Mulai sekarang, forum RMID pindah ke situs ini. Posting sudah tidak bisa dilakukan lagi.
Mohon maaf atas ketidaknyamanannya dan mohon kerjasamanya.

Share | 
 

 [Story]Holygrandia Saga

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Go down 
2015-01-28, 11:40
Post[Story]Holygrandia Saga
#1
mightykudit 
Newbie
Newbie
avatar

Level 5
Posts : 8
Thanked : 2
Engine : RMVX
Skill : Masterful
Type : Artist

Holygrandia Saga adalah kumpulan cerita tentang karakter-karakter dalam lore Armament Spirit Knight dan Eremidia khususnya yang berhubungan dengan Tri-Arch, baik itu kisah masalalu, asal muasal kejadian, ataupun cerita-cerita lain yang berhubungan.

Jadi ini bakal jadi kumpulan cerita-cerita pendek tentang karakter, peristiwa, dan lain-lain yang mungkin gak nongol dalam Armament Spirit Knight.

Tujuannya tentu selaen untuk memperjelas karakter development dan story e ASK, ini juga bisa dipake untuk jadi dokumentasi konsep dunia Eremidia

Characters
Quote :

Alma Xillian Esther
Tokoh utama dalam Armament Spirit Knight, kesatria paladin yang bersumpah akan melindungi Theressa sampai akhir hayat. Dahulu ia cukup periang, agak tomboi, dan bandel namun semenjak percobaan pembunuhan Theressa, sikapnya menjadi dingin dan tak pernah bermain-main lagi. Merupakan salah satu orang yg paling dipercaya Theressa.

Armellio Barton, jr
Tokoh utama dalam Armament Spirit Knight, pengguna sihir yang mampu mematerialisasi rohnya dalam banyak bentuk dan jumlah.
Sebelum menjadi agen Order of Nirvane, Ellio adalah informan licik dan perantara antara manusia dan majou.  

Rohan Maxwell
Kesatria Paladin hebat, bahkan dianggap legendaris. Salah satu pahlawan dalam Black Raid. Hebat dalam sihir ataupun ilmu berpedang, membuatnya hampir tak memiliki celah. Kebiasaan buruknya adalah mabuk miras dan main wanita.

Saint Maiden Theressa Alrunica
Saint Maiden untuk generasi saat ini, salah satu orang yang paling dihormati di Holygrandia. Teman masa kecil Alma, Noa dan Lief.

Noa Wraithand
Teman masa kecil Alma, salah satu yang dituduh tersangka dalam percobaan pembunuhan Theressa bersama Alma dan Lief. Sama seperti Alma, sikap Noa berubah semenjak insiden itu. Bahkan lebih parah daripada Alma, Noa memiliki rasa benci yang amat sangat terhadap para petinggi di Holygrandia, bahkan hilang kepercayaan kepada Nirvane.

Liefandre Wraithand
Adik Noa, teman masa kecil Alma. Merupakan anak yang polos dan mengikuti semua perkataan kakaknya. Ia juga merupakan korban cambukan seperti Alma dan Noa.


Glossary
Quote :

Manar Skadi : Hutan yang konon berisi reruntuhan dari era Goldia, dikatakan merupakan tempat berdirinya Dark Scripter sebagai organisasi sihir hitam terbesar dan tertua.

Altar : Sebutan untuk tempat ibadah bagi pemeluk ajaran Tri-Arch

Nirvane : Entitas spiritual yang dipuja penganut Tri-Arch

Paladin : Kesatria khusus Holygrandia.
Story
Quote :

Story 1 : Alma Untold (part1)
Story 2 : Alma Untold (part2)
Story 3 : Sang Rubah Tidur
Story 4 : Minggu Ketiga di Musim Dingin


Terakhir diubah oleh mightykudit tanggal 2015-02-02, 15:53, total 8 kali diubah
2015-01-28, 11:41
PostRe: [Story]Holygrandia Saga
#2
mightykudit 
Newbie
Newbie
avatar

Level 5
Posts : 8
Thanked : 2
Engine : RMVX
Skill : Masterful
Type : Artist

Alma Untold (Part 1)

Senyap rawa dalam hutan Manar Skadi yang begitu tenang terpecah ketika besi saling beradu.
Air tenang kehijauan beriak dan perlahan berubah merah bercampur darah.
Gelap dan lembabnya udara tak terasa karena api dan ledakan muncul silih berganti.

Suara gaduh, teriakan-teriakan yang memilukan, wanita dan pria yang menjerit dalam sakit sebelum ajal menjemput.
Namun kebisingan itu tak pernah menembus batas luar hutan, tak satupun orang awam yang sadar bahwa sejarah berdarah telah terukir di dunia.
Pada akhirnya, sunyi tetap memegang kendali dalam hutan tersebut.

Black Raid, itulah sebutan untuk misi ini.
Sebuah misi besar dan rahasia yang melibatkan paladin-paladin hebat Holygrandia, misi untuk menghabisi para Majou dengan brutal dan tidak manusiawi, karena mereka bukanlah manusia lagi.

*****
Esther, seorang gadis muda berambut pirang yang turut serta dalam misi ini terengah karena lari dari kejaran beberapa Majou. Ia bukanlah kesatria hebat, bukan juga yang paling pintar, justru adalah paladin paling menyebalkan dan keras kepala yang pernah ada.
Tak ada perintah yang bisa membuatnya patuh, tak ada aturan yang bisa mengekangnya. Terbukti dari bagaimana ia mengabaikan perintah kaptennya karena tangisan bayi yang didengarnya. Membuat si tikus bodoh ini, begitu panggilannya menerobos barisan lawan secara frontal, masuk ke reruntuhan kastil sumber suara tangisan itu yang bisa saja sebuah jebakan.

Tanpa gentar, Esther melaju, beberapakali mengayunkan pedangnya, menyayat beberapa Majou berwajah menyeramkan. Sampai akhirnya ia berada dipuncak menara kastil. Tampak mayat pria dan wanita muda dengan pakaian bagus dengan ekspresi yang memilukan, tangannya berusaha menggapai objek kecil yg menggeliat dan bersuara lantang.
Seorang bayi! Bayi perempuan yang mungkin belum genap satu tahun umurnya.

"Ritual harus dilaksanakan apapun yang terjadi! Tanah terkutuk ini telah haus akan darah suci tanpa dosa!" Teriak seseorang dibelakang Esther.

Secepatnya, gadis itu berbalik, langsung mengayunkan pedangnya namun ditangkis dengan sebuah belati oleh pria kecil bungkuk itu.

"Tak ada yang bisa menghalangi, bukan anjing-anjing kotor Nirvane, bukan manusia seperti kalian!!"

Pria itu menendang Esther, membuatnya tersungkur. Tanpa basa-basi, ia berjalan kearah sang bayi, mengeluar sebilah cakar besar dari balik mantelnya.

"Durum Bathory Tartala Mabia Zum...."

Lelaki itu mengucapkan mantra yang tak dapat didengar Esther, namun ia tahu pasti apa niatan pria keji itu. Sesegera mungkin ia membetulkan posisinya, menendang lantai dan melaju kearah pria itu. Tepat saat Majou itu mengayunkan kuku besar itu, Esther merangsek diantara sang bayi. Membuat perutnya tertusuk benda itu cukup dalam.

"ARRGGHH!!!" jeritnya, lalu meninju wajah sang Majou.

"K-kau!! Pelacur tengik! Beraninya kau mengganggu ritual ini!" Jerit Majou itu, matanya melotot, melirik kekiri dan kanan tak karuan, berusaha mencari kuku yang digunakannya tadi.

Kuku itu tergeletak dilantai, warna merah darahnya memudar menjadi abu-abu, lalu hancur bagai arang.

"Tidak... Oh... Tidak, kuku Bathory, hanya ini satu-satunya kesempatan..!"

"Hei botak!" Seru Esther, membuat Majou itu menoleh keatas, sebelum akhirnya menusuk tengkorak lelaki itu.

Bayi yang berada dipelukan Esther menangis keras, sambil meringis, Esther terus berusaha menenangkannya, turun melalui tangga. Sesekali ia berpapasan dengan Majou lain, membuatnya semakin sulit bertarung karena kini ada satu nyawa lagi yang berada dalam genggamannya

"Kapten!!! Aku butuh bantuan!! Cepatlah!!" Teriak Esther ketika melihat seseorang sedari tadi sudah sangat marah dengan kelakuannya itu berjalan kearahnya.


*****
Seorang lelaki dengan pedang yang cukup besar memenggal kepala seorang wanita berwajah seram. Darah kehitaman terciprat ke wajahnya, namun tak mengubah ekspresi lelaki itu samasekali.
Matanya kosong, seperti mata ikan mati. Seolah tak memiliki hati dan rasa kasihan ia menghabisi semua yang menghalangi jalannya. Menapaki tangga reruntuhan kastil ditengah hutan.

"Esther! Apa yang kaulakukan bodoh?!" Seru lelaki itu kepada Esther yang tersungkur disudut tangga.

Wanita itu memegangi perutnya, lalu mengacungkan jempol kearah pria berjanggut tipis itu sambil tersenyum lebar, "Tenang saja kapten, kami tak apa-apa!"

"Tapi lebih penting lagi, tolong bawa anak ini menjauh!" lanjutnya.

"Darimana kau mendapatkannya? Kita disini bukan dalam misi penyelamatan! Ini adalah misi pembantaian!" teriak sang kapten ketika melihat seorang bayi berambut pirang di pelukan wanita itu.

"Mungkin insting keibuanku mulai bangkit, hahahaha..." Timpal Esther sambil tertawa, tak peduli dengan situasi kacau disekitarnya.

Pria berjambang tipis itu merengut, matanya menatap serius, ia menyobek kain disekitar luka Esther, memperlihatkan luka sayatan yang terbuka di perutnya. Disekitar luka tersebut tampak bercak hitam keunguan yang cukup banyak.

"Kau...." Sang kapten tampak sangat terkejut, ia menatap wajah gadis itu hanya untuk melihat senyum tulus dan ekspresi damai darinya.

"Seperti yang kau lihat, ini sayatan dari cakar Bathory, sepertinya seorang Majou berencana menggunakannya kepada bayi perempuan ini," gumam Esther.

"Anak ini... Tampaknya ia adalah tumbal yang akan dikorbankan dalam ritual, aku melihat sepasang mayat wanita dan pria ditempat anak ini kutemukan, sepertinya orang tua nya, sungguh anak yang malang..."

"Aku mengerti, berhentilah bicara! Aku akan membawamu keluar darisini!" bentak sang kapten.

"Hahaha... Kau dan aku sama-sama tahu arti dari tanda Bathory bukan? Bawalah anak ini, biar aku yang urus sisanya, aku tidak mau anak ini terkotori oleh darah."

Lelaki itu memejamkan matanya lalu mengambil bayi berambut pirang itu dari gendongan Esther, berlari turun, meninggalkan Esther yang melihat mereka sambil tersenyum.

Esther mendongak keatas, suara pertarungan mulai menghilang dari pendengarannya. Dari bayangan, sosok gelap berbentuk wanita dengan mata merah menyala dan berpakaian serba hitam melayang mendekat. Sosok yang selalu ada dalam setiap ritual sihir hitam, sang pelahap jiwa.
Gadis itu tersenyum, mengangkat tangan kanannya ke kening, memberikan hormat prajuritnya kepada langit.

"Esther Xilliana, divisi satu, mohon ijin untuk menendang bokong pelacur ini!!"

Teriakan itu menggema, terdengar hingga ke telinga sang kapten beberapa puluh meter dari tubuh Esther.

"Rohan Maxwell, kapten divisi satu, ijin diberikan..." gumam sang kapten pelan.

Ia melihat Esher mengangkat tangannya tinggi-tinggi, memutar pedang kearah dadanya sendiri. Tepat sebelum sosok hitam itu menggapai tubuhnya, Esther menghujamkan pedang tersebut ke jantungnya.
Darah segar memancar lalu mengalir dari dada gadis itu, tangannya jatuh lemas disamping pinggangnya. Kepalanya tertunduk, tubuhnya kini tak bergerak lagi. Esther telah gugur, ia lebih memilih mati bunuh diri daripada jiwa dan tubuhnya harus diambil oleh kekuatan hitam.
Walau begitu wajahnya tampak begitu tenang, tak ada penyesalan sedikitpun. Esther mengakhiri hidupnya sebagai kesatria.


Peperangan semalam penuh diakhiri dengan kemenangan dipihak paladin. mereka membakar mayat para majou dan rekan mereka yang gugur secara terpisah. Rohan duduk di salah satu tebing untuk melihat matahari terbit. Tak ikut memberi penghormatan terakhir kepada rekan-rekannya.
Pria itu menggendong bayi yang kini terlelap setelah menangis semalaman. Ia menegak anggur favoritnya, menimang-nimang botol minuman keras pemberian Esther itu.

"Alma..." gumamnya ketika membaca merk minuman itu.

"Alma Xillian Esther, kurasa itu nama yang cukup bagus untuk seorang bayi perempuan."

Matahari pagi mulai menyinari tubuh Rohan, ia hanya terdiam, menatap cahaya itu tanpa melakukan apapun. Apa yang kini ada dibenaknya hanyalah membesarkan bayi ini, bayi yang membuatnya dapat melihat keberanian besar dan sifat kesatria dalam diri Esther.

*****


Terakhir diubah oleh mightykudit tanggal 2015-01-29, 09:50, total 1 kali diubah
2015-01-29, 09:14
PostRe: [Story]Holygrandia Saga
#3
mightykudit 
Newbie
Newbie
avatar

Level 5
Posts : 8
Thanked : 2
Engine : RMVX
Skill : Masterful
Type : Artist

Alma Untold (part 2)

Keringat sebesar butiran beras mengalir di pipi dan leher gadis itu. Bersama dengan dua anak lainnya, laki-laki, ia mengayunkan tongkat kayu yang cukup panjang dan berteriak ditiap ayunannya.
Rohan duduk disebuah pohon yang telah tumbang, mengawasi tiga bocah itu sambil minum anggur kesukaannya. Satu anak perempuan yang sedikit lebih tua dari ketiganya duduk disebelah Rohan, duduk dan memberi semangat kepada tiga anak itu berlatih.

"Hei.. Hei, Noa! Lief! Mana tenaga kalian? Bahkan Alma memiliki ayunan yang lebih kuat dari itu, masa kalian kalah dengan anak perempuan? Apalagi nona Theressa memperhatikan, jangan permalukan harga diri laki-laki!" ejek Rohan dengan seringai lebar kepada dua anak laki-laki berambut hitam itu.

"B-baik!" jawab keduanya tergagap sambil mempercepat ritme gerakannya.

Sementara Alma yang merasa dipuji tersenyum mengejek kearah Noa, membuat bocah itu mendengus kesal. Dia memang satu-satunya perempuan yang menjadi murid Rohan, tapi Alma adalah yang terbaik.

Hampir sepuluh tahun telah berlalu sejak peristiwa Black Raid, Alma kini tumbuh menjadi gadis sepuluh tahun yang sehat. Ia diasuh oleh Rohan dan para pendeta serta perawat Altar, bersama dengan dua anak yatim piatu lainnya Liefandre dan Noa Wraithand, kakak beradik yang juga merupakan korban Black Raid.
Hanya Noa yang saat itu mengingat sedikit tentang semuanya, karena tragedi Black Raid terjadi saat ia berumur empat tahun, sementara Liefandre, ia terlalu kecil untuk mengingatnya, sama seperti Alma.
Walau begitu mereka sering mendengar bagaimana orang lain membicarakannya, sebagai tumbal, sebagai anak-anak yang diinginkan oleh sang penguasa dunia bawah, Dark One. Nama itu saja sudah membuat orang-orang merasa tak nyaman dan tak ingin mendekati mereka, bagai sesuatu yang tabu, bagai anak haram, mereka dikucilkan.

Sedangkan anak satunya, Theressa, atau orang-orang menyebutnya dengan sapaan Nona, Yang Mulia, Saint Maiden. Begitu kontras memang, Theressa adalah gadis yang menjadi Saint Maiden untuk generasi ini, seorang yang menjadi perantara kekuatan Nirvane dengan dunia. Saint Maiden bagai seorang tuan putri jika diibaratkan, begitu kontras dengan kehidupan tiga anak gembel ini.
Namun mereka berempat begitu akur, mungkin karena dibesarkan bersama, diwaktu yang hampir bersamaan, ditempat yang sama. Sebuah keluarga tanpa ikatan darah.

*****

Sang surya telah lenyap dari ufuk barat, ketiga anak itu kini sudah berada di kamar mereka, sebuah ruangan kecil dengan ranjang bertingkat. Setidaknya itu yang pengawas mereka kira.
Alma, Noa dan Lief sedang menyusuri lorong, berusaha menyelinap ke kamar Theressa karena ia telah menjanjikan roti krim keju dari ibukota.

"Kakak, aku pikir ini bukan ide bagus..." gumam Lief.

"Ssshhh... Diamlah, nanti ada yang dengar!" perintah Noa dan Alma hampir bersamaan.

Ketika sampai didepan pintu kamar Theressa, mereka mendapati dua penjaga telah lemas tak bergerak, hidup, namun tak merespon. Merasa ada sesuatu yang tak beres ketiganya segera merangsek masuk kedalam hanya untuk melihat Theressa tergeletak lemas, nafasnya terengah dan matanya begitu pucat.
Walau begitu Alma bisa melihat ekspresi putus asa dan ngeri dari wajah gadis yang beberapa tahun lebih tua darinya itu.

Seorang dengan jubah dan kerudung putih mengangkat lengannya, memperlihatkan pisau emas dan cincin berbatu hijau di jari manisnya.

"Tidak!!!" Teriak Alma.

Ia berlari kearah Theressa, menangkis ayunan pisau itu, membuat lengan Alma tergores cukup dalam, namun ia bisa mengambil pisau itu. Noa dan Lief yang sadar dengan apa yang terjadi langsung menabrak sosok itu jatuh, Lief berteriak minta tolong, namun sosok itu menamparnya, membuatnya tersungkur dan pingsan. Noa berusaha membuka kerudung sosok itu namun ditendangnya tubuh kecil Noa, sosok itupun melompat dari jendela dibelakangnya.
Menghilang dalam gelap malam.

Alma terus memeluk tubuh Theressa, menyuruhnya agar cepat tersadar tanpa peduli darah mengucur dari tangannya. Namun perlahan pandangannya mulai kabur, dan akhirnya Alma pun tak sadarkan diri.

*****

Berita tentang percobaan pembunuhan Saint Maiden tersebar begitu cepat. Alma, Noa dan Lief dituduh sebagai pelakunya. Terlebih karena latar belakang mereka yang pernah terlibat dalam ritual saat Black Raid terjadi.
Rohan dan Theressa terus mendesak, menjelaskan bahwa mereka tak bersalah, namun fakta bahwa pisau emas saat itu dipegang oleh Alma membuat hukuman tetap harus mereka hadapi. Sepuluh kali hukuman cambuk.

Tiga anak kecil, tangan mereka terikat, direntangkan, menjadi tontonan bagi seluruh penduduk Holgrandia.

CTAR!

Cambukan pertama.

CTAR!

Cambukan kedua.

Ketiga anak itu berteriak, meraung-raung, menangis.

Rohan mengepalkan tangannya, giginya gemeretak kesal, namun tak mampu berbuat apapun.
Theressa, tak berani melihatnya, airmatanya berlinang diantara bulu mata tebalnya, tak sanggup melihat teman-temannya mendapat hukuman dari kejahatan yang tak mereka lakukan.

Lief kini tak sadarkan diri, Noa dan Alma terus menangis menahan sakit. Hingga akhirnya hukuman itu selesai.
Rohan sesegera mungkin menghampiri mereka bertiga, memeluk ketiganya yang masih mengerang dalam rasa sakit.

Walau sepintas, Alma melihat seseorang melintas dihadapan mereka, seseorang dengan cincin berbatu hijau. Pria yang tak ia kenal, namun sering ia lihat. Salah satu petinggi dewan Bishop di Holygrandia.
Membuat gadis itu sangat syok, ia tahu betul tangan itu, postur tubuh itu, pria itulah yang seharusnya menjalani hukuman cambuk, bukan dirinya. Dia adalah pria yang mencoba membunuh Theressa. Altar belum aman, Theressa masih dalam bahaya. Seseorang masih akan berusaha membunuhnya, itu pasti. Dan Alma harus mencegahnya, menghentikannya, mengetahui apa alasannya.

*****

Sidang untuk menentukan nasib ketiga anak itu kembali dilanjutkan. Alma tahu bahwa Rohan akan mengajak mereka keluar dari Holygrandia untuk keselamatan mereka sendiri, ia tahu mereka tak bersalah dan menjadi saksi hidup dari percobaan pembunuhan ini, nyawa ketiga anak ini juga dalam bahaya jika masih berada di Holygrandia.
Namun ketika Rohan akan berbicara, Alma melangkah maju, lalu berlutut dihadapan patung Nirvane yang berada ditengah tembok ruangan. Membuat seisi ruangan sidang terdiam.

"Saya, Alma Xillian Esther, bersumpah mengabdikan seluruh hidup saya kepada Tri-Arch untuk menjaga dan melindungi Saint Maiden dan Nirvane yang suci, bersumpah tak akan membunuh apapun, dengan tombak dan pedang dibawah nama surga, dalam baju zirah yang fana. Bayaran yang saya berikan jika melanggar sumpah ini adalah, kepala saya..."

Seluruh ruangan mendadak ricuh, Alma telah mengucapkan sumpah kepada Nirvane, dewan juga tampak begitu kaget, panik. Berdiskusi, namun mereka tahu kalau sumpah langsung kepada Nirvane tak bisa ditolak oleh dewan sekalipun, hanya Saint Maiden yang dapat memutuskannya. Sementara Rohan hanya melongo. Ia memang mengajari anak-anak ini ilmu berpedang, namun tak pernah berharap kalau mereka mengikuti jejaknya.
Ditengah keramaian, Theressa berdiri dengan senyum lebar.

"Aku terima sumpah setiamu, Alma Xillian Esther, untuk mengabdi kepada Nirvane dan Saint Maiden hingga ajal menjemput sebagai kesatria suci Paladin."

Senyum lebar mengembang diwajah Alma yang masih menunduk, berlutut kearah patung Nirvane.

Ini mungkin sebuah keputusan spontan yang tak direncanakan oleh keduanya, tapi setidaknya Alma dan Theressa tahu siapa yang dapat dipercaya dalam Altar ini.

*****

Dua belas tahun ia mengenang peristiwa itu, seorang gadis pirang menyibakkan rambut panjangnya, memperlihatkan kepada cermin bekas luka mengerikan memenuhi punggung dengan otot yang kencang. Ia memeluk erat tubuhnya, membiarkan rambutnya jatuh terurai panjang.

Sepuluh cambukan telah membuka matanya akan kebenaran dunia.
Seratus percobaan pembunuhan dan upaya pengusiran dirinya telah menempa fisik dan pikirannya.
Seribu fitnah yang ditujukan padanya telah mengokohkan mentalnya.
Dan satu janji, hanya satu buah janji antara dua orang sahabat dibawah nama Tuhan yang akan menuntun jalannya.

Wanita itu menutupi tubuhnya dengan gaun merah darah dan besi berukir. Sebuah pedang menggantung dipinggangnya. Sambil berjalan, ia mengikat rambutnya agar tak mengganggu setiap gerakannya.

Cahaya matahari menerpa wajahnya yang cantik namun tegas dan kuat, mata yang indah namun sarat akan keberanian. Postur tubuh yang feminim namun kokoh dan tak tergoyahkan.

Alma Xillian Esther, keberanian seorang kesatria mengalir dalam darahnya, kekuatan seekor singa bersemayam dalam jiwanya.


Terakhir diubah oleh mightykudit tanggal 2015-01-30, 10:35, total 1 kali diubah
2015-01-30, 07:23
PostRe: [Story]Holygrandia Saga
#4
mightykudit 
Newbie
Newbie
avatar

Level 5
Posts : 8
Thanked : 2
Engine : RMVX
Skill : Masterful
Type : Artist

Sang Rubah Tidur

“Apa kau Si Rubah Tidur?”

Seorang pria kekar duduk diseberang lelaki kurus bertudung yang tampak asik sendiri. Memainkan geras kosong bekas sirup plum yang dingin.

“Apa kau Si Rubah Tidur?!”

Pria itu menaikan suaranya.

“Hehe, tergantung sih…”

Cring…

Belum sempat menyelesaikan kalimatnya, sekantung koin dijatuhkan di hadapan lelaki itu. Membuatnya tersenyum, sedikit remeh sebenarnya. Ia menjulurkan tongkatnya dan mengangkat kantung koin itu.

“Ada rawa di utara dari tempat ini, dua hari jalan kaki, kau akan menemukan satu disana.”

Si pria kekar itu mendengus, namun ia mengerti sepenuhnya apa maksud “Si Rubah Tidur” ini. Sementara lelaki bertudung itu hanya cekekekan kecil, senyumnya lebar memperlihatkan sederat gigi putih, matanya begitu sipit, bahkan terlihat bagai terpejam.

Ia tahu siapa lelaki itu, ia tahu apa yang dicari, ia tak berbohong dengan apa yang dikatakan, namun tak memberitahu semuanya. Itu membuatnya sebagai sebuah kebohongan yang jujur.

Lelaki tadi adalah seorang pemburu Majou yang diutus seorang konglomerat dari ibukota. Namun sepertinya yang dibutuhkan adalah Majou dengan tingkat rendah, sementara yang barusaja ia berikan informasinya adalah Majou dengan level tinggi. Setidaknya butuh 20 orang untuk mengalahkannya. Pada dasarnya lelaki itu telah termakan jebakan si rubah tidur mentah-mentah.

Bukan tanpa alasan ia melakukannya. Membayar informasi seperti ini dengan sekantung dyne merupakan pelecehan. Sebuah informasi bagus memang selayaknya dibayar dengan informasi bagus lainnya, bahkan lebih bagus jika bisa. Barter pengetahuan tepatnya. Metode yang membuat lelaki itu tampak seolah mengetahui segalanya.

*****

Malam mulai menyelimuti, sekelompok pria dengan busur mekanis dan pedang berjalan di gang-gang kecil di sudut kota. Mencari sesuatu, “tikus” mereka menyebutnya.

“Hei rubah! Kau yakin ada satu disini?” teriak salah seorang dalam kelompok.
“Haha, kalau gak percaya sih gak usah ikutan…” ejek si rubah, membuat beberapa kelompok lain jengkel.

Wajar saja, mereka meminta si rubah untuk memandunya mencari Majou, namun si rubah justru terlihat santai, tak serius. Bahkan bermalas-malasan dibelakang kelompok. Mereka adalah Witch Hunter, sekelompok orang spesialis memburu, membunuh atau menangkap para Majou yang dibayar oleh klien mereka.

Alasannya bermacam-macam kenapa seseorang menginginkan Majou, ada yang merupakan orang kaya-raya eksentrik yang sangat hobi mengoleksi bagian tubuh unik dari makhluk eksotis, Majou salah satunya, mata mereka saat dalam kekuatan kegelapan berharga mahal.

Ada yang ingin memiliki budak dengan kekuatan sihir tingkat tinggi untuk memenuhi nafsu duniawi mereka, atau ada yang hanya membutuhkan kekuatan mereka untuk sebuah ritual demi sesuatu yang mereka cintai.

Beresiko memang, namun jika sudah mendapatkan kontraknya, Majou bisa ditaklukan sebagai budak, kita hanya memerlukan nama asli sang Majou, darah mereka dan darah sang master. Namun bukan berarti itu bisa membuat seorang Majou terkontrol penuh. Majou yang tak peduli dengan aturan itu bisa saja membunuh masternya yang sudah melakukan kontrak walaupun akan berakibat buruk bagi sang Majou. Iya akan merasakan rasa sakit yang sama seperti saat masternya dibunuh seumur hidupnya.

“Sssshh…”

Si rubah mendesis, memberikan isyarat bahwa target mereka sudah dekat. Membuat kelompok kecil terdiri dari lima orang itu mengeluarkan senjata mereka masing-masing.

Ia menunjuk wanita berpakaian serba hitam di ujung gang, menghadap kebelakang, memberi makan kucing sepertinya. Yang lainnya berjalan mendekati, mengendap-endap sementara si rubah berlindung dibalik tembok, bersembunyi, tersenyum.

Salah seorang pria membidiknya dengan crossbow, lalu menarik pelatuknya.

Belum sempat ia berkedip, sesuatu yang hitam dengan puluhan dan mata merah melesat dan menembus kepalanya.

“Hmm… Cuma berlima ya?” gumam wanita itu, lalu mengayunkan tangannya. Makhluk hitam itu membuka, memperlihatkan gigi-gigi tajam lalu memakan si pemanah.

“Sial!! Habisi dia!” teriak pemimpin kelompok.

Namun makhluk-makhluk lainnya melesat dari belakang wanita itu, menyerang dengan brutal.

Cipratan darah, teriakan-teriakan yang dipenuhi oleh rasa takut menggema di lorong. Hingga akhirnya sunyi.

“Sudah selesai, keluarlah!” teriak wanita itu.

Si rubah bertepuk tangan pelan, berjalan kearah gang kecil yang kini dipenuhi oleh darah, namun tak sedikitpun tubuh terlihat.

“Khekhekhe… Udah dapet yang kamu mau kan?”

Si rubah bertanya, dijawab dengan sebuah bola mata dalam botol kecil yang ditunjukan si wanita berpakaian hitam, sebuah bola mata hitam dengan pupil hijau terang. Bola mata milik Majou.

“Aku tak terima jika mereka mencurinya dariku…” gumamnya sambil mengambil bola mata itu, menyibak rambut hitamnya yang ikal, lalu memasukannya kedalam lubang menganga di mata kirinya.

Wanita itu lalu melempar sebuah gulungan kusam kepada si rubah, sebuah peta dengan banyak tanda “X” dan tanggal di dalamnya.

“Hohoho.. terimakasih, terimakasih…” gumamnya antusias.

“Kau sungguh licik, orang-orang ini sudah membayarmu bukan?” Tanya wanita itu.

“Ya, cuma untuk menemukanmu, bukan menaklukan.” Kekehnya.

“Hmmph… Kenapa kau tak bergabung dengan kami, menjadi seorang Majou, kurasa lebih cocok untukmu mendapatkan status sebagai Majou daripada manusia.”

“Hahahaha, aku anggap itu pujian, tapi urusan kita sudah selesai disini, mbak cantik. Jadi aku mohon diri dulu”

Si rubah membungkuk hormat, lalu berjalan pelan, menghilang dalam gelap sementara Majou wanita itu hanya tersenyum sambil geleng-geleng heran akan kelakuan manusia barusan.

*****

Langkahnya ringan menyusuri lorong gelap di sudut-sudut bar. Pemuda bertudung ungu berjalan sesekali melompat kecil bak bocah yang sedang bermain.

“Rubah Tidur… Bukan?”
Suara seorang wanita bertudung putih menghentikan langkahnya.

“Heiiii, mbak cantik, ada perlu apa denganku?” Tanya si rubah riang.

“Kudengar kau ahli dalam mengorek rahasia, aku ingin tahu apa yang mereka sembunyikan, semuanya!”

Wanita itu menyodorkan gambar beberapa pria tua dan paruh baya, membuat Armellio mengerutkan keningnya.

“Yahh… Mbak, gimana yaa… ini udah level tinggi sih permintaannya, upahnya gak murah lho” keluh si rubah, “Maksudku, mereka ini bukan orang biasa, mereka orang berpengaruh, anggota dewan Holygrandia, bukan?”

“Akses masuk kedalam Altar Agung Holygrandia dan arsip serta seluruh informasi perburuan Majou, itu yang bisa kutawarkan kepadamu.” Potong wanita itu.

“Hmm…. Lalu apa yang nona cantik butuhkan dariku? Oh… Maaf, apa yang nona Saint Maiden butuhkan dari hamba.”

Wanita itu tersentak, lalu tersenyum. Ia membuka kerudung yang menutupi sebagian besar wajahnya, memperlihatkan rambut perak berkilauan dan mata hijau berhias bulumata yg lebat dan lentik.

“Seperti yang dikatakan orang-orang, kemampuan pengamatanmu memang mengerikan, Armellio,” suaranya mendadak lembut, Theressa tersenyum sebelum melanjutkan kata-katanya, “Aku ingin kau bekerja kepadaku, bergabung dalam Order of Nirvane.”

*****


Terakhir diubah oleh mightykudit tanggal 2015-02-02, 15:35, total 2 kali diubah
2015-02-02, 08:52
PostRe: [Story]Holygrandia Saga
#5
mightykudit 
Newbie
Newbie
avatar

Level 5
Posts : 8
Thanked : 2
Engine : RMVX
Skill : Masterful
Type : Artist

Minggu Ketiga di Musim Dingin

Matanya terbuka, tersadar dari halusinasi bunga tidur. Semua hal mengerikan yang terjadi kepadanya membuat perempuan itu selalu terjaga tiap malam. Tak tenang, tak nyenyak, pikirannya penuh dengan kecurigaan akan orang-orang disekitarnya.

Seorang gadis sebayanya, mungkin lebih muda. Duduk di pojok ruangan, mengenakan piyama, terkantuk namun waspada membawa sebuah tongkat besi sepanjang lengan orang dewasa.

“Ah… Nona Theressa, apa saya membuat anda terjaga lagi? Gadis itu menyadari apa yang terjadi.

Theressa menggeleng pelan, terduduk di ranjangnya yang besar dan empuk dan nyaman. Rambut tidurnya mencuat tak beraturan dan wajahnya terlihat resah serta lelah.

“Kita harus melakukan sesuatu, Alma,” gumamnya lirih, “Kita bukan anak kecil yang tak berdaya lagi, kita bisa melawan, kita mampu melakukan sesuatu… Kita bisa mengubah semuanya!”

Alma menatapnya, penyesalan paling dalam terpampang dalam sorot matanya. Ingin menangis rasanya, merasa semua kemampuan dan kekuatan yang diperolehnya selama ini ternyata tak berguna dihadapan kekuatan politik dan kekuasaan.

“Maaf…”

Hanya itu yang keluar dari bibir Alma.
Theressa tersenyum, ia tahu apa yang dipikirkan Alma, Ia juga merasakan hal yang sama. Alma telah tumbuh menjadi gadis 16 tahun yang kuat, kemampuan secara keseluruhan bahkan mengungguli kadet-kadet laki-laki yang satu angkatan dengannya. Namun ia bagai singa dalam kandang, buas namun tak bebas.

*****

Alma mengetahui siapa yang mencoba membunuh Theressa saat itu, Bishop Rhudus, pria dengan cincin bermata hijau, salah satu petinggi dewan agung Holygrandia yang statusnya setara dengan seorang menteri. Alma hanya mengatakan itu kepada Theressa, Noa, Lief dan Rohan, orang-orang yang paling ia percaya.

Walau tahu siapa pelakunya, mereka tetap tak bisa bergerak bebas. Tak ada cukup bukti, hanya para saksi yang justru tertuduh sebagai tersangka. Ruang gerak Alma dan Theressa dibatasi oleh kebijakan-kebijakan baru. Alma juga sudah sering mendapat terror, percobaan pembunuhan, penculikan atau pengusiran lain. Sudah sangat sering ia dikirim untuk turut serta dalam misi-misi sulit yang tak seharusnya ia dapatkan dalam tingkatannya sekarang hanya untuk menjauhkan Alma dengan Theressa, namun itu justru menempa kemampuan dan insting gadis itu jauh melampaui orang-orang disekitarnya.
Mungkin jika Alma tak melakukan sumpah setianya saat itu, mereka akan lebih mudah dipisahkan, pada akhirnya prinsip dan aturan mutlak dari Holygrandia sendiri lah yang menjadi penolong mereka.

Sementara Theressa, percobaan pembunuhan terhadap dirinya masih sering terjadi, mulai dari pemanah, seorang pembunuh bayaran, bahkan racun dalam makanan. Membuat wanita itu mulai peka, makin cerdas dalam mengatasi suatu masalah dan sangat baik dalam mengatur emosi dan ekspresi. Menjadikan Theressa sebagai pribadi yang benar-benar berbeda saat di public ataupun di ruangan pribadinya. Walau mungkin tak semua sifat buruknya lenyap, Theressa masih sedikit malas dan selalu dilayani Alma.

*****

Ini adalah minggu ketiga di musim dingin, Theressa kini berumur 20 tahun dan itu artinya ia akan dilantik sebagai Saint Maiden. Secara teknis ia memang Saint Maiden sedari lahir, namun ia hanya mendapatkan hak dan kekuasaan politiknya saat dirasa cukup dewasa, dan 20 tahun adalah umur yang dianggap dewasa. Sebelum berumur 20 tahun, Holygrandia dan semua penganut Tri-Arch dipimpin oleh dewan agung Holygrandia yang terdiri dari sepuluh Bishop.

Parade telah dimulai, rakyat menyambutnya dengan sukaria dan begitu meriah, sebuah kereta kuda berwarna putih besar berhias ukiran-ukiran emas melaju pelan di jalan utama, melintasi barisan rakyat yang penasaran karena ingin melihat wajah Saint Maiden generasi ini.
Theressa tersenyum, melambaikan tangannya ke kerumunan rakyatnya bak seorang ratu. Tangan kirinya mengenggam tongkat dengan ujung kristal salju, sedikit gemetaran karena gugup, gaun putih bersih dan tebal berayun indah seirama dengan lambaian tangannya. Alma hanya tersenyum melihatnya, berlutut dibalik ornamen kereta, membuatnya tak tampak dari mata orang-orang.

*****

Masih cukup jauh dari perhentian akhir, namun dua sosok kurus dan berpakaian hitam melompat kedalam kereta, seolah terjatuh dari langit lalu mengulurkan tangan kurus dengan kuku tajam keunguan kearah Theressa.

Reflek, Alma menarik jubah sang Saint Maiden, membuat wanita itu jatuh tersungkur kebelakang, namun terhindar dari serangan orang-orang itu. Tanpa membuang-buang waktu, gadis itu menghunuskan pedangnya, sebuah pedang bagus, cukup kuat dan kokoh namun tak bermata. Sebuah pedang yang tak akan membunuh siapapun, pedang yang tak lebih dari sekedar hiasan dinding.
Alma mengayunkan pedangnya, memukul jatuh salah satu penyerang dan menangkis serangan orang lainnya.

Orang-orang yang menyaksikan mendadak panic melihat kejadian itu, seorang yang begitu penting bagi mereka baru diserang saat pelantikannya.

“MEREKA ORANG-ORANG RUNICA!!”

Sebuah teriakan lantang terdengar dari kerumunan warga, tak jelas siapa, tak jelas sumber pastinya. Namun itu berhasil membuat warga mengamuk, membuat hati mereka diliputi kebencian yang telah tertahan.

Seorang penyerang berhasil menusukan kukunya ke pinggang Alma, membuat gadis itu meringis namun tak menggeser pijakannya sedikitpun.

“Nona Theressa! Menunduk!” bentaknya diikuti dengan patuh oleh Theressa.

“GRANDCLEAVE!!”

Alma berteriak lantang, suaranya kuat dan menggema, bahkan pepohonan bergetar dibuatnya. Tak sempat berkedip, kedua penyerang itu terhempas oleh ayunan kuat, angin dan tekanan yang penuh tenaga mendorong mereka sangat jauh. Dari arah kerumunan, itu terlihat seperti cincin malaikat yang terus membesar, menghantam semua tembok gedung yang menghalanginya dan membuat tanah bergetar.

Para penyerang itu terlempar hingga menabrak dinding, mata mulut mereka menganga dan berbusa sementara mata mereka hampir terbalik. Sakit yang luar biasa, namun masih menahan mereka untuk hidup.

Dengan sigap anggota paladin lain segera mengamankan keduanya, mencegah amukan warga dan penghakiman masal.

*****

Tiga sosok yang berdiri dikejauhan, melihat dengan ekspresi kesal.

“Bagaimana dengan itu? Apakah cukup?” Tanya seorang berkacamata.

“Ck! Itu seperti rencana gegabah yang gagal! Baldea!” decak pria tambun .

Lelaki berkacamata yang dipanggil Baldea itu tersenyum, “tenanglah Bishop Rhudus… ini hanya permulaan, lagipula aku hanya ingin membangkitkan gairah masyarakat tentang luka masalalu.”

Seorang lelaki yang duduk dibalik baying-bayang bertepuk tangan kecil.

“Pertunjukan yang luar biasa, perempuan itu kandidat yang sempurna, sebaiknya kalian menyelesaikan apa yang kalian sebut Armament itu tepat waktu sebelum rencana kita benar-benar dimulai.”

“Siapa orang-orangmu yang akan kau kirim, Luvius?” Tanya Rhudus.

Luvius menyeringai, matanya yang berwarna merah darah sedikit melotot, memancarkan kilau antusias.
“Grimoire bersaudara….”
PostRe: [Story]Holygrandia Saga
#6
Sponsored content 




 

[Story]Holygrandia Saga

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Kembali Ke Atas 

Similar topics

+
Halaman 1 dari 1

Permissions in this forum:Anda tidak dapat menjawab topik
RPGMakerID :: Community Central :: Role Playing-