini bukan untuk membinasakan Minotaur, tetapi menghentikan serangan mereka!!!"

Ucap Licht, sambil mengeluarkan lebih dari berpuluh - puluh Magic Circle.

"Quake! Titan's Rampage!!!"

Dan keluarlah golem yang jauh lebih kuat, lebih besar, dan lebih keras daripada sebelumnya, kemudian membuka jalan untukku dan yang lainnya.

"Licht, jangan terlalu brutal, aku tidak mau gua ini runtuh sebelum kita keluar!!!"

Teriakku sambil aku memasuki ruangan hitam gelap tersebut.

***

Aku terus berlari, mengabaikan semua minotaur yang ada didepanku dan membiarkan mereka semua diurus oleh Hibana dan Elicia, aku harus menyimpan staminaku untuk monster yang sepertinya berbahaya ini. Namun....

"SEMUA, MUNDUR!!!!!!"

Mendadak dari atas muncullah sesosok minotaur yang lebih besar dari monster apapun.



"MINOTAUR LORD?!?!?! KITA BELUM MASUK TEMPAT TERDALAM DARI MINOTAUR NEST, KENAPA IA BISA ADA DI SINI?!?!?!"

Teriak Hibana, sepertinya memang ada yang aneh dengan tempat ini.

"Manusia - manusia biadab, berani - beraninya kalian memasuki area ini semudah itu...!!"

Minotaur Lord itu berbicara....?
Sepertinya title Lord nya sebagai S Class Monster bukan main - main....

"Lord of Minotaur...."

Aku memberanikan diriku untuk maju kedepan dan menghadapinya.

"RAAAAAAAAAAAAAAAAH!!!"

Namun belum apa - apa aku sudah diserang dengan Hammer yang lebih besar daripada tanduknya itu.

"GUH!!!"

*CRAAAANG!!!!!!!!!!!!!!!!

Kutahan hammer yang lebih besar daripada badanku itu dengan pedangku, aku mampu menahan tenaga sebesar dia, namun aku cukup kerepotan menyingkirkan itu dari kepalaku.

"UGH! Manusia sialan, berani - beraninya kau menangkis paluku....!!!"

"Aku bukan manusia, sialan....!!!!!! EXTEND!!"

*BLAM!!!!

Kugunakan seluruh tenagaku untuk mendorong balik hammer tersebut, sepertinya ia cukup terkejut setelah mendengar ucapan dan kekuatanku.

"GUH...! Apa - apaan kau....!?"

Aku merelaksasikan seluruh tenaga dalam tubuhku, memberi sinyal pada minotaur tersebut bahwa aku tidak mau bertarung dengannya.

"Phoenix...!"

Hibana dan Elicia melihatku dengan rasa khawatir.

"Perkenalkan, aku adalah 1 dari 7 Chrome Familia, Chrome Arphage."

ucapku memperkenalkan diri kepada Minotaur Lord tersebut, dan sepertinya ia cukup terkejut mendengar deklarasiku.

"Bisakah kau menghentikan amukan Minotaur yang ada didekat pintu masuk? Salah satu 7 Chrome Familia sedang melawan mereka semua, dan kau tahu konsekuensi melawan kami kan?"

"Apa bukti bahwa kamu adalah Chrome Familia, bajingan? kau terlihat sangat manusiawi dimataku...!"

Aku menarik pedang yang selama ini tidak kugunakan, Sword of Destiny, pedang buatan Magus.

"..............."

Minotaur Lord tersebut menarik napas panjang, kemudian meraung dengan sangat keras.

*WAOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOONG!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!

Dalam sekejap, seluruh gua tersebut menjadi hening, dan dari belakang sama sekali tidak terdengar keributan apapun, dan sepertinya Licht juga sudah menghentikan serangannya.

"Nice signal~!"

Ucapku sedikit tersenyum kepada Lord Minotaur.

"Namaku Gulliver, aku adalah Minotaur Lord ke XVII menggantikan almarhum Minotaur Lord ke XVI."

"Oh? Kau mau memberikan namamu juga...?"

"Untuk manusia, aku tidak perlu sopan santun, tapi untuk sesama monster seperti kau, lain soal."

Hibana dan Elicia merasa sedikit terganggu dan terancam.

"Let me get straight to the point, kenapa kalian mulai menyerang kota?"

"Apakah ada alasannya kenapa kau harus melindungi kota manusia tersebut?"

Aku sedikit mengambil nafas, kemudian menjawabnya dengan sigap.

"Melindungi wanita yang kuncintai."

Lord Minotaur itu terbelalak mendengar ucapanku, kemudian mulai tertawa terbahak - bahak.

"HAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHA!!!!!!"

Aku hanya mengerenyitkan mataku melihatnya tertawa seperti itu.

"Huh, aku tidak tahu kalau akhir - akhir ini ada monster yang tinggal di kota dan melindungi manusia...!"

Mendengar ucapan tersebut, aku sedikit emosi dan mengarahkan pedangku pada Gulliver.

"Jaga ucapanmu, wanita yang kucintai memang manusia, tetapi bukan berarti aku menyukai semua manusia...!"

"Huh, jadi meski kau mencintai wanita dari bangsa manusia, kau tetap menjaga jiwamu sebagai monster...."

"Cukup basa - basinya, sekarang, ceritakan padaku kenapa kau mulai menyerang manusia!"

Ucapku mulai tak sabar.

"AA Class Monster, Crystal Golem."

Crystal Golem, sesuai yang kudengar dari Leila, namun....

"Apa yang monster yang seharusnya berhabitat di Northern area seperti itu berada di sini?"

"Entah, yang aku tahu, gara - gara mereka, kami semua harus meninggalkan rumah kami..."

Aku tidak mampu menyerap penjelasan abstraknya, kenapa Monster Class S seperti Minotaur Lord bisa diusir dari rumahnya seperti itu....

"Arph!!"

Dari belakang Licht memanggilku, sepertinya ia baik - baik saja....

"Ada yang aneh!!"

Eh?

"Apa maksudmu, Licht?"

"Mungkin kamu tidak merasakannya.... tapi entah kenapa, semakin dalam kita memasuki gua ini, semakin dingin suhu gua ini..."

Semakin dingin? tubuhku memang sedikit aneh karena aku memiliki elemen api dalam diriku, tetapi....

"Kalau dipikir - pikir, benar juga, kupikir ini hanya perasaanku juga...."

Elicia mulai memegangi tubuhnya yang kedinginan.

"Dingin ini bukan dingin biasa, seakan - akan kita sedang berjalan menuju badai es..."

Badai es.....

"Ice Lady.... "

Gulliver menyebutkan 1 nama monster yang cukup familiar.

"Monster B Class yang mampu mengubah suhu sekitarnya menjadi setara dengan suhu di northern mountain?"

"Ada lebih dari ratusan Ice Lady didalam sana..."

Aku tersentak, bagaimana bisa ratusan Ice Lady yang seharusnya menetap di kawasan utara tersebut langsung muncul di sarang monster lain secara mendadak.

"Kalau begitu, aku ada penawaran...."

"Apa itu?"

"Kalau kau mau menghentikan aksimu mengirim pasukan Minotaur ke kota, akan kubinasakan semua Ice Lady yang ada disana beserta Crystal Golem."

"TIDAK SETUJU! BIARKAN AKU YANG MENGHABISI CRYSTAL GOLEM!"

Gulliver menawar permintaanku yang seharusnya mudah menjadi lebih sulit untuknya.

"Deal then!"

***

Kali ini, kami semua ditemani Gulliver memasuki gua Minotaur lebih dalam, namun semakin kedalam, semakin banyak fenomena aneh menyelimuti gua ini.

"Salju, stalaktit es... benar - benar pemandangan aneh di gua yang terletak ditengah - tengah padang pasir...."

Komentar Hibana bingung.

"Sebentar lagi sampai..."

Setelah kami sampai di sebuah ruangan yang sangat besar, aku melihat pemandangan yang sebenarnya tidak terlalu asing, namun aneh.

"Badai salju... didalam gua...?"

Tubuhku terasa beku, karena kami tidak berpikiran akan bertarung di tengah kedinginan maut seperti ini.

"Ugh... kalau tahu begini aku membawa armor api....!"

Ucap Elicia sedikit kedinginan.

"Aku juga kurang persiapan, Scroll api ku tidak cukup untuk membinasakan mereka semua."



Sambil berkata begitu Hibana menatap kumpulan kejauhan disana, dan terlihat ratusan Ice Lady berjejer bersiap untuk mengusir kami semua dari tempat itu, atau membunuh kami semua.

"Dimana Crystal Golem itu...?"

Dan tak lama kemudian tampaklah sosok besar hitam dibalik badai salju yang lebat ini, sosoknya mudah dikenali, namun ukurannya tidak bisa diremehkan.



"Monster sialan.... mencuri rumah orang seenaknya...!!!!!!"

Gulliver terlihat murka melihat monster tersebut.

"Kau sudah siap, Gull?"

Tanyaku kepada Minotaur Lord itu akrab.

"I'M READY ANYTIME!!!"

"Yosh, semua, MENYEBAR!!!"

Gulliver langsung maju menyerbu Crystal Golem tersebut tanpa menghiraukan kumpulan Ice Lady didepan, dan aku, Hibana, Elicia, dan Licht menyerang kumpulan Ice Lady.

"SHINNING BLADE CUT!!!!!"

Aku pun maju menyerbu kumpulan Ice Lady ditengah dinginnya badai salju ditengah - tengah gua padang pasir.

To be Continued


The Greatness of Tentacle:
 


Requiem:
 


The Last:
 
2012-10-27, 05:35
PostRe: [StoryPlay] Eremidia : The Legends begin
Signus Sanctus 
Newbie
Newbie
avatar

Level 5
Posts : 69
Thanked : 3
Engine : RMVX Ace
Skill : Beginner
Type : Developer
Awards:
Quote :
Necro like a sh*t :kabur:

Chater 15 Link

-------------------------------------------------------

Chapter XVI: Endless Grieve

"SHINNING BLADE CUT!!!"

Sambil meneriakkan teknikku, aku maju menerjang para Ice Lady yang terpapar didepanku.

"Katon!!"

Dengan lincahnya Hibana pun ikut melemparkan bom nya tepat dikepala para Ice Lady tersebut dan menghanguskan mereka seketika

"Pierce Charge!!!!"

Elicia menyerbu dan menembus puluhan Ice Lady didepannya dengan tombaknya

"Arph, lihat itu!!!"

Lich menunjuk sebuah portal aneh yang berada sangat jauh, dan terus mengeluarkan Ice Lady.

"Apa - apaan itu? Portal aneh itukah yang menyebabkan keanehan ini....?"

Komentar Hibana

"Suasana ini...."

Entah kenapa aku merasakan suatu kekuatan yang sangat familiar dari portal tersebut, entah apa itu, tapi aku tahu wujud asli pemilik kekuatan ini


"Chrome Familia...."

Sementara itu dibelakang Gulliver sedang bertarung sengit dengan Crystal Golem.

"KEPARAD, BERANI - BERANINYA KAU MENGKHIANATI KAMI SEMUA!!!! KAU BILANG KAU TERSASAR DAN MEMINTA BANTUAN KAMI MINOTAUR UNTUK BERTAHAN HIDUP, TAPI SEKARANG KAU DENGAN ENAKNYA MEREBUT RUMAH KAMI!!!"

Gulliver dengan ganasnya menyerang Crystal Golem, dan karena Gulliver adalah Monster S Class, mudah saja untuknya menghajar Crystal Golem yang tidak ditemani Ice Lady.

"Arph! Sesuatu keluar dari balik portal!!!"

dan tanpa diduga, dari dalam portal tersebut keluar 1 makhluk yang terlihat familiar, makhluk yang sama dengan makhluk yang dilawan oleh Gulliver.

"Crystal Golem lagi?!?!?"

"APA?!?!?"

"Biar aku yang urus, FINAL BLADE SAVER!!!"

Dengan tebasan pedang jarak jauhku, aku menyerbu Crystal Golem yang baru saja muncul tersebut, namun setelah menerima seranganku mentah - mentah, monster tersebut masih mampu berdiri.

"cih, sial, kekuatanku benar - benar terkuraws habis di kondisi badai seperti ini...!!!"

dan mendadak dari atas gua seekor Crystal Golem menjatuhkan diri diatas badanku dan menimpaku dengan tubuh tajam esnya, aku mencoba menahannya dengan pedangku, namun...

*PRAAAAAK!!!!

Pedangku hancur tanpa sisa, dan badanku pun tertusuk dan tertindih duri - duri dingin dari Crystal Golem

"ARPH!!!!!"

Lichty berteriak melihat kondisiku.

"BLAZE DISTORTION!!!!"

Sebuah pilar api meledak dengan ganasnya di gua es yang sangat dingin ini, mementalkan Crystal Golem yang menimpaku.

"Guh...!"

Tubuhku berlumuran darah dan beberapa tulangku patah, Crystal Golem tersebut lebih kuat dari yang kukira di cuaca seperti ini...

"Shhh.... Haaa....."

Aku menarik nafas perlahan, kemudian mengeluarkan pedang yang selama ini kusegel

"Let's do this, Sword of Destiny...!"

Diikuti dengan gumamanku, pedang tersebut mulai menyala dengan sangat terang, kemudian aku langsung menyiapkan kuda - kuda seranganku.

"FINAL BLADE SAVER, EXTEND!!!!"

Efek yang dikeluarkan oleh pedang tersebut berbeda jauh dengan apa yang sama sekali kukeluarkan, langit - langit tampak ikut terbelah oleh efek tebasanku, dan tak perlu dibahas juga, Crystal Golem yang ada didepanku pun ikut terbelah dua bersamaan dengan bongkahan es besar yang selama ini berada di depan Portal tersebut.

"What... the..."

Tentu saja akupun terkejut dengan kekuatan pedang Magus yang kupegang ini, pedang ini sama sekali tidak terbatasi oleh lemahnya cuaca sekitar, dan terus mengamplifikasi mana power ku yang seorang S Class Monster.

"GRAAAAAAAAAAAAH"

Dan mendadak dibelakangku Gulliver akhirnya berhasil merobohkan Crystal Golem yang dari tadi sedang ia lawan.

"CHROME!!! JANGAN SEMBARANGAN MENGAMBIL MANGSA ORANG SEENAKNYA!!!"

"Jangan sembarangan, kau pikir sanggup mengalahkan 2 Crystal Golem sekaligus di tempat seperti ini!!"

"Cih...!!!"

Saat aku dan Gulliver menerjang menuju portal tersebut, tiba - tiba sosok yang sangat besar muncul dari bawahku dan Gulliver, membuat kami berdua meloncat kebelakang secara bersamaan.

"RWAAAAAAAAAAAAAAAAARRRRR!!!!!!!!!!!"

Dan melihat satu Crytal Golem yang terlihat sekarat, duri - duri di tubuhnya pun sudah mulai patah, namun ia berdiri tegap dan menerjang portal tersebut.

"Phoenix, apa yang terjadi!?!?" Tanya Elice panik dan bingung setelah menghabisi ratusan Ice Lady

"Aku juga tidak paham!!!"

"HEI GOLEM KEPARAT, JANGAN LARI KAU!!!"

Gulliver mengejar Golem yang sekarat tersebut yang berlari kearah portal, namun Crystal Golem tersebut akhirnya terhisap portal bersamaan dengan Gulliver.

"Arph!" Lichty segera berlari menuju kearahku.

"Arph... aku tahu... aku tahu ini ulah siapa...!"

"Ulah 'siapa'?"

"Portal itu, aku tahu portal apa itu..."

Lichty menarik nafasnya, kemudian melepas 'Limiter' yang ia pasang di leher yang gunanya untuk mengurangi kekuatan sihirnya, dan mengeluarkan ribuan Golem untuk menghabisi Ice Lady.

"HEI LICHTY! KAU SUDAH BERJANJI UNTUK MENYEGEL KEKUATANMU KAN?!?!"

Teriak Elicia yang panik melihat Lichty mengeluarkan kekuatan Chrome nya.

"Maaf, Elicia. Tetapi... untuk melawan sesama Chrome Monster... aku harus melakukan ini..."

Aku diam terbelalak mendengar ucapan Lichty, jika ia harus menggunakan kekuatannya sekarang, berarti...

"Chrome Familia....!?"

Gumamku, namun sepertinya gumamanku terdengar keras oleh Hibana.

"APA?!"

"Maksudmu ini ulah S Class Monster?!?!?"

Ucap Elicia terkejut mendengar gumamanku.

"Cih...!!"

Hibana dengan gusar pergi dan memasuki portal tersebut.

"Hibana!!!! Cih... Lichty, Elicia, bisakah kalian berjaga disini?!? Akan sangat berbahaya jika tidak ada yang menahan Ice Lady dan Ice Golem yang ada di sini?!"

"Baiklah, Arph!!"

"Jangan sampai mati kau, Phoenix!!!"

"WOOOOO!!!!!!"

Aku pun ikut menerjang masuk kedalam portal.


***


Aku terlempar di sebuah gua yang sangat dingin, namun anehnya cukup terang seakan - akan aku berada di sebuah tanah lapang yang luas, dan ketika pandanganku mulai terbiasa, aku melihat ke langit - langit yang tak beratap sama sekali, dan melihat sebuat ornamen yang berbentuk sangat unik dan menarik seperti sebuah jam...

"Eh...?!?"

"Jadi kau datang juga, pengkhianat...!!"

"AKHIRNYA, KYAAA~~~HAHAHAAHAHAHAAHAHAHAAH~~~~!!!!!"

Aku melihat sosok 2 makhluk yang sudah tidak asing lagi dimataku, salah satu dari 7 monster buatan Magus, dan anggota keluargaku sebagai sesama monster...

"Chrome Joker... Chrome Divina...."

Amarahku semakin memuncak ketika melihat mayat Crystal Golem yang terbelah - belah di depanku, Gulliver yang palu dan sayap besarnya telah robek, dan Hibana yang kondisinya tidak terlalu baik.

"Hibana! Mundur sekarang juga!!!! Kita tidak akan bisa mengalahkan mereka berdua sekaligus!!!"

"Huh, berdua katamu?"

Ucap Divina sinis.

"KYAAAAH~KAKAKAKAKAAKAKAKAAKAK~!!! MELAWAN MEREKA BERTIGA, AKU HANYA PERLU SATU TANGAN DAN EKORKU SAJA, KYAAAA~KAKAKAKAKAAK!!!!"

1 Monster S Class yang harusnya setara denganku dan mereka, dan Hibana, kalah oleh Chrome Joker sendirian?

"MONSTER BIADAAAAAP!!!!!"

Hibana emosi dan menerjang Joker, aku mengejar Hibana, namun ia jauh lebih cepat daripadaku.

"BWEEEEEEEEEEEEEGOOOOOOOOOOO~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~K!!!!!!!"

*BWEEEEEEEEEEEEEEETSSS!!!

Semua terjadi secara mendadak, manusia biasa tidak akan mampu melihat gerakan secepat itu, dan hanya bisa bertanya - tanya apa yang sebenarnya terjadi, namun kejadiannya sendiri sudah pasti, tidak ada satupun kenyataan yang bisa menggantikan apa yang sekarang sedang kulihat...

"Hi..."

Mulutku secara reflek menyebutkan namanya secara pelan, aku merasakannya, emosi yang luar biasa memuncak, terus memenuhi seluruh jiwa dan ragaku tanpa berhenti sama sekali, aku perlahan termakan oleh emosiku yang tak terkendali, seluruh tubuhku panas membara, tidak terkontrol sama sekali...

"Hibana..."

Aku masih tidak percaya dengan mataku sendiri, apakah seseorang bermain - main dengan indra penglihatanku? Apakah aku sedang bermimpi? Aku tidak tahu apapun, tapi apa yang sekarang sedang kulihat, adalah kenyataan.



"HIBANAAAAAAAAAAAA!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!"

"KYAAAA~~~~~KAKAKAKAKAAKAK!!!! TANGANMU TERLALU RAPUH, MANUSIA!! KAU TAK PANTAS UNTUK BERDIRI DIHADAPANKU MULAI SEKARANG!!"

Dengan lengan yang sudah tak ada, Hibana akhirnya tersungkur ditanah salju yang empuk, namun warna salju yang sebelumnya putih terang menyilaukan tersebut, berubah menjadi merah darah gelap yang mengerikan, cairan merah darah tersebut terus menyebar tanpa henti, dan kesadaran Hibana perlahan mulai pudar.

"Kena...pa...?"

"KYAA~~~KAKAKAKAAKAKAKAK!!!! SESALILAH KEBODOHANMU KARENA BERANI MENANTANGKU, MANUSIA!!!"

"Kenapa... kenapa kamu membunuh adikku... yang selama ini menemanimu ketika kamu disegel...?"

Eh? Apa maksudnya?

"SUDAH KUBILANG ITU HUKUMAN KARENA TIDAK MELEPASKAN SEGELKU SAMA SEKALI!!! ADIKMU ITU SUNGGUH BODOH! KALAU SAJA DIA MENURUT APA YANG SELAMA INI KUKATAKAN, DIA TIDAK AKAN MATI SECARA PERLAHAN DAN TERSIKSA, BWODOOOOOOOOOOOOOO~H!!!"


DEG!

"MANUSIA - MANUSIA SEPERTI KALIAN TIDAK PANTAS HIDUP! RAPUH, LEMAH, BODOH, DAN TAK BERDAYA!!!"

DEG

"Magus juga bodoh! Mengaku ayah kami, tapi pada akhirnya dia menikah dengan manusia juga dan melahirkan anak manusia yang sama bodohnya! BAH!!!"

DEG!!

"SEMUA MANUSIA LEBIH BAIK MATI!!!!!!!!"

"ENOUGH!!!!!!"

Aku berteriak dengan sangat keras, dan sekejap mengheningkan suasana sekitar, semua mata tertuju kearahku.

"Aku tak peduli dengan manusia lain, aku tidak peduli dengan siapapun....!"

Seluruh tubuhku menyala kemerahan, sesuatu dalam diriku perlahan berubah, pedangku yang baru ini pun, Sword of Destiny ini, perlahan menyatu dengan tubuhku, atau lebih tepatnya, pedang ini memakan seluruh amarahku yang tak terbatas, dan memberikanku wujud baru yang benar - benar berbeda dari apa yang selama ini kualami.

"Tapi kau telah melukai Hibana..."

Aku terus berjalan mendekati Joker.

"Dan kau menghina Magus....!!!"

Dan akhirnya...

"KAU AKAN MATI DI TANGANKU SEKARANG JUGA, JOKER!!!!!!"

*BWOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOSH!!!!!!!


***


"KYAA!"

*PRANG!!

"Leila? Ada apa?"

Tanya salah satu pelayan bar yang terkejut melihat Leila menjatuhkan gelas yang sedang ia cuci, yang selama ini tidak pernah terjadi selama bar itu berdiri.

"Tidak apa - apa, aku hanya lelah...."

"Sebaiknya anda istirahat, anda hamil kan? serahkan saja selebihnya pada yang lain..."

Leila hanya tersenyum tipis sambil memegangi perut dan dadanya, ia merasakan ada yang aneh, sesuatu yang selama ini tidak pernah ia rasakan sebelumnya.

"Rahim ku terasa panas dan perih..."

Leila pun menarik Core Unit milik Phoenix yang ia jadikan kalung, dan kalung tersebut mengeluarkan hawa yang sama panasnya dengan apa yang dirasakan rahimnya kali ini.

"Inikah salah satu beban memiliki anak monster...."

Leila terbaring di kasurnya sambil dibantu oleh salah satu pelayan bar nya, dan terus memegangi perut dan dadanya beserta kalung tersebut.

"Phoenix...."

***

"ACK...!!! APA ITU?!?! SIAPA ITU?!?!?!"

Chrome Joker terlihat terkejut dan panik, bingung dengan apa yang terjadi sebenarnya, bahkan untuk monster sepertinya.

"Arphage brengsek.... selama ini ia sudah memegang apa yang kita cari selama ini...!"

"JANGAN BERCANDA!! APA KAU MAU BILANG BAHWA IA SUDAH MENDAPATKAN KEKUATAN MAGUS?!?!"

"Agak berbeda.... sekarang ini... Arphage...."

Divina menjadi sedikit gugup dan merinding atas apa yang terjadi didepan matanya, ia tidak mau mempercayai apa yang terlihat didepan matanya, tapi pada kenyataannya, itulah yang sedang terjadi...



"Dia... telah menjadi Magus itu sendiri..."

"Grrrrkh.....!!!!!"

Aku memasang kuda - kuda siap menyerang, dan Joker beserta Divina bersiap untuk bertarung

"APA - APAAN KAU, DIVINA?!?!?!"

"Ini tidak akan mudah, Joker. Kau tidak akan menang melawannya sendirian...."

"JANGAN MEREMEHKANKU!!!!!!!"

Joker melesat maju kearahku, dan akupun melesat maju menyerang Joker

"RRRRRRRRRAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHH!!!!!!!!"


The Greatness of Tentacle:
 


Requiem:
 


The Last:
 
2012-11-07, 16:00
PostRe: [StoryPlay] Eremidia : The Legends begin
McPherson 
Senior
Senior
avatar

Level 5
Posts : 777
Thanked : 7
Engine : Multi-Engine User
Skill : Intermediate
Type : Mapper
Awards:


The Seeker Of The Legendary Swordman

Episode 3
"Pemuda ahli pedang ambisius dari negeri asal sakura - Part 3"



"Ah, tampaknya tidak disadari ternyata sudah malam. Kita rupanya keasyikan dngan ceritamu.. " - Ucap Sir Tony, sambil melihat ke arah luar jendela rumahnya.
"Sungguh cerita yang mendebarkan.. " - ucap sir Tony sekali lagi.
"Haha.. Saya masih punya banyak kisah tentang pertualangan saya. " - Kata Kotaro dengan penuh smangat.
"Woah, benarkah? Tapi, lebih baik kita beristirahat. Karena, besok aku akan menunjukkan tempat dimana para Hunter berkumpul.. " - Saran Sir Tony.
"Ah iya.. Terima kasih ya.. " - Kata Kotaro sambil membungkukan kepala, tanda salam ala negeri timur.
"Haha, sama-sama, berkat anda atmosfer di rumah ini jadi menyenangkan.. " - Ucap Sir Tony.
"Mari saya antar ke kamar anda. " - Ajak pelayan dengan senyum
"Wah, maaf merepotkan. " - Kata Kotaro.
"Tidak apa-apa.. Haha.. Mari.. " - Kata pelayan itu dengan malu.

Setelah itu, Kotaro tertidur pulas di kamarnya. Ia memang orang yang sangat santai dan ceria.

Pagi harinya, Kotaro bersiap-siap berangkat bersama Sir Tony menuju Guild Hunter, untuk menjadi Hunter dan mendapatkan pekerjaan.
Ia cukup senang, karena ia pikir dengan menjadi Hunter, maka ia bisa bekerja dimana saja sambil mencari keberadaan seorang ahli pedang yang ia kagumi, karena saat ini Guild hunter ada dimana-mana.
Sesampainya disana, ia melihat suatum bangunan yang cukup besar, dengan bendera melambangkan Guild tersebut.
Dan, ia melihat begitu banyak seorang pendekar.
Ia senang, karena tempat negaranya berasal juga penuh dengan pendekar.
Ia juga melihat ada seorang hunter sedang menyeret makhluk besar seperti sedang membawa buruan.

"Ng? " - Kata Sir Tony sambil melihat ke Kotaro.
"Luar biasa, inikah yang disebut Hunter? " - Kata Kotaro dengan penuh kekaguman, dan berdebar-debar.
"Haha, tampaknya kau menemukan kesenanganmu disini yah? " - ujar sir Tony dengan tertawa.
"Ya! Aku senang sekali! Aku sudah tidak sabar untuk menjadi hunter! " - kata Kotaro.
"Baiklah ayo kita masuk ke dalam untuk mendaftar. " - Ajak sir Tony.
"Ya! " - sahut Kotaro.

Ketika ia tiba didepan pintu, tiba-tiba ada seseorang berteriak minta tolong dari arah belakang, keluar dari pepohonan hutan.
Ia seorang hunter namun keadaannya seperti dalam keadaan sekarat.
Rupanya ia di kejar-kejar makhluk besar menyerupai badak besar dengan cula tanduknya yang tajam.
Monster itu menyeruduk apa saja yang menghalanginya, pohon-pohon banyak bertumbangan.

"Tolong!! " - Teriak hunter itu.
"Grooaaarrr!!! " - Geraman Monster yang cukup menyeramkan.

Para hunter dalam keadaan panik dan bingung. Mereka tidak siap karena begitu tiba-tiba.

"Ah, akan kuhadapi makhluk itu. " - Kata Kotaro dengan wajah menyengir seperti senyuman sombong.

Namun, ketika Kotaro baru maju selangkah, tiba-tiba, ada seorang ahli pedang berjubah cokelat menerjang keluar dari gedung guild hunter melewati Kotaro.
Ia berlari menerjang ke arah makhluk besar itu.
dan melompat gesit ke samping makhluk besar itu dan brputar sambil mengayunkan pedang kearah bawah, dan menebas kedua kaki, salah satu kaki bagian depan, dan salah satu kaki belakang.
Makhluk itu jatuh dan tidak bisa bangun.

"Graaaa!! " - Teriak makhluk itu dngan kesakitan.

tiba-tiba terdengar sorak banyak orang.

"Woahh, hebat sekali! Siapa dia? " - Kata orang-orang yang berada di pinggir dari lokasi kejadian.

Namun, setelah beberapa detik, semuanya terdiam dan tercengang.

"Di.. Dia.. " - Kata seorang yg jg seorang Hunter.
"Kenapa bisa ada disini? " - lanjut seorang hunter lainnya.
"Bukankah ia seorang hunter yang sangat terkenal itu? " - Kata Hunter yang lainnya juga.

Kotaro yang melihat itu pun juga kaget.

"Wah, wah.. Tampaknya ada seorang ahli pedang seperti dirimu, kau pasti sen... ng? " - kata sir Tony, dngan kagum namun terhenti ketika melihat ekpresi wajah Kotaro.
"Dia... " - Kata kotaro dengan wajah penuh kemarahan serta kaget.

Siapakah dia bagi Kotaro??
bersambung... :D




Supporter of :

PostRe: [StoryPlay] Eremidia : The Legends begin
Sponsored content 




 

[StoryPlay] Eremidia : The Legends begin

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Kembali Ke Atas 

Similar topics

+
Halaman 5 dari 5Pilih halaman : Previous  1, 2, 3, 4, 5

Permissions in this forum:Anda tidak dapat menjawab topik
RPGMakerID :: Community Central :: Role Playing-