Mulai sekarang, forum RMID pindah ke situs ini. Posting sudah tidak bisa dilakukan lagi.
Mohon maaf atas ketidaknyamanannya dan mohon kerjasamanya.

Share | 
 

 [Web Novel] Q.G.V ~Numerical Infant~

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Go down 
2015-02-02, 18:09
Post[Web Novel] Q.G.V ~Numerical Infant~
#1
rnvis 
Novice
Novice
avatar

Level 5
Posts : 148
Thanked : 0
Engine : Multi-Engine User
Skill : Beginner
Type : Writer
Awards:
Q.G.V
~Numerical Infant~
Quote :
—To cut open a pathway to Heaven Itself.

With the Great Mother Astrea held hostage by the enigmatic dark phantom, four sages of Crimson Tree accepted the phantom's invitation and assembled Q.G.V, a special assassination unit with only one, sole objective;

   "Amongst the lords I reside, awaiting for the arrival of the children with their daggers araised on my throne. Only with the drop of purest blood shall my castle revealed upon them..."

   So sayeth the phantom, with the pendant of Ledesta in hand; an undeniable proof of royalty, of the very King Alexander's blessing.

   With time's running out and the war between three dukes for succession looming in the back, could Q.G.V executes the nobles and ascertains the true identity of the phantom before the entire kingdom and Crimson Tree plunged into the spiral of ruination?

Penned under 麦 ジャクソン
Status: Indefinite Hiatus

Index:
 


Terakhir diubah oleh rnvis tanggal 2015-03-07, 21:54, total 13 kali diubah
2015-02-02, 20:57
PostPrologue
#2
rnvis 
Novice
Novice
avatar

Level 5
Posts : 148
Thanked : 0
Engine : Multi-Engine User
Skill : Beginner
Type : Writer
Awards:
'Prologue'

Di sebuah kastil yang telah hampa, kejayaannya hilang, berlalu bersama waktu tanpa henti.

Dengan adanya sebuah alat untuk mengukir sejarah baru, maka sebuah 'halangan' yang jauh lebih jahat akan selalu ada, hanya untuk dimusnahkan oleh alat tersebut, lagi dan lagi. Inilah hukum yang telah ditentukan sejak awal permulaan waktu, semenjak umat manusia meninggalkan Surga itu Sendiri dalam pencarian pengetahuan yang lebih luas.

Orang bilang ini adalah sebuah berkah, harapan jika kau ingin bilang... namun jika dilihat secara keseluruhan, bukannya dengan kehadiran alat itu maka pada waktunya seluruh hal di dunia akan musnah?

Ketika skala dari pertempuran yang telah tercatat dalam naskah telah melampaui apa yang manusia dan dunia dapat terima, apa yang akan ada dalam akhir jalan mereka yang sudah lama tercipta?

Kebinasaan.

Dalam kasus itu, bukankah lebih tepat untuk mengatakan alat ini sebagai sebuah kutukan? Sebuah pembalasan atas ketamakan mereka yang pergi dari taman suci?

Bukanlah aku berbicara sembarangan karena peristiwa tersebut juga telah aku lalui sendiri.

Perang.

Pengkhianatan.

Pertumpahan Darah.

Semuanya datang dan berlalu seiring zaman.

Perlahan tapi pasti manusia telah berada dalam kendali takdir hingga akhirnya kehancuran mereka akan datang sepenuhnya. Tiap menit, tiap momentum di dalam sejarah mereka tidaklah berasal dari keberanian, keperkasaan, dan niat, namun sudah tercatat dari awal.

Mereka yang menjadi akan menjadi pahlawan, akan menjadi pahlawan.

Mereka yang menjadi penjahat, akan menjadi jahat.

Katakan kepadaku, Lady Elizabeth, apa yang menghubungkan semua keruntuhan ini?

"Kau berbicara dalam teka-teki, Sir Hawk."

Kini yang berbicara adalah seorang wanita muda, duduk dengan diam disamping sang bayangan hitam di sebuah tahta kosong - di dalam nada suara-nya adalah ketenangan dan rasa keibuan, tak setitik kecilpun dapat ditemukan kegundahan di dalamnya.

Sama sepertimu yang telah menutup mata-mu untuk selamanya, aku pun pula telah menutup hatiku. Aku telah mengetahui awal, pertengahan, dan bahkan akhir dari dunia ini. Dan dengan mata hatiku sendiri aku melihat alat/cahaya tersebut menebas segala yang jahat.

Untuk mengendalikan dunia palsu yang dibuat sedemikian rupa, maka sebuah hukum kekal harus dibuat. Namun begitu kekal hukum tersebut hingga dunia akan menghancurkan diri mereka sendiri akibat kekekalan hukum tersebut.

Dan oleh sebab itu aku, yang terus berlalu di dalam samudera waktu ini akan menghancurkan hukum di dunia ini dan mengembalikan semuanya ke awal yang baik. Menghancurkan apa yang seharusnya akan hancur, namun di lain pihak akan kembali membangunnya di tanah terjanji.

"...Sebuah tindakan konyol, pantas untuk seorang bolor sepertimu, Sir Hawk."

Disitulah perbedaan antara kau dan aku. Lady Elizabeth/Ibu Agung Astrea. Aku menolak untuk mengikuti banyolan antar sebuah alat dan kejahatan yang menyedihkan, dibuat oleh kesenangan Pendahulu yang pergi meninggalkan tanah atas. Sebuah sekrup yang kelak akan menghancurkan infrastruktur-nya sendiri.

Dan kau, sama sepertiku, dengan tanpa gentar dan kilatan yang memancar dari 'mata'-mu, telah melawan mereka. Mereka mengkutukmu karena itu, menyebutmu sebagai seekor Iblis. Kau, yang telah membunuh para Pendahulu, Sang Pembunuh Pertama.

"Kau mengatakan hal umum Sir Hawk. Bukanlah hal jarang untuk aku telah dipanggil sebagai Iblis."

Dan lalu, kenapa kau berhenti ketika selangkah lagi dari pintu penghalang dunia ini dan yang di atas sana? Apakah itu sebuah ketakutan untuk pertama kalinya, Lady Elizabeth? Apakah ada hal yang begitu indah yang telah membutakanmu?

"Tentunya kau sudah tahu, s'bab jawabannya selalu ada di tanganmu..."

Tolonglah jelaskan dirimu.

"Bahkan kau, magus yang telah dibisikkan telah ada semenjak awal permulaan waktu... tentunya - kau sendiri punya masa kecil yang kau miliki, betulkah aku? Di kala itu, bukanlah waktu terasa begitu lama? Begitu lamban? Tidakkah sehari terasa seakan seabad, atau bahkan selamanya?"

Aye, dunia dari mata para anak-anak dipenuhi oleh ketidaktahuan. Tapi dalam ketidaktahuan sendiri waktu berjalan begitu lambat dan begitu lembut, bagaikan pasir dalam jam yang mengalir mengikuti irama pengetahuan.

Kosong, namun penuh dengan kemungkinan...

Namun orang macam apakah yang akan berharap kepada sebuah kekuatan begitu kacau, begitu tak terdefinisikan Lady Elizabeth?

"Sir Hawk. Kau bilang aku ditakuti sebagai Iblis ketika awal dari segalanya dimulai, namun ketahuilah kalau kehadiranku itu selalu begitu tipis, begitu lemah... mengkhianati kesan seekor Iblis gila. Bagaikan butiran salju yang hilang seraya dikecup oleh sinar mentari..."

Dan oleh karena itu, kau...

"Mereka, para anak-anak di lain pihak begitu perkasa dibanding diriku..."

Mereka lah kunci terakhir, jalan yang dipenuhi kegirangan menuju Surga itu Sendiri dibalik gerbang raksasa yang membatasi segalanya.

"Mereka lah kunci-nya, Sir Hawk. Dan di dalam mereka aku juga menemukan 'ketidaktahuan' lagi, dengan kedua hal ini maka jalan untuk kembali ke atas bukanlah sekedar mimpi belaka untuk kami..."

Dan dengan begitu, hanya ada satu hal yang masih hilang?

"Ya, sebuah dorongan terakhir. Untuk itu, bahkan diriku sendiri tak mengetahui jawabannya."

Sebuah saklar untuk memajukan segalanya, memajukan kembali roda takdir ke sebuah haluan yang lain. Jauh, jauh dari kehancuran yang telah ditakdirkan.

Aku telah mengetahui ini, namun tetap saja... mendengarnya dari dirimu sendiri telah meyakinkanku Lady Elizabeth.

Baiklah kalau begitu. Aku sendiri yang akan menjadi dorongan terakhir tersebut. Menyelesaikan rencana akhir dari permainan-mu, Lady Elizabeth. Sebagai seorang agen.

"Apa tujuan akhirmu, Sir Hawk?"

Sang bayangan menjadi begitu tipis. Walau wujudnya perlahan menghilang, namun semangat di dalam lubuk hatinya masih membara sekali lagi setelah berabad-abad membeku dalam penantian panjang. Sebelum seluruh sosoknya lenyap, dia mengutarakan keinginan tersebut, percikan ember yang telah lama bersemayam semenjak dia bertemu dengan-Nya.

Untuk memotong sebuah jalan ke Surga itu Sendiri.

Dan dengan begitu, sang kegelapan/Lucifer turun dibimbing oleh lingkaran magia yang meliputi seluruh langit atas... turun dan turun, membelah langit biru dengan kegelapan dalam dirinya, terikat dengan hukum dunia yang kekal; Ketika semua yang mencoba untuk menggapai apa yang ada diatas akan kembali jatuh dan gugur dengan segala mimpi-mimpi mereka.


Terakhir diubah oleh rnvis tanggal 2015-02-25, 18:42, total 1 kali diubah
2015-02-04, 17:14
PostAct 1.1
#3
rnvis 
Novice
Novice
avatar

Level 5
Posts : 148
Thanked : 0
Engine : Multi-Engine User
Skill : Beginner
Type : Writer
Awards:
Act 1.1 - 'A challenge accepted, an extract woven from the middle.'

Sekitar puluhan orang berkumpul mengelilingi sebuah meja setengah lingkaran di dalam ruangan luas yang diterangi dengan seadanya. Di depan mereka adalah bagian dari ruangan yang menjulang naik bagaikan tiang ke atas langit-langit dengan berbagai percabangan yang jika dilihat dari kejauhan akan membentuk sebuah pohon kelabu, di sela-sela cabang tersebut adalah sebuah bilik berukuran kecil ditutupi tirai dan diterangi sebuah lentera merah yang disebut altar. Di tengah meja tersebut adalah seorang pria yang duduk di sebuah kursi dengan diam, sekujur tubuhnya dipenuhi oleh perban dan sisa-sisa darah masih bisa terlihat di pakaiannya yang lusuh.

Orang-orang tersebut terlihat bersitegang; beberapa berbicara dengan nada panik sementara yang lain diam sambil menggigiti kuku mereka.

"...Aku tak pernah menyangka kalau pertahanan sempurna suaka Ibu Agung dapat ditembus hanya oleh seseorang. Betul-betul memalukan!"

"Siapa yang ada dibalik semua ini? Duke Cornelius!? Atau Gereja Paradan!?"

"Lagipula, bagaimana mereka bisa tahu lokasi suaka itu!? Hanya para petinggi yang dipercaya Crimson Tree yang mengetahui lokasi tepatnya suaka itu!"

Lama kelamaan, orang-orang di dalam ruangan gelap tersebut mulai melemparkan tuduhan satu sama lain. Melihat itu, beberapa yang tidak ikut ambil bagian hanya dapat menggeleng-gelengkan kepala mereka saja dalam diam.

Aye, suaka Ibu Agung telah diserang. Seluruh pengawal dan pertahanan-nya telah ditembus oleh seseorang yang telah dibiskkan berjubah dan bertopeng, menambah parah situasi adalah keberadaan Ibu Agung Astrea yang telah hilang bersamaan dengan sosok misterius tersebut.

Sehari setelah kabar tersebut sampai di telinga petinggi Crimson Tree, sebuah rapat darurat dilaksanakan dengan segera, dihadiri oleh keempat tetua sendiri di lokasi yang sangat rahasia.

"Sir Lloyd! Apa kau ingin menuduhku atas kejadian ini!?"

"Tentu saja! Kau yang bertanggung jawab sebagai Pemegang-Rahasia suaka Ibu Agung! Jika bukan kau, siapa lagi yang membocorkan ini!?"

"Beraninya kau--"

Dan di saat itu juga, ketika perbantahan di antara mereka terus memuncak.

"DIAM!!!"

Sebuah seruan -yang membuat nyali semua orang di ruangan itu menciut- membahana ke seluruh ruangan. Orang-orang di meja tersebut segera mengalihkan pandangan mereka ke atas, ke altar ke-empat tetua, pimpinan tertinggi Crimson Tree yang menjawab perintah Ibu Agung sendiri secara langsung.

Berbeda dengan Ibu Agung; simbol dari seluruh Crimson Tree, keempat tetua adalah pihak yang selalu diselimuti misteri. Tak ada yang pernah melihat wajah mereka atau bahkan mengetahui persis apakah mereka memang berjumlah empat orang. Nama 'empat tetua' sendiri diberikan sesuai dengan jumlah altar di ruang tersebut, diterangi oleh sebuah lentera merah darah padam sehingga memantulkan sosok bayangan dibalik tirai altar tersebut.

Dengan turun tangannya mereka, maka petinggi yang lain berharap dalam hati mereka untuk solusi atas perkara ini. Namun bukan jawaban yang akan mereka dapatkan nantinya.

"Kami ingin mengetahui dengan lebih jelas tentang kejadian ini semua. Oleh sebab itu, Sir Balthier... sebagai satu-satunya pengawal Ibu Agung yang selamat, kami ingin mengetahui dengan jelas atas apa yang telah menimpa suaka suci tersebut."

Suara lantang yang sebelumnya kembali menggema dari altar. Walau tidak sekeras raungan tadi, terlihat jelas kalau suara tersebut punya suatu kekuatan, wibawa untuk membuat semua orang di ruangan itu untuk berdigik takut di hadapannya. Untuk memberi jawaban tanpa ragu kepadanya.

Balthier, menyadari namanya telah disebut segera mendongak ke atas setelah selama ini menunduk menatap lantai di bawahnya. Mata-nya nanar, keringat dingin mengalir dari dahi-nya, dan sekujur tubuhnya bergetar hebat.

"Ah...!"

Mendengar pernyataan sang tetua, para petinggi lain kini mengalihkan pandangan mereka ke pria tersebut.

"Beritahulah kepada kami, semuanya."

"...Waktu-nya pada siang hari... kemarin..."

Tiba-tiba saja Balthier menjadi terdiam, seluruh tubuhnya menjadi kaku dan kata-kata yang keluar dari mulutnya mengalir dengan lancar seakan-akan dia baru saja mendapat pencahayaan ketika suara lain yang lebih rendah mulai menuturkan katanya.

"...Entah dari mana, seluruh pengawal yang ditugaskan di luar suaka terbunuh. Seluruh tubuh mereka dicabik-cabik dan organ-organ mereka berhamburan. kami yang tersisa segera kembali ke dalam suaka, mencoba menjadi pertahanan terakhir untuk menjaga ruangan Ibu Agung... dan!! Dan disaat itu! 'Mahluk' itu muncul!! Dia, dia, dia!!"

Kini dia mencengkram kepala-nya dengan sangat erat, beberapa helai rambutnya bahkan ikut rontok karena kuku-nya. Mata-nya dipenuhi air dan perutnya serasa dikocok seraya terus mengingat kejadian itu.

"Walau wujudnya seperti manusia, namun mahluk itu jelas bukanlah manusia! Seluruh tubuhnya dipenuhi warna gelap, saat dia datang seluruh serangga mengeluarkan bunyi menjijikkan dan bau sedap memenuhi lorong itu..."

Mengingatnya, Balthier menutup mulutnya, menahan muntah yang bersiap keluar akibat rasa mual.

"Dia membunuh yang lainnya dengan cara yang sama; tubuhmu mereka terkoyak walaupun tak disentuh hingga hanya aku tersisa... sekarat. Lalu, dia mengatakan ini..."

Nada suara Balthier berubah dingin;

Di antara para raja aku tinggal, menunggu kehadiran para anak-anak dengan belati mereka dihunuskan pada tahta-ku. Hanya dengan tumpahan darah paling murnilah kastil-ku akan tampak pada tiap-tiap mereka.

Sebuah tantangan telah di keluarkan. Selembar surat perang telah dikirimkan. Salah satu dari penguasa pihak kerajaan telah menyatakan perang terhadap Crimson Tree. Hanya dengan tumpahan darah sesama petinggi lah maka identitas sang penculik dapat terkuak.

"Di tangannya, berbeda jauh dengan seluruh tubuhnya adalah sebuah kalung bewarna biru terang..."

"Kalung Ledesta!?"

"Tidak mungkin!!"

Kalung Ledesta, diberi nama sama dengan negeri ini. Sebuah kalung yang dihadiakan raja Alexander kepada bawahannya yang paling setia menggunakan sihir khusus-nya sendiri, di dalam permata-nya terdapat sihir yang sangat kuat; bagi siapa yang mencoba mengambil-nya dari pemilik asli-nya, orang tersebut akan mati secara menyakitkan. Pencurian adalah hal mustahil yang terjadi pada kalung itu.

"Tunggu dulu! Apa kau yakin kalung itu asli!?"

Pria berbadan gembrot yang tadi telah menuduh seorang petinggi lain, Sir Lloyd kembali angkat bicara.

"Kalung itu asli."

Suara lain dengan nada pelan tadi membalasnya dari atas altar penuh keyakinan, tanpa ragu dan tanpa jeda. Membuat semua orang disitu tidak mempertanyakannya lagi.

Atau lebih tepatnya tidak dapat bertanya.

Kata-kata para keempat tetua adalah hal yang absolut. Untuk meragukannya adalah kesalahan yang tak boleh diutarakan secara bebas.

"...D-Dia lalu berjalan mendekat... melewatiku... dan saat itu juga aku kehilangan kesadaranku..."

Bagaikan boneka yang benang-nya putus, Balthier kembali menundukkan kepala-nya dan tak mengatakan apa pun lagi setelah itu.

Seakan menandakan akhir penjelasannya. Petinggi yang lain kembali berbicara satu sama lain. Ketimbang memberi harapan, kesaksian Balthier malah membuat situasi semakin terpuruk.

"Ini berarti... salah satu dari orang kerajaan-lah yang menyebabkan ini?"

"Kalung Ledesta hanya diberikan kepada ketiga duke selama pemerintahan Raja Alexander... intel kami juga mengatakan tidak pernah ada pembuatan kalung lain selama itu, jadi..."

Gubrak! Sir Lloyd menggebrak meja-nya dengan emosi.

"Yang benar saja! Jadi salah satu dari ketiga duke menantang kita!? Ini tidak bisa dimaafkan!!"

Para petinggi lain hanya dapat berpikir atas perkembangan situasi ini.

"Eeeh, lalu, anu, apa cuma itu tugasmu?"

"""...!"""

Seketika itu juga, sebuah suara lain -berbeda dari suara lantang ataupun rendah tadi- kembali keluar dari altar, ditujukan kepada Balthier. Kali ini terdengar riang dan tanpa kesusahan, berbeda jauh dengan suasana di dalam ruangan. Seakan pemiliknya menyanyikan sebuah lagu atau... tersenyum meremehkan. Walau begitu, raut wajah petinggi di meja berubah, beberapa mengkerutkan kening mereka... mengetahui apa yang akan terjadi selanjutnya ke pria malang tersebut.

"...Y-ya."

"Oh, oh, jadi kalau begitu kami tidak perlu menggunakanmu lagi. Kau pasti ingin bertemu kembali dengan teman-temanmu, iya kan?"

"...Tidak!! Tidak... aku mohon!!"

Balthier menyadari apa yang dimaksud suara itu. Ketakutannya selama ini, selama memasuki ruangan ini terbukti dan sekarang dia berlutut, memohon dengan seluruh hatinya.

"Bagaimana kalau kau mati dengan cara yang sama dengan mereka, pasti akan lebih mudah bertemu dengan mereka lagi kan? Hehe~"

"Tidaaak!! Janga-- AAAAAAH!!"

Kaki kiri Balthier memutar dengan tidak semestinya, tulang-tulang di dalamnya remuk hingga akhirnya kaki-nya terputus secara paksa dan mengucurkan darah. Kemudian berlanjut ke kaki kanan, tangan kiri dan tangan kanan yang satu persatu jari-nya diputuskan dengan cara sama dengan lambat, beberapa diantaranya menggantung hanya karena seberkas kulit masih menghubungkannya.

Petinggi lainnya hanya menatap tanpa ekspresi Balthier yang sekarang telah kehilangan seluruh anggota tubuhnya. Tak satupun dari mereka terlihat kasihan atau bahkan takut melihat pemandangan tidak lazim itu, bahkan beberapa diantara mereka terlihat jijik dan jengkel. Humor dari tetua yang satu ini masih tetap menjijikkan bagaimanapun orang melihatnya.

Menyisakan kepalanya, Balthier terus meraung kesakitan sebelum wajahnya juga ikut memutar dari hidungnya sebelum isi-nya berhamburan dengan bunyi *pop*. Sisa-sisanya bersinar putih di dalam ruangan yang gelap.

"Terima kasih atas jasamu~"

"""......"""

Seluruh ruangan hening. Selang beberapa detik, suara lantang dari atas altar kembali berbicara;

"Ini adalah sebuah penghinaan terberat yang telah dialami Crimson Tree. Oleh karena itu, kami menerima tantangan sang pria misterius ini. Dengan ini, kami empat tetua memutuskan untuk membentuk tim Q.G.V. Unit khusus yang akan diberi kekuasaan setara dengan kami dalam beroperasi. Tujuan dari unit ini yaitu eksekusi para bangsawan kerajaan dan juga pencarian dan penyelamatan Ibu Agung Astrea."

Seluruh ruangan kembali ricuh mendengar keputusan yang telah terjadi. Orang gila macam apa yang akan masuk ke unit dengan misi yang mustahil seperti itu?

"Siapakah diantara kalian yang akan menjadi anggota sukarelawan pertama unit ini?"

Hening lagi. Para petinggi menatap satu sama lain. Tentu, mereka semua adalah pembunuh terbaik yang telah mengabdi kepada Crimson Tree sejak lama. Fakta bahwa mereka bisa duduk di ruangan ini membuktikannya. Namun, untuk sebuah misi sekaliber ini, siapa yang akan nekat mengambilnya? Untuk menerjang bahaya seperti ini?

Ketika yang lainnya mulai menganggap rencana ini sebagai kegagalan...

Untuk memotong sebuah jalan ke Surga itu Sendiri.

"Aku!"

Pria muda yang sedari tadi diam dengan tenang selama rapat kini berdiri setelah mengambil nafas panjang. Sepasang mata hitam kelamnya menatap dengan tajam ke altar atas di balik rambut hitamnya yang menjuntai panjang sepunggung seakan dapat menembus tirai yang menutupi sosok di dalamnya.

Begitu perkasa lah nyali-nya dan begitu dalam tujuannya untuk mengabdi sekali lagi kepada orde ini.

Gila! Seluruh petinggi lain menatap-nya dengan tak percaya. Mungkinkah anak muda itu telah kehilangan kewarasannya? Apa karena dia salah satu yang termuda disinia dia merasa bisa mengambil semua kejayaan dalam kejadian ini? Misi membunuh para petinggi kerajaan? Mustahil!

"Mathyea Andou. Apa kau bersedia untuk menjadi anggota pertama Q.G.V?"

Suara lantang dari atas altar bertanya. Bukan atas kemampuan Mathyea Andou ataupun tujuannya, namun untuk kesediannya. Seakan sudah mengetahuinya dari awal...

"Ya, saya bersedia."

Mathyea Andou menjawab dengan mantap. Tak mempedulikan kata-kata yang dilontarkan oleh petinggi lainnya.

"Baiklah. Dengan begitu, kau resmi menjadi anggota Q.G.V pertama. Semoga Ibu Agung Astrea besertamu dalam tugas mulia ini."

"Dan sertamu juga."

Mathyea menundukkan kepalanya. Sebuah senyum dingin disunggingkan di bibirnya. Aye, ini adalah perkembangan yang tak terduga, dengan ini rencana-nya akan berjalan dengan lebih cepat. Dan seakan dewi keberuntungan tersenyum padanya; sebuah unit rahasia! Dengan kekuasaan setara dengan tetua? Apa yang bisa menjadi salah?

"Bersamaan dengan itu juga. Silahkan temui rekan kerjamu untuk kali ini."

Seakan menunggu kalimat tersebut, pintu lebar ruangan tersebut menjeblak terbuka, mengalihkan pandangan semua orang di ruangan itu; memperlihatkan sesosok seorang pria yang wajah-nya ditutupi oleh syal hitam yang dia kenakan. Di pinggang kiri-nya sendiri adalah sebuah pedang yang disarungkan yang gagang-nya dipegang oleh tangan kirinya.

"...Reinholdt Fitzgerald, melapor untuk tugas!"

Nama yang tak asing, dimiliki hanya oleh seorang mantan kepala paladin Gereja Paradan. Kini orang tersebut berdiri di hadapan mereka.

Dan dengan begitu, turunlah dua pembunuh/anak yang akan memajukan roda takdir untuk pertama kalinya.


Terakhir diubah oleh rnvis tanggal 2015-02-26, 20:46, total 4 kali diubah
2015-02-07, 22:48
PostAct 1.2
#4
rnvis 
Novice
Novice
avatar

Level 5
Posts : 148
Thanked : 0
Engine : Multi-Engine User
Skill : Beginner
Type : Writer
Awards:
Act 1.2 - 'And so, let us hurl together through this path.'

Mathyea berjalan menyusuri lorong gelap di sekitar bangunan persembuyian ini, mencoba mencari jalan keluar untuk menyegarkan pikirannya dengan udara pagi yang sejuk, paling tidak cukup jauh dari tempat yang telah membuatnya gerah seperti ini.

Sehari sebelumnya adalah hari paling lama yang dia rasakan. Dengan terpilihnya dia sebagai anggota pertama Q.G.V, maka dia harus menyiapkan langkah-langkah untuk memulai tugasnya. Setelah rapat darurat tersebut selesai, dia dan sang paladin tinggal untuk diberikan sepasang segel.

Dengan segel ini diimplan ke dalam sirkuit magis mereka, maka mereka yang telah bersumpah untuk mengabdi kepada Ibu Agung harus patuh terhadap mereka berdua apapun kondisinya. Inilah kekuatan yang dihadiakan kepada mereka berdua sebagai dua anggota awal.

Walau sebagai gantinya, Mathyea merasakan rasa sakit di kepalanya yang sangat menusuk. Malam itu juga dia tidak bisa terlelap dengan nyenyak s'bab sebuah mimpi yang dia tidak ingin lihat untuk selamanya kembali datang.

.

Panas.

Tangan-tangan api menyambar dimana-mana, memporak-porandakan seisi rumahnya.

Hangat.

Sebuah tangan yang lembut, tercemar oleh warna ahmar menggenggam tangan mungil-nya untuk terakhir kalinya.

Silau.

Matahari terbenam seakan membuat pemandangan di depannya terlihat seperti serpihan dari neraka.

Sakit. Sakit. Sakit. SakitSakitSakit--

JANGAN. TIDAK LAGI. KUMOHON.

.

Mentari belum terbit ketika dia beranjak bangun dan mengenakan jubah hijau lusuh-nya, dia menyerah untuk tidur dan memutuskan berjalan yang membawanya ke keadaan sekarang.

Mathyea merasa mual. Langkah kakinya menjadi tidak teratur.

Seorang pria muda lain juga berjalan di arah berlawanan dengannya. Pria dengan syal hitam; paladin yang kemarin bersamanya.

"Ah, anda juga tidak bisa tidur ya?"

Paladin itu tersenyum ramah ketika bertatap muka dengan Mathyea. Sebuah senyum tulus tanpa adanya niatan jahat dibaliknya, ditambah dengan ketampanan wajahnya, tentunya sudah ada banyak wanita yang akan jatuh hati kepada senyum itu.

"..."

Walau begitu, Mathyea hanya mengerutkan keningnya. Malam yang tidak tenang dan rasa tidak nyaman melihat pria di depannya membuatnya berang.

"Kita tidak sempat berkenalan kemarin. Jadi... aku harap kita dapat bekerja sama dengan ba--"

Reinholdt mengulurkan tangan kanannya, namun Mathyea, yang sudah terlanjur kesal memutuskan untuk mendengus dan melangkah melewati Reinholdt dengan tangannya masih terulur di udara.

"Ah."

Reinholdt melirik ke belakangnya, pria berambut hitam panjang tersebut masih terus melangkah. Punggungnya seakan terus menolak Reinholdt yang hanya bisa tersenyum canggung.

Ketika bersiap berjalan kembali ke arah kamarnya, dia mendapati seorang wanita telah bersandar di dinding di depannya entah sejak kapan, menatapnya dengan pandangan meneliti.

...

Reinholdt adalah seseorang yang sebenarnya tidak ambil pusing dalam cara menyantap makanannya, lagipula dalam menjalankan sesuatu apa yang penting adalah hasil yang dicapai, bukan apa yang perlu dilakukan untuk menyelesaikan proses tersebut. Begitulah pikirnya dulu.

Saint Maiden sendiri menegurnya setelah membunyikan garpu-nya beberapa kali di saat sarapan pagi hanya antara mereka berdua pada suatu hari yang sudah lama berlalu.

Reinholdt tersenyum kecil mengingat hari-hari itu. Sesaat dia melupakan fakta kalau wanita yang telah memberinya sarapan sedang menatapnya sedari tadi seakan baru melihat mahluk langka.

Dia dibawa ke sebuah ruangan kecil di salah satu lorong persembunyian ini. Ruangan kecil yang sama seperti interior seluruh persembunyian; dibuat sederhana dan memberi kesan dingin dengan batuan bewarna hijau gelap disusun rapi dengan lilin yang dikurung di dalam sebuah kaca anti-pecah.

"Terima kasih atas makanannya, nona."

Ucapnya setelah meneguk gelas airnya.

"...Tidak perlu sungkan. Anggap saja ingin sebagai balasan lebih awal karena ingin menanyakan sesuatu padamu."

Wanita tersebut berbicara sambil tersenyum penuh makna ke Reinholdt.

"Apa pun itu, aku akan menjawabnya sesuai dengan kemampuanku."

"Hmhm~ Nah, begini..." sebuah jeda.

"Bagaimana menurutmu tentang partner-mu yang baru?"

Reinholdt sedikit terkejut. Dia berpikir dia akan ditanyakan hal macam-macam -hal yang dia tidak ingin bahas seawal ini- seperti alasan kenapa seorang paladin sepertinya bergabung di orde dengan sejarah kelam seperti ini atau kenapa dia bahkan ingin mencalonkan diri sebagai seorang anggota Q.G.V.

"Kau tak perlu ragu. Katakan apa saja yang ada di pikiranmu." sebuah senyum yang mengembung, "Asal tahu saja, aku tidak akan melakukan hal yang aneh-aneh."

Menimbang beberapa saat dalam batinnya, Reinholdt akhirnya menjawab.

"Dia bersikap terlalu dingin aku rasa."

"Oh?"

"Aku tidak tahu pasti apa penyebabnya namun kurasa ada hubungannya dengan profesiku; asumsi pertama yang kumiliki adalah dia pernah terlibat dalam masalah dengan paladin sebagai salah satu anggota orde ini... apa pun itu, ketidakselerasan ini paling tidak bisa tertutupi untuk sementara waktu."

"Jadi kau rasa dia bersikap dingin akibat pekerjaan-mu sebelumnya, iya bukan?"

"Bisa dibilang seperti itu."

Sebuah jawaban yang wanita itu sudah perkirakan, namun dia sedikit terkejut atas ketelitian yang sang paladin jelaskan.

"Kalau begitu kau salah."

"...Eh?"

Seorang paladin -pemimpin mereka dalam kasus Reinholdt- telah bergabung di orde kelam dan paling sakral yang ada di negeri ini. Untuk mempercayai orang seperti itu dalam jangka sehari memanglah mustahil. Reinholdt sendiri sudah memprediksi ini ketika mengetahui dia akan diikutkan dengan seorang anggota lama. Namun kata-kata wanita yang namanya dia belum tahu ini membuatnya ragu sekarang.

"Kalau aku mau bilang, dia sebenarnya tidak mempedulikan itu. Aku sudah mengenalnya sejak lama... Mathyea Andou itu adalah orang yang telah berjuang sampai ke status-nya sekarang melalui usaha dan kegigihannya sendiri."

Sang wanita tersenyum kecil sembari menjelaskan Mathyea Andou seakan-akan seperti anak-nya sendiri, seakan-akan menceritakan tentang buah daging-nya yang telah lama pergi mengarungi dunia, selayaknya pria muda yang lainnya.

"Bertugas dengan rekan kerja adalah hal yang jarang baginya. Dia itu memang orang yang seperti itu, Namun aku ingat apa yang pernah dia katakan padaku..."

.

Tersebutlah mereka yang telah melihat ajal

baik milik diri sendiri ataupula orang lain

sebagai perasaan fana dan tak lebih

selamanya mereka tak akan menggapai mimpi mereka

tak ada cinta, tak ada romansa, tak ada apik,

yang akan menghantar ke cita-cita di atas sana

dibumbung oleh warna lazuardi indah.


.

...

Pemuda berambut hitam itu duduk di salah satu bebatuan yang awalnya menjadi tiang penyangga balkon tempat dia berada sekarang, merasakan terpaan angin yang berasal dari horizon barat. Kastil Erenburg tampak di kejauhan, tak lebih seperti sebuah butiran pasir di batas langit biru.

Persembunyian ini terdapat di sebuah pegunungan di bagian utara Pulau Hedlix yang bagian dalamnya yang telah dikosongkan. Daerah utara tergolong sebagai sebuah daerah pinggiran terletak jauh dari ibukota Erenburg Dukedom membuatnya sempurna sebagai tempat persembunyian dan juga penyelundupan barang-barang ilegal ke dalam Ledesta.

Tak perlu dibilang lagi, pembangunan disini masih terbelakang... sejauh mata memandang, hanya padang hijau luas yang dapat Mathyea lihat, berbeda jauh dengan daerah lainnya.

"...rgh."

Dari yang dia ketahui, Mathyea yakin ini hanyalah efek sementara yang terjadi karena pemindahan segel yang telah dilakukan kemarin... walau begitu dia tidak bisa menjelaskan kenapa dia mendapat kilasan ingatan lama seperti itu diantara nyeri dalam kepalanya.

Rasa sakitnya semakin parah. Pandangan Mathyea semakin lama semakin berkunang-kunang dan dentuman di dalam kepalanya belum juga berhenti.

Seluruh pandangannya berubah menjadi putih, padang yang bagaikan karpet hijau di hadapannya perlahan memudar dan sinar matahari tiba-tiba memadam.

.

Bocah berambut hitam itu duduk itu duduk dengan malas di tepi danau yang membentang luas didepannya. Sesekali dia melempar kerikil yang dia temukan ke permukaan air danau, membuat percikan beberapa kali sebelum akhirnya berhenti. Disampingnya adalah seorang pelayan wanita yang menepuk tangannya dengan lembut sembari tersenyum.

.

Sebuah ingatan, begitu lama telah berlalu namun masih bisa teringat jelas. Sebuah rumah yang telah terbakar hingga tak tersisa, mayat-mayat pelayan lainnya tergeletak tak bernyawa, sebuah pisau tertancap...

"...Aku masih tidak bisa melupakannya, ya?"

Ketika sakit di kepalanya mulai reda, pandangannya mulai kembali walau sedikit tidak terfokus. Mathyea menyadari dia sudah berjalan ke ujung balkon, kaki kanannya bahkan sudah melewati pembatas balkon yang ada dan setengah terangkat di udara.

Mata-nya terasa kabur seperti kelilipan.

"Sedikit lagi..."

...

Ruang rapat petinggi Crimson Tree.

Seluruh kursi dan meja yang tertata rapi kemarin sudah lenyap begitu pula mayat penjaga terakhir yang mungkin sudah dibuang ke laut terdekat. Suasana di ruangan itu kembali mati hingga saatnya terpakai lagi pada waktunya.

Selesai sarapan, wanita tadi memutuskan untuk ikut bersiap pergi mengikuti petinggi lainnya dan meminta Reinholdt menemaninya.

Kenapa dia kesini Reinholdt sendiri tidak mengerti...

Dia dan Reinholdt hanya terus menatap bagian tiang ruangan tersebut yang berbentuk menyerupai pohon kelabu dalam diam.

"Aku yakin kau bisa mendapatkan kepercayaannya. Malah jika aku mau bilang kau itu adalah orang yang cocok dengannya."

Begitulah katanya secara tiba-tiba, dia berdiri sedikit jauh dari Reinholdt sehingga ekspresi wajahnya tidak dapat terlihat dengan baik.

"Aku tidak tahu." ucap Reinholdt seraya menatap lantai beton di bawahnya, "...Kenapa anda bisa begitu yakin kepadaku?"

Wanita itu berbalik ke arah Reinholdt.

"Karena, aku yakin kau mempunyai niat yang tangguh untuk bergabung ke dalam unit ini. Tidak usah berpikir jauh, itu saja sudah cukup. Sudah cukup untukmu, dan juga untuknya."

"..."

"Nona Kamizumi. Sudah hampir waktunya."

Seorang pemuda berambut pirang emas datang dari arah masuk dan berhenti beberapa meter di belakang Reinholdt dan wanita itu, menyampaikan pesannya dengan singkat dan nada datar.

"Ah, Hicox. Maaf aku sedikit terlambat."

Menyadari kedatangan ajudannya, wanita yang telah dipanggil 'Kamizumi' itu berkata dengan ringan seraya berjalan melewati Reinholdt, sepatu hak tingginya adalah satu-satunya bunyi di ruangan yang kini sunyi itu.

"Baiklah, cukup sampai disini dulu. Aku berdoa demi kesuksesanmu dan juga Mathyea, sungguh.."

Tanpa menunggu balasan Reinholdt, wanita itu terus berjalan, mantel panjang yang dia kenakan mengikuti iringan langkah kakinya. Ajudan muda-nya yang bernama Hicox menunduk ketika dia berjalan melaluinya sebelum Hicox sendiri mengikutinya dari belakang. Sebelum beranjak keluar, sang ajudan muda tersebut melemparkan tatapan dingin ke arah belakang Reinholdt.

Kini hanya dia yang ada di ruangan ini, masih memikirkan perkataan wanita itu sambil mendongak ke atas; altar para tetua kini telah kosong. Bayangan mereka beserta lentera merah dibaliknya kini telah tiada.

Dia berterima kasih di dalam hati kepada sang wanita yang telah lama berjalan menjauh. Reinholdt punya firasat kalau dia akan bertemu dengannya lagi dalam waktu yang tidak lama, ketika itu memang terjadi, dia berharap dia dapat berterima kasih dengan sungguh-sungguh padanya.

"Sebuah niat, ya?"

Hatinya galau. Alasan yang dia cari selalu ada di dalam dirinya, namun untuk menggunakan alasan itu sebagai pendorong untuk membunuh orang adalah hal yang tak akan pernah dia lakukan.

Untuk menggunakan dalam hal seperti itu sebagai pendorong di dalam hatinya berarti sama saja menghina kenangan yang dia miliki.

"Tapi... aku harus melakukan ini."

Dia menarik pedang di pinggang-nya dan menghadapkannya ke depan dadanya. Pedang Altruies bersinar walau diantara ruangan yang gelap. Baja-nya telah menebas puluhan atau bahkan ratusan mereka yang telah menentang ajaran Paradan. Sebuah pedang dengan baja yang langka dan dengan pemberkatan dari sang Saint Maiden sendiri.

Reinholdt tidak pernah ragu untuk menumpahkan darah kotor mereka yang telah melakukan praktik vulgar, yang telah mengorbankan nyawa orang-orang yang tak berdosa hanya untuk alasan pengetahuan arkana sendiri. Apa yang dia lakukan mungkin salah, tapi jika paling tidak ada yang mengukuhkan kebenaran atas tindakannya... jika paling tidak ada seseorang, maka dia akan selalu yakin.

Dan dengan begitu, dia kembali menyarungkan pedang yang telah diberikannya dengan penuh kepercayaan.

Diantara gelapnya ruangan, diantara kibaran yang akan memecahbelah keyakinan lelaki lemah, dia sendiri berdiri kokoh, bagaikan benteng perkasa, tak lagi ragu. Nyalinya yang begitu tajam tak akan kehilangan pancarannya. Dia akan terus maju ke depan, menghadapi jalan berdarah yang akan dia lalui.

Begitu perkasa nyalinya, begitu terang pancaran baja di pedangnya hingga mengalahkan kegelapan sendiri.

Tak ada yang perlu lagi ditakutkan, Reinholdt Fitzgerald berjalan keluar setelah menatap altar keempat tetua untuk terakhir kalinya. Langkahnya terasa begitu ringan dan enteng.

...

Malam itu langit begitu cerah. Letak daerah yang jauh dari pusat penduduk membantu untuk membuat bintang bersinar begitu terang saat ini.

Kuda telah disiapkan di sebuah istal yang tersembunyi di kaki gunung, jika seseorang tidak betul-betul mencarinya maka mereka mungkin tidak akan pernah menemukannya tersembunyi diantara tumbuhan liar yang ada dengan sedemikian rupa.

Mathyea telah selesai mempersiapkan semua peralatan yang dibutuhkan untuk esok paginya. Dia berjalan untuk bersiap kembali ke kamarnya sebelum menyadari ada seekor kuda lain di kandang itu.

Reinholdt Fitzgerald. Apa dia telah salah untuk berharap sesuatu yang lebih pada orang itu? Untuk mempercayai seseorang, untuk berharap akan sebuah hal yang membuat mereka sama. Sebuah tujuan yang mendorong mereka.

Tak ingin menganggu hewan-hewan tersebut untuk beristirahat, dia lalu berjalan keluar dari istal dan menyadari ada seseorang yang berjalan mendekat ke arahnya.

Dia mempersiapkan mantra yang akan diluncurkan dari tangan sebelum menyadari kalau orang tersebut adalah Reinholdt Fitzgerald, syal hitam yang dia kenakan berkibar oleh angin malam. Pria tersebut tampak serius, sorot matanya adalah pandangan yang dia gunakan ketika menusuk jantung magus-magus yang telah melakukan ritual sesat; sorot mata sang pemimpin paladin.

Mathyea memahami arti dari tatapan itu. Reinholdt terus berjalan, tidak cepat dan tidak lambat hingga jarak antara dia dan Mathyea hanya sekitar tiga kaki.

"Mathyea Andou."

Pikirannya telah jadi. Keraguannya tersapu bersih. Dengan ambisi baja membara di hati, dia bertanya;

"Apa yang kau harapkan dari misi ini? Apa yang akan kau harapkan dari mereka yang akan kau pimpin kelak?"

Keberhasilan Q.G.V kedepannya adalah hal yang belum ditentukan. Baik oleh tangan manusia atau pun roda takdir sendiri. Untuk itulah Reinholdt berharap...

"Katakan kepadaku -- apakah yang kau cari dalam hidup ini, mimpi apa yang telah kau kejar, tujuan apa yang kau agungkan, dan juga apa ideal apa yang telah membutakan pandanganmu seraya kau mengayunkan bajamu?"

"...Aku ingin percaya."

"Atas sebuah kebenaran?"

"Aye. Untuk sebuah tujuan, pendorong untuk terus melangkah ke depan di jalan nista ini."

'Kepercayaan' adalah apa yang disebutkan Mathyea - sebuah notasi yang dimiliki tiap insang, namun telah menjadi kelabu jauh dari asalnya.

Untuk mempercayai hal seperti itu adalah prinsip yang telah Mathyea tahu sejak dulu. Walau prinsip yang telah diturunkan kepadanya telah lama ikut memudar dengan waktu, namun kemurniannya masih ada. Senyuman di hari-hari yang hangat itu masih dapat Mathyea ingat hingga kini.

"Jikalau begitu, maka percayalah kepadaku!"

"Untuk seseorang dengan prinsip yang sangat berbeda? Begitu kontras dari diriku?"

"..."

Apa yang sang paladin, mereka yang telah menebas para penyembah segala yang nista di dunia harapkan dari sebuah pertumpahan darah murni yang diciptakan oleh sosok bayangan? Dari segi mana pun dilihat, akhir dari kegilaan ini adalah akhir yang menyedihkan. Mengapa pula seseorang akan memilih akhir yang begitu jelas didepan mata mereka?

"Hidupku telah berubah atas para bangsawan yang begitu penuh dengki dan iri hati, diatas semua ini adalah Duke Cornelius sendiri. Sedangkan kau, apa yang kau inginkan?"

Reinholdt menarik pedangnya keluar, menyilangkannya tepat di depan dada-nya. Sinar bulan membuat baja di pedang tersebut berkilau begitu terang, begitu murni.

"Aku telah diberhentikan secara tidak terhormat atas tuduhan pembunuhan yang tidak kulakukan. Dengan hilangnya aku, Saint Maiden telah kehilangan perlindungannya, semua akibat rencana pejabat Duke Cornelius!"

Duke Cornelius. Duke Cornelius. Kemanapun kau berada, nama tersebut akan terus dikutuk oleh semua orang di penjuru negeri.

Mathyea terdiam. Mereka yang menyebut nama tersebut mempunyai arti berbeda untuk sang magus, namun arti yang sama untuk kebencian pula. Paladin yang di depannya mempunyai tujuan yang begitu mulia, pancaran yang dia keluarkan membuat hatinya bergetar dan senyum mencair di wajahnya.

"...Aku mengerti."

Aye. Orang ini adalah orang paling tepat yang pernah dia temukan. Sosok-nya tidak akan ragu, dia akan terus maju dan mengambil panggung selayaknya seorang pahlawan akan lakukan.

"Reinholdt Fitzgerald. Apa yang kau inginkan?"

"Jatuhnya Duke Cornelius dan Dysson Dukedom. Mathyea Andou, apa yang kau inginkan lebih dari segalanya?"

"Jawaban atas penderitaan yang dilakukan Duke Cornelius!" seru Mathyea.

Mereka berdua tersenyum, sebuah paham telah ada dalam benak mereka berdua. Tak butuh sebuah kata untuk mengutarakannya.

Berjalan mendekat dan memperkecil jarak diantara mereka berdua, Mathyea mengulurkan tangan kanannya sambil menatap Reinholdt. Reinholdt tersenyum puas, bahu-nya kembali rileks dan dia menyarungkan pedangnya, lalu ikut mengulurkan tangannya.

"Senang bekerja denganmu, Sir Reinholdt."

"Dan denganmu juga, Sir Mathyea."

Kedua tangan mereka menjabat satu sama lain. Kanvas kelabu di atas mereka bagaikan padang berlian, kontras dengan padang hijau di bawah mereka. Jutaan bintang yang lebih terang dari biasanya bertaburan, terhampar luas di langit malam. Tanpa awan dan bulan, kerlipan bintang memancarkan cahaya murni kepada mereka berdua, seakan menjadi saksi biksu kedua kejahatan yang akan bersatu.

Aye, keruntuhan Duke Cornelius dan segala yang jahat bukanlah mimpi belaka lagi. Q.G.V akan muncul, teror yang mereka kirimkan akan menorehkan luka dalam jiwa dan tubuh mereka. Semuanya akan bermula dari sini.

...

Matahari kembali terbit esok harinya. Mathyea dan Reinholdt telah selesai mempersiapkan semua peralatan dan juga kuda mereka.

"Ngomong-ngomong, kemana tujuan kita?"

Reinholdt bertanya seraya menaiki kuda miliknya. Mathyea menatap peta yang dia pegang selama beberapa detik sebelum kembali menggulungkannya, sebuah pemandangan yang tidak akan asing lagi dalam waktu lama.

"Kota Ernsay. Di sana terdapat salah satu cabang Crimson dan juga tempat seseorang yang aku kenal."

Reinholdt hanya mengangguk setuju. Sebuah rencana harus di buat dalam waktu dekat, walau pihak Intelegensi akan memberi masukan atas bangsawan yang akan dibunuh dan langkah selanjutnya, kita tidak bisa terlalu bergantung kepada mereka... ada juga masalah kurangnya anggota yang harus segera diselesaikan.

"Aku harap kita dapat menemui seseorang yang mau bergabung..."

"...Aku harap juga begitu. Kalau begitu, ayo, kita jalan!"

"Oke!"

Dan dengan begitu, mereka pun memacu kuda mereka, melewati padang hijau luas.

Tak ada lagi pelayan yang akan memberi bekal dan juga senyuman yang akan menyemangati mereka. Tak ada lagi pemberkatan dan juga sorakan dari suster dan paladin lainnya. Mereka berdua hanya terus berjalan, menghadap ke depan.


Terakhir diubah oleh rnvis tanggal 2015-03-04, 18:07, total 6 kali diubah
2015-02-12, 20:39
PostAct 1.3
#5
rnvis 
Novice
Novice
avatar

Level 5
Posts : 148
Thanked : 0
Engine : Multi-Engine User
Skill : Beginner
Type : Writer
Awards:
Act 1.3 - 'I would not hesitate to slay you down.'

Tiga hari berlalu sejak kepergian mereka dari persembunyian di utara, perjalanan ke Ernsay berlangsung tanpa adanya gangguan yang terlalu serius untuk menghambat mereka. Bandit jarang berada di daerah sepi seperti ini dan satu-satunya tempat yang dihuni siluman adalah ketika melintasi pegunungan selatan untuk lalu berputar ke arah timur. Daerah pegunungan disana memang sudah lama dihuni oleh siluman kegelapan dari Perang Siluman dua puluh empat tahun yang lalu sehingga dihindari oleh banyak orang, skuad eksterminasi dari kerajaan biasanya melakukan pembasmian sekali setahun namun kegiatan tersebut jika dipikir tidak terlalu berpengaruh ke kehidupan di sana.

Walau seorang petani yang baru saja mengurus ladang-nya telah memperingatkan mereka akan bahaya di pegunungan tersebut, Mathyea tidak ingin membuang waktu dan memutuskan untuk tetap melewati jalan tersebut. Reinholdt menyatakan ketidaksetujuannya tapi Mathyea tidak ingin jalan lain.

Singkat cerita, mereka bisa melewatinya dengan cukup aman. Reinholdt mampu mengalahkan siluman di daerah pegunungan itu dengan cukup mudah, TERLALU mudah malahan jika ingin dibilang;

"Bukannya menyombongkan diri... tapi ini cuma seperti pemanasan untukku."

Ucap-nya seraya membersihkan darah salah satu siluman dari pedang-nya.

Bahkan jika ingin dibilang, jalan terjal yang ada di pegunungan malah lebih membahayakan ketimbang beberapa ekor siluman. Salah selangkah saja maka mereka bisa jatuh dan mengingat batuan-batuan abu-abu tajam yang ada di bawah mereka bahkan tidak ingin membayangkan itu terjadi.

Siluman lain yang melihat sesama mereka dibantai mengenaskan oleh satu orang saja hanya dapat melihat mereka berdua dari kejauhan mengendarai kuda mereka dengan tenang. Bahkan skuad eksterminasi yang diterjunkan disini sekali setahun punya masalah yang lebih serius untuk mengatasi siluman disini. Sehari setelahnya mereka sudah menuruni lembah gunung dan udara sesak di sekitar pegunungan perlahan-lahan mulai menipis begitu pula kabut tebal yang menghalangi pemandangan mereka. Disaat bersamaan matahari juga sudah mulai tampak pada waktu itu membuat mereka jauh lebih segar dari sebelumnya.

Jalan ke Ernsay tinggal mengikuti hanya tinggal mengikuti jalur timur yang terawat setelah menuruni pegunungan, jika tidak ada halangan maka paling cepat mereka akan sampai saat matahari terbenam. Namun selama itu juga tidak ada hal yang bisa dilakukan selain terus menunggangi kuda mereka. Kadang kala mereka bisa melihat pedagang membawa gerobak mereka menuju ibukota atau orang lain yang mengendarai kuda menuju barat melewati pegunungan untuk sampai ke Linberry, selain itu TAK ADA hal yang begitu menarik.

"Jadi, orang yang kau sebut ini... dia itu orang macam apa?"

Reinholdt yang menatap langit biru cerah di atasnya bertanya dengan malas. Mathyea yang menyibukkan dirinya dengan peta dan secarik kertas hanya melirik Reinholdt dari sebelah matanya sebelum kembali mencatat beberapa hal di kertas yang dipegangnya.

"Hmm... dia itu teman lama guru-ku. Sejujurnya jika aku ingin bilang aku tidak menyukai-nya, selalu ingin ikut campur urusan orang lain dan segala macam hal lainnya, menganggap dirinya serba tahu tentang orang lain. Namun, dia juga informan terbaik yang pernah kutemui... jika bukan karena dia, aku mungkin tidak akan bisa sampai sini."

Walau tidak tampak begitu memperhatikan pertanyaan Reinholdt, Mathyea dapat menjawabnya dengan cukup jelas sambil terus menulis di kertas-nya dan menunggangi kuda-nya dengan stabil.

"Oh. Jangan bilang kalau..."

"Ada apa?"

"Tidak. Lupakan saja."

Reinholdt punya firasat kalau dia mengenal orang yang dijelaskan Mathyea. Malahan dia yakin kalau baru saja bertemu dia beberapa hari yang lalu namun tidak ada yang bisa membuktikan firasat-nya untuk saat ini.

"...?"

Setelah itu perjalanan mereka kembali berlangsung dengan tenang sekali lagi, bersamaan dengan itu sinar matahari mulai menghangat dan beberapa petani lagi telah berjalan menuju ladang mereka.

...

Barulah ketika matahari tenggelam di ufuk barat mereka kembali perlahan naik ke daratan yang lebih tinggi, langit yang awalnya bewarna biru berubah menjadi warna jingga khas langit senja. Burung-burung di langit berteriak parau seraya kembali terbang menuju sarang mereka setelah seharian bepergian untuk mencari makanan.

"Kita sudah sampai."

Ucap Mathyea seraya melipat semua kertas-kertas (jumlah-nya bertambah dua kali lipat dari semula yang dia genggam) yang ada di kedua tangannya dan lalu menghadap ke depan. Reinholdt yang juga asyik mengupas beberapa batang pohon kering dengan pisau kecil-nya juga ikut melihat ke arah Mathyea menghadap.

Tak jauh dari tempat mereka berada adalah air terjun yang bermuara dari atas pegunungan yang mereka telah daki dengan ringan untuk beberapa saat. Di sebelah air terjun tersebut tampak beberapa atap bangunan terbuat dari bata tinggi bewarna cokelat pudar yang saling berdekatan yang dibangun di sekitar tanah datar kaki pegunungan, beberapa di antara-nya mempunyai cerobong yang sedang mengeluarkan asap dari perapian.

"Hoh... tidak buruk."

Reinholdt tersenyum kecil sambil menikmati pemandangan di depannya. Setelah mengikuti pegunungan curam di barat dan padang rumput yang tiada habisnya, seluruh rasa penat-nya sekarang sudah hilang setelah sampai di Ernsay. Mathyea yang telah berhasil menyelipkan semua kertas di dalam jubah hijau pudar-nya yang panjang kembali memajukan kuda-nya diikuti dengan Reinholdt.

Setelah berjalan sedikit lagi keatas, mereka akhirnya sampai ke dinding pembatas desa dan juga sebuah gerbang yang terbuat dari kayu. Penduduk di kota kecil tersebut berlalu-lalang untuk kembali ke rumah mereka setelah seharian beraktivitas sementara pedagang sibuk untuk menutup toko mereka untuk hari ini. Lampu-lampu di jalan perlahan menyala satu persatu ketika langit semakin gelap, setelah mengitari lorong-lorong kota selama beberapa saat dan meminta maaf kepada beberapa penduduk yang jalannya terhalang mereka akhirnya sampai di depan sebuah bangunan kecil.

Beberapa kuda lain ikut dibariskan di depan bangunan tersebut, sebuah papan kecil digantungkan di depan pintu bangunan tersebut menunjukkan bahwa bangunan tersebut adalah sebuah bar.

Bar itu sudah dipenuhi oleh pengunjung lainnya ketika mereka berjalan masuk. Tanpa mempedulikan tatapan pengunjung lainnya, Mathyea terus berjalan menuju meja depan dimana seorang bartender melayani beberapa orang. Ketika melihat Mathyea, bartender tersebut tersenyum lebar.

"Ah, Sir Mathyea. Sudah cukup lama aku tidak melihatmu. Bertugas cukup lama lagi ya?"

"Seperti itulah. Dimana pemilik sekarang?"

Reinholdt mengambil kursi di samping Mathyea. Setelah menjawab canggung beberapa pertanyaan dari sang bartender botak dan memesan segelas whisky, dia menyadari kalau salah satu cabang yang dimaksudkan Mathyea sebelumnya adalah tempat ini setelah melihat sekelilingnya lagi.

Kebanyakan cabang Crimson Tree yang terletak di dalam sebuah kota kota biasanya berada di tempat yang tidak terlalu menonjol; pencarian yang dia lakukan beberapa bulan terakhir membuatnya menyadari fakta itu. Jika diperhatikan dengan seksama, hampir semua pengunjung bar ini adalah orang-orang dari Crimson Tree; bau darah bisa tercium samar dari mereka dan beberapa diantaranya mengenakan tudung serta senjata tajam diselipkan di dalamnya.

"Dia pergi untuk menghadiri sebuah rapat di utara. Aku tidak tahu detail-nya tapi kurasa dia harusnya kembali ketika tengah malam nanti."

"Kurasa aku datang terlalu cepat kalau begitu."

"Apa aku harus memberitahu-nya nanti?"

"Kalau bisa. Aku ingin beristirahat untuk sekarang. Aku akan kembali besok untuk menemuinya."

"Tentu! Tentu!"

Mathyea sendiri menghabiskan minumannya dengan satu tegukan, memberi anggukan kecil ke arah Reinholdt dan sang bartender sebelum berjalan pergi ke luar pub, mungkin untuk menyewa kamar di menginap-dan-sarapan terdekat yang ada.

"Jadi..."

Setelah beberapa saat, bartender tersebut kembali ke arah Reinholdt yang masih ingin tinggal disini sedikit lebih lama.

"Kau rekan kerja-nya, betul?"

"Bisa dibilang begitu..."

"Hal yang mengejutkan jika ingin kubilang, Sir Mathyea adalah orang yang jarang bekerja dengan seseorang."

Reinholdt merasa ini kesempatan bagus untuk mengetahui sedikit lebih banyak tentang rekan kerja-nya yang selama perjalanan mereka berdua terkesan terlalu tertutup. Walau sikap-nya tidak sedingin ketika mereka pertama bertemu, Mathyea sendiri terlihat terlalu tidak acuh. Pada waktunya, Reinholdt ingin bertanya kepada yang bersangkutan sendiri tapi untuk saat ini ada baiknya dia punya sedikit dasar dari beberapa orang yang memang dia kenal.

"Apa dia pernah bekerja dengan orang lain sebelumnya?"

"Biar kuingat..."

Sang bartender mengelus kumis lebat-nya selama beberapa saat seraya menatap atap-atap, mencoba mengingat-ingat.

"Terakhir aku rasa setahun yang lalu, dia pernah datang kesini dengan seorang pria urak-urakan yang mengikat rambutnya dengan pita merah. Mereka terlihat cukup akrab... seperti seorang sahabat lama jika ingin kubilang..."

"Apa mereka pernah terlihat bersama lagi?"

"Entahlah. Saat itu adalah yang terakhir. Kurasa dia mungkin sudah tidak ada lagi."

"Ah. Selain itu?"

Di saat itu juga, seseorang yang menggunakan tudung hitam yang sedari tadi juga ikut duduk di meja bar berdiri dan mengeluarkan beberapa koin di meja seraya menyodorkannya ke si bartender. Ketika tangannya diulurkan, Reinholdt menyadari sesuatu, matanya membelak sebelum menatap tajam orang tersebut. Sang bartender menerimanya dan mengucapkan terima kasih walau orang itu hanya beranjak pergi setelahnya tanpa kata-kata.

Reinholdt terus memperhatikan orang tersebut dari sebelah matanya, mencoba menimbang-nimbang tindakannya selanjutnya sebelum akhirnya--

"Ah! Aku ingat sekarang! Dia juga pernah datang bersama seorang wanita... tunggu, apa seorang pria? Eh? mau kemana tuan!?"

"Ceritanya kita lanjutkan kapan-kapan saja! Dan juga, simpan saja kembaliannya!"

Reinholdt tiba-tiba ikut berdiri sambil merogoh saku-nya untuk mengambil segenggam koin dan menaruhnya di depan sang bartender sebelum akhirnya berlari ke pintu keluar pub dengan buru-buru, raut wajahnya berubah kelam.

...

"Tidak salah lagi... yang barusan tadi itu..."

Reinholdt berlari di sekitar lorong-lorong kota Ernsay. Sedari tadi dia telah mengejar sosok bertudung tadi tapi sekarang dia telah kehilangan jejak-nya. Gelap-nya malam hari dan struktur kota yang dia belum kenal baik memperparah kondisi-nya sekarang. Malam sudah semakin dalam, tak satupun orang lagi berjalan di waktu ini... anehnya, Reinholdt juga belum menemui satupun penjaga yang seharusnya sudah mulai berpatroli pada jam seperti ini.

Dia terus berjalan, berputar kembali di lorong pada sebelah kiri-nya sebelum keluar di sebuah salah satu jalan yang terlihat mirip seperti yang dia lalui sebelumnya.

'Aku kehilangannya...'

Reinholdt mengumpat. Dia melirik ke segala arah, mencoba mencari jejak yang bisa dia dapatkan. Di saat ketika dia sudah hampir menyerang dan berniat kembali ke penginapan, dia mengangkap sesosok bayangan melintas, sesaat menutupi cahaya lampu jalanan di pinggir matanya.

Reinholdt kembali berlari. Orang yang dia kejar begitu gesit dan jelas lebih cepat dengannya, satu-satunya harapan untuk menghalau-nya adalah dengan mengalahkan manuver-nya tapi itu sendiri mustahil untuk sekarang.

Walau begitu, orang itu tidak dapat dibiarkan pergi.

Walau kemungkinan untuk dapat menangkapnya kecil, Reinholdt terus berniat untuk mengejarnya. Gigi-nya digertakkan karena frustasi;

"Tunggu! Kau yang disana!!"

Derap kaki mereka berdua terdengar begitu keras di malam hari ketika menginjak jalanan yang ada, Reinholdt terus berlari, berbeda dengan sebelumnya, orang bertudung tersebut kini menggunakan jalan yang lulus. Merasa dia sudah dipojokkan, Reinholdt mempercepat langkahnya sebelum orang itu dapat lolos lagi. Sebelum dia sadar, ketika dia berhenti kini dia berada di pusat kota; sebuah air mancur terus menyemburkan air, menyebabkan percikan di wadah di bawahnya.

Reinholdt mengeluarkan pedang-nya sebelum berjalan dengan penuh waspada mengitari air mancur tersebut. Dia terus melangkah cukup jauh dan menuruni undakan anak tangga menuju dekat gerbang luar kota Ernsay sebelum akhirnya menyadari kesalahannya...

"Jangan bergerak."

Di saat ketika Reinholdt berbalik di saat itu juga sebuah suara dingin bergema di pusat kota yang kosong. Di atas undakan tangga yang baru saja dia lewati tadi telah berdiri sosok bertudung yang dia kejar selama ini.

"Jawab pertanyaanku: apa alasanmu untuk mengikutiku dari pub tadi?"

Orang itu mengacungkan tangan kanannya, tidak, sebuah pisau -dirancang khusus untuk dilempar- telah ditodongkan ke arah dada Reinholdt. Dia yakin dia dapat menghindari-nya dari jarak ini, namun untuk saat ini, Reinholdt tidak ingin mengambil resiko.

"Tch, tak usah berpura-pura! Aku dapat merasakannya di pub tadi..."

Reinholdt menggenggam pedang-nya, mengarahkannya ke sosok yang ada di hadapannya.

"Sebuah resonansi siluman yang berasal dari dirimu!! Katakan, kau ini sebenarnya apa!? Tergantung jawabanmu, maka aku harus membunuhmu."

Bertahun-tahun mengabdi kepada Gereja Paradan sebagai seorang paladin yang ditugaskan untuk memberantas ilmu hitam dan mahluk kegelapan membuat Reinholdt peka terhadap kehadiran siluman. Ditambah lagi baru saja tadi pagi dia menuruni daerah yang dipenuhi oleh mereka sehingga insting-nya masih terasa tajam hingga saat ini.

Awalnya dia ragu, namun dia akhirnya yakin ketika bisa merasakan darah siluman mengalir di urat nadi sosok tersebut sewaktu mengulurkan tangannya.

"Aku ini manusia ataupun siluman bukanlah urusanmu..."

Awan yang menutupi sinar rembulan perlahan berpindah arah sehingga seluruh pusat kota terlihat lebih terang. Di saat itu pula wajah yang tertutupi tudung hitam itu mulai tampak; seorang wanita, mungkin tidak lebih muda dari Reinholdt.

Diperhatikan lebih baik, dia bahkan tidak lebih tinggi dari bahu Reinholdt. Wajah-nya yang masih muda terlihat begitu angkuh dan kejam. Mata kiri-nya telah ditutupi oleh sebuah penutup mata bewarna hitam yang kembali disembunyikan dibalik rambut bewarna ruby merah-nya.

"Selama orang-orang ada dalam bahaya, maka aku tidak akan bisa membiarkanmu..."

Namun, walau mata kiri-nya telah ditutup, mata kanan-nya yang bewarna emerald menatap ke arah bawah Reinholdt dengan dingin, kebencian terpancar jelas dari tatapannya seakan dia menatap hal paling menjijikkan yang dia pernah lihat.

"Hmpf. Jika hanya itu yang ingin kau sampaikan, maka sebaiknya kau sekarang pergi dari hadapanku, jika tidak..."

Dengan gerakan yang mulus, pisau hitam legam yang dia todongkan diputar untuk menghadap ke arah Reinholdt dengan genggaman reverse-grip.

"Aku tidak akan segan-segan untuk menghabisimu."
PostRe: [Web Novel] Q.G.V ~Numerical Infant~
#6
Sponsored content 




 

[Web Novel] Q.G.V ~Numerical Infant~

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Kembali Ke Atas 

Similar topics

+
Halaman 1 dari 1

Permissions in this forum:Anda tidak dapat menjawab topik
RPGMakerID :: Community Central :: Role Playing-